Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

The Influence of Fear of Missing Out On Self-Concept Among High School Students Wijaya, Lydia Suliyanto; Subroto, Untung
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. 5 No. 1 (2025): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmh.v5i1.1209

Abstract

Social media has now become an integral part of society. However, its usage also carries detrimental effects, including the fear of missing out (FoMO). FoMO is the apprehension of being uninformed about an event and can affect individuals of various ages, including high school students. During adolescence, individuals generally develop multiple aspects of their identity, including self-concept. This study was conducted to determine the extent of FoMO's influence on the self-concept of high school students. A non-experimental quantitative method was used. The instruments used were the Fear of Missing Out Scale and the Personal Self-Concept Questionnaire. The study subjects consisted of 1,114 high school students in Jakarta who had been using social media for at least the past three months. The findings revealed that 18,2% of participants had a low level of FoMO, 66,5% moderate, and 15,3% high. Regarding self-concept, 11,5% of participants scored low, 87% moderate, and 1,5% high. The hypothesis that FoMO affects self-concept was supported, with an effect size of 31.3% and the regression equation Y = 60,461 – 0,348X. This equation implies that a 1% increase in FoMO leads to a 0.348 decrease in self-concept. Conversely, in the absence of an increase in FoMO, the self-concept score is 60.461. The study also found differences in FoMO based on gender, duration of social media use, and residence, with no differences observed based on age and the number of social media platforms used. Differences in self-concept were noted based on gender and duration of social media use.
GAMBARAN MEMAAFKAN PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM PACARAN SANTOSO, ALESSANDRO BERNARD; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3582

Abstract

This research is titled “An Overview of Forgiveness in Women Who Have Experienced Dating Violence.” The purpose of this research is to understand the forgiveness process among women who have experienced dating violence after the end of their relationships. The method used in this research is a qualitative method by conducting in-depth interviews with six women who have experienced dating violence in previous relationships as a a form of data collection. All six subjects have been declared to have a high level of forgiveness through TRIM-12 and have gone through the process of forgiveness. There are four stages in the forgiveness process:  uncovering phase, decision phase, work phase, and deepening phase. ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Gambaran Memaafkan pada Perempuan yang Mengalami Kekerasan Dalam Pacaran”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses memaafkan yang terjadi pada perempuan yang telah mengalami kekerasan dalam pacaran setelah berakhirnya hubungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam kepada enam orang perempuan yang pernah mengalami kekerasan dalam pacaran pada hubungan sebelumnya sebagai bentuk pengumpulan data. Keenam subyek tersebut semuanya sudah dinyatakan memiliki tingkat pemaafan yang tinggi melalui TRIM-12 dan telah melewati proses memaafkan. Terdapat 4 proses memaafkan yang terjadi yaitu fase pengungkapan, fase keputusan, fase kerja dan fase pendalaman.
LOCUS OF CONTROL SEBAGAI PREDIKTOR PERILAKU KONSUMTIF PADA WANITA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL KHOIRUNNISA, SYAFFA AULIA; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3826

Abstract

Human daily life is influenced by Locus of Control (LoC) which plays a significant role in aspects of behavior including consumption-related decision making. LoC is the belief that one can control their own life or their life is controlled by something else. One relevant example is the purchase of cosmetic products. Consumptive behavior is a person's tendency to buy excessive goods without any need. This study aims to explore the relationship between LoC and the consumptive behavior of purchasing cosmetic products influenced by TikTok social media content. There were 400 early adult female participants aged 19-30 years. The measuring instrument used is the Levenson Multidimensional Locus of Control Scales, and the measuring instrument for consumptive behavior is an adaptation of Aini's (2016) measuring instrument. The results show a negative relationship between the internal dimension LoC variable (internality) with consumptive behavior, namely r (400) = -0.325, p < 0.05, that is, if individuals have a high internality LoC then consumptive behavior is low. There is a positive relationship between the overall external dimension LoC and consumptive behavior obtained r (400) = 0.643, p < 0.05; and the external dimension LoC which includes powerful others and chance with consumptive behavior gets a positive relationship, powerful others obtained r (400) = 0.676, p < 0.05; and LoC chance obtained r (400) = 0.503, p < 0.05, namely individuals with LoC powerful others or high chance of high consumptive behavior or can more easily behave consumptively. ABSTRAKKehidupan sehari-hari manusia dipengaruhi oleh Locus of Control (LoC) yang memainkan peran penring dalam aspek perilaku termasuk dalam pengambilan keputusan terkait konsumsi.. LoC yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat mengkontrol hidup mereka sendiri atau hidup mereka dikontrol oleh hal lain. Salah satu contoh relevan adalah pembelian produk kosmetik. Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan seseorang saat membeli barang berlebihan tanpa adanya kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan LoC dengan perilaku konsumtif pembelian produk kosmetik pengaruh konten media sosial TikTok. Terdapat 400 partisipan wanita dewasa awal usia 19-30 tahun. Alat ukur yang digunakan yaitu Levenson Multidimensional Locus of Control Scales, serta alat ukur perilaku konsumtif yaitu adaptasi dari instrumen alat ukur Aini (2016). Data diolah dengan software SPSS 24. Hasil menunjukkan hubungan negatif antara variabel LoC dimensi internal (internality) dengan perilaku konsumtif yaitu r (400) = -0.325, p < 0.05, yaitu jika individu memiliki LoC interality tinggi maka perilaku konsumtif rendah. Terdapat hubungan positif antara LoC dimensi eksternal keseluruhan dengan perilaku konsumtif diperoleh r (400) = 0.643, p < 0.05; dan LoC dimensi eksternal yang mencakup powerful others dan chance dengan perilaku konsumtif mendapatkan hubungan positif, powerful other diperoleh r (400) = 0.676, p < 0.05; dan LoC chance diperoleh r (400) = 0.503, p < 0.05, yaitu individu dengan LoC powerful other atau chance tinggi perilaku konsumtif tinggi atau dapat lebih mudah berperilaku konsumtif.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN MEMAAFKAN PADA KORBAN BULLYING GEN Z KOTA JAKARTA MARPAUNG, DERIAN GIOVANNO; SIAHAAN, BELLA GUSTINA; BERNARD, ALESSANDRO; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4018

Abstract

This study aims to determine the relationship between social support conditions and forgiveness in victims of bullying gen z Jakarta. Social Support is defined as support by engaging to communicate with victims to support in the form of appreciating, loving, respecting, and embracing victims. (Sulfemi & Yasita, 2020). According to Ahmed & Braithwaite (2006) forgiveness is a positive response made by the victim that appears when the victim gets bullying behavior from the behavior. This study used a quantitative method using purposive sampling technique, this study involved 205 participants who were victims of bullying gen z born in 1997-2012. The research instruments included a social support scale and a forgiveness scale that had been tested for validity and reliability. The correlation test results show a correlation coefficient (rcy) of .645 with a significance value of 0.000 (p < 0.05) which indicates a positive relationship between social support variables and forgiveness. A high level of social support will make gen z bullying victims have a high level of forgiveness for the bully. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi dukungan sosial dengan forgiveness pada korban bullying gen z kota Jakarta. Dukungan Sosial didefinisikan sebagai dukungan dengan cara terlibat untuk melakukan komunikasi kepada korban untuk medukung dalam bentuk menghargai, mencintai, menghormati, dan merangkul korban. (Sulfemi & Yasita, 202o). Menurut Ahmed & Braithwaite (2006) memaafkan merupakan respon positif yang dilakukan oleh korban yang muncul pada saat korban mendapatkan perilaku perundungan dari perilaku. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling,  penelitian ini melibatkan 205 partisipan korban bullying gen z lahir pada tahun 1997-2012. Instrumen penelitian mencakup skala dukungan sosial dan skala forgiveness yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi (rcy) sebesar .645 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05) yang mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara variabel dukungan sosial dengan forgiveness. Tingkat dukungan sosial yang tinggi akan membuat korban bullying gen z memiliki tingkat forgiveness yang tinggi pada para pelaku bullying.
PERAN IBU TUNGGAL DALAM PEMBENTUKAN SELF-ESTEEM WANITA DEWASA AWAL PASCA PERCERAIAN KARENA PERSELINGKUHAN CHANDRA, ANANDA HILLARI; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4096

Abstract

Self-esteem is a person's view of himself or can be said to be the result of a person's evaluation of himself. Self-esteem is influenced by parenting, including parenting patterns applied by single parents. Sets and Burke (2014) divided self-esteem into three dimensions, namely self-worth, self-efficacy, and authenticity. Self-worth has the meaning of the extent to which a person feels positive about himself, namely feeling good and valuable. Self-efficacy is an assessment of what they are capable of doing in various situations. And authenticity is an individual's understanding of themselves. This study aims to understand the description of self-esteem in early adult women raised by single parent mothers after divorce because the father had an affair. This research method is qualitative with interview and observation data collection. In this study, there were six participants, namely participants S, C, J, F, N, and D. From this study it can be concluded that the six subjects fulfill different dimensions of self-esteem. All six participants (S, C, J, F, N, and D) fulfill the self-worth dimension. Five participants (S, C, J, N, and D) have self-efficacy while F does not. And, five of the six participants (S, C, F, N, and D) fulfilled the authenticity dimension, while J did not. ABSTRAKSelf-esteem merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri atau dapat dikatakan sebagai hasil evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Self-esteem ini dipengaruhi oleh pola asuh, termasuk pola asuh yang diterapkan oleh single parent. Sets dan Burke (2014) membagi self-esteem menjadi tiga dimensi, yaitu self-worth, self-efficacy, dan authenticity. Self-worth memiliki pengertian sejauh mana seseorang merasa positif terhadap dirinya sendiri, yaitu merasa baik dan berharga. Self-efficacy merupakan penilaian terhadap apa yang mampu mereka lakukan dalam berbagai situasi. Dan authenticity yaitu pemahaman individu terhadap dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran self-esteem pada wanita dewasa awal yang dibesarkan oleh ibu single parent setelah perceraian karena ayah berselingkuh. Metode penelitian ini kualitatif dengan pengambilan data wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini, terdapat enam partisipan, yaitu partisipan S, C, J, F, N, dan D. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keenam subjek memenuhi dimensi self-esteem yang berbeda. Keenam partisipan (S, C, J, F, N, dan D) memenuhi dimensi self-worth. Lima partisipan (S, C, J, N, dan D) memiliki self-efficacy sedangkan F tidak. Lalu, lima dari enam partisipan (S, C, F, N, dan D) memenuhi dimensi authenticity, sedangkan J tidak.
PERAN AYAH DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL: UJI KORELASI PADA WANITA DEWASA AWAL MENJALANI HUBUNGAN ROMANTIS SIAHAAN, BELLA GUSTINA; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4177

Abstract

Fathers have a major role in supporting development such as meeting financial needs, being a friend in playing and sharing, providing love and care, educating and modeling, supervising and disciplining, protecting from threats or dangers, helping children overcome difficulties, and encouraging them to achieve success. Interpersonal communication as a form of communication carried out by two or more people to carry out the process of sending communication to get feedback in the form of receiving messages from interlocutors that affect the quality of social relationships, including romantic relationships. This study aims to determine the relationship between the condition of the father's role with interpersonal communication in early adult women who are in a romantic relationship (dating). This study used a quantitative method using purposive sampling technique, involving 405 early adult female participants aged 19-30 years who were in a romantic relationship.  The research instruments include the Father's role scale and the interpersonal communication scale which have been tested for validity and reliability. The correlation test results show a correlation coefficient (rcy) of .737 with a significance value of .000 (p < 0.05) which indicates a positive relationship between the father's role variable and interpersonal communication, and this can be interpreted, if the father's role is high then interpersonal communication in early adult women in undergoing romantic relationships (dating) will also be high. ABSTRAKAyah memiliki peran utama dalam mendukung perkembangan seperti memenuhi kebutuhan finansial, menjadi teman dalam bermain dan berbagi, memberikan kasih sayang dan perawatan, mendidik serta menjadi teladan, mengawasi dan mendisiplinkan, melindungi dari ancaman atau bahaya, membantu anak mengatasi kesulitan, serta mendorong mereka untuk mencapai keberhasilan. Komunikasi interpersonal sebagai bentuk komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk melakukan proses pengiriman komunikasi untuk mendapatkan umpan balik berupa penerimaan pesan-pesan dari lawan bicara yang memengaruhi kualitas hubungan sosial, termasuk hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi Peran ayah dengan komunikasi interpersonal pada wanita dewasa awal yang sedang menjalani hubungan romantis (pacaran). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling, yang melibatkan 405 partisipan wanita dewasa awal berusia 19–30 tahun yang sedang menjalin hubungan romantis. Instrumen penelitian mencakup skala Peran ayah dan skala komunikasi interpersonal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi (rcy) sebesar .737 dengan nilai signifikansi sebesar .000 (p < 0.05) yang mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara variabel peran ayah dengan komunikasi interpersonal, dan hal ini dapat diartikan, jika peran ayah yang tinggi maka komunikasi interpersonal pada wanita dewasa awal dalam menjalani hubungan romantis (pacaran) juga akan tinggi.
Pengaruh Preferensi Genre Film terhadap Empati pada Dewasa Awal di Jakarta Rahmadani, Putri Alifia; Yanti, Sysari Fitri; Subroto, Untung
Nathiqiyyah Vol 8 No 2 (2025): Nathiqiyyah : Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Program Studi Psikologi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/nathiqiyyah.v8i2.1744

Abstract

Film merupakan media yang efektif dalam membawa penonton ke dalam kondisi emosional tertentu, memfasilitasi proses identifikasi dengan karakter, serta mendorong empati dan pemahaman terhadap pengalaman orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh genre film terhadap empati pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan. Pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Partisipan pada penelitian ini adalah individu dewasa awal berusia 18-25 tahun yang berdomisili di Jakarta, menonton film minimal sekali dalam seminggu, dengan jumlah partisipan sebanyak >100 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner prefensi genre film dan Instrumen penelitian skala empati berdasarkan Interpersonal Reactivity Index (IRI) yang telah dimodifikasi serta divalidasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa genre film secara langsung tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap empati, dengan nilai Sig. p= 0,145. Namun, ketika usia dimasukkan sebagai variable tambahan, terdapat pengaruh yang signifikan antara genre film dengan empati. Kata Kunci : Genre Film, Dewasa Awal, Empati
Hubungan Perasaan Takut akan Kegagalan dengan Perilaku Menunda Pada Mahasiswa Claudia, Cindi; Subroto, Untung
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fear of failure merupakan emosi negatif, seperti cemas, malu, dan rendahnya konformitas yang dapat muncul saat individu menghadapi kondisi yang tidak diinginkan. Prokrastinasi akademik merupakan keadaan individu yang menunda pekerjaan dengan melakukan kegiatan lain. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara fear of failure dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Partisipan penelitian terdiri dari 346 mahasiswa berusia 18-25 tahun menggunakan metode purpusive sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) dan Academic Procrastination Scale (APS). Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan teknik analisis korelasi menggunakan Spearman correlation. Data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics versi 25 dan Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara fear of failure dan prokrastinasi akademik, dengan nilai signifikansi sebesar p = 0.000 < 0.05 dan nilai r = 0.330. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fear of failure memiliki hubungan positif yang signifikan dengan prokrastinasi akademik.
Hubungan Pola Asuh dan Tingkat Kecanduan Gadget Pada Remaja Gisela, Evangelica Shane; Subroto, Untung
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan gadget yang semakin intensif pada kelompok usia remaja menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial. Pola asuh orang tua, berdasarkan teori Baumrind (1991) adalah rangkaian praktik dan strategi yang diterapkan oleh orang tua atau pengasuh dalam membesarkan anak-anak mereka dan yang terdiri atas pola otoritatif, otoriter, permisif, dan abai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua dan tingkat kecanduan gadget pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 358 responden remaja berusia 12-18 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner Parenting Styles and Dimension Questionnaire-Short Version (PSDQ) oleh Clyde C.Robinson dan skala kecanduan gadget Internet Addiction Test (IAT) oleh Kimberly Young. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh dengan tingkat kecanduan gadget pada remaja (r = -0.803, p = 0.000). Hasil analisa menunjukan terdapat hubungan negative antara pola asuh dan tingkat kecanduan gadget pada remaja. Artinya jika pola asuh negative maka akan terjadi kenaikan akan kemungkinan menjadi kecanduan pada gadget. Jika melihat pembagian pola asuh yang ada Pola asuh otoritatif dan otoriter menghasilkan hubungan negative (r = -.796) yang berarti jika orangtua tidak memberikan aturan yang jelas serta mengontrol ketat pada penggunaan gadget, maka tingkat kecanduan gadget rendah. Sementara analisa selanjutnya pola asuh permisif dan abai menghasilkan hubungan negative yang berarti jika orangtua tidak mengabaikan dan tidak membiarkan anaknya dalam menggunakan gadget (control), maka tingkat kecanduan gadget rendah.
Hubungan Kecemasan terhadap Tingkat Konsumtif Pada Remaja yang Bermain Media Sosial Tiofani, Fionelyssa; Subroto, Untung; Fidrian, Natasha Febriani; Pebrianti, Sarah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecemasan dan perilaku konsumtif di kalangan pengguna media sosial remaja. Desain korelasional kuantitatif digunakan untuk menguji hubungan antara tingkat kecemasan dan perilaku konsumtif pada remaja yang terlibat aktif di media sosial. Instrumen yang digunakan meliputi Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) untuk mengukur kecemasan dan skala perilaku konsumtif. Pengujian reliabilitas HAM-A, yang terdiri dari 14 item, menghasilkan alpha Cronbach sebesar 0,956. Sementara itu, skala perilaku konsumtif, yang terdiri dari 24 item, mencapai alpha Cronbach sebesar 0,939. Dengan 100 responden berusia 12-21 tahun, hasilnya mengungkapkan hubungan positif yang signifikan antara kecemasan dan perilaku konsumtif (r = 0,450, p < 0,05). Selain itu, uji-t sampel independen menunjukkan bahwa remaja perempuan dan mereka yang menggunakan media sosial selama lebih dari 4 jam per hari cenderung lebih konsumtif. Studi ini merekomendasikan pendidikan literasi media untuk mengurangi dampak negatif media sosial pada remaja.