Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

DIMENSI KEILAHIAN SUNDA WIWITAN DALAM UPACARA SEREN TAUN DI CIGUGUR Siga, Willfridus Demetrius; ., Kurniasih .; Sutarno, Alfonsus .; Samho, Bartolomeus .; Jehanu, Valerianus Beatae
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 2 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 2, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i2.20994

Abstract

Local religions in Indonesia are generally perceived as culture, not religion. The local religious tradition that existed before the world religion was seen as something with a profane dimension, not sacred. As a result, the divine dimension of local religion is denied. This ethnographic research aims to reveal the divinity dimension of local religion by taking a case study of the local religion of Sunda Wiwitan in Cigugur, Kuningan, West Java. The divine dimension of Sunda Wiwitan can be found in a special way in the entire series of Seren Taun ceremonies, namely the thanksgiving ceremony for the harvest as well as the Sunda Wiwitan religious holiday. In prayers, sacred places and times, ritual materials, music, songs and mantras, ceremonial clothing, performers, and sacred figures all manifest the existence of a supernatural figure (God). The dimension of divinity depicted in the local Sunda Wiwitan religion is very relevant and significant for developing an inclusive and appreciative attitude towards the diversity of religious traditions in Indonesia. With it, the promotion of peace and inter-religious harmony is also possible to construct.
Efektivitas Kemampuan Berpikir Kritis dalam Menangkal Hoaks Siga, Willfridus Demetrius; Seva, Kristining; Her Riadi, Tri Joko
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 8 No. 1 (2023): JAQFI VOL.8 NO. 1, 2023
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v8i1.25554

Abstract

ABSTRAK Hoaks dibuat seseorang/kelompok dengan beragam tujuan. Hoaks biasanya muncul ketika sebuah isu mencuat ke permukaan, namun banyak hal yang belum terungkap atau menjadi tanda tanya. Menyikapi konten media sosial dan media berita daring yang menawarkan informasi yang bermuatan hoaks dibutuhkan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas kemampuan berpikir kritis sebagai sebuah cara dalam menangkal hoaks yang disajikan dalam bentuk informasi pada media media sosial dan media berita daring. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi (mixed method) dengan desain konvergen. Metode kuantitatif mengumpulkan data menggunakan teknik survei. Sedangkan, untuk metode kualitatif dilakukan dengan teknik wawancara mendalam yang hasilnya kemudian dielaborasi dengan data kuantitatif dan disajikan secara deskriptif. Unit analisis penelitian ini adalah 131 mahasiswa rentang usia 16 – 27 tahun dengan beragam jurusan yang tersebar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa mengakses informasi terkait informasi gaya hidup dan politik lebih dari sekali dalam sehari dan sungguh menyadari bahwa setiap informasi/berita merupakan representasi sudut pandang atau ideologi tertentu. Menariknya, responden merasa perlu mengetahui bagaimana cara media menyajikan informasi/berita dengan segala kepentingan yang melatar belakanginya. Suburnya infomasi hoaks mendorong mahasiswa mengkases banyak informasi dengan tetap mengedepankan rasionalitas dan objektivitas data. Tingkat kepercayaan terhadap informasi atau berita yang disajikan oleh media digital belum menunjukkan persentasi yang memuaskan. Salah satu alasannya karena kepentingan mahasiswa mengakses informasi atau berita masih sekedar mencari informasi hiburan dan mengisi waktu luang. Mahasiswa juga menilai bahwa media informasi/berita digital sangat berpengaruh pada pembentukkan pola pikir. Hoaks menimbulkan kepanikan, kegaduhan, menggiring opini publik untuk mudah menerima dan memercayainya sebagai sebuah kebenaran. Maka berpikir kritis menjadi menjadi sebuah keharusan kompetensi untuk mendengarkan dan membaca logika masyarakat, literasi media sejak dini, bijaksana dalam menyampaikan pesan, telusuri sumber berita, dan analisis wacana kritis.
Pendekatan Rehabilitasi Sosial melalui Metode Logotherapeutic Frankl pada Perempuan Usia Produktif dengan HIV/AIDS (ODHIV) Siga, Willfridus Demetrius; Ester; Pantur, Belasius
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i4.10299

Abstract

Masalah HIV/AIDS pada perempuan usia produktif, terutama ibu rumah tangga, terus menjadi tantangan serius di Kota Bandung. Penyakit ini sering kali menyebabkan tekanan psikologis akibat stigma sosial, perasaan bersalah, putus asa, merasa tidak berguna, hilang harapan, dan kehilangan makna hidup. Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim Universitas Katolik Parahyangan bekerja sama dengan PKBI Kota Bandung bertujuan memberikan pendampingan psikososial bagi ODHIV (Orang dengan HIV/AIDS) melalui metode logoterapi Viktor Frankl. Metode ini melibatkan tiga tahapan utama: Intensi Paradoksal, Derefleksi, dan Dialog Sokratik, untuk membantu peserta menemukan makna hidup di tengah penderitaan mereka. Program ini dilakukan melalui sesi kelompok kecil, melibatkan diskusi, eksplorasi emosi, serta refleksi pengalaman hidup. Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan pada perspektif peserta terhadap penderitaan, peningkatan motivasi hidup, dan perasaan diterima oleh komunitas. Peserta mampu menemukan tujuan hidup baru dan menjadi lebih optimis dalam menjalani kehidupan. Dampak positif ini diharapkan dapat berkelanjutan melalui dukungan dan penguatan kelompok/komunitas. Logoterapi terbukti efektif dalam mengatasi krisis eksistensial yang dihadapi ODHIV, memberikan peluang untuk pertumbuhan pribadi, hubungan sosial yang lebih baik, dan kontribusi bermakna bagi masyarakat. Pendekatan ini dapat diadopsi secara luas untuk mendukung peningkatan kualitas hidup ODHIV.
Pendekatan Rehabilitasi Sosial melalui Metode Logotherapeutic Frankl pada Perempuan Usia Produktif dengan HIV/AIDS (ODHIV) Siga, Willfridus Demetrius; Ester; Pantur, Belasius
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i4.10299

Abstract

Masalah HIV/AIDS pada perempuan usia produktif, terutama ibu rumah tangga, terus menjadi tantangan serius di Kota Bandung. Penyakit ini sering kali menyebabkan tekanan psikologis akibat stigma sosial, perasaan bersalah, putus asa, merasa tidak berguna, hilang harapan, dan kehilangan makna hidup. Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim Universitas Katolik Parahyangan bekerja sama dengan PKBI Kota Bandung bertujuan memberikan pendampingan psikososial bagi ODHIV (Orang dengan HIV/AIDS) melalui metode logoterapi Viktor Frankl. Metode ini melibatkan tiga tahapan utama: Intensi Paradoksal, Derefleksi, dan Dialog Sokratik, untuk membantu peserta menemukan makna hidup di tengah penderitaan mereka. Program ini dilakukan melalui sesi kelompok kecil, melibatkan diskusi, eksplorasi emosi, serta refleksi pengalaman hidup. Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan pada perspektif peserta terhadap penderitaan, peningkatan motivasi hidup, dan perasaan diterima oleh komunitas. Peserta mampu menemukan tujuan hidup baru dan menjadi lebih optimis dalam menjalani kehidupan. Dampak positif ini diharapkan dapat berkelanjutan melalui dukungan dan penguatan kelompok/komunitas. Logoterapi terbukti efektif dalam mengatasi krisis eksistensial yang dihadapi ODHIV, memberikan peluang untuk pertumbuhan pribadi, hubungan sosial yang lebih baik, dan kontribusi bermakna bagi masyarakat. Pendekatan ini dapat diadopsi secara luas untuk mendukung peningkatan kualitas hidup ODHIV.
KONSEP MULTIKULTURALISME DALAM RISALAH ISLAM BERKEMAJUAN MUHAMMADIYAH Lukman, Dikdik Dahlan; Demetrius Siga, Willfridus
FOCUS Vol. 5 No. 1 (2024): Focus
Publisher : Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/focus.v5i1.7807

Abstract

This research aims to explore the concept of multiculturalism according to Muhammadiyah, specifically as outlined in the concept of the Progressive Islamic Ideology (Risalah Islam Berkemajuan). The research method employed is discourse analysis with a qualitative approach. The primary source of data is the resolutions of the 48th Muhammadiyah Congress in Surakarta, particularly focusing on the section concerning the Progressive Islamic Ideology (RIB). This study affirms that Islam as understood, practiced, advocated, and propagated by the Muhammadiyah organization is highly accommodating to the concept of multiculturalism, including principles that are fundamental such as creed, movement methodology, and preaching understood by Muhammadiyah.
Symbolic Modification and Declining Community Participation in Cultural Traditions: A Study of the Ngarot Ritual in Tugu Village, Indramayu, West Java Siga, Willfridus Demetrius; Waruwu, Dominikus; Fransiska, Federika; Joshua, Marchelino
FOCUS Vol. 6 No. 1 (2025): Focus
Publisher : Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/focus.v6i1.9400

Abstract

This study aims to analyze the impact of modification on the declining community participation in the Ngarot ceremony in Tugu Village, Lelea Subdistrict, Indramayu Regency. Ngarot is an agrarian tradition that emphasizes the regeneration of cultural values through the active involvement of youth. Unlike Lelea Village, which has preserved the symbolic structure and educational function of Ngarot, Tugu Village has undergone format changes—such as the removal of agricultural training, the addition of religious recitations (pengajian), and entertainment—that have led to a disorientation of meaning and decreased engagement among younger generations. This study employs a qualitative approach using a descriptive-interpretative method. Data were obtained through interviews, observation, and document analysis, and were analyzed thematically and reflectively. The findings reveal that modifications that disregard the cultural structure of meaning can trigger symbolic alienation, interpretive conflict between cultural and religious narratives, and a sustainability crisis in traditional practices. The original contribution of this research lies in mapping the relationship between local policy, symbolic transformation, and cultural participation. This study recommends a contextual meaning-based preservation model and active youth engagement as an alternative approach to sustaining traditions amid ongoing social change.
PENGUATAN IDENTITAS KEAGAMAAN DAN KEBANGSAAN DALAM MEMBANGUN DIALOG INTERRELIGIUS DI INDONESIA Nikolas Novan Risbayana; Antonius Yuan Fimanda; Willfridus Demetrius Siga; Fransisxus Surya Tirta Lesmana; Vinsensius Hulu
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 2 No 01 (2022): Vol 2 No 01 (2022)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v2i01.5907

Abstract

Today's religious identity is often understood and practiced in a negative context. Cases such as religion-based hate speech, identity politics, intolerance, and discrimination arise due to the wrong paradigm of strengthening religious identity. The purpose of this study is to offer another perspective on strengthening religious identity and nationality that puts forward global ethics as an alternative in strengthening religious identity through interreligious dialogue. This scientific article refers to research with a qualitative approach using the netnographic method which is a case study through digital data tracing. In addition, this research also raises the idea of ​​Hans Küng's global ethics. The results of this study are in the form of offers in developing interreligious dialogue in Indonesia, especially those related to the consistency of identity, culture, and Pancasila values ​​that put forward the principles of global ethics. Interreligious dialogue that needs to be worked out together is a dialogue that emphasizes human values.
Intensitas dan Sosialitas Keberagaman di Lingkungan Kerja Yusuf Siswantara; Thomas Lingga; Willfridus Demetrius Siga
Jurnal Sosial Humaniora Vol 14 No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24433527.v14i1.8062

Abstract

Research "intensity and sociality of diversity in the environment orwork unit", aims to find indications of work effectiveness and thevalues of diversity in a pluralistic work environment on workoptimization and productivity. This study uses a quantitative approachwith a questionnaire as a random sampling instrument. The number ofdata population is 39 respondents. The correlation of the intensity ofdiversity values and work practices in a pluralistic environment is themain aspect that supports work effectiveness both internally andexternally. Positive influence supports each person to feel safe,comfortable and have very good relationships. Based on the results ofthe analysis, this study shows that there is a strong and positivecorrelation between performance and tolerance values in a pluralisticenvironment with a positive percentage of 93% and 0.7% valuedeviation that does not support the correlation of the two variables.
DARURAT DEMOKRASI: KRISIS KEADILAN DAN BIAS KEPENTINGAN Willfridus Demetrius Siga; Onesius Otenieli Daeli
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 4 No 02 (2024): 2024 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v4i02.8629

Abstract

Democracy emergencies often become a phenomenon and issue in Indonesia. Responses to this issue are certainly very diverse. There are biases and prejudices directed at the state of democracy in Indonesia. At the concrete and practical level, democracy itself is a tool to achieve common goals. However, on the other hand, democracy is in an emergency condition because it has been used as a non-transparent tool, and democracy is even used as a means to perpetuate the pursuit of interests. This research aims to provide new discourse and insights into the crisis situation and democratic bias that is occurring, while also trying to find answers regarding the political role of citizens in overcoming the crisis. The method used in the activities is the qualitative discourse method through literature study, observation, and focus group discussion. (FGD). The research results indicate that the issues of demos and krator need to be returned to their essence, both conceptually and in practice, in the political life of the nation and state. Individuals who are called to enter the world of politics and run a democracy need to be accompanied by knowledge and experience (arête). The practice of democracy becomes effective when those involved in political decision-making are able to perform their duties and produce policies that do not lead to the common good. If placed in the context of Indonesia, Pancasila should become a source and inspiration for democracy that prioritises common interests and justice.