Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Variasi Pola Sidik Bibir Pada Siswa Penyandang Down Syndrome dari Beberapa Sekolah di Kota Bengkulu Kamilah, Santi Nurul; Aryanti, Fepta; Lestari, Dian Fita; Jarulis, Jarulis; Sipriyadi, Sipriyadi
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v1i2.1150

Abstract

ABSTRAK Down Syndrome merupakan kelainan genetik autosomal karena kelebihan pada jumlah kromosom21 (Trisomi). Salah satu kekhasan pada penyandang down syndrome adalah mulut selalu terbuka, bibir memiliki celah dan relatif tebal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik pola sidik bibir pada penyandang down syndrome. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2021-Februari 2022 menggunakan metode wawancara dan pendataan langsung terhadap siswa penyandang down syndrome yang memenuhi syarat inklusi dari beberapa sekolah di Kota Bengkulu. Identifikasi pola sidik bibir mengacu pada klasifikasi menurut Suzuki dan Tsuchihashi. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square pada program SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siswa penyandang down syndrome ditemukan dua pola sidik bibir yaitu tipe I dan tipe II dengan pola dominan pada tipe I. Persentase pola sidik bibir tipe I pada siswa laki-laki sebesar 66,7% dan pada siswa perempuan 57,1%. Pola sidik bibir tipe II pada siswa laki-laki sebesar 33,3% dan pada siswa perempuan 42,9%. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji Chi-square, tidak terdapat hubungan antara pola sidik bibir dengan rasio tebal bibir dan panjang bibir, serta tidak terdapat hubungan antara pola sidik bibir dengan kemampuan berbicara, kemampuan berjalan, kemampuan menggenggam pena dan kemampuan menulis pada siswa penyandang down syndrome dari beberapa sekolah di kota Bengkulu. Pola sidik bibir dominan tipe I dan II yang ditemukan pada siswa penyandang down syndrome juga umum ditemukan pada non-down syndrome. Kata Kunci: Cheiloscopy, Down syndrome, Pola sidik bibir ABSTRACT An excess of chromosomal number 21 (Trisomy) causes the autosomal genetic disease known as down syndrome. One of the characteristics of people with down syndrome is that their lips have a gap and are rather thick, and their mouths are always open. This study's objective was to examine the characteristics of down syndrome students' lip print patterns. The study was carried out at multiple schools in Bengkulu City between December 2021 and February 2022 using interviews and direct data collecting on Down syndrome pupils with inclusion requirements. The classification of Suzuki and Tsuchihashi is used to identify lip print patterns. The Chi-square test was used to examine the data in SPSS version 22. Data were analyzed using the Chi-square test in the SPSS version 22. The findings indicated that students with Down syndrome had type I and type II lip print patterns, with type I predominating. Male students had a type I lip print pattern prevalence of 66.7%, compared to 57.1% for female students. 33.3% of male students have type II lip print patterns, compared to 42.9% of female students. According to the Chi-square analysis, there is no correlation between lip print patterns, the ratio of lip thickness to lip length, and speaking, walking, pen grasping, and writing abilities in down syndrome from various schools in Bengkulu city. Since the dominating lip print pattern of types I and II observed in down syndrome students is also frequently shown in non-down syndrome individuals, this pattern cannot be used to predict specific motor skills in down syndrome students. Keywords: Cheiloscopy, Down syndrome, Lip print patterns
Pola lengkung telapak kaki dan ujung jari kaki masyarakat suku Lembak Bengkulu Putri, Agitha Febysanti; Kamilah, Santi Nurul; Lestari, Dian Fita; Sipriyadi, Sipriyadi; Jarulise, Jarulise
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 3 No 2 (2023): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v3i2.33941

Abstract

Beberapa suku masyarakat di Indonesia diketahui memiliki karakter fenotipe yang khas. Karakter ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Salah satu suku masyarakat di Indonesia adalah suku Lembak. Masyarakat suku Lembak merupakan salah satu suku asli yang mendiami wilayah Provinsi Bengkulu. Suku ini merupakan bagian dari ras Malayan Mongoloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik masyarakat suku Lembak berdasarkan fenotipe pola lengkung telapak kaki dan pola ujung jari kaki pada masyarakat suku Lembak di Desa Pulau Panggung, Bengkulu. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Pengambilan data dilakukan terhadap 100 orang masyarakat suku Lembak yang telah memenuhi syarat inklusi. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analisis melalui wawancara dan survei langsung dengan melakukan pencetakan telapak kaki dan pengamatan bentuk ujung jari kaki masing-masing individu. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pola lengkung telapak kaki dengan pola dominan yaitu normal arch (89%) dan ditemukan enam dari sepuluh pola ujung jari kaki (Aboriginal, African, Egyptian, Greek, Mongolian dan Orient) dengan pola dominan pada pola orient (42%). Analisis statistik menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola lengkung telapak kaki, ujung jari kaki dengan perbedaan jenis kelamin, serta pola lengkung kaki dengan ujung jari kaki. Karakteristik kaki pada masyarakat suku Lembak di Desa Pulau Panggung didominasi pola lengkung kaki normal arch dan pola ujung jari kaki orient.
KAJIAN KARAKTERISTIK BIOLOGI IKAN SIDAT (Anguilla bicolor ) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN KOTA BENGKULU Wardani, Firdha Iresta; Lestari, Dian Fita; Sugara, Ayub Fita; Agustini, Nella Tri; Nabiu, Nur Lina Maratana; Maharani, Made Dwipa Kusuma
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.3.2024.124 - 135

Abstract

Sidat merupakan ikan katadromus yaitu ikan yang memiliki fase dewasa berada di sungai atau danau tetapi setelah matang gonad akan beruaya ke laut lepas dan memijah disana. Perjalanan yang jauh dan membutuhkan waktu yang lama dengan berbagai rintangan. Sidat memiliki gizi yang tinggi yang kaya akan permintaan akan ekspor. Permintaan yang tinggi juga berdasal dari budidaya pembesaran sidat yang meningkatkan penangkapan sidat akan benih dari alam. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran karateristik biologi dan penangkapan ikan sidat di beberapa sungai di Kota Bengkulu. Karateristik yang dimaksud adalah distribusi panjang, hubungan panjang berat, nisbah kelamin, gambaran gonad ikan sidat, indeks kematangan gonad dan indeks hati. Hasil penelitian menunjukan distribusi panjang ikan sidat terbesar berasal dari Sungai Muara Jenggalu dan yang terkecil dari Sungai Hitam. Pola pertumbuhan berbeda tiap lokasi sungai yaitu allometrik negatif untuk ikan yang berasal dari Sungai Hitam dan Muara Bangkahulu. Pola pertumbuhan isometrik didapatkan dari lokasi Muara Jenggalu. Nisbah kelamin yang ada didominasi oleh ikan yang intersex. Indeks kematangan gonad dan indeks hati menunjukan trend kenaikan berat hati mengikuti tren pertumbuhan panjang.
Allopurinol Induction on Histopathological Structure of the Liver in Male Mice (Mus musculus) Lestari, Dian Fita; Fatimatuzzahra, Fatimatuzzahra; Sianipar, Agnes Petra; Wulansari, Shahnaz Shabrina
Jurnal Biodjati Vol 7 No 2 (2022): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v7i2.18616

Abstract

Allopurinol is used to reduce total uric acid levels in the body into oxypurinol which can inhibit xanthine oxidase. Allopurinol inhibits the precursors of uric acid formation, xanthine, and hypoxanthine. However, consumption of the drugs can cause side effects on the liver. The aim of the research was to determine the effect of allopurinol induction on the liver histopathology of male mice (Mus musculus) DDY strain. The method used in this research was an experimental design used post-test only that was divided into 4 groups of 4 mice per group. The control group (P0) was given 0.5% Na-CMC, and groups I, II, and III (P1, P2, and P3) were induced by allopurinol at 10 mg/kg BW, 20 mg/kg BW, and 30 mg/kg BW for 14 days. Allopurinol induction was performed by oral gavage. The results of the research showed that treatment with allopurinol caused changes in the mice’s body weight, liver index, liver morphology, and histological structure of the liver tissue, including necrosis, steatosis, leukocyte infiltration, binuclear hepatocytes, hepatocyte swelling, congestion, sinusoid dilatation, and hemorrhage. The level of liver damage increased in line with the dose used. This research indicated that the higher the allopurinol level, the higher the level of alteration in the liver section structure. Long-term use of allopurinol can cause damage to the structure of mice liver (liver toxicity). 
Identifikasi Telur Cacing pada Feses Sapi Peranakan Ongole (PO) dan Sapi Bali dengan Metode Natif dan Sedimentasi Khoirillah, Fanni; Lestari, Dian Fita; Istiqomah, Siti
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 4 No 3 (2023): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v4i3.284

Abstract

Peternakan di Indonesia cenderung rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Salah satu ancaman penyakit pada hewan ternak terhadap kesehatan manusia yaitu zoonosis. Salah satu cara untuk mengidentifikasi parasit gastrointestinal dari ternak yaitu dengan melakukan pemeriksaan atau pengujian feses sapi secara rutin. Pentingnya mengetahui jenis cacing yang menginfeksi ternak agar dapat segera dilakukan pengobatan dengan jenis obat antiparasit yang tepat, sehingga pengobatannya menjadi lebih efektif. Sehingga tujuan penelitian ini untuk memeriksa feses sapi untuk mengetahui infeksi jenis cacing. Sampel feses sapi didapatkan dari Laboratorium Peternakan Universitas Bengkulu dan UPTD Pembibitan dan Pakan Ternak (PPT) Bengkulu menggunakan sapi jenis Peranakan Ongole (PO) dan sapi bali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan dua metode yaitu metode natif dan sedimentasi. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa 3 individu sapi menunjukkan positif terinfeksi berbagai jenis cacing. Hasil metode natif ditemukan beberapa jenis cacing yang paling banyak berupa nematoda yang meliputi A. lumbricoides, Strongyloides papillosus, Strongylid dan Toxocara spp., trematoda berupa Schistosoma bovis, dan cestode berupa Taenia sp. Sedangkan dengan metode sedimentasi juga menunjukkan lebih banyak positif terinfeksi trematoda yang meliputi Schistosoma sp., Fasciola sp, Eurytrema spp, Paramphistomum sp, serta cestoda berupa Taenia sp. Pola pemeliharaan sapi secara intensif mampu menekan penyebaran parasit cacing jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pola pemeliharaan sapi secara semi intensif.