Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pola lengkung telapak kaki dan ujung jari kaki masyarakat suku Lembak Bengkulu Putri, Agitha Febysanti; Kamilah, Santi Nurul; Lestari, Dian Fita; Sipriyadi, Sipriyadi; Jarulise, Jarulise
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 3 No 2 (2023): Mei-Agustus
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v3i2.33941

Abstract

Beberapa suku masyarakat di Indonesia diketahui memiliki karakter fenotipe yang khas. Karakter ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Salah satu suku masyarakat di Indonesia adalah suku Lembak. Masyarakat suku Lembak merupakan salah satu suku asli yang mendiami wilayah Provinsi Bengkulu. Suku ini merupakan bagian dari ras Malayan Mongoloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik masyarakat suku Lembak berdasarkan fenotipe pola lengkung telapak kaki dan pola ujung jari kaki pada masyarakat suku Lembak di Desa Pulau Panggung, Bengkulu. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Pengambilan data dilakukan terhadap 100 orang masyarakat suku Lembak yang telah memenuhi syarat inklusi. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analisis melalui wawancara dan survei langsung dengan melakukan pencetakan telapak kaki dan pengamatan bentuk ujung jari kaki masing-masing individu. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pola lengkung telapak kaki dengan pola dominan yaitu normal arch (89%) dan ditemukan enam dari sepuluh pola ujung jari kaki (Aboriginal, African, Egyptian, Greek, Mongolian dan Orient) dengan pola dominan pada pola orient (42%). Analisis statistik menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola lengkung telapak kaki, ujung jari kaki dengan perbedaan jenis kelamin, serta pola lengkung kaki dengan ujung jari kaki. Karakteristik kaki pada masyarakat suku Lembak di Desa Pulau Panggung didominasi pola lengkung kaki normal arch dan pola ujung jari kaki orient.
KAJIAN KARAKTERISTIK BIOLOGI IKAN SIDAT (Anguilla bicolor ) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN KOTA BENGKULU Wardani, Firdha Iresta; Lestari, Dian Fita; Sugara, Ayub Fita; Agustini, Nella Tri; Nabiu, Nur Lina Maratana; Maharani, Made Dwipa Kusuma
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.3.2024.124 - 135

Abstract

Sidat merupakan ikan katadromus yaitu ikan yang memiliki fase dewasa berada di sungai atau danau tetapi setelah matang gonad akan beruaya ke laut lepas dan memijah disana. Perjalanan yang jauh dan membutuhkan waktu yang lama dengan berbagai rintangan. Sidat memiliki gizi yang tinggi yang kaya akan permintaan akan ekspor. Permintaan yang tinggi juga berdasal dari budidaya pembesaran sidat yang meningkatkan penangkapan sidat akan benih dari alam. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran karateristik biologi dan penangkapan ikan sidat di beberapa sungai di Kota Bengkulu. Karateristik yang dimaksud adalah distribusi panjang, hubungan panjang berat, nisbah kelamin, gambaran gonad ikan sidat, indeks kematangan gonad dan indeks hati. Hasil penelitian menunjukan distribusi panjang ikan sidat terbesar berasal dari Sungai Muara Jenggalu dan yang terkecil dari Sungai Hitam. Pola pertumbuhan berbeda tiap lokasi sungai yaitu allometrik negatif untuk ikan yang berasal dari Sungai Hitam dan Muara Bangkahulu. Pola pertumbuhan isometrik didapatkan dari lokasi Muara Jenggalu. Nisbah kelamin yang ada didominasi oleh ikan yang intersex. Indeks kematangan gonad dan indeks hati menunjukan trend kenaikan berat hati mengikuti tren pertumbuhan panjang.
Identifikasi Telur Cacing pada Feses Sapi Peranakan Ongole (PO) dan Sapi Bali dengan Metode Natif dan Sedimentasi Khoirillah, Fanni; Lestari, Dian Fita; Istiqomah, Siti
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 4 No 3 (2023): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v4i3.284

Abstract

Peternakan di Indonesia cenderung rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Salah satu ancaman penyakit pada hewan ternak terhadap kesehatan manusia yaitu zoonosis. Salah satu cara untuk mengidentifikasi parasit gastrointestinal dari ternak yaitu dengan melakukan pemeriksaan atau pengujian feses sapi secara rutin. Pentingnya mengetahui jenis cacing yang menginfeksi ternak agar dapat segera dilakukan pengobatan dengan jenis obat antiparasit yang tepat, sehingga pengobatannya menjadi lebih efektif. Sehingga tujuan penelitian ini untuk memeriksa feses sapi untuk mengetahui infeksi jenis cacing. Sampel feses sapi didapatkan dari Laboratorium Peternakan Universitas Bengkulu dan UPTD Pembibitan dan Pakan Ternak (PPT) Bengkulu menggunakan sapi jenis Peranakan Ongole (PO) dan sapi bali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan dua metode yaitu metode natif dan sedimentasi. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa 3 individu sapi menunjukkan positif terinfeksi berbagai jenis cacing. Hasil metode natif ditemukan beberapa jenis cacing yang paling banyak berupa nematoda yang meliputi A. lumbricoides, Strongyloides papillosus, Strongylid dan Toxocara spp., trematoda berupa Schistosoma bovis, dan cestode berupa Taenia sp. Sedangkan dengan metode sedimentasi juga menunjukkan lebih banyak positif terinfeksi trematoda yang meliputi Schistosoma sp., Fasciola sp, Eurytrema spp, Paramphistomum sp, serta cestoda berupa Taenia sp. Pola pemeliharaan sapi secara intensif mampu menekan penyebaran parasit cacing jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pola pemeliharaan sapi secara semi intensif.
Heavy metal accumulation and histopathology of fish muscle from contaminated rivers Helmiyetti; Lestari, Dian Fita; Jarulis; Turnando , Hengki; Wulan, Farisa Retno; Risditama , Ibranio
Edubiotik : Jurnal Pendidikan, Biologi dan Terapan Vol. 11 No. 01 (2026): May
Publisher : Biology Education Department, Universitas Insan Budi Utomo, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/ebio.v11i01.2137

Abstract

Gold mining activities in Lebong release heavy metals into aquatic ecosystems, where fish act as bioindicators due to their ability to bioaccumulate pollutants. This study evaluated mercury and cadmium contamination in fish and examined histopathological responses in fish muscle. This research employed a descriptive quantitative approach. Water and fish samples were collected from the four rivers surrounding gold mining areas: Air Putih, Amen, Air Kotok, and Tambang Saweak rivers in Lebong Regency, Bengkulu Province, Indonesia. Heavy metals were analyzed using atomic absorption spectrophotometry, while histopathological examination was conducted microscopically. Data were analyzed descriptively and statistically. The results revealed that mercury and cadmium were detected in both water and fish. Mercury in the Amen River reached 0.14 mg/L, exceeding the permissible water quality standard, while cadmium remained below threshold limits. The highest mercury was recorded in Rasbora sp. (1.21 mg/kg), exceeding the maximum limit of 0.5 mg/kg, and the highest cadmium in T. trichopterus (3.54 mg/kg), substantially exceeding the permissible limit of 0.1 mg/kg. Histopathological examination of Rasbora sp., O. niloticus, H. nemurus, M. circumcinctus, and T. trichopterus, demonstrated muscle atrophy, edema, necrosis, fragmentation, splitted element, and degeneration. These findings indicate significant bioaccumulation of heavy metals and suggest potential risks to aquatic organisms and human health through fish consumption.