Claim Missing Document
Check
Articles

WORKSHOP MAKET 15 MENIT DI SMA PERMAI: KOREK API DAN KETERBANGUNAN Nina Carina; Keira Edeline; Jason Christian Adam
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 4 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i4.37239

Abstract

Public knowledge regarding the Architecture study program remains limited. As a discipline predominantly housed under the Faculty of Engineering, Architecture is often perceived as a field strongly associated with technical calculations, while at the same time requiring creativity and drawing skills. Consequently, many high school students assume that proficiency in mathematics and manual drawing is a prerequisite for entering an architecture program. However, recent developments in architectural education in Indonesia—where the discipline is no longer dominated by engineering approaches and where computational design tools increasingly reduce the reliance on manual drawing—remain largely unfamiliar to the wider public, particularly to grade X and XI students at SMA Permai, North Jakarta. In response, the Community Service Team of Universitas Tarumanagara designed an outreach activity to introduce students to basic architectural thinking and practice. Considering the characteristics of Generation Z and the limited time available, the team implemented a “15-Minute Model Workshop.” Using simple wooden matchsticks as the primary material, students were encouraged to collaborate in groups, an essential skill for succeeding in higher architectural education. The workshop further provided opportunities to quickly search for precedents, experiment under time and resource constraints, and make design decisions to produce multiple creative alternatives. Each group concluded with a brief presentation of their work. Through this process, participants gained valuable experiences in teamwork, information seeking, experimentation, creative production, and public presentation—skills that constitute key success factors in architectural education. Ultimately, the 15-Minute Workshop broadened students’ understanding of architecture as a dynamic field of higher education. Pengetahuan Masyarakat mengenai Program Studi Arsitektur masih terbatas. Arsitektur sebagai program studi yang sebagian besar berada di bawah naungan Fakultas Teknik masih dikonotasikan dalam ilmu teknik yang penuh dengan pelajaran hitungan namun disatu sisi dituntut untuk kreatif dan berbakat menggambar. Hal ini membuat banyak siswa SMA mengira bahwa untuk menjadi mahasiswa arsitektur, keahlian menghitung dan menggambar menjadi syarat mutlak. Perubahan dunia pendidikan arsitektur Indonesia yang saat ini tidak lagi didominasi ilmu Teknik serta hadirnya beragam program komputasi desain yang membuat keahlian menggambar manual tidak lagi mutlak, belum banyak diketahui masyarakat luas, khususnya siswa kelas X dan XI di SMA Permai, Jakarta Utara. Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Untar berusaha menghadirkan pengetahuan dan pengalaman singkat berarsitektur kepada siswa-siswi SMA Permai. Melalui pemahaman mengenai karakter generasi Z serta adanya batasan waktu yang diberikan, Tim merencanakan dan melaksanakan workshop maket 15 menit. Melalui Workshop 15 menit dengan bahan dasar korek api kayu, siswa-siswi peserta workshop mendapatkan pengalaman bekerjasama dalam kelompok. Bekerjasama dalam kelompok merupakan salah satu syarat keberhasilan dalam menempuh pendidikan tinggi arsitektur. Peserta workshop juga mendapatkan pengalaman mencari preseden secara cepat, bereksperimen dalam keterbatasan waktu dan alat hingga membuat keputusan desain guna menghasilkan beberapa alternatif karya kreatif yang dapat terbangun. Workshop diakhiri dengan presentasi singkat setiap kelompok. Pada akhir workshop peserta mendapatkan pengalaman bekerjasama, mencari informasi, bereksperimen, berkreasi kreatif serta keberanian berpresentasi yang kesemuanya merupakan kunci keberhasilan menjalankan pendidikan tinggi arsitektur. Melalui workshop 15 menit siswa-siswi SMA Permai memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai pendidikan tinggi Arsitektur.
SOSIALISASI REKOMENDASI PENATAAN TEMATIK FUNGSI LAHAN PADA KAWASAN BERBASIS TRANSIT STASIUN MRT HARMONI Mekar Sari Suteja; Nina Carina; Ivan Karel Surya; Kevin Purnomo; Pricilia Chandra; Josephine Quin Destania; Wynne Eileen
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i2.38017

Abstract

The construction of the Harmoni MRT Station, scheduled for completion in 2027, marks a transformative phase for the area as a strategic hub within Jakarta’s public transportation network. Over the next three years, the area is projected to experience significant changes in its spatial structure and community activities. This Community Service Program (PKM) continues previous research focused on recommendations for organizing supporting activities and pedestrian networks within the Harmoni Sub-area. This article emphasizes disseminating spatial planning recommendations through a thematic land-use concept for the transit-oriented area surrounding the station, in collaboration with the DCKTRP of DKI Jakarta. The program began by presenting initial research results to the partner agency to gather feedback and discuss potential development plans. Data collection employed a descriptive-comparative approach through literature studies of similar cases, while analysis utilized the 5D framework (density, diversity, design, destination accessibility, distance to transit) to formulate recommendations for transit-oriented development (TOD). The findings indicate the need for an Urban Design Guideline (PRK) integrating office, culinary, vertical housing, and public space functions within a pedestrian-oriented spatial system. The proposed planning framework aims to preserve the historical character of the Gajah Mada–Hayam Wuruk corridor while enhancing urban vitality through adaptive, efficient, and sustainable mixed-use design. These recommendations are expected to form the basis for the Harmoni PRK in accordance with Jakarta Governor Regulation No. 31 of 2022.   ABSTRAK Pembangunan Stasiun MRT Harmoni yang ditargetkan selesai pada tahun 2027 menandai fase transformasi kawasan sebagai simpul strategis transportasi publik Jakarta. Dalam tiga tahun ke depan, kawasan ini diproyeksikan mengalami perubahan signifikan pada pola ruang dan aktivitas masyarakat. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini melanjutkan penelitian sebelumnya yang berfokus pada rekomendasi penataan aktivitas pendukung dan jalur pedestrian di Sub-Kawasan Harmoni. Artikel ini menitikberatkan pada sosialisasi rekomendasi penataan ruang melalui konsep penataan tematik fungsi lahan untuk kawasan berbasis transit di sekitar stasiun, berkolaborasi dengan DCKTRP DKI Jakarta. Program diawali dengan mempresentasikan hasil penelitian awal kepada lembaga mitra untuk menampung masukan dan mendiskusikan potensi rencana pembangunan. Pengumpulan data menggunakan pendekatan deskriptif-komparatif melalui kajian pustaka kasus sejenis, sementara analisis menggunakan konsep 5D (density, diversity, design, destination accessibility, distance to transit) untuk merumuskan rekomendasi kawasan berbasis transit (TOD). Temuan menunjukkan perlunya Panduan Rancang Kota (PRK) yang mengintegrasikan fungsi perkantoran, kuliner, hunian vertikal, dan ruang publik dalam sistem spasial yang berorientasi pada pejalan kaki. Kerangka perencanaan yang diusulkan bertujuan menjaga karakter historis Koridor Gajah Mada Hayam Wuruk sekaligus meningkatkan vitalitas perkotaan melalui desain mixed-use yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Rekomendasi ini diharapkan menjadi dasar bagi PRK Harmoni sesuai dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 31 Tahun 2022.