Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

CORRELATION OF HbA1c LEVELS AND PLATELET INDICES (MPV, PDW, P-LCR, PCT) IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS Hartini, Titin; Riyani, Ani; Nurhayati, Dewi; Noviar, Ganjar
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v17i2.2824

Abstract

Diabetes melitus yang berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler. Peningkatan komplikasi erat kaitannya dengan tidak terkontrolnya gula darah yang salah satunya dapat dinilai melalui  parameter HbA1c. Risiko komplikasi vaskular meningkat akibat keadaan protrombotik, yang dipengaruhi oleh aktivitas trombosit. Aktivitas trombosit dapat dievaluasi melalui indeks trombosit yaitu Mean Platelet Volume (MPV), Platelet Distribution Widht (PDW), Platelet Large Cell Ratio (P-LCR) dan Plateletcrit (PCT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dengan indeks trombosit (MPV, PDW, P-LCR, PCT) pada pasien DM Tipe 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan studi korelasi menggunakan data sekunder dari 107 sampel pasien DM Tipe 2 dengan kriteria inklusi: pasien DM tipe 2 dengan kadar HbA1c ≥ 6,5% dan kriteria eksklusi: pasien tidak menerima transfusi darah 3 bulan terakhir, DBD dan Anemia yang diambil di RSUD Bandung Kiwari, dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan besaran sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow. Kadar HbA1c diukur dengan metode ion-exchange HPLC. Sedangkan Indeks trombosit dihitung menggunakan alat hematologi otomatis. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi positif lemah antara kadar HbA1c dengan PCT (koefisien korelasi r=0.197 dan p=0.042), sedangkan tidak ditemukan hubungan signifikan antara kadar HbA1c dengan MPV, PDW dan P-LCR dengan (MPV: r = -0,041, p = 0,67; PDW: r = 0,039, p = 0,69; P-LCR: r = -0,009, p = 0,93).
PENGARUH WAKTU TUNGGU DAN JARAK TEMPUH PENGIRIMAN SAMPEL MENGGUNAKAN SISTEM TABUNG PNEUMATIK TERHADAP NILAI PROTHROMBIN TIME DI RUMAH SAKIT ADVENT Putro, Pramudho Subroto; Riyani, Ani; Hayati, Eem; Solihat, Muhammad Firman
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 1 (2024): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v4i1.2073

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Saat ini semakin banyak pemeriksaan laboratorium yang menggunakan peralatan otomatis, tentunya sangat menunjang untuk hasil laboratorium yang cepat dan akurat. Salah satu teknologi yang digunakan untuk transportasi sampel yang digunakan di Advent Hospital Bandung adalah Sistem Tabung Pneumatik (STP). STP merupakan bagian integral dari fasilitas medis besar yang menyediakan interkoneksi cepat antar unit di rumah sakit dan sering digunakan untuk mengangkut sampel darah. Prinsip kerja STP adalah sistem dengan vakum parsial melalui jaringan pipa, mendorong wadah silinder sehingga tempat material yang dikirim menyerupai kapsul dapat meluncur di sepanjang jalur pipa dengan kecepatan tinggi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh waktu tunggu dan jarak yang ditempuh oleh sistem tabung pneumatik terhadap pemeriksaan PT. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif yang membandingkan nilai pemeriksaan PT pada sampel pemeriksaan. Sepuluh orang diambil darah venanya, masing-masing 8 tabung vacutainer dengan antikoagulan natrium sitrat 3,2%. Semua tabung vacutainer dikirim ke laboratorium oleh petugas pengiriman. Satu tabung dikirim langsung dan tiga tabung vacutainer lainnya dikirim dari laboratorium ke unit perawatan lantai 1, 4 dan 6 dengan jarak pneumatik 50 meter, 100 meter dan 200 meter, dan empat tabung lainnya dikirim dengan cara yang sama setelah waktu tunggu 1 jam. Pemeriksaan PT dilakukan secara bersamaan menggunakan koagulator metode magnetis mekanik. Hasil : Data penelitian diolah secara statistik menggunakan uji GLM, hasil uji diperoleh nilai Fcount = 0,973 dan Sig. = 0,458 > α (0,05). Kesimpulan : Hasil penelitian ini adalah tidak ada pengaruh yang signifikan antara waktu tunggu dan jarak yang ditempuh oleh STP terhadap pemeriksaan PT. Kata Kunci PT, STP, waktu tunggu, jarak STP, uji GLM
PENERAPAN MATRIK SIGMA SEBAGAI PENILAIAN UNJUK KERJA PEMERIKSAAN KIMIA KLINIK DI RSUD MAJALENGKA Ardiansyah, Ari; Rinaldi, Sonny Feisal; Ridwanna, Surya; Riyani, Ani
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 1 (2024): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v4i1.2123

Abstract

Latar Belakang: Matrik Sigma adalah bagian dari Sistem Manajemen Mutu yang berfungsi untuk meningkatkan efisiensi proses dan mengurangi tingkat kesalahan untuk meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan, dengan menghitung kinerja proses yang menggabungkan hasil perhitungan dari Total Error Allowable (TEa), bias (d%) dan koefisien variasi (CV%). Tujuan untuk melihat gambaran Matrik Sigma pada Pemantapan Mutu Internal pemeriksaan Kimia Klinik dan mengetahui parameter-parameter yang dapat diterapkan Matrik Sigma. Metode: Deskriptif analitik. Data diperoleh dari Pemantapan Mutu Internal pemeriksaan Kimia Klinik di Instalasi Laboratorium RSUD Majalengka. Total Error Allowable (TEa) yang digunakan berasal dari Biological Variability, RiliBÄK, RCPA, dan CLIA. TEa dipetakan berdasarkan area yang ada di dalam grafik. Penetapan sumber TEa berdasarkan algoritma seleksi TEa. Hasil: TEa dari Desirable Biological Variability untuk SGOT, SGPT, Bilirubin Total, dan Trigliserida, TEa dari Optimal Biological Variability untuk Bilirubin Direk, TEa dari RiliBÄK untuk Albumin, TEa dari RCPA untuk Ureum, Dan TEa dari CLIA untuk Kolesterol, Glukosa, Kreatinin, Asam Urat dan Total Protein. Nilai Matrik Sigma yang didapat pada skala sigma, yaitu : SGOT 6,81; SGPT 7,53; Bilirubin Total 6,03; Bilirudin Direk 7,11; Trigliserida 7,99; Albumin 4,71; Ureum 1,96; Kolesterol 2,1; Glukosa 2,89; Kreatinin 2,91; Asam Urat 3,71; dan Total Protein 0,71. Parameter yang memiliki nilai < 4 sigma dilakukan perhitungan Quality Gold Index (QGI) untuk menentukan permasalahan yang menyebabkan parameter tersebut memiliki nilai sigma yang rendah. Kesimpulan: Parameter yang direkomendasikan untuk dapat diterapkan Matrik Sigma adalah paramater yang memiliki nilai 4 sigma. Kata kunci : TEa, algoritma, matrik sigma, QGI
HUBUNGAN KARATERISTIK ATLM TERHADAP TURN AROUND TIME (TAT) HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI RSUD MAJALENGKA Rabia, La; Rahayu, Ira Gustira; Kurniawan, Entuy; Riyani, Ani
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 4 No 1 (2024): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v4i1.2136

Abstract

Latar Belakang: Hasil pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat bagi para klinisi menegakan diagnosis pasien dan mempercepat terapi pengobatan pasien. Standar pelayanan minimal rumah sakit salah satunya yaitu waktu tunggu hasil pemeriksaan laboratorium (TAT) <140 menit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahi hubungan karateristik petugas ATLM terhadap Turn around Time hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD Majalengka. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik deskriptif dengan jenis penelitian cross sectional. Responden penelitian ini adalah seluruh petugas laboratorium di RSUD Majalengka yang berjumlah 22 orang. Pengumpulan data dengan menggunakan koesioner, analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat. Hasil penelitian: Menujukkan bahwa setiap variabel dengan tingkat probabilitas α=0,05 yaitu variabel usia diperoleh nilai Sig.=0,857, variable jenis kelamin diperoleh nilai Sig.=0,279, pendidikan diperoleh nilai Sig.=0,329, variable kompetensi ATLM di RSUD Majalengka memiliki nilai constant dalam arti semua kompoten, masa kerja diperoleh nilai Sig.=0,774, variabel beban kerja diperoleh nilai Sig.=0,193. Dari data yang telah diuji semua variabel dimana dengan nilai Sig lebih besar dari α=0,05% Oleh karena itu, hipotesis nol (Ho) diterima, yang berarti semua tidak berpengaruh terhadap TAT hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD Majalengka. Kesimpulan: Bahwa karateristik petugas di laboratorium tidak berpengaruh terhadap waktu tunggu hasil pemeriksaan laboratorium RSUD Majalengka. Kata Kunci : Waktu Tunggu, Karateristik ATLM, Pemeriksaan Laboratorium
Peningkatan Pengetahuan dan Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Mengatasi Permasalahan Air Bersih Karmini, Mimin; Ardiani Septiati, Yosephnia; Kahar, Kahar; Ruhmawati, Tati; Riyani, Ani; Bintan Zakiyah, Lutfia
Jurnal SOLMA Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v13i1.14285

Abstract

Background: Water is a very important need for human life. Physically, the water quality does not meet the requirements, namely: cloudy, yellow and smells of iron, chemically the Fe and Manganese levels do not meet the requirements, so clean water needs to be treated. The aim of community service is to increase knowledge, improve the quality of clean water physically and chemically, and increase the skills of the people of RW 12 and RW 13 regarding clean water processing. Method: Preparation, namely preparing counseling materials, making questionnaires, obtaining permits, coordinating with RT, RW, cadres, Pasirkaliki Community Health Center. Implementation Stage: for partners 1 and 2 respectively: conducting socialization, pretest, counseling, posttest, RT and RW deliberations, determining the location for installing clean water filters, and empowering the community when installing clean water filters. Result: 3 clean water filters have been installed in RW 12, namely the community well for 30 families, and 2 filter filters have been installed in private homes for 3-5 families in RW 13. 2 clean water filters have been installed in privately owned dug wells for 1- 3 families. There was an increase in the community's knowledge score regarding clean water processing in RW 12 by 37.47% and in RW 13 by 15.97%. Conclusion: 5 clean water filters have been installed in RW 12 and 13. There is a decrease in turbidity and dissolved Fe in the clean water.
Perbandingan PEG, α-CD, dan SLS dalam Preparasi Serum Lipemik pada Pemeriksaan AST Nurhaliza, Siti; Riyani, Ani; Nurhayati, Dewi; Kurnaeni, Nani
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 20 No 2 (2025): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v20i2.3247

Abstract

Background: Lipemic serum can interfere with AST testing, resulting in falsely elevated values. The addition of alpha-cyclodextrin (α-CD), polyethylene glycol (PEG), and sodium lauryl sulfate (SLS) can bind to fats in lipemic serum, thereby clarifying the serum. This study aims to compare the activity of AST enzyme in pooled serum with pooled lipemic serum after adding PEG 1.5%, α-CD 1.5%, and SLS 5%, as well as the differences in AST enzyme activity between pooled lipemic serum supplemented with PEG 1.5%, α-CD 1.5%, and SLS 5%. Method: Experimental, by preparing lipemic serum using egg yolk to achieve a triglyceride level of 1500.8 mg/dL, then treated with PEG 1.5%, α-CD 1.5%, and SLS 5%, incubated for 30 minutes at 4°C, centrifuged at 3000 rpm for 10 minutes, and the AST enzyme activity was measured using the Kinetic-IFCC method and compared with pooled serum. Results: The ANOVA test results showed a significant difference in AST enzyme activity between pooled serum samples and untreated lipemic serum. However, when lipemic serum was treated with PEG 1.5%, α-CD 1.5%, and SLS 5%, no significant difference was observed compared to pooled serum. Additionally, there was no significant difference in AST enzyme activity between lipemic serum supplemented with PEG 1.5%, α-CD 1.5%, and SLS 5%. Conclusion: These three flocculants can be used to treat lipemic serum to obtain more accurate AST activity test results.