Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Peer Coaching dalam Komunitas Belajar untuk Meningkatkan Kemampuan Asesmen Formatif Guru Matematika SMP Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/rdp81q26

Abstract

Kualitas hidup di masa depan sangat bergantung pada bagaimana individu dipersiapkan di hari ini, dan pendidikan memainkan peran krusial dalam menyiapkan individu yang mampu berdaya saing secara global. Dalam konteks pendidikan nasional, terutama dengan implementasi Kurikulum Merdeka, kompetensi pedagogik guru dituntut untuk mengelola pembelajaran secara optimal, termasuk dalam aspek evaluasi hasil belajar. Asesmen formatif (AF) menjadi fokus utama sebagai proses berkelanjutan untuk mengumpulkan bukti pembelajaran dan memberikan umpan balik instruksional. Namun, guru Matematika Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghadapi tantangan spesifik dalam merancang dan mengimplementasikan AF secara objektif dan berkelanjutan, khususnya ketika menggunakan teknik Peer Assessment (PA) yang rentan terhadap subjektivitas dan inkonsistensi penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model strategis Peer Coaching (PC) berbasis Komunitas Belajar (KB) untuk secara efektif meningkatkan kemampuan guru Matematika SMP dalam melaksanakan Asesmen Formatif, khususnya melalui teknik Peer Assessment (Putra, 2023). Kajian literatur kualitatif digunakan untuk mensintesis konsep-konsep kunci, yaitu urgensi kompetensi pedagogik, prinsip AF, keunggulan dan tantangan Peer Assessment sebagai teknik AF, dan efektivitas Peer Coaching sebagai model pengembangan profesional non-klasikal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Peer Coaching yang terinstitusionalisasi dalam Komunitas Belajar menyediakan kerangka kerja lima tahap yang secara sinergis mengatasi masalah subjektivitas dalam Peer Assessment dan menjembatani kesenjangan kompetensi pedagogik guru. Model ini mengintegrasikan siklus perencanaan bersama, observasi kelas, refleksi terstruktur, dan umpan balik berbasis bukti untuk memastikan praktik AF yang valid dan reliabel. Penekanan pada pembelajaran sosial (social learning) dan pengalaman (experiential learning), sesuai dengan model 70:20:10, memungkinkan guru untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang kriteria penilaian dan strategi fasilitasi, yang pada gilirannya meningkatkan objektivitas dan kualitas umpan balik formatif kepada siswa. Strategi ini selaras dengan kebutuhan pembelajaran orang dewasa (adult learning) yang berorientasi praktik, dan merupakan langkah krusial dalam memastikan pendidikan Matematika yang adaptif, inovatif, dan berpusat pada peserta didik.
Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA) Guru Sekolah Dasar dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/dtj88t90

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebutuhan pelatihan (Training Needs Assessment - TNA) bagi guru Sekolah Dasar (SD) sebagai strategi diagnostik dalam menghadapi tantangan implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi (PB) pada Kurikulum Merdeka (KM). Metode yang digunakan adalah kajian literatur sistematis dan analisis konseptual, mengintegrasikan kerangka teori TNA tiga tingkat (Organisasi, Tugas, Individu) dengan tuntutan kompetensi pedagogik PB di SD. Temuan utama menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi yang multidimensi, mencakup ketidaksiapan guru dalam merancang modul ajar yang fleksibel, penguasaan asesmen diagnostik yang rendah, dan keterbatasan dalam adaptasi teknologi informasi (IT) untuk pembelajaran abad ke-21. Kesenjangan ini diperparah oleh kendala manajerial seperti beban kerja tinggi dan kurangnya waktu perencanaan yang memadai. Studi ini menemukan bahwa pelatihan yang ada, seringkali berbentuk workshop generik, terbukti tidak efektif dan bahkan menimbulkan kebingungan bagi guru, mengindikasikan kegagalan diagnostik pada tahap TNA. Sebagai hasilnya, penelitian ini merumuskan sebuah model TNA terintegrasi yang berfokus pada diagnosis kebutuhan spesifik di tingkat tugas (literasi asesmen diagnostik) dan tingkat individu (penguasaan TIK dan resistensi psikologis). Model ini berfungsi sebagai prasyarat wajib untuk merancang program pelatihan yang berdiferensiasi, berkelanjutan, dan adaptif, sehingga investasi dalam pengembangan profesional guru dapat menjadi tepat sasaran dan secara efektif menjembatani kesenjangan antara kompetensi aktual dan tuntutan Kurikulum Merdeka.
Implementasi Pelatihan Flipped Classroom dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SMP di Era Digital Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/hpg20j96

Abstract

Latar Belakang dan Urgensi: Era digital dan sistem pembelajaran pasca-pandemi, yang ditandai dengan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas atau yang dikenal sebagai Era New Normal, menuntut pergeseran paradigma pembelajaran yang fundamental (Hidayat & Ningsih, 2022; Chalim et al., 2022). Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditantang untuk mengadopsi model pembelajaran yang tidak hanya mengintegrasikan teknologi secara efektif, tetapi juga mampu mengoptimalkan waktu tatap muka yang singkat (Hidayat & Ningsih, 2022). Flipped Classroom (FC) hadir sebagai model blended learning yang memanfaatkan teknologi untuk membalik pola tradisional penyampaian konten dan praktik, menjadikannya solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan waktu dan meningkatkan keterlibatan siswa (Madang et al., 2022). Model ini memindahkan transfer informasi pasif ke ranah asinkron (pra-kelas), sementara waktu di kelas (sinkron) digunakan untuk aktivitas kognitif tingkat tinggi (HOTS) (Madang et al., 2022). Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis desain dan implementasi pelatihan FC yang terintegrasi dengan pendekatan pedagogis modern, serta mengevaluasi dampak spesifiknya terhadap peningkatan profesionalisme guru SMP (Madang et al., 2022). Fokus utama peningkatan profesionalisme mencakup penguasaan kompetensi pedagogik (termasuk penerapan Student-Centered Learning (SCL) dan pemetaan HOTS), kompetensi TIK, dan kompetensi manajerial dalam konteks pembelajaran hibrida (Lestari et al., 2021). Metode Penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah Kajian Literatur Sistematis (SLR) dan Sintesis Kualitatif (Nengsih & Mawardi, 2021). Pendekatan ini dipilih untuk merangkum, menganalisis, dan menginterpretasikan temuan empiris dan konseptual dari berbagai penelitian terkait pelatihan FC dan pengembangan profesional guru yang relevan untuk jenjang SMP/MTs (Chalim et al., 2022). Semua literatur yang disintesis dipilih dari publikasi yang diterbitkan hingga tahun 2023 (Chalim et al., 2022). Teknik analisis data berfokus pada sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola kausalitas antara pelatihan FC, perubahan perilaku pedagogis guru, dan dampak pada hasil belajar siswa (Nengsih & Mawardi, 2021). Hasil dan Pembahasan Kunci: Hasil analisis menunjukkan bahwa pelatihan FC secara signifikan meningkatkan profesionalisme guru dengan membekali mereka untuk (1) Menguasai Desain Kognitif yang cermat, memetakan keterampilan berpikir tingkat rendah (LOTS) ke fase asinkron dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) ke fase sinkron (Nurhijrah, 2023); (2) Mengintegrasikan model saintifik, seperti Problem-Based Learning (PBL) atau Guided Inquiry ke dalam implementasi FC di kelas, terutama untuk mata pelajaran yang menuntut analisis mendalam (Madang et al., 2022); dan (3) Mengatasi tantangan manajerial terkait asesmen daring dan komunikasi dengan orang tua untuk memastikan dukungan pembelajaran yang optimal (Chalim et al., 2022). Peningkatan profesionalisme guru ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan motivasi, kemandirian, dan hasil belajar kognitif siswa MTs/SMP (Ubaidillah, 2019).
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Strategi Guru Sekolah Penggerak Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/0db8bj89

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia menandai pergeseran paradigma pendidikan yang fundamental, bergerak dari standardisasi yang kaku menuju fleksibilitas yang berpusat pada peserta didik. Jurnal ilmiah ini menyajikan analisis komprehensif dan mendalam mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi pedagogis utama dalam kerangka Kurikulum Merdeka, dengan fokus spesifik pada dinamika yang dialami oleh guru di Sekolah Penggerak. Melalui tinjauan literatur sistematis dan sintesis data dari berbagai studi kasus empiris yang mencakup jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), penelitian ini menginvestigasi kesenjangan antara idealisme konseptual dan realitas operasional di lapangan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun filosofi diferensiasi menawarkan solusi yang menjanjikan untuk mengakomodasi heterogenitas peserta didik, pelaksanaannya menghadapi hambatan multidimensi yang signifikan. Tantangan dominan yang teridentifikasi meliputi kompleksitas manajemen waktu dalam perencanaan pembelajaran, keterbatasan infrastruktur dan sumber daya pendidikan, miskonsepsi guru mengenai esensi diferensiasi, serta variabilitas kesiapan siswa dalam mengadopsi kemandirian belajar. Di sisi lain, studi ini juga memetakan strategi mitigasi yang efektif yang telah dikembangkan oleh praktisi pendidikan, termasuk optimalisasi asesmen diagnostik, integrasi model pembelajaran konstruktivis (seperti Problem Based Learning dan Cooperative Learning), penguatan komunitas belajar profesional guru, serta pengembangan modul ajar yang adaptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bergantung pada peningkatan kompetensi individual guru, melainkan memerlukan transformasi ekosistem sekolah yang mencakup dukungan manajerial, kebijakan yang fleksibel, dan kolaborasi sinergis antar pemangku kepentingan pendidikan.
Strategi Guru dalam Melakukan Asesmen Diagnostik Kognitif dan Non-Kognitif sebagai Dasar Pembelajaran Berdiferensiasi Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/41vk5j84

Abstract

Transformasi pendidikan di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi guru dalam merancang, melaksanakan, dan menindaklanjuti asesmen diagnostik kognitif dan non-kognitif sebagai fondasi utama implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur sistematis dan analisis kualitatif deskriptif terhadap berbagai praktik empiris di jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dipublikasikan antara tahun 2018 hingga 2024. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi guru meliputi tiga tahapan krusial: (1) Tahap Persiapan, yang melibatkan penyusunan instrumen tes berjenjang (soal prasyarat dan materi baru) serta pemetaan kompetensi dasar; (2) Tahap Pelaksanaan, yang mengintegrasikan teknik tes tulis, observasi, dan wawancara untuk menggali aspek kognitif serta kesejahteraan psikososial siswa; dan (3) Tahap Diagnosis dan Tindak Lanjut, di mana data diolah untuk memetakan siswa ke dalam kategori kemampuan (tinggi, sedang, perlu bimbingan) serta mengidentifikasi gaya belajar dominan (visual, auditori, kinestetik). Hasil asesmen ini kemudian dijadikan basis data untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi diferensiasi konten, proses, dan produk, serta penerapan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) yang terintegrasi dengan model Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Penelitian menyimpulkan bahwa sinergi antara asesmen diagnostik yang akurat dengan strategi pembelajaran yang adaptif mampu meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterlibatan siswa secara signifikan, meskipun masih terdapat tantangan terkait manajemen waktu, kompetensi guru dalam analisis data, dan adaptasi instrumen untuk siswa berkebutuhan khusus.
Studi Komparatif: Efisiensi Pembelajaran Menggunakan Proyektor Konvensional vs Interactive Flat Panel Display di Sekolah Menengah Pertama Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/hxd7da05

Abstract

Studi ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif yang mendalam mengenai efisiensi pembelajaran yang dihasilkan oleh Proyektor Konvensional (CP, atau LCD Proyektor) dan Interactive Flat Panel Display (IFPD) di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini merespons tuntutan transformasi pendidikan yang kini semakin mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Riyadi & Ningsih, 2024). Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur komparatif deskriptif kualitatif, yang mensintesis temuan empiris dan konseptual dari berbagai penelitian akademik terkini (tahun 2024 ke bawah). Analisis difokuskan pada dimensi utama efisiensi pembelajaran, meliputi motivasi siswa, hasil belajar kuantitatif, tingkat interaktivitas, dan tantangan implementasi yang dihadapi oleh masing-masing media (Riyadi & Ningsih, 2024). Hasil analisis menunjukkan bahwa Proyektor Konvensional (CP) terbukti memberikan dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan efisiensi pembelajaran tingkat dasar. Penerapan CP berhasil mengatasi metode ceramah yang monoton dan meningkatkan atensi siswa, yang dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar yang substansial pada siswa SMP (misalnya, nilai rata-rata siswa meningkat dari 53,57 sebelum penggunaan media menjadi 78,21 setelahnya). CP efektif sebagai solusi visualisasi dasar untuk mencapai standar Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) (Amin, 2018; Riyadi & Ningsih, 2024). Sebaliknya, Interactive Flat Panel Display (IFPD) menawarkan efisiensi holistik yang jauh lebih tinggi dan bersifat kualitatif. IFPD, sebagai teknologi all-in-one pengganti papan tulis dan proyektor, unggul dalam mempromosikan interaktivitas mendalam, kolaborasi real-time, visualisasi konsep kompleks, dan pengembangan literasi digital siswa. Fitur canggih IFPD seperti layar sentuh multitouch dan integrasi aplikasi interaktif, seperti Kahoot!, meningkatkan antusiasme siswa dan memfasilitasi umpan balik yang cepat dan efisien (Kurniawan & Hakim, 2024; Riyadi & Ningsih, 2024; Soepriyanto et al., 2026). Disimpulkan bahwa meskipun CP memberikan efisiensi yang terukur secara kuantitatif sebagai solusi visualisasi sederhana, IFPD menyediakan efisiensi yang lebih menyeluruh, yang meliputi peningkatan kualitatif pada dimensi kognitif tingkat tinggi seperti berpikir kritis dan keterampilan kolaboratif abad ke-21. Namun, untuk mencapai efisiensi maksimal, implementasi IFPD wajib mengatasi tantangan investasi biaya tinggi dan peningkatan kompetensi pedagogis guru dalam merancang bahan ajar yang benar-benar interaktif (Kurniawan & Hakim, 2024; Riyadi & Ningsih, 2024; Soepriyanto et al., 2026).
Efektivitas Media Pembelajaran Interactive Flat Panel terhadap Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/swt7k227

Abstract

Dalam lanskap pendidikan modern yang semakin terintegrasi dengan teknologi, transformasi media pembelajaran menjadi krusial untuk mengatasi tantangan pedagogis, khususnya pada mata pelajaran yang memuat konsep abstrak seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan analisis komprehensif mengenai efektivitas media pembelajaran Interactive Flat Panel (IFP) dibandingkan dengan metode konvensional dan proyektor standar dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Melalui tinjauan sistematis terhadap literatur dan data empiris terkini (hingga tahun 2024), laporan ini mengevaluasi dampak visualisasi dinamis dan interaktivitas layar sentuh terhadap pemahaman konsep sains. Temuan menunjukkan bahwa metode konvensional seringkali gagal memfasilitasi pemahaman mendalam, ditandai dengan rendahnya rata-rata hasil belajar dan tingkat kebosanan siswa yang tinggi. Sebaliknya, integrasi media visual berbasis teknologi terbukti mampu meningkatkan nilai rata-rata siswa secara signifikan, dengan studi kasus menunjukkan lonjakan dari 53,57 menjadi 78,21 pasca-intervensi. Lebih lanjut, metode pembelajaran berbasis teknologi (e-learning) menunjukkan superioritas statistik dengan rata-rata capaian 82 dibandingkan 78 pada metode konvensional. IFP, dengan fitur-fitur seperti anotasi digital, manipulasi objek visual, dan integrasi multimedia, menawarkan solusi pedagogis yang melampaui proyektor pasif, memungkinkan visualisasi fenomena IPA yang kompleks menjadi konkret dan mudah dipahami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa IFP adalah instrumen yang sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif, motivasi, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPA.
Pengaruh Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP di Bandung Barat Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/0ty27836

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung Barat. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang teridentifikasi sebagai salah satu hambatan utama dalam pencapaian kompetensi matematika nasional. Selain itu, terdapat kesenjangan yang nyata antara heterogenitas kebutuhan belajar siswa—meliputi kesiapan belajar (readiness), minat, dan profil belajar—dengan praktik pembelajaran konvensional yang cenderung seragam (one-size-fits-all). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi-experiment) dan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Bandung Barat, dengan sampel yang dipilih melalui teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi tes kemampuan pemecahan masalah matematis berbentuk uraian, angket gaya belajar, dan lembar observasi aktivitas pembelajaran. Analisis data dilakukan menggunakan uji prasyarat normalitas dan homogenitas, dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji-t independen dan uji Mann-Whitney, serta perhitungan N-Gain untuk mengukur efektivitas peningkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran berdiferensiasi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Pembelajaran berdiferensiasi terbukti efektif dalam mengakomodasi keberagaman siswa, memfasilitasi pemahaman konsep yang lebih mendalam, dan meningkatkan kemandirian belajar, yang pada gilirannya berkontribusi positif terhadap kemampuan pemecahan masalah.
The Algorithmic Self: Rethinking Consciousness And Personal Identity In The Era Of Brain-Computer Interfaces Pratomo, Arief Budi; Rustiyana, Rustiyana
Journal of Humanities Research Sustainability Vol. 2 No. 5 (2025)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jhrs.v2i5.2648

Abstract

Background. The rapid integration of Brain-Computer Interfaces (BCIs) into human cognitive processes has initiated a profound transformation in how consciousness and personal identity are conceptualized. As neural data become digitized, the boundaries between human cognition and machine computation blur, leading to the emergence of what can be described as the algorithmic self a hybrid consciousness co-produced by biological and artificial systems. Purpose. This research aims to examine how BCIs reshape the phenomenology of selfhood, agency, and memory by mediating the interaction between neural intention and algorithmic feedback. Method. The study employs a qualitative phenomenological design complemented by neuroscientific literature analysis, focusing on participants using non-invasive BCIs for communication, learning, and rehabilitation. Data were collected through in-depth interviews, reflective diaries, and neuro-ethical discourse mapping to identify cognitive and existential shifts in participants’ self-perception. Results. The findings reveal that BCI users experience fragmented yet extended forms of consciousness, where identity is continuously negotiated between embodied experience and algorithmic prediction. Participants reported increased cognitive augmentation but also existential dissonance, expressing uncertainty over the locus of agency and authorship of thought. Conclusion. The study concludes that the algorithmic self represents a new stage in human consciousness an emergent, co-dependent identity formed through neural–digital symbiosis. These findings call for an interdisciplinary rethinking of personhood, ethics, and autonomy in the age of neurotechnology.
Digital Amnesia And Algorithmic Memory: Reconstructing The Past In The Age Of Big Data Archives Mokoena, Thabo; Mammadov, Elchin; Rustiyana, Rustiyana
Journal of Humanities Research Sustainability Vol. 2 No. 4 (2025)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jhrs.v2i4.2651

Abstract

Background. The exponential growth of digital data and algorithmic curation has transformed how societies construct, preserve, and remember the past. The phenomenon of digital amnesia the tendency to outsource memory to digital systems reveals a paradox of modern knowledge: while more information is archived than ever before, human capacity for contextual recollection diminishes. Purpose. This study investigates how algorithmic mechanisms within big data archives reconstruct historical narratives and shape collective memory in the digital age. The research aims to analyze the epistemological and ethical implications of algorithmic memory, focusing on how automated retrieval, ranking, and personalization systems mediate historical knowledge and cultural continuity Method. A qualitative multi-case analysis was conducted on digital archival platforms and algorithmic recommendation systems using interpretive content analysis and critical data studies methodology. Results. The findings show that algorithmic archives not only preserve information but actively curate and reinterpret history through patterns of visibility and omission. The findings indicate that memory in the age of big data is not neutral but performative constructed through computational decisions that privilege certain narratives while marginalizing others. Conclusion. The study concludes that the digital era demands a critical redefinition of archival literacy, emphasizing the need for transparency, human oversight, and ethical design in algorithmic systems. Understanding digital amnesia thus becomes essential to safeguarding cultural memory and ensuring that the reconstruction of the past remains plural, accountable, and inclusive.