Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Peer Coaching dalam Komunitas Belajar untuk Meningkatkan Kemampuan Asesmen Formatif Guru Matematika SMP Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/rdp81q26

Abstract

Kualitas hidup di masa depan sangat bergantung pada bagaimana individu dipersiapkan di hari ini, dan pendidikan memainkan peran krusial dalam menyiapkan individu yang mampu berdaya saing secara global. Dalam konteks pendidikan nasional, terutama dengan implementasi Kurikulum Merdeka, kompetensi pedagogik guru dituntut untuk mengelola pembelajaran secara optimal, termasuk dalam aspek evaluasi hasil belajar. Asesmen formatif (AF) menjadi fokus utama sebagai proses berkelanjutan untuk mengumpulkan bukti pembelajaran dan memberikan umpan balik instruksional. Namun, guru Matematika Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghadapi tantangan spesifik dalam merancang dan mengimplementasikan AF secara objektif dan berkelanjutan, khususnya ketika menggunakan teknik Peer Assessment (PA) yang rentan terhadap subjektivitas dan inkonsistensi penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model strategis Peer Coaching (PC) berbasis Komunitas Belajar (KB) untuk secara efektif meningkatkan kemampuan guru Matematika SMP dalam melaksanakan Asesmen Formatif, khususnya melalui teknik Peer Assessment (Putra, 2023). Kajian literatur kualitatif digunakan untuk mensintesis konsep-konsep kunci, yaitu urgensi kompetensi pedagogik, prinsip AF, keunggulan dan tantangan Peer Assessment sebagai teknik AF, dan efektivitas Peer Coaching sebagai model pengembangan profesional non-klasikal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Peer Coaching yang terinstitusionalisasi dalam Komunitas Belajar menyediakan kerangka kerja lima tahap yang secara sinergis mengatasi masalah subjektivitas dalam Peer Assessment dan menjembatani kesenjangan kompetensi pedagogik guru. Model ini mengintegrasikan siklus perencanaan bersama, observasi kelas, refleksi terstruktur, dan umpan balik berbasis bukti untuk memastikan praktik AF yang valid dan reliabel. Penekanan pada pembelajaran sosial (social learning) dan pengalaman (experiential learning), sesuai dengan model 70:20:10, memungkinkan guru untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang kriteria penilaian dan strategi fasilitasi, yang pada gilirannya meningkatkan objektivitas dan kualitas umpan balik formatif kepada siswa. Strategi ini selaras dengan kebutuhan pembelajaran orang dewasa (adult learning) yang berorientasi praktik, dan merupakan langkah krusial dalam memastikan pendidikan Matematika yang adaptif, inovatif, dan berpusat pada peserta didik.
Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA) Guru Sekolah Dasar dalam Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/dtj88t90

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebutuhan pelatihan (Training Needs Assessment - TNA) bagi guru Sekolah Dasar (SD) sebagai strategi diagnostik dalam menghadapi tantangan implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi (PB) pada Kurikulum Merdeka (KM). Metode yang digunakan adalah kajian literatur sistematis dan analisis konseptual, mengintegrasikan kerangka teori TNA tiga tingkat (Organisasi, Tugas, Individu) dengan tuntutan kompetensi pedagogik PB di SD. Temuan utama menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi yang multidimensi, mencakup ketidaksiapan guru dalam merancang modul ajar yang fleksibel, penguasaan asesmen diagnostik yang rendah, dan keterbatasan dalam adaptasi teknologi informasi (IT) untuk pembelajaran abad ke-21. Kesenjangan ini diperparah oleh kendala manajerial seperti beban kerja tinggi dan kurangnya waktu perencanaan yang memadai. Studi ini menemukan bahwa pelatihan yang ada, seringkali berbentuk workshop generik, terbukti tidak efektif dan bahkan menimbulkan kebingungan bagi guru, mengindikasikan kegagalan diagnostik pada tahap TNA. Sebagai hasilnya, penelitian ini merumuskan sebuah model TNA terintegrasi yang berfokus pada diagnosis kebutuhan spesifik di tingkat tugas (literasi asesmen diagnostik) dan tingkat individu (penguasaan TIK dan resistensi psikologis). Model ini berfungsi sebagai prasyarat wajib untuk merancang program pelatihan yang berdiferensiasi, berkelanjutan, dan adaptif, sehingga investasi dalam pengembangan profesional guru dapat menjadi tepat sasaran dan secara efektif menjembatani kesenjangan antara kompetensi aktual dan tuntutan Kurikulum Merdeka.
Implementasi Pelatihan Flipped Classroom dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SMP di Era Digital Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 1 No. 2 (2023): Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/hpg20j96

Abstract

Latar Belakang dan Urgensi: Era digital dan sistem pembelajaran pasca-pandemi, yang ditandai dengan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas atau yang dikenal sebagai Era New Normal, menuntut pergeseran paradigma pembelajaran yang fundamental (Hidayat & Ningsih, 2022; Chalim et al., 2022). Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditantang untuk mengadopsi model pembelajaran yang tidak hanya mengintegrasikan teknologi secara efektif, tetapi juga mampu mengoptimalkan waktu tatap muka yang singkat (Hidayat & Ningsih, 2022). Flipped Classroom (FC) hadir sebagai model blended learning yang memanfaatkan teknologi untuk membalik pola tradisional penyampaian konten dan praktik, menjadikannya solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan waktu dan meningkatkan keterlibatan siswa (Madang et al., 2022). Model ini memindahkan transfer informasi pasif ke ranah asinkron (pra-kelas), sementara waktu di kelas (sinkron) digunakan untuk aktivitas kognitif tingkat tinggi (HOTS) (Madang et al., 2022). Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis desain dan implementasi pelatihan FC yang terintegrasi dengan pendekatan pedagogis modern, serta mengevaluasi dampak spesifiknya terhadap peningkatan profesionalisme guru SMP (Madang et al., 2022). Fokus utama peningkatan profesionalisme mencakup penguasaan kompetensi pedagogik (termasuk penerapan Student-Centered Learning (SCL) dan pemetaan HOTS), kompetensi TIK, dan kompetensi manajerial dalam konteks pembelajaran hibrida (Lestari et al., 2021). Metode Penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah Kajian Literatur Sistematis (SLR) dan Sintesis Kualitatif (Nengsih & Mawardi, 2021). Pendekatan ini dipilih untuk merangkum, menganalisis, dan menginterpretasikan temuan empiris dan konseptual dari berbagai penelitian terkait pelatihan FC dan pengembangan profesional guru yang relevan untuk jenjang SMP/MTs (Chalim et al., 2022). Semua literatur yang disintesis dipilih dari publikasi yang diterbitkan hingga tahun 2023 (Chalim et al., 2022). Teknik analisis data berfokus pada sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola kausalitas antara pelatihan FC, perubahan perilaku pedagogis guru, dan dampak pada hasil belajar siswa (Nengsih & Mawardi, 2021). Hasil dan Pembahasan Kunci: Hasil analisis menunjukkan bahwa pelatihan FC secara signifikan meningkatkan profesionalisme guru dengan membekali mereka untuk (1) Menguasai Desain Kognitif yang cermat, memetakan keterampilan berpikir tingkat rendah (LOTS) ke fase asinkron dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) ke fase sinkron (Nurhijrah, 2023); (2) Mengintegrasikan model saintifik, seperti Problem-Based Learning (PBL) atau Guided Inquiry ke dalam implementasi FC di kelas, terutama untuk mata pelajaran yang menuntut analisis mendalam (Madang et al., 2022); dan (3) Mengatasi tantangan manajerial terkait asesmen daring dan komunikasi dengan orang tua untuk memastikan dukungan pembelajaran yang optimal (Chalim et al., 2022). Peningkatan profesionalisme guru ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan motivasi, kemandirian, dan hasil belajar kognitif siswa MTs/SMP (Ubaidillah, 2019).
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Strategi Guru Sekolah Penggerak Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/0db8bj89

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia menandai pergeseran paradigma pendidikan yang fundamental, bergerak dari standardisasi yang kaku menuju fleksibilitas yang berpusat pada peserta didik. Jurnal ilmiah ini menyajikan analisis komprehensif dan mendalam mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi pedagogis utama dalam kerangka Kurikulum Merdeka, dengan fokus spesifik pada dinamika yang dialami oleh guru di Sekolah Penggerak. Melalui tinjauan literatur sistematis dan sintesis data dari berbagai studi kasus empiris yang mencakup jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), penelitian ini menginvestigasi kesenjangan antara idealisme konseptual dan realitas operasional di lapangan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun filosofi diferensiasi menawarkan solusi yang menjanjikan untuk mengakomodasi heterogenitas peserta didik, pelaksanaannya menghadapi hambatan multidimensi yang signifikan. Tantangan dominan yang teridentifikasi meliputi kompleksitas manajemen waktu dalam perencanaan pembelajaran, keterbatasan infrastruktur dan sumber daya pendidikan, miskonsepsi guru mengenai esensi diferensiasi, serta variabilitas kesiapan siswa dalam mengadopsi kemandirian belajar. Di sisi lain, studi ini juga memetakan strategi mitigasi yang efektif yang telah dikembangkan oleh praktisi pendidikan, termasuk optimalisasi asesmen diagnostik, integrasi model pembelajaran konstruktivis (seperti Problem Based Learning dan Cooperative Learning), penguatan komunitas belajar profesional guru, serta pengembangan modul ajar yang adaptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bergantung pada peningkatan kompetensi individual guru, melainkan memerlukan transformasi ekosistem sekolah yang mencakup dukungan manajerial, kebijakan yang fleksibel, dan kolaborasi sinergis antar pemangku kepentingan pendidikan.
Strategi Guru dalam Melakukan Asesmen Diagnostik Kognitif dan Non-Kognitif sebagai Dasar Pembelajaran Berdiferensiasi Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/41vk5j84

Abstract

Transformasi pendidikan di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi guru dalam merancang, melaksanakan, dan menindaklanjuti asesmen diagnostik kognitif dan non-kognitif sebagai fondasi utama implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur sistematis dan analisis kualitatif deskriptif terhadap berbagai praktik empiris di jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dipublikasikan antara tahun 2018 hingga 2024. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi guru meliputi tiga tahapan krusial: (1) Tahap Persiapan, yang melibatkan penyusunan instrumen tes berjenjang (soal prasyarat dan materi baru) serta pemetaan kompetensi dasar; (2) Tahap Pelaksanaan, yang mengintegrasikan teknik tes tulis, observasi, dan wawancara untuk menggali aspek kognitif serta kesejahteraan psikososial siswa; dan (3) Tahap Diagnosis dan Tindak Lanjut, di mana data diolah untuk memetakan siswa ke dalam kategori kemampuan (tinggi, sedang, perlu bimbingan) serta mengidentifikasi gaya belajar dominan (visual, auditori, kinestetik). Hasil asesmen ini kemudian dijadikan basis data untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi diferensiasi konten, proses, dan produk, serta penerapan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) yang terintegrasi dengan model Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Penelitian menyimpulkan bahwa sinergi antara asesmen diagnostik yang akurat dengan strategi pembelajaran yang adaptif mampu meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterlibatan siswa secara signifikan, meskipun masih terdapat tantangan terkait manajemen waktu, kompetensi guru dalam analisis data, dan adaptasi instrumen untuk siswa berkebutuhan khusus.
Studi Komparatif: Efisiensi Pembelajaran Menggunakan Proyektor Konvensional vs Interactive Flat Panel Display di Sekolah Menengah Pertama Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/hxd7da05

Abstract

Studi ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif yang mendalam mengenai efisiensi pembelajaran yang dihasilkan oleh Proyektor Konvensional (CP, atau LCD Proyektor) dan Interactive Flat Panel Display (IFPD) di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini merespons tuntutan transformasi pendidikan yang kini semakin mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Riyadi & Ningsih, 2024). Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur komparatif deskriptif kualitatif, yang mensintesis temuan empiris dan konseptual dari berbagai penelitian akademik terkini (tahun 2024 ke bawah). Analisis difokuskan pada dimensi utama efisiensi pembelajaran, meliputi motivasi siswa, hasil belajar kuantitatif, tingkat interaktivitas, dan tantangan implementasi yang dihadapi oleh masing-masing media (Riyadi & Ningsih, 2024). Hasil analisis menunjukkan bahwa Proyektor Konvensional (CP) terbukti memberikan dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan efisiensi pembelajaran tingkat dasar. Penerapan CP berhasil mengatasi metode ceramah yang monoton dan meningkatkan atensi siswa, yang dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar yang substansial pada siswa SMP (misalnya, nilai rata-rata siswa meningkat dari 53,57 sebelum penggunaan media menjadi 78,21 setelahnya). CP efektif sebagai solusi visualisasi dasar untuk mencapai standar Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) (Amin, 2018; Riyadi & Ningsih, 2024). Sebaliknya, Interactive Flat Panel Display (IFPD) menawarkan efisiensi holistik yang jauh lebih tinggi dan bersifat kualitatif. IFPD, sebagai teknologi all-in-one pengganti papan tulis dan proyektor, unggul dalam mempromosikan interaktivitas mendalam, kolaborasi real-time, visualisasi konsep kompleks, dan pengembangan literasi digital siswa. Fitur canggih IFPD seperti layar sentuh multitouch dan integrasi aplikasi interaktif, seperti Kahoot!, meningkatkan antusiasme siswa dan memfasilitasi umpan balik yang cepat dan efisien (Kurniawan & Hakim, 2024; Riyadi & Ningsih, 2024; Soepriyanto et al., 2026). Disimpulkan bahwa meskipun CP memberikan efisiensi yang terukur secara kuantitatif sebagai solusi visualisasi sederhana, IFPD menyediakan efisiensi yang lebih menyeluruh, yang meliputi peningkatan kualitatif pada dimensi kognitif tingkat tinggi seperti berpikir kritis dan keterampilan kolaboratif abad ke-21. Namun, untuk mencapai efisiensi maksimal, implementasi IFPD wajib mengatasi tantangan investasi biaya tinggi dan peningkatan kompetensi pedagogis guru dalam merancang bahan ajar yang benar-benar interaktif (Kurniawan & Hakim, 2024; Riyadi & Ningsih, 2024; Soepriyanto et al., 2026).
Efektivitas Media Pembelajaran Interactive Flat Panel terhadap Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/swt7k227

Abstract

Dalam lanskap pendidikan modern yang semakin terintegrasi dengan teknologi, transformasi media pembelajaran menjadi krusial untuk mengatasi tantangan pedagogis, khususnya pada mata pelajaran yang memuat konsep abstrak seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan analisis komprehensif mengenai efektivitas media pembelajaran Interactive Flat Panel (IFP) dibandingkan dengan metode konvensional dan proyektor standar dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Melalui tinjauan sistematis terhadap literatur dan data empiris terkini (hingga tahun 2024), laporan ini mengevaluasi dampak visualisasi dinamis dan interaktivitas layar sentuh terhadap pemahaman konsep sains. Temuan menunjukkan bahwa metode konvensional seringkali gagal memfasilitasi pemahaman mendalam, ditandai dengan rendahnya rata-rata hasil belajar dan tingkat kebosanan siswa yang tinggi. Sebaliknya, integrasi media visual berbasis teknologi terbukti mampu meningkatkan nilai rata-rata siswa secara signifikan, dengan studi kasus menunjukkan lonjakan dari 53,57 menjadi 78,21 pasca-intervensi. Lebih lanjut, metode pembelajaran berbasis teknologi (e-learning) menunjukkan superioritas statistik dengan rata-rata capaian 82 dibandingkan 78 pada metode konvensional. IFP, dengan fitur-fitur seperti anotasi digital, manipulasi objek visual, dan integrasi multimedia, menawarkan solusi pedagogis yang melampaui proyektor pasif, memungkinkan visualisasi fenomena IPA yang kompleks menjadi konkret dan mudah dipahami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa IFP adalah instrumen yang sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif, motivasi, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPA.
Pengaruh Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP di Bandung Barat Rustiyana, Rustiyana
Kinanti : Jurnal Karya Insan Pendidikan Terpilih Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Kinanti (Karya Insan Pendidikan Terpilih)
Publisher : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62518/0ty27836

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung Barat. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang teridentifikasi sebagai salah satu hambatan utama dalam pencapaian kompetensi matematika nasional. Selain itu, terdapat kesenjangan yang nyata antara heterogenitas kebutuhan belajar siswa—meliputi kesiapan belajar (readiness), minat, dan profil belajar—dengan praktik pembelajaran konvensional yang cenderung seragam (one-size-fits-all). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi-experiment) dan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Bandung Barat, dengan sampel yang dipilih melalui teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi tes kemampuan pemecahan masalah matematis berbentuk uraian, angket gaya belajar, dan lembar observasi aktivitas pembelajaran. Analisis data dilakukan menggunakan uji prasyarat normalitas dan homogenitas, dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji-t independen dan uji Mann-Whitney, serta perhitungan N-Gain untuk mengukur efektivitas peningkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran berdiferensiasi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Pembelajaran berdiferensiasi terbukti efektif dalam mengakomodasi keberagaman siswa, memfasilitasi pemahaman konsep yang lebih mendalam, dan meningkatkan kemandirian belajar, yang pada gilirannya berkontribusi positif terhadap kemampuan pemecahan masalah.
Human-Tech Symbiosis: Collaboration between Managers and AI Systems in Strategic Decision Making Eliagus Telaumbanua; Sauca Ananda Pranidana; Rustiyana Rustiyana
Maneggio Vol. 2 No. 6 (2025): DECEMBER-MJ
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/sw62xg16

Abstract

Digital transformation has shifted the paradigm of strategic decision-making from intuition-based judgment toward a collaborative model that integrates human intelligence with artificial intelligence (AI). AI serves as an analytical engine that processes large-scale data and generates predictive recommendations, while managers retain interpretive authority regarding organizational context, strategic intent, and ethical implications. This study aims to explore how collaboration between managers and AI systems forms human–tech symbiosis in strategic decision-making. A qualitative method with thematic literature analysis was applied following the interpretive framework of Creswell and Poth (2018). Findings reveal that AI enhances decision effectiveness by improving analytical accuracy, speeding information processing, and reducing cognitive bias; however, these benefits become optimal only when accompanied by managerial trust, algorithmic transparency, and human control over final decision outcomes. The study confirms that the most effective strategic decisions emerge not from the dominance of either AI or human intuition but from the symbiotic combination of computational reasoning and human strategic reflection. It concludes that organizations must develop human–AI capability simultaneously, rather than merely adopting AI systems, to achieve more adaptive, accurate, and sustainable strategic decision-making.
Analysis of the Utilization of Augmented Reality (AR) Technology in Interactive Science Learning in Schools Rustiyana Rustiyana
Technologia Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Technologia Journal-August
Publisher : Pt. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/vwq2jc74

Abstract

This study aims to analyze the use of Augmented Reality (AR) technology to support interactive science learning in schools. The research method used is a qualitative approach with a case study design, involving direct classroom observation, in-depth interviews with teachers and students, and documentation of learning activities. The results show that the use of AR can increase students' interest in learning and understanding of abstract concepts in science. AR also encourages more interactive and participatory learning. The role of teachers shifts to that of facilitators who need to master technological tools and design innovative learning strategies. However, the implementation of AR in schools still faces obstacles such as limited infrastructure and educators' digital competencies. These findings provide important insights into the potential and challenges of AR integration in education, and serve as a basis for policy development and teacher training to encourage digital transformation in science learning.