Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENENTUAN NILAI SPF SECARA IN VITRO EKSTRAK KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum), MANGGIS (Garcinia mangostana) DAN DURIAN (Durio zibethinus) Yola Desnera Putri; Deby Tristiyanti; Aneu Nurdiana
BORNEO JOURNAL OF PHARMASCIENTECH Vol 3 No 2 (2019): Borneo Journal of Pharmascientech
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTRambutan rind, mangosteen rind, and durian rind contain phenolic compoundsand flavonoids that have high antioxidant activity, also thought to be efficaciousas a sunscreen. The aims of this research was to determined the antioxidantactivity and the SPF of sunscreen ethanol extract of mangosteen rind (Garciniamangostana), rambutans rind (Nephelium lappaceum) and durian rind (Duriozibethinus). The extraction method was used maceration method using ethanol96%. DPPH (1, 1- diphenyl-2-picrylhidrazil) was used to determine theantioxidant activity. The effectiveness of sunscreen was done by determine theSPF value in vitro using spectrophotometric method. The results showed that thethree ethanol extracts containing phenolic compounds and flavonoids. Thosecompounds have antioxidant activity and also sunscreen, the highest antioxidantactivity owned by ethanol extracts of rambutan rind with the value IC50 amountingto 2,697 ppm, second are ethanol extracts of mangosteen rind with IC50amounting to 2,710 ppm and lastly, ethanol extracts of durian rind with the valueIC50 amounted to 11.398 ppm, whereas for the highest SPF value owned by theethanol extract of mangosteen rind 29.008, then ethanol extract rind of rambutansat 9.99. Both of ethanol extract rinds have a high antioxidant activity andpotential to be used as active ingredients in sunscreen preparations, while toextract durian rind ethanol does not have the ability as sunscreen because theSPF value was 0.967.Keywords : Garcinia mangostana, Nephelium lappaceum, Durio zibethinus,antioxidant, sunscreen
PENGARUH PEMBERIAN AMLODIPIN PADA POLA BIODISTRIBUSI 99mTc-MIBI SEBAGAI SEDIAAN SIDIK PERFUSI JANTUNG (UJI NON KLINIS PADA HEWAN PERCOBAAN) Arum Yunita Eswinawati; Deby - Tristiyanti; Aang Hanafiah R.Wangsaatmadja
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.152 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v1i1.11

Abstract

AbstrakTelah dilakukan kajian interaksi amlodipin dengan radiofarmaka Teknesium-99m Methoxy Isobutyl Isonitrile (99mTc-MIBI) sebagai sediaan sidik perfusi jantung. Percobaan dilakukan pada mencit putih yang mengonsumsi amlodipin 1 jam dan selama 1 minggu sebelum penyuntikan 99mTc-MIBI. Interaksi obat diamati melalui pola biodistribusi 15 menit dan 1 jam setelah penyuntikan 99mTc-MIBI, dan dibandingkan dengan hewan kontrol yang tidak mengonsumsi amlodipin. Hasil pengamatan dan pengolahan data ANAVA tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada pola biodistribusi antara hewan uji dan kontrol. Disimpulkan bahwa pemberian amlodipin tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap pencitraan sidik perfusi jantung yang menggunakan radiofarmaka 99mTc-MIBI. Kata Kunci : Sidik Perfusi Jantung, Amlodipin, 99mTc-MIBI, Interaksi obat. AbstractAmlodipine interaction studies have been performed with the radiopharmaceutical technetium- 99m methoxy isobutyl isonitrile (99mTc-MIBI) as cardiac perfusion agent. The experiments were performed on white mice that consumed amlodipine 1 hour and during 1 week before the injection of 99mTc-MIBI. Drug interactions were observed through a pattern of biodistribution 15 minutes and 1 hour after injection of 99mTc-MIBI, and compared with control animals that did not take amlodipine. Observations and ANAVA data processing showed no significant difference between the biodistribution pattern of test and control animals. It was concluded that administration of amlodipine did not provide a meaningful influence on the result of cardiac perfusion imaging using 99mTc-MIBI radiopharmaceutical. Keywords: Cardiac Perfusion Imaging, Amlodipine,99mTc-MIBI, Drug interaction
PENETAPAN KADAR LIKOPEN DARI BEBERAPA BUAH BERDAGING MERAH DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI Deby - Tristiyanti; Syarif - Hamdani; Dian - Rohita
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.061 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v2i1.25

Abstract

AbstrakLikopen adalah senyawa karotenoid yang mempunyai khasiat sebagai antioksidan dan memberikan warna merah pada beberapa buah dan sayuran, diantaranya tomat, semangka dan jambu biji merah. Likopen diduga terdapat pada buah lain yang berwarna merah seperti arben. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kadar likopen dalam buah semangka, jambu biji merah dan arben dengan metode spektrofotometri visible. Analisis kualitatif dilakukan dengan membandingkan spektrum sampel dengan standar. Kadar likopen diukur pada panjang gelombang 472 nm dengan metode pengukuran adisi standar. Dari hasil penelitian ini diperoleh kadar likopen dalam buah semangka adalah 33 mg/100 g, jambu biji adalah 7,5 mg/100 g dan buah arben adalah 9 mg/100 g. Kata kunci: Likopen, Semangka, Jambu biji, Arben, Metode Spektrofotometri, Metode Adisi Standar. AbstractLycopene is a carotenoid that has antioxidant properties and imparts the red pigment in some fruits and vegetables, including in tomatoes, watermelon and red guava. Lycopene also allegedly contained in other red fruits such as arben. Study was performed with visible spectrophotometric method to determine lycopene in watermelon, red guava and arben. Spectrum of sample was compared with standar for qualitative analyzed. Measurement of lycopene level had been done with standard addition method at maximum wavelengths of 472 nm. 33 mg/100g lycopene contain in watermelon, 7,5 mg/100g lycopene contain in red guava and 9 mg/100g contain in arben was result from this study.  Keywords: Lycopene, Watermelon, Guava, Arben, Spectrophotometric Method, Standard Addition Method.
FORMULASI DAN EVALUASI TABLET HISAP TRIAMSINOLON ASETONIDA DENGAN VARIASI PENGIKAT MALTODEKSTRIN DAN PVP Yola Desnera Putri; Deby - Tristiyanti; Marianta - Teresia
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.632 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v7i2.76

Abstract

AbstrakRadang tenggorokan adalah peradangan yang terjadi di daerah belakang tenggorokan, dapat terjadi akibat iritasi non infeksi. Triamsinolon asetonida salah satu agen anti-inflamasi, yang mempunyai rasa yang tidak pahit, sehingga dilakukan pengembangan bentuk sediaan triamsinolon asetonida baru. Salah satunya adalah dengan membuat sediaan tablet hisap yang dapat berkontak langsung dengan radang tenggorokan, sehingga dapat mempercepat reaksi penyembuhan. Tablet hisap dibuat menggunakan metode cetak langsung dengan dua jenis pengikat maltodekstrin dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan PVP dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%. Dari semua formula yang dibuat menghasilkan massa tablet hisap yang baik dari masing–masing pengikat, karena didasarkan pada kompresibilitas dan daya alir yang sangat baik. Hasil evaluasi tablet dari masing-masing formula telah memenuhi syarat evaluasi meliputi keseragaman bobot, keseragaman ukuran, friabilitas, uji kekerasan, uji stabilitas, dan uji kesukaan tablet hisap, akan tetapi yang terbaik terdapat pada formula ke-3 dari setiap variasi tablet berdasarkan uji kekerasannya, dan formula dengan maltodekstrin 30% yang paling baik karena memiliki kekerasan yang lebih dari formula dengan variasi PVP 7,5%.Kata kunci : Radang, triamsinolon asetonida, tablet hisapAbstractPharingitis is inflammation that occurs in the back of the throat, can occur due to non-infectious irritation. Triamsinolone acetonide is one of the anti-inflammatory agents, which has a non-bitter taste, so the new triamcinolone acetonide dosage form is developed. One way is to make lozenges which can be in direct contact with pharingitis, so that it can speed up the healing reaction. The suction tablet was made using direct printing method with two types of maltodextrin binder with a concentration of 10%, 20%, 30%, and PVP with a concentration of 2.5%, 5%, 7.5%. All the formulas made the mass of the suction tablet is good from each binder, based on excellent compressibility and flow. The results of evaluation of tablets from each formula met the evaluation requirements including weight diversity, variety of sizes, friability, hardness test, stability test, and preference for lozenges. However, the best is found in the 3rd formula of each variation of the tablet based on the hardness test, and the formula with 30% maltodextrin is best because it has more hardness than the formula with 7.5% PVP variation.Keywords : Pharingitis, inflammation, triamcinolone acetonide, lozenges
PEMBUATAN PATCH BUKAL MUKOADHESIF ATENOLOL DENGAN VARIASI KONSENTRASI POLIMER Na-CMC DAN PVP K-30 Deby - Tristiyanti; Yola Desnera Putri; Riski Nur Utami
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.213 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v7i2.80

Abstract

AbstrakAtenolol adalah pemblok selektif β-1 yang memberikan efek antihipertensi. Atenolol memiliki permeabilitas yang kurang baik dalam saluran cerna sehingga untuk meningkatkan bioavaibilitas dibuat sediaan dalam bentuk patch bukal mukoadhesif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelepasan atenolol dan karakteristik fisik patch bukal mukoadhesif dengan variasi kadar Na-CMC dan PVP K-30. Sediaan patch bukal dibuat dengan lima variasi kadar (Na-CMC:PVP K-30) yaitu formula I (90:10); formula II (70:30); formula III (50:50); formula IV (30:70) dan formula V (10:90). Patch dibuat dengan menggunakan metode solvent casting. Evaluasi sediaan patch meliputi mutu fisik, keseragaman bobot, ketebalan patch, daya tahan lipatan, pH permukaan, swelling index, keseragaman kandungan, dan pelepasan atenolol secara in-vitro menggunakan alat sel difusi Franz. Hasil penelitian memperlihatkan ketebalan patch 1,12-1,16 mm, bobot patch 0,22 – 0,23 gram, pH 6,71-6,81 dan ketahanan lipatan > 300 lipatan. Pelepasan terbaik Atenolol mencapai 10,72 % pada Formulai I yaitu dengan perbandingan konsentrasi Na-CMC dan PVP K-30 (90:10)Kata kunci : atenolol, patch bukal, Na-CMC, PVP K-30AbstractAtenolol is β-1 selective bloker that widely used for the treatment of hypertension. Atenolol has poor permeability in the gastrointestinal tract, to increase the bioavaibility it was made as mucoadhesive buccal patches. This study was aimed to know the release of atenolol and physical characteristics with variations in the base levels of Na - CMC and PVP K-30. Buccal patch preparations were made with five levels of variation consisting of formula I (90:10); formula II (70:30); formula III (50:50); formula IV (30:70) and the formula V (10:90). Patches were prepared by solvent casting method. Patches were evaluated includes physical quality, patches thickness, mass uniformity, folding endurance, surface pH, swelling index, drug content uniformity and release of atenolol in-vitro using Franz diffusion cells. The results showed thickness of patch 1,12 – 1,16 mm, weight patch 0,22-0,23 gram, pH 6,71-6,81 and folding endurance > 300 folds. The best sustained release Atenolol up to 10,72% was show at Formula I which is a concentration ratio of Na-CMC and PVP K-30 (90:10).Keywords : atenolol, buccal patches, Na-CMC, PVP K-30
[REVIEW] PENGARUH KOFORMER NIKOTINAMID DAN METODE PEMBENTUKAN KOKRISTAL TERHADAP KELARUTAN ZAT AKTIF TIDAK LARUT AIR Revika Rachmaniar; Deby Tristiyanti; Dewi Yustika Sari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.899 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v9i1.134

Abstract

Kokristalisasi merupakan salah satu teknik untuk meningkatkan kelarutan zat aktif farmasi yang 70%kelarutannya tidak larut dalam air. Kokristal terdiri dari zat aktif dan bahan tambahan yang disebutdengan koformer yang dihubungkan oleh interaksi non kovalen. Pengaruh pembentukan kokristalisasizat aktif dengan menggunakan koformer nikotinamid dalam upaya meningkatkan kelarutannyadikemukakan dalam kajian pustaka ini. Nikotinamid berperan sebagai koformer larut air yang palingstabil. Zat aktif yang berhasil dibuat kokristal menggunakan metode solvent evaporation yaitu katekin,artesunat, ketoprofen, diflunisal, ibuprofen, simvastatin dan prulifloxacin, menggunakan metode slurrydiantaranya karbamazepin dan didanosin, sedangkan dengan metode liquid assisted grinding yaituzaltoprofen dan furosemid. Peningkatan kelarutan zat aktif yang menggunakan solvent evaporationhingga 6 kali, menggunakan metode slurry hingga 1,86 kali, dan menggunakan metode liquid assistedgrinding hingga 166.666,67 kali. Peningkatan kelarutan ini disebabkan adanya ikatan hidrogen yangterbentuk antara zat aktif dan koformer, serta karakterisasi yang menunjukan kokristal berhasilterbentuk, yaitu adanya fase kristal baru. Dalam review artikel dapat disimpulkan bahwa zat aktif yangtelah dibentuk kokristal menggunakan koformer nikotinamid dengan beberapa metode yang berbedamenunjukkan peningkatan kelarutan hingga 166.666,67 kali. Kata kunci : Kokristalisasi, Zat aktif tidak larut air, Nikotinamid, Kelarutan
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT KATEKIN DALAM SEDIAAN DEODORAN ROLL ON TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS ATCC 12228 Putri, Yola Desnera; Fitriani, Dewi Fatimah; Tristiyanti, Deby
Edu Masda Journal Vol 8, No 1 (2024): Edu Masda Journal Volume 8 Nomor 1
Publisher : STIKes Kharisma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52118/edumasda.v8i1.209

Abstract

Body odor can interfere with daily activities so as to cause discomfort to the body, therefore a catechin isolate deodorant is made to reduce underarm odor caused by the Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 bacteria. This study aims to determine the inhibitory power of catechin isolates against Staphylococcus epidermidis ATCC 1228 bacteria and determine the formulation and antibacterial activity of catechin isolate deodorant preparations. The formulation was carried out using 2 formulas with 2 different concentrations of triethanolamine and the use of 96% ethanol, in F1 the concentration of triethanolamine was 0.06% and using 96% ethanol while in F2 the concentration of triethanolamine was 0.09% and without using 96% ethanol. Preparation evaluation includes organoleptic, homogeneity, pH, viscosity and spreadability. The results showed that the antibacterial activity of catechin isolates was 1.5% with an inhibitory diameter of 3.95 mm which was included in the weak category. Catechin isolates can be formulated into roll-on deodorant preparations where after 28 days of storage the evaluation results including organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, and spreadability have met the requirements. The antibacterial activity of deodorant preparations on day 1 was included in the moderate category, but decreased on day 28 to the weak category. Abstrak Bau badan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga membuat ketidaknyaman pada tubuh, maka dari itu dibuat deodoran isolat katekin untuk mengurangi bau ketiak yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat isolat katekin terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 1228 serta mengetahui formulasi dan aktivitas antibakteri sediaan deodoran isolat katekin. Formulasi dilakukan menggunakan 2 formula dengan 2 konsentrasi trietanolamin serta penggunaan etanol 96% yang berbeda, pada F1 konsentrasi trietanolamin sebesar 0,06% dan menggunakan etanol 96% sedangkan F2 konsentrasi trietanolamin sebesar 0,09% dan tanpa menggunakan etanol 96%. Evaluasi sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas dan daya sebar. Hasil penelitian diperoleh aktivitas antibakteri isolat katekin sebesar 1,5% dengan diameter hambat sebesar 3,95 mm yang termasuk kategori lemah. Isolat katekin dapat diformulasikan ke dalam sediaan deodoran roll on dimana setelah penyimpanan 28 hari hasil evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, dan daya sebar telah memenuhi persyaratan. Aktivitas antibakteri sediaan deodoran pada hari ke-1 termasuk ke dalam kategori sedang, namun terjadi penurunan pada hari ke-28 menjadi kategori lemah. 
PENINGKATAN KELARUTAN ETIL p-METOKSISINAMAT DENGAN PEMBENTUKAN KOKRISTAL MENGGUNAKAN METODE SOLVENT EVAPORATION DAN KOFORMER UREA Rachmaniar, Revika; Tristiyanti, Deby; Triyadi, Fakhri Humaidi
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.246 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v9i2.142

Abstract

Etil p-metoksisinamat (EPMS) merupakan isolat dengan persentase terbesar pada kencur (Kampferia galanga), tetapi sifatnya yang sukar larut air menyebabkan keterbatasan pada disolusi dan bioavailabilitas. Bioavailabilitas yang terbatas mengakibatkan aktivitas farmakologi yang rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kelarutan EPMS dalam air perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan EPMS melalui pembentukan kokristal menggunakan metode solvent  evaporation dan koformer urea. EPMS dan urea dengan perbandingan 1:1, 1:2, 1:3, dan 2:1 dilarutkan dalam etanol kemudian diuapkan. Kokristal EPMS-urea yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan mikroskop digital, High Performance Liquid Chromatography (HPLC), spektrofotometer Fourier Transform Infrared (FT-IR), Powder X-Ray diffraction (PXRD), dan uji kelarutan di dalam air. Hasil penelitian menunjukkan kokristal EPMS-urea terbentuk akibat terjadinya ikatan hidrogen dan mengalami penurunan ukuran partikel, penurunan kristalinitas, dan peningkatan kelarutan. Kadar EPMS dalam sistem kokristal sebesar 91 – 106%. Peningkatan kelarutan kokristal EPMS-urea 1:1, 1:2, 1:3, 2:1 dalam air secara berturut-turut sebesar 1,5; 1,6; 1,2; 1,3 kali dibandingkan dengan EPMS. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kokristal EPMS-urea menggunakan solvent evaporation berhasil terbentuk dan mengalami peningkatan kelarutan dalam air hingga 1,6 kali-nya pada perbandingan kokristal EPMS-urea 1:2.Kata kunci: etil p-metoksisinamat, urea, kokristal, solvent evaporation.
FORMULASI SEDIAAN LIP BALM ISOLAT ALFA MANGOSTIN SEBAGAI ANTIOKSIDAN Putri, Yola Desnera; Azkiani, Hani Amila; Tristiyanti, Deby
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58327/jstfi.v13i1.233

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana L.) diketahui mempunyai kandungan senyawa alfa mangostin yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Alfa mangostin dapat berfungsi sebagai antioksidan dengan mekanisme kerja menghidrasi kulit, melembutkan kulit dan mengurangi tingkat kekeringan pada kulit sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pelembab bibir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur aktivitas antioksidan isolat alfa mangostin dengan metode ABTS (2,2-azinobis-(3-etilbenzotiazolin-6-asam sulfonat), mengetahui formula basis paling baik untuk sediaan lip balm, serta mengetahui aktivitas antioksidan isolat alfa mangostin dalam sediaan lip balm menggunakan metode ABTS. Optimasi basis sediaan lip balm dibuat menjadi 4 formula dengan variasi konsentrasi cera alba yaitu 5%, 10%, 15%, dan 20%. Isolat alfa mangostin memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 4,20 ppm. Hasil optimasi basis menunjukkan bahwa formula 4 dengan konsentrasi cera alba 20% memiliki stabilitas paling baik karena telah memenuhi semua persyaratan evaluasi. Formula sediaan lip balm dibuat berdasarkan hasil optimasi basis yaitu pada formula 4 dengan penambahan isolat alfa mangostin sebanyak 0,034%. Sediaan lip balm memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 47,473 ppm. Evaluasi sediaan lip balm meliputi pengujian organoleptis, homogenitas, pH, titik leleh, kelembaban, dan uji aktivitas antioksidan telah memenuhi persyaratan.
Transfersomes for Optimal Penetration of α-Mangostin (Garcinia mangostana L.) in Cosmetic Products using Vortexing-Sonication Putri, Yola Desnera; Tristiyanti, Deby; P Legowo, Wahyu; K Sari, Nia; Sriwidodo, Sriwidodo
Indonesian Journal of Pharmaceutics Vol 5, Issue 2, May - August 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran (Unpad)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/idjp.v5i2.51593

Abstract

Produk kosmetik berbasis transfersom semakin menarik perhatian karena teknologi nano vesikel ini dapat meningkatkan penetrasi bahan aktif seperti isolat manggis dari Garcinia mangostana L. ke dalam kulit. Teknologi ini menawarkan pengembangan produk kosmetik inovatif yang menjanjikan. Transfersom terdiri dari fosfolipid (yaitu fosfatidilkolin dari lesitin kedelai) dan surfaktan yang masing-masing membentuk vesikel dan meningkatkan fleksibilitas transferom sebagai aktivator tepi. Kami mengembangkan formula dengan isolat manggis dalam transfersom dan mengukur ukuran partikel dan persen penjebakan bahan aktif. Rasio yang digunakan adalah F1 (60:40), F2 (50:50), dan F3 (95:5). Setelah dioptimasi, formula dievaluasi untuk efisiensi penyerapan dan stabilitas fisik selama penyimpanan. Penelitian ini membuat transfersom dari isolat mangostin dengan metode vortexing-sonikasi dan homogenizer. Ukuran partikel diukur dengan alat analisis ukuran partikel dan efisiensi penyerapan dengan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula transfersom terbaik adalah F2 (50:50), dengan ukuran partikel 433,2 nm, PDI 0,399, zeta potensial -2,43 mV, dan efisiensi penjerapan 99,08%. Transfersom ini berpotensi sebagai sistem penghantaran isolat mangostin yang efisien ke dalam kulit dan dapat disimpan dengan lebih baik pada suhu dingin. Key words: Transferom, vortexing-sonikasi, isolat manggis