Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pemanfaatan Ikan Ekonomis Rendah Menjadi Tepung Ikan di Pesisir Teluk Banten Adi Susanto; Suherna Suherna; M. Ana Syabana; Rifki Prayoga Aditia; Hery S. Nurdin
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 7, No 1 (2023): April 2023
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v7i1.2837

Abstract

ABSTRACTOne of the problems in the apollo fisheries in Banten Bay is the utilization of by-catch. By-catch is non taget species in apollo fishing gear which has a relatively small size and low price. By-catch are generally used as animal feed or bait for traps. This activity aims to introduce technology and increase community capacity in processing by-catch into fish meal. The activity was conducted in stages, starting with the build of drying houses, purchasing of fish meal equipment, training and trials of processing by-catch into fish meal. To produce one kilo gram of fish meal, 3.5 kg of by-catch are needed as raw materials. KUB Sedayu buys by-catch from fishermen for Rp. 1,000 per kg. Processing of by-catch into fish meal can increase the added value of by-catch by Rp. 1,285 per kg. Intensive assistance still needs to be done so that fish meal production can run in a sustainable manner with maintained quality.Keywords: Apolo, assistance, low economic fishes, value added ABSTRAKSalah satu permasalahan dalam perikanan apolo di Teluk Banten pemanfaatan ikan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS). Ikan HTS merupakan jenis ikan yang tertangkap pada alat tangkap apolo yang memiliki ukuran relatif kecil dan harga yang murah. Ikan HTS umumnya dimanfaatkan secara terbatas sebagai pakan ternak atau umpan alat tangkap bubu. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan introduksi teknologi dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengolahan ikan HTS menjadi tepung ikan. Kegiatan dilakukan secara bertahap diawali dengan pembuatan rumah pengering, pembelian alat penepung, pelatihan dan uji coba pengolahan ikan HTS menjadi tepung ikan. Untuk menghasilkan satu kilo gram tepung ikan, dibutuhkan bahan baku 3,5 kg ikan HTS. KUB Sedayu membeli ikan HTS dari nelayan seharga Rp. 1.000 per kg. Pengolahan ikan HTS menjadi tepung ikan mampu meningkatkan nilai tambah ikan HTS sebesar Rp. 1.285 per kg. Pendampingan secara intensif masih perlu dilakukan sehingga produksi tepung ikan dapat berjalan seara berkelanjutan dengan mutu yang terjaga. Kata Kunci: Apolo, ikan ekonomis rendah, nilai tambah, pendampingan 
Efektivitas low light emitting diode sebagai lampu pengumpul ikan untuk perikanan bagan tancap Adi Susanto; Sugeng Hari Wisudo; Mulyono Sumitro Baskoro; Mochammad Riyanto; Fis Purwangka
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.419 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.2.15582

Abstract

The effectiveness of the artificial lights on fishing activity with a fixed lift net is significant influences on the success of fishing operations. The used of color and intensity must be adjusted to the preferences, response and behavior of the target fish, due to the fish can be more quickly attracted and concentrated in the catchable area. The development of LED technology as an energy-saving lamp has a great opportunity to be applied as a fishing lamp for fixed lift net fisheries. The purpose of this study is to determine the effectiveness of low power LEDs as a fishing lamp based on fish behavioral response. The study was conducted on a research field laboratory that was built in the waters of the Banten Bay in July - August 2018. Test fish were collected from catches of the guiding barrier around the research vehicle. Data on response and behavior of fish to fluorescent lights, blue, green and white LEDs were recorded using 360 ° sonar and side imaging sonar. The results showed the green LEDs had better effectiveness in attracting, focusing and concentrating fish in the main zone than other types of lights. The fish gather more quickly, form groups and have a stable and consistent swimming pattern in the main lighting zone. Green LED is more appropriate to be used as a fishing lamp on fixed lift net fishing with an optimum intensity range of 4-20 μW cm².Keywords: Light, Intensity, Optimum, Response, BehaviorABSTRAKEfektivitas lampu yang digunakan pada proses penangkapan dengan bagan tancap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Intensitas dan warna yang digunakan harus disesuaikan dengan preferensi, respons dan tingkah laku ikan target sehingga ikan lebih cepat terkumpul dan terkonsentrasi pada catchable area. Perkembangan teknologi LED sebagai lampu hemat energi berpeluang besar digunakan sebagai fishing lamp untuk perikanan bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas low power LED sebagai lampu pemikat ikan berdasarkan aspek respons dan tingkah laku ikan. Penelitian dilakukan pada wahana penelitian yang dibangun di perairan Teluk Banten pada bulan Juli - Agustus 2018. Ikan uji diperoleh dari hasil tangkapan sero yang berada di sekitar wahana penelitian. Data respons dan tingkah laku ikan terhadap lampu neon, LED biru, hijau dan putih direkam menggunakan sonar 360° dan side imaging sonar. Hasil penelitian menunjukkan LED hijau memiliki efektivitas yang lebih baik dalam memikat, mengumpulkan dan mengkonsentrasikan ikan pada main zone dibandingkan jenis lampu lainnya. Ikan lebih cepat berkumpul, membentuk kelompok serta memiliki pola renang yang stabil dan konsistem di zona utama pencahayaan. LED hijau lebih tepat digunakan sebagai fishing lamp pada bagan tancap dibandingkan jenis lampu lainnya dengan intensitas optimum antara 4-20 μW/cm².Kata kunci: Cahaya, Intensitas, Optimum, Respons, Tingkah laku
Pemetaan daerah perikanan lampu (light fishing) menggunakan data viirs day-night band di perairan Pandeglang Provinsi Banten Adi Susanto
Depik Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.365 KB) | DOI: 10.13170/depik.4.2.2454

Abstract

Abstract. Light fishing in Pandeglang Banten has significantly developed in number of fishing fleet and using of lamp technology. The fishing ground of light fishing fleet dispersed from Labuan until Taman Nasional Ujung Kulon. The aim of this research is to map the fishing ground of light fishing using VIIRS-DNB data at August to November 2014. This research use descriptive analysis with case study on fishing ground of ligt fishing using VIIRS-DNB data in Pandeglang waters. The results show the fishing ground of light fishing at August to November spread from Lada Bay, Lesung Cape, Sumur District, selamat Datang Bay, until Panaitan Strait. In November, the numbers of fishing fleet have significantly decreased. The loft ofwind velocity in Sunda Strait caused big waves in Pandeglang waters. Moreover, light fishing fleet also move from coastal water to the sea to find the ideal depth.The fluctuation of fishing ground at August to November 2014 influenced by monsoon circulation that effectto current and water masses circulation there. It cause the changing of surface water fertility and influent to spreading of pelagic fish fishing ground as a main target of light fishing fleets in Pandeglang waters.Keyword: fishing ground; light fishing; Pandeglang; VIIRS-DNB Abstrak. Perikanan lampu di perairan Pandeglang Banten telah mengalami perkembangan yang signifikan baik dalam jumlah armada maupun teknologi lampu yang digunakan. Daerah penangkapan armada perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Labuan hingga Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB yang mampu mendeteksi radiasi yang dihasilkan oleh lampu yang digunakan untuk menarik perhatian ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan studi kasus berupa sebaran daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Bulan Agustus hingga November, daerah perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Teluk Lada, Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Selamat Datang hingga Selat Panaitan. Pada Bulan November, jumlah armada perikanan lampu mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan kecepatan angin di perairan Selat Sunda yang berakibat pada tingginya gelombang di perairan Pandeglang. Selain itu, armada perikanan lampu juga tersebar lebih ke arah lautan untuk mencari kedalaman yang lebih tinggi. Perubahan daerah penangkapan perikanan lampu sepanjang Bulan Agustus-November 2014 sebagian besar dipengaruhi oleh angin muson yang berdampak pada perubahan arus massa air di Selat Sunda. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kesuburan perairan yang berpengaruh terhadap daerah penyebaran ikan pelagis yang menjadi sasaran utama penangkapan bagi armada perikanan lampu di peraran Pandeglang.Kata kunci: daerah penangkapan ikan; perikanan lampu; Pandeglang; VIIRS-DNB
Pemetaan daerah perikanan lampu (light fishing) menggunakan data viirs day-night band di perairan Pandeglang Provinsi Banten Adi Susanto
Depik Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.4.2.2454

Abstract

Abstract. Light fishing in Pandeglang Banten has significantly developed in number of fishing fleet and using of lamp technology. The fishing ground of light fishing fleet dispersed from Labuan until Taman Nasional Ujung Kulon. The aim of this research is to map the fishing ground of light fishing using VIIRS-DNB data at August to November 2014. This research use descriptive analysis with case study on fishing ground of ligt fishing using VIIRS-DNB data in Pandeglang waters. The results show the fishing ground of light fishing at August to November spread from Lada Bay, Lesung Cape, Sumur District, selamat Datang Bay, until Panaitan Strait. In November, the numbers of fishing fleet have significantly decreased. The loft ofwind velocity in Sunda Strait caused big waves in Pandeglang waters. Moreover, light fishing fleet also move from coastal water to the sea to find the ideal depth.The fluctuation of fishing ground at August to November 2014 influenced by monsoon circulation that effectto current and water masses circulation there. It cause the changing of surface water fertility and influent to spreading of pelagic fish fishing ground as a main target of light fishing fleets in Pandeglang waters.Keyword: fishing ground; light fishing; Pandeglang; VIIRS-DNB Abstrak. Perikanan lampu di perairan Pandeglang Banten telah mengalami perkembangan yang signifikan baik dalam jumlah armada maupun teknologi lampu yang digunakan. Daerah penangkapan armada perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Labuan hingga Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB yang mampu mendeteksi radiasi yang dihasilkan oleh lampu yang digunakan untuk menarik perhatian ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan studi kasus berupa sebaran daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Bulan Agustus hingga November, daerah perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Teluk Lada, Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Selamat Datang hingga Selat Panaitan. Pada Bulan November, jumlah armada perikanan lampu mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan kecepatan angin di perairan Selat Sunda yang berakibat pada tingginya gelombang di perairan Pandeglang. Selain itu, armada perikanan lampu juga tersebar lebih ke arah lautan untuk mencari kedalaman yang lebih tinggi. Perubahan daerah penangkapan perikanan lampu sepanjang Bulan Agustus-November 2014 sebagian besar dipengaruhi oleh angin muson yang berdampak pada perubahan arus massa air di Selat Sunda. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kesuburan perairan yang berpengaruh terhadap daerah penyebaran ikan pelagis yang menjadi sasaran utama penangkapan bagi armada perikanan lampu di peraran Pandeglang.Kata kunci: daerah penangkapan ikan; perikanan lampu; Pandeglang; VIIRS-DNB
Efektivitas low light emitting diode sebagai lampu pengumpul ikan untuk perikanan bagan tancap Adi Susanto; Sugeng Hari Wisudo; Mulyono Sumitro Baskoro; Mochammad Riyanto; Fis Purwangka
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.15582

Abstract

The effectiveness of the artificial lights on fishing activity with a fixed lift net is significant influences on the success of fishing operations. The used of color and intensity must be adjusted to the preferences, response and behavior of the target fish, due to the fish can be more quickly attracted and concentrated in the catchable area. The development of LED technology as an energy-saving lamp has a great opportunity to be applied as a fishing lamp for fixed lift net fisheries. The purpose of this study is to determine the effectiveness of low power LEDs as a fishing lamp based on fish behavioral response. The study was conducted on a research field laboratory that was built in the waters of the Banten Bay in July - August 2018. Test fish were collected from catches of the guiding barrier around the research vehicle. Data on response and behavior of fish to fluorescent lights, blue, green and white LEDs were recorded using 360 ° sonar and side imaging sonar. The results showed the green LEDs had better effectiveness in attracting, focusing and concentrating fish in the main zone than other types of lights. The fish gather more quickly, form groups and have a stable and consistent swimming pattern in the main lighting zone. Green LED is more appropriate to be used as a fishing lamp on fixed lift net fishing with an optimum intensity range of 4-20 μW cm².Keywords: Light, Intensity, Optimum, Response, BehaviorABSTRAKEfektivitas lampu yang digunakan pada proses penangkapan dengan bagan tancap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Intensitas dan warna yang digunakan harus disesuaikan dengan preferensi, respons dan tingkah laku ikan target sehingga ikan lebih cepat terkumpul dan terkonsentrasi pada catchable area. Perkembangan teknologi LED sebagai lampu hemat energi berpeluang besar digunakan sebagai fishing lamp untuk perikanan bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas low power LED sebagai lampu pemikat ikan berdasarkan aspek respons dan tingkah laku ikan. Penelitian dilakukan pada wahana penelitian yang dibangun di perairan Teluk Banten pada bulan Juli - Agustus 2018. Ikan uji diperoleh dari hasil tangkapan sero yang berada di sekitar wahana penelitian. Data respons dan tingkah laku ikan terhadap lampu neon, LED biru, hijau dan putih direkam menggunakan sonar 360° dan side imaging sonar. Hasil penelitian menunjukkan LED hijau memiliki efektivitas yang lebih baik dalam memikat, mengumpulkan dan mengkonsentrasikan ikan pada main zone dibandingkan jenis lampu lainnya. Ikan lebih cepat berkumpul, membentuk kelompok serta memiliki pola renang yang stabil dan konsistem di zona utama pencahayaan. LED hijau lebih tepat digunakan sebagai fishing lamp pada bagan tancap dibandingkan jenis lampu lainnya dengan intensitas optimum antara 4-20 μW/cm².Kata kunci: Cahaya, Intensitas, Optimum, Respons, Tingkah laku
Sebaran Makrozoobentos di Sungai Kalimati Pamarayan Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Provinsi Banten Fadhil Naufal Tamirrino; Adi Susanto; Desy Aryani
Juvenil Vol 4, No 4: November (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i4.21514

Abstract

ABSTRAKMakrozoobentos merupakan organisme yang sebagian hidupnya berada di dasar perairan, bersifat menetap, hidup relatif lama, dan bergerak relatif lamban. Makrozoobentos dapat berfungsi sebagai indikator biologi di wilayah perairan yang tercemar. Pada Kalimati Pamarayan terjadi kerusakan habitat yang ditandai dengan terjadinya ledakan jumlah ganggang (blooming algae). Dikarenakan adanya gangguan terhadap habitat makrozoobentos maka perlu dilakukan penelitian mengenai sebaran makrozoobentos sebagai data pendukung untuk pengelolaan di Sungai Kalimati Pamarayan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2022. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling pada 5 stasiun pengamatan. Analisis data yang dilakukan meliputi kelimpahan makrozoobentos, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi, indeks morisita dan tekstur sedimen. Makrozoobentos yang berhasil didapatkan terdiri atas 3 kelas invertebrata yaitu bivalvia (2 spesies), gastropoda (7 spesies), dan malacostraca (1 spesies). Parameter fisika dan kimia yang didapatkan yaitu suhu 28o-30 oC; pH air 7,1-8,1; pH sedimen 6, dan DO 6,2-8,7 mg/l. Sebaran makrozoobentos yang terdapat di lokasi penelitian yaitu mengelompok,seragam dan acak dengan tekstur sedimen silt loam dan sandy loam. Kelimpahan tertinggi yaitu 42,86 ind/m²diperoleh pada stasiun 1. Pada kelima stasiun memiliki nilai keanekaragaman sedang, nilai keseragaman tinggi, nilai dominansi rendah pada Sungai Kalimati Pamarayan.Kata Kunci: habitat, makrozoobentos, Kalimati Pamarayan, sebaranABSTRACTMacrozoobenthos are organisms that live partly at the bottom of the water, are sedentary, live relatively long, and move relatively slowly.  Macrozoobenthos can serve as a biological indicator in polluted water areas. In Pamarayan, there is habitat destruction characterized by the occurrence of blooming algae. Due to the disturbance of macrozoobenthos habitat, it is necessary to conduct research on the distribution of macrozoobenthos as supporting data for management in the Pamarayan River. The research was conducted in November 2022 through purposive sampling method at 5 observation stations. Data analysis included macrozoobenthos abundance, diversity index, uniformity index, dominance index, morisite index and sediment texture. Macrozoobenthos that were successfully obtained consisted of 3 invertebrate classes namely bivalves (2 species), gastropods (7 species), and malacostraca (1 species). Physical and chemical parameters obtained were temperature 28o-30 oC, water pH 7.1-8.1, sediment pH 6, and DO 6.2-8.7 mg/l. The distribution of macrozoobenthos found in the study site is clustered, uniform and random with silt loam and sandy loam sediment textures. The highest abundance of 42.86 ind/m² was obtained at station 1. The five stations have moderate diversity value, high uniformity value, low dominance value in Pamarayan River.Keywords: habitat, macrozoobenthos, Kalimati Pamarayan, distribution.
Pemetaan daerah perikanan lampu (light fishing) menggunakan data viirs day-night band di perairan Pandeglang Provinsi Banten Adi Susanto
Depik Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.4.2.2454

Abstract

Abstract. Light fishing in Pandeglang Banten has significantly developed in number of fishing fleet and using of lamp technology. The fishing ground of light fishing fleet dispersed from Labuan until Taman Nasional Ujung Kulon. The aim of this research is to map the fishing ground of light fishing using VIIRS-DNB data at August to November 2014. This research use descriptive analysis with case study on fishing ground of ligt fishing using VIIRS-DNB data in Pandeglang waters. The results show the fishing ground of light fishing at August to November spread from Lada Bay, Lesung Cape, Sumur District, selamat Datang Bay, until Panaitan Strait. In November, the numbers of fishing fleet have significantly decreased. The loft ofwind velocity in Sunda Strait caused big waves in Pandeglang waters. Moreover, light fishing fleet also move from coastal water to the sea to find the ideal depth.The fluctuation of fishing ground at August to November 2014 influenced by monsoon circulation that effectto current and water masses circulation there. It cause the changing of surface water fertility and influent to spreading of pelagic fish fishing ground as a main target of light fishing fleets in Pandeglang waters.Keyword: fishing ground; light fishing; Pandeglang; VIIRS-DNB Abstrak. Perikanan lampu di perairan Pandeglang Banten telah mengalami perkembangan yang signifikan baik dalam jumlah armada maupun teknologi lampu yang digunakan. Daerah penangkapan armada perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Labuan hingga Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB yang mampu mendeteksi radiasi yang dihasilkan oleh lampu yang digunakan untuk menarik perhatian ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan studi kasus berupa sebaran daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Bulan Agustus hingga November, daerah perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Teluk Lada, Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Selamat Datang hingga Selat Panaitan. Pada Bulan November, jumlah armada perikanan lampu mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan kecepatan angin di perairan Selat Sunda yang berakibat pada tingginya gelombang di perairan Pandeglang. Selain itu, armada perikanan lampu juga tersebar lebih ke arah lautan untuk mencari kedalaman yang lebih tinggi. Perubahan daerah penangkapan perikanan lampu sepanjang Bulan Agustus-November 2014 sebagian besar dipengaruhi oleh angin muson yang berdampak pada perubahan arus massa air di Selat Sunda. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kesuburan perairan yang berpengaruh terhadap daerah penyebaran ikan pelagis yang menjadi sasaran utama penangkapan bagi armada perikanan lampu di peraran Pandeglang.Kata kunci: daerah penangkapan ikan; perikanan lampu; Pandeglang; VIIRS-DNB
Efektivitas low light emitting diode sebagai lampu pengumpul ikan untuk perikanan bagan tancap Adi Susanto; Sugeng Hari Wisudo; Mulyono Sumitro Baskoro; Mochammad Riyanto; Fis Purwangka
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.15582

Abstract

The effectiveness of the artificial lights on fishing activity with a fixed lift net is significant influences on the success of fishing operations. The used of color and intensity must be adjusted to the preferences, response and behavior of the target fish, due to the fish can be more quickly attracted and concentrated in the catchable area. The development of LED technology as an energy-saving lamp has a great opportunity to be applied as a fishing lamp for fixed lift net fisheries. The purpose of this study is to determine the effectiveness of low power LEDs as a fishing lamp based on fish behavioral response. The study was conducted on a research field laboratory that was built in the waters of the Banten Bay in July - August 2018. Test fish were collected from catches of the guiding barrier around the research vehicle. Data on response and behavior of fish to fluorescent lights, blue, green and white LEDs were recorded using 360 ° sonar and side imaging sonar. The results showed the green LEDs had better effectiveness in attracting, focusing and concentrating fish in the main zone than other types of lights. The fish gather more quickly, form groups and have a stable and consistent swimming pattern in the main lighting zone. Green LED is more appropriate to be used as a fishing lamp on fixed lift net fishing with an optimum intensity range of 4-20 μW cm².Keywords: Light, Intensity, Optimum, Response, BehaviorABSTRAKEfektivitas lampu yang digunakan pada proses penangkapan dengan bagan tancap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Intensitas dan warna yang digunakan harus disesuaikan dengan preferensi, respons dan tingkah laku ikan target sehingga ikan lebih cepat terkumpul dan terkonsentrasi pada catchable area. Perkembangan teknologi LED sebagai lampu hemat energi berpeluang besar digunakan sebagai fishing lamp untuk perikanan bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas low power LED sebagai lampu pemikat ikan berdasarkan aspek respons dan tingkah laku ikan. Penelitian dilakukan pada wahana penelitian yang dibangun di perairan Teluk Banten pada bulan Juli - Agustus 2018. Ikan uji diperoleh dari hasil tangkapan sero yang berada di sekitar wahana penelitian. Data respons dan tingkah laku ikan terhadap lampu neon, LED biru, hijau dan putih direkam menggunakan sonar 360° dan side imaging sonar. Hasil penelitian menunjukkan LED hijau memiliki efektivitas yang lebih baik dalam memikat, mengumpulkan dan mengkonsentrasikan ikan pada main zone dibandingkan jenis lampu lainnya. Ikan lebih cepat berkumpul, membentuk kelompok serta memiliki pola renang yang stabil dan konsistem di zona utama pencahayaan. LED hijau lebih tepat digunakan sebagai fishing lamp pada bagan tancap dibandingkan jenis lampu lainnya dengan intensitas optimum antara 4-20 μW/cm².Kata kunci: Cahaya, Intensitas, Optimum, Respons, Tingkah laku
GERAKAN AKSI BERSIH PANTAI SEBAGAI WUJUD KEPEDULIAN MENJAGA LINGKUNGAN DI PULAU PANJANG KABUPATEN SERANG, BANTEN Erik Munandar; Ginanjar Pratama; Lana Izzul Azkia; Hendrawan Syafrie; Afifah Nurazizatul Hasanah; Muta Ali Khalifa; Bhatara Ayi Meata; Adi Susanto; Fahresa Nugraheni Supadminingsih; Devi Faustine Elvina Nuryadin; Desy Aryani; Fitri Afina Radityani
Jurnal Pemberdayaan Maritim Vol 6 No 2 (2024): Journal of Maritime Empowerment
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jme.v6i2.6961

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu pulau yang berada di wilayah Teluk Banten, menjadi salah satu jalur laut strategis, termasuk dalam Wilayah Zona Ekonomi Ekslusif Kabupaten Serang, dan menjadi tujuan objek wisata khususnya pantai. Sampah yang berada di pantai akan meningkat seiring dengan peningkatan kegiatan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan pantai dengan tidak membuang sampah sembarangan ataupun membersihkan sampah kiriman. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengklasifikasi jenis sampah yang ada di pulau Panjang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah partisipatif masyarakat dalam kegiatan aksi bersih dan klasifikasi jenis sampah yang berada di Pulau Panjang. Hasil yang diperoleh yaitu peserta aksi bersih ini diikuti 60 orang peserta yang terdiri atas mahasiswa, masyarakat dan dosen, serta sosialisasi yang terselenggara dengan baik dengan indikator masyarakat yang lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Aksi bersih pantai berhasil mengangkut sekitar 20 kantong sampah menunjukan adanya peningkatan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan pantai di Pulau Panjang.
DINAMIKA KONDISI TERUMBU KARANG SEBELUM DAN SESUDAH TSUNAMI SELAT SUNDA DI PULAU BADUL Munandar, Erik; Khalifa, Muta Ali; Susanto, Adi; Nurdin, Hery Sutrawan; Hamzah, Asep; Syafrie, Hendrawan; Budiaji, Weksi; Febrio, Eren Putra; Dewi, Inge Yulistia
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v12i2.17423

Abstract

ABSTRACTCoral reef is one of spesific tropical coastal ecosystem that has high biodivesity. Badul island is one of small island in Banten coastal that have potential coral reef for international and local tourist. Existence and diversity of coral reef depends on water condition like temperature, water current, brightness, sediment. Badul island coral reef already occured natural damage because of Sunda strait tsunami in 2018. Aims of this study to determine coral reef condition in Badul Island after tsunami and compare with the coral reef condition before tsunami. Observation conducted using Underwater Photo Transect (UPT) method and analyzed with Coral Point Count with Excel Extention (CPCe) software. Result known that coral reef ecosystem in Badul Island waters already seriously damage, in East part there is not live coral exist, in South part there is only 1.55% live coral coverage, West part only 24.77% live coral coverage and North part is only 17.47% live coral coverage. Live coral coverage already significantly decrease compare with before tsunami, almost 72.53%. On the other side, this research found 19 genera from 11 coral family. This condition higher than before tsunami, as much 13 genera. But, only 7 genera still found comparing before and after tsunami. Keywords: CPCe, Ujung Kulon, Coral reef, Tsunami, UPT ABSTRAKTerumbu karang merupakan ekosistem khas perairan tropis yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Pulau badul merupakan pulau kecil tak berpenghuni yang memiliki potensi terumbu karang yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Keberadaan dan keanekaragaman terumbu karang ditentukan oleh kondisi perairan seperti suhu, arus, kecerahan, sedimen. Akan tetapi, keberadaan ini masih dapat terjadi kerusakan secara alami akibat adanya gelombang besar atau tsunami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi terumbu karang pasca tsunami yang terjadi di selat sunda serta perbandingannya dengan kondisi pada saat sebelu terjadi tsunami. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode UPT (Underwater Photo Transect) yang dianalisis menggunakan piranti software CPCe (Coral Point Count with Excel ectention). Hasil yang peroleh terlihat bahwa kondisi terumbu karang di pulau badul mengalami kerusakan dengan persentasi tutupan karang hidup di bagian selatan sebesar 1.55 %, di bagian barat sebesar 24.77% dan di bagian utara sebesar 17.47%. Persetasi tutupan ini menurun drastis dibandingkan dengan perentasi tutupan terumbu karang pada saat sebelum tsunami yang mencapai 72.53%.  genus karang yang ditemukan terdapat 19 genus  dari 11 famili karang. Jumlah ini meningkat dibandingkan yang ditemukan pada saat sebelum tsunami yakni terdapat 13 genus. Akan tetapi, genus yang ditemukan pada sebelum dan sesudah tsunami hanya terdapat 7 genus. Kata kunci: CPCe, Ujung Kulon, Terumbu karang, Tsunami, UPT