Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA UNTUK MEWUJUDKAN KAMPUNG SIAGA BENCANA (KSB) DI DESA BANGBAYANG KAMPUNG CIPADANG AYAM PELUNG Situmorang, Marningot Tua Natalis; Noviana, Linda
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i1.6692

Abstract

Indonesia is an archipelagic country located at the confluence of three tectonic plates, which means that the possibility of occurrence of disasters is extremely high. Especially after the issue of the potential earthquake and tidal flood 'Megatrust' that could hit this country at any time. Bangbayang Village is one of the tectonic areas located in Cianjur Regency, with the potential for earthquakes, tidal floods and tornadoes. With the Disaster Preparedness Village (KSB) it is hoped that it can help and increase public awareness of the importance of disaster preparedness, and the community can be independent and adapt in facing potential threats of disasters that will occur. In an effort to realize the Disaster Preparedness Village, community participation is a very important indicator. Because the main principle of implementing the Disaster Alert Village is to prioritize community independence in disaster management and to know what actions to take during pre-disaster, during disaster and post-disaster. The method used in this research is descriptive qualitative by conducting a pre test, lecture, and post test. The results of this community service are other steps taken in disaster management to create a disaster preparedness village. ABSTRAKIndonesia adalah negara kepulauan yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni lempeng eurasia, lempeng pasifik dan lempeng indo-australia sehingga tingkat kemungkinan terjadinya bencana sangat tinggi. Beredarnya isu mengenai potensi gempa bumi “Megatrust” yang bisa terjadi kapan pun di negeri ini salah satu akibat dari hal tersebut. Desa Bangbayang sebuah desa yang tertetak di wilayah pegunungan di Kabupaten Cianjur, yang memiliki potensi kebencanaan berupa gempa bumi dan banjir rob. Program Kampung Siaga Bencana (KSB) diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana, serta mendorong masyarakat untuk menjadi lebih mandiri dan mampu beradaptasi dalam menghadapi ancaman bencana yang berpotensi terjadi. Dalam upaya mewujudkan Kampung Siaga Bencana partisipasi masyarakat menjadi indikator yang sangat penting. Hal ini karena prinsip utama dalam pelaksanaan Kampung Siaga Bencana adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menghadapi bencana serta memahami langkah-langkah yang harus dilakukan pada fase pra bencana, saat bencana terjadi dan pasca bencana. Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan melakukan test awal, ceramah dan post test serta dalam ceramah ada diskusi (tanya jawab) terkait tema pengabdian kepada masyarakat. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini adalah informasi dan pengetahuan tentang partisipasi masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana untuk mewujudkan Kampung Siaga Bencana.
The Modelling Studies of Ecological Corridor Management of The Gunung Halimun Salak National Park, West Java, Indonesia Istiadi, Yossa; Retnowati, Rita; Pranowo, Agus Setya; Situmorang, Marningot Tua Natalis; Junanto, Try
IJIS Edu : Indonesian Journal of Integrated Science Education Vol 6, No 1 (2024): January 2024
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ijisedu.v6i1.2391

Abstract

This research aims to study the design of the ecological corridor management pattern of Gunung Halimun Salak National Park (TNGHS) through the identification of population and distribution of conservation species, edge effect of road access within the corridor, preservation mitigation, status of non-conservation species, and assessment of land-use-based ecotourism. The methods used include Belt transect, hypothetical transect, Intensive Point Account (IPA), and descriptive survey techniques. The research was conducted from September to December 2023. The results showed that the population density of Javan Gibbon was 0.114 indv/ha, Surili was 0.024 indv/ha, which is very low compared to the population density of TNGHS, 26 non-conservation bird species, and 1 endemic species, the Javan Gibbon. The edge effect is caused by the frequency of vehicles passing through the corridor. The hypothetical transect shows that the land use allocation for tea plantations is the target of ecotourism, and agricultural land use supports the product. The model design emphasizes the creation of protection zones for primates and Javan Eagles in terms of mobilization and migration, mitigation of vehicle crossings during the day, as well as the initiation of ecotourism based on non-conservation species and landscape characteristics. In conclusion, the ecological corridor management modeling includes accommodating the protection of endemic and rare animals, monitoring non-conservation bird species, conservation mitigation through vehicle frequency control, limited ecotourism development with a natural orientation, and agricultural products. Scientifically the contribution of this research is to explain the implications of island geography theory in the sustainability of endemic species in metapopulations to avoid genetic flow deviations.
Membersihkan Sampah dan Menanam Mangrove Di Pantai Bahagia Muara Gembong Kabupaten Bekasi Situmorang, Marningot Tua Natalis; Noviana, Linda
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 2 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i2.762

Abstract

Menjaga kelestarian hutan mangrove dan kebersihan pantainya sangatlah penting, mengingat abrasi yang semakin parah hingga merobohkan rumah penduduk. akibat ombak yang tinggi sementara disekitar pantai banyak tambak, ombak yang datang membawa sampah dan tertinggal saat surut. Sampah harus dibersihkan agar tidak menumpuk dan menjadi tempat bersarang nyamuk dan lalat yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Dalam rangka menjaga kelestarian dan kebersihan hutan mangrove tersebut maka kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan berupa operasi semut dengan mengumpulkan sampah hutan mangrove dan menanam mangrove di pantai Bahagia. Pantai Bahagia merupakan kawasan konservasi dan wisata alam yang senantiasa terbuka untuk kegiatan penanaman Mangrove. Kegiatan diikuti oleh sepuluh orang mahasiswa dan dua orang dosen Teknik lingkungan. Kegiatan diawali dengan diskusi Bersama warga masyarakat anggota tim Kelompok Bahagia Berkarya (KEBAYA), sebuah kelompok masyarakat yang bertujuan melestarikan mangrove dan memanfaatkan pohon mangrove menjadi souvenir dan bahan pangan yang dijual kepada pengunjung. Setelah diskusi dilanjutkan membersihkan pantai dari sampah, kemudian menanam Mangrove di lokasi penanaman yang sudah ditentukan dengan bibit mangrove Rhizophora mucronata sebanyak 100 bibit. Pelaksanaan penanaman mangrove, dimulai dengan berdoa, semoga semua yang ditanam tumbuh, demi kelestarian mangrove, kemudian peserta dibagikan bibit mangrove, tali dari pelepah pisang serta ajir (sebilah bambu) kemudian menanam dengan gembira.
A Initiation of Disaster Prepared School at Cinjur Development Agricultural Vocational High School Situmorang, Marningot Tua Natalis; Linda Noviana
Experimental Student Experiences Vol. 3 No. 4 (2024): August
Publisher : LPPM Institut Studi Islam Sunan Doe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58330/ese.v1i8.327

Abstract

In order for students to understand disasters properly and completely, disaster education in schools must be integrated into several subjects. The Cianjur Development Agricultural Vocational Middle School is a school located in the Cibeber area, Cilaku Regency. Cianjur, with a total of 561 students (293 male students and 268 female students). As an educational institution, the Cianjur Development Agricultural Vocational School is responsible for organizing education so that students can develop their potential and build a culture, including a disaster preparedness culture. According to the Cianjur Regency Regional Disaster Risk Map, Cibeber is very vulnerable to the risk of hurricanes, floods and earthquakes. The knowledge of educators on disaster management regarding attitudes/actions, school policies, preparedness planning, and resource mobilization still needs to be improved. This partner problem can be overcome through assistance and training at disaster preparedness schools or disaster education units. The implementation team and relevant experts provide support and training. In this early stage of community service, preparedness training will be carried out for class VII students, and will describe the initial knowledge of school residents on disaster preparedness by conducting a survey. An ongoing program to prepare disaster preparedness schools needs to be carried out.
Peran Stakeholder dalam Manajemen Sustainable Tourism Destinations Sianturi, Adeyuni Berliana; Annisa, Sekar Budi; Iffandy, Ikhwan; Ramadhan, Mochammad Thoriq; Medeline, Ruth; Arafat, Ajruna Bil; Situmorang, Marningot Tua Natalis
Jurnal Ilmiah Ilmu Pariwisata Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Kajian Pariwisata
Publisher : LPPM STP ARS Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/jiip.v7i1.1941

Abstract

Manajemen destinasi wisata berkelanjutan adalah pendekatan dalam pengelolaan destinasi wisata yang memiliki tujuan untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang. Tujuan utama dari manajemen destinasi wisata berkelanjutan adalah untuk memastikan bahwa kegiatan wisata memberikan manfaat ekonomi bagi para stakeholders, dengan tetap menjaga kelestarian alam dan budaya. Pada konteks wisata, stakeholder mengacu pada semua individu, kelompok atau organisasi yang memiliki kepentingan atau terlibat dalam kegiatan pariwisata. Stakeholder ini dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh industri pariwisata di suatu tempat wisata. Dalam hal ini stakeholder berupa pemerintah, masyarakat lokal, pelaku industri pariwisata, media massa dan wisatawan itu sendiri. Oleh karena itu, peran stakeholder sangat penting untuk pengembangan dan pengelolaan wisata berkelanjutan.
Sosialisasi Pengurangan Penggunaan Plastik ke Masyarakat Situmorang, Marningot Tua Natalis; Ratnasari, Lisa
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 1 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan bertambahnya juga kebutuhan hidup seperti kebutuhan makan, minum, pakaian, perumahan hingga transportasi, dan akibat dari pemenuhan kebutuhan penduduk yang jumlahnya banyak ini adalah banyaknya Penggunaan plastik untuk membungkus makanan, minuman dan kebutuhan lainnya. Salah satu Penggunaan yang menjadi permasalahan saat ini adalah sisa Penggunaan plastik yang dihasilkan oleh masyarakat dari bahan pembungkus kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Banyaknya Penggunaan plastik ini dapat dilihat di sungai, di pinggir jalan serta di tempat pembuangan sampah. Penggunaan plastik ini sangat berbahaya jika jumlahnya berlebihan, karena sammpah plastik ini tidak dapat diurai oleh tanah dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan puluhan tahun agar sampah plastik dapat terurai. Hal ini menyebabkan dampak yang sangat komplek. Permasalahan sampah plastik yang berlebihan di masyarakat ini perlu diatasi dengan memberikan edukasi tentang dampak penggunaan plastik yang berlebihan. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melakukan sosialisasi pengurangan penggunaan plastik kepada masyarakat. Kegiatan berlokasi di RT 001 RW 010 Desa Telajung Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi. Peserta kegiatan adalah ibu-ibu rumah tangga anggota masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk Ceramah menggunakan PPT yang materinya berisi tentang plastik, dampak pengunaan plastik yang berlebihan dan cara mengurangi sampah plastik. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang plastik, dampak penggunaan plastik yang berlebihan dan alternatif pengganti plastik.
PERTANIAN KONSERVASI UNTUK MENGURANGI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Situmorang, Marningot Tua Natalis; Istiadi, Yossa
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9838

Abstract

ABSTRACT Conservation agriculture is an approach developed to enhance the resilience of agricultural systems to climate change while simultaneously improving productivity and the welfare of rural communities. This study aims to analyze the factors influencing the adoption of conservation agriculture practices and to assess their impact on farmers’ productivity in areas surrounding Mount Halimun-Salak National Park. The research data were obtained through a household survey of farmers and analyzed using an econometric approach with the Multinomial Endogenous Switching Regression (MESR) model to identify the determinants of adoption and to compare the productivity of farmers who adopt and those who do not adopt these practices. The results indicate that several socio-economic characteristics significantly influence farmers’ adoption decisions, including age, gender, farming experience, land size, level of formal education, access to extension services, and membership in farmer organizations or associations. Furthermore, the implementation of combined conservation agriculture practices has been shown to have a positive effect on increasing farmers’ productivity and income compared to conventional farming systems. These findings suggest that the development of conservation agriculture practices can serve as an effective adaptation strategy to address climate change while improving the performance of the agricultural sector at the local level. Therefore, policy support and active involvement from stakeholders are needed to expand farmers’ access to information, extension services, and institutional support in order to encourage the broader and sustainable adoption of conservation agriculture practices. ABSTRAK Pertanian konservasi merupakan salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan sistem pertanian terhadap perubahan iklim sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi praktik pertanian konservasi serta menilai dampaknya terhadap produktivitas petani di kawasan sekitar Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Data penelitian diperoleh melalui survei rumah tangga petani, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan ekonometrika dengan model Multinomial Endogenous Switching Regression (MESR) untuk mengidentifikasi determinan adopsi serta membandingkan produktivitas antara petani yang mengadopsi dan yang tidak mengadopsi praktik tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa karakteristik sosial ekonomi petani berpengaruh signifikan terhadap keputusan adopsi, antara lain usia, jenis kelamin, pengalaman bertani, luas lahan, tingkat pendidikan formal, akses terhadap layanan penyuluhan, serta keanggotaan dalam organisasi atau asosiasi petani. Selain itu, penerapan kombinasi praktik pertanian konservasi terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan petani dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan praktik pertanian konservasi dapat menjadi strategi adaptasi yang efektif dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kinerja sektor pertanian di tingkat lokal. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan dan peran aktif pemangku kepentingan dalam memperluas akses petani terhadap informasi, penyuluhan, serta kelembagaan yang dapat mendorong peningkatan adopsi praktik pertanian konservasi secara berkelanjutan.