Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

VERTIKULTUR SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PANGAN SAYURAN BAGI WIRAUSAHA KELOMPOK TANI DI JAKARTA TIMUR Situmorang, Marningot Tua Natalis
Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan Vol 1, No 1 (2018): JUNE
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/kewirausahaan.v1i1.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode penyuluhan dan pengetahuan tentang vertikultur terhadap perilaku bertani vertikultur.Penelitian ini dilakukan pada ibu-ibu anggota kelompok tani di Jakarta Timur bulan maret tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain factorial 2x2, sampel penelitian sebanyak 60 orang, yang terdiri atas kategori pengetahuan tinggi dan rendah. Kedua kategori ini dikenai perlakuan penyuluhan metode demplot dan metode ceramah. Instrument pengumpulan data terdiri dari kuesioner berupa tes pengetahuan tentang pertanian vertikultur untuk menentukan kategori responden, dan kuesioner berupa angket guna mendapatkan data untuk pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis menggunakan teknik Anava dan dilanjutkan dengan uji Tuckey. Hasil penelitian ini adalah metode demplot yaitu sebuah metode penyuluhan yang terbaik dalam upaya meningkatkan perilaku ibu-ibu rumah tangga dalam melaksanakan kegiatan bertani vertikultur.
Environmental Management Strategy In Schools: A Case Study At SMA Negeri 1 Bekasi, West Java Situmorang, Marningot Tua Natalis
International Journal for Educational and Vocational Studies Vol 2, No 10 (2020): October 2020
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/ijevs.v2i10.3310

Abstract

This paper aims to find out about school environmental management strategies in West Java secondary schools. To guide the study, three research questions were formulated. This is achieved by administering a structured questionnaire in a random sample school of 100 students. The findings show regular lawn cleaning, school complex sweeping and painting, landscaping and flower planting, good drainage and garbage disposal are strategies adopted for managing school environments. While the lack of gardeners to keep the school complex clean, erosion, students and teachers are not responsive to environmental problems, difficulties in instilling students' environmental values due to different care of homes, lack of funds for procurement of work tools/equipment and challenges of waste disposal are some of the challenges. Identified in the management of the school environment. For a better and better school environment for good academic practice, school environmental management team, plans for drainage and waste disposal, consideration of school locations for new schools, janitorial work, terminal orientation programs, development of curricula on environmental management, inspections and school competitions and awards are recommended
VERTIKULTUR SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PANGAN SAYURAN BAGI WIRAUSAHA KELOMPOK TANI DI JAKARTA TIMUR Situmorang, Marningot Tua Natalis
Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan Vol 1, No 1 (2018): JUNE
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/kewirausahaan.v1i1.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode penyuluhan dan pengetahuan tentang vertikultur terhadap perilaku bertani vertikultur.Penelitian ini dilakukan pada ibu-ibu anggota kelompok tani di Jakarta Timur bulan maret tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain factorial 2x2, sampel penelitian sebanyak 60 orang, yang terdiri atas kategori pengetahuan tinggi dan rendah. Kedua kategori ini dikenai perlakuan penyuluhan metode demplot dan metode ceramah. Instrument pengumpulan data terdiri dari kuesioner berupa tes pengetahuan tentang pertanian vertikultur untuk menentukan kategori responden, dan kuesioner berupa angket guna mendapatkan data untuk pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis menggunakan teknik Anava dan dilanjutkan dengan uji Tuckey. Hasil penelitian ini adalah metode demplot yaitu sebuah metode penyuluhan yang terbaik dalam upaya meningkatkan perilaku ibu-ibu rumah tangga dalam melaksanakan kegiatan bertani vertikultur.
MITIGASI SATWA LIAR DI KORIDOR EKOLOGI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK SITUMORANG, MARNINGOT TUA NATALIS
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v4i3.3114

Abstract

The ecological corridor that is studied in this paper is a road section that is 3 km long. which separates 2 important ecosystems in the northern part of West Java, namely the Mount Halimun Ecosystem and the Southern part of the Mount Salak Ecosystem. The ecosystem is home to protected animals, such as the Leopard, Owa, Surili and Javanese Eagle. As a result of the existence of ecological corridor that cross protected forests, the movement of wildlife in both ecosystems can be cut off or hampered. This study aims to examine the planning principles and development control components so that they can be implemented, as an effort to conserve nature and mitigate the negative impacts of development on wildlife. This study describes several criteria and development components that must be managed, in order to comply with planning principles or design proposals that meet all existing provisions. ABSTRAKKoridor ekologi yang menjadi penelitian pada paper ini adalah ruas jalan yang sepanjang 3 km. yang memisahkan 2 ekosistem penting di Jawa Barat bagian utara, yaitu Ekosistem Gunung Halimun dan di bagian Selatan Ekosistem Gunung Salak. Ekosistem merupakan rumah satwa yang dilindungi, seperti Macan Tutul, Owa, Surili dan Elang Jawa. Akibat digunakannya koridor ekologi ini menjadi ruas jalan dengan melintasi hutan lindung, pergerakan satwa liar di kedua ekosistem ini menjadi terputus atau terhambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip pengelolaan dan pengendalian pembangunan berkelanjutan untuk diimplementasikan, sebagai upaya untuk melakukan konservasi alam dan mitigasi dampak negatif pembangunan terhadap kehidupan satwa liar. Pada penelitian ini ditemukan beberapa titik dan tempat yang harus dikelola secara berkelanjutan, agar memenuhi prinsip-prinsip pengelolaan dan pengendalian pembangunan yang berkelanjutan.
PENGARUH PENERAPAN PROGRAM CHSE PASCA COVID-19 TERHADAP KEPUASAN WISATAWAN Husni Mubarok, Muhammad Huda; Septiani, Yeni; Sugiat, Yogi; Elghi Chamber, Shelma; Situmorang, Marningot Tua Natalis
Warta Pariwisata Vol 22 No 2 (2024):
Publisher : Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/wpar.2024.22.2.05

Abstract

Pandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan pada industri pariwisata dunia. Peningkatan kesadaran global terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan semakin memperkuat kebutuhan akan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Salah satu program Pemerintah Indonesia dalam pariwisata berkelanjutan adalah penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan CHSE terhadap kepuasan wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi yang relevan mengenai manajemen destinasi pariwisata berkelanjutan pasca COVID-19 melalui penerapan CHSE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan CHSE di beberapa kawasan wisata berpengaruh positif pada kepuasan wisatawan.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN KAWASAN KORIDOR EKOLOGI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK SITUMORANG, MARNINGOT TUA NATALIS; NOVIANA, LINDA
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v4i2.4182

Abstract

Natural ecosystems are increasingly affected by climate change and habitat fragmentation, which has a strong impact on biodiversity thus affecting the habitat and diversity of flora and fauna species at all levels. Fragmentation and habitat loss result in organisms being in isolated populations. The form of countermeasures against the impacts of fragmentation is to create corridor patterns both artificial, natural, and ecological and biological approaches, especially in the conservation of animals that are categorized as endemic, rare, and threatened. Ecological corridors should be designed and made public with sustainable land management in mind for biodiversity conservation with a combination of economic development, population growth, and nature conservation. Involving local communities as people who live around the ecological corridor every day is a must because as local people they must have a way to save the surrounding environment, it's just that to encourage them more, efforts need to be made in the form of focus group discussions to explain what is currently happening with the TNGHS ecological corridor, why it happened, what impact will occur if the current incident drags on. Wildlife has become isolated because they no longer pass by as usual and some have even become deep into the forest. Wild animals that are early inhabitants and continue to lose money because their play area is reduced or even lost. Meanwhile, humans, who use ecological corridors as alternative roads, have many advantages. Initial study in the field and found several principles of mitigation planning and implementation that can be implemented for local communities and motorists who pass through the ecological corridor which is an animal trajectory. ABSTRAKEkosistem alam semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim dan fragmentasi habitat, yang memiliki dampak yang kuat terhadap keanekaragaman hayati sehingga mempengaruhi habitat dan keanekaragaman spesies flora dan fauna di semua tingkatan. Fragmentasi dan hilangnya habitat mengakibatkan organisme berada pada populasi yang terisolasi. Bentuk penanggulangan terhadap dampak-dampak fragmentasi tersebut adalah membuat pola koridor baik secara artificial, natural, maupun pendekatan ekologi dan biologi, khususnya dalam konservasi satwa yang dikategorikan endemik, langka, dan terancam. Koridor ekologi harus dirancang dan dipublikasikan kepada khalayak dengan mempertimbangkan pengelolaan lahan yang berkelanjutan untuk konservasi keanekaragaman hayati dengan kombinasi pembangunan ekonomi, pertumbuhan penduduk, dan pelestarian alam. Melibatkan masyarakat local sebagai orang yang sehari-hari tinggal di sekitar koridor ekologi adalah keharusan karena sebagai orang local mereka pasti punya bakal cara menyelamatkan lingkungan sekitarnya, hanya saja untuk semakin menyemangati mereka perlu dilakukan upaya berupa focus group discussion untuk menerangkan apa yang sedang terjadi saat ini dengan koridor ekologi TNGHS, kenapa hal itu terjadi, dampak apa yang akan terjadi kalau kejadian yang sekarang berlarut-larut. satwa liar menjadi terisolasi karena mereka tidak lagi melintas seperti biasanya dan bahkan ada yang menjadi masuk jauh ke hutan. Hewan liar yang merupakan penghuni awal dan tetap merugi karena area permainan mereka menjadi berkurang atau bahkan hilang. Sedangkan manusia, yang menggunakan koridor ekologi sebagai jalan alternatif mempunyai banyak sekali keuntungan. studi awal di lapangan dan menemukan beberapa prinsip perencanaan dan pelaksanaan mitigasi yang dapat diimplementasikan untuk masyarakat local maupun pengendara kendaraan bermotor yang melintas dari koridor ekologi yang merupakan lintasan satwa.
BUILDING CLIMATE RESILIENCE: INNOVATIVE STRATEGIES BY INDONESIAN LOCAL GOVERNMENTS Situmorang, Marningot Tua Natalis; Djaya, Subhan; Astuti, Titin; Hermansyah, Muhammad; Sulistyo, Arif Budi
VISIONER : Jurnal Pemerintahan Daerah di Indonesia Vol 16 No 1 (2024): Visioner: Jurnal Pemerintahan Daerah di Indonesia
Publisher : Alqaprint Jatinangor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jv.v16i1.1041

Abstract

Climate change is a global challenge that requires rapid and adaptive responses from various levels of government, including local governments. In Indonesia, the role of local governments in building climate resilience is increasingly crucial as the impacts of climate change are felt in various regions. However, bureaucratic barriers, resource constraints, and socio-economic dynamics often hinder the effectiveness of climate resilience strategies at the local level. This study aims to explore the role of local governments in building climate resilience through local policies, technological innovation, and community participation. This study was conducted using a qualitative approach, where data was collected from various sources such as research results and relevant previous studies. The collected data were then processed systematically to find findings that support the development of climate resilience strategies. The results of the study show that local governments have an important role in developing policies that are appropriate to local conditions to deal with climate change. Technological innovation and the development of disaster-resistant infrastructure are key to increasing climate resilience at the local level. Active community participation and community empowerment have also proven to be important factors in implementing effective climate resilience strategies. Bureaucratic barriers and resource constraints can be overcome through cross-regional collaboration that allows for the sharing of knowledge and best practices. Thus, climate resilience strategies at the local level must be based on synergy between government, communities, and the private sector to achieve sustainable and effective results.
THE ROLE OF SOCIAL CAPITAL IN DISASTER RESILIENCE A COMPARATIVE STUDY OF URBAN AND RURAL AREAS Oktaviany, Mega; Situmorang, Marningot Tua Natalis; Lansiwi, Muhammad Amin; Gymnastiar, Iman Ahmad; Saleh, Fitra
Indonesian Journal of Studies on Humanities, Social Sciences and Education Vol. 1 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Studies on Humanities, Social Sciences, and Education (IJ
Publisher : GoAcademica CRP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/qd0cjg65

Abstract

This study explores the role of social capital in enhancing disaster resilience, comparing urban and rural areas to identify key differences and similarities. Social capital, encompassing networks, norms, and trust that facilitate coordination and cooperation, is crucial for communities facing disasters. Using a comparative study approach, we conducted surveys and interviews in selected urban and rural areas to gather data on social capital dimensions and their impact on disaster resilience. Our findings reveal that while both urban and rural communities benefit from social capital, the mechanisms and outcomes differ significantly. In urban areas, formal networks and institutional support play a more significant role, whereas in rural areas, informal networks and community cohesion are more influential. These differences highlight the need for tailored disaster resilience strategies that leverage the unique strengths of each context. The study contributes to the literature by providing empirical evidence on how social capital functions in diverse settings and offers policy recommendations to enhance disaster resilience through community engagement and capacity building.
MITIGASI SATWA DI KORIDOR EKOLOGI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK Situmorang, Marningot Tua Natalis; Noviana, Linda
MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment Vol. 1 No. 4 (2024): MAJU : Indonesian Journal of Community Empowerment, JULI 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sk57a119

Abstract

Koridor Ekologi Gunung Halimun Salak, dimanfaatkan menjadi jalan alternatif yang dilintasi sepeda motor, mobil dan truk, akibatnya 2 ekosistem penting di Bogor dan Sukabumi, yaitu Ekosistem Gunung Halimun dan Ekosistem Gunung Salak terganggu. Pihak Taman Nasional bersama warga melarang pengendara melintasi koridor ekologi dengan membuat tanda dilarang masuk, hingga menghalau para pengendara. Namun upaya itu sia-sia karena koridor ekologi ini ditetapkan oleh Pemda Jawa Barat menjadi jalan alternatif dengan mengaspal jalan nya dan meluncurkan angkutan DAMRI rute Leuwiliang-Pelabuhan Ratu melewati koridor ekologi ini. Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan sebagai mitigasi satwa melalui penyadaran kepada masyarakat local dan pengendara kendaraan bermotor agar ketika melintasi koridor ekologi pengendara menjaga kecepatan kendaraannya maksimal 40km dan suara kendaraan tidak membuat kebisingan yang mengganggu satwa, dan apabila berhenti dan istirahat jangan sampai memetik daun dan atau bunga apalagi sampai mencabut, mengambil  dan membawa pulang.
MASA DEPAN PERTANIAN INDONESIA SITUMORANG, MARNINGOT TUA NATALIS
Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan (JHPP) Vol. 1 No. 3 (2023): Juli
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jhpp.v1i3.177

Abstract

Generasi muda kurang tertarik pada karir pertanian, yang antara lain disebabkan oleh kesenjangan pendapatan antara pekerja sektor pertanian dan pekerja sektor manufaktur dan jasa. Gaji rata-rata seorang pekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan adalah Rp. 1.971.660. Dan dalam sector manufaktur Rp. 3.152.934. Layanan keuangan dan asuransi di Rp. 4.135.417. Hal ini juga dipengaruhi oleh usia angkatan kerja produktif dan tingkat pendidikan petani. Hanya ada 885.077 petani di bawah usia 25 tahun. Petani yang tersisa sebagian besar adalah petani berusia 45-54 tahun sebanyak 9.185.564. Penelitian ini dimulai pada bulan Januari 2023 dan berakhir pada Maret 2023. Subyek penelitian ini adalah 6 orang petani muda dari desa Mega Mendung Cianjur. Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan sengaja snowball sampling, agar bergulir seperti bola salju hingga akhirnya menemukan 6 orang petani muda. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dilakukan dengan observasi ke lapangan, mencari nara sumber (sampling), berbicara dengan nara sumber (wawancara), dan mendokumentasikan semua hal yang berkaitan dengan penelitian ini, kemudian analisis datanya dilakukan melalui kolektif data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil dan pembahasan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa orang muda di pedesaan seperti desa Mega Mendung Cianjur kurang tertarik untuk bertani dan lebih tertarik untuk berdagang hasil pertanian.