Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pengembangan Karakter Siswa SMP di Daerah Kepulauan Terpencil melalui Pendekatan Neurobiologi dan Psikologi Perkembangan: Studi Pengabdian Partisipatif di Kepulauan Banda, Maluku Tengah: Pengabdian Yulian Hermanus Wenno; Cynthia Petra Haumahu; Criezta Korlefura; Juni Nikijuluw
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6703

Abstract

Pendidikan karakter bagi siswa SMP di daerah kepulauan terpencil menghadapi tantangan yang unik akibat isolasi geografis danketerbatasan sumber daya manusia profesional serta minimnya program intervensi berbasis bukti. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan karakter dari 15 siswa kelas VII di SMP Negeri 10 Maluku Tengah yang berada di Pulau Ay di Kepulauan Banda dengan pendekatan integratif yang menggabungkan neurobiologi dan psikologi perkembangan. Enam masalah karakter utama teridentifikasi: disiplin rendah, kesulitan dalam regulasi emosi, motivasi belajar intrinsik yang rendah, perilaku bullying, melemahnya etika sosial, dan apatisme siswa. Dengan menggunakan desain Community-Based Participatory Action (CBPA), program ini menerapkan enam metode sinergis yaitu workshop tentang neurobiologi remaja secara psychoeducative; kuliah ilmiah konteks; permainan edukatif; wawancara kelompok mendalam oleh mahasiswa biologi; refleksi kelompok yang difasilitasi; serta observasi perilaku terstruktur. Data dikumpulkan dari 11 kelompok mahasiswa mencakup 20 subjek siswa dari dua sekolah. Hasil penelitian menegaskan bahwa ketidakseimbangan antara sistem limbik dan korteks prefrontal yang belum matang muncul dalam perilaku siswa. Walaupun terdapat berbagai tantangan, para siswa menunjukkan sikap sosial positif yang kuat serta motivasi berbasis keluarga dan rasa ingin tahu tinggi sebagai aset karakter utama. Program ini menghasilkan lima kategori hasil: dampak pada siswa dan sekolah; inovasi produk (modul pembelajaran dan panduan permainan); publikasi akademik; serta pengembangan kapasitas bagi siswa dan dosen. Model ini membuktikan bahwa intervensi karakter berbasis ilmu pengetahuan yang kontekstual dapat dilaksanakan dengan efektif di sekolah-sekolah Tertinggal
Peran mediasi self-compassion dalam hubungan self-esteem dan academic burnout pada mahasiswa di wilayah kepulauan maluku: analisis SEM-PLS Yulian Hermanus Wenno; Cynthia Petra Haumahu; Armin J Kalean; Meisaldia Linansera
JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia) Vol. 11 No. 2 (2026): JPGI
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/027048jpgi0005

Abstract

Burnout akademik menimbulkan risiko psikologis yang signifikan bagi mahasiswa, terutama di wilayah kepulauan dengan keterbatasan dukungan institusional. Penelitian ini menguji peran mediasi self-compassion dalam hubungan antara self-esteem dan burnout akademik pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Pattimura di Kepulauan Maluku, Indonesia. Desain penelitian kuantitatif lintas-seksi digunakan dengan pengumpulan data dari 124 partisipan melalui instrumen laporan diri yang tervalidasi: Rosenberg Self-Esteem Scale, Self-Compassion Scale, dan Maslach Burnout Inventory Student Survey. Analisis dilakukan menggunakan Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil Parsial, dengan pengujian hipotesis melalui prosedur bootstrap terkoreksi-bias menggunakan 5.000 subsampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem secara signifikan dan positif memprediksi self-compassion, serta secara langsung dan signifikan menurunkan burnout akademik. Namun, self-compassion tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap burnout akademik, dan peran mediasinya dalam hubungan self-esteem dengan burnout akademik tidak terkonfirmasi. Temuan ini menetapkan self-esteem sebagai sumber daya protektif internal yang kritis terhadap burnout akademik pada populasi mahasiswa kepulauan. Penelitian ini memberikan bukti empiris dari konteks geografis dan budaya yang belum banyak diteliti, serta menegaskan pentingnya intervensi berbasis self-esteem dalam kurikulum konseling perguruan tinggi di Indonesia Timur.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INOVASI PRODUK SELAI PISANG DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN UMKM DESA WAKOLO Cynthia Petra Haumahu; Jenny Ifana Pattiasina; Joseph Ronald Resubun; Juan Radot M. T. Sinaga; Jisca J Huwaa; Jolen Tuarissa
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 03 (2026): JUNI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Wakolo memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar terutama pada sektor pertanian dan perkebunan, salah satunya komoditas pisang. Namun selama ini hasil pisang sebagian besar dijual dalam bentuk mentah sehingga belum memberikan nilai tambah ekonomi yang optimal bagi masyarakat. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat melalui inovasi pengolahan pisang menjadi selai pisang sebagai produk UMKM unggulan desa. Metode pelaksanaan dilakukan melalui observasi lapangan, identifikasi masalah, sosialisasi, demonstrasi pembuatan produk, dan evaluasi kegiatan. Sasaran kegiatan meliputi pelaku UMKM, Ibu Rumah Tangga, dan Masyarakat Desa Wakolo. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya inovasi produk berbasis sumber daya lokal serta munculnya peluang pengembangan usaha rumahan berbasis selai pisang. Program ini juga didukung melalui sosialisasi pemasaran digital sehingga produk yang dihasilkan memiliki peluang pemasaran yang lebih luas. Dengan demikian, inovasi selai pisang berpotensi menjadi produk unggulan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Wakolo.
Strategi Pengembangan UMKM Melalui Literasi Keuangan Digital di Desa Nukuhai Cynthia Petra Haumahu; Krisman Gea; Helnida Wati Telaumbanua; Dina Resley; Diva Tiara Lumban Batu; Recky Gregory Frans
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Takuana (April-June)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v5i1.565

Abstract

This study analyzes the development strategy of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in Nukuhai Village through the strengthening of digital financial literacy. The research uses a descriptive qualitative approach supported by field observation, semi-structured interviews with MSME actors and village stakeholders, participatory problem mapping, and document review. The findings show that MSME development in Nukuhai is constrained by limited financial recordkeeping, weak separation between household and business finance, low familiarity with digital payment instruments, limited product standardization, and uneven access to digital marketing infrastructure. Digitalization therefore cannot be treated merely as the use of social media or online platforms; it must be preceded by basic financial literacy, simple bookkeeping, secure transaction behavior, product improvement, and collective marketing support. The study proposes a gradual village-based strategy that integrates financial recording, QRIS adoption, digital promotion, packaging improvement, cooperative logistics, and actor-based implementation support. These findings contribute to rural MSME studies by emphasizing the importance of context-sensitive digital capacity building in archipelagic villages.
The socio-emotional digital literacy (SEL-D) model: confirmatory factor validation of a five-dimension hierarchical structure among adolescents Yulian Hermanus Wenno; Nono Hery Yoenanto; Rusnawati Ellis; Cynthia Petra Haumahu; Criezta Korlefura
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol. 14 No. 2 (2026): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1206600

Abstract

The rapid digitalization of adolescents' social environments has intensified the need for competencies that integrate technological skills with socio-emotional awareness and ethical digital behavior. However, existing digital literacy instruments predominantly capture technical and informational dimensions, and no psychometrically validated instrument has yet operationalized the five CASEL competencies as an integrated construct within digital contexts. This study aimed to validate the Socio-Emotional Digital Literacy (SEL-D) model, a hierarchical construct comprising five dimensions: digital self-awareness, digital self-regulation, digital social awareness, digital relationship skills, and responsible digital decision-making. A 30-item instrument, adapted from established SEL and digital literacy measures, was refined through expert content validation involving three experts (item-level Content Validity Index ≥ 0.80). Employing a cross-sectional survey design, data were collected from 139 senior high school students aged 15–18 years, selected through stratified random sampling across grade levels and school types in Ambon, Maluku Province, Indonesia, and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The measurement model demonstrated satisfactory psychometric properties, with composite reliability ranging from 0.857 to 0.944, Average Variance Extracted from 0.583 to 0.729, and acceptable global model fit (SRMR = 0.098). The higher-order SEL-D construct significantly predicted all five dimensions (β = 0.388–0.928, p < 0.001), most strongly digital relationship skills and social awareness (both β = 0.928; R² = 0.861). As a confirmatory validation of a regionally adapted instrument rather than the development of a new framework, this study provides initial, regionally bounded empirical evidence supporting the multidimensional SEL-D model and underscores the importance of integrating emotional and ethical dimensions into digital literacy education.