Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pemanfaatan Data Satelit Cuaca Himawari-8 dan Radiosonde Dalam Analisis Hujan Lebat (Studi Kasus: Cilacap, 13 Januari 2021) Ulhaq, Naufal Dhiya; Haryanto, Yosafat Donni
Jurnal Penelitian Sains Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.464 KB) | DOI: 10.56064/jps.v24i2.671

Abstract

Kejadian hujan lebat terjadi di daerah Cilacap,  Tanggal 13 Januari 2021 menimbulkan banjir dan tanah longsor di beberapa titik di daerah Cilacap. Maka diperlukan  analisis meteorologis untuk mengetahui penyebab kejadian. Pada penelitian ini memanfaatkan data satelit cuaca himawari-8 dengan  metode RGB, CCO dan SWA dengan waktu malam serta menggunakan metode pengamatan udara atas dengan radiosonde dengan waktu 00 UTC daerah Cilacap dan data curah hujan dari BMKG Cilacap yang menujukkan probabilistik curah hujan tiap jam dengan kategori hujan ringan sampai hujan sangat lebat semakin malam di Daerah Cilacap. Penggunaan metode bisa efektif mengetahui keadaan atmosfer di daerah Cilacap. Hasil pengamatan dari metode RGB terjadi kondisi awan berakibat hujan lebat yang tinggi. Hasil pengamatan metode CCO terjadi awan - awan konvektif yang terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi. Hasil pengamatan dengan SWA terdapat tipe awan High Cumulonimbus, Dense Cirrus, dan Thick Cirrus yang dapat terjadi hujan lebat yang tinggi. Hasil pengamatan pengamatan udara atas dengan radiosonde pada 00 UTC menunjukkan awal fase cuaca buruk di wilayah Cilacap.
Tsunami Wave Height Modelling Using COMCOT Software Based on Maximum Earthquake Scenario in Bali Island Faiza, Nida Nur; Fatimah, Rizkahana; Haryanto, Yosafat Donni
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jiif.v9i2.60751

Abstract

Bahasa Indonesia memiliki potensi bahaya tsunami tertinggi, menempati urutan pertama dari 265 negara. Pulau Bali merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang dikategorikan sebagai wilayah rawan tsunami karena keberadaan Java Megathrust di segmen selatan Bali, yang memiliki magnitudo maksimum hingga M 9,0, yang dapat memicu tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan tinggi gelombang tsunami dan waktu tiba gelombang berdasarkan skenario gempa maksimum di zona megathrust Bali selatan. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak COMCOT (Cornell Multi-grid Coupled Tsunami Model). Data yang digunakan dalam pemodelan tsunami terdiri dari data parameter gempa dari Global CMT Catalogue, serta data batimetri dan topografi dari GEBCO, BATNAS, dan DEMNAS. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tsunami yang ditimbulkan dapat mencapai ketinggian maksimum hingga 18 meter di Bali selatan. Dari titik-titik tide gauge yang telah dibuat, titik yang terletak di lokasi Nusa Penida menunjukkan amplitudo maksimum hingga 5 meter. Selain itu, simulasi perambatan gelombang tsunami juga menunjukkan bahwa gelombang tsunami membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit untuk mencapai daratan pantai selatan Bali dan Nusa Penida pascagempa. Oleh karena itu, diperlukan sistem peringatan dini yang cepat dan pembuatan jalur evakuasi yang efektif untuk mengurangi risiko dan dampak tsunami di Pulau Bali.
Advancing Aviation Meteorology: Airport Visibility Prediction Using Random Forest Regressor On Integrated Metar Parameters Kharisma, Adilaksa; Fadhillah, Muhammad; Haryanto, Yosafat Donni
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jiif.v9i2.65464

Abstract

To provide accurate and reliable visibility information in support of aviation safety at Soekarno-Hatta International Airport, a visibility prediction system was developed using the Random Forest Regressor algorithm based on 2024 METAR data. Visibility is a critical parameter for flight safety, particularly under adverse weather conditions. The dataset includes wind direction and speed, temperature, dew point, air pressure, weather phenomena, and cloud parameters that were numerically encoded. After preprocessing and quality control, the data was input into a Random Forest model optimized using Grid Search. Evaluation results show strong predictive performance with an R² value of 0.8736, MAE of 607.45 m, and RMSE of 772.29 m. Feature importance analysis identified haze, temperature, and mist as the most influential factors affecting visibility. These findings demonstrate that integrating meteorological observational data with machine learning approaches can provide accurate visibility predictions to support aviation operational decision-making.
Analisis Unsur Cuaca terhadap Variabilitas Musiman di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (2020-2024) Widyandaru, Karmelita Asri; Wulaning Sari, Ni Made Orcidia; Haryanto, Yosafat Donni
Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro Vol. 3 No. 2 (2025): Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56071/jkil.v3i2.1373

Abstract

This study was conducted to identify the characteristics and variability of weather elements at I Gusti Ngurah Rai International Airport, Bali, based on data from 2020 to 2024. The aim of this research is to analyze the relationship between weather variability and seasonal patterns, including visibility, temperature, cloud base height, wind direction, and precipitation. The method used is descriptive quantitative analysis, involving the processing of secondary data from Aerodrome Climatological Summary (ACS) and Precipitation (CH) reports. The data is analyzed on a monthly basis and categorized according to monsoon seasons (wet, dry, and two transition periods). The results show that visibility is dominated by the <8000 m category, with the highest percentage occurring during the wet season and the lowest during the dry season. The 25–30°C temperature range occurs more frequently during the dry season, while winds predominantly come from the northwest sector during the wet season and shift to the east during the dry season.
Analisis Kondisi Atmosfer Saat Kejadian Hujan Es di Sidoarjo 4 November 2024: Analysis of Atmospheric Conditions During the Hailstorm Event in Sidoarjo on 4 November 2024 An-Nizami, Muhammad Subhan; Alghazali, Muhammad Fathurrachman; Haryanto, Yosafat Donni
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 9: September 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i9.8107

Abstract

Penelitian ini menganalisis kejadian hujan es di Kabupaten Sidoarjo pada 4 November 2024 dengan pendekatan komprehensif, meliputi anomali suhu muka laut (SST), profil vertikal udara, parameter ketidakstabilan atmosfer, dan fase pertumbuhan awan. Data yang digunakan mencakup pengamatan lokal, data sounding atmosfer, dan data suhu muka laut dari NOAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali suhu muka laut positif mendukung peningkatan energi laten di atmosfer, yang memicu pertumbuhan awan cumulonimbus. Profil vertikal menunjukkan divergensi di lapisan atas yang mendukung ventilasi awan, serta kelembapan tinggi di lapisan bawah hingga tengah. Ketidakstabilan atmosfer tertinggi terjadi pada fase matang, dengan nilai Lifted Index -3,0 dan CAPE 911 J/kg, menandakan atmosfer sangat mendukung aktivitas konvektif intensif. Studi fase pertumbuhan awan mengonfirmasi intensitas maksimum awan cumulonimbus terjadi pada pukul 07.50 UTC.
Analysis of Upwelling Parameters when the El Nino Southern Oscillation (ENSO) Occurred in the Halmahera Sea Marthinus, Libertinus; Avrionesti, Avrionesti; Haryanto, Yosafat Donni; Qomariyatuzzamzami, Latifah Nurul
Tropical Marine Environmental Sciences Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Marine Science, Faculty of Fisheries and Marine Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/tromes.2.02.36-41

Abstract

Upwelling events that occur in the Halmahera Sea are influenced by the El Nino Southern Oscillation (ENSO). Upwelling can cause sea surface temperatures to be lower than normal, affecting the potential of fishery resources in the region. The purpose of this study was to determine the conditions of sea surface temperature, chlorophyll-a content, salinity, and upwelling conditions when viewed from the parameters of chlorophyll-α content and sea surface temperature when El Nino was strong, El Nino was weak, La Nina was strong, and La Nina weak and in normal conditions in the Halmahera Sea region. The data used in this study include the Oceanic Nino Index, sea surface temperature, salinity, and chlorophyll-α content during the 2010–2019 period. A quantitative descriptive research type is used by filtering ENSO data to determine when ENSO occurred, then visualizing the data in each parameter and analyzing it. The results of this study show that upwelling is known to occur in the northern to western parts of the Halmahera Sea. When the El Nino phase is vital, the upwelling parameter changes, the sea surface temperature decreases to 27.1⁰C, the chlorophyll-α content increases to 0.70 mg/m3 compared to the normal phase, and the upwelling intensity changes.
Analisis Kejadian Kabut Tebal di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA): Studi Kasus 19-22 Oktober 2023 Annisa, Nindya Sekar; Rohman, Muhammad Faisal; Orleando, Rio Putra; Haryanto, Yosafat Donni
Pangea : Wahana Informasi Pengembangan Profesi dan Ilmu Geografi Vol 6, No 1 (2024): Pangea: Wahana Informasi Pengembangan Profesi dan Ilmu Geografi
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/pangea.v6i1.9469

Abstract

Kabut merupakan salah satu fenomena cuaca kekaburan yang dapat mengganggu penerbangan karena mengurangi jarak pandang. Pada tanggal 19-22 Oktober 2023 terjadi fenomena kabut tebal pada Bandara Internasional Yogyakarta. Kabut tebal ini dapat dibuktikan dari data observasi di Stasiun Meteorologi Yogyakarta yang melaporkan adanya kabut dengan fenomena Mist (BR) sepanjang bulan Oktober yang puncaknya terjadi pada tanggal 19-22 Oktober 2023. Kabut tebal yang melanda ini menjadi bukti dari kompleksitas faktor-faktor meteorologi yang saling mempengaruhi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi pendukung terjadinya pembentukan kabut di lokasi penelitian. Data-data yang digunakan ialah data global berupa data reanalysis suhu permukaan laut dan angin vector dan ditambah dengan data observasi dari Stasiun Meteorologi Klas II Yogyakarta yakni temperature, kelembapan, dan jarak pangan. Kabut tebal ini dipicu oleh adanya pertemuan massa udara panas dari Australia dan massa udara dingin dari Samudera Hindia menjadi salah satu penyebab utama terbentuknya kabut. Ketika dua massa udara ini berinteraksi di atas permukaan laut yang hangat, uap air mulai berkondensasi dan membentuk kabut tebal yang menyelimuti pantai. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai langkah preventif bagi pihak-pihak terkait untuk terus mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kabut tebal di Pantai Selatan Yogyakarta serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak negatifnya, terutama dalam menjaga keamanan dan kelancaran operasi penerbangan. 
Analisis Profil Vertikal Stabilitas Atmosfer Selama Sebaran Abu Vulkanik Gunung Marapi di Wilayah Bandara Minangkabau Padang Rohman, Muhammad Faisal; Firdaush, Risang Bayu; Haryanto, Yosafat Donni
Pangea : Wahana Informasi Pengembangan Profesi dan Ilmu Geografi Vol 6, No 2 (2024): Pangea: Wahana Informasi Pengembangan Profesi dan Ilmu Geografi
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/pangea.v6i2.9472

Abstract

Di penghujung tahun 2023, Indonesia dikejutkan dengan meletusnya Gunung Marapi yang ada di Sumatra Barat. Gunung ini termasuk dalam salah satu kategori gunung berapi yang masif aktif di Indonesia dengan aktivitas vulkaniknya yang mengeluarkan partikel-partikel vulkanis ke atmosfer. Kondisi ini tentunya akan berdampak terhadap stabilitas atmosfer disekitarnya. Penilitian ini bertujuan menganalisa dan membandingkan profil vertikal stabilitas atmosfer pada periode dengan intesitas vulkanik yang kuat/masif dengan periode dimana intensitas vulkanik dari Gunung Marapi yang kurang signifikan. Penelitian ini juga memanfaatkan hasil citra satelit TROPOMI untuk mengetahui intensitas vulkanik dari sebaran dan kosentarasi SO2 yang terekam satelit. Profil vertikal stabilitas atmosfer didapat dari hasil olahan data Radiosonde di Bandara Minagkabau Padang dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi stabilitas atmosfer bersifat labil bersyarat berdasarkan nilai lapse rate dan untuk profil vertikal atmosfer menunjukkan adanya peningkatan ketinggian dan nilai dari parameter selama periode masif tersebut, seperti Lifting Condensation Level (LCL), Convective Condensation Level (CCL), Equilibrium Level (EL), ketinggian tropopause, dan precipitable water. Namum berkebalikan dengan Relative Humidity (RH) dimana intesitas vulkanik yang kuat/masif menyebakan penurunan kelembapan relatif. 
Aplikasi Produk Radar Cuaca pada Kejadian Hujan Es (Studi Kasus: Perumahan Sanggulan, 1 November 2024) Dewa, I Dewa Gede Loka Maheswara; I Kadek Mas Satriyabawa; Haryanto, Yosafat Donni
Newton-Maxwell Journal of Physics Vol. 6 No. 2: Oktober 2025
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/nmj.v6i2.44477

Abstract

Fenomena cuaca ekstrem seperti hujan es dapat berdampak terhadap kerusakan signifikan dan mengganggu aktivitas masyarakat. Analisis secara komprehensif terhadap kejadian hujan es menjadi penting sebagai upaya pengembangan metode deteksi dini hujan es. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kejadian hujan es adalah radar cuaca. Pada penelitian ini digunakan rawdata Radar Doppler BBMKG Wilayah III Denpasar dalam format .vol yang diolah menjadi produk CMAX, SSA, CAPPI, VIL, dan ZHAIL. Hasil penelitian menunjukkan nilai reflektivitas tinggi di atas freezing level yang mencapai 61.5 dBZ pada pukul 05.00 UTC serta luas sistem inti awan konvektif (core) yang mencapai 92 km² pada waktu yang sama memenuhi sebagai kategori kejadian hujan es. Selain itu, nilai kandungan air mencapai 9.35 mm dengan persentase probabilitas kejadian hujan es dengan penetapan threshold 48 dBZ mencapai 100% menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi adalah hujan es. Fenomena ini disebabkan oleh keberadaan Quasi-Linear Convective System (QLCS) yang bergerak dari arah utara menuju wilayah Perumahan Sanggulan serta adanya proses downdraft yang kuat.
UJI VERIFIKASI DATA PERMUKAAN DAN INDEKS UDARA ATAS HASIL MODEL WRF DENGAN DATA OBSERVASI STASIUN METEOROLOGI SULTAN HASANUDDIN: (STUDI KASUS : 6 DESEMBER 2021) Sulistiyono, Wahyu; Zuliandry, Muhammad Ivan Rizki; Haryanto, Yosafat Donni
OPTIKA: Jurnal Pendidikan Fisika Vol. 7 No. 1 (2023): OPTIKA: Jurnal Pendidikan Fisika
Publisher : Department of Physics Education, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/optika.v7i1.2354

Abstract

Kemajuan teknologi komputasi dalam pengolahan data secara numerik telah dimanfaatkan dalam bidang prakiraan cuaca. Prediksi cuaca berdasarkan model numerik perlu dilakukan pengujian untuk menentukan nilai galat serta akurasi data model terhadap data pengamatan. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai galat (error) yang dihasilkan data model WRF (Weather Research and Forecast) terhadap data pengamatan permukaan serta udara atas Stasiun Meteorologi Hasanuddin pada tanggal 6 Desember 2021. Metode Verifikasi yang digunakan terdiri dari RMSE (Root Mean Square Error), ME (Mean Error), MAPE (Mean Absolute Percentage Error) dan Koefisien Korelasi. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa data pengamatan permukaan hasil model WRF yang paling akurat yaitu data suhu udara, kelembaban relatif, dan tekanan udara dengan nilai persentase galat menurut metode MAPE berada dibawah 4%. Namun nilai korelasi suhu udara, kelembaban relatif, dan tekanan udara berada dibawah 0.1% yang menandakan hubungan data model dan data observasi sangat lemah. Sementara untuk data udara atas yang diuji dalam penelitian ini terdiri dari data CAPE dan CIN. Pada hasil pengujian didapatkan hasil bahwa data CIN memiliki akurasi yang lebih baik dikarenakan nilai galat yang terukur tergolong rendah dengan persentase MAPE sebesar 3.76%.