Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Terhadap Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Mai Rista Nila Sari; Mukhlis Imanto
MAJORITY Vol 9 No 2 (2020): MAJORITY
Publisher : Majority

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic suppurative otitis media is a chronic infection in the middle ear with perforation of the tympanic membrane and secretions from the middle ear or intermittent. Watery or thick secretions, clear or pus. Chronic suppurative otitis media is a complication of acute otitis media with perforation of the tympanic membrane more than 2 months and discharge, which if not treatment properly will increase the disease progression. The risk factors for the incidence of otitis media are reliable, especially in the nasopharynx and eustachian tube. Risk factors of chronic suppurative otitis media is host factors, infectious factors, environmental factors, sociodemographic factors, lack of patient knowledge about the disease and patient behavior in daily life. Results of Basic Health Research (Riskesdas) The prevalence of Clean and Healthy Life Style in Indonesian 2011 was still low at 38.7%, compared to the National target until 2013 of 65.0%. This paper aims to determine the relationship between clean and healthy life style with chronic suppurative otitis media.
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN OTITIS EKSTERNA DI POLIKLINIK THT-KL RSUD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2019 Tondi Rosalinda Mandalahi; Mukhlis Imanto; Tri Umiana Soleha; Reni Zuraida
MAJORITY Vol 11 No 2 (2023): MAJORITY
Publisher : Majority

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis externa is an inflammation of the outer part of the ear which includes auricle, external audiotory canal, or both. The inflammation can be acute and chronic that ussually caused by bacteria, viral, and fungal infections. The objective of this study was to determine the association between risk factor with otitis externa occurrence in otorhinolaryngology head and neck surgery clinic of RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung in 2019. This study was an observational analytic study with a case control design. The sample divided into 56 respondents who had otitis externa and 56 respondents who did not have otitis extena. The sample taken using consecutive sampling technique. Data analysis using chi square test (α = 0,05). Respondents who had otitis externa were highest among respondents with history of ear cleaning (62,5%), without history of activity in water (62,5%), and without history of diabetes mellitus (91,1%). The results of chi square analysis indicate an association between history of ear cleaning (p value = 0,001) and activity in water (p value = 0,036) with otitis externa occurrence. While history of diabetes mellitus (p value = 0,500) did not affect otitis externa occurrence. There was an association between history of ear cleaning and activity in water with otitis externa occurrence. While history diabetes mellitus did not affect the otitis externa occurrence.
Manajemen Rhinitis Alergi Salsabila Dwi Irga Syarif; Mukhlis Imanto; Septia Eva Lusiana
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 6 (2024): November : OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v2i6.800

Abstract

Allergic rhinitis (AR) is an atopic disease characterized by symptoms of nasal congestion, clear rhinorrhea, sneezing, postnasal drop, and nasal pruritis. The disease affects one in six people and is associated with significant morbidity, loss of productivity, and health care costs. Historically, AR was considered a disease process in the nasal airways only, although it is not serious, allergic rhinitis should be considered as a quite serious condition because it can affect the sufferer's quality of life due to the severity of the symptoms experienced and can also cause various complications. However, the development of integrated airway theory has classified AR as a component of the systemic allergic response, with other related conditions, such as asthma and atopic dermatitis, having an underlying systemic pathology. Even though it is not serious, allergic rhinitis should be considered as a quite serious condition because it can affect the sufferer's quality of life due to the severity of the symptoms experienced and can also cause various complications. In addition to nasal symptoms, patients with AR may also experience allergic conjunctivitis, non-productive cough, Eustachian tube dysfunction, and chronic sinusitis. Once diagnosed, AR can be treated in a variety of ways, with intranasal glucocorticoids being the first line of therapy.
Wanita Usia 60 Tahun dengan Episode Depresif Sedang dan Gejala Somatis Aironi Irsyahma; Mukhlis Imanto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Episode depresif adalah diagnosis kejiwaan yang menggambarkan gangguan mood atau afektif dengan abnormalitas pada suasana perasaan. Kelainan fundamental dari kelompok gangguan ini adalah adanya perubahan suasana perasaan (mood) atau afek menuju ke arah depresi yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketidakgairahan hidup, perasaan tidak berguna, dan putus asa. Seorang wanita usia 60 tahun datang ke poliklinik jiwa Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung dengan keluhan utama sulit untuk memulai tidur dan sering terbangun di malam hari secara tiba-tiba yang telah dialami sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga sering merasasakit kepala, pegal-pegal pada badan, cepat lelah pada saat melakukan pekerjaan rumah tangga, dan malas untuk pergi ke luar rumah untuk mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan. Pada pemeriksaan fisik terhadap pasien tidak didapatkan kelainan klinis sedangkan pada pemeriksaan psikiatris didapatkan kesadaran jernih,mood hipotimia dengan afek yang sempit dan serasi. Pasien didiagnosis dengan aksis I: (F.32.11) episode depresif sedang dengan gejala somatik, aksis II: tidak ada diagnosis, aksis III: tidak ada diagnosis, aksis IV: masalah dengan keluarga, dan aksis V: Global Assestment of Functioning (GAF) score 50-41 (pada saatsekarang). Pasien mendapatkan terapi psikofarmaka golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) Sertralin 1x25 mg dan Clobazam 2x5 mg yang dikombinasikan dengan psikoterapi suportif. Episode depresif pada pasien ini disebabkan oleh anggota keluarga yang menetap di tempat yang berbeda dengan pasien. [J Agromed Unila 2016. 3(1):7-12]Kata kunci: afektif, episode depresif, mood, somatik, wanita
Pengaruh Pemberian Minyak Jelantah terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Sprague dawley Wulan Noventi; Rizky Hanriko; Mukhlis Imanto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak goreng yang telah dipanaskan berulang kali disebut minyak jelantah. Senyawa radikal bebas dapat terbentuk akibat pemanasan minyak goreng. Radikal bebas menyebabkan terjadinya reaksi stres oksidatif pada berbagai sel dalam tubuh, termasuk ginjal. Stres oksidatif merubah struktur dan fungsi dari glomerulus karena radikal bebas merusak sel-sel mesangial dan endotel. Sel epitel tubulus ginjal, sangat peka terhadap suatu iskemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah minyak jelantah dapat mempengaruhi gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang dibagi ke dalam 5 kelompok, yaitu kontrol (K) tikus yang tidak diberikan perlakuan, pada perlakuan 1 (P1), perlakuan 2 (P2), perlakuan 3 (P3) dan perlakuan 4 (P4) masing-masing diberikan minyak jelantah 1x, 4x, 8x dan 12x penggorengan dengan dosis 1,5 mL/hari secara oral dalam waktu 28 hari. Gambaran kerusakan pada ginjal terdiri dari infiltrasi sel radang, edema tubulus, edema spatium bowman, dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Kruskal‒Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann‒Whitney. Hasil uji statistik menunjukan adanya perbedaan yang bermakna. Minyak jelantah dapat menyebabkan kerusakan gambaran histopatologi pada ginjal tikus.Kata kunci: ginjal, minyak jelantah, radikal bebas, stres oksidatif.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kemandirian dalam Activity Daily Living pada Pasien Pasca Stroke di Poliklinik Syaraf RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Diana Mayasari; Mukhlis Imanto; TA Larasati; Intan Fajar Ningtyas
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi stroke di Lampung berdasarkan yang terdiagnosis tenaga kesehatan dan gejala adalah 5,4% dari 57,9 % kasus stroke di Indonesia. Kejadian stroke dapat menimbulkan kelemahan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dari kelemahannya seperti ketidakmampuan perawatan diri akibat kelemahan pada ekstremitas dan penurunan fungsi mobilitasyang dapat menghambat pemenuhan activity daily living (ADL). Dengan adanya dukungan keluarga dapat membantu dalam kemandirian melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kemandirian dalam ADL pada pasien pasca stroke di poliklinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Rancangan penelitian ini adalah Cross Sectional. Populasi penelitian terdiri dari pasien pasca stroke yang datang ke poliklinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Sampel berjumlah 43 responden dan diambil dengan teknik consecutive sampling. Variabel independen penelitian ini adalah dukungan keluarga dengan variabel dependen kemandirian dalam ADL. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan nilai α=0,05. Pada 43 responden, yang mendapatkan dukungan keluarga yang baik sebanyak 77% dan dari angka tersebut subjek penelitian paling banyak mengalami tingkat kemandirian dengan kategorimandiri yaitu 48,5%. Hasil Chi Square diperoleh nilai p=0,02, yang artinya dukungan keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat kemandirian dalam ADL pada pasien pasca stroke.Kata kunci: Activity daily living, dukungan keluarga, tingkat kemandirian
Efek Alkohol pada Hippocampus M. Farhan Rozak; Anggraeni Janar Wulan; Mukhlis Imanto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alkohol merupakan senyawa yang sering dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Terjadi penurunan persentase konsumsi alkohol di Indonesia setiap tahunnya, tetapi kasus kematian akibat penyalahgunaan alkohol masih cukup tinggi di dunia. Secara global, konsumsi alkohol diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2026 terutama di wilayah  Asia Tenggara. Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat menimbulkan masalah dalam sistem saraf termasuk hipokampus. Hipokampus merupakan pusat belajar dan memori spasial pada manusia, sehingga kerusakan pada bagian ini akan berdampak pada daya pikir dan kemampuan belajar seseorang. Mekanisme pengaruh alkohol pada hipokampus berupa kematian sel saraf yang dimediasi melalui  N methyl-D aspartate receptor (NMDAR) disertai proliferasi microglial dan perubahan ekspresi gen brain-derivedneurotropic factor (BDNF). Perubahan Keseimbangan  neuroimun/ neutrotropik berkontribusi dalam hilangnya neurogenesis hipokampus. Dampak penyalahgunaan alkohol berupa penurunan volume, perubahan fungsional dan struktural jangka lama, penurunan sel gyrus dentatus, penipisan kumpulan sel progenitor, dan mempengaruhi neuron yangg belum matang. Kata kunci: alkohol, hipokampus, sistem saraf, neuron