Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Benign Prostatic Hyperplasia dengan Retensi Urin dan Vesicolithiasis M. Azzaky Bimandama; Evi Kurniawaty
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Benign prostatic hyperplasia adalah suatu keadaan dimana terjadi hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat. Benign prostatic hyperplasia ini dapat dialami oleh sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80 tahun. Pada kasus ini, kami melaporkan laki-laki berusia 61 tahun datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil (BAK). Pasien mengaku sulit untuk memulai BAK, dan terkadang harus disertai dengan mengedan untuk BAK, pancaran kencing lemah, kadang terhenti kemudian lancar kembali. Pasien juga mengeluh sering berkali-kali ke kamar mandi pada malam hari saat tidur malam karena ingin BAK namun saat BAK hanya menetes dan merasa kurang puas. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran komposmentis, nadi 99x/menit reguler, laju pernapasan 20x/menit, tekanan darah 140/90 mmHg, dan suhu 36,7oC. Pemeriksaan status generalis didapatkan dalam batas normal. Dari rectal toucher didapatkan tonus sphincter ani kuat, mukosa rektum licin, tidak ada massa, ampulla recti intact, serta prostat teraba membesar, batas atas teraba, konsistensi kenyal, permukaan licin, nodul tidak ada, dan nyeri tekan tidak ada, tidak ada darah dan feses pada handscoon. Pemeriksaan USG urologi menunjukkan adanya symple cyst ren dextra, vesicolithiasis, pembesaran prostat (volume 42,3 ml) dengan kalsifikasi dan protusi ke VU. Dilakukan open prostatektomi suprapubik dan ekstraksi batu buli pada pasien.Kata kunci : benign prostatic hyperplasia, open prostatektomi suprapubik, retensi urin
Efek Antibakteri Kopi Robusta yang Difermentasi dengan Kombucha Terhadap Salmonella typhi Romanna Julia Duma Simanjuntak; Evi Kurniawaty
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid menjadi masalah yang kompleks dengan meningkatnya kasus carrier atau relaps dan resistensi terhadap lebih dari satu obat. Penggunaan antibiotik lini pertama selama puluhan tahun menyebabkan terjadinya multidrug resistant Salmonella typhi (MDRST). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kopi kombucha sebagai alternatif antibakteri pada Salmonella typhi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan Post Test Only Control Group Design yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK Universitas Lampung. Sampel penelitian adalah isolat Salmonella typhi yang dibagi ke dalam 5 kelompok, yaitu kontrol positif (K(+), kontrol negatif (K(-), perlakuan dengan kopi kombucha fermentasi 6 hari (P1), 12 hari (P2), dan 18 hari (P3). Variabel bebas adalah variasi waktu fermentasi kopi kombucha 6, 12, dan 18 hari, sedangkan variabel terikat adalah diameter zona hambat. Data dikumpulkan dengan mengukur zonahambat yang terbentuk dari masing-masing perlakuan dengan jangka sorong. Data yang didapat diolah menggunakan program analisis data dengan uji One Way Anova, dilanjutkan uji post hoc untuk melihat kelompok yang memiliki perbedaan bermakna. Hasil rerata diameter zona hambat yaitu K(+): 42,89 mm, K(-): 0 mm, P1: 30,9 mm, P2: 28,46 mm, dan P3: 35,08 mm. Hasil analisis data yaitu terjadi penurunan efek antibakteri pada waktu fermentasi 12 hari. Kopi kombucha denganfermentasi 6, 12, dan 18 hari memiliki efek antibakteri terhadap Salmonella typhi yang mana kopi kombucha 18 hari memiliki diameter zona hambat tertinggi.Kata kunci: antibakteri, kopi kombucha, kultur kombucha, Salmonella typhi.
Perbedaan Penyembuhan Luka Sayat secara Makroskopis antara Pemberian Topikal Ekstrak Sel Punca Mesenkimal Tali Pusat Manusia dengan Povidone Iodine Pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley Firza Syailindra; Evi Kurniawaty; Dyah Wulan SRW; Waluyo Rudiyanto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka merupakan kasus yang sering dialami oleh setiap manusia. Penyembuhan luka menjadi penting karena fungsi spesifik kulit bagi tubuh. Povidone iodine termasuk pengobatan luka yang sering digunakan. Pengobatan luka lain yang saat ini dikembangkan adalah ekstrak sel punca mesenkimal tali pusat manusia berupa Wharton Jelly Mesenchymal Stem Cells (WJMSCs) yang memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi sel lain. Penelitia ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka sayat antara ekstrak WJMSCs dengan povidone iodine yang meliputi waktu penyembuhan luka, infeksi lokal, dan reaksi alergi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan 18 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley yang dikelompokkan menjadi tiga perlakuan berbeda, terdiri atas kelompok K: kontrol negatif (akuades), P1: povidone iodine, dan P2: ekstrak WJMSCs. Pengamatan luka sayat dilakukan selama 14 hari menggunakan kriteria Nagaoka kemudian dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif kategorik dan one way ANOVA. Waktu penyembuhan luka kelompok K: 16,67% lambat dan 83,3% sedang, P1: 16,67% lambat dan 83,3% sedang, P2: 83,3% sedang dan 16,7% cepat. Perbedaan rerata P1 dengan P2: 3,33 hari. Infeksi lokal dan reaksi alergi 100% tidak ada. Terdapat perbedaan waktu penyembuhan luka sayat antara ekstrak WJMSCs dengan povidone iodine secara bermakna (p value <0,05) dan tidak ada infeksi lokal ataupun reaksi alergi yang terjadi.Kata kunci: ekstrak sel punca mesenkimal tali pusat manusia, luka sayat, penyembuhan luka, povidone iodine.
Zat Metabolit Sekunder dan Penyembuhan Luka: Tinjauan Pustaka Wildan Kautsar Irawan; Evi Kurniawaty; Rodiani Rodiani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat metabolit sekunder adalah penentu utama aktivitas farmakologis suatu bahan alam. Penelitian terkini berhasil  mengungkapkan mekanisme kerja dari berbagai zat metabolit sekunder, salah satunya adalah perannya dalam membantu penyembuhan luka. Zat metabolit sekunder tumbuhan membantu penyembuhan luka pada fase hemostasis, fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodelling melalui berbagai mekanisme. Aktivitas zat metabolit sekunder yang berperan dalam membantu penyembuhan luka adalah aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba.  Kata kunci: Metabolit sekunder, penyembuhan luka.
Potensi HIF2a-Inhibitor (Mk-6482) Sebagai Terapi Kuratif Clear Cell Renal Cell Carcinoma Herina Azzahra; Evi Kurniawaty; TA Larasati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Renal cell carcinoma terdiri atas lebih dari 10 subtipe histologis, dengan clear cell renal cell carcinoma (ccRCC) menjadi jenis yang paling banyak (80%), agresif, dan penyebab kematian paling umum. Tumor ccRCC hampir selalu mengalami mutasi inaktivasi salinan gen von Hippel-Lindau (VHL) dari ibu dan ayah. Produk gen VHL, pVHL, adalah bagian dari ligase ubiquitin E3 yang memiliki peran mendasar dalam penginderaan oksigen dengan menargetkan subunit dari faktor transkripsi heterodimerik hypoxia-inducible factor (HIF) untuk degradasi dalam kondisi normoksik. HIF2α mengaktifkan berbagai gen yang mengkode molekul yang mungkin memiliki peran kausal dalam pengembangan ccRCC, termasuk faktor pertumbuhan angiogenik VEGFA dan PDGFB. Inhibitor HIF2α (MK-6482) menghasilkan penurunan yang cepat dan nyata dalam ekspresi gen responsif HIF2α yang mengkode EPO pada semua dosis, menunjukkan keterlibatan target dan aktivitas biologis.Kata Kunci: HIF2α-inhibitor, MK-6482, Clear Cell Renal Cell Carcinoma
COVID-19 PADA ANAK (LITERATURE REVIEW) Sultan Mahathir Bastha; Asep Sukohar; Evi Kurniawaty; TA Larasati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus disease 2019 atau yang disebut COVID-19 disebabkan oleh SARS CoV-2 ini berawal dari Wuhan, China, menyebar ke lebih dari 200 negara. Sejak awal pandemi COVID-19, jelas bahwa anak-anak yang terinfeksi sindrom pernapasan akut coronavirus 2 atau SARS-CoV-2 sebagian besar tetap tanpa gejala atau gejala ringan. Secara umum, anak- anak dengan COVID-19 memiliki risiko lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit dan komplikasi yang mengancam jiwa. Namun demikian, kasus penyakit parah atau sindrom hiperinflamasi multisistem pasca infeksi bernama sindrom inflamasi  multisistem pada anak-anak telah dijelaskan. Jarang anak-anak dengan COVID-19 yang parah mengalami komplikasi neurologis. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa penutupan sekolah memiliki dampak terbatas pada penularan SARS-CoV-2, jauh lebih sedikit daripada tindakan jarak sosial lainnya. Beberapa bulan terakhir, varian baru SARS-CoV-2 muncul dengan penularan yang lebih tinggi dan peningkatan dampak pada morbiditas dan kematian. Hingga saat ini, belum banyak data yang solid mengenai dampak COVID-19 pada anak-anak. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui update baru terkait COVID-19 pada anak. Dari literature review 40 artikel yang terdapat di database NCBI, PubMed, dan Google Scholar,hanya 37 artikel yang dipilih untuk disertakan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menggambarkan data terbaru tentangperkembangan COVID-19 pada anak-anak. Kata Kunci: Anak-anak,COVID-19, COVID-19 pada anak
Laboratory Tests as an Indicator of Neonatal Sepsis Putu Karis Ayu Kirana; Tri Umiana Soleha; Bayu Anggileo Pramesona; Evi Kurniawaty
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp47-53

Abstract

Sepsis neonatotum adalah penyakit yang sangat kompleks dimana kelainan klinis penyakit sistemik disebabkan oleh bakteremia pada bayi berusia 28 hari atau kurang. Penegakkan diagnosis sepsis neonatorum masih sulit ditegakkan dan kita membutuhkan pemeriksaan laboratorium atau biomarker untuk diagnosis sepsis neonatorum yang cepat dan akurat. Baku emas dalam pengujian laboratorium untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bakteri penyebab sepsis adalah kultur darah, namun hasil dari pemeriksaan ini baru dapat diketahui setelah beberapa hari sehingga diperlukan metode pemeriksaan penunjang yang lebih cepat untuk membantu diagnosis serta digunakan sebagai alat skring diagnosis dan predictor kematian sepsis pada bayi baru lahir. Pemeriksaan darah lengkap dan beberapa biomarker lainnya merupakan pemeriksaan sederhana yang umumnya tersedia di hampir semua fasilitas perawatan kesehatan, sehingga diagnosis sepsis neonatorum dapat segera ditegakkan dan tatalaksana dapat segera diberikan. Neonatal sepsis is a highly complex disease in which clinical abnormalities of systemic disease are caused by bacteremia in infants aged 28 days or less. The diagnosis of neonatal sepsis is still difficult to establish and we need laboratory tests or biomarkers for rapid and accurate diagnosis of neonatal sepsis. The gold standard in laboratory testing to detect and identify the bacteria that cause sepsis is blood culture, however the results of this examination can only be known after a few days, so a faster supporting examination method is needed to assist diagnosis and be used as a diagnosis screening tool and predictor of sepsis mortality in newborns. Complete blood tests and several other biomarkers are simple tests that are generally available in almost all health care facilities, so that the diagnosis of neonatal sepsis can be established immediately and management can be given immediately.