Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN SOCIAL COMPARISON DENGAN SELF ESTEEM DEWASA AWAL DI KOTA KUPANG YANG MENGAKSES MEDIA SOSIAL Intan Verutika Priscilla Baun; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
Psikodidaktika Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Psikodidaktika
Publisher : Guidance and counseling the university of Prof. Dr. Hazairin. SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/psikodidaktika.v8i1.3545

Abstract

Penggunaan media sosial pada dewasa awal memungkinkan mereka untuk dapat melakukan social comparison dengan melihat profil yang diidealkan seperti gambar, ataupun pembaruan status orang lain. Ketika perbandingan sosial dilakukan secara negatif maka dapat berpengaruh terhadap penurunan self esteem. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison dengan self esteem dewasa awal yang mengakses media sosial di Kota Kupang. Metode yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Penelitian ini menggunakan teknik insidental sampling. Partisipan penelitian adalah 208 dewasa awal berusia 18-25 tahun pengguna media sosial di Kota Kupang. Alat ukur yang digunakan yaitu Iowa-Netherlands Comparison Orientation Scale (INCOM) dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang diterjemahkan oleh Maroqi (2018). Hasil uji korelasi pearson Product Momen diperoleh nilai r = -0,332 dan P = 0,000 (p<0,05) yang menunjukan adanya hubungan negatif signifikan antara social comparison dengan self esteem, hal ini berarti semakin tinggi social comparison maka akan semakin rendah self esteem yang dimiliki. Maka dari itu dewasa awal diharapkan untuk memakai media sosial secara bijak, tidak cenderung membandingkan diri secara negatif melainkan bisa tetap memandang diri secara positif.
Hubungan Self-compassion dengan Resiliensi pada Remaja dengan Orang Tua Bercerai Laalah, Eunike Euangeline Trifena; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v14i2.8838

Abstract

Divorce or termination of the relationship between husband and wife is one of the conflicts that can occur in the family and impact children. Adolescents with divorced parents can experience various problems, such as loneliness and anxiety, so self-compassion and resilience are needed to be able to rise. This study aims to see the relationship between self-compassion and resilience in late adolescents with divorced parents. This research method is quantitative, using Spearman's rho test design with linearity. The participants of this study were 200 late adolescents with divorced parents, and the sampling technique used was snowball sampling. The research scale used is the Self Compassion Scale (SCS) and the Resilience Scale (RS). This study found that there was a significant positive relationship between self-compassion and resilience in late adolescents with divorced parents (r = 0.250 with a sig. value of 0.000). Thus, the results obtained show that self-compassion has a relationship with resilience. Therefore, it is hoped that late adolescents with divorced people can have an increase in self-compassion and resilience within themselves.
Regulasi Diri dan Pembelian Impulsif Remaja Akhir Penggemar K-Pop dalam Membeli Merchandise K-Pop Padji, Erly Marcella; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 13, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v13i3.7637

Abstract

Impulse buying is irrational buying behavior because it is less able to make careful consideration before buying, which is supported by a strong desire from within without thinking about its use. Impulse buying is influenced by several factors, one of which is selfregulation. The purpose of this study was to determine the relationship between selfregulation and the impulsive buying of young K-pop fans in purchasing K-pop merchandise. The participants in this study were 204 young K-pop fans aged 18-21 years. The sampling technique used is incidental sampling technique. The scales used in this study are the SelfRegulation Questionnaire (SRQ) and Impulsive Buying Tendency (IBT scale), and the questionnaires are distributed online. The results of research using the Pearson Product Moment Technique showed that there was a weak correlation with a negative relationship between self-regulation and impulsive buying, with a value of r = -0.352 with a significance value of 0.000 (p <0.05), which means that the more individuals have higher self-regulation higher, the lower the impulse buying, or vice versa. So it can be concluded that to have low impulsive buying behavior, young K-pop fans need to have high self-regulation.
The Indonesian Adaptation of Developmental Crisis Questionnaire-12 (DCQ-12) Nindya Putri Aprodita; Afinnisa Rasyida; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
Journal of Educational, Health and Community Psychology VOL 13 NO 3 SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.v13i3.28414

Abstract

The developmental crisis in early adulthood, often referred to as the Quarter-Life Crisis, has garnered significant attention in recent years. Although widely discussed in mass media and popular writings, there is a lack of a well-established psychological scale to measure this crisis in Indonesia. This study aims to examine the psychometric properties of the Indonesian adaptation of the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) developed by Petrov et al. (2022) for assessing early adulthood developmental crises. The DCQ-12 instrument consists of twelve statements divided into three factors: Disconnection and Distress, Lack of Clarity and Control, and Transition and Turning Point. Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) are used in the test. This research involves 300 Indonesian early adult participants (mean age = 31.81 years, SD = 6.72, 90% female) for EFA testing and 248 participants (mean age = 25.2 years, SD = 5.32, 78.2% female) for CFA testing. The results indicate that the three-factor structure of the ten items of the Indonesian version of the DCQ has psychometric properties classified as "acceptable fit," making it suitable for research on developmental crises in early adult individuals. Future research should explore the psychometric properties of this instrument in other population groups, such as middle-aged and older adults, and consider implications for interventions or support programs
Hubungan Antara Harga Diri (Self Esteem) Dengan Perilaku Agresif Pada Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ika Oktafia; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri (self esteem) dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan data menggunakan 2 skala yaitu skala The Aggression Questionnaire untuk mengukur perilaku agresif dan skala Self Competence Self Liking (SCSL) yang diadaptasi dari aspek harga diri. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 79 siswa laki-laki dan 120 siswa perempuan SMK “X” di Salatiga. Teknik analisis data menggunakan metode korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil analisis korelasi pada penelitian ini sebesar (r) -0,539 dan nilai p sebesar 0,000. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan negatif antara harga diri dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Semakin tinggi harga diri, maka semakin rendah perilaku agresif. Sebaliknya, semakin rendah harga diri semakin tinggi perilaku agresif yang dilakukan. Kesimpulannya bahwa harga diri sangat berdampak pada perilaku agresif remaja. Kata kunci: perilaku agresif, harga diri, remaja
PENINGKATAN ORIENTASI MASA DEPAN REMAJA SMA DENGAN PELATIHAN “AKU DAN MASA DEPAN” Rahayu, Maria Nugraheni Mardi; Novita , Maria Prima
Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jms.v4i22023p139-148

Abstract

Masa remaja merupakan masa di mana seseorang akan dihadapkan pada berbagai pengambilan keputusan penting dalam hidup, salah satunya adalah keputusan tentang pendidikan dan karir. Untuk membantu remaja membentuk orientasi masa depan yang lebih jelas dan terarah, dirancanglah modul pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan orientasi masa depan dalam bidang pendidikan dan karir. Pelatihan ini diselenggarakan melalui kerjasama antara Fakultas Psikologi UKSW dengan GKJ Klampok Banjarnegara dan melibatkan 22 orang remaja SMA. Modul pelatihan dikembangkan dengan menggunakan ADDIE Model. Metode pelatihan yang digunakan antara lain adalah ceramah interaktif, psikotes sederhana, diskusi kelompok, dan tugas menulis. Pengukuran tingkat orientasi masa depan menggunakan skala Orientasi Masa Depan remaja di awal pelatihan (pre-test) dan di akhir pelatihan (post-test). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pelatihan ini dapat meningkatkan orientasi masa depan yang dimiliki oleh peserta, khususnya pada aspek kognitif dan perilaku. Hasil evaluasi reaksi peserta menunjukkan bahwa peserta menilai kegiatan pelatihan ini memiliki materi yang sesuai dengan kebutuhan, disampaikan dengan jelas, dan menggunakan metode yang menarik. Selanjutnya, pengembangan modul diperlukan untuk dapat meningkatkan aspek motivasi dan dapat melibatkan orangtua sehingga orangtua dan anak dapat memiliki pandangan yang selaras tentang masa depan anak.
Adapting and Testing the Indonesian Version of the Psychometric Properties of the Cognitive Flexibility Inventory (CFI) Measuring Tool Rahayu, Maria Nugraheni Mardi; Aprodita, Nindya Putri; Rasyida, Afinnisa
Indigenous Vol 7, No 3 (2022): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v7i3.18851

Abstract

Abstract. Cognitive flexibility is an important mental ability to facilitate cognitive restructured learning. This ability can be used as a benchmark for an individual's adaptive function in dealing with life changes. This study aims to examine the psychometric properties of the Cognitive Flexibility Inventory (CFI) developed by Dennis and Vander Wal (2010), which was adapted into Indonesian language. The CFI measuring instrument consists of 20 items with 2 factors, namely the Alternatives and Control factors. Tests were carried out using Exploratory Factor Analysis and Confirmatory Factor Analysis. This study involved 1250 early adult individuals in Indonesia (mean age=24.71 years) who were divided into two groups of samples randomly for exploratory analysis (n=300) and confirmatory analysis (n=950). The results of the analysis show that the two-factors structure of the 15 CFI items in the Indonesian version has psychometric properties that are acceptable fit. These results shows that the Indonesian version of CFI can be used for research or assessment tool for various cognitive therapies. For future research it is recommended to conduct a concurrent validity testing for the Indonesian version of CFI.Keywords: cognitive flexibility inventory Indonesian version; confirmatory factor analysis; exploratory factor analysis.
Hubungan antara Celebrity Worship dengan Body Image pada Penggemar Blackpink Tumanan, Gabriela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 13, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v13i4.8253

Abstract

This study aims to identify the correlation between celebrity worship of the idol group Blackpink and the body image of Blackpink fans (Blink). Celebrity worship is a phenomenon that happens because of human interaction with social media, and body image is a self-image that a person owns. There were 216 subjects in this study with an age range of 15-24 years. The sampling technique used was purposive sampling. This study collected data using the Celebrity Attitude Scale (CAS) and The Multidimensional Body-Self Relation Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS). Data analysis used the Spearman correlation test. The results of the data analysis showed that the social entertainment dimension of celebrity worship showed a significant positive relationship with body image (r = 0.217, p <0.05). Then, the dimension of intense personal feeling from celebrity worship also shows a significant positive relationship with body image (r = 0.243, p <0.05). The last dimension, borderline pathological celebrity worship, also shows a significant positive relationship with body image (r = 0.260, p <0.05). It can be concluded that celebrity worship has a relationship with body image.
Empati terhadap Hewan: Studi Kuantitatif Para Pelaku Volunteer Kesejahteraan Hewan di Indonesia Prasetyani, Renaningtyas Putri; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Journal of Psychological Science and Profession Vol 8, No 3 (2024): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v3i8.57935

Abstract

Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kondisi kesejahteraan hewan makin meningkat. Peningkatan kesadaran ini mendorong masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas menyejahterakan hewan secara sukarela. Akan tetapi, Indonesia dinobatkan sebagai negara peringkat pertama konten penyiksaan hewan di media sosial. Dua kondisi yang berlawanan ini terjadi karena peranan empati terhadap hewan yang lebih tinggi pada kelompok volunteer kesejahteraan hewan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara sikap terhadap hewan dengan empati terhadap hewan pada kelompok volunteer kesejahteraan hewan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif korelasional untuk melihat hubungan antara kedua variabel. Variabel sikap terhadap hewan diukur menggunakan Animal Attitude Scale (AAS), sedangkan empati terhadap hewan diukur menggunakan Animal Empathy Scale (AES). Sebanyak 266 partisipan (93.6% perempuan dan 6.4% laki-laki) merupakan kelompok volunteer kesejahteraan hewan yang diambil dengan teknik non-probability sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap terhadap hewan dengan empati terhadap hewan pada kelompok volunteer kesejahteraan hewan. Sikap terhadap hewan merupakan penilaian seseorang terhadap hewan yang terbentuk melalui pengalaman maupun informasi tentang hewan, baik secara positif maupun negatif. Hasil temuan ini diharapkan mampu memberi gambaran sikap yang positif terhadap hewan untuk meningkatkan empati terhadap hewan dan mengurangi adanya perilaku kekerasan terhadap hewan.
Hubungan Pet Attachment Dengan Loneliness Pada Mahasiswa Pemilik Hewan Peliharaan Yang Tinggal Di Kost Rahma, Tarisa Habiba; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 2 (2024): J-P3K AGUSTUS
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i2.316

Abstract

Di Indonesia, mahasiswa perantau sudah lazim ditemui. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa banyak mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar daerah tempat tinggalnya, dan tinggal terpisah dari orang tua, keluarga, dan teman – temannya di kampung halaman. Berada jauh dari orang yang disayangi dan cintai dapat menyebabkan perasaan loneliness. Loneliness adalah respon emosional dan kognitif yang disebabkan oleh kurangnya hubungan yang memadai dan memuaskan dengan individu lain. Memiliki hewan peliharaan dan terjalinnya pet attachment pada hewan peliharaan merupakan salah satu cara untuk mengurangi loneliness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pet attachment dengan loneliness pada mahasiswa pemilik hewan peliharaan yang tinggal di kost. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 220 partisipan terlibat dalam penelitian ini menggunakan teknik incidental sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan Lexington Attachment to Pet Scale (LAPS) dan skala 6-Item Cross Cultural Social Isolation Scale. Hasil analisis koefisien korelasi untuk variabel pet attachment dengan loneliness = 0,332 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p0,05). Hasil analisis data menunjukkan terdapat hubungan yang positif signifikan antara pet attachment dengan loneliness pada mahasiswa pemilik hewan peliharaan yang tinggal di kost.