Claim Missing Document
Check
Articles

Surviving and Thriving: The Role of Social Support in Mitigating Culture Shock Among East Nusa Tenggara Students in Salatiga Situmeang, Louis Van Gall; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 1 (2025): Volume 13, Issue 1, Maret 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i1.17744

Abstract

This study aims to examine the relationship between social support and culture shock among sojourner students from East Nusa Tenggara (NTT) studying at Satya Wacana Christian University, Salatiga. The research is motivated by the phenomenon of many students from NTT migrating to Java Island to obtain quality education but often facing cultural adaptation challenges. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The variables examined were social support based on Zimet et al.'s (1988) concept, which includes aspects of family support, friends, and significant others, and culture shock based on Taft's (1977) concept, which encompasses aspects of tension, feelings of loss, rejection of new cultures, role confusion, surprise and anxiety, feelings of helplessness, and interpersonal stress. The research sample consisted of 80 students from NTT, selected through accidental sampling technique. Data collection utilized questionnaires with Likert scales. Data analysis was performed using Pearson product-moment correlation through SPSS. The results showed no significant relationship between social support and culture shock, with a correlation coefficient of r= -0.010 and significance value of 0.467 (p>0.05). 65% of respondents had moderate levels of social support, 21.3% low levels, and 13.8% high levels. As for culture shock, 61.3% of respondents were in the moderate category, 13.8% in the low category, and 25% in the high category. These findings indicate that while social support is important for emotional comfort, the intensity of culture shock experienced by students is more influenced by the complexity of differences in values, language, and cultural norms. Sojourner students who first arrive in Java typically face culture shock due to significant differences in lifestyle, language, social norms, habits, and cultural values that require time to adapt to.
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Loneliness Pada Warga Binaan Pemasyarakatan Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Semarang Tasti, Dellana Panggar; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL SOCIAL LIBRARY Vol 4, No 2 (2024): JURNAL SOCIAL LIBRARY JULY
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/sl.v4i2.225

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan atau yang disebut LAPAS adalah tempat melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang diatur Dalam pasal 1 angka 3 UU Nomor 12 Tahun 1995. Warga Binaan pemasyarakatan/WBP adalah individu yang sedang menjalani masa hukuman dikarenakan tindak pidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan loneliness pada WBP di Lapas Perempuan Klas-II A Semarang. Sebanyak 35 orang Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi partisipan dengan pengambilan sampel menggunakan metode Sampling Insidental. Pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial dan skala loneliness UCLA Loneliness versi 3. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan Pearson Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya nilai korelasi (r) sebesar -0,420 dan signifikansi sebesar 0,012 (p 0,05) terdapat hubungan signifikan negatif antara dukungan sosial dan loneliness artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima warga binaan pemasyarakatan, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memiliki skor dukungan sosial yang tergolong tinggi dan skor tingkat kesepian yang tergolong sedang. Untuk itu, pihak keluarga dapat mempertahankan dan meningkatkan dukungan sosial yang diberikan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan agar kesepian yang dirasakan dapat berkurang.
Hubungan Antara Harga Diri (Self Esteem) Dengan Perilaku Agresif Pada Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Oktafia, Ika; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri (self esteem) dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan data menggunakan 2 skala yaitu skala The Aggression Questionnaire untuk mengukur perilaku agresif dan skala Self Competence Self Liking (SCSL) yang diadaptasi dari aspek harga diri. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 79 siswa laki-laki dan 120 siswa perempuan SMK “X” di Salatiga. Teknik analisis data menggunakan metode korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil analisis korelasi pada penelitian ini sebesar (r) -0,539 dan nilai p sebesar 0,000. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan negatif antara harga diri dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Semakin tinggi harga diri, maka semakin rendah perilaku agresif. Sebaliknya, semakin rendah harga diri semakin tinggi perilaku agresif yang dilakukan. Kesimpulannya bahwa harga diri sangat berdampak pada perilaku agresif remaja. Kata kunci: perilaku agresif, harga diri, remaja
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Nesya Natasya; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7089

Abstract

Dukungan sosial memegang peranan penting dalam meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa, terutama bagi mereka yang merantau. Penelitian bertujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial dan penyesuaian diri mahasiswa dalam berbagai aspek, seperti akademik, sosial, personal-emosional, dan kelekatan dengan institusi di kalangan mahasiswa rantau yang tinggal di asrama. Sebanyak 166 mahasiswa menjadi responden dalam penelitian ini, yang menggunakan teknik snowball sampling. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan pengukuran melalui kuesioner Student Adaptation to College Questionnaire dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial dan penyesuaian akademik (r = 0,211, p = 0,003) serta penyesuaian sosial (r = 0,455, p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian personal-emosional (r = -0,036, p = 0,321) dan kelekatan dengan institusi (r = 0,166, p = 0,068). Dukungan sosial yang baik membantu mahasiswa meraih keberhasilan dalam menghadapi tantangan di perantauan. Kata kunci: dukungan sosial, penyesuaian akademik, penyesuaian sosial, penyesuaian personal emosional, kelekatan dengan instansi
Hubungan Body Image Dengan Self-Esteem Pada Ibu Yang Bergabung Dalam Komunitas Beauty Influencer Mulyanto, Angeline Meisya; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7142

Abstract

Saat ini banyak ibu yang menjadikan beauty influencer sebagai pekerjaan tetap maupun hanya sebagai pekerjaan sampingan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara body image dengan self-esteem pada ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner dan diisi oleh 225 ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer. Alat ukur yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scales (MBSRQ-AS) untuk mengukur body image dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur self-esteem. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif antara body image dengan self-esteem (r) = 0,306 dengan signifikansi 0.000 (p < 0,05). Artinya semakin positif body image yang dimiliki maka akan semakin tinggi self-esteem seorang ibu. Penelitian ini menunjukkan bahwa para ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer akan memiliki peningkatan kesadaran diri terkait penampilan diri. Hal ini mendorong mereka untuk lebih peduli dengan kesehatan dan perawatan diri. Kata kunci: body image, self-esteem, ibu, beauty influencer
Attitudes Toward Death in Emerging Adulthood After the Emerging Infectious Disease COVID-19 Dewi, Erviana Laksito; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 1 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i1.23294

Abstract

Following the outbreak of the emerging infectious disease COVID-19, there has been a shift in young adults' perspectives on death. This study aims to provide an overview of differences in attitudes toward death based on gender, religious perception, and experiences during the pandemic (as survivors, loss of loved ones, both, or neither). The method used was quantitative descriptive with the Death Attitude Profile—Revised (DAP-R) instrument and involved 225 participants through accidental sampling. The results show that the majority of Indonesian young adults have a high neutral acceptance (85.8%) and approach acceptance (64.9%) attitude, but some also show fear of death (40%) and death avoidance (41.8%). Women tend to have a higher fear of death and death avoidance attitude than men, while other attitudes are relatively balanced. Based on perceptions of religiosity, the religious group showed higher scores on neutral acceptance (87.1%) and approach acceptance (70.3%), although not always lower in fear or avoidance of death than the non-religious group. Meanwhile, based on pandemic experiences, all groups showed a predominance of fear of death, but individuals who were grieving and experienced both (“being a survivor and experiencing loss”) showed higher acceptance scores than other groups These findings enrich our understanding of the dynamics of attitudes toward death among young Indonesian adults post-crisis as reviewed by gender, religious perception, and experiences during the pandemic.Setelah merebaknya emerging infeksius disease COVID-19 terjadi pergeseran dalam cara pandang individu emerging adulthood terhadap kematian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran perbedaan sikap terhadap kematian berdasarkan jenis kelamin, persepsi religiusitas, dan pengalaman selama pandemi (sebagai penyintas, kehilangan orang terdekat, keduanya, atau tidak mengalami keduanya). Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan instrumen Death Attitude Profile—Revised (DAP-R) dan melibatkan 225 partisipan melalui accidental sampling. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas dewasa muda Indonesia memiliki sikap neutral acceptance (85,8%) dan approach acceptance (64,9%) yang tinggi, namun sebagian juga menunjukkan fear of death (40%) dan death avoidance (41,8%). Perempuan cenderung memiliki rasa takut terhadap kematian dan sikap menghindari kematian yang lebih tinggi daripada laki-laki, sementara sikap lainnya relatif seimbang. Berdasarkan persepsi religiusitas, kelompok religius menunjukkan skor lebih tinggi pada neutral acceptance (87,1%) dan approach acceptance (70,3%), meskipun tidak selalu lebih rendah dalam ketakutan atau penghindaran terhadap kematian dibanding kelompok non-religius. Sementara itu, berdasarkan pengalaman pandemi semua kelompok menunjukan dominasi fear of death, tetapi individu yang berduka,  dan mengalami keduanya  (menjadi penyintas dan mengalami kehilangan) menunjukkan skor acceptance lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Temuan ini memperkaya pemahaman dinamika sikap terhadap kematian pada dewasa muda Indonesia pasca-kriris yang ditinjau oleh jenis kelamin, persepsi agama, dan pengalaman selama pandemi.
Intolerance of Uncertainty and Psychological Distress Experienced by the First Batch of Students in the Newly Established Study Program Novita, Putri; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 1 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i1.9503

Abstract

Students experience symptoms of psychological distress such as difficulty sleeping, irregular eating patterns, irritability, difficulty concentrating, and feeling uneasy. The purpose of this study was to determine the relationship between intolerance of uncertainty and psychological distress in college students. The research method used was quantitative with correlational analysis, with a total of 35 participants who were first batch students of the Counseling Guidance study program at an Institute in city X. Data was collected using the DASS 42 scale with a Cronbach alpha value of 0.9483 and an intolerance scale uncertainty with a cronbach alpha value of 0.833. Based on the Pearson product moment correlation test, it is known that the value of r = 0.515 with a Sig value = 0.001 (p <0.05) means that there is a significant relationship between intolerance uncertainty and psychological distress. The higher the intolerance uncertainty, the higher the psychological distress felt by students. This research is useful for students so they don't have to worry too much about an uncertain future so they can avoid symptoms of psychological distress that can interfere with individual life.Mahasiswa mengalami gejala-gejala psychological distress seperti kesulitan tidur, pola makan tidak teratur, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak tenang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intolerance of uncertainty dengan psychological distress pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan analisis korelasional, dengan jumlah 35 orang partisipan yang merupakan mahasiswa angkatan pertama program studi Bimbingan Konseling pada sebuah Institut di kota X. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala DASS 42 dengan nilai alpha cronbach sebesar 0,9483 dan skala intolerance uncertainty dengan nilai alpha cronbach sebesar 0,833. Berdasarkan uji korelasi product moment pearson diketahui nilai r = 0,515 dengan nilai Sig = 0,001 (p < 0,05) maka artinya ada hubungan yang signifikan antara intolerance uncertainty dengan psychological distress. Semakin tinggi intolerance uncertainty maka akan semakin tinggi juga psychological distress yang dirasakan mahasiswa. Penelitian ini berguna bagi mahasiswa agar tidak perlu khawatir secara berlebihan mengenai masa depan yang tidak pasti sehingga dapat terhindar dari gejala-gejala psychological distress yang bisa mengganggu kehidupan individu.
Apakah Terdapat Kaitan Antara Self Compassion dan Life Satisfaction Pada Remaja Panti Asuhan? Aulia, Cika Nurul; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9243

Abstract

The problems that arise in orphanage adolescents are the lack of fulfillment of the need for security, complete love that should be obtained from parents and mass care carried out in orphanages. Less than optimal fulfillment of physiological needs, the sense of security and affection they get will affect the life satisfaction of adolescents living in orphanages. This study was conducted to determine the relationship between self-compassion and life satisfaction in orphanage adolescents. The method used in this study is a quantitative method with saturated sampling technique. The subjects in this study were middle teens in three orphanages in Temanggung with a sample of 35 teenagers. The measuring tool for the self-compassion variable is the Self Compassion Scale-Short Form (SCS-SF) which is translated by Lestari (2020) which consists of 12 items. The data analysis technique in this study was the assumption test and correlation test which was carried out with SPSS version 21 software. This study showed a significant relationship sig (2-tailed = 0.00) with a positive direction of relationship with a correlation coefficient of 0.698 between self-compassion and life satisfaction in orphanage youth, this means that the higher the compassion, the higher the life satisfaction of the orphanage youth.Problematika yang muncul pada remaja panti asuhan adalah kurang terpenuhinya kebutuhan rasa aman, kasih sayang utuh yang seharusnya didapatkan dari orang tua dan digantikan dengan pengasuhan massal yang dilakukan di panti asuhan. Kurang optimalnya pemenuhan kebutuhan fisiologis, rasa aman dan kasih sayang yang mereka dapatkan akan berpengaruh terhadap kepuasan hidup remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan life satisfaction pada remaja panti asuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik sampling jenuh. Subjek dalam penelitian adalah remaja tengah di tiga panti asuhan di Temanggung dengan jumlah sample 35 remaja. Alat ukur untuk variabel self-compassion adalah Self Compassion Scale-Short Form (SCS-SF) yang diterjemahkan oleh lestari (2020) yang terdiri dari 12 item. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah uji asumsi dan uji korelasi yang dilakukan dengan software SPSS versi 21. Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan signifikan sig (2-tailed =0,00) dengan arah hubungan yang positif dengan koefisien korelasi 0,698 antara self-compassion dan life satisfaction pada remaja panti asuhan , hal ini berarti semakin tinggi self-compassion maka semakin tinggi pula life satisfaction pada remaja panti asuhan.
Self Esteem dan Citra Tubuh Pada Wanita Dewasa Pasca Melahirkan Kumalasari, Ajeng Yunita; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 4 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i4.9099

Abstract

Postpartum is a period of childbirth, this causes women to experience physical changes after giving birth. Changes in body image can result in positive or negative attitudes. The development of body image is influenced by several factors, one of which is the personality factor where self-esteem is important in the development of body image. This study aimed to determine the relationship between self-esteem and body image in women after childbirth. 110 postpartum women in Salatiga are selected by accidental sampling technique. The measuring instrument in measuring self-esteem uses the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) developed by Rosenberg and adapted by Azwar (2012) consists of 10 items, while the body image scale used is the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale. (MBSRQ-AS) adapted by Adiningsih (2016) this scale is a modification of the Cash scale which of 15 items. The results showed that there was a positive relationship between self-esteem and body image in postpartum adult women in Salatiga City with a value of r = 0.420, a significance value of 0.000, where the value is <0.05, which means the higher the level of self-esteem, the more positive the body image, or vice versa. So it can be concluded that to have a positive body image, postpartum adult women need to have high self-esteem.Postpartum merupakan periode setelah melahirkan, hal ini menyebabkan wanita mengalami perubahan fisik setelah melahirkan. Adanya perubahan citra tubuh dapat menghasilkan sikap yang positif maupun negatif. Perkembangan citra tubuh dipengaruhi oleh berberapa faktor, salah satunya faktor kepribadian dimana self-esteem merupakan hal yang penting pada perkembangan citra tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dengan citra tubuh pada wanita dewasa pasca melahirkan. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik insidental sampling sebanyak 110 subjek. Alat ukur dalam mengukur self-esteem menggunakan skala Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang dikembangkan oleh Rosenberg dan diadaptasi oleh Azwar (2012) terdiri dari 10 item, sedangkan skala citra tubuh yang digunakan adalah skala Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS) diadaptasi oleh Adiningsih (2016) skala ini merupakan modifikasi dari skala Cash terdiri dari 15 item. Hasil penelitian menunjukan bahwa teradapat hubungan positif antara self esteem dengan citra tubuh pada wanita dewasa pasca melahirkan di Kota Salatiga dengan nilai r= 0,420 nilai signifikansi sebesar 0, 000 dimana nilai tersebut < 0,05, yang berarti semakin semakin tinggi tingkat harga diri yang dimiliki maka semakin positif citra tubuh, atau sebaliknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk memiliki citra tubuh yang positif maka wanita dewasa pasca melahirkan perlu memiliki self esteem yang tinggi.
Peer Attachment dan Penyesuaian Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi di masa Pandemi Covid-19 Javier, Reavisy; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 3 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i3.8356

Abstract

Beginning of college new students requires to be able to adjust well. One of factors that can effect the self adjustment to new students is peer attachment. The purpose of this study was determine the relationship between peer attachment and adjustment of new student from SWCU Faculty of Psychology during the pandemic. Subjects who used in this research where new students batch 2021 from SWCU Faculty of Psychology with a total of 161 students, which were determined using the quota sampling technique. This research is used quantitative method, scale who used to measure the peer attachment variable is Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) by Armsden & Greenberg (1987) and the scale for measure new student adjustment is the Inventory of New College Student Adjustment (INCA) developed by Watson and Lenz (2018). The results showed that there was a significant positive relationship between peer attachment and the adjustment of new SWCU Psychology Faculty students during the pandemic with a value of r = 0.532 with a significance of 0.000 (p < 0.05). So it can be concluded that to improve the adjustment of new students, they also need to build quality peer attachment. Masa awal perkuliahan mahasiswa baru dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian mahasiswa baru adalah peer attachment. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara peer attachment dengan penyesuaian mahasiswa baru Fakultas Psikologi UKSW di masa pandemi. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru angkatan 2021 Fakultas Psikologi UKSW dengan jumlah 161 mahasiswa, yang ditentukan dengan teknik quota sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan menggunakan skala adaptasi dari Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) milik Armsden & Greenberg (1987) untuk mengukur variabel peer attachment dan skala untuk mengukur penyesuaian mahasiswa baru menggunakan Inventory of New College Student Adjustment (INCA) yang dikembangkan oleh Watson dan Lenz (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif signifikan antara peer attachment dengan penyesuaian mahasiswa baru Fakultas Psikologi UKSW di masa pandemi dengan nilai r = 0,532 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan penyesuaian mahasiswa baru, mereka juga perlu membangun peer attachment yang berkualitas.