Claim Missing Document
Check
Articles

Kesepian dan Pet Attachment: Menguraikan Keterkaitannya pada Kehidupan Wanita Lajang di Usia Dewasa Awal yang Memelihara Hewan Pasaribu, Debbie Tiara; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i3.12385

Abstract

Wanita lajang di usia dewasa awal cenderung mengalami kesepian karena gagal dalam memenuhi kebutuhan hubungan sosial yang bermakna dengan keluarga, teman, pasangan, bahkan hewan peliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pet attachment dan kesepian pada wanita lajang di usia dewasa awal yang memelihara hewan. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 233 wanita dengan karakteristik rentang usia 18-40 tahun, tidak sedang dalam hubungan romantis (lajang), dan memelihara hewan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional menggunakan instrumen skala UCLA Loneliness Scale Version 6 (ULS-6) dan The Lexington Attachment To Pets Scale (LAPS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara pet attachment dan kesepian pada wanita lajang di usia dewasa awal yang memelihara hewan yang berarti semakin tinggi tingkat pet attachment maka semakin tinggi juga tingkat kesepian, begitu pula sebaliknya (r = 0,170 dan sig. = 0,010). Dengan demikian, wanita lajang di usia dewasa awal perlu menyeimbangkan hubungan afiliasi antara manusia dengan hewan peliharaan. 
Staying Optimistic in the Middle of Academic Challenges: A Correlational Study of Optimism with Academic Resilience in Bidikmisi/KIP Students Tri, Abayomi Maleakhi; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i1.12863

Abstract

Academic resilience is an individual's ability to increase academic success by being diligent, constantly reflecting, seeking appropriate help and having positive feelings in the midst of difficulties that occur. One of the factors that influences academic resilience is academic optimism, individuals must have clear goals and positive expectations for them when individuals want to have academic resilience. As a Bidikmisi/KIP College student, there are many challenges and demands that must be met to maintain a Bidikmisi/KIP scholarship until graduation. In all existing demands, a resilient attitude is needed so that students are strong in facing the demands of scholarships. One of the factors that influences academic resilience is optimism. The aim of this research is to determine the relationship between optimism and academic resilience of Bidikmisi/KIP students studying at Satya Wacana Christian University. The research method used is quantitative with a correlational design. The sample was obtained using an incidental sampling technique of 105 Bidikmisi/KIP Kuliah students. The research instrument used the Academic Resilience Scale (ARS-30) (α = 0.7) and Life Orientation Test-Revised (LOT-R) (α = 0.76). The analysis technique was carried out using Spearman rank correlation and obtained a correlation coefficient of 0.468. The results of the research show that there is a significant positive relationship between optimism and academic resilience in Bidikmisi/KIP students at Satya Wacana Christian University. Bidikmisi/KIP Kuliah students who have clear goals and strong confidence in their abilities are resilient in facing all existing demands and difficulties so that they are able to achieve academic success.Resiliensi akademik merupakan kemampuan individu untuk meningkatkan keberhasilan akademik dengan cara tekun, senantiasa berefleksi, mencari bantuan yang sesuai dan memiliki perasaan positif di tengah kesulitan yang menerpa. Salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi akademik adalah optimisme akademik, inidividu harus memiliki tujuan yang jelas dan ekspektasi yang positf terjadi pada mereka ketika individu ingin memiliki resiliensi akademik, Sebagai mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah, banyak tantangan dan tuntutan yang wajib dipenuhi untuk mempertahankan beasiswa bidikmisi/KIP Kuliah sampai lulus. Dalam segala tuntutan yang ada, diperlukan sikap yang resilien agar mahasiswa tangguh dalam menghadapai tuntutan beasiswa. Salah satu faktor yang memengaruhi resiliensi akademik adalah optimism. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah Universitas Kristen Satya Wacana. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel diperoleh dengan teknik insidental sampling sebanyak 105 mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah. Instrumen penelitian menggunakan Academic Resilience Scale (ARS-30) (α = 0,7) dan Life Orientation Test-Revised (LOT-R) (α = 0,76). Teknik analisis dilakukan dengan korelasi rank spearman dan diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,468. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimism dengan resiliensi akademik pada mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah Universitas Kristen Satya Wacana. Mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah yang memiliki tujuan yang jelas serta keyakinan yang kuat akan kemampuan dirinya, tangguh dalam menghadapi segala tuntutan dan kesulitan yang ada sehingga mampu mencapai kesuksesan akademik.
The Key to Study Success: Self-Regulation and Academic Adjustment at Satya Wacana Christian University Tasiabe, Hilman Richard; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15118

Abstract

Early adulthood is a transition period from adolescence to adulthood. This adult period starts from the age of 18 – 25 years at which time you have entered the world of college as a student. The main task of being a student is to learn with all the obstacles one faces actively and critically. Changes in the learning environment at school with lectures result in many things that students have to adjust to, such as learning styles, friendships and social situations, as well as dealing with lecturers. This research uses quantitative correlational methods. A total of 77 students from the class of 2022 at Satya Wacana Christian University were involved in this research. The results showed that academic adjustment had a significant positive relationship with self-regulation (r=0.527, sig.=0.000). Thus, it can be concluded that the results of this research show that there is a significant relationship between self-regulation and academic adjustment of students class of 2022 at Satya Wacana University. This means that the higher the self-regulation, the higher the academic adjustment of the class of 2022 students at Satya Wacana University, and vice versa. The implications of this research are that universities and faculties can develop programs that can improve self-regulation in new students so that their academic adjustment will be better.Masa dewasa awal merupakan masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Masa dewasa ini dimulai dari usia 18 – 25 tahun yang mana usia ini sudah memasuki dunia perkuliahan sebagai mahasiswa. Tugas pokok menjadi seorang mahasiswa adalah belajar dengan segala rintangan yang dihadapinya secara aktif dan kritis. Perubahan lingkungan belajar di sekolah dengan perkuliahan mengakibatkan banyak hal yang harus disesuaikan oleh mahasiswa, seperti gaya belajar, pertemanan dan sosial, serta menghadapi dosen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Sebanyak 77 mahasiswa angkatan 2022 Universitas Kristen Satya Wacana terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian akademik memiliki hubungan positif signifikan dengan regulasi diri (r=0,527, sig.=0.000). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara regulasi diri dan penyesuaian akademik mahasiswa angkatan 2022 Universitas Satya Wacana. Hal ini berarti semakin tinggi regulasi diri, maka semakin tinggi pula penyesuaian akademik mahasiswa angkatan 2022 Universitas Satya Wacana, dan begitu pula sebaliknya. Implikasi dari penelitian ini universitas dan fakultas dapat mengembangkan program yang dapat meningkatkan regulasi diri pada mahasiswa baru sehingga penyesuaian akademik mereka akan semakin baik.
Intercultural Communication Competence and Loneliness Among Out-Of-Town Students from Central Kalimantan Ellia, Seth Kenan; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15841

Abstract

Out-of-town students from Central Kalimantan in the Special Region of Yogyakarta  and Central Java face challenges in adapting, becoming independent, and dealing with socio-economic difficulties, as well as experiencing a phenomenon of loneliness. This study explores the relationship between intercultural communication competence and their level of loneliness. The study uses a quantitative method with a correlational design and collects data through an online survey using a questionnaire that measures intercultural communication competence with the Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0.867) and level of loneliness with the UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0.925). The survey involved 235 overseas students from Central Kalimantan aged 18 to 24 years studying at various universities in DIY and Central Java, using the snowball sampling technique. Data analysis was performed using SPSS version 23 with tests for normality, linearity assumptions, and hypothesis testing with Pearson correlation. The analysis results show a significant negative relationship between intercultural communication competence and level of loneliness (r=−0.795; p=0.000), indicating that the higher the intercultural communication competence, the lower the level of loneliness felt by students. This study emphasizes the importance of developing intercultural communication competence in reducing the level of loneliness in ouf-of-town students.Mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah menghadapi tantangan dalam penyesuaian diri, mandiri, dan kesulitan sosial-ekonomi, serta terjadi fenomena kesepian sehingga penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian mereka. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan mengumpulkan data melalui survei daring menggunakan kuesioner yang mengukur kompetensi komunikasi lintas budaya dengan skala Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0,867) dan tingkat kesepian dengan skala UCLA Loneliness (Version 3) (α = 0,925), melibatkan 235 mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah yang berusia 18 sampai 24 tahun dan menempuh pendidikan di berbagai universitas di DIY dan Jawa Tengah, dengan teknik snowball sampling, analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 23 dengan uji asumsi normalitas, dan linearitas, serta uji hipotesis korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian (r=−0,795; p=0,000), menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi komunikasi lintas budaya, semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan oleh mahasiswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi komunikasi lintas budaya dalam mengurangi tingkat kesepian pada mahasiswa rantau.
Intimate Friendship and Self Disclosure on Early Adult Instagram Second Account Users Jati, Puri Puspita; Mardi Rahayu, Maria Nugraheni
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 3 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i3.11302

Abstract

The phenomenon of the second Instagram account is a place to express themselves freely about the thoughts and feelings of the second account user to his close friends. The existence of a second Instagram account allows users to self-disclose to their close friends or who have intimate friendships. The purpose of this study was to determine the relationship between intimate friendship and self-disclosure in early adult Instagram account users. This research is quantitative research with a correlation approach. The sampling technique used is incidental sampling. The sample in the study was 126 uses of Instagram's second account. The method used to retrieve data is incidental sampling technique. The analysis in this study is spearman correlation analysis. Based on the results of the spearman hypothesis test between the intimate friendship variable and self-disclosure showed a correlation coefficient value of 0.339 with a significance of 0.000 (p < 0.05) so that it can be concluded that there is a significant positive relationship between intimate friendship and self-disclosure in early adult Instagram account users. The higher the intimate friendship that the user of the second Instagram account has, the higher the self-disclosure carried out by the user of the second Instagram account in me. Therefore, the second account user self-disclosure of his own information to followers in the second account who have an intimate friendship relationship, namely friends. Based on the results of the spearman hypothesis test between the intimate friendship variable and self-disclosure, it shows that the value of the correlation coefficient is 0.339 with a significance of 0.000 (p<0.05), so it can be concluded that there is a significant positive relationship between intimate friendship and self-disclosure in early adult Instagram account users. The higher the intimate friendship owned by the user of the second Instagram account, the higher the self-disclosure carried out by the user of the second Instagram account on the account.Fenomena akun kedua Instagram merupakan wadah untuk mengekspresikan diri secara bebas mengenai pemikiran dan perasaan pengguna akun kedua kepada teman-teman dekatnya. Adanya akun kedua Instagram memungkin pengguna melakukan self disclosure kepada teman dekatnya atau yang memiliki hubungan intimate friendship. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara intimate friendship dengan self disclosure pada pengguna akun kedua Instagram dewasa awal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Teknik sampling yang digunakan yaitu incidental sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 126 penggunaan akun kedua Instagram. Metode yang digunakan untuk mengambil data yaitu teknik incidental sampling. Analisis yang dalam penelitian ini adalah analisis korelasi spearman. Berdasarkan hasil uji hipotesis spearman antara variabel intimate friendship dengan self disclosure menunjukan nilai koefisien korelasi 0.339 dengan signifikansi 0.000 (p<0.05) sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara intimate friendship dengan self disclosure pada pengguna akun kedua Instagram dewasa awal. Semakin tinggi intimate friendship yang dimiliki pengguna akun kedua Instagram maka semakin tinggi juga self disclosure yang dilakukan pengguna akun kedua Instagram di aku. Oleh karena itu, pengguna akun kedua melakukan self disclosure mengenai informasi dirinya sendiri kepada pengikut di akun kedua yang memiliki hubungan intimate friendship yaitu sahabat. Berdasarkan hasil uji hipotesis spearman antara variabel intimate friendship dengan self disclosure menunjukan bahwa nilai koefisien korelasi 0.339 dengan signifikansi 0.000 (p<0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara intimate friendship dengan self disclosure pada pengguna akun kedua Instagram dewasa awal.Semakin tinggi intimate friendship yang dimiliki pengguna akun kedua Instagram maka semakin tinggi juga self disclosure yang dilakukan pengguna akun kedua Instagram di akun.
Importance of Self-Efficacy in Overcoming Quarter-Life Crisis among Fresh Graduates Laurenza, Hana; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15278

Abstract

Individuals who have just completed their studies at the university, commonly referred to as fresh graduates, will inevitably undergo a transition period from adolescence to adulthood known as the quarter life crisis. To face this crisis, there is a need for confidence to be able to confront every problem that arises, this confidence is referred to as self-efficacy. This study aims to examine whether there is a relationship between self-efficacy and the quarter-life crisis. The research was conducted using a quantitative approach with correlation analysis. The research subjects were fresh graduates who had graduated from college 2 years and were aged 21-25 years. The sampling technique used was accidental sampling. The self-efficacy scale used the General Self-Efficacy Scale 12 (GSES-12) (α = 0.858), while the quarter-life crisis scale used was the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0.832). Data collection was done using questionnaires distributed online through social media. The results of this study indicate that self-efficacy has a significant relationship with the quarter-life crisis at 0.000 (p<0.05), with a correlation coefficient of -0.635, indicating that self-efficacy is negatively correlated with the quarter-life crisis. In other words, the higher the level of self-efficacy, the lower the level of quarter life crisis.Individu yang baru saja menyelesaikan studi di perguruan tinggi, atau sering disebut sebagai fresh graduate, tentunya akan melewati masa transisi dari remaja menuju dewasa yang dikenal dengan quarter life crisis. Untuk menghadapi krisis tersebut perlunya keyakinan agar mampu menghadapi tiap masalah yang datang, keyakinan itu disebut dengan efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara efikasi diri dengan quarter life crisis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan analisis korelasi. Subjek penelitian merupakan fresh graduate yang telah lulus kuliah terhitung 2 tahun setelah kelulusan, serta berusia 21-25 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Skala efikasi diri menggunakan General Self-Efficacy Scale 12 (GSES-12) (α = 0,858), sedangkan skala quarter life crisis yang digunakan adalah Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0,832). Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan secara online melalui media sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki hubungan yang signifikan terhadap quarter life crisis sebesar 0,000 (p<0,05), dengan koefisien korelasi sebesar -0,635 hal ini menunjukkan efikasi diri berhubungan negatif dengan quarter life crisis. Artinya semakin tinggi tingkat efikasi diri maka semakin rendah tingkat quarter life crisis.
The Self-Esteem of Dayak Ethnic Adolescents Reviewed from the Attachment Relationship of Parents Grenadi, Kezia Margaretha; Mardi Rahayu, Maria Nugraheni
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15649

Abstract

Self-esteem is an assessment of oneself in terms of positive and negative things. Self-esteem can also be influenced by attachment with parents, namely mother and father. The purpose of this study was to determine whether there is a significant relationship between parental attachment, namely mothers and fathers with late adolescents. This study uses quantitative methods with scales as the measuring instrument used. The first scale is the Armsden and Greenberg Inventory of Parent and Peer Attachment with an α value = 0.898 on maternal attachment and an α value = 0.931 on paternal attachment. The second scale is the Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) with a value of α = 0.795. The results of this study indicate that there is a significant relationship between maternal attachment and late adolescent self-esteem, namely p = 0.000 (p < 0.05) with a correlation value (r) of 0.322 and also on paternal attachment with late adolescent self-esteem, namely p = 0.000 (p < 0.05) with a correlation value (r) of 0.380. The relationship between these variables has positive results, meaning that the higher the attachment with parents, the higher the self-esteem in late adolescents. The implication of this study can be used as a reference in changing the output of parenting in parents, especially father role attachment on self-esteem of late adolescents.Harga diri merupakan penilaian pada diri sendiri terkait hal positif maupun negatif. Harga diri juga dapat dipengaruhi oleh kelekatan dengan orangtua yaitu ibu dan ayah. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kelekatan orangtua yaitu ibu dan ayah dengan remaja akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan skala sebagai alat ukur yang digunakan. Skala pertama adalah Inventory of Parent and Peer Attachment Armsden dan Greenberg dengan nilai α = 0,898 pada kelekatan ibu dan nilai α = 0,931 pada kelekatan ayah. Skala kedua adalah Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) dengan nilai α = 0,795. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kelekatan ibu dengan harga diri remaja akhir yaitu p = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,322 dan juga pada kelekatan ayah dengan harga diri remaja akhir yakni p = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,380. Hubungan antar variabel ini memiliki hasil yang positif, artinya semakin tinggi kelekatan dengan orangtua maka semakin tinggi pula harga diri pada remaja akhir. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam mengubah output dari parenting pada orang tua khususnya kelekatan peran ayah pada harga diri remaja akhir.
Surviving and Thriving: The Role of Social Support in Mitigating Culture Shock Among East Nusa Tenggara Students in Salatiga Situmeang, Louis Van Gall; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 1 (2025): Volume 13, Issue 1, Maret 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i1.17744

Abstract

This study aims to examine the relationship between social support and culture shock among sojourner students from East Nusa Tenggara (NTT) studying at Satya Wacana Christian University, Salatiga. The research is motivated by the phenomenon of many students from NTT migrating to Java Island to obtain quality education but often facing cultural adaptation challenges. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The variables examined were social support based on Zimet et al.'s (1988) concept, which includes aspects of family support, friends, and significant others, and culture shock based on Taft's (1977) concept, which encompasses aspects of tension, feelings of loss, rejection of new cultures, role confusion, surprise and anxiety, feelings of helplessness, and interpersonal stress. The research sample consisted of 80 students from NTT, selected through accidental sampling technique. Data collection utilized questionnaires with Likert scales. Data analysis was performed using Pearson product-moment correlation through SPSS. The results showed no significant relationship between social support and culture shock, with a correlation coefficient of r= -0.010 and significance value of 0.467 (p>0.05). 65% of respondents had moderate levels of social support, 21.3% low levels, and 13.8% high levels. As for culture shock, 61.3% of respondents were in the moderate category, 13.8% in the low category, and 25% in the high category. These findings indicate that while social support is important for emotional comfort, the intensity of culture shock experienced by students is more influenced by the complexity of differences in values, language, and cultural norms. Sojourner students who first arrive in Java typically face culture shock due to significant differences in lifestyle, language, social norms, habits, and cultural values that require time to adapt to.
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Loneliness Pada Warga Binaan Pemasyarakatan Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Semarang Tasti, Dellana Panggar; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL SOCIAL LIBRARY Vol 4, No 2 (2024): JURNAL SOCIAL LIBRARY JULY
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/sl.v4i2.225

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan atau yang disebut LAPAS adalah tempat melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang diatur Dalam pasal 1 angka 3 UU Nomor 12 Tahun 1995. Warga Binaan pemasyarakatan/WBP adalah individu yang sedang menjalani masa hukuman dikarenakan tindak pidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan loneliness pada WBP di Lapas Perempuan Klas-II A Semarang. Sebanyak 35 orang Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi partisipan dengan pengambilan sampel menggunakan metode Sampling Insidental. Pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial dan skala loneliness UCLA Loneliness versi 3. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan Pearson Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya nilai korelasi (r) sebesar -0,420 dan signifikansi sebesar 0,012 (p 0,05) terdapat hubungan signifikan negatif antara dukungan sosial dan loneliness artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima warga binaan pemasyarakatan, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memiliki skor dukungan sosial yang tergolong tinggi dan skor tingkat kesepian yang tergolong sedang. Untuk itu, pihak keluarga dapat mempertahankan dan meningkatkan dukungan sosial yang diberikan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan agar kesepian yang dirasakan dapat berkurang.
Hubungan Antara Harga Diri (Self Esteem) Dengan Perilaku Agresif Pada Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Oktafia, Ika; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri (self esteem) dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan data menggunakan 2 skala yaitu skala The Aggression Questionnaire untuk mengukur perilaku agresif dan skala Self Competence Self Liking (SCSL) yang diadaptasi dari aspek harga diri. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 79 siswa laki-laki dan 120 siswa perempuan SMK “X” di Salatiga. Teknik analisis data menggunakan metode korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil analisis korelasi pada penelitian ini sebesar (r) -0,539 dan nilai p sebesar 0,000. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan negatif antara harga diri dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Semakin tinggi harga diri, maka semakin rendah perilaku agresif. Sebaliknya, semakin rendah harga diri semakin tinggi perilaku agresif yang dilakukan. Kesimpulannya bahwa harga diri sangat berdampak pada perilaku agresif remaja. Kata kunci: perilaku agresif, harga diri, remaja
Co-Authors Afinnisa Rasyida Agung Setiyawan, Agung Ahat Nur Rohmah Anna Maria Aprodita, Nindya Putri Ardida, Neta Imanuela Aulia, Cika Nurul Bestin Julyan Sinaga Charan, Yobella Yiska Pravu Chaterine Beta Chandra Sheravina Dethan, Lidya Saraswati Karunia Dewi, Erviana Laksito Ellia, Seth Kenan Erika Devi Pakan Filia Dasiska Septi Arisandhi Tarigan Grenadi, Kezia Margaretha Hartono, Shelly Patricia Helen Yulia Wilfrida Henoch Setya Nugraha Hutabarat, Tabita Sammasda Ika Oktafia Ika Oktafia Intan Verutika Priscilla Baun Ivana Abigail Weldiv Setyawan Jati, Puri Puspita Javier, Reavisy Jusuf Tjahjo Purnomo Kakampu, Winston Lovevinzy Kartini Apriyuna Betty Kumalasari, Ajeng Yunita Laalah, Eunike Euangeline Trifena Laurenza, Hana LESTARI RELINDA ROMAULI RUMAPEA Litaay, Cindy Christine Maria Prima Novita Maria, Anna Mulyanto, Angeline Meisya Nesya Natasya Novita Rosa Margaretha, Made Novita, Putri Padji, Erly Marcella Pasaribu, Debbie Tiara Pinis, Eunike Margaritha Prasetyani, Renaningtyas Putri Rachel, Emanuella Rahma, Tarisa Habiba Rasyida, Afinnisa Renita Sitompul Rikumahu, Marchya Carina Exaudy Rudangta Arianti Salean, Adriani Maria Sangki, Maria Aprillia Angela Setyawan, Ivana Abigail Weldiv Sheravina, Chaterine Beta Chandra Sinaga, Bestin Julyan Situmeang, Louis Van Gall Sonny Christian Josua Sri Aryanti Kristianingsih Suprapti, Bhineska Juniar Dwi Tarigan, Filia Dasiska Septi Arisandhi Tasiabe, Hilman Richard Tasti, Dellana Panggar tifanny sischa saputri Tri, Abayomi Maleakhi Tumanan, Gabriela Vania Yus Veda Veronica Lowinsky Wijaya, Patricia Putri