Claim Missing Document
Check
Articles

Kesepian dan Pet Attachment: Menguraikan Keterkaitannya pada Kehidupan Wanita Lajang di Usia Dewasa Awal yang Memelihara Hewan Pasaribu, Debbie Tiara; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i3.12385

Abstract

Wanita lajang di usia dewasa awal cenderung mengalami kesepian karena gagal dalam memenuhi kebutuhan hubungan sosial yang bermakna dengan keluarga, teman, pasangan, bahkan hewan peliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pet attachment dan kesepian pada wanita lajang di usia dewasa awal yang memelihara hewan. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 233 wanita dengan karakteristik rentang usia 18-40 tahun, tidak sedang dalam hubungan romantis (lajang), dan memelihara hewan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional menggunakan instrumen skala UCLA Loneliness Scale Version 6 (ULS-6) dan The Lexington Attachment To Pets Scale (LAPS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara pet attachment dan kesepian pada wanita lajang di usia dewasa awal yang memelihara hewan yang berarti semakin tinggi tingkat pet attachment maka semakin tinggi juga tingkat kesepian, begitu pula sebaliknya (r = 0,170 dan sig. = 0,010). Dengan demikian, wanita lajang di usia dewasa awal perlu menyeimbangkan hubungan afiliasi antara manusia dengan hewan peliharaan. 
Staying Optimistic in the Middle of Academic Challenges: A Correlational Study of Optimism with Academic Resilience in Bidikmisi/KIP Students Tri, Abayomi Maleakhi; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Volume 12, Issue 1, Maret 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i1.12863

Abstract

Academic resilience is an individual's ability to increase academic success by being diligent, constantly reflecting, seeking appropriate help and having positive feelings in the midst of difficulties that occur. One of the factors that influences academic resilience is academic optimism, individuals must have clear goals and positive expectations for them when individuals want to have academic resilience. As a Bidikmisi/KIP College student, there are many challenges and demands that must be met to maintain a Bidikmisi/KIP scholarship until graduation. In all existing demands, a resilient attitude is needed so that students are strong in facing the demands of scholarships. One of the factors that influences academic resilience is optimism. The aim of this research is to determine the relationship between optimism and academic resilience of Bidikmisi/KIP students studying at Satya Wacana Christian University. The research method used is quantitative with a correlational design. The sample was obtained using an incidental sampling technique of 105 Bidikmisi/KIP Kuliah students. The research instrument used the Academic Resilience Scale (ARS-30) (α = 0.7) and Life Orientation Test-Revised (LOT-R) (α = 0.76). The analysis technique was carried out using Spearman rank correlation and obtained a correlation coefficient of 0.468. The results of the research show that there is a significant positive relationship between optimism and academic resilience in Bidikmisi/KIP students at Satya Wacana Christian University. Bidikmisi/KIP Kuliah students who have clear goals and strong confidence in their abilities are resilient in facing all existing demands and difficulties so that they are able to achieve academic success.Resiliensi akademik merupakan kemampuan individu untuk meningkatkan keberhasilan akademik dengan cara tekun, senantiasa berefleksi, mencari bantuan yang sesuai dan memiliki perasaan positif di tengah kesulitan yang menerpa. Salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi akademik adalah optimisme akademik, inidividu harus memiliki tujuan yang jelas dan ekspektasi yang positf terjadi pada mereka ketika individu ingin memiliki resiliensi akademik, Sebagai mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah, banyak tantangan dan tuntutan yang wajib dipenuhi untuk mempertahankan beasiswa bidikmisi/KIP Kuliah sampai lulus. Dalam segala tuntutan yang ada, diperlukan sikap yang resilien agar mahasiswa tangguh dalam menghadapai tuntutan beasiswa. Salah satu faktor yang memengaruhi resiliensi akademik adalah optimism. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah Universitas Kristen Satya Wacana. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel diperoleh dengan teknik insidental sampling sebanyak 105 mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah. Instrumen penelitian menggunakan Academic Resilience Scale (ARS-30) (α = 0,7) dan Life Orientation Test-Revised (LOT-R) (α = 0,76). Teknik analisis dilakukan dengan korelasi rank spearman dan diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,468. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimism dengan resiliensi akademik pada mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah Universitas Kristen Satya Wacana. Mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah yang memiliki tujuan yang jelas serta keyakinan yang kuat akan kemampuan dirinya, tangguh dalam menghadapi segala tuntutan dan kesulitan yang ada sehingga mampu mencapai kesuksesan akademik.
The Key to Study Success: Self-Regulation and Academic Adjustment at Satya Wacana Christian University Tasiabe, Hilman Richard; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15118

Abstract

Early adulthood is a transition period from adolescence to adulthood. This adult period starts from the age of 18 – 25 years at which time you have entered the world of college as a student. The main task of being a student is to learn with all the obstacles one faces actively and critically. Changes in the learning environment at school with lectures result in many things that students have to adjust to, such as learning styles, friendships and social situations, as well as dealing with lecturers. This research uses quantitative correlational methods. A total of 77 students from the class of 2022 at Satya Wacana Christian University were involved in this research. The results showed that academic adjustment had a significant positive relationship with self-regulation (r=0.527, sig.=0.000). Thus, it can be concluded that the results of this research show that there is a significant relationship between self-regulation and academic adjustment of students class of 2022 at Satya Wacana University. This means that the higher the self-regulation, the higher the academic adjustment of the class of 2022 students at Satya Wacana University, and vice versa. The implications of this research are that universities and faculties can develop programs that can improve self-regulation in new students so that their academic adjustment will be better.Masa dewasa awal merupakan masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Masa dewasa ini dimulai dari usia 18 – 25 tahun yang mana usia ini sudah memasuki dunia perkuliahan sebagai mahasiswa. Tugas pokok menjadi seorang mahasiswa adalah belajar dengan segala rintangan yang dihadapinya secara aktif dan kritis. Perubahan lingkungan belajar di sekolah dengan perkuliahan mengakibatkan banyak hal yang harus disesuaikan oleh mahasiswa, seperti gaya belajar, pertemanan dan sosial, serta menghadapi dosen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Sebanyak 77 mahasiswa angkatan 2022 Universitas Kristen Satya Wacana terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian akademik memiliki hubungan positif signifikan dengan regulasi diri (r=0,527, sig.=0.000). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara regulasi diri dan penyesuaian akademik mahasiswa angkatan 2022 Universitas Satya Wacana. Hal ini berarti semakin tinggi regulasi diri, maka semakin tinggi pula penyesuaian akademik mahasiswa angkatan 2022 Universitas Satya Wacana, dan begitu pula sebaliknya. Implikasi dari penelitian ini universitas dan fakultas dapat mengembangkan program yang dapat meningkatkan regulasi diri pada mahasiswa baru sehingga penyesuaian akademik mereka akan semakin baik.
Intercultural Communication Competence and Loneliness Among Out-Of-Town Students from Central Kalimantan Ellia, Seth Kenan; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15841

Abstract

Out-of-town students from Central Kalimantan in the Special Region of Yogyakarta  and Central Java face challenges in adapting, becoming independent, and dealing with socio-economic difficulties, as well as experiencing a phenomenon of loneliness. This study explores the relationship between intercultural communication competence and their level of loneliness. The study uses a quantitative method with a correlational design and collects data through an online survey using a questionnaire that measures intercultural communication competence with the Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0.867) and level of loneliness with the UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0.925). The survey involved 235 overseas students from Central Kalimantan aged 18 to 24 years studying at various universities in DIY and Central Java, using the snowball sampling technique. Data analysis was performed using SPSS version 23 with tests for normality, linearity assumptions, and hypothesis testing with Pearson correlation. The analysis results show a significant negative relationship between intercultural communication competence and level of loneliness (r=−0.795; p=0.000), indicating that the higher the intercultural communication competence, the lower the level of loneliness felt by students. This study emphasizes the importance of developing intercultural communication competence in reducing the level of loneliness in ouf-of-town students.Mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah menghadapi tantangan dalam penyesuaian diri, mandiri, dan kesulitan sosial-ekonomi, serta terjadi fenomena kesepian sehingga penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian mereka. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan mengumpulkan data melalui survei daring menggunakan kuesioner yang mengukur kompetensi komunikasi lintas budaya dengan skala Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0,867) dan tingkat kesepian dengan skala UCLA Loneliness (Version 3) (α = 0,925), melibatkan 235 mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah yang berusia 18 sampai 24 tahun dan menempuh pendidikan di berbagai universitas di DIY dan Jawa Tengah, dengan teknik snowball sampling, analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 23 dengan uji asumsi normalitas, dan linearitas, serta uji hipotesis korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian (r=−0,795; p=0,000), menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi komunikasi lintas budaya, semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan oleh mahasiswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi komunikasi lintas budaya dalam mengurangi tingkat kesepian pada mahasiswa rantau.
Importance of Self-Efficacy in Overcoming Quarter-Life Crisis among Fresh Graduates Laurenza, Hana; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15278

Abstract

Individuals who have just completed their studies at the university, commonly referred to as fresh graduates, will inevitably undergo a transition period from adolescence to adulthood known as the quarter life crisis. To face this crisis, there is a need for confidence to be able to confront every problem that arises, this confidence is referred to as self-efficacy. This study aims to examine whether there is a relationship between self-efficacy and the quarter-life crisis. The research was conducted using a quantitative approach with correlation analysis. The research subjects were fresh graduates who had graduated from college 2 years and were aged 21-25 years. The sampling technique used was accidental sampling. The self-efficacy scale used the General Self-Efficacy Scale 12 (GSES-12) (α = 0.858), while the quarter-life crisis scale used was the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0.832). Data collection was done using questionnaires distributed online through social media. The results of this study indicate that self-efficacy has a significant relationship with the quarter-life crisis at 0.000 (p<0.05), with a correlation coefficient of -0.635, indicating that self-efficacy is negatively correlated with the quarter-life crisis. In other words, the higher the level of self-efficacy, the lower the level of quarter life crisis.Individu yang baru saja menyelesaikan studi di perguruan tinggi, atau sering disebut sebagai fresh graduate, tentunya akan melewati masa transisi dari remaja menuju dewasa yang dikenal dengan quarter life crisis. Untuk menghadapi krisis tersebut perlunya keyakinan agar mampu menghadapi tiap masalah yang datang, keyakinan itu disebut dengan efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara efikasi diri dengan quarter life crisis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan analisis korelasi. Subjek penelitian merupakan fresh graduate yang telah lulus kuliah terhitung 2 tahun setelah kelulusan, serta berusia 21-25 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Skala efikasi diri menggunakan General Self-Efficacy Scale 12 (GSES-12) (α = 0,858), sedangkan skala quarter life crisis yang digunakan adalah Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0,832). Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan secara online melalui media sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki hubungan yang signifikan terhadap quarter life crisis sebesar 0,000 (p<0,05), dengan koefisien korelasi sebesar -0,635 hal ini menunjukkan efikasi diri berhubungan negatif dengan quarter life crisis. Artinya semakin tinggi tingkat efikasi diri maka semakin rendah tingkat quarter life crisis.
Surviving and Thriving: The Role of Social Support in Mitigating Culture Shock Among East Nusa Tenggara Students in Salatiga Situmeang, Louis Van Gall; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 1 (2025): Volume 13, Issue 1, Maret 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i1.17744

Abstract

This study aims to examine the relationship between social support and culture shock among sojourner students from East Nusa Tenggara (NTT) studying at Satya Wacana Christian University, Salatiga. The research is motivated by the phenomenon of many students from NTT migrating to Java Island to obtain quality education but often facing cultural adaptation challenges. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The variables examined were social support based on Zimet et al.'s (1988) concept, which includes aspects of family support, friends, and significant others, and culture shock based on Taft's (1977) concept, which encompasses aspects of tension, feelings of loss, rejection of new cultures, role confusion, surprise and anxiety, feelings of helplessness, and interpersonal stress. The research sample consisted of 80 students from NTT, selected through accidental sampling technique. Data collection utilized questionnaires with Likert scales. Data analysis was performed using Pearson product-moment correlation through SPSS. The results showed no significant relationship between social support and culture shock, with a correlation coefficient of r= -0.010 and significance value of 0.467 (p>0.05). 65% of respondents had moderate levels of social support, 21.3% low levels, and 13.8% high levels. As for culture shock, 61.3% of respondents were in the moderate category, 13.8% in the low category, and 25% in the high category. These findings indicate that while social support is important for emotional comfort, the intensity of culture shock experienced by students is more influenced by the complexity of differences in values, language, and cultural norms. Sojourner students who first arrive in Java typically face culture shock due to significant differences in lifestyle, language, social norms, habits, and cultural values that require time to adapt to.
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Loneliness Pada Warga Binaan Pemasyarakatan Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Semarang Tasti, Dellana Panggar; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL SOCIAL LIBRARY Vol 4, No 2 (2024): JURNAL SOCIAL LIBRARY JULY
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/sl.v4i2.225

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan atau yang disebut LAPAS adalah tempat melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang diatur Dalam pasal 1 angka 3 UU Nomor 12 Tahun 1995. Warga Binaan pemasyarakatan/WBP adalah individu yang sedang menjalani masa hukuman dikarenakan tindak pidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan loneliness pada WBP di Lapas Perempuan Klas-II A Semarang. Sebanyak 35 orang Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi partisipan dengan pengambilan sampel menggunakan metode Sampling Insidental. Pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial dan skala loneliness UCLA Loneliness versi 3. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan Pearson Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya nilai korelasi (r) sebesar -0,420 dan signifikansi sebesar 0,012 (p 0,05) terdapat hubungan signifikan negatif antara dukungan sosial dan loneliness artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima warga binaan pemasyarakatan, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memiliki skor dukungan sosial yang tergolong tinggi dan skor tingkat kesepian yang tergolong sedang. Untuk itu, pihak keluarga dapat mempertahankan dan meningkatkan dukungan sosial yang diberikan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan agar kesepian yang dirasakan dapat berkurang.
Hubungan Antara Harga Diri (Self Esteem) Dengan Perilaku Agresif Pada Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Oktafia, Ika; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri (self esteem) dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan data menggunakan 2 skala yaitu skala The Aggression Questionnaire untuk mengukur perilaku agresif dan skala Self Competence Self Liking (SCSL) yang diadaptasi dari aspek harga diri. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 79 siswa laki-laki dan 120 siswa perempuan SMK “X” di Salatiga. Teknik analisis data menggunakan metode korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil analisis korelasi pada penelitian ini sebesar (r) -0,539 dan nilai p sebesar 0,000. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan negatif antara harga diri dengan perilaku agresif pada siswa SMK “X” di Salatiga. Semakin tinggi harga diri, maka semakin rendah perilaku agresif. Sebaliknya, semakin rendah harga diri semakin tinggi perilaku agresif yang dilakukan. Kesimpulannya bahwa harga diri sangat berdampak pada perilaku agresif remaja. Kata kunci: perilaku agresif, harga diri, remaja
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Nesya Natasya; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7089

Abstract

Dukungan sosial memegang peranan penting dalam meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa, terutama bagi mereka yang merantau. Penelitian bertujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial dan penyesuaian diri mahasiswa dalam berbagai aspek, seperti akademik, sosial, personal-emosional, dan kelekatan dengan institusi di kalangan mahasiswa rantau yang tinggal di asrama. Sebanyak 166 mahasiswa menjadi responden dalam penelitian ini, yang menggunakan teknik snowball sampling. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan pengukuran melalui kuesioner Student Adaptation to College Questionnaire dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial dan penyesuaian akademik (r = 0,211, p = 0,003) serta penyesuaian sosial (r = 0,455, p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian personal-emosional (r = -0,036, p = 0,321) dan kelekatan dengan institusi (r = 0,166, p = 0,068). Dukungan sosial yang baik membantu mahasiswa meraih keberhasilan dalam menghadapi tantangan di perantauan. Kata kunci: dukungan sosial, penyesuaian akademik, penyesuaian sosial, penyesuaian personal emosional, kelekatan dengan instansi
Hubungan Body Image Dengan Self-Esteem Pada Ibu Yang Bergabung Dalam Komunitas Beauty Influencer Mulyanto, Angeline Meisya; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.7142

Abstract

Saat ini banyak ibu yang menjadikan beauty influencer sebagai pekerjaan tetap maupun hanya sebagai pekerjaan sampingan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara body image dengan self-esteem pada ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner dan diisi oleh 225 ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer. Alat ukur yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scales (MBSRQ-AS) untuk mengukur body image dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur self-esteem. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif antara body image dengan self-esteem (r) = 0,306 dengan signifikansi 0.000 (p < 0,05). Artinya semakin positif body image yang dimiliki maka akan semakin tinggi self-esteem seorang ibu. Penelitian ini menunjukkan bahwa para ibu yang bergabung dalam komunitas beauty influencer akan memiliki peningkatan kesadaran diri terkait penampilan diri. Hal ini mendorong mereka untuk lebih peduli dengan kesehatan dan perawatan diri. Kata kunci: body image, self-esteem, ibu, beauty influencer