Claim Missing Document
Check
Articles

Indonesian Adaptation of the Cultural Intelligence Scale (CQS) Rikumahu, Marchya Carina Exaudy; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Journal of Educational, Health and Community Psychology VOL 14 NO 1 MARCH 2025
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.vi.28955

Abstract

Indonesia is a country with diverse cultural backgrounds, so intercultural interactions often occur. This research aims to adapt the Cultural Quotient Scale developed by Ang and Van Dyne (2008) into Indonesian to support various research on cultural intelligence. The CQS measuring tool consists of 20 statement items and is divided into 4-factors, namely metacognitive, cognitive, motivational, and behavioral. Testing was carried out using the Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) methods involving 324 Satya Wacana Christian University students who were divided into 2 random sample groups (EFA, n=162 & CFA, n=162). The results of this research indicate that the 4-factor structure of the 17 items of the Indonesian version of the CQS statement has a "good fit" psychometric property model. This means that the Indonesian adaptation of CQS can be used in various related research. It is hoped that future research will be able to test the convergent validity of the adaptation of this measuring instrument.
The Relationship between Cross-Cultural Competence and Self-Adjustment in Migrant Students Erika Devi Pakan; Maria Nugraheni Mardi Rahayu
Bisma The Journal of Counseling Vol. 7 No. 2 (2023): Bisma The Journal of Counseling
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v7i2.67670

Abstract

The difficulty of adapting to a new environment means that some early adult individuals, such as students, need good relationships in learning to adapt slowly to perceived differences. Due to cultural differences, new students need competencies or abilities to adapt to the cultural differences. Therefore, this research was conducted to determine the relationship between cross-cultural competence and adjustment in migrant students from South Sulawesi. This research is included in quantitative research with a correlation design. The subjects involved in this research were 102 students who had migrated to Salatiga, and the sampling technique used was snowball sampling. The research collected data using a psychological scale as a questionnaire, which will be distributed online via Google Forms. Data analysis used Pearson and Spearman correlation tests. The results of data analysis show that cross-cultural competence shows a significant positive relationship with the academic adjustment component (0.402) and the social adjustment component (0.527). Then, the personal-emotional adjustment component (0.318). Lastly, with the institutional attachment component (0.376). Cross-cultural competence has a relationship with self-adjustment. In this way, migrant students must prepare by studying their destination city, such as culture, weather, bureaucracy, and other things, to adjust more quickly and cope with the demands of a new place.
Melewati Luka, Merajut Resiliensi: Pengalaman Remaja yang Pernah Mengalami Bullying Dethan, Lidya Saraswati Karunia; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Journal of Psychological Science and Profession Vol 9, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v9i1.59347

Abstract

Bullying adalah bentuk perilaku agresif berupa menyebabkan cedera atau ketidaknyamanan pada orang lain secara sengaja dan berulang. Remaja yang dulunya mengalami bullying di masa sekolah dasar (SD) merasakan dampak negatif secara sosial, emosional, dan akademik. Dampak tersebut masih dirasakan hingga saat ini. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai resiliensi remaja yang pernah mengalami bullying di masa sekolah dasar (SD). Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Metode penelitian naratif memberikan pendekatan kualitatif yang sistematis untuk mempelajari pengalaman resiliensi individu dan menarasikannya secara kronologis. Kriteria partisipan adalah remaja akhir yang mengalami bullying di masa sekolah dasar (SD) dan mengalami bullying di lingkungan sekolah dasar (SD). Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak tiga orang. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (1984) yang terdiri dari data reduction, data display, dan conclusion-drawing/verification.Dalam proses bullying hingga pemulihan diri, ketiga partisipan memiliki dukungan eksternal yang memadai (I have), pandangan positif terhadap diri (I am), dan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang membantu mereka (I Can). Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber inspirasi dan panduan bagi mereka untuk bertahan menghadapi dampak bullying, serta menemukan berbagai cara untuk bangkit dan membangun resiliensi.
Efektivitas Pelatihan “Aku dan Masa Depan” dalam Meningkatkan Orientasi Masa Depan Remaja Novita, Maria Prima; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi; Maria, Anna
Journal of Psychological Science and Profession Vol 9, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v9i1.59550

Abstract

Remaja sering kali mengalami kesulitan dalam membuat keputusan untuk masa depannya dan belum memiliki orientasi masa depan yang terarah. Salah satu cara untuk meningkatkan orientasi masa depan remaja adalah melalui pelatihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas pelatihan “Aku dan Masa Depan” dalam meningkatkan orientasi masa depan siswa SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan one group pretestand posttest design. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 33 siswa dari salah satu SMA negeri di Kabupaten Semarang. Skala yang adalah skala Orientasi Masa Depan yang dikembangkan oleh Winurini berdasarkan teori Seginer. Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-test. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor orientasi masa depan yang signifikan antara sebelum mengikuti pelatihan dengan setelah mengikuti pelatihan. Dengan itu, pelatihan “Aku dan Masa Depan” terbukti efektif untuk meningkatkan orientasi masa depan remaja, khususnya pada aspek kognitif dan motivasi.
Loneliness Among First-Year Out-of-Town College Students: How Is It Related to Personality Trait? Hutabarat, Tabita Sammasda; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19349

Abstract

Students will migrate and move temporarily from their hometown to continue their education at a higher level while learning to live independently from their parents. During the migration process, students will be faced with various challenges, one of them is loneliness. This study aims to determine the relationship between each trait in the Big Five Personality with loneliness experienced by first-year out-of-town students. This study is a quantitative study with an accidental sampling method and the participants were 211 first-year out-of-town students of Satya Wacana Christian University. This study uses the 6-Items Cross-Cultural Social Isolation Scale to measure loneliness and the Big Five Inventory-2 Short (BFI2-S) to measure personality. The results showed that there was a negative relationship between trait conscientiousness (p=0.000, r=-0.252), trait extraversion (p=0.000, r=-0.302), and trait agreeableness (p=0.028, r=-0.132) with loneliness. In addition, there is a positive relationship between trait neuroticism (p=0.000, r=0.398) and loneliness. Meanwhile, no relationship was found between trait openness to experience (p = 0.060 and r = -0.107) and loneliness. The findings emphasize that students can participate in various activities that allow them to interact with others and establish healthy interpersonal relationships that help prevent loneliness.Mahasiswa akan merantau dan berpindah sementara waktu dari kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi sekaligus belajar untuk hidup mandiri dari orang tua. Selama proses merantau, mahasiswa akan dihadapkan dengan berbagai tantangan salah satunya yaitu kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing trait dalam big five personality dengan kesepian yang dialami oleh mahasiswa rantau tahun pertama. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode accidental sampling dan partisipan dalam penelitian ini adalah 211 mahasiswa rantau tahun pertama Universitas Kristen Satya Wacana. Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 6-Items Cross Cultural Social Isolation Scale untuk mengukur kesepian dan Big Five Inventory-2 Short (BFI2-S) untuk mengukur kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara trait conscientiousness (p=0,000, r=-0,252), trait extraversion (p=0,000, r=-0,302), dan trait agreeableness (p=0,028, r=-0,132) dengan kesepian. Selain itu, terdapat hubungan positif antara trait neuroticism (p=0,000, r=0,398) dengan kesepian. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan antara trait openness to experience (p = 0,060 dan r = -0,107) dengan kesepian. Temuan ini menekankan agar mahasiswa dapat mengikuti berbagai kegiatan yang membuat mahasiswa dapat berinteraksi dengan individu lain dan menjalin relasi interpersonal yang sehat sehingga membantu mencegah munculnya perasaan kesepian.
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN COMPULSIVE BUYING PADA MAHASISWA DI KOTA MANADO Sangki, Maria Aprillia Angela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v7i2.16533

Abstract

Abstrak Gaya hidup masyarakat di Kota Manado yang sangat memperhatikan penampilan, menjadi latar belakang terbentuknya motto “biar kalah nasi, mar nda kalah aksi”. Hal ini diyakini oleh seluruh kalangan masyarakat, dengan memiliki penampilan baik dan menarik individu akan merasa lebih berharga. Salah satu cara yang dilakukan untuk menunjang penampilan adalah dengan berbelanja. Akan tetapi, kegiatan berbelanja yang dilakukan mengarah pada perilaku berbelanja yang disebut compulsive buying. Hal ini menunjukkan bahwa harga diri sebagai stimulus yang bisa mendorong individu untuk berperilaku kompulsif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara harga diri dengan compulsive buying pada mahasiswa di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis Spearman rank correlation coefficients. Terdapat 226 mahasiswa di Kota Manado, berusia 18-24 tahun yang menjadi partisipan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan Edwards Compulsive Buying Scales dan Rosenberg Self Esteem Scales. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dan compulsive buying. Implikasi dari penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat lebih bisa untuk menghargai diri sendiri sehingga dapat mengurangi perilaku berbelanja yang mengarah pada compulsive buying. Kata Kunci: Compulsive Buying, Harga Diri, Mahasiswa AbstractThe lifestyle of the people in the city of Manado, who place a strong emphasis on appearance, serves as the backdrop for the formation of the motto "biar kalah nasi, mar nda kalah aksi". This is believed by the entire community, as having a good and attractive appearance makes individuals feel more valuable. One of the ways to support this appearance is through shopping. However, shopping activities often lead to a behavior known as compulsive buying. This indicates that self-esteem is a stimulus that can drive individuals to engage in compulsive behavior. The purpose of this research is to determine the significant relationship between self-esteem and compulsive buying among students in Manado. This study employs a quantitative approach with the Spearman rank correlation coefficients analysis method. There were 226 students in Manado, aged 18-24 years, who participated in this research. The study utilized the Edwards Compulsive Buying Scales and Rosenberg Self Esteem Scales. The results of this research show a significant negative relationship between self-esteem and compulsive buying. This research implies that it is hoped that students can learn to value themselves more, thereby reducing shopping behaviors that lead to compulsive buying. Keywords: Compulsive Buying, Self-Esteem, Students
Psychological Dynamics in Long-Distance Relationships: Anxious and Avoidant Attachment Styles as Predictors of Relationship Satisfaction in Early Adulthood Hartono, Shelly Patricia; Mardi Rahayu, Maria Nugraheni
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.19573

Abstract

Long-distance relationships are often considered to have a lower success rate compared to close-distance relationships. Attachment style is one of the factors that influence relationship satisfaction. This study aims to determine the correlation between anxious and avoidant attachment styles with relationship satisfaction in early adults who are in long-distance relationships. The subjects in this study were early adults who were in long-distance relationships with a sample of 204 respondents obtained through accidental sampling techniques. This study used a quantitative method with a measurement scale used Experiences in Close Relationships Revised (ECR-R) and Relationship Assessment Scale (RAS). The research data were analyzed using the Spearman Rank correlation technique. The results showed that there was a significant negative relationship between anxious and avoidant attachment styles with relationship satisfaction in early adults who were in long-distance relationships with a correlation coefficient value of anxious attachment style of r = -0.233 (p = 0.001) and for the correlation coefficient value of avoidant attachment style of r = -0.584 (p = 0.000) which indicates a negative relationship with relationship satisfaction. This means that the higher the anxious and avoidant attachment style, the lower the relationship satisfaction, and vice versa, the lower the anxious and avoidant attachment style, the higher the relationship satisfaction in young adults in long-distance relationships.Hubungan jarak jauh sering kali dianggap memiliki tingkat keberhasilan yang lebih rendah dibandingkan dengan pacaran jarak dekat. Gaya kelekatan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kepuasan hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi gaya kelekatan cemas dan menghindar dengan kepuasan hubungan pada dewasa awal yang sedang menjalani hubungan jarak jauh. Subjek dalam penelitian ini adalah dewasa awal yang sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan sampel berjumlah 204 responden yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan skala pengukuran yang digunakan Experiences in Close Relationships Revised (ECR-R) dan Relationship Assessment Scale (RAS). Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara gaya kelekatan cemas dan menghindar dengan kepuasan hubungan pada dewasa awal yang menjalani hubungan jarak jauh dengan nilai korelasi koefisien gaya kelekatan cemas sebesar r= -0.233 (p= 0,001) dan untuk nilai korelasi koefisien gaya kelekatan menghindar sebesar r= -0,584 (p= 0,000) yang menunjukkan arah hubungan negatif dengan kepuasan hubungan. Artinya, semakin tinggi gaya kelekatan cemas dan menghindar maka semakin rendah kepuasan hubungan, dan sebaliknya, semakin rendah gaya kelekatan cemas dan menghindar maka semakin tinggi kepuasan hubungan pada dewasa awal yang menjalani hubungan jarak jauh.
Hubungan Antara Body image Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Perempuan Ardida, Neta Imanuela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 1 (2024): J-P3K APRIL
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i1.244

Abstract

Body Image merupakan gambaran diri seseorang tentang bentuk dan ukuran tubuh bagaimana seseorang dapat melihat dan menghargai tentang apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan pada ukuran dan bentuk tubuh mereka. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan signifikan body image dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan yang terlibat dalam penelitian yang sebanyak 199 remaja perempuan. Skala pengukuran yang digunakan berupa skala pengukuran yang digunakan body image dengan kecemasan sosial pada remaja awal. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil yang menunjukkan nilai rxy = -0,099 dengan nilai signifikansi 0,082 dengan p 0,05 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa body image tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan.
Uncovering Emotional Bonds: The Influence of Pet Attachment on the Psychological Well-Being of Pet Owners in Bali Novita Rosa Margaretha, Made; Nugraheni Mardi Rahayu, Maria
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.19782

Abstract

The presence of pets in human life not only provides social benefits but also impacts the psychological well-being of their owners. The Balinese community, living within a harmonious culture rooted in the values of Tri Hita Karana, demonstrates a unique relationship between humans and animals as part of life balance. This study aimed to determine the relationship between pet attachment and psychological well-being among Balinese people who own pets, particularly dogs. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The sample was selected using accidental sampling from Balinese individuals who had owned dogs for more than one year, with a total of 171 respondents. Data were collected using the Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS) and the Psychological Well-Being Scale (PWBS). The results of the analysis showed a significant positive relationship between pet attachment and all dimensions of psychological well-being, although the strength of the correlations varied. The dimension of positive relations with others had the strongest correlation, while life purpose had the weakest yet still significant correlation. The implications of this research indicated that attachment to pets could serve as a promotive and preventive strategy to enhance psychological well-being in the community through culturally rooted and community-based approaches.Kehadiran hewan peliharaan dalam kehidupan manusia tidak hanya memberikan manfaat sosial tetapi juga berdampak pada kesejahteraan psikologis pemiliknya. Masyarakat Bali, yang hidup dalam budaya harmonis berbasis nilai Tri Hita Karana, menunjukkan relasi khas antara manusia dan hewan sebagai bagian dari keseimbangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pet attachment dan psychological well-being pada masyarakat Bali yang memiliki hewan peliharaan, khususnya anjing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel diambil menggunakan teknik accidental sampling dari masyarakat Bali yang telah memelihara anjing selama lebih dari satu tahun, dengan jumlah responden sebanyak 171 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS) dan Psychological Well-Being Scale (PWBS). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara pet attachment dan seluruh dimensi psychological well-being, meskipun kekuatan korelasinya bervariasi. Dimensi hubungan positif dengan orang lain menunjukkan korelasi paling kuat, sedangkan tujuan hidup menunjukkan korelasi terlemah namun tetap signifikan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa keterikatan terhadap hewan peliharaan dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas dan budaya lokal.
Psychological Well-Being dan Celebrity Worship (Intense-Personal) Penggemar K-Pop Wijaya, Patricia Putri; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 2 (2025): IDEA: Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/idea.v9i2.9205

Abstract

This study aims to determine the relationship between psychological well-being (PWB) and celebrity worship (intense-personal) (IPCW) in Gen Z K-Pop fans in Java. The participants in this study were 289 Gen Z K-Pop fans in Java Island consisting of 262 women (90.7%) and 27 men (9.3%). Data collection was done through accidental sampling. The research method used was quantitative research method with correlational design. The measurement scale used CAS (α=0.85) and RPWBS (α=0.912). The results of the correlation analysis show that PWB and IPCW have a significant negative relationship in the dimensions of autonomy, environmental mastery, personal growth, life goals, and self-acceptance. While PWB in the dimension of positive relationships with others has no significant relationship with IPCW. For this reason, K-Pop fans need to pay attention to their psychological well-being so that they are not trapped in IPCW behavior.
Co-Authors Afinnisa Rasyida Agung Setiyawan, Agung Ahat Nur Rohmah Anna Maria Aprodita, Nindya Putri Ardida, Neta Imanuela Aulia, Cika Nurul Bestin Julyan Sinaga Charan, Yobella Yiska Pravu Chaterine Beta Chandra Sheravina Dethan, Lidya Saraswati Karunia Dewi, Erviana Laksito Ellia, Seth Kenan Erika Devi Pakan Filia Dasiska Septi Arisandhi Tarigan Grenadi, Kezia Margaretha Hartono, Shelly Patricia Helen Yulia Wilfrida Henoch Setya Nugraha Hutabarat, Tabita Sammasda Ika Oktafia Ika Oktafia Intan Verutika Priscilla Baun Ivana Abigail Weldiv Setyawan Jati, Puri Puspita Javier, Reavisy Jusuf Tjahjo Purnomo Kakampu, Winston Lovevinzy Kartini Apriyuna Betty Kumalasari, Ajeng Yunita Laalah, Eunike Euangeline Trifena Laurenza, Hana LESTARI RELINDA ROMAULI RUMAPEA Litaay, Cindy Christine Maria Prima Novita Maria, Anna Mulyanto, Angeline Meisya Nesya Natasya Novita Rosa Margaretha, Made Novita, Putri Padji, Erly Marcella Pasaribu, Debbie Tiara Pinis, Eunike Margaritha Prasetyani, Renaningtyas Putri Rachel, Emanuella Rahma, Tarisa Habiba Rasyida, Afinnisa Renita Sitompul Rikumahu, Marchya Carina Exaudy Rudangta Arianti Salean, Adriani Maria Sangki, Maria Aprillia Angela Setyawan, Ivana Abigail Weldiv Sheravina, Chaterine Beta Chandra Sinaga, Bestin Julyan Situmeang, Louis Van Gall Sonny Christian Josua Sri Aryanti Kristianingsih Suprapti, Bhineska Juniar Dwi Tarigan, Filia Dasiska Septi Arisandhi Tasiabe, Hilman Richard Tasti, Dellana Panggar tifanny sischa saputri Tri, Abayomi Maleakhi Tumanan, Gabriela Vania Yus Veda Veronica Lowinsky Wijaya, Patricia Putri