Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Sense of Humor dengan Academic Burnout pada Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan di Universitas Kristen Satya Wacana Litaay, Cindy Christine; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 14, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v14i4.10928

Abstract

This study aims to determine the relationship between sense of humor with burnout on functionaries Lembaga Kemahasiswaan in SWCU. Subjects were 296 functionaries of LK UKSW, sample selection with quota sampling. The measuring instrument used to measure academic burnout is the Maslach Burnout Inventory Student Survey (MBI-SS). Sense of humor is measured by the Multidimensional Sense of Humor Scale. Statistical data analysis using Spearman Product Moment correlation. The results of this study found that there is no significance relationship between sense of humor and academic burnout on functionaries of LK UKSW (r = 0.094 and sig = 0.107). Functionaries are expected to find appropriate coping strategies with the help of lectures and Lembaga Kemahasiswaan in the process of finding and implementing these coping strategies.
Hubungan Academic Hardiness dan Psychological Well-being pada Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Keperawatan yang sedang Menyusun Skripsi Suprapti, Bhineska Juniar Dwi; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 14, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v14i4.11110

Abstract

Final year students who experience difficulties or obstacles while preparing their thesis can interfere with their psychological well-being, one of which is the final year students majoring in nursing. They need a personality that can improve psychological well-being in dealing with pressure when compiling a thesis, namely academic hardiness. This research aims to find the significant relationship between academic hardiness and the psychological well-being of final-year students majoring in nursing who write a thesis. This research uses quantitative methods with a research design correlational. The data collection technique used in this research was accidental sampling. The number of research subjects was 204 participants, with the criteria as final-year students nursing majors who are currently writing a thesis and aged 18 – 25 years. The data collection method uses two scales, namely Ryff Psychological Well-Being Scale (RPWBS) developed by Sasaki et al., (2020) and the Academic Hardiness Scale (AHS) revised by Creed et al., (2013). The research result correlation between academic hardiness and psychological well-being is a significant positive relationship between academic hardiness and psychological well-being. Three dimensions of psychological well-being have a significant positive relationship with academic hardiness, namely environmental mastery environmental mastery, purpose in life and personal growth.
Indonesian Adaptation of the Cultural Intelligence Scale (CQS) Rikumahu, Marchya Carina Exaudy; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Journal of Educational, Health and Community Psychology VOL 14 NO 1 MARCH 2025
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.vi.28955

Abstract

Indonesia is a country with diverse cultural backgrounds, so intercultural interactions often occur. This research aims to adapt the Cultural Quotient Scale developed by Ang and Van Dyne (2008) into Indonesian to support various research on cultural intelligence. The CQS measuring tool consists of 20 statement items and is divided into 4-factors, namely metacognitive, cognitive, motivational, and behavioral. Testing was carried out using the Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) methods involving 324 Satya Wacana Christian University students who were divided into 2 random sample groups (EFA, n=162 & CFA, n=162). The results of this research indicate that the 4-factor structure of the 17 items of the Indonesian version of the CQS statement has a "good fit" psychometric property model. This means that the Indonesian adaptation of CQS can be used in various related research. It is hoped that future research will be able to test the convergent validity of the adaptation of this measuring instrument.
Melewati Luka, Merajut Resiliensi: Pengalaman Remaja yang Pernah Mengalami Bullying Dethan, Lidya Saraswati Karunia; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Journal of Psychological Science and Profession Vol 9, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v9i1.59347

Abstract

Bullying adalah bentuk perilaku agresif berupa menyebabkan cedera atau ketidaknyamanan pada orang lain secara sengaja dan berulang. Remaja yang dulunya mengalami bullying di masa sekolah dasar (SD) merasakan dampak negatif secara sosial, emosional, dan akademik. Dampak tersebut masih dirasakan hingga saat ini. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai resiliensi remaja yang pernah mengalami bullying di masa sekolah dasar (SD). Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Metode penelitian naratif memberikan pendekatan kualitatif yang sistematis untuk mempelajari pengalaman resiliensi individu dan menarasikannya secara kronologis. Kriteria partisipan adalah remaja akhir yang mengalami bullying di masa sekolah dasar (SD) dan mengalami bullying di lingkungan sekolah dasar (SD). Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak tiga orang. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (1984) yang terdiri dari data reduction, data display, dan conclusion-drawing/verification.Dalam proses bullying hingga pemulihan diri, ketiga partisipan memiliki dukungan eksternal yang memadai (I have), pandangan positif terhadap diri (I am), dan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang membantu mereka (I Can). Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber inspirasi dan panduan bagi mereka untuk bertahan menghadapi dampak bullying, serta menemukan berbagai cara untuk bangkit dan membangun resiliensi.
Efektivitas Pelatihan “Aku dan Masa Depan” dalam Meningkatkan Orientasi Masa Depan Remaja Novita, Maria Prima; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi; Maria, Anna
Journal of Psychological Science and Profession Vol 9, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v9i1.59550

Abstract

Remaja sering kali mengalami kesulitan dalam membuat keputusan untuk masa depannya dan belum memiliki orientasi masa depan yang terarah. Salah satu cara untuk meningkatkan orientasi masa depan remaja adalah melalui pelatihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas pelatihan “Aku dan Masa Depan” dalam meningkatkan orientasi masa depan siswa SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan one group pretestand posttest design. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 33 siswa dari salah satu SMA negeri di Kabupaten Semarang. Skala yang adalah skala Orientasi Masa Depan yang dikembangkan oleh Winurini berdasarkan teori Seginer. Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-test. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor orientasi masa depan yang signifikan antara sebelum mengikuti pelatihan dengan setelah mengikuti pelatihan. Dengan itu, pelatihan “Aku dan Masa Depan” terbukti efektif untuk meningkatkan orientasi masa depan remaja, khususnya pada aspek kognitif dan motivasi.
Loneliness Among First-Year Out-of-Town College Students: How Is It Related to Personality Trait? Hutabarat, Tabita Sammasda; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19349

Abstract

Students will migrate and move temporarily from their hometown to continue their education at a higher level while learning to live independently from their parents. During the migration process, students will be faced with various challenges, one of them is loneliness. This study aims to determine the relationship between each trait in the Big Five Personality with loneliness experienced by first-year out-of-town students. This study is a quantitative study with an accidental sampling method and the participants were 211 first-year out-of-town students of Satya Wacana Christian University. This study uses the 6-Items Cross-Cultural Social Isolation Scale to measure loneliness and the Big Five Inventory-2 Short (BFI2-S) to measure personality. The results showed that there was a negative relationship between trait conscientiousness (p=0.000, r=-0.252), trait extraversion (p=0.000, r=-0.302), and trait agreeableness (p=0.028, r=-0.132) with loneliness. In addition, there is a positive relationship between trait neuroticism (p=0.000, r=0.398) and loneliness. Meanwhile, no relationship was found between trait openness to experience (p = 0.060 and r = -0.107) and loneliness. The findings emphasize that students can participate in various activities that allow them to interact with others and establish healthy interpersonal relationships that help prevent loneliness.Mahasiswa akan merantau dan berpindah sementara waktu dari kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi sekaligus belajar untuk hidup mandiri dari orang tua. Selama proses merantau, mahasiswa akan dihadapkan dengan berbagai tantangan salah satunya yaitu kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing trait dalam big five personality dengan kesepian yang dialami oleh mahasiswa rantau tahun pertama. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode accidental sampling dan partisipan dalam penelitian ini adalah 211 mahasiswa rantau tahun pertama Universitas Kristen Satya Wacana. Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 6-Items Cross Cultural Social Isolation Scale untuk mengukur kesepian dan Big Five Inventory-2 Short (BFI2-S) untuk mengukur kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara trait conscientiousness (p=0,000, r=-0,252), trait extraversion (p=0,000, r=-0,302), dan trait agreeableness (p=0,028, r=-0,132) dengan kesepian. Selain itu, terdapat hubungan positif antara trait neuroticism (p=0,000, r=0,398) dengan kesepian. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan antara trait openness to experience (p = 0,060 dan r = -0,107) dengan kesepian. Temuan ini menekankan agar mahasiswa dapat mengikuti berbagai kegiatan yang membuat mahasiswa dapat berinteraksi dengan individu lain dan menjalin relasi interpersonal yang sehat sehingga membantu mencegah munculnya perasaan kesepian.
Breaking Silence: The Power of Peer Support in Alleviating Student Loneliness Lowinsky, Veronica; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19669

Abstract

University life is a transitional period that is vulnerable to loneliness due to changes in social environment, academic pressure, and demands for independence. This study aimed to examine the relationship between peer social support and the level of loneliness among students at Satya Wacana Christian University (UKSW). This research employed a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of 100 active students from UKSW, selected using accidental sampling. The instruments used were the Social Provisions Scale (SPS) to measure peer social support and the UCLA Loneliness Scale Version 3 to assess loneliness levels. Data analysis was conducted using Pearson correlation and partial correlation across dimensions. The results showed a significant negative relationship between peer social support and loneliness. The higher the perceived social support, the lower the level of loneliness experienced by the students. All aspects of social support, such as attachment, guidance, and reassurance of worth, were found to have significant correlations with various dimensions of loneliness. The implication of this study highlights the importance for higher education institutions to facilitate the strengthening of peer relationships through mentoring programs, social engagement activities, and the development of interpersonal skills to prevent social isolation and support students’ psychological well-being.Masa perkuliahan merupakan periode transisi yang rentan terhadap perasaan kesepian akibat perubahan lingkungan sosial, tekanan akademik, dan tuntutan kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan tingkat kesepian pada mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 100 mahasiswa aktif UKSW yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Social Provisions Scale (SPS) untuk mengukur dukungan sosial teman sebaya dan UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson dan korelasi parsial antar aspek. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kesepian pada mahasiswa. Semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dialami. Seluruh aspek dukungan sosial seperti attachment, guidance, dan reassurance of worth memiliki hubungan yang signifikan terhadap berbagai dimensi kesepian. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya lembaga pendidikan tinggi untuk memfasilitasi penguatan relasi sosial antar mahasiswa melalui program mentoring, kegiatan sosial, dan pengembangan kapasitas interpersonal guna mencegah isolasi sosial dan mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN COMPULSIVE BUYING PADA MAHASISWA DI KOTA MANADO Sangki, Maria Aprillia Angela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v7i2.16533

Abstract

Abstrak Gaya hidup masyarakat di Kota Manado yang sangat memperhatikan penampilan, menjadi latar belakang terbentuknya motto “biar kalah nasi, mar nda kalah aksi”. Hal ini diyakini oleh seluruh kalangan masyarakat, dengan memiliki penampilan baik dan menarik individu akan merasa lebih berharga. Salah satu cara yang dilakukan untuk menunjang penampilan adalah dengan berbelanja. Akan tetapi, kegiatan berbelanja yang dilakukan mengarah pada perilaku berbelanja yang disebut compulsive buying. Hal ini menunjukkan bahwa harga diri sebagai stimulus yang bisa mendorong individu untuk berperilaku kompulsif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara harga diri dengan compulsive buying pada mahasiswa di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis Spearman rank correlation coefficients. Terdapat 226 mahasiswa di Kota Manado, berusia 18-24 tahun yang menjadi partisipan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan Edwards Compulsive Buying Scales dan Rosenberg Self Esteem Scales. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dan compulsive buying. Implikasi dari penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat lebih bisa untuk menghargai diri sendiri sehingga dapat mengurangi perilaku berbelanja yang mengarah pada compulsive buying. Kata Kunci: Compulsive Buying, Harga Diri, Mahasiswa AbstractThe lifestyle of the people in the city of Manado, who place a strong emphasis on appearance, serves as the backdrop for the formation of the motto "biar kalah nasi, mar nda kalah aksi". This is believed by the entire community, as having a good and attractive appearance makes individuals feel more valuable. One of the ways to support this appearance is through shopping. However, shopping activities often lead to a behavior known as compulsive buying. This indicates that self-esteem is a stimulus that can drive individuals to engage in compulsive behavior. The purpose of this research is to determine the significant relationship between self-esteem and compulsive buying among students in Manado. This study employs a quantitative approach with the Spearman rank correlation coefficients analysis method. There were 226 students in Manado, aged 18-24 years, who participated in this research. The study utilized the Edwards Compulsive Buying Scales and Rosenberg Self Esteem Scales. The results of this research show a significant negative relationship between self-esteem and compulsive buying. This research implies that it is hoped that students can learn to value themselves more, thereby reducing shopping behaviors that lead to compulsive buying. Keywords: Compulsive Buying, Self-Esteem, Students
Hubungan Antara Body image Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Perempuan Ardida, Neta Imanuela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 1 (2024): J-P3K APRIL
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i1.244

Abstract

Body Image merupakan gambaran diri seseorang tentang bentuk dan ukuran tubuh bagaimana seseorang dapat melihat dan menghargai tentang apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan pada ukuran dan bentuk tubuh mereka. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan signifikan body image dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan yang terlibat dalam penelitian yang sebanyak 199 remaja perempuan. Skala pengukuran yang digunakan berupa skala pengukuran yang digunakan body image dengan kecemasan sosial pada remaja awal. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil yang menunjukkan nilai rxy = -0,099 dengan nilai signifikansi 0,082 dengan p 0,05 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa body image tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan.
Psychological Well-Being dan Celebrity Worship (Intense-Personal) Penggemar K-Pop Wijaya, Patricia Putri; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 2 (2025): IDEA: Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/idea.v9i2.9205

Abstract

This study aims to determine the relationship between psychological well-being (PWB) and celebrity worship (intense-personal) (IPCW) in Gen Z K-Pop fans in Java. The participants in this study were 289 Gen Z K-Pop fans in Java Island consisting of 262 women (90.7%) and 27 men (9.3%). Data collection was done through accidental sampling. The research method used was quantitative research method with correlational design. The measurement scale used CAS (α=0.85) and RPWBS (α=0.912). The results of the correlation analysis show that PWB and IPCW have a significant negative relationship in the dimensions of autonomy, environmental mastery, personal growth, life goals, and self-acceptance. While PWB in the dimension of positive relationships with others has no significant relationship with IPCW. For this reason, K-Pop fans need to pay attention to their psychological well-being so that they are not trapped in IPCW behavior.