Claim Missing Document
Check
Articles

Loneliness Among First-Year Out-of-Town College Students: How Is It Related to Personality Trait? Hutabarat, Tabita Sammasda; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19349

Abstract

Students will migrate and move temporarily from their hometown to continue their education at a higher level while learning to live independently from their parents. During the migration process, students will be faced with various challenges, one of them is loneliness. This study aims to determine the relationship between each trait in the Big Five Personality with loneliness experienced by first-year out-of-town students. This study is a quantitative study with an accidental sampling method and the participants were 211 first-year out-of-town students of Satya Wacana Christian University. This study uses the 6-Items Cross-Cultural Social Isolation Scale to measure loneliness and the Big Five Inventory-2 Short (BFI2-S) to measure personality. The results showed that there was a negative relationship between trait conscientiousness (p=0.000, r=-0.252), trait extraversion (p=0.000, r=-0.302), and trait agreeableness (p=0.028, r=-0.132) with loneliness. In addition, there is a positive relationship between trait neuroticism (p=0.000, r=0.398) and loneliness. Meanwhile, no relationship was found between trait openness to experience (p = 0.060 and r = -0.107) and loneliness. The findings emphasize that students can participate in various activities that allow them to interact with others and establish healthy interpersonal relationships that help prevent loneliness.Mahasiswa akan merantau dan berpindah sementara waktu dari kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi sekaligus belajar untuk hidup mandiri dari orang tua. Selama proses merantau, mahasiswa akan dihadapkan dengan berbagai tantangan salah satunya yaitu kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing trait dalam big five personality dengan kesepian yang dialami oleh mahasiswa rantau tahun pertama. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode accidental sampling dan partisipan dalam penelitian ini adalah 211 mahasiswa rantau tahun pertama Universitas Kristen Satya Wacana. Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 6-Items Cross Cultural Social Isolation Scale untuk mengukur kesepian dan Big Five Inventory-2 Short (BFI2-S) untuk mengukur kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara trait conscientiousness (p=0,000, r=-0,252), trait extraversion (p=0,000, r=-0,302), dan trait agreeableness (p=0,028, r=-0,132) dengan kesepian. Selain itu, terdapat hubungan positif antara trait neuroticism (p=0,000, r=0,398) dengan kesepian. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan antara trait openness to experience (p = 0,060 dan r = -0,107) dengan kesepian. Temuan ini menekankan agar mahasiswa dapat mengikuti berbagai kegiatan yang membuat mahasiswa dapat berinteraksi dengan individu lain dan menjalin relasi interpersonal yang sehat sehingga membantu mencegah munculnya perasaan kesepian.
Breaking Silence: The Power of Peer Support in Alleviating Student Loneliness Lowinsky, Veronica; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i3.19669

Abstract

University life is a transitional period that is vulnerable to loneliness due to changes in social environment, academic pressure, and demands for independence. This study aimed to examine the relationship between peer social support and the level of loneliness among students at Satya Wacana Christian University (UKSW). This research employed a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of 100 active students from UKSW, selected using accidental sampling. The instruments used were the Social Provisions Scale (SPS) to measure peer social support and the UCLA Loneliness Scale Version 3 to assess loneliness levels. Data analysis was conducted using Pearson correlation and partial correlation across dimensions. The results showed a significant negative relationship between peer social support and loneliness. The higher the perceived social support, the lower the level of loneliness experienced by the students. All aspects of social support, such as attachment, guidance, and reassurance of worth, were found to have significant correlations with various dimensions of loneliness. The implication of this study highlights the importance for higher education institutions to facilitate the strengthening of peer relationships through mentoring programs, social engagement activities, and the development of interpersonal skills to prevent social isolation and support students’ psychological well-being.Masa perkuliahan merupakan periode transisi yang rentan terhadap perasaan kesepian akibat perubahan lingkungan sosial, tekanan akademik, dan tuntutan kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan tingkat kesepian pada mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 100 mahasiswa aktif UKSW yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Social Provisions Scale (SPS) untuk mengukur dukungan sosial teman sebaya dan UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson dan korelasi parsial antar aspek. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kesepian pada mahasiswa. Semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan, maka semakin rendah tingkat kesepian yang dialami. Seluruh aspek dukungan sosial seperti attachment, guidance, dan reassurance of worth memiliki hubungan yang signifikan terhadap berbagai dimensi kesepian. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya lembaga pendidikan tinggi untuk memfasilitasi penguatan relasi sosial antar mahasiswa melalui program mentoring, kegiatan sosial, dan pengembangan kapasitas interpersonal guna mencegah isolasi sosial dan mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN COMPULSIVE BUYING PADA MAHASISWA DI KOTA MANADO Sangki, Maria Aprillia Angela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v7i2.16533

Abstract

Abstrak Gaya hidup masyarakat di Kota Manado yang sangat memperhatikan penampilan, menjadi latar belakang terbentuknya motto “biar kalah nasi, mar nda kalah aksi”. Hal ini diyakini oleh seluruh kalangan masyarakat, dengan memiliki penampilan baik dan menarik individu akan merasa lebih berharga. Salah satu cara yang dilakukan untuk menunjang penampilan adalah dengan berbelanja. Akan tetapi, kegiatan berbelanja yang dilakukan mengarah pada perilaku berbelanja yang disebut compulsive buying. Hal ini menunjukkan bahwa harga diri sebagai stimulus yang bisa mendorong individu untuk berperilaku kompulsif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara harga diri dengan compulsive buying pada mahasiswa di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis Spearman rank correlation coefficients. Terdapat 226 mahasiswa di Kota Manado, berusia 18-24 tahun yang menjadi partisipan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan Edwards Compulsive Buying Scales dan Rosenberg Self Esteem Scales. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dan compulsive buying. Implikasi dari penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat lebih bisa untuk menghargai diri sendiri sehingga dapat mengurangi perilaku berbelanja yang mengarah pada compulsive buying. Kata Kunci: Compulsive Buying, Harga Diri, Mahasiswa AbstractThe lifestyle of the people in the city of Manado, who place a strong emphasis on appearance, serves as the backdrop for the formation of the motto "biar kalah nasi, mar nda kalah aksi". This is believed by the entire community, as having a good and attractive appearance makes individuals feel more valuable. One of the ways to support this appearance is through shopping. However, shopping activities often lead to a behavior known as compulsive buying. This indicates that self-esteem is a stimulus that can drive individuals to engage in compulsive behavior. The purpose of this research is to determine the significant relationship between self-esteem and compulsive buying among students in Manado. This study employs a quantitative approach with the Spearman rank correlation coefficients analysis method. There were 226 students in Manado, aged 18-24 years, who participated in this research. The study utilized the Edwards Compulsive Buying Scales and Rosenberg Self Esteem Scales. The results of this research show a significant negative relationship between self-esteem and compulsive buying. This research implies that it is hoped that students can learn to value themselves more, thereby reducing shopping behaviors that lead to compulsive buying. Keywords: Compulsive Buying, Self-Esteem, Students
Hubungan Antara Body image Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Perempuan Ardida, Neta Imanuela; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 1 (2024): J-P3K APRIL
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i1.244

Abstract

Body Image merupakan gambaran diri seseorang tentang bentuk dan ukuran tubuh bagaimana seseorang dapat melihat dan menghargai tentang apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan pada ukuran dan bentuk tubuh mereka. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan signifikan body image dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan yang terlibat dalam penelitian yang sebanyak 199 remaja perempuan. Skala pengukuran yang digunakan berupa skala pengukuran yang digunakan body image dengan kecemasan sosial pada remaja awal. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil yang menunjukkan nilai rxy = -0,099 dengan nilai signifikansi 0,082 dengan p 0,05 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa body image tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kecemasan sosial pada remaja perempuan.
Psychological Well-Being dan Celebrity Worship (Intense-Personal) Penggemar K-Pop Wijaya, Patricia Putri; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 2 (2025): IDEA: Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/idea.v9i2.9205

Abstract

This study aims to determine the relationship between psychological well-being (PWB) and celebrity worship (intense-personal) (IPCW) in Gen Z K-Pop fans in Java. The participants in this study were 289 Gen Z K-Pop fans in Java Island consisting of 262 women (90.7%) and 27 men (9.3%). Data collection was done through accidental sampling. The research method used was quantitative research method with correlational design. The measurement scale used CAS (α=0.85) and RPWBS (α=0.912). The results of the correlation analysis show that PWB and IPCW have a significant negative relationship in the dimensions of autonomy, environmental mastery, personal growth, life goals, and self-acceptance. While PWB in the dimension of positive relationships with others has no significant relationship with IPCW. For this reason, K-Pop fans need to pay attention to their psychological well-being so that they are not trapped in IPCW behavior.
Kesepian dan Pet Attachment: Menguraikan Keterkaitannya pada Kehidupan Wanita Lajang di Usia Dewasa Awal yang Memelihara Hewan Pasaribu, Debbie Tiara; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i3.12385

Abstract

Wanita lajang di usia dewasa awal cenderung mengalami kesepian karena gagal dalam memenuhi kebutuhan hubungan sosial yang bermakna dengan keluarga, teman, pasangan, bahkan hewan peliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pet attachment dan kesepian pada wanita lajang di usia dewasa awal yang memelihara hewan. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 233 wanita dengan karakteristik rentang usia 18-40 tahun, tidak sedang dalam hubungan romantis (lajang), dan memelihara hewan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional menggunakan instrumen skala UCLA Loneliness Scale Version 6 (ULS-6) dan The Lexington Attachment To Pets Scale (LAPS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara pet attachment dan kesepian pada wanita lajang di usia dewasa awal yang memelihara hewan yang berarti semakin tinggi tingkat pet attachment maka semakin tinggi juga tingkat kesepian, begitu pula sebaliknya (r = 0,170 dan sig. = 0,010). Dengan demikian, wanita lajang di usia dewasa awal perlu menyeimbangkan hubungan afiliasi antara manusia dengan hewan peliharaan. 
Staying Optimistic in the Middle of Academic Challenges: A Correlational Study of Optimism with Academic Resilience in Bidikmisi/KIP Students Tri, Abayomi Maleakhi; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Volume 12, Issue 1, Maret 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i1.12863

Abstract

Academic resilience is an individual's ability to increase academic success by being diligent, constantly reflecting, seeking appropriate help and having positive feelings in the midst of difficulties that occur. One of the factors that influences academic resilience is academic optimism, individuals must have clear goals and positive expectations for them when individuals want to have academic resilience. As a Bidikmisi/KIP College student, there are many challenges and demands that must be met to maintain a Bidikmisi/KIP scholarship until graduation. In all existing demands, a resilient attitude is needed so that students are strong in facing the demands of scholarships. One of the factors that influences academic resilience is optimism. The aim of this research is to determine the relationship between optimism and academic resilience of Bidikmisi/KIP students studying at Satya Wacana Christian University. The research method used is quantitative with a correlational design. The sample was obtained using an incidental sampling technique of 105 Bidikmisi/KIP Kuliah students. The research instrument used the Academic Resilience Scale (ARS-30) (α = 0.7) and Life Orientation Test-Revised (LOT-R) (α = 0.76). The analysis technique was carried out using Spearman rank correlation and obtained a correlation coefficient of 0.468. The results of the research show that there is a significant positive relationship between optimism and academic resilience in Bidikmisi/KIP students at Satya Wacana Christian University. Bidikmisi/KIP Kuliah students who have clear goals and strong confidence in their abilities are resilient in facing all existing demands and difficulties so that they are able to achieve academic success.Resiliensi akademik merupakan kemampuan individu untuk meningkatkan keberhasilan akademik dengan cara tekun, senantiasa berefleksi, mencari bantuan yang sesuai dan memiliki perasaan positif di tengah kesulitan yang menerpa. Salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi akademik adalah optimisme akademik, inidividu harus memiliki tujuan yang jelas dan ekspektasi yang positf terjadi pada mereka ketika individu ingin memiliki resiliensi akademik, Sebagai mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah, banyak tantangan dan tuntutan yang wajib dipenuhi untuk mempertahankan beasiswa bidikmisi/KIP Kuliah sampai lulus. Dalam segala tuntutan yang ada, diperlukan sikap yang resilien agar mahasiswa tangguh dalam menghadapai tuntutan beasiswa. Salah satu faktor yang memengaruhi resiliensi akademik adalah optimism. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah Universitas Kristen Satya Wacana. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel diperoleh dengan teknik insidental sampling sebanyak 105 mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah. Instrumen penelitian menggunakan Academic Resilience Scale (ARS-30) (α = 0,7) dan Life Orientation Test-Revised (LOT-R) (α = 0,76). Teknik analisis dilakukan dengan korelasi rank spearman dan diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,468. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimism dengan resiliensi akademik pada mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah Universitas Kristen Satya Wacana. Mahasiswa bidikmisi/KIP Kuliah yang memiliki tujuan yang jelas serta keyakinan yang kuat akan kemampuan dirinya, tangguh dalam menghadapi segala tuntutan dan kesulitan yang ada sehingga mampu mencapai kesuksesan akademik.
The Key to Study Success: Self-Regulation and Academic Adjustment at Satya Wacana Christian University Tasiabe, Hilman Richard; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15118

Abstract

Early adulthood is a transition period from adolescence to adulthood. This adult period starts from the age of 18 – 25 years at which time you have entered the world of college as a student. The main task of being a student is to learn with all the obstacles one faces actively and critically. Changes in the learning environment at school with lectures result in many things that students have to adjust to, such as learning styles, friendships and social situations, as well as dealing with lecturers. This research uses quantitative correlational methods. A total of 77 students from the class of 2022 at Satya Wacana Christian University were involved in this research. The results showed that academic adjustment had a significant positive relationship with self-regulation (r=0.527, sig.=0.000). Thus, it can be concluded that the results of this research show that there is a significant relationship between self-regulation and academic adjustment of students class of 2022 at Satya Wacana University. This means that the higher the self-regulation, the higher the academic adjustment of the class of 2022 students at Satya Wacana University, and vice versa. The implications of this research are that universities and faculties can develop programs that can improve self-regulation in new students so that their academic adjustment will be better.Masa dewasa awal merupakan masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Masa dewasa ini dimulai dari usia 18 – 25 tahun yang mana usia ini sudah memasuki dunia perkuliahan sebagai mahasiswa. Tugas pokok menjadi seorang mahasiswa adalah belajar dengan segala rintangan yang dihadapinya secara aktif dan kritis. Perubahan lingkungan belajar di sekolah dengan perkuliahan mengakibatkan banyak hal yang harus disesuaikan oleh mahasiswa, seperti gaya belajar, pertemanan dan sosial, serta menghadapi dosen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Sebanyak 77 mahasiswa angkatan 2022 Universitas Kristen Satya Wacana terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian akademik memiliki hubungan positif signifikan dengan regulasi diri (r=0,527, sig.=0.000). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara regulasi diri dan penyesuaian akademik mahasiswa angkatan 2022 Universitas Satya Wacana. Hal ini berarti semakin tinggi regulasi diri, maka semakin tinggi pula penyesuaian akademik mahasiswa angkatan 2022 Universitas Satya Wacana, dan begitu pula sebaliknya. Implikasi dari penelitian ini universitas dan fakultas dapat mengembangkan program yang dapat meningkatkan regulasi diri pada mahasiswa baru sehingga penyesuaian akademik mereka akan semakin baik.
Intercultural Communication Competence and Loneliness Among Out-Of-Town Students from Central Kalimantan Ellia, Seth Kenan; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15841

Abstract

Out-of-town students from Central Kalimantan in the Special Region of Yogyakarta  and Central Java face challenges in adapting, becoming independent, and dealing with socio-economic difficulties, as well as experiencing a phenomenon of loneliness. This study explores the relationship between intercultural communication competence and their level of loneliness. The study uses a quantitative method with a correlational design and collects data through an online survey using a questionnaire that measures intercultural communication competence with the Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0.867) and level of loneliness with the UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0.925). The survey involved 235 overseas students from Central Kalimantan aged 18 to 24 years studying at various universities in DIY and Central Java, using the snowball sampling technique. Data analysis was performed using SPSS version 23 with tests for normality, linearity assumptions, and hypothesis testing with Pearson correlation. The analysis results show a significant negative relationship between intercultural communication competence and level of loneliness (r=−0.795; p=0.000), indicating that the higher the intercultural communication competence, the lower the level of loneliness felt by students. This study emphasizes the importance of developing intercultural communication competence in reducing the level of loneliness in ouf-of-town students.Mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah menghadapi tantangan dalam penyesuaian diri, mandiri, dan kesulitan sosial-ekonomi, serta terjadi fenomena kesepian sehingga penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian mereka. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan mengumpulkan data melalui survei daring menggunakan kuesioner yang mengukur kompetensi komunikasi lintas budaya dengan skala Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0,867) dan tingkat kesepian dengan skala UCLA Loneliness (Version 3) (α = 0,925), melibatkan 235 mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah yang berusia 18 sampai 24 tahun dan menempuh pendidikan di berbagai universitas di DIY dan Jawa Tengah, dengan teknik snowball sampling, analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 23 dengan uji asumsi normalitas, dan linearitas, serta uji hipotesis korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian (r=−0,795; p=0,000), menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi komunikasi lintas budaya, semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan oleh mahasiswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi komunikasi lintas budaya dalam mengurangi tingkat kesepian pada mahasiswa rantau.
Importance of Self-Efficacy in Overcoming Quarter-Life Crisis among Fresh Graduates Laurenza, Hana; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15278

Abstract

Individuals who have just completed their studies at the university, commonly referred to as fresh graduates, will inevitably undergo a transition period from adolescence to adulthood known as the quarter life crisis. To face this crisis, there is a need for confidence to be able to confront every problem that arises, this confidence is referred to as self-efficacy. This study aims to examine whether there is a relationship between self-efficacy and the quarter-life crisis. The research was conducted using a quantitative approach with correlation analysis. The research subjects were fresh graduates who had graduated from college 2 years and were aged 21-25 years. The sampling technique used was accidental sampling. The self-efficacy scale used the General Self-Efficacy Scale 12 (GSES-12) (α = 0.858), while the quarter-life crisis scale used was the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0.832). Data collection was done using questionnaires distributed online through social media. The results of this study indicate that self-efficacy has a significant relationship with the quarter-life crisis at 0.000 (p<0.05), with a correlation coefficient of -0.635, indicating that self-efficacy is negatively correlated with the quarter-life crisis. In other words, the higher the level of self-efficacy, the lower the level of quarter life crisis.Individu yang baru saja menyelesaikan studi di perguruan tinggi, atau sering disebut sebagai fresh graduate, tentunya akan melewati masa transisi dari remaja menuju dewasa yang dikenal dengan quarter life crisis. Untuk menghadapi krisis tersebut perlunya keyakinan agar mampu menghadapi tiap masalah yang datang, keyakinan itu disebut dengan efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara efikasi diri dengan quarter life crisis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan analisis korelasi. Subjek penelitian merupakan fresh graduate yang telah lulus kuliah terhitung 2 tahun setelah kelulusan, serta berusia 21-25 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Skala efikasi diri menggunakan General Self-Efficacy Scale 12 (GSES-12) (α = 0,858), sedangkan skala quarter life crisis yang digunakan adalah Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12) (α = 0,832). Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan secara online melalui media sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki hubungan yang signifikan terhadap quarter life crisis sebesar 0,000 (p<0,05), dengan koefisien korelasi sebesar -0,635 hal ini menunjukkan efikasi diri berhubungan negatif dengan quarter life crisis. Artinya semakin tinggi tingkat efikasi diri maka semakin rendah tingkat quarter life crisis.