Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN RHEMATOID ARTHRITIS DENGAN INOVASI INTERVENSI TERAPI AKUPUNTUR DI KLINIK DAWAN USHADA KABUPATEN KLUNGKUNG Sari, Ni Wayan Puji Padma; Rismayanti, I Dewa Ayu; Astriani, Ni Made Dwi Yunica
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.53462

Abstract

Artritis Reumatoid (RA) merupakan gangguan peradangan yang secara khusus mempengaruhi membran sinovial pada sendi, dan biasanya ditunjukkan oleh rasa sakit di sendi, kekakuan sendi, berkurangnya kemampuan bergerak, serta kelelahan. Artritis Reumatoid (RA) biasanya muncul pada rentang usia 30 hingga 50 tahun, dengan tingkat kejadian tertinggi antara 40 dan 60 tahun. Perempuan mengalami kondisi ini dua hingga tiga kali lebih sering daripada laki-laki. Artritis Reumatoid (RA) dipercaya sebagai reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap antigen yang belum teridentifikasi. Persendian pada bahu biasanya terjadi pada satu sendi yang disebut RA monoartikuler, gejala lainnya yang terjadi yaitu terbentuknya nodul – nodul pada kulit diatas sendi yang menyebabkan pembengkakan. Sebagian besar masyarakat menganggap remeh penyakit rematik, karna sifatnya yang seolah – olah tidak menimbulkan kematian, hal ini membuat kasus rheumatoid arthritis semakin meningkat setiap tahunnya. Tujuan Penelitian ini dimaksudkan untuk menguraikan Perawatan Keperawatan Komplementer yang menangani masalah utama perawatannya, yakni nyeri mendadak pada pasien melalui penerapan teknik akupuntur. Gambaran Kasus Pada penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang mengidentifikasi suatu masalah asuhan keperawatan pada pasien yang memiliki keluhan tentang rheumatoid arthritis dengan pemberian terapi akupuntur. Hasil  Intervensi yang diberikan sesuai dengan diagnose yaitu terapi akupuntur. Diagnose keperawatan yang muncul pada pasien yaitu nyeri akut yang berhubungan dengan penyakit kronis. Kesimpulan Berdasarkan analisis pemberian terapi akupuntur efektif untuk menurunkan tingkat nyeri akibat rheumatoid arthritis.
ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PENGARUH PEMBERIAN TERAPI AKUPUNTUR TERHADAP PENURUNAN INTESITAS SKALA NYERI PADA PENDERITA MIGRAIN DIDAWAN USADHA KLUNGKUNG apsari, Ni Kade Ratni gApsari; Kresnayana, Made Yos; Rismayanti, I Dewa Ayu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.53472

Abstract

Migrain merupakan gangguan neurologis yang ditandai sakit kepala berulang disertai mual, muntah, dan sensitivitas sensorik. Prevalensi di Indonesia mencapai 7-10% pada dewasa, lebih tinggi pada wanita. Pengobatan konvensional dengan analgesik sering menyebabkan efek samping dan ketergantungan, sehingga diperlukan terapi non-farmakologis yang aman. Akupunktur sebagai intervensi komplementer dapat mengurangi nyeri melalui pelepasan opioid endogen dan stimulasi titik akupunktur spesifik, namun bukti penerapannya dalam asuhan keperawatan migrain masih terbatas.Studi kasus deskriptif kualitatif dilakukan pada pasien migrain di Dawan Usadha Klungkung. Intervensi akupunktur diberikan selama 30 menit pada titik Yintang (M-HN-3), Drilling Bamboo (B2), Fengchi (GB20), Jian Jing (GB21), Hegu (LI4), dan Zulinqi (GB41). Metode yang digunnakan berupa data dikumpul melalui wawancara pasien lembar observasi keperawatan, dan pengukuran skala nyeri VAS. Hasil Penelitian Intensitas nyeri migrain menurun signifikan dari skala VAS 8/10 menjadi 6/10 pasca-intervensi. Ketegangan otot dan stres berkurang, dengan peningkatan kenyamanan subjektif tanpa efek samping obat. Simpulan Akupunktur efektif sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis untuk mengelola migrain, mendukung integrasi dalam praktik klinis guna meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian lanjutan diperlukan untuk evaluasi efektivitas jangka panjang.
Self-Efficacy and Emotion Regulation as Correlates of Psychological Distress among Family Caregivers of Working-Age Hemodialysis Patients in Indonesia: A Cross-Sectional Study Supriati, Lilik; Sunarto, Muhammad; Nova, Renny; Kapti, Rinik Eko; Rismayanti, I Dewa Ayu
Journal of Applied Nursing and Health Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Applied Nursing and Health
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/janh.v8i1.557

Abstract

Background: The increasing prevalence of chronic kidney disease among working-age populations has heightened psychological distress among family caregivers, especially in low- and middle-income countries. However, the roles of self-efficacy and emotion regulation in influencing this distress remain unclear. This study aimed to examine the relationships between self-efficacy, emotion regulation, and psychological distress among family caregivers of patients undergoing hemodialysis. Methods: This cross-sectional study, reported in accordance with STROBE guidelines, involved 201 family caregivers recruited through convenience sampling to ensure accessibility in hemodialysis settings. Self-efficacy and emotion regulation were independent variables, while psychological distress was the dependent variable. Data were collected using validated and reliable instruments General Self Efficacy Scale (GSE), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), The Kessler Psychological Distress and analyzed using Spearman’s rank correlation tests. Results: The results show significant negative correlations between psychological distress and both self-efficacy (r = −0.346, p < 0.001) and emotion regulation (r = −0.217, p < 0.001). These findings indicate that higher levels of self-efficacy are associated with lower psychological distress. Similarly, better emotion regulation is associated with reduced psychological distress, with self-efficacy demonstrating a stronger association. Conclusion: These findings highlight the importance of psychosocial resources in supporting caregiver well-being in family-centered care contexts. It is recommended to integrate psychological counseling programs for families of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis, along with structured educational interventions emphasizing the importance of emotion management.