Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan antara kualitas tidur dan depresi pada remaja: studi cross sectional Indonesian Family Life Survey 5 Ika Suswanti; Yulia; Inggri Dwi Rahesi; Nurmiwiyati; Khalipatun Sahara
Bahasa Indonesia Vol 24 No 2 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i2.6539

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan mental saat ini menjadi isu yang menarik untuk diteliti khususnya di kalangan remaja. Aspek biologis dan psikososial seringkali menjadi faktor penyebab depresi pada remaja. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dan aktivitas fisik terhadap kejadian depresi pada remaja berdasarkan data sekunder Indonesian Family Life Survey (IFLS) 5.   Metode: Penelitian dengan design studi potong lintang menggunakan data sekunder IFLS-5 pada periode pengumpulan data tahun 2014 sampai 2015 yang melibatkan 3.580 remaja usia 14-19 tahun. Penilaian depresi menggunakan instrument Center for Epidemiological Studies Depression Scale (CESD-10) dengan kategori depresi apabila ditemukan skor lebih dari 10 poin. Variabel lain yang diukur meliputi karakteristik demografi (usia, tempat tinggal, jenis kelamin, tingkat pendidikan), aktivitas fisik, kualitas tidur dan indeks masa tubuh. Untuk melihat hubungan antara faktor risiko dengan kejadian depresi dilakukan analisis secara bivariat menggunakan Chi Square dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Mayoritas subjek penelitian adalah perempuan, tempat tinggal di urban, dan pendidikan SMA. Kejadian depresi pada remaja ditemukan sebesar 30,2%. Secara independen jenis kelamin perempuan, aktivitas fisik berat, serta kualitas tidur yang buruk (p<0,001) berkaitan dengan kejadian depresi pada remaja. Analisis multivariat menujukkan faktor kualitas tidur yang buruk meningkatkan kecenderungan 2,728 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi. Sementara aktivitas fisik rendah meningkatkan 1,655 kali untuk terjadinya depresi pada remaja.   Simpulan: Angka kejadian depresi pada remaja mencapai 30,2%, memperbaiki pola hidup termasuk kualitas tidur dan aktivitas fisik menjadi faktor penting untuk mengurangi kecenderungan kejadian depresi pada remaja. Pentingnya intervensi berbasis pola tidur sehat dan peningkatan aktivitas fisik dalam upaya pencegahan depresi pada remaja.
Identification and Treatment for Depressive Disorder: Descriptive Study from Indonesia Dharmady Agus; Nicholas Hardi; Fransisca Theresia; Aila Johanna; Rima Sisca Fanuela; Ika Suswanti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang in collaboration with Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI Tingkat Pusat) and Jejaring Nasional Pendidikan Kesehatan (JNPK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v21i1.14298

Abstract

Access to professional mental health services was low worldwide, especially in lower-middle-income countries. Indonesia encounters several challenges in providing adequate mental health care. Poor detection could reduce the treatment coverage. This study aimed to determine how many individuals with depression recognize their condition or receive an appropriate diagnosis, as well as the types of treatments they receive. We analyzed secondary data from the Indonesian Family Life Survey 5th edition (IFLS-5), which included socio-demographic data, levels of well-being, subjective experiences of mental health issues, and treatment information. We found that 6,645 respondents (22.8%) exhibited significant depressive symptoms, yet only 15 respondents (0.1%) reported having a lifetime psychiatric disorder that met the criteria for depression. Most lifetime psychiatric diagnoses (LPD) were made by doctors (93.3%). A significant portion of respondents with a history of psychiatric disorders did not receive any treatment (70.5%), and among those who did, medication was the most common approach. There was considerable gap between the identified significant depressive symptoms and LPD, warranting further exploration. Low detection rates and stigma, potentially linked to Indonesian culture and perceptions of mental health, may underlie these issues. A variety of treatment options must be available and accepted to be beneficial for patients.