Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

ANALISIS KONSEP 3A (ATRAKSI, AMENITAS, AKSEBILITAS) DALAM PERENCANAAN PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT: (STUDI KASUS: DESA UMATOOS, KABUPATEN MALAKA) MARIUS YOSEF SERAN; Septian Hutagalung; Roseven Rudiyanto; Laurensius Sandrio; Ida Ayu Rostini
Jurnal Penelitian Terapan Mahasiswa Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Penelitian Terapan Mahasiswa
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik eLBajo Commodus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to analyze the 3A (attraction, amenity, accessibility) concept of tourism planning development in Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka. This research uses a qualitative method and the key informants are the representatives of related stakeholders which from academician, business, community, local government, and mass media. This study uses field observations, in depth interview, focus group discussion, and literature studies. The result of the study showed the existence of main tourist attractions, alternative attractions, other potential nature and cultural tourism products in the village, also numbers of supporting facilities and accessibilities. There are also some weaknesses and potential threats that can become obstacles in the whole process of CBT’s planning development. Therefore, it is recommended that stakeholders need to collaborate in the whole aspects of planning development.
Strategi Kole Project Dalam Menerapkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Terintegrasi Di Destinasi Wisata Labuan Bajo Roseven Rudiyanto; Trivonia Delfina Lidia
Jurnal Penelitian Terapan Mahasiswa Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Penelitian Terapan Mahasiswa
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik eLBajo Commodus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata merupakan industri yang berkembang. Pertumbuhan industri pariwisata juga diikuti oleh dampak positif dan negatif. Salah satu dari dampak negatif pertumbuhan pariwisata ialah peningkatan produksi sampah. Sampah dan limbah yang dihasilkan dari kegiatan pariwisata dapat dikelola dengan peran masyarakat. Labuan Bajo merupakan destinasi parwisata utama di Indonesia saat ini. Kole Project merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Labuan Bajo. Adapun tujuan penelitian ialah untuk mendeskripsikan strategi Kole Project dalam menerapkan pengelolaan sampah berkelanjutan terintegrasi di Labuan Bajo. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi yang dilakukan oleh Kole Project untuk menerapkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan terintegrasi di Labuan Bajo pada aspek lingkungan dengan terlibat dalam pengumpulan sampah pada kegiatan clean up pantai. Pada aspek ekonomi Kole Project memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan. Pada aspek sosial budaya Kole Project ikut terlibat dalam kegiatan edukasi di instansi pendidikan. Aspek kebijakan atau legalitas Kole Project belum terlibat dalam menyusun peraturan pengelolaan sampah, namun terlibat dalam forum diskusi sesama pegiat lingkungan. Sebagai tambahan, Kole Project juga dapat mengembangkan penerapan pengelolaan sampah berkelanjutan terintegrasi pada industri pariwisata, seperti bekerja sama dengan pihak industri pariwisata lainnya, seperti kapal wisata.
A Comparative Study on MPA’s and OECM’s Conservation Management: Key Findings and Lesson Learned MARIUS YOSEF SERAN; Septian Hutagalung; Kusnanto; Laurensius Sandrio; Roseven Rudiyanto
Jurnal Penelitian Terapan Mahasiswa Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Penelitian Terapan Mahasiswa
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik eLBajo Commodus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21076/jptm.v2i2.129

Abstract

Marine Protected Areas (MPAs) and Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECMs) are two conservation approach models that offer conservation programs through activities related to protecting marine ecosystems and promoting social and economic sustainability issues. and culture. Even though they are two different approaches, they complement each other and have an important role in conservation activities. This study uses a comparative method to analyze the similarities and differences between MPAs and OECDMs. The research results show that these two approaches have the same main goal, namely protecting biodiversity and promoting sustainable ecosystems. Meanwhile, in relation to different aspects, there are several components such as definitions, approaches and implementation mechanisms. MPAs tend to be more focused on protecting specific areas with restrictions on human activity and activities, whereas OECMs offer greater flexibility by integrating conservation in a variety of land and resource use contexts. In terms of conservation objectives, both MPAs and OECDS aim to improve the quality of life of entire ecosystems, protect threatened species, and support local economic sustainability. This can be done through ecotourism and responsible resource management. Thus, the implementation of these two approaches can have a positive impact on all stakeholders involved in conservation and sustainable development.
STRATEGI PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI DESA NUCA MOLAS SEBAGAI DESTINASI UNGGULAN DI KABUPATEN MANGGARAI Roseven Rudiyanto; Linda Welmintje Fanggidae; Aplimon Jerobisonif; Rifat Yoktan Y. Maromon; Thomas Kurniawan Dima; Lodwik Obed Dahoklory
Jurnal Pariwisata Bisnis Digital dan Manajemen Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pariwisata, Bisnis Digital dan Manajemen Periode Mei 2025
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/jasdim.v4i1.6638

Abstract

Nuca Molas Village in Manggarai Regency has strong tourism potential but does not yet have a clear development strategy. This study aims to explore its potential and propose a strategy to make Nuca Molas Village a leading destination in Manggarai Regency. The approach used in this study is qualitative. The data collection techniques are interviews, observations, and documentation. Informants were selected using purposive sampling techniques, reaching seven people. This study identified four main potentials: Natural and cultural attractions, including biodiversity and shipbuilding traditions; Accessibility, because of its location close to Wae Rebo and Labuan Bajo; Amenities, with accommodation and culinary businesses in Dintor, the crossing point to Nuca Molas; and Tourism market, which benefits from tourist visits to Labuan Bajo and Wae Rebo. The strategy must prioritize increasing accessibility, infrastructure development, partnerships, community training, and reactivating tourism awareness groups (Pokdarwis). In addition, integrating tourism products with Wae Rebo and Labuan Bajo can increase visibility and attract more visitors. This research can provide an overview of the development strategy of tourist villages, especially marine tourism. It can be used as a basis for designing tourism development in Nuca Molas Village.
EVALUASI KESIAPAN HOMESTAY DI DESA WAE LOLOS, KABUPATEN MANGGARAI BARAT Roseven Rudiyanto; Laurensius Sandrio; Septian Hutagalung; Marius Yosef Seran; Irna K. J. Kaban
Jurnal Pariwisata Bisnis Digital dan Manajemen Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pariwisata, Bisnis Digital dan Manajemen Periode Mei 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/jasdim.v5i1.8449

Abstract

Homestay memainkan peran penting sebagai produk dalam pariwisata pedesaan. Sering kali, masyarakat belum siap untuk mengelola homestay. Desa Wae Lolos merupakan desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, sehingga memiliki potensi permintaan terhadap layanan homestay. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk menilai kesiapan homestay di Desa Wae Lolos. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara. Data kualitatif dianalisis dengan tiga tahap, yaitu mengidentifikasi data, mengelompokkan data, dan menggabungkan kategori daftar periksa sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima rumah yang diproyeksikan menjadi homestay di Desa Wae Lolos telah siap dari aspek produk. Namun demikian, seluruh rumah yang diteliti masih memerlukan perbaikan fasilitas untuk kenyamanan wisatawan, seperti tempat sampah dan kotak P3K. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat dua faktor yang memengaruhi kesiapan pemilik rumah: pertama, pemilik rumah yang tinggal di rumah yang diproyeksikan sebagai homestay; kedua, belum adanya kunjungan wisatawan yang konsisten dan menginap di Desa Wae Lolos. Kondisi ini menunjukkan fasilitas homestay difokuskan pada aspek fungsional. Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, khususnya jumlah rumah yang relatif kecil sebagai sampel. Berdasarkan keterbatasan tersebut, peneliti mendorong studi lanjutan untuk melibatkan lebih banyak pemilik homestay. Selanjutnya, metode kuantitatif dapat digunakan dalam penelitian berikutnya untuk mengukur kepuasan wisatawan terhadap layanan homestay di Desa Wae Lolos.
Determination Of The Feasibility of Tourism Villages In West Manggarai Regency Rudiyanto, Roseven; Januar, Anggi
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 4, No 1 (2021): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April Edition)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v4i1.32004

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study is to assess the readiness of the two villages proposed by the Regional Government of West Manggarai Regency (Wae Sano and Wae Lolos Villages) as a tourism village using an instrument compiled through focus group discussions with stakeholders in the field of tourism village development. Therefore, the local government intend to promoting cultural attraction as an effort to reduce negative impacts at Labuan Bajo and at the same time equalize the positive impacts of tourism. The approach of quantitative descriptive method was used on data obtained through focus group discussions and observations to test the readiness of a village to become a tourist village. The data analysis technique uses the interval interpretation technique, in which there are three interval categories. The results of this study indicate that there are six variables assessed in the tourism village assessment instrument, namely 1) attractions (nature and culture), 2) accessibility, 3) amenities (public facilities and tourism support), 4) institutions and society, 5) strategy. marketing, and 6) industry. Based on the results of the study, it can be concluded that the Wae Sano villages and Wae Lolos villages can be included in the category "can be recommended to become a tourist village with a note". This is due to records in several aspects, such as amenities, marketing strategies, and industry in the two villages.Keywords: Amenities, Cultural Attractions, Institutional and Community, Tourism Village Determination, West Manggarai,
Tinjauan Penerapan Konsep Destinasi Pariwisata Berkelanjutan (Studi Kasus: Kabupaten Manggarai Barat): Review of the Implementation of the Sustainable Tourism Destination Concept (Case Study: West Manggarai Regency) Rudiyanto, Roseven; Cahyani , Elisabeth Klara Sekar
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol. 16 No. 2 (2025): September
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/khasanah.v16i2.3398

Abstract

Kabupaten Manggarai Barat dengan Labuan Bajo menjadi destinasi pariwisata super prioritas yang menerapkan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan membutuhkan pemantauan yang menyeluruh. Salah satu standar dan pedoman yang dapat digunakan sebagai pemantauan penerapan pariwisata berkelanjutan pada suatu wilayah ialah Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 9 Tahun 2021 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang telah mengadaptasi perubahan pada Standar Pariwisata Berkelanjutan kriteria destinasi yang dikeluarkan oleh Global Sustainable Tourism Council (GSTC). Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan penerapan konsep pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat. Selain itu, penelitian ini diharapkan akan menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan untuk meningkatkan upaya dalam penerapan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat. Penelitian ini menggunakan metode mix method exploratory design procedures. Data dikumpulkan melalui serangkaian wawancara dan kemudian dianalisis menggunakan skala penilaian 1 hingga 4, mengadaptasi dari Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) yang awalnya digunakan untuk mengevaluasi desa wisata. Analisis data difokuskan pada struktur Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang terdiri dari empat bagian, yaitu 1) Pengelolaan Berkelanjutan, 2) Keberlanjutan Sosial Ekonomi, 3) Keberlanjutan Budaya, dan 4) Keberlanjutan Lingkungan. Kabupaten Manggarai Barat telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super prioritas dan memiliki citra pariwisata berkelanjutan sehingga dibutuhkan instrumen monitoring dan evaluasi terstandarisasi. Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan ini dapat dijadikan sebagai instrumen monitoring dan evaluasi upaya pemenuhan konsep pariwisata berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Barat. Penerapan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat telah mencakup seluruh bagian dari Pedoman Pariwisata Berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan dan kajian yang telah dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan. Namun demikian, penelitian ini memiliki tantangan, yaitu ketersediaan data yang terdokumentasi sebagai pemenuhan indikator pada Pedoman Pariwisata Berkelanjutan.