Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Efektivitas Konseling MPASI Terhadap Pengetahuan Ibu Pada Bayi Usia 6–12 Bulan di Posyandu Karangsari Bekasi 2025 Marlinda; Neneng Julianti; Ida Widaningsih; Deni Alamsah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.334

Abstract

Latar Belakang: Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6–12 bulan. MPASI harus diberikan sesuai waktu, jenis, tekstur, dan porsi yang dianjurkan agar dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi secara optimal. Namun, kenyataannya masih banyak ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai praktik pemberian MPASI, sehingga berisiko menimbulkan masalah gizi maupun hambatan tumbuh kembang anak. Upaya edukasi melalui konseling kesehatan di posyandu diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan ibu terkait pemberian MPASI yang benar. Tujuan: Menganalisis pengaruh konseling MPASI terhadap pengetahuan ibu dalam memberikan MPASI pada bayi usia 6–12 bulan. Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimen menggunakan pendekatan one- group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan di Posyandu Karang Sari 9, Cikarang Timur, pada tahun 2025 dengan jumlah responden sebanyak 30 ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan, dipilih melalui total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup berjumlah 20 item. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebelum diberikan konseling, sebagian besar responden memiliki pengetahuan dalam kategori cukup (46,6%) dan kurang (36,7%). Setelah konseling, terjadi peningkatan pengetahuan, dengan 66,7% responden berada pada kategori baik. Hasil analisis uji t menunjukkan rata-rata skor pengetahuan ibu meningkat dari 64,17 (SD = 13,651) pada pretest menjadi 84,17 (SD = 7,686) pada posttest, dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini membuktikan bahwa konseling MP- ASI berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang MP-ASI pada bayi usia 6–12 bulan di Posyandu Karang Sari tahun 2025. Kesimpulan: Konseling MPASI terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pemberian MPASI pada bayi usia 6–12 bulan. Intervensi ini dapat dijadikan strategi edukasi dalam program posyandu untuk mendukung praktik pemberian MPASI yang tepat.
Nuget the Heart Banana in the Production of Breastfeeding and Better Performance Posyandu Cadres in the work area of Puskesmas Mekar Mukti Armi, Armi; Setiawan, Yana; Alamsah, Deni
Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 21, No 2 (2021): Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sb.01230

Abstract

Breast milk is best food for babies being easy to digest and containing the nutrients (corresponding the baby) for growth, immunity and prevent various diseases and to wit baby, safe and guaranteed sanitation to avoid of indigestion such as diarrhea, vomiting and forth.The lack of coverage of the breastfeeding in the society can overcome by the provision of training to sub district primary health care cadres related food products that would improve the quality and quantity of breastfeeding. The banana is common in food consumption, optimal in the use of alternative. Needs to be developed to improve the other products from the heart of bananas, by processing nuget bananas into the shape of a heart.Training to sub district primary health care cadres done by health workers, because cadres are a power governmental organizations that trained by the energy in order to help improve public health in the community. Hopefully this can return apply cadre training given to pregnant women and lactating women in their working area.The outer covering of a planned in the event of the banana and video making heart nuget nuget banana heart. Activities through several stages, the licensing, FGD with key related activities, trial making nuget banana heart, training and making nuget heart on to the bananas.
Gambaran Penyelenggaraan Makanan pada Rumah Tangga di Desa Pasir Gombong Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Puspasari, Kiki; Asmi, Nur Fauzia; Alamsah, Deni
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.220-226

Abstract

Latar Belakang: Penyelenggaraan makanan yaitu proses memasak yang dimulai dari perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, perencanaan anggaran belanja, pengadaan, penyimpanan serta penerimaan bahan makanan. Rumah tangga merupakan penyelenggaraan makanan tingkat keluarga yang paling sederhana. Berbeda dengan penyelenggaraan makanan institusi yang menerapkan standar operasional produksi (SOP) dan aturan yang berlaku, pada tingkat rumah tangga tidak terdapat hal seperti itu. Tidak ada pengawasan ketat proses pengolahan makanan pada tingkat rumah tangga, maka yang dapat mengatur yaitu ibu atau orang yang bertugas memasak di dalam rumah tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran penyelenggaraan makanan pada tingkat rumah tangga di Desa Pasir Gombong Kecamatan Cikarang Utara Kabupetan Bekasi. Metode: Metode pada penelitian menggunakan desain cross-sectional study, tempat penelitian di Desa Pasir Gombong, dimulai pada bulan Oktober 2022, responden pada penelitian ini berjumlah 94 orang. Variabel yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu karakteristik responden, persiapan bahan makanan, pengolahan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, dan penyajian bahan makanan dengan menganalisis menggunakan SPSS. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif untuk melihat gambaran penyelenggaraan makanan pada tingkat rumah tangga. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu, rumah tangga di Desa Pasir Gombong telah menerapkan proses penyelenggaraan makanan dengan baik. Proses persiapan bahan makanan dilakukan oleh responden dengan mempersiapkan terlebih dahulu sebelum memasak, penyimpanan bahan makanan disimpan di tempat tertutup dan memisahkan bahan kering dan segar, reponden lebih senang menumis dibandingkan menggoreng dan merebus. Penyajian makanan langsung disajikan setelah memasak dan kebisaan makan keluarga sering dilakukan terutama pada malam hari. Kesimpulan: Penyelenggaraan pada tingkat rumah tangga terdiri dari persiapan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan bahan makanan sampai ke penyajian bahan makanan. Pada tingkat rumah tangga penyelenggaraan makanan lebih sederhana dibandingkan penyelenggaraan makanan pada tingkat institusi yang memiliki SOP dan aturan. Perlu diberikan edukasi mengenai penyelenggaraan makanan yang baik pada tingkat rumah tangga dengan melibatkan petugas kesehatan setempat
Analisis kandungan siklamat, metanil yellow dan rhodamin b pada makanan dan minuman di Cikarang Nurpratama, Widya Lestari; Kinayungan, Utami Putri; Alamsah, Deni; Sanjaya, Dandi; Asmi, Nur Fauzia; Heryanda, Mahfuzhoh Fadillah
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 6, No 3 (2025): Nopember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v6i3.2660

Abstract

Background: Food Additives (BTP) are substances that are intentionally added to improve food quality without providing nutritional value, examples of BTP are artificial sweeteners and dyes such as cyclamate, metanil yellow, and rhodamin B which focus on identifying their content in food and beverages in Cikarang. The research was conducted in Cikarang, which is an area with high population density and rapid economic activity.Objectives: Analyzing the content of cyclamate, metanil yellow, and rhodamine B in food and beverages in Cikarang.Methods: The experimental research design used accidental sampling with a sample size of 20 for the cyclamate test, 15 for the rhodamine B and methanyl yellow tests. Sampling was tested directly with the Test Kit brand labstest for the cyclamate, metanil yellow, and rhodamine B tests carried out at the Integrated Chemistry Laboratory at Suherman Medika University. Data collection was carried out in April 2025. Data analysis was carried out descriptively, namely showing the percentage of food and beverage content containing artificial sweeteners cyclamate and dyes metanil yellow and rhodamine B.Results: The results of the study showed that of the 20 samples tested for cyclamate, 7 samples were positive (35%) indicated by the presence of white sediment in the sample, 15 samples tested for metanil yellow did not contain metanil yellow in the sample, and 15 samples tested for rhodamine B, 2 samples were positive (13,3%) indicated by a pink color change in the sample.Conclusion: The results of the study confirmed that there were indications of the content of artificial sweeteners cyclamate, and dyes metanil yellow, and rhodamin B in several samples of food and beverages sold in the Cikarang area.
Edukasi cemilan sehat dengan metode emotional demonstrasi pada kader di wilayah Puskesmas Mekar Mukti Asmi, Nur Fauzia; Sanjaya, Dandi; Nurpratama, Widya Lestari; Kinayungan, Utami Putri; Alamsah, Deni
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34492

Abstract

Abstrak Kabupaten Bekasi merupakan wilayah kawasan industri dengan pola hidup instan dan cepat saji yang dapat menjadi faktor risiko kejadian penyakit degeneratif. Apabila hal ini tidak diatasi dapat mengakibatkan penyakit kronis  seperti obesitas, diabetes, jantung, stroke. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian permasalahan gizi maka perlu pemberian edukasi pada berbagai kalangan salah satunya adalah kader. Peran kader menjadi agen penggerak  dan penerus informasi yang paling dekat dengan masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi tentang cemilan sehat menggunakan metode emotional demonstrasi pada kader dan memberikan ide olahan cemilan sehat. Metode kegiatan menggunakan emotional demonstrasi merupakan salah satu metode pemberian edukasi dengan penyajian yang menarik dan berperan aktif sehingga tidak bosan dalam penyampaian edukasi. Sasaran dalam kegiatan ini adalah Kader Posyandu di Wilayah Puskesmas Mekarmukti sebanyak 31 orang yang diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus 2025. Pelaksanaan kegiatan dilakukan tiga tahapan yaitu pertama pengumpulan dan pengkajian data, tahap kedua adalah pemberian edukasi menggunakan metode emotional demonstrasi dan tahap ketiga adalah demonstrasi cara pembuatan cemilan sehat. Hasil dari kegiatan ini adalah kader antusias mengikuti kegiatan edukasi menggunakan metode emotional demonstrasi dan kegiatan demontrasi cemilan cehat berupa kue lumpur ubi ungu dan snack ubi ungu berjalan dengan lancar. Kegiatan edukasi dengan metode emotional demontrasi dapat menjadi alternatif pemberian edukasi bagi kader. Kata kunci:  edukasi; kader; cemilan sehat; emotional demonstrasi Abstract Bekasi Regency is an industrial area with an instant and fast food lifestyle that can be a risk factor for degenerative diseases. If this is not addressed, it can lead to chronic diseases such as obesity, diabetes, heart disease, stroke. Therefore, to prevent the occurrence of nutritional problems, it is necessary to provide education to various groups, one of which is cadres. The role of cadres is to be the driving agent and information forwarder closest to the community. The aim of this activity is to provide education about healthy snacks using the emotional demonstration method to cadres and provide ideas for healthy snack preparations. The method of activity using emotional demonstration is one method of providing education with an interesting presentation and playing an active role so that they do not get bored in delivering education. The target of this activity is Posyandu Cadres in the Mekarmukti Health Center Area as many as 31 people which was held on August 29, 2025. The implementation of the activity was carried out in three stages, namely the first data collection and review, the second stage was providing education using the emotional demonstration method and the third stage was a demonstration of how to make healthy snacks. The results of this activity showed that cadres enthusiastically participated in educational activities using the emotional demonstration method. The demonstration of healthy snacks, such as purple sweet potato mud cake and purple sweet potato snacks, went smoothly. Educational activities using the emotional demonstration method can be an alternative way to provide education for cadres. Keywords: education; cadres; healthy snacks; emotional demonstration
Edukasi dan pelatihan kader tentang kandungan pemanis buatan dan pewarna sintesis dalam makanan dan minuman di wilayah Puskesmas Mekarmukti Nurpratama, Widya Lestari; Alamsah, Deni; Sanjaya, Dandi; Kinayungan, Utami Putri; Asmi, Nur Fauzia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34480

Abstract

Abstrak Meningkatnya konsumsi makanan dan minuman olahan yang mengandung Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pemanis buatan dan pewarna sintesis di wilayah Puskesmas Mekarmukti menjadi masalah penting dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat. Tujuan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu tentang kandungan pemanis buatan dan pewarna sintesis pada makanan dan minuman. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan tentang penggunaan pemanis buatan dan pewarna sintesis pada makanan dan minuman dengan menggunakan media leaflet, kemudian dilanjutkan dengan praktik pengujian kandungan pemanis buatan dan pewarna sintesis pada makanan dan minuman, dan sesi diskusi dan tanya jawab untuk memperdalam pemahaman kader posyandu tentang topik yang dibahas. Sasaran pada kegiatan ini 34 kader posyandu Desa Pasir Gombong yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti. Kegiatan ini dilakukan di Aula Desa Pasir Gombong. Hasil kegiatan yaitu kader posyandu memiliki pengetahuan yang baik tentang bahaya pemanis buatan dan pewarna sintesis, kemudian dapat mengedukasi masyarakat tentang penggunaan pemanis buatan dan pewarna sintesis yang aman. Program PkM ini diharapkan dapat menjadi program pemberdayaan kader yang dapat mendukung meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekitar sehingga masyarakat Desa Pasir Gombong memiliki kesadaran yang lebih baik tentang bahaya pemanis buatan dan pewarna sintesis. Kata kunci: pemanis buatan; pewarna sintesis; kader; keamanan pangan. AbstractThe increasing consumption of processed foods and beverages containing Food Additives (BTP) such as artificial sweeteners and synthetic dyes in the Mekarmukti Community Health Center area is a significant issue in efforts to maintain public health. The purpose of this community service (PkM) is to improve the knowledge and skills of Posyandu cadres about the content of artificial sweeteners and synthetic dyes in food and beverages. The method used is counseling on the use of artificial sweeteners and synthetic dyes in food and beverages using leaflets, then continued with practical testing of artificial sweeteners and synthetic dyes in food and beverages, and a discussion and question and answer session to deepen the understanding of Posyandu cadres on the topic discussed. The target of this activity is 34 Posyandu cadres in Pasir Gombong Village which is the working area of Mekarmukti Community Health Center. This activity was carried out in the Pasir Gombong Village Hall. The results of the activity are that Posyandu cadres have good knowledge about the dangers of artificial sweeteners and synthetic dyes, then can educate the community about the safe use of artificial sweeteners and synthetic dyes. This PkM program is expected to be a cadre empowerment program that can support improving the health of the surrounding community so that the people of Pasir Gombong Village have a better awareness of the dangers of artificial sweeteners and synthetic dyes. Keywords: artificial sweeteners; synthetic colorants; cadres; food safety.
Edukasi lima kunci keamanan pangan keluarga pada ibu kader posyandu di Puskesmas Mekarmukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi Kinayungan, Utami Putri; Nurpratama, Widya Lestari; Sanjaya, Dandi; Asmi, Nur Fauzia; Alamsah, Deni
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35695

Abstract

AbstrakFenomena keracunan makanan masih banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, melaporkan kejadian keracunan pangan pada siswa SD di Klaten, Jawa Tengah pada 12 Januari 2024 dengan korban sebanyak 111 orang. Di Kabupaten Cianjur, dilaporkan terdapat tujuh kejadian keracunana massal selama bulan Januari hingga Oktober 2024 dengan total korban mencapai 384 orang, dan salah satunya meninggal dunia. Di Cilacap, sebanyak 157 orang dilaporkan mengalami keracunan makanan setelah makan nasi kotak dengan gejala pusing, mual, muntah dan diare. Di Kota Bogor, 93 warga menjadi korban dan 1 meninggal dunia diebabkan oleh keracunan makanan. Sementara di Kabupaten Bekasi sendiri dilaporkan 32 kasus keracunan makanan dan kasus diare sebanyak 20.111 orang pada tahun 2023. Di Puskesmas Mekarmukti, diare menempati posisi ke 8 laporan besar penyakit yang ada di masyarakar. Pengetahuan masyarakat tentang keamanan pangan sangat diperlukan karena pengetahuan menjadi ujung tombak dalam berperilaku. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader mengenai keamanan pangan dan perubahan perilaku dalam memilih dan mengolah makanan secara sehat dan tepat sehingga dapat mencegah kejadaian foodborne desease. Metode yang digunakan yakni ceramah dan pemberian kuesioner pre-test dan post-test. Kata kunci: Edukasi; kader; keamanan pangan; pelatihan; pengetahuan. Abstract The phenomenon of food poisoning still occurs frequently in society. The Indonesian Ministry of Health's Health Crisis Center reported food poisoning among elementary school students in Klaten, Central Java, on January 12, 2024, with 111 victims. In Cianjur Regency, seven mass poisoning incidents were reported between January and October 2024, with a total of 384 victims, including one death. In Cilacap, 157 people reportedly suffered from food poisoning after eating boxed meals, with symptoms including dizziness, nausea, vomiting, and diarrhea. In Bogor City, 93 residents became victims and one died due to food poisoning. Meanwhile, in Bekasi Regency alone, 32 cases of food poisoning and 20,111 cases of diarrhea were reported in 2023. At the Mekarmukti Community Health Center, diarrhea ranked eighth among the major reported diseases in the community. Public awareness of food safety is crucial because it is the spearhead of behavior. The goal of this activity is to increase cadres' knowledge about food safety and change their behavior in selecting and preparing food healthily and appropriately to prevent foodborne diseases. The methods used include lectures and pre- and post-test questionnaires. Keywords: education; cadres; food safety; training; knowledge.
TINJAUAN KELAYAKAN PENERAPAN PRINSIP HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT (HACCP) PADA ALUR PENYELENGGARAAN MAKANAN LAUK HEWANI DI RS SENTRA MEDIKA CIBINONG Zalianty, Maharani; Alamsah, Deni; Nur Fauzia Asmi; Sanjaya, Dandi; Nurpratama, Widya Lestari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6770

Abstract

Penyelenggaraan makanan lauk hewani di rumah sakit berisiko tinggi kontaminasi, sehingga memerlukan sistem preventif seperti Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Penelitian ini bertujuan meninjau kelayakan penerapan prinsip HACCP pada alur penyelenggaraan makanan lauk hewani di Instalasi Gizi RS Sentra Medika Cibinong. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, populasi meliputi proses dan personel instalasi gizi, dengan sampel purposive informan kunci seperti kepala instalasi dan petugas pengolahan. Instrumen mencakup pedoman observasi, wawancara semi-terstruktur, dan checklist dokumen; analisis data tematik dengan triangulasi dan NVivo. Hasil menunjukkan kelayakan tinggi HACCP di setiap tahap (penerimaan, penyimpanan, pengolahan, penyajian, distribusi) didukung SOP, fasilitas pendingin, dan pengawasan higiene, meski ada kendala pelatihan personel. Kesimpulan menyatakan RS Sentra Medika siap implementasi HACCP untuk tingkatkan keamanan pangan pasien rentan.
Faktor–faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi di Desa Sindangsari Tahun 2025: Factors Related to The Provision Of Basic Immunization to Infants In Sindangsari Village In 2025 Rahma, Rosmala; Kania Fatdo Wardani, Ika; Alamsah, Deni; Kurnia Sugiharti, Rosi
Jurnal Kebidanan Besurek Vol. 10 No. 2 (2025): JULI-DESEMBER
Publisher : Program Studi D III Kebidanan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jkb.v10i2.834

Abstract

Imunisasi dasar lengkap (IDL) berperan penting dalam mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada bayi. Meskipun program imunisasi telah dilakukan secara luas, cakupan IDL di wilayah Puskesmas Cabangbungin belum mencapai target nasional 100%, hanya sebesar 94% pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi dasar pada bayi di desa Sindangsari. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 9–12 bulan di desa Sindangsari. Sebanyak 60 responden ditetapkan sebagai sampel melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Odds Ratio. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan, pendidikan, usia, pekerjaan, dukungan tenaga kesehatan, dan dukungan keluarga dengan pemberian imunisasi dasar (p < 0,05). Ibu dengan pengetahuan baik, pendidikan tinggi, usia <30 tahun, tidak bekerja, serta mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan dan keluarga, cenderung lebih melengkapi imunisasi dasar bayinya. Penelitian ini menekankan pentingnya peran Puskesmas, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung imunisasi dasar, serta perlunya penelitian lanjutan yang lebih luas.
Pelatihan Kader tentang Pembuatan Cookies Berbahan Dasar Pangan Lokal (Ikan Bandeng dan Kacang Merah) sebagai Makanan Tambahan Tinggi Protein Dandi Sanjaya; Nur Fauzia Asmi; Deni Alamsah; Widya Lestari Nurpratama; Utami Puteri Kinayungan
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/91at3539

Abstract

Masalah gizi, terutama stunting pada balita masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Prevalensi stunting nasional tahun 2023 tercatat 21,5%, dan Kabupaten Bekasi termasuk daerah dengan angka tinggi (23,2%). Salah satu upaya pencegahan adalah pemanfaatan pangan lokal bergizi seperti ikan bandeng dan kacang merah sebagai bahan makanan tambahan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam pencegahan stunting melalui pelatihan pembuatan cookies tinggi protein berbahan pangan lokal. Mitra sasaran kegiatan adalah 33 kader posyandu di Desa Pasir Gombong. Metode pelaksanaan meliputi edukasi gizi dan demonstrasi pembuatan cookies dengan media leaflet, pre–post test pengetahuan, serta diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dari 73% menjadi 88% pada kategori “Baik” setelah intervensi, serta respons positif terhadap inovasi cookies ikan bandeng dan kacang merah sebagai alternatif pemberian makanan tambahan (PMT). Kegiatan ini efektif memperkuat kapasitas kader posyandu sebagai agen promosi gizi berbasis pangan lokal untuk mendukung pencegahan stunting secara berkelanjutan.