Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

ANALYSIS OF POTENTIAL HAZARDS IN MACHINE MAINTENANCE USING THE JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) METHOD : CASE STUDY PT XYZ Arista, Tipani; Fitriani, Fitriani; Fadillah, Mardi; Farisni, Teungku Nih; Siahaan, Perry Boy Chandra
HEARTY Vol 13 No 5 (2025): OKTOBER
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v13i5.20978

Abstract

The increasing number of work accidents has recently become a global issue, especially in the cement industry. Work accidents occur due to potential hazards and potential risks in the workplace, this is a serious problem that can have an impact on worker safety and health, productivity, and operational efficiency of the company. Therefore, identification of potential hazards and control needs to be done to reduce or even eliminate the potential for work accidents and occupational diseases. This study aims to analyze and identify potential hazards and control potential hazards in machine maintenance work at the Rawmill Unit of PT XYZ using the Job Safety Analysis (JSA) method. This research is a qualitative research with a case study approach using the Job Safety Analysis (JSA) method. By using purposive sampling technique, a total of 4 informants were obtained. The data collection techniques used are observation and interviews. Data analysis used is semi-quantitative based on (AS/NZS 4360: 2004). Based on the results of the study, it is known that each stage of machine maintenance work has varying potential hazards. Through the hazard identification process, five categories of hazard factors were found, namely physical, chemical, biological, ergonomic, and psychological hazards, with a total of 31 identified hazard sources. The risk assessment results show that there are 18 potential risks at a high risk level (High Level) or 58%, 7 potential risks at a medium level (Medium Level) of 23%, and 6 potential risks at a low level (Low Level) of 19%. The most dominant potential hazards in machine maintenance work include the hazards of being pinched, crushed, electrocuted, exposed to welding flares, bumped, exposed to dust, exposed to chemicals, and broken tools that can hit the worker's body. The recommendations for control efforts that can be made are based on the control hierarchy, namely Substitution, Engineering Control, Administrative Control, and Personal Protective Equipment (PPE).
Analisis Spasial Kejadian Tuberkulosis di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2023 Septatia, Yuni; Safrizal, Safrizal; Fadillah, Mardi; Ernawati, Ernawati; Darmawan, Darmawan
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 04 (2025): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan pemicu utama morbiditas dan mortalitas global. Indonesia menduduki peringkat kedua setelah India dengan kasus TB tertinggi di dunia. Di provinsi Aceh, angka kesakitan TB meningkat 1.467 setiap tahunnya hingga 2023, dan di Kabupaten Aceh Barat tercatat 290 kasuus pada tahun 2022. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan hubungan spasial kasus TB dengan kepadatan penduduk, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) skala rumah tangga dan rumah sehat di Kabupaten Aceh Barat tahun 2023. Metode yang digunakan adalah kuantitatif analitik, studi ekologi dengan analisis spasial. Populasi dan sampel penelitian ini ialah jumlah kasus TB di setiap kecamatan yang tercatat di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2023. Analisis dilakukan dengan menggunkaan Sofware Ms. Excel. QGIS, dan Geoda. Hasil analisis menunjukkan autokorelasi positif dengan pola spasial mengelompok (Moran’s I = 0,027) antara kepadatan penduduk dengan kejadian TB. Berdasarkan Uji BiLISA menujukkan hubungan spasial antara kejadian TB dengan kepadatan penduduk, PHBS rumah tangga dan rumah sehat. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi P value 0,05.
Analisis Masalah Kesehatan Program Pencegahan Penyakit HIV/AIDS Di Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Tahun 2018 Febriyanti, Febriyanti; Kusumawardani, Eva Flourentina; Nugroho, Agung; Paradhiba, Meutia; Fadillah, Mardi; Putra, Onetusfifsi; Harahap, Laila Apriani Hasanah; Saputra, Firman Firdauz; Siahaan, Perry Boy Chandra; Rimonda, Rubi; Syam, Nasrianti
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i2.3334

Abstract

HIV/AIDS adalah masalah serius di Kabupaten Blitar dengan lonjakan kasus AIDS pada tahun 2017 (120 kasus) dibandingkan 2016 (160 kasus). Meski HIV mengalami penurunan, cakupan pengobatan ARV rendah (33,75% pada 2016 dan 50% pada 2017) karena kejenuhan dan persepsi kesembuhan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data dari Dinas Kesehatan Blitar (2014-2017) dan wawancara pemegang program HIV. Temuan menunjukkan prioritas kesehatan lain seperti hipertensi, diabetes, gangguan mental, kanker serviks, tuberkulosis dan demam berdarah. Demam berdarah dan HIV/AIDS adalah masalah utama menurut kriteria Urgency, Seriousness, Growth (USG). Diperlukan komitmen dalam memberikan konseling sebelum ARV, melibatkan Pengawas Minum Obat dan tenaga kesehatan untuk memperbaiki pengendalian ARV.Kata kunci: HIV/AIDS, Blitar, ARV, StigmaHIV/AIDS was a significant concern in Blitar District, with a surge in AIDS cases in 2017 (120 cases) compared to 2016 (160 cases). Although HIV experienced a decline, the ARV treatment coverage remained low (33.75% in 2016 and 50% in 2017) due to both treatment fatigue and the perception of recovery. This research utilized a descriptive method with data obtained from Blitar District Health Office (2014-2017) documents and interviews with HIV program managers. Findings revealed other health priorities such as hypertension, diabetes, mental disorders, cervical cancer, tuberculosis, and dengue fever. Dengue fever and HIV/AIDS were identified as the primary concerns based on Urgency, Seriousness, Growth (USG) criteria. Commitment to counseling before ARV treatment is necessary, involving Drug Adherence Supervisors and healthcare professionals to enhance ARV treatment control.Keywords: HIV/AIDS, Blitar, ARV, Stigma
Hubungan Faktor Sosiodemografi dan Tingkat Konsumsi Suplement Multivitamin Pada Mahasiswa di Kabupaten Sumenep Saputra, Firman Firdaus; Kusumawardani, Eva Flourentina; Fadillah, Mardi; Paradhiba, Meutia; Putra, Onetusfifsi; Rimonda, Rubi; Chandra Siahaan, Perry Boy; Nurhakim, Lukman; Syam, Nasrianti
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v8i2.2562

Abstract

Pandemi Covid-terjadi diseluruh dunia. Salah satu populasi yang memiliki risiko tinggi adalah remaja. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan Covid-19 adalah dengan mengkonsumsi supplement multivitamin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor sosio demografi dan konsumsi supplement multivitamin pada mahasiswa di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan google form dengan total responden yang mengisi kuesioner sebanyak 300 orang. Variable dependent yaitu konsumsi supplement multivitamin. Variable independent yaitu faktor sosio demografi (usia, jenis kelamin, Pendidikan terakhir orang tua, penghasilan bulanan keluarga, pekerjaan orang tua, lokasi tempat tinggal, sumber informasi). Data dianalisis menggunakan regresi logistic sederhana dan regresi logistic berganda. Faktor yang berhubungan dengan konsumsi supplement multivitamin yaitu usia (α 0.000; aOR 1.341), pekerjaan orang tua (α 0.100; aOR 0.729), Pendapatan bulanan keluarga (α 0.001; aOR 3.103) dan sumber informasi yang digunakan remaja untuk mencari informasi mengenai supplement multivitamin (α 0.009; aOR 2.585). Selama pandemic Covid-19 pemerintah perlu menjaga stabilitas harga dan menjaga stock multivitamin agar selalu tersedia dan dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, hal ini karena selama pandemic Covid-19 berlangsung ekonomi masyarakat mengalami dampak yang cukup buruk sehingga menurunkan daya beli masyarakat termasuk remaja.Kata Kunci : Remaja, Sosiodemografi, Konsumsi, Suplement, Covid-19The pandemic of COVID-19 is happening all over the world. One population that has a high risk is teenagers. One of the efforts that can prevent exposure to Covid-19 is taking multivitamin supplements. This study determined the relationship between sociodemographic factors and consumption of multivitamin supplements in students in the Sumenep Regency. This study used a quantitative method with a cross-sectional approach. Data was collected using a google form with 300 respondents who filled out the questionnaire. The dependent variable was the consumption of multivitamin supplements. The independent variables were sociodemographic factors (age, gender, parents' last education, family monthly income, parents' occupations, location of residence, and sources of information). Data were analyzed using simple logistic regression and multiple logistic regression. Factors related to the consumption of multivitamin supplements were age (α 0.000; aOR 1.341), parents' occupation (α 0.100; aOR 0.729), and family monthly income (α 0.001; aOR 3.103), and sources of information used by adolescents to seek information about multivitamin supplements. (α 0.009; aOR 2.585). During the Covid-19 pandemic, the government needs to maintain price stability and maintain a stock of multivitamins so that they are always available and accessible to all people; this is because, during the Covid-19 pandemic, the community's economy has had a bad enough impact, reducing people's purchasing power, including teenagers.Keywords: teenagers, sociodemographic, consumption, supplement, Covid-19
Faktor Keluarga Ibu Terhadap Rerata Berat Bayi Lahir Berdasarkan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia (Analisis Data Ifls 5) Putra, Onetusfifsi; Rimonda, Rubi; Fadillah, Mardi; Kusumawardani, Eva Flourentina; Siahaan, Perry Boy Chandra; Saputra, Firman Firdauz; Paradhiba, Meutia
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.2800

Abstract

Salah satu indeks yang dapat menggambarkan maternal (ibu), kematian bayi dan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat adalah Berat Bayi Lahir. Pada tahun 2013 UNICEF angka BBLR di Indonesia mencapai angka 10,2 persen. Penelitian ini bertujuan untuk efek interaksi antara karakteristik rumah tangga dengan lingkungan terhadap rata-rata berat bayi lahir di Indonesia. Sebuah study srossectional dilakukan dengan melakukan analisis data survei dari IFLS 5 di Indoensia. Variabel yang diukur adalah berat bayi lahir, kemiskinan, sanitasi, pekerjaan, dan pendidikan. Data di analisis secara univariat dan multivariat dengan regresi linear ganda. Hasil analsiis dalam penelitian ini didapatkan bahwa Pendidikan dan pekerjaan merupakan factor risiko terhadap rerata berat bayi lahir. Sedangkan pendidikan merupakan faktor dominan terhadap rata-rata berat bayi lahir pada keluarga. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan merupakan salah satu upaya dalam memperbaiki dan mengoptimalkan bert bayi lahir di Indonesia.Kata Kunci: Berat badan lahir, pendidikan, status bekerja, faktor ibuOne of the indices that described of maternal mortality, infant mortality, and the welfare of a community was birth weight. In 2013, according to UNICEF that rate of low birth weight LBW in Indonesia was 10.2 percent. This study aimed to examine the effect of maternal factors like  household and neighborhood characteristics on average birth weight in Indonesia. A cross-sectional study was conducted by analyzing survey data from IFLS 5 in Indonesia. Variables measured were birth weight, poverty, sanitation, anemia, working status, and education. Data was analyzed univariately and multivariately with multiple linear regression. The results of the analysis in this study found that education and occupation are risk factors for average birth weight, while education was the dominant factor for average birth weight in families. Therefore, improving education is one of the efforts in improving and optimizing the birth weight of babies in IndonesiaKeywords: Birth weight, education, working status, maternal
Evaluasi Sistem Surveilans HIV di Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Tahun 2018 Febriyanti, Febriyanti; Kusumawardani, Eva Flourentina; Paradhiba, Meutia; Fadillah, Mardi; Putra, Onetusfifsi; Saputra, Firman Firdauz; Chandra Siahaan, Perry Boy; Rimonda, Rubi; Syam, Nasrianti
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 8, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v8i2.2516

Abstract

Kasus HIV/AIDS terdapat hampir di semua negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Penyakit ini telah menulari seluruh lapisan masyarakat termasuk bayi dan anak-anak. Perlu adanya kegiatan surveilans rutin untuk melakukan pencatatan dan pelaporan sehingga dapat memonitoring jumlah kasus pada periode waktu tertentu. Kegiatan surveilans  HIV merupakan salah satu cara efektif untuk mengontrol penyebaran kasus HIV/AIDS. Tujuan penelitian: untuk memberikan gambaran evaluasi sistem surveilans HIV berdasarkan komponen sistem dan atribut surveilans di Puskesmas yang berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Metode penelitian: jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi evaluasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara kepada petugas surveilans HIV di Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar dan Puskesmas sejumlah 24 Puskesmas menggunakan kuesioner. Hasil penelitian: berdasarkan komponen sistem surveilans 53,4% petugas surveilans HIV memiliki tingkat Pendidikan D-III Keperawatan dan 6,7% adalah D-I Keperawatan. Pengumpulan, pengisian formulir hingga alur pelaporan dianggap mudah, namun masih terdapat 66,7% terlambat dalam proses input data ke aplikasi SIHA. Proses analisis hanya dilakukan ditingkat Dinas Kesehatan, sedangkan ditingkat Puskesmas tidak. Sistem surveilans HIV di Kabupaten Blitar masih memerlukan perbaikan dalam pengumpulan data, analisis, ketersediaan pedoman surveilans HIV, dan perlunya peningkatan pengetahuan petugas terkait surveilans HIV.Kata Kunci: Surveilans, HIV/AIDS, Komponen, Sistem, PuskesmasCases of HIV/AIDS are found in almost all countries in the world, including Indonesia. This disease has infected all levels of society, including infants and children. There is a need for routine surveillance activities to record and report so that it can monitor the number of cases in a certain period of time. HIV surveillance is an effective way to control the spread of HIV/AIDS cases. The purpose of the study: to provide an overview of the evaluation of the HIV surveillance system based on the components of the surveillance system and attributes at the Puskesmas in the working area of the Blitar District Health Office. Research method: this type of research was a qualitative research with an evaluation study design. Data was collected by interviewing HIV surveillance officers at the Blitar District Health Office and 24 Puskesmas using a questionnaire. The results of the study: based on the components of the surveillance system, 53.4% of HIV surveillance officers had a D-III Nursing education level and 6.7% were D-I Nursing. Collection, filling out forms and reporting flow are considered easy, but there are still 66.7% late in the process of inputting data to the SIHA application. The analysis process is only carried out at the Health Office level, while at the Puskesmas level it is not. The HIV surveillance system in Blitar Regency still needs improvements in data collection, analysis, availability of HIV surveillance guidelines, and the need to increase staff knowledge regarding HIV surveillance. Keywords: Surveillance, HIV/AIDS, Components, Systems, Puskesmas
Gambaran Pelaksanaan Surveilans HIV di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 Kusumawardani, Eva Flourentina; Paradhiba, Meutia; Fadillah, Mardi; Putra, Onetusfifsi; Saputra, Firman Firdauz; Siahaan, Perry Boy Chandra; Rimonda, Rubi; Harahap, Laila Apriani Hasanah; Syam, Nasrianti
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.2977

Abstract

Kasus HIV/AIDS terdapat hampir di semua negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Penyakit ini telah menulari seluruh lapisan masyarakat termasuk bayi dan anak-anak. Perlu adanya kegiatan surveilans rutin untuk melakukan pencatatan dan pelaporan sehingga dapat memonitoring jumlah kasus pada periode waktu tertentu. Kegiatan surveilans  HIV merupakan salah satu cara efektif untuk mengontrol penyebaran kasus HIV/AIDS. Tujuan penelitian: untuk memberikan gambaran evaluasi sistem surveilans HIV berdasarkan komponen sistem dan atribut surveilans di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Metode penelitian: jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi evaluasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara kepada petugas surveilans HIV di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sejumlah 3 orang menggunakan kuesioner. Hasil penelitian: berdasarkan komponen sistem surveilans 66,7% petugas surveilans HIV memiliki tingkat Pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat peminatan epidemiologi dan 33,3% adalah S2 Kesehatan Masyarakat. Pengumpulan, pengisian formulir hingga alur pelaporan dianggap mudah, dan tidak mengalami keterlambatan dalam proses input data ke aplikasi SIHA. Proses analisis hanya dilakukan ditingkat Dinas Kesehatan, sedangkan ditingkat Puskesmas tidak. Sistem surveilans HIV di Kabupaten/Kota di wilayah kerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur masih memerlukan perbaikan dalam analisis, ketersediaan pedoman surveilans HIV, dan perlunya peningkatan pengetahuan petugas terkait surveilans HIV.Kata Kunci: Surveilans, HIV/AIDS, Komponen, SistemHIV/AIDS cases exist in almost every country worldwide, including Indonesia. This disease has affected all segments of society, including infants and children. Regular surveillance activities are needed to record and report cases, enabling the monitoring of the number of cases over specific periods of time. HIV surveillance is an effective method to control the spread of HIV/AIDS cases. The aim of this study was to provide an evaluation of the HIV surveillance system based on its components and surveillance attributes in the East Java Provincial Health Office. This qualitative study employed an evaluation study design. Data collection involved interviews with three HIV surveillance officers in the East Java Provincial Health Office, using a questionnaire. The results of the study revealed that 66.7% of the HIV surveillance officers possessed a bachelor's degree in Public Health with a specialization in epidemiology, while 33.3% held a master's degree in Public Health. The data collection, form completion, and reporting processes were considered easy, with no delays in inputting data into the SIHA application. The analysis process was only conducted at the Provincial Health Office level and not at the Primary Health Center level. The HIV surveillance system in the districts and cities within the jurisdiction of the East Java Provincial Health Office still requires improvement in terms of analysis, availability of HIV surveillance guidelines, and the need for increased knowledge among surveillance officers regarding HIV surveillance..Keywords: Surveillance, HIV/AIDS, Components, Systems
Faktor yang Berhubungan dengan Praktik Pemberian Vaksin Rabies dalam Upaya Pengendalian Penyakit Rabies di Kabupaten Limapuluh Kota Fadillah, Mardi; Paradhiba, Meutia; Putra, Onetusfifsi; Kusumawardani, Eva Flourentina; Saputra, Firman Firdauz; Siahaan, Perry Boy Chandra; Rimonda, Rubi
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.2796

Abstract

Rabies merupakan salah satu permasalahan kesehatan secara global yang bersifat zoonosis dengan Case Fatality Rate (CFR) 100%. Pada umumnya rabies ditemukan di negara-negara berkembang terutama di Asia dan Afrika. Upaya pengendalian rabies dapat dilaksanakan jika cakupan vaksinasi tercukupi khususnya di daerah endemik rabies. Pemberian vaksin rabies terhadap Hewan Penular Rabies (HPR) merupakan salah satu upaya yang sangat penting dilakukan masyarakat khususnya pemilik HPR. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian vaksin rabies terhadap HPR. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur serta wawancara langsung dengan total responden sebanyak 90 orang. Variabel dependent pada penelitian ini yaitu praktik pemberian vaksin pada HPR. Variabel independent yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, lokasi tempat tinggal, kegunaan HPR, jumlah dan jenis HPR, pengetahuan, status pemeriksaan kesehatan HPR, himbauan dinas kesehatan/kepala desa, dan mengikuti penyuluhan. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik sederhana dan regresi logistik berganda. Faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian vaksin rabies yaitu lokasi tempat tinggal (α=0.013; OR=4.05; 95%CI=1.34-12.30) dan status pemeriksaan kesehatan HPR (α=0.000; OR=10.29; 95%CI=3.09-34.65). Dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang bermakna terhadap variabel usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, jenis HPR, dan himbauan petugas kesehatan/kepala desa dan mengikuti penyuluhan.Kata Kunci: Rabies, Vaksinasi, Praktik, Kab. Limapuluh KotaRabies is a global health problem and zoonotic with case fatality rate (CFR) of 100%. Rabies is commonly found in developing countries, especially in Asia and Africa. Rabies control efforts can be implemented if vaccination coverage is sufficient, especially in rabies endemic areas. Rabies vaccination for rabies-transmitting animals is one of the most important measures taken by the public, especially rabies-transmitting animals owners. The aim of this study was to determine the factors associated with the practice of rabies vaccination for rabies-transmitting animals. This study used a cross sectional approach. Data were collected using structured questionnaires and direct interviews with a total of 90 respondents. The dependent variable in this study was the practice of vaccination for rabies-transmitting animals. The independent variables were age, gender, education, occupation, location of residence, use of rabies-transmitting animals, number and type of rabies-transmitting animals, knowledge, rabies-transmitting animals health checks status, appeals from the health office/village head, and attending counseling. Data were analyzed using simple logistic regression and multiple logistic regression tests. Factors associated with rabies vaccination were location of residence (α=0.013; OR=4.05; 95%CI=1.34-12.30) and rabies-transmitting animals health check status (α=0.000; OR=10.29; 95%CI=3.09-34.65). In this study, there was no significant association between the variables of age, gender, education, occupation, knowledge, type of rabies-transmitting animals, appeal of health workers/village head, and attending counseling.Keywords: Rabies, Vaccination, Practice, Limapuluh Kota District