Roeroe, Kakaskasen Andreas
Universitas Sam Ratulangi

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

Kondisi terumbu karang di pulau Salawati kabupaten Raja Ampat Papua Barat Sagai, Bonnke; Roeroe, Kakaskasen; Manembu, Indri
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.2.2017.15947

Abstract

Terumbu karang adalah suatu ekosistem di laut dangkal tropis, di mana unsur penyusun utamanya karang batu, dengan berbagai biota lainnya yang hidup berasosiasi di dalamnya. Fenomena alam dan berbagai kegiatan antropogenik mengancam kesehatan maupun keberadaan terumbu karang. Pengambilan data dilakukan dengan metode UPT (Underwater Photo Transect) atau Transek Foto Bawah Air dilakukan dengan pemotretan bawah air menggunakan kamera digital yang diberi pelindung (housing). Analisis gambar dengan menggunakan piranti software CPCe (Coral Point Count with Excel extensions). Hasil penilaian kondisi kesehatan terumbu karang ditiga  Stasiun di Pulau Salawati, tutupan terumbu karang di setiap Stasiun adalah sebagai berikut, Stasiun 1 55,13% termasuk dalam kategori baik, Stasiun 2 15,80% termasuk dalam kategori buruk, dan Stasiun 3 18,20% termasuk dalam kategoti buruk.
Sebaran spasial foraminifera bentik pada terumbu karang Pulau Bunaken Sulawesi Utara Paringgi, Ezra; Mamuaja, Jane; Rampengan, Royke; Ompi, Medy; Roeroe, Kakaskasen; Rembet, Unstain
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.20118

Abstract

Foraminifera diklasifikasikan ke dalam Kingdom Protista, masuk dalam Filum Protozoa dan didefinisikan sebagai organisme bersel tunggal yang hidup secara akuatik (terutama di laut), mempunyai satu atau lebih kamar yang terpisah satu sama lain oleh sekat (septa) yang ditembusi oleh banyak lubang halus (foramen). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan foraminifera bentik yang ditemukan pada Pulau Bunaken dan menyajikan sebaran spasial dari masing-masing kelompok fungsional dan genus foraminifera bentik, serta menganalisis kualitas lingkungan perairan berdasarkan komposisi foraminifera bentik.  Teridentifikasi 37 spesies foraminifera bentik dari 20 Genus yang tersebar pada 6 stasiun pengambilan sampel. Genus-genus tersebut terdiri dari : Amphistegina, Archaias, Baculogypsina, Calcarina, Heterostegina, Marginopora, Peneroplis, Planorbulinella, Sorites, Eponides, Pyrgo, Quinqueloculina, Rotorbis, Textulariina, Spiroloculina, Triloculina, Elphidium, Ammonia, Polymorphiniina dan Neorotalia. Hasil perhitungan FoRAM Index (FI) pada daerah penelitian lebih besar dari 4 yaitu berkisar dari 7.75 hingga 9.06.
KERAGAMAN SUBSTRAT BAGI NUDIBRANCH DI SELAT LEMBEH Yehezkiel S.P.H. Marpaung; Medy Ompi; Indri Manembu; Kakaskasen A. Roeroe; N. Gustaf F. Mamangkey; Lucky Lumingas
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.2.2019.24144

Abstract

Research on the diversity of nudibranch substrates was carried out in Lembeh Strait at 3 locations, at Nudifall, Makawide, and Nudiritrit.  The purpose of the researchs 1) to discover the nudibranch species at Nudifall, Makawide, Nudiritrit in the Lembeh Strait. 2) to knowing the substrate occupied by nudibranchs in the Lembeh Strait. 3) to knowing the overlapping substrate that was occupied by the nudibranch. Subtrates can to be used by nudibranches to get food sources, shelter from predators, and as a place to live. Nudibranch species found in the Lembeh Strait were 19 species in this study. Dead Coral with Algae (DCA), sponges, algae, hard coral, and tunicates were the types of substrate where nudibranches live in the Lembeh Strait The most dominant or overlapping substrate between types of nudibranchs was Dead Coral with Algae. Keywords : Nudibranch, Substrate, Lembeh Substrate diversity of nudibranch at Lembeh Strait            Penelitian mengenai keragaman substrat nudibranch dilakukan di Selat Lembeh pada 3 lokasi yaitu Nudifall, Makawide, dan Nudiritrit.  Tujuannya yaitu 1) mengetahui jen nudibranch di Nudifall, Makawide, Nudiritrit di Selat Lembeh. 2) mengetahui substrat yang ditempati nudibranch di Selat Lembeh. 3) mengetahui substrat yang tumpang tindih (overlap) yang ditempati oleh nudibranch. Subtrat dapat dimanfaatkan oleh nudibranch untuk mendapatkan sumber makanan, tempat berlindung dari predator, dan sebagai tempat tinggal.  Jenis nudibranch yang ditemukan di Selat Lembeh ada 19 spesies dalam penelitian ini.  Dead Coral with Algae (DCA), spons, alga, hard coral, dan tunikata merupakan substrat-substrat tempat hidup nudibranch di Selat Lembeh. Substrat yang paling dominan atau tumpang tindih antar jenis dari nudibranch adalah DCA. Kata kunci : Nudibranch, Substrat, Lembeh.
KELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KERAGAMANNUDIBRANCHIA DI NUDIFALL DAN NUDIRETREAT SELAT LEMBEH, SULAWESI UTARA Pricilia OM Ompi; Farnis B Boneka; Medy Ompi; Joice S Rimper; Kakaskasen A Roeroe; Alex D Kambey
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.2.2019.24239

Abstract

Nudibranchia are known as marine invertebrates that have uniq colors and body shapes. The research was conducted in Nudifall and Nudiretreat, Lembeh Strait, North Sulawesi. The aims of this study were 1) to identify the species of Nudibranchia in both locations, 2) to know the abundance of Nudibranchia in those locations, 3) to determine distribution patterns of nudibranchia, and to know diversity of Nudibranchia in both Nudifall and Nudiretreat. The results show that 11 species of Nudibranchia were found in both Nudifall and Nudiretreat. The species of Chromodoris annae, Chromodoris magnifica, Flabellina expotata, Goniobranchus fidelis, Halgerda batangas, and 1 unidentified species were found in Nudifall, while the species of Goniobranchus geometricus, Glossidoris cincta, Phylllidia ocelata, Phylllidia varicose, Nembrotha rutilans were found in Nudiretreat. H. batangas was found to be the highest abundance, then it was followed byC. annae, C. magnifica, G. fidelis, unidenfied species (species-1), and C. magnificain Nudifall. P. ocelatawas found to be the highest abundance, then it was followed by G. geometricus, G. cincta, P. varicose, andN. Rutilans  in Nudiretreat.  Nudibranchia in both locations wasidentified to have random and grouped distribution pattern. Nudibranchia was found to have the same diversity among Nudifall and Nudiretreat. Factors affecting abudance, distribution patterns, and diversity were discuss in this paper.Keywords: Nudibranchia, Distribution, Abudance, Lembeh Strait. Nudibranchia dikenal sebagai avertebrata laut yang memiliki warna unik dan bentuk tubuh yang bervariasi. Penelitian ini di lakukan di Nudifall dan Nudiretreat, Selat Lembeh, Sulawesi Utara.   Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi jenis-jenis nudibranchia di lokasi Nudifall dan Nudiretreat, 2) mengetahui kelimpahan jenis-jenis Nudibranchia di kedua lokasi, 3) mengetahui pola distribusi jenis-jenis Nudibranchia di lokasi Nudifall dan Nudiretreatdi, 4) dan keragaman Nudibranchia di Nudifall dan Nudiretreat. Ada 11 jenis Nudibranchia ditemukan di kedu lokasi penelitian.Nudibranchia yang ditemukan di Nudifall ada 6 jenis, yaitu Chromodoris annae, Chromodoris magnifica, Flabellina expotata, Goniobranchus fidelis, Halgerda batangas, dan 1  spesies belum teridentifikasi (spesies-1). Nudibranchia yang ditemukan di Nudiretreat ada 5  jenis,yaitu Goniobranchus geometricus, Glossidoris cincta, Phylllidia ocelata,  Phylllidia varicose, Nembrotha rutilans. H. batangas memiliki kelimpahan yang tinggi, kemudian diikuti oleh C. annae, C. magnifica, G.fidelis, spesies-1, dan C. magnifica.di Nudifall.P. ocelata memiliki rata-rata tertinggi, selanjutnya diikuti oleh G. geometricus, G. cincta, P. varicose, dan N. Rutilans di Nudiretreat.Pola sebaran acak dan berkelompok teridentifikasi pada kedua lokasi.udibranchia teridentifikasi memiliki keragaman yang sama di kedua lokasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelimpahan, distribusi, dan keragaman didiskusikan pada tulisan ini.Kata kunci: Nudibranchia, Distribusi, Kelimpahan, Selat Lembeh.
KOMUNITAS ASCIDIA DI PESISIR MALALAYANG DUA, TELUK MANADO, SULAWESI UTARA Adrianus Malintoi; Inneke F M Rumengan; Kakaskasen A Roeroe; Veibe Warouw; Ari B Rondonuwu; Medy Ompi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.8.1.2020.27403

Abstract

Field survey on ascidian community was conducted along the coastal area of Malalayang Dua in order to find out species of ascidia, species abundance, and ascidian substrates. A survey method and quadrant transects were applied. Pictures were taken, while species and their substrates were sampled.  Species identification was based on morphological characteristics, while substrate type identification was based on ascidian species attachment.  The results shows that 21 ascidian species were found in the the coastal of Malalayang Dua.  Didemnum molle was the highest abundant species in the area, followed by Polycarpa aurata, Polycarpa sp.4. and Polycarpa sp.2.. Dead coral algaes (DCA) were found to be the most preferred  substrates by ascidians in the area. Keywords : ascidia, species, substrate, distribution, and abundance Survei lapangan terhadap komunitas ascidia dilakukan  di pesisir Malalayang Dua untuk mendapatkan data jenis, kelimpahan, dan substrat ascidia.  Metode yang digunakan yaitu metode survei jelajah dan transek kuadran. Identifikasi jenis ascidia dilakukan berdasarkan karakteristik morfologi.  Hasil penelitian ditemukan ada 21 jenis ascidia.  Substrat jenis death coral algae (DCA) merupakan substrat yang paling banyak ditempati ascidia. Kelimpahan ascidia tertinggi adalah Didemnum molle di pesisir Malalayang Dua, diikuti oleh Polycarpa aurata,   Polycarpa sp.4. dan Polycarpa sp.2. Death coral alga (DCA) ditemukan sebagai substrat yang paling disukai oleh ascidia di daerah itu. Kata Kunci : ascidia, spesies, substrat, distribusi, dan kelimpahan  
KOMPOSISI NEMATOSIT KARANG FUNGIA, Cycloseris vaugani DARI TERUMBU KARANG PANTAI MALALAYANG, MANADO Adelin M Sagrang; Carolus P Paruntu; Billy Theodorus Wagey; Kakaskasen A Roeroe; Medy Ompi; Adnan Wantasen
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.9.3.2021.36068

Abstract

The purpose of this study was to determine the composition of nematocysts in the body tissue of the coral fungia, C. vaugani.  The location for the collection of C. vaugani colonies was on the coral reefs of the Malalayang coastal area, Manado. This research was carried out in September - December 2020. The observation of nematocysts of C. vaugani was carried out using an Olympus CX41 microscope with a magnification of x100 objective lens which connected to a computer monitor equipped with an optical view 7 application at the Fish Health Environment and Toxicology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, UNSRAT.  The present results showed that C. vaugani had a composition of nematocysts, namely type I microbasic p-mastigophore (MpM-I) of 40.00%, small type II microbasic p-mastigophore (sMpM-II) of 31.11%, small holotrichous isorhizas (sHI) of 24.44 %, large type II microbasic p-mastigophore (lMpM-II) of 2.22%, and large holotrichous isorhizas (IHI) of 2.22%.  sMpM-II is the most dominant nematocyst type of C. vaugani and this type of nematocyst is thought to be used by coral for aggression and killing prey or predator if there is disturbance from the surrounding aquatic environment where the coral lives.  Further research is recommended to study the types and morphology of nematocyst from various species of coral fungia, including C. vaugani to understand the differences in their types and dimension of the nematocyst. Keywords: Composition, Cycloseris vaugani, Fungia, Manado, nematosit
KAJIAN KONDISI KESEHATAN PADANG LAMUN DI PERAIRAN MOKUPA KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA Marthen Bongga; Calvyn F A Sondak; Deisle RH Kumampung; Kakaskasen A Roeroe; Sandra Olivia Tilaar; Joudy Sangari
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.9.3.2021.36519

Abstract

Seagrass ecosystems services in the coastal waters are included as primary producers, nutrient recycler, bottom stabilizers, sediment traps, and erosion barriers. Gleaning fisheries in seagrass bed in Mokupa waters could cause damage on seagrass, that can be marked by changes in seagrass cover. The purposes of this study were to identify the types of seagrasses and to determine the health condition of seagrass bed ecosystem in Mokupa waters. The research method used in this study is quadrat transect method. Data collection was carried out by laid three transects (100 m) with distance between each transect was 50 m. A square frame (50×50 cm2) which is divided into 4 squares is placed on the right side of the transect, with 10 m distance between frame. This study found four types of seagrasses, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halodule pinifolia and Halophila ovalis. E. acoroides have the highest percentage cover (16.19%) followed byT. hemprichii (6.91%), H. pinifolia (4.50%) and H. ovalis (1.56%) respectively. Seagrass cover in the study area is considered medium (26-50%) while the health condition was poor (29.25%).
TRANSPLANTASI KARANG BATU BERCABANG DI PERAIRAN TANJUNG PAPUTUNGAN Carolus Paulus Paruntu; Febrianto Mudul; Kakaskasen A. Roeroe; Medy Ompi; Sandra O. Tilaar; Adnan S. Wantasen
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.52805

Abstract

The formation of coral reefs is a long and complex process. The process of forming coral reefs begins with the attachment of various lime-producing biota on a hard substrate. Coral reefs take quite a long time to recover and are highly dependent on water conditions. Until now, pressures caused by human activities such as pollution from land and destructive fisheries practices have been considered a major threat to coral reefs. Efforts to overcome damage to coral reef ecosystems can be done by developing coral transplantation techniques. In response to this, the research wiil apply the method of artificial reefs from concrete blocks as a container for the installation of colonies of Acropora formosa spesies and Porites cylindrica spesies. A total of 75 branched coral colonies were transplanted in the waters of 75 branched coral colonies were transplanted in the waters of the Paputungan cape 39 colonies of branched growth forms of Acropora form and 36 colonies of branched grotwth forms of Porites cylindrica spesies were transplanted in artificial reef units. Data collection in the field in the form colonies that were successfully transplanted into artificial reef units totaling 6 units will be documented using cameras from each block taken perpendicular pictures and photographing colonies from earch artificial reef unit. The results of the shoot were then analyzed using software of the Image-J application. At the end of the observation process, it was found that the highest resistence of transplane colonies was 97.2 % where there were 35 surviving colonies and 1 dead colony out of a total of 36 colonies transplanted by Porites cylindrica spesies. Meanwhile, observations found that the lowest resistnce of transplant colonies that survived and 13 colonies that died out of a total of 39 colonies transplanted by acropora formosa spesies. Acropora formosa has a relatively fast increase compared to Porites cylindrica spesies. The highest accretion was dominated by the 18.05 mm fragment-size Acropora formosa spesies at the end of the sixth lunar observation.Keywords: Restoration, transplantation, Branching Coral, Tanjung Paputungan, North Minahasa ABSTRAKTerbentuknya terumbu karang merupakan suatu proses yang lama dan kompleks. Proses terbentuknya terumbu karang dimulai dengan penempelan berbagai biota penghasil kapur pada substrat yang keras. Terumbu karang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih kembali dan sangat tergantung dari kondisi perairan. Hingga kini, tekanan yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti pencemaran dari daratan dan praktek perikanan yang merusak telah dianggap sebagai ancaman utama untuk terumbu karang. Upaya penanggulangan kerusakan ekosistem terumbu karang dapat dilakukan dengan menggembangkan teknik transplantasi karang (coral transplantation). Menanggapi hal tersebut, maka dalam penelitian kali akan menerapkan metode terumbu buatan dari blok beton sebagai wadah untuk pemasangan koloni spesies Acropora formosa dan spesies Porites cylindrica. Sebanyak 75 koloni karang bercabang yang di transplantasi di perairan tanjung Paputungan 39 koloni bentuk pertumbuhan bercabang spesies Acropora formosa dan 36 koloni bentuk pertumbuhan bercabang spesies Porites cylindrica ditransplantasikan pada unit terumbu buatan. Pengambilan data dilapangan berupa Koloni yang berhasil di transplantasi ke unit terumbu buatan berjumlah 6 unit akan didokumentasikan menggunakan kamera dari tiap-tiap blok di ambil gambar tegak lurus dan memotret koloni dari masing-masing unit terumbu buatan. Hasil pemotretan tersebut selanjutnya dianalisa menggunakan sofware atau aplikasi Image-J. Akhir proses pengamatan ditemukan bahwa ketahanan koloni transplan tertinggi yaitu 97,2 % dimana terdapat 35 koloni yang bertahan hidup dan 1 koloni yang mati dari total 36 koloni yang di transplantasi spesies Porites cylindrica. Sedangkan pengamatan ditemukan bahwa ketahanan koloni transplan terendah yaitu 66,6 % dimana terdapat 26 koloni yang bertahan hidup dan 13 koloni yang mati dari total 39 koloni yang di transplantasi spesies Acropora formosa. Acropora formosa mempunyai pertambahan relatif cepat di bandingkan janis Porites cylindrica. Pertambahan paling tinggi didominasi oleh spesies Acropora formosa ukuran fragmen 18,05 mm di akhir pengamatan bulan keenam.Kata Kunci: Restorasi, Transplantasi, Karang bercabang, Tanjung Paputungan, Minahasa Utara
STRUKTUR KOMUNITAS EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA BORGO KECAMATAN BELANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA (Community Structure of Ecosystem Seagrass Beds in Water of Borgo Village, Belang District, Southeast Minahasa Regency) Agung J. Losung; Carolus P. Paruntu; Billy Th. Wagey; Kakaskasen A. Roeroe; Fitje Losung; Hariyani Sambali
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53078

Abstract

This research was conducted in the coastal waters of Borgo Village, Belang District, SoutheastMinahasa Regency using the line transect method adopted by the Seagrass Watch method. This studyaims to determine the community structure and physical-chemical environmental factors of seagrassbeds in the waters of Borgo Village, Belang District, Southeast Minahasa Regency. The results of thisstudy obtained 3 types of seagrass identified in the waters of Borgo Village, namely: Enhalus acoroides,Thalassia hemprichii, and Syringodium isoetifolium, with an average value of species density belongingto scale 2 with a density level of 25-75 ind/m2 which is included in sparse density conditions (11.99individuals/m2); the average value of relative concealment is classified as less rich/less healthy(33.34%); the species index is included in the low category, namely H'<1 (0.68); the uniformity index isincluded in the large/high category (0.33) the dominance index is included in the medium category(0.75). The parameter value of pH 8.00 is in the range of quality standard values while the temperatureof 32.00° C, brightness of 0.29 m, and salinity of 29.98 o/oo are not in the range of quality standardvalues.Keywords: Seagrass Community Structure, Species Composition, Borgo Village Waters ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir perairan Desa Borgo, Kecamatan Belang,Kabupaten Minahasa Tenggara dengan menggunakan metode metode line transect yang diadopsidengan metode SeagrassWatch. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas danfaktor lingkungan fisika-kimia padang lamun di perairan Desa Borgo, Kecamatan Belang, KabupatenMinahasa Tenggara. Hasil penelitian ini memperoleh 3 jenis lamun yang terindentifikasi di perairanDesa Borgo yaitu: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium, dengan nilairata-rata kerapatan jenis tergolong dalam skala 2 dengan tingkat kerapatan 25-75 ind/m2 yangtermasuk dalam kondisi kerapatan jarang (11,99 individu/m2); nilai rata-rata penutupan relatif jenistergolong kurang kaya/kurang sehat (33,34%); indeks keanekaragaman jenis termasuk dalam kategorirendah yaitu H’<1 (0,68); indeks keseragaman termasuk dalam kategori besar/tinggi (0,33) indeksdominansi termasuk dalam kategori sedang (0,75). Nilai parameter pH 8,00 berada pada kisaran nilaibaku mutu sedangkan suhu 32,00° C, kecerahan 0,29 m dan salinitas 29,98 o/oo tidak berada padakisaran nilai baku mutu.Kata kunci: Struktur Komunitas Lamun, Komposisi Jenis, Perairan Desa Borgo
KELIMPAHAN dan KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG di DAERAH TERUMBU KARANG PULAU LIHAGA LIKUPANG MINAHASA UTARA Clive Griffen Coloay; Joshian N. W. Schaduw; Janny D. Kusen; Kakaskasen A. Roeroe; Indri Manembu; Ari B. Rondonuwu
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54945

Abstract

Lihaga Island is located in West Likupang District, North Minahasa Regency. When the Likupang area has been designated as a Special Economic Zone (SEZ), and one of the five super priority tourist destinations based on Government Regulation Number 84 of 2019. This indicates that the waters of Lihaga Island will become a diving tourism destination. Data on the abundance and diversity of reef fish in these waters need to be known. The method used in this research is the Underwater Visual Census. The data obtained is then analyzed for abundance index, diversity index, uniformity index and dominance index using the Microsoft Excel program. The results show that reef fish in the waters of Lihaga Island are categorized as abundant, according to Djamali and Darsoono. (2005) with the number found > 50 individuals, dominated by the species Chromis margaritifer from the family Pomacentridae or commonly known as 'damselfishes'. The results of the analysis were based on the total number of reef fish recorded at 3 observation stations, namely the abundance index scored 1,780 ind/m2, the diversity index was in the high category with a value of H`>3.0 which was 3.15, then the uniformity index was included in the unstable category with a value <0.75. which is 0.73 and the dominance index value is categorized as low with a value of 0.10 or <0.50. Keywords: Likupang, Lihaga Island, reef fish, underwater visual census. ABSTRAK Pulau Lihaga terletak di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Saat wilayah Likupang telah ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan salah satu dari lima destinasi wisata super prioritas berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2019. Mengindikasikan perairan Pulau Lihaga akan menjadi destinasi wisata selam. Data mengenai kelimpahan dan keanekaragan ikan karang di perairan ini perlu untuk diketahui. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah Sensus Visual Bawah Air, Data yang didapatkan kemudian dianalisis indeks kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menggunakan program microsoft excel.Hasil penelitian menunjukan bahwa ikan karang di perairan Pulau Lihaga dikategorikan melimpah, menurut Djamali dan Darsoono (2005) dengan jumlah yang di temukan >50 ekor yang didominasi oleh spesies Chromis margaritifer dari famili Pomacentridae atau biasa dikenal dengan nama’damselfishes’. Hasil analisis berdasarkan jumlah total ikan karang yang terdata di 3 stasiun pengangamatan yaitu Indeks kelimpahan mendapat nilai sebesar 1.780 ind/m2, Indeks keanekaragaman masuk dalam kategori tinggi dengan niali H`>3.0 yaitu 3.15, kemudian indeks keseragaman masuk dalam kategori labil dengan nilai <0.75 yaitu 0.73 dan nilai indeks dominansi yang dikategoorikan rendah dengan nilai 0.10 atau < 0,50. Kata kunci: Likupang, Pulau Lihaga, ikan karang, sensus visual bawah air
Co-Authors , Esther D. Angkouw Adelin M Sagrang Adnan S. Wantasen Adnan Wantasen Adrianus Malintoi Agung J. Losung Alex D Kambey Antonius P Rumengan Antonius P. Rumengan Ari B Rondonuwu Ari B Rondonuwu, Ari B Ari B. Rondonuwu Ari B. Rondonuwu Billy Th. Wagey Billy Theodorus Wagey Billy Theodorus Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P Paruntu Carolus P. Paruntu Carolus Paulus Paruntu Carolus Paulus Paruntu Chatrien A.L. Sinjal Clive Griffen Coloay Coloay, Clive Griffen Darwasito, Suria Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deisle RH Kumampung Edwin D Ngangi Ekel, Jouvan Randy Erly Y. Kaligis Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farrel J. G. Wagiu Febrianto Mudul Fitje Losung Fitje Losung Frans Lumuindong Fransine B. Manginsela Hariyani Sambali Ibrahim Pakaya Indri Manembu Indri Manembu Indri Manembu Inneke F M Rumengan Janny D Kusen Janny D. Kusen Janny D. Kusen Joice R. T. S. L. Rimper Joice R.T.S.L Rimper Joice S Rimper Jonglan Balumpapung Joshian N. W. Schaduw Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joudy Sangari Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Khristin I.F. Kondoy Kristofel Ramo Poli’i Lenak, Maria Magdalena Lidya Magdalena Lintang, Rosita Anggreiny J Losung, Agung Lucky Lumingas M. Alaksmar Djohar Mamangkey, Noldy G.F Mamuaja, Jane M. Manengkey, Hermanto Wem Kling Mangindaan, Remy Mantiri, Desy M. H Marthen Bongga Maryen, Yakob Oskar Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi N. Gustaf F. Mamangkey N. Gustaf F. Mamangkey Natalie D. C. Rumampuk Oli, Aris Putra Paringgi, Ezra Podung, Thania Theresia Pricilia OM Ompi Rampengan, Royke Rembet, Unstain Ridwan Lasabuda Roeroe, Wailan Sagai, Bonnke Sambali, Hariyani Sandra O. Tilaar Sandra Olivia Tilaar Sandra Tilaar Stephanus V Mandagi Stephanus V. Mandagi Sumual, Sarah S. Veibe Warouw Veibe Warouw Vinsensius V. Makawaehe Yehezkiel S.P.H. Marpaung