Roeroe, Kakaskasen Andreas
Universitas Sam Ratulangi

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Marine Waste Analysis And Abundance of gastropods In Mangrove Ecosystem Tongkaina, North Sulawesi M. Alaksmar Djohar; Farnis B. Boneka; Joshian N. W. Schaduw; Stephanus V. Mandagi; Kakaskasen A. Roeroe; Deiske A. Sumilat
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27597

Abstract

This study aims to analyze the relation of marine debris to gastropods in the mangrove ecosystem. This research was conducted from October to December 2019 in the Tongkaina mangrove forest. The method used in this research is the line transects method with 2 different stations. Then do the data analysis of waste density, gastropod abundance index, frequency, diversity index, uniformity, and dominance. Then, analyzing a simple linear regression and correlation is performed to see the relationship between marine debris and gastropod abundance in a mangrove ecosystem. The results showed that the highest inorganic marine debris in the Tongkeina mangrove ecosystem is plastic and followed by cloth, wood, metal and the least was glass. The species of Gastropods found in the mangrove ecosystem are Littoraria scabra, Nerita undulata and Terebralia sulcata. The highest abundance of gastropod species was found at station 2 in transects 1 by Littoraria scraba. The results of the linear regression analysis show that there is a relationship between waste and abundance of gastropods. The increasing amount of waste, lower the abundance of gastropods. Where the correlation value is -0.20506.Keywords: Correlation; Marine debris; Gastropods; Mangrove Ecosystem. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis  hubungan  sampah laut terhadap gastropoda di ekosistem mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai Desember 2019 di hutan mangrove Tongkaina.  Metode yang digunakan adalah metode line transek dengan 2 stasiun berbeda. Kemudian dilakukan analisa data kepadatan sampah, indeks kelimpaha gastropoda, frekuensi, indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominasi. Selanjutnya dilakukan analisa regresi lineier sederhana serta korelasi untuk melihat hubungan yang terjadi antara sampah dan kelimpahan gastrooda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah anorganik jenis plasik yang tertinggi di ekosistem mangrove pantai Tongkaina diikuti sampah jenis Kain, Kayu, Logam dan yang paling sedikit adalah sampah jenis kaca. Jenis gastropoda yang ditemukan di ekosistem mangrove yaitu Littoraria scabra, Nerita undulata dan Terebralia sulcata. Nilai kelimpahan jenis gastropoda tertinggi terdapat di stasiun 2 di transek 1 oleh Littoraria scraba. Hasil analisa regresi linier menunjukan bahawa ada hubungan yang terjadi  antara sampah dan kelimpahan gastropoda yang dilihat dari anlisis regresi linier sederhana. Semakin meningkatnya jumlah sampah maka semakin rendah kelimpahan gastropoda. Dimana nilai korelasinya sebesar -0.20506.Kata Kunci : Korelasi; Sampah Laut; Gastropoda; Ekosistem Mangrove.
Diversity of Coral Genus Scleractinia in Tidung Island Waters, Seribu Islands, DKI Jakarta Province Ekel, Jouvan Randy; Manembu, Indri Shelovita; Manengkey, Hermanto Wem Kling; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Ompi, Medy; Sambali, Hariyani
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.34917

Abstract

Coral reefs are one of the most productive and diverse ecosystems on earth and provide ecosystem services. One of the islands of the Seribu Islands that has a coral reef ecosystem is Tidung Island. It is strategic and developing location makes this island used as a residential area, conservation area, and tourist destination. But the utilization has an impact on the damage of coral reefs through environmental and anthropogenic pressures. This study aims to determine coral diversity by identifying the coral genus Scleractinia and the factors that affect coral diversity. Observations were done on three different stations include 2 snorkeling areas and 1 natural area. The method used is LIT (Line Intercept Transect) and coral genus identification with Coral Finder Toolkit Indo Pacific 3.0. The results of identification obtained 16 coral genera namely genus Acropora, Montipora, Isopora, Favites, Leptastrea, Favia, Goniastrea, Montastrea, Platygyra, Echinopora, Porites, Pocillopora, Stylophora, Ctenactis, Pavona, dan Symphyllia, with the value of Diversity Index (H') in the waters of Tidung Island ranges from 0.94 – 2.34  in the category of low to moderate diversity. The parameters of water quality in Tidung Island, temperature, salinity, and acidity (pH) are relatively good for coral growth, but brightness is still relatively poor for coral growth. The impact of human activities such as snorkeling, ship anchors, fishing with destroyers, oil and waste pollution, and rock mining are factors that affect coral growth and diversity.Keywords: Coral Scleractinia; Limiting Factors; Coral Finder; Tidung IslandAbstrakTerumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling produktif dan beragam di bumi serta menyediakan jasa ekosistem. Salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Seribu yang memiliki ekosistem terumbu karang yaitu Pulau Tidung. Letaknya yang strategis dan berkembang menjadikan pulau ini dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, daerah konservasi, dan kawasan tujuan wisata. Namun dari pemanfaatan tersebut memberikan dampak terhadap kerusakan pada terumbu karang melalui tekanan-tekanan lingkungan maupun antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman karang dengan mengidentifikasi genus karang Scleractinia dan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman karang. Pengamatan di tiga stasiun berbeda yaitu di antaranya 2 kawasan wisata snorkeling, dan 1 kawasan yang masih alami. Metode yang digunakan yaitu LIT (Line Intercept Transect) dan identifikasi genus karang dengan Coral Finder Toolkit Indo Pasific 3.0. Hasil identifikasi didapatkan 16 genus karang yaitu genus Acropora, Montipora, Isopora, Favites, Leptastrea, Favia, Goniastrea, Montastrea, Platygyra, Echinopora, Porites, Pocillopora, Stylophora, Ctenactis, Pavona, dan Symphyllia, dengan nilai Indeks Keanekaragaman (H’) di perairan Pulau Tidung berkisar 0,94 – 2,34 berada pada kategori keanekaragaman rendah hingga sedang. Parameter kualitas perairan di Pulau Tidung, suhu, salinitas, dan derajat keasaman (pH) tergolong baik bagi pertumbuhan karang, namun kecerahan masih tergolong kurang baik bagi pertumbuhan karang. Dampak aktivitas manusia seperti snorkeling, jangkar kapal, penangkapan ikan dengan alat perusak, pencemaran minyak dan sampah, serta penambangan batu karang menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan keanekaragaman karang.
Coral Reef Conditions in Bahowo Waters Tongkaina, Sub District Bunaken, Manado North Sulawesi Podung, Thania Theresia; Roeroe, Kakaskasen A.; Paruntu, Carolus P.; Ompi, Medy; Schaduw, Joshian N. W.; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37239

Abstract

Coral reefs are coastal ecosystems with the highest level of diversity with about one million species worldwide and are habitats for assemblages of millions of polyps that produce limestone to form their skeletons and develop into vast expanses of colonies. Corals are invertebrates belonging to the phylum Coelenterata (hollow animals) or Cnidaria. In order to preserve the coral reef ecosystem in the future in the Bahowo area, quantitative data is needed that can explain/describe the condition of coral reefs. The purpose of this study was to determine the condition of coral reefs, in this case, data on coral cover and associated biota in Bahowo waters. The data collection of this research used the UPT (Underwater Photo Transect) method. Analysis of the data in the form of research images using the CPCe (Coral Point Count with Excel extensions) application. The results of the analysis of the condition of coral reefs in Bahowo waters are in the damaged/bad category with live coral cover percentage data of 16.33%.Keywords: Live coral cover; Underwater photo transect (UPT); Coral reef condition; Bahowo watersAbstrakTerumbu karang merupakan ekosistem pesisir dengan tingkat keanekaragaman tertinggi dengan jumlah sekitar satu juta spesies di seluruh dunia dan merupakan habitat bagi kumpulan dari berjuta-juta hewan polip yang menghasilkan zat kapur membentuk skeletonnya dan berkembang menjadi hamparan koloni yang luas.  Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria.  Dalam rangka pelestarian ekosistem terumbu karang ke depan di daerah Bahowo, maka dibutuhkan data kuantitatif yang dapat menjelaskan/menggambarkan tentang kondisi terumbu karang.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang, dalam hal ini data tutupan karang dan biota asosiasi di perairan Bahowo.  Pengambilan data penelitian ini menggunakan metode UPT (Underwater Photo Transect).  Analisis data berupa gambar penelitian menggunakan aplikasi CPCe (Coral Point Count with Excel extensions).  Hasil analisa kondisi terumbu karang di perairan Bahowo masuk dalam kategori rusak/buruk dengan data presentase tutupan karang hidup sebesar 16,33%.Kata kunci: Tutupan karang hidup; Underwater photo transect (UPT); Kondisi terumbu karang; Perairan Bahowo
Study Of Hard Coral (Scleractinia) Recruitment In The Molas Waters, Manado City Oli, Aris Putra; Roeroe, Kakaskasen A; Paruntu, Carolus P; Kusen, Janny D; Manembu, Indri S; Mandagi, Stephanus V
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37489

Abstract

Coral recruitment is the entry of new coral individuals into coral reef populations due to reproduction or migration. Juvenile coral is the result of metamorphosis and growth of coral planula measuring 5 cm and attached to certain substrates. There are two types of substrates in the waters, stable substrates and unstable substrates such as rubble. The purpose of this study was to study hard coral recruitment, both in terms of density, the composition of juvenile coral colony types, size, and the type of substrate occupied by juvenile corals. This research was conducted in August 2021 in the waters of Molas, Bunaken District, Manado City. The method used for site selection is the purposive sampling method and data collection using a sampling method with quadrant transects. The results showed that the density of coral recruitment at the study site was 8,43 colonies/m2. The percentage of juvenile coral attachment on stable substrates is 90% and 10% on unstable substrates. The average size of juvenile corals at the study site was 2.4cm. The composition of the juvenile coral genus found at the research site were corals of the genus Acropora, Anacropora, Coeloseris, Cycloseris, Cyphastrea, Echinopora, Favites, Fungia, Galaxea, Goniastrea, Isopora, Leptastrea, Leptoseris, Lobophyllia, Merulina, Montastrea, Montipora, Oulophyllia, Pachyseris, Pavona, Platygyra, Plasiastrea, Pocillopora, Porites, Psammocora, Scolymia, Seriatopora, Symphyllia, and Trachyphyllia. Of the entire genus, corals of the genus Porites were dominated by the number of juveniles as many as 36 colonies.Keywords: Molas, coral, recruitment, ScleractiniaAbstrakRekrutmen karang adalah masuknya individu karang baru pada populasi terumbu karang dikarenakan reproduksi ataupun migrasi.  Juvenil karang merupakan bentuk hasil metamorphosis dan pertumbuhan planula karang yang berukuran ≤ 5 cm dan menempel pada substrat tertentu.  Terdapat dua tipe substrat di perairan, substrat yang stabil dan substrat yang tidak stabil seperti pecahan karang (rubble).  Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tentang rekruitmen karang keras, baik dari densitas, komposisi jenis koloni juvenil karang, ukuran, hingga tipe substrat yang ditempati oleh juvenil karang.  Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2021 di perairan Molas Kecamatan Bunaken Kota Manado.  Metode yang digunakan untuk pemilihan lokasi adalah metode purposive sampling dan pengumpulan data menggunakan metode sampling dengan transek kuadran.  Hasil penelitian menunjukan bahwa densitas rekruitmen karang pada lokasi penelitian sebesar 8,43 koloni/m2.  Persentase penempelan juvenil karang pada substrat stabil sebesar 90% dan pada substrat yang tidak stabil sebesar 10%.  Ukuran rata-rata dari juvenil karang pada lokasi penelitian adalah 2,4cm.  Komposisi genus juvenil karang yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah karang genus Acropora, Anacropora, Coeloseris, Cycloseris, Cyphastrea, Echinopora, Favites, Fungia, Galaxea, Goniastrea, Isopora, Leptastrea, Leptoseris, Lobophyllia, Merulina, Montastrea, Montipora, Oulophyllia, Pachyseris, Pavona, Platygyra, Plasiastrea, Pocillopora, Porites, Psammocora, Scolymia, Seriatopora, Symphyllia, dan Trachyphyllia.  Dari keseluruhan genus, didominasi oleh karang genus Porites dengan jumlah juvenil sebanyak 36 koloni.Kata kunci: Molas, karang, rekrutmen, scleractinia
Strategies for Sustainable Use of Seagrass Ecosystem in Coastal Area around Borgo Village, Belang District, Southeast Minahasa Regency Losung, Agung; Paruntu, Carolus Paulus; Wagey, Billy Theodorus; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Losung, Fitje; Sambali, Hariyani
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.49000

Abstract

The objective of this research is to formulate strategies for the sustainable use of the seagrass ecosystem in the coastal area around Borgo Village, Belang District, Southeast Minahasa Regency as a public policy recommendation that can be given to the local regional government. The research method is a survey method with an interview technique using a questionnaire addressed to the heads of relevant agencies as resource persons.  The formulation of priority strategies is analyzed through the following stages: 1) Establishing the vision, mission, and values ​of the organization, 3) Analysis of the strategic environment, 4) Analysis of the final conclusions of internal and external factors, 5) SWOT analysis matrix, and (6) Determining critical success factors through strategic choice analysis. The research results obtained 6 priority strategies, namely: 1) Make academic papers as a data base on: a) coastal and marine resource profiles, b) social, economic and cultural data, and c) legal data and community institutions in the region the coast of Borgo Village and its surroundings; 2) Carry out technical guidance, counseling and outreach to the coastal communities of Borgo Village and its surroundings; 3) Provide guidance to fishermen and input to the government of Southeast Minahasa Regency so that the seagrass ecosystem area on the coast of Borgo Village and its surroundings is not used as a boat mooring location and a location for disposal of marine debris or household waste; 4) Make standard operational procedures on boat moorings, disposal of marine debris, household waste, and marine conservation techniques for the coastal communities of Borgo Village and its surroundings; 5) Empowerment of fishermen or coastal communities in Borgo Village and its surroundings in order to carry out the task of supervising and monitoring coastal and marine resources, as well as fostering the quality and processing of fishery products; and 6) Make a spatial plan for the Minapolitan area in the coastal area of Belang Regency based on Regional Regulation Number 1 of 2017 of North Sulawesi Province. Keywords: Borgo Village, seagrass ecosystem, sustainable use, priority strategy Abstrak Tujuan penelitian adalah merumuskan strategi pemanfaatan berkelanjutan ekosistem padang lamun di pesisir sekitar Desa Borgo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara sebagai rekomendasi kebijakan publik untuk diberikan kepada Pemerintah Daerah setempat.  Metode penelitian adalah metode survei dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner ditujukan kepada pimpinan instansi terkait sebagai narasumber.  Perumusan strategi prioritas dianalisis melalui tahapan: 1) Menetapkan visi, misi dan nilai organisasi, 3) Analisis lingkungan strategis, 4) Analisis kesimpulan akhir faktor internal dan eksternal, 5) Matriks analisis SWOT, dan (6) Menetapkan faktor-faktor kunci keberhasilan melalui analisis pilihan strategis.  Hasil penelitian diperoleh 6 strategi prioritas, yaitu: 1) Membuat naskah akademik sebagai database tentang: a) profil sumber daya pesisir dan laut, b) data sosial, ekonomi dan budaya, dan c) data hukum dan kelembagaan masyarakat di pesisir Desa Borgo dan sekitarnya; 2) Melaksanakan bimbingan teknis, penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat pesisir Desa Borgo dan sekitarnya; 3) Memberikan pembinaan kepada nelayan dan masukan kepada Pemerintah Kab. Minahasa Tenggara, agar di area ekosistim lamun pesisir Desa Borgo dan sekitarnya tidak dijadikan lokasi penambatan perahu dan tempat pembuangan sampah laut atau limbah rumah tangga; 4) Membuat SOP tentang tambatan perahu, tempat pembuangan sampah laut dan limbah rumah tangga, dan teknis konservasi laut kepada masyarakat pesisir Desa Borgo dan sekitarnya; 5) Memberdayakan nelayan atau masyarakat pesisir Desa Borgo dan sekitarnya dalam rangka melaksanakan tugas pengawasan dan pemantauan sumber daya pesisir dan laut, serta pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan; dan 6) Membuat perencanaan penataan ruang di kawasan Minapolitan wilayah pesisir Belang berdasarkan Perda No. 1 Tahun 2017 Prov. SULUT. Kata kunci: Desa Borgo, ekosistim lamun, pemanfaatan berkelanjutan, strategi prioritas
Length Increase and Survival Rate of Coral Isopora palifera which Transplanted on Concrete Block Roeroe, Wailan; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Tilaar, Sandra O.; Manembu, Indri Shelovita; Mamangkey, Noldy G. F.; Schaduw, Joshian N. W.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.51045

Abstract

Efforts to mitigate damage to coral reef ecosystems can be made by developing techniques for coral transplantation. The purpose is to know the survival rate of coral Isopora palifera and Measure the length increase of coral Isopora palifera using the Image-J application as the measurement. The research method was that artificial blocks made of concrete were used as containers for the installation of 27 colonies of coral Isopora palifera. Data collection in the field in the form of colonies that were successfully transplanted to artificial reef units will be explored using a camera from each concrete block which will take perpendicular pictures and colony portraits from each artificial reef unit. The results are then analyzed using the Image-J application. The transplantation results survival rate in Isopora palifera coral colonies in Paputungan village is 66.6% of 100%, while the Isopora palifera coral colony increase length was around 1.51 mm/5 months or 0.302 mm/month. Keywords: Coral, Isopora palifera, Transplant, Concrete block, North Sulawesi Abstrak Upaya penanggulangan kerusakan ekosistem terumbu karang dapat dilakukan dengan menggembangkan teknik transplantasi karang. Tujuan adalah Mengetahui tingkat ketahanan hidup karang Isopora palifera dan Mengetahui laju pertambahan karang Isopora palifera dengan menggunakan aplikasi Image-J sebagai pengukuran pertumbuhan. Metode penelitian yaitu balok buatan dari beton dijadikan wadah tempat pemasangan karang Isopora palifera sebanyak 27 koloni. Pengambilan data di lapangan berupa koloni yang berhasil ditransplantasi ke unit terumbu buatan akan didokumentasikan menggunakan kamera dari tiap-tiap balok diambil gambar tegak lurus dan memotret koloni dari masing-masing unit terumbu buatan.  Hasil pemotretan tersebut selanjutnya dianalisa menggunakan aplikasi Image-J. Proses transplantasi di desa Paputungan menghasilkan 66,6% dari 100% tingkat kelangsungan hidup pada koloni karang Isopora palifera, sedangkan untuk laju pertabahan koloni karang Isopora palifera berada disekitar 1,51 mm/5 bulan atau 0,302 mm/bln. Kata Kunci: Karang, Isopora palifera, Transplantasi, Balok beton, Sulawesi Utara.
Development Of Marine Tourism Potential In East Likupang Waters, North Minahasa District Maryen, Yakob Oskar; Manembu, Indri Shelovita; Ngangi, Edwin L. A.; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Sambali, Hariyani; Darwasito, Suria; Sumilat, Deiske Adeliene
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.52238

Abstract

This research aims to determine the potential for marine tourism in East Likupang Waters, determine the suitability of developing marine tourism in East Likupang Waters, and recommend marine tourism management, collecting primary data through observation and in-depth interviews directly with the community. Secondary data through studies of research results, scientific publications, the Minahasa Regency Maritime and Fisheries Service, and the North Minahasa Regency Maritime and Fisheries Service. Biophysical data is as follows. Observation of coral conditions using Line Intercept Transect (LIT). b) Observation of fish using Underwater Fish Visual Census (UVC). Water quality using a water quality checker (Horiba brand). Apart from that, data analysis uses a matrix of suitability for marine tourism areas, and beach tourism and provides weighting. The results of this research show that the potential that exists in East Likupang Waters and its surroundings includes physical and non-physical potential that has the potential and can be developed into a marine tourism attraction. Carrying capacity and beach recreation Surabaya Beach beach area 2000 (m²) 533 people/day Pulisan Beach 2000 (m²) 533 people/day c) Paal Beach 1000 (m²) 267 people/day Kalinaun Beach 3000 (m²) 800 people/day, It was found that the percentage of coral cover in East Likupang Waters was 47.04%, with a marine tourism suitability index value of 62, which means that the suitability of the East Likupang Waters marine tourism area is included in the conditionally appropriate criteria. Keywords: Potential, Marin Tourism, East Likupang Waters Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi wisata bahari di Perairan Likupang Timur, mengetahui kesesuaian pengembangan wisata bahari di Perairan Likupan Timur dan merekomendasikan pengelolaan wisata bahari, pengumpulan data primer melalui observasi dan wawancara mendalam langsung kepada masyarakat. Data sekunder melalui kajian hasil penelitian, publikasi ilmiah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Utara. Data biofisik adalah sebagai berikut. Pengamatan kondisi karang menggunakan Line Intercept Transect (LIT). b) Pengamatan ikan menggunakan Underwater Fish Visual Census (UVC). Kualitas air menggunakan alat pemeriksa kualitas air (merek Horiba). Selain itu analisis data menggunakan matriks kesesuaian kawasan wisata bahari, dan wisata pantai serta memberikan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi yang ada di Perairan Likupang Timur dan sekitarnya meliputi potensi fisik dan non fisik yang mempunyai potensi dan dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata bahari. Daya dukung dan rekreasi pantai Pantai Surabaya Luas pantai 2000 (m²) 533 orang/hari Pantai Pulisan 2000 (m²) 533 orang/hari c) Pantai Paal 1000 (m²) 267 orang/hari Pantai Kalinaun 3000 (m²) 800 orang/hari, Diketahui persentase tutupan karang di Perairan Likupang Timur sebesar 47,04% dengan nilai indeks kesesuaian wisata bahari sebesar 62 yang berarti kesesuaian kawasan wisata bahari Perairan Likupang Timur termasuk dalam kriteria layak bersyarat. Kata Kunci: Potensi; wisata bahari; Perairan Likupang Timur.
Study On Nematocysts Of Scleractinia Coral, Stylophora subseriata From Coral Reef Area In The Coast Of Bulutui, North Minahasa Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien; Paruntu, Carolus Paulus; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Lintang, Rosita Anggreiny J; Manembu, Indri Shelovita; Schaduw, Joshian Nicolas William
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.58486

Abstract

This study aims to identify the type, size dimension, and composition of nematocysts from the Scleractinia coral, Stylophora subseriata. This study was carried out from March to May 2023. Observations and measurements of nematocyst cells were conducted using an Optika 4083 B3 microscope connected to a computer equipped with Optika View 7 software. S. subseriata has three main types of nematocyst, i.e., type I micro basic p-mastigophore (MpM- I), type II micro basic p-mastigophore (MpM-II) and micro basic b-mastigophore (MbM).  Type MpM-I has an average capsule length of 182.10 µm, capsule width of 38.98 µm, and shaft length of 76.45 µm;  MpM-II has an average capsule length of 166.72 µm, capsule width of 41.60 µm, and shaft length of 108.48 µm; and MbM has an average capsule length of 154.84 µm and capsule width of 30.96 µm. The nematocysts composition consists of MpM-I 26.67 %, MpM-II 23.33 %, and MbM 50.00 %.  The MbM type is nematocyst dominant in this coral species.  Future study is recommended to examine the comparative characteristics of nematocysts from S. subseriata with other species of corals in the same genus to determine the specific nematocyst of each type of coral with the role of their particular types of nematocyst. Keywords: Bulutui coast, nematocyst, North Minahasa, Scleractinia, Stylophora subseriata Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe, dimensi ukuran dan komposisi nematosit dari karang Scleractinia, Stylophora subseriata. Studi ini dilakukan dari Maret - Mei 2023. Pengamatan dan pengukuran sel nematosit dilakukan menggunakan mikroskop Optika 4083 B3 yang terhubung dengan komputer yang dilengkapi software Optika View 7. S. subseriata memiliki tiga tipe nematosit utama, yaitu microbasic p-mastigophore tipe I (MpM-I), microbasic p-mastigophore tipe II (MpM-II) dan microbasic b-mastigopore (MbM).  Tipe MpM-I memiliki rata-rata panjang kapsul 182,10 µm, lebar kapsul 38,98 µm, dan panjang tangkai 76,45 µm;  MpM-II memiliki rata-rata panjang kapsul 166,72 µm, lebar kapsul 41,60 µm, dan panjang tangkai 108,48 µm; serta MbM dengan panjang kapsul 154,84 µm dan lebar kapsul 30,96 µm. Komposisi nematositnya terdiri dari MpM-I 26,67 %, MpM-II 23,33 % dan MbM 50.00 %.  Tipe MbM adalah nematosit yang dominan dalam spesies ini.  Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti perbandingan antara karakteristik nematosit dari S. subseriata dengan jenis karang lainnya dalam satu genus untuk mengetahui nematosit spesifik dari masing-masing jenis karang tersebut sehubungan dengan peran dari tipe-tipe nematosit spesifiknya.       Kata kunci: Minahasa Utara, nematosit, Pesisir Bulutui, Scleractinia, Stylophora subseriata
Study of Scleractinian Coral Recruitment in the Waters of Tanjung Pisok and Siladen Island, Bunaken National Park Lenak, Maria Magdalena; Roeroe, Kakaskasen; Paruntu, Carolus; Mangindaan, Remy; Manembu, Indri; Rimper, Joice
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i1.58540

Abstract

The research aimed to determine the recruitment density value of scleractinian coral juveniles in Tanjung Pisok (Meras and Bahowo) and Siladen Island. The method for selecting observation locations uses purposive sampling and collecting coral juvenile recruitment data using underwater photo transects. The results of this research obtained data on genus, size, and density values ​​for coral juvenile recruitment. The coral genera found at Station I were 19 genera with the largest number being the Porites genus, 32 colonies, Station II 13 genera with the largest number being the Favites genus, 32 colonies, and at Station III 17 genera with the largest number being the Porites genus, 32 colonies. Coral juveniles in this study were more dominant in the 2 cm - 2.9 cm size group, for Station I 63 colonies, Station II 54 colonies and Station III 32 colonies. Based on the results of this research, it shows that the coral recruitment density at Station I with a value of 12.38 colonies/m² is higher than Station II, the coral recruitment density at Station II with a value of 12.23 colonies/m² is higher than Station III with a value of 7.21 colonies/m². Keywords: Recruitment; Scleractinia; Underwater Photo Transect; Bunaken National Park Abstrak Tujuan penelitian menentukan nilai densitas rekrutmen juvenil karang scleractinia di perairan Tanjung Pisok (Meras dan Bahowo) dan pulau Siladen. Metode pemilihan lokasi pengamatan menggunakan purposive sampling dan metode pengumpulan data rekrutmen juvenil karang menggunakan underwater photo transect. Hasil penelitian ini memperoleh data genus, ukuran dan nilai densitas rekrutmen juvenil karang. Genus karang yang didapat di Stasiun I yaitu 19 genus dengan yang terbanyak genus Porites 32 koloni, Stasiun II 13 genus dengan yang terbanyak genus Favites 32 koloni, dan Stasiun III 17 genus dengan yang terbanyak genus Porites 32 koloni. Juvenil karang dalam penelitian ini lebih dominan pada kelompok ukuran 2 cm - 2.9 cm, untuk Stasiun I 63 koloni, Stasiun II 54 koloni dan Stasiun III 32 koloni. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan densitas rekrutmen karang di Stasiun I dengan nilai 12,38 koloni/m² lebih tinggi dari Stasiun II, densitas rekrutmen karang di Stasiun II dengan nilai 12,23 koloni/m² lebih tinggi dari Stasiun III dengan nilai 7,21 koloni/m². Kata kunci: Rekrutmen; Scleractinia; Taman Nasional Bunaken; Underwater Photo Transect
Co-Authors , Esther D. Angkouw Adelin M Sagrang Adnan S. Wantasen Adnan Wantasen Adrianus Malintoi Agung J. Losung Alex D Kambey Antonius P Rumengan Antonius P. Rumengan Ari B Rondonuwu Ari B Rondonuwu, Ari B Ari B. Rondonuwu Ari B. Rondonuwu Billy Th. Wagey Billy Theodorus Wagey Billy Theodorus Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P Paruntu Carolus P. Paruntu Carolus Paulus Paruntu Carolus Paulus Paruntu Chatrien A.L. Sinjal Clive Griffen Coloay Coloay, Clive Griffen Darwasito, Suria Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deisle RH Kumampung Edwin D Ngangi Ekel, Jouvan Randy Erly Y. Kaligis Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farrel J. G. Wagiu Febrianto Mudul Fitje Losung Fitje Losung Frans Lumuindong Fransine B. Manginsela Hariyani Sambali Ibrahim Pakaya Indri Manembu Indri Manembu Indri Manembu Inneke F M Rumengan Janny D Kusen Janny D. Kusen Janny D. Kusen Joice R. T. S. L. Rimper Joice R.T.S.L Rimper Joice S Rimper Jonglan Balumpapung Joshian N. W. Schaduw Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joudy Sangari Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Khristin I.F. Kondoy Kristofel Ramo Poli’i Lenak, Maria Magdalena Lidya Magdalena Lintang, Rosita Anggreiny J Losung, Agung Lucky Lumingas M. Alaksmar Djohar Mamangkey, Noldy G.F Mamuaja, Jane M. Manengkey, Hermanto Wem Kling Mangindaan, Remy Mantiri, Desy M. H Marthen Bongga Maryen, Yakob Oskar Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi N. Gustaf F. Mamangkey N. Gustaf F. Mamangkey Natalie D. C. Rumampuk Oli, Aris Putra Paringgi, Ezra Podung, Thania Theresia Pricilia OM Ompi Rampengan, Royke Rembet, Unstain Ridwan Lasabuda Roeroe, Wailan Sagai, Bonnke Sambali, Hariyani Sandra O. Tilaar Sandra Olivia Tilaar Sandra Tilaar Stephanus V Mandagi Stephanus V. Mandagi Sumual, Sarah S. Veibe Warouw Veibe Warouw Vinsensius V. Makawaehe Yehezkiel S.P.H. Marpaung