Roeroe, Kakaskasen Andreas
Universitas Sam Ratulangi

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

STRUKTUR KOMUNITAS EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA BORGO KECAMATAN BELANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA (Community Structure of Ecosystem Seagrass Beds in Water of Borgo Village, Belang District, Southeast Minahasa Regency) Agung J. Losung; Carolus P. Paruntu; Billy Th. Wagey; Kakaskasen A. Roeroe; Fitje Losung; Hariyani Sambali
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53078

Abstract

This research was conducted in the coastal waters of Borgo Village, Belang District, SoutheastMinahasa Regency using the line transect method adopted by the Seagrass Watch method. This studyaims to determine the community structure and physical-chemical environmental factors of seagrassbeds in the waters of Borgo Village, Belang District, Southeast Minahasa Regency. The results of thisstudy obtained 3 types of seagrass identified in the waters of Borgo Village, namely: Enhalus acoroides,Thalassia hemprichii, and Syringodium isoetifolium, with an average value of species density belongingto scale 2 with a density level of 25-75 ind/m2 which is included in sparse density conditions (11.99individuals/m2); the average value of relative concealment is classified as less rich/less healthy(33.34%); the species index is included in the low category, namely H'<1 (0.68); the uniformity index isincluded in the large/high category (0.33) the dominance index is included in the medium category(0.75). The parameter value of pH 8.00 is in the range of quality standard values while the temperatureof 32.00° C, brightness of 0.29 m, and salinity of 29.98 o/oo are not in the range of quality standardvalues.Keywords: Seagrass Community Structure, Species Composition, Borgo Village Waters ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir perairan Desa Borgo, Kecamatan Belang,Kabupaten Minahasa Tenggara dengan menggunakan metode metode line transect yang diadopsidengan metode SeagrassWatch. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas danfaktor lingkungan fisika-kimia padang lamun di perairan Desa Borgo, Kecamatan Belang, KabupatenMinahasa Tenggara. Hasil penelitian ini memperoleh 3 jenis lamun yang terindentifikasi di perairanDesa Borgo yaitu: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium, dengan nilairata-rata kerapatan jenis tergolong dalam skala 2 dengan tingkat kerapatan 25-75 ind/m2 yangtermasuk dalam kondisi kerapatan jarang (11,99 individu/m2); nilai rata-rata penutupan relatif jenistergolong kurang kaya/kurang sehat (33,34%); indeks keanekaragaman jenis termasuk dalam kategorirendah yaitu H’<1 (0,68); indeks keseragaman termasuk dalam kategori besar/tinggi (0,33) indeksdominansi termasuk dalam kategori sedang (0,75). Nilai parameter pH 8,00 berada pada kisaran nilaibaku mutu sedangkan suhu 32,00° C, kecerahan 0,29 m dan salinitas 29,98 o/oo tidak berada padakisaran nilai baku mutu.Kata kunci: Struktur Komunitas Lamun, Komposisi Jenis, Perairan Desa Borgo
KELIMPAHAN dan KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG di DAERAH TERUMBU KARANG PULAU LIHAGA LIKUPANG MINAHASA UTARA Clive Griffen Coloay; Joshian N. W. Schaduw; Janny D. Kusen; Kakaskasen A. Roeroe; Indri Manembu; Ari B. Rondonuwu
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54945

Abstract

Lihaga Island is located in West Likupang District, North Minahasa Regency. When the Likupang area has been designated as a Special Economic Zone (SEZ), and one of the five super priority tourist destinations based on Government Regulation Number 84 of 2019. This indicates that the waters of Lihaga Island will become a diving tourism destination. Data on the abundance and diversity of reef fish in these waters need to be known. The method used in this research is the Underwater Visual Census. The data obtained is then analyzed for abundance index, diversity index, uniformity index and dominance index using the Microsoft Excel program. The results show that reef fish in the waters of Lihaga Island are categorized as abundant, according to Djamali and Darsoono. (2005) with the number found > 50 individuals, dominated by the species Chromis margaritifer from the family Pomacentridae or commonly known as 'damselfishes'. The results of the analysis were based on the total number of reef fish recorded at 3 observation stations, namely the abundance index scored 1,780 ind/m2, the diversity index was in the high category with a value of H`>3.0 which was 3.15, then the uniformity index was included in the unstable category with a value <0.75. which is 0.73 and the dominance index value is categorized as low with a value of 0.10 or <0.50. Keywords: Likupang, Lihaga Island, reef fish, underwater visual census. ABSTRAK Pulau Lihaga terletak di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Saat wilayah Likupang telah ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan salah satu dari lima destinasi wisata super prioritas berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2019. Mengindikasikan perairan Pulau Lihaga akan menjadi destinasi wisata selam. Data mengenai kelimpahan dan keanekaragan ikan karang di perairan ini perlu untuk diketahui. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah Sensus Visual Bawah Air, Data yang didapatkan kemudian dianalisis indeks kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menggunakan program microsoft excel.Hasil penelitian menunjukan bahwa ikan karang di perairan Pulau Lihaga dikategorikan melimpah, menurut Djamali dan Darsoono (2005) dengan jumlah yang di temukan >50 ekor yang didominasi oleh spesies Chromis margaritifer dari famili Pomacentridae atau biasa dikenal dengan nama’damselfishes’. Hasil analisis berdasarkan jumlah total ikan karang yang terdata di 3 stasiun pengangamatan yaitu Indeks kelimpahan mendapat nilai sebesar 1.780 ind/m2, Indeks keanekaragaman masuk dalam kategori tinggi dengan niali H`>3.0 yaitu 3.15, kemudian indeks keseragaman masuk dalam kategori labil dengan nilai <0.75 yaitu 0.73 dan nilai indeks dominansi yang dikategoorikan rendah dengan nilai 0.10 atau < 0,50. Kata kunci: Likupang, Pulau Lihaga, ikan karang, sensus visual bawah air
STATUS TERUMBU KARANG DI PANTAI MALALAYANG DUA KOTA MANADO SULAWESI UTARA Jonglan Balumpapung; Kakaskasen A. Roeroe; Carolus P. Paruntu; Janny D. Kusen; Billy Th. Wagey; Adnan S. Wantasen
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54978

Abstract

Coral reefs are a type ecological ecosystem found in the tropical shallow oceans, with rock coral as the main constituent element and a variety of many other biota living alongside it. While corals are invertebrate animals that belong to the Phylum Coelenterata (hollow animals) or Cnidaria a collection of millions of polyp animals that produce lime (CaCO3). The underwater photo transect (UPT) method makes use of recent developments in technology, including digital camera and computer software. Data can be retrieved in the field by capturing underwater images with a camera that has a waterproof and an excellent or high image resolution. In this study showed the percentage value of living corals at Research Site 1 which is 41.90%. Then at the Research Site 2 value the percentage of live coral cover 19.10%. Overall, the percentage of live coral cover on Malalayang Dua Beach in Manado City, North Sulawesi, is 30,50% of the existing coral reef area of ±820 m2, finally putting to place the condition of the coral reefs on the beach in the Medium category. Keywords: Live Coral Cover, Underwater Photo Transect (UPT), Coral Reef Condition, Malalayang Beach. ABSTRAK Terumbu karang adalah suatu eksosistem di laut dangkal tropis, dimana unsur penyusun utamanya karang batu, dengan berbagai biota lainnya yang hidup berasosiasi di dalamnya. Sedangkan Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria yang merupakan kumpulan dari berjuta-juta hewan polip yang menghasilkan bahan kapur (CaCO3). Metode transek foto bawah air (Underwater Photo Transect=UPT) merupakan metode yang memanfaatkan perkembangan teknologi, baik perkembangan teknologi kamera digital maupun teknologi piranti lunak komputer. Pengambilan data di lapangan berupa foto-foto bawah air yang dilakukan dengan pemotretan menggunakan kamera yang dilengkapi pelindung tahan air (housing) dan memiliki resolusi gambar yang bagus atau besar. Pada penelitian ini menunjukan nilai persentase karang hidup pada Lokasi Penelitian 1 yaitu 41,90%. Kemudian pada Lokasi Penelitian 2 nilaii persentase tutupan karang hidup 19,10%. Secara keseluruhan persentase tutupan karang hidup yang ada di Pantai Malalayang Dua Kota Manado Sulawesi Utara adalah 30,50% dari luasan terumbu karang yang ada ±820 m2, dengan begitu kondisi terumbu karang yang ada di pantai Malalayang Dua berada dalam kategori Sedang. Kata Kunci: Tutupan Karang Hidup, Underwater Photo Transect (UPT), Kondisi Terumbu Karang, Pantai Malalayang.
KONDISI TERUMBU KARANG PADA PERAIRAN DESA PINASUNGKULAN KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA Ibrahim Pakaya; Joshian N. W. Schaduw; Indri Manembu; Kakaskasen A. Roeroe; Natalie D. C. Rumampuk; Ridwan Lasabuda
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54988

Abstract

This research was conducted in November 2021 in Pinasungkulan Waters, Tombariri District, Minahasa Regency using the UPT (Underwater Photos Transect) method. The purpose of this study was to determine the percentage value of hard coral cover and spatial information on the base line data on the condition of coral reefs in the waters of Pinasngkulan village. The results of this study were the percentage of hard coral at station 1 was in medium, station 2 was in the bad category, and station 3 was in the bad category, with the percentage of hard coral cover, station 1 (one) 35.07%, station 2 (two) 15.81%, station 3 (three) 7.73%, in general the condition of coral cover based on the Decree of the Minister of Environment No. 4 of 2001 coral reefs in Pinasungkulan waters are in bad condition with a percentage of 19.54% on average. Keywords: Condition of coral reefs, CPCe, Pinasungkulan Village Waters, UPT. ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2021 pada Perairan Pinasungkulan Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa dengan menggunakan metode UPT (Underwater Photos Transect). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai presentase tutupan hard coral dan informasi spasial base line data kondisi terumbu karang pada perairan desa pinasungkulan. Hasil penelitian persentase hard coral pada stasiun 1 masuk dalam kategori sedang , stasiun 2 beradadalam kategori buruk, dan stasiun 3beradadalam kategori buruk, dengan persentase tutupan hard coral, stasiun 1 (satu) 35,07% , stasiun 2 (dua) 15,81%, stasiun 3 (tiga) 7,73%,secara umum kondisi tutupan karang berdasarkan Keputusan Menteri LH No. 4 Tahun 2001 terumbu karang di Perairan Pinasungkulan berada pada kondisi buruk dengan persentase rata – rata 19,54%. Kata kunci: Kondisi terumbu karang, CPCe, Perairan Desa Pinasungkulan, UPT.
STRUKTUR KOMUNITAS KAWASAN MANGROVE DI DESA TALENGEN KECAMATAN TABUKAN TENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Vinsensius V. Makawaehe; Calvyn F. A. Sondak; Antonius P. Rumengan; Erly Y. Kaligis; Kakaskasen A. Roeroe; Khristin I.F. Kondoy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54990

Abstract

Mangroves are vegetation that grows on the tidal area and can grow on muddy, sandy and mix substrates. The purpose of this study was to determine the type, community structure, measure the diameter of mangrove trees, and mangrove community structures data. The data was taken using the line transect quadrat method. The results of the study found that there were three types of mangroves, namely Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza and Sonneratia alba. The highest species density and the highest relative belong to R. mucronata 0.11 Ind/m2 and 75.71% respectively. The highest value of frequency and relative frequency was found on mucronata with a value of 1.00 and a relative 62.50%. The highest species cover value wasfound on B.gymnorrhizawith a value of 20.04 cm2/ha and relative cover 63.24%. The highest important Value Index belongs to R. mucronata with a value of 234.70%. The diversity index value with a value of 0.68 is included in the low category because H'<1. The tree diameter range were mucronata 3.82 to 29.62 cm, B. gymnorrhiza is 3.82 to 45.22. cm, and S. alba 10.82 to 22.61cm. Key Words: Talengen Village, Mangrove, Community Structure ABSTRAK Mangrove merupakan vegetasi yang tumbuh pada daerah pasang surut dan dapat tumbuh pada substrat berlumpur, berpasir dan bercampur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, struktur komunitas, mengukur diameter pohon mangrove, dan mengumpulkan data struktur komunitas mangrove menggunakan metode transek garis. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat tiga jenis mangrove, yaitu Rhizophora mucronata, Bruguiera.gymnorrhiza dan Sonneratia alba. Kepadatan spesies tertinggi dan relatif tertinggi dimiliki oleh R. mucronata masing-masing 0,11 Ind/m2 dan 75,71%. Nilai frekuensi dan relatif tertinggi terdapat pada R. mucronata dengan nilai 1,00 dan relatif 62,50%. Nilai tutupan spesies tertinggi terdapat pada B.gymnorrhiza dengan nilai 20,04 cm2/ha dan relatifnya 63,24%. Nilai Indeks Nilai Penting tertinggi terdapat pada R. mucronata dengan nilai sebesar 234,70%. Nilai indeks keanekaragaman dengan nilai 0,68 termasuk dalam kategori rendah karena H'<1. Diameter pohon di Desa Talengen adalah R. mucronata 3,82-29,62 cm, B. gymnorrhiza 3,82- 45,22. cm, spesies S. alba berkisar antara 10,82 hingga 22,61 cm. Kata Kunci: Desa Talengen, Mangrove, Struktur komunitas
PENEMPELAN KERANG Septifer bilocularis PADA SUBSTRAT DALAM AGREGASI KERANG DI DAERAH PASANG SURUT PESISIR TIWOHO Farrel J. G. Wagiu; Medy Ompi; Erly Y. Kaligis; Joice R. T. S. L. Rimper; Kakaskasen A. Roeroe; Fransine B. Manginsela
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.3.2022.55017

Abstract

Research of mussel attachment, Septiver billocularis was carried out on the intertidal zone of coastal Tiwoho, north Sulawesi. The objectives of this study were 1) to identify type of substrates (organic and inorganic) to be attached by box mussel Septifer bilocularis, 2) to identify substrate preferences of Septifer bilocularis settlement. 3) to know the favorite position of settlement in mussel aggregation. The PVC plate has 16 holes, each with diameter of 1.8 cm, which had been filled randomly with organic substrate of coconut fibers and palm fibers, and mussel shell with byssus threads, then inorganic with plastic rope. Each substrate had 4 replicates. The PVC plate, four replications, each was placed at edge and middle of large aggregation, the PVC plate with substrates was also placed in isolated aggregation. All PVC plates were placed in intertidal Tiwoho for 1.5 months. The settlement data were analyzed using a Two-Way ANOVA with substrata and position in patch as the main factor. Before running the test, data were transformed using arcsin. The results showed that the settlement of box mussel (< 1 mm) attached to organic substrata such as coconut and palm fibers, as well as inorganic substrates, plastic rope. Settlement of box mussels on shells with byssus threads had sizes ranging from > 1 mm to - < 3 mm. A Two-way ANOVA test shows that settlement was not affected by substrata (P > 0.05), the settlement of box mussel was affected by position in aggregation (P < 0.05). Factors such as the effect of physical, chemical, and biological on box mussel settlement are discussed. Keywords: Aggregation, Attachment, Shellfish, Substrate, Tiwoho Coast ABSTRAK ` Penelitian penempelan kerang Septiver bilocularis pada substrat telah dilakukan di zona intertidal di pesisir Tiwoho, Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengidentifikasi jenis-jenis substrat organik dan non organik yang menjadi substrat penempelan kerang Septifer bilocularis, 2) untuk mengidentifikasi substrat preferensi (favorit) pada penempelan kerang Septifer bilocularis. 3) untuk mengetahui posisi favorit penempelan dalam agregasi kerang. Plat PVC memiliki 16 lubang dengan diameter masing-masing 1,8 cm yang telah diisi secara acak dengan substrat organik serabut kelapa, serabut pohon seho, dan cangkan dengan byssus, serta substrat inorganik tali plastic. Setiap substrat memiliki 4 ulangan. Plat PVC dengan substrat ditempatkan di posisi pinggir dan tengah agregasi besar, serta agregasi kecil. Penempatan plat PVC dilakukan secara terpisah (4 kali ulangan) baik di posisi pinggir dan tengah untuk agregasi besar, serta 4 ulangan secara terpisah untuk masing- masing agregasi kecil. Semua plat PVC ditempatkan di intertidal Tiwoho selama 1,5 bulan. Data penempelan kerang dianalisa dengan menggunakan 2 Arah-ANOVA dengan substrat dan posisi dalam agregasi sebagai faktor utama. Sebelum menjalankan pengujian, data ditransformasikan menggunakan arcsinh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempelan larva kerang yang menempel pada substrat organik, yaitu serabut kelapa dan seho, serta inorganic tali plastic memiliki ukuran < 1 mm, serta substrat organik cangkang induk dengan byssus, yang memiliki ukuran antara > 1 mm sampai - < 3 mm. Uji ANOVA dua arah menunjukkan bahwa penempelan tidak dipengaruhi oleh substrat (P > 0,05), penempelan kerang dipengaruhi oleh posisi dalam agregasi (P < 0,05). Faktor-faktor seperti fisik, kimia, dan biologis yang mempengaruhi penempelan kerang kotak dibahas dalam diskusi. Kata kunci: Agregasi, Penempelan, Kerang, Substrat, Pesisir Tiwoho
KONDISI TERUMBU KARANG dI PERAIRAN DESA WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA Kristofel Ramo Poli’i; Chatrien A.L. Sinjal; Erly Y. Kaligis; Frans Lumuindong; N. Gustaf F. Mamangkey; Kakaskasen A. Roeroe
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.1.2024.55069

Abstract

Coral reefs are a unique ecosystem of tropical regions that are highly complex, productive, and possess a high biodiversity, serving as habitats for organisms. Essentially, coral reefs are massive deposits of calcium carbonate (CaCO3) produced by reef-building coral organisms (hermatypic corals) from the phylum Cnidaria, class Anthozoa, order Scleractinia. This study aims to assess the condition of coral reefs in the waters of Wori Village to accurately understand the status and dynamics that will determine the direction and policies regarding coral reefs in Wori Village waters. The results of the Coral Reef Condition Study in the Waters of Wori Village using the Underwater Photo Transect method revealed that at Station I, the percentage of live coral cover was 53.47% out of 12 forms of coral growth, while at Station II, the percentage of live coral cover was 47.73% out of 10 forms of coral growth, with the genus Porites being the most dominant at both observation stations. The average coral cover value in the waters of Wori Village was 50.60% based on the Standard Criteria for Coral Damage Assessment in Ministerial Regulation No. 4 of 2001. The condition of the reefs in Wori Village Beach falls under the Good category Keywords: Wori Waters, Coral Reefs, UPT, CPCE ABSTRAK Terumbu karang adalah suatu ekosistem khas daerah tropis yang sangat kompleks produktif serta memiliki keanekaragman biota yang sangat tinggi dan juga merupakan habitat bagi organisme. Pada dasarnya terumbu karang merupakan endapan masif kalsium karbonat (CaCo3) yang dihasilkan oleh organsime karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) dari filum Cnidaria, kelas anthozoa ordo Scleractinia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kondisi terumbu karang yang ada di Perairan Desa Wori guna mengetahui kondisi terumbu karang di Desa Wori secara akurat dan detail mengenai status dan dinamika yang akan menentuhkan arah dan kebijakan terumbu karang di Perairan Desa Wori. Hasil Penelitian Kondisi Terumbu Karang di Perairan Desa Wori dengan Mengunakan metode Underwater Photo Transek di Ketahui pada Stasiun I Persentase tutupan karang hidup 53,47% dari 12 bentuk pertumbuhan karang sedangkan pada Stasiun II persentase karang hidup 47,73% dari 10 bentuk Pertumbuhan karang dengan genus karang Porites yang paling dominan di dua Stasiun Pengamatan dengan nilai rata-rata nilai tutupan karang di Perairan Desa Wori 50,60% berdasarkan Kriteria Baku Penilaian kerusakan terumbu dalam KepMen. 2001 No.4. kondisi terumbu di Pantai Desa Wori Masuk dalam Kategori Baik. Kata kunci: Perairan Wori, Terumbu Karang, UPT, CPCE
INDEKS DIMENSI DAN INDEKS NILAI PENTING LAMUN DI PERAIRAN DARUNU, KECAMATAN WORI, SULAWESI UTARA Lidya Magdalena; Desy M. H. Mantiri; Antonius P Rumengan; , Esther D. Angkouw; Kakaskasen A. Roeroe
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.58031

Abstract

Ekosistem pesisir yang mampu menyerap dan menyimpan karbon yang baik adalah salah satunya ekosistem padang lamun. Perairan Darunu, Kecamatan Wori, Sulawesi Utara merupakan salah satu daya tarik wisata dan memiliki ekosistem lamun yang baik. Namun sampai saat ini belum ada informasi atau laporan mengenai padang lamun yang ada di Perairan Darunu, oleh karena itu tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis lamun, mengetahui nilai indeks dimensi lamun (IDLn) dan indeks nilai penting (INP) lamun di Perairan Darunu. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pegambilan data dilakukan secara langsung menggunakan metode garis transek. Lamun yang ditemukan di Perairan Darunu sebanyak 6 jenis yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Halodule phinifolia, dan Syringodium isoetifolium. Nilai indeks dimensi lamun (IDLn) sebesar 0,5m² dipengaruhi oleh jarak ekosistem lamun dari pemukiman penduduk. INP dipengaruhi oleh kerapatan jenis dan kerapatan relatif, frekuensi jenis dan frekuensi relatif, penutupan jenis dan penutupan relatif. INP tertinggi di Stasiun 1 pada jenis T. hemprichii dengan nilai 124.680% dan INP terendah pada jenis H. phinifolia di Stasiun 3 dengan nilai 5,968%. Kata Kunci: Indeks Dimensi Lamun, Indeks Nilai Penting, Ekosistem Lamun, Perairan Darunu, Sulawesi Utara
Diversity of Coral Genus Scleractinia in Tidung Island Waters, Seribu Islands, DKI Jakarta Province Ekel, Jouvan Randy; Manembu, Indri Shelovita; Manengkey, Hermanto Wem Kling; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Ompi, Medy; Sambali, Hariyani
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.34917

Abstract

Coral reefs are one of the most productive and diverse ecosystems on earth and provide ecosystem services. One of the islands of the Seribu Islands that has a coral reef ecosystem is Tidung Island. It is strategic and developing location makes this island used as a residential area, conservation area, and tourist destination. But the utilization has an impact on the damage of coral reefs through environmental and anthropogenic pressures. This study aims to determine coral diversity by identifying the coral genus Scleractinia and the factors that affect coral diversity. Observations were done on three different stations include 2 snorkeling areas and 1 natural area. The method used is LIT (Line Intercept Transect) and coral genus identification with Coral Finder Toolkit Indo Pacific 3.0. The results of identification obtained 16 coral genera namely genus Acropora, Montipora, Isopora, Favites, Leptastrea, Favia, Goniastrea, Montastrea, Platygyra, Echinopora, Porites, Pocillopora, Stylophora, Ctenactis, Pavona, dan Symphyllia, with the value of Diversity Index (H') in the waters of Tidung Island ranges from 0.94 – 2.34  in the category of low to moderate diversity. The parameters of water quality in Tidung Island, temperature, salinity, and acidity (pH) are relatively good for coral growth, but brightness is still relatively poor for coral growth. The impact of human activities such as snorkeling, ship anchors, fishing with destroyers, oil and waste pollution, and rock mining are factors that affect coral growth and diversity.Keywords: Coral Scleractinia; Limiting Factors; Coral Finder; Tidung IslandAbstrakTerumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling produktif dan beragam di bumi serta menyediakan jasa ekosistem. Salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Seribu yang memiliki ekosistem terumbu karang yaitu Pulau Tidung. Letaknya yang strategis dan berkembang menjadikan pulau ini dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, daerah konservasi, dan kawasan tujuan wisata. Namun dari pemanfaatan tersebut memberikan dampak terhadap kerusakan pada terumbu karang melalui tekanan-tekanan lingkungan maupun antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman karang dengan mengidentifikasi genus karang Scleractinia dan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman karang. Pengamatan di tiga stasiun berbeda yaitu di antaranya 2 kawasan wisata snorkeling, dan 1 kawasan yang masih alami. Metode yang digunakan yaitu LIT (Line Intercept Transect) dan identifikasi genus karang dengan Coral Finder Toolkit Indo Pasific 3.0. Hasil identifikasi didapatkan 16 genus karang yaitu genus Acropora, Montipora, Isopora, Favites, Leptastrea, Favia, Goniastrea, Montastrea, Platygyra, Echinopora, Porites, Pocillopora, Stylophora, Ctenactis, Pavona, dan Symphyllia, dengan nilai Indeks Keanekaragaman (H’) di perairan Pulau Tidung berkisar 0,94 – 2,34 berada pada kategori keanekaragaman rendah hingga sedang. Parameter kualitas perairan di Pulau Tidung, suhu, salinitas, dan derajat keasaman (pH) tergolong baik bagi pertumbuhan karang, namun kecerahan masih tergolong kurang baik bagi pertumbuhan karang. Dampak aktivitas manusia seperti snorkeling, jangkar kapal, penangkapan ikan dengan alat perusak, pencemaran minyak dan sampah, serta penambangan batu karang menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan keanekaragaman karang.
Coral Reef Conditions in Bahowo Waters Tongkaina, Sub District Bunaken, Manado North Sulawesi Podung, Thania Theresia; Roeroe, Kakaskasen A.; Paruntu, Carolus P.; Ompi, Medy; Schaduw, Joshian N. W.; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37239

Abstract

Coral reefs are coastal ecosystems with the highest level of diversity with about one million species worldwide and are habitats for assemblages of millions of polyps that produce limestone to form their skeletons and develop into vast expanses of colonies. Corals are invertebrates belonging to the phylum Coelenterata (hollow animals) or Cnidaria. In order to preserve the coral reef ecosystem in the future in the Bahowo area, quantitative data is needed that can explain/describe the condition of coral reefs. The purpose of this study was to determine the condition of coral reefs, in this case, data on coral cover and associated biota in Bahowo waters. The data collection of this research used the UPT (Underwater Photo Transect) method. Analysis of the data in the form of research images using the CPCe (Coral Point Count with Excel extensions) application. The results of the analysis of the condition of coral reefs in Bahowo waters are in the damaged/bad category with live coral cover percentage data of 16.33%.Keywords: Live coral cover; Underwater photo transect (UPT); Coral reef condition; Bahowo watersAbstrakTerumbu karang merupakan ekosistem pesisir dengan tingkat keanekaragaman tertinggi dengan jumlah sekitar satu juta spesies di seluruh dunia dan merupakan habitat bagi kumpulan dari berjuta-juta hewan polip yang menghasilkan zat kapur membentuk skeletonnya dan berkembang menjadi hamparan koloni yang luas.  Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria.  Dalam rangka pelestarian ekosistem terumbu karang ke depan di daerah Bahowo, maka dibutuhkan data kuantitatif yang dapat menjelaskan/menggambarkan tentang kondisi terumbu karang.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang, dalam hal ini data tutupan karang dan biota asosiasi di perairan Bahowo.  Pengambilan data penelitian ini menggunakan metode UPT (Underwater Photo Transect).  Analisis data berupa gambar penelitian menggunakan aplikasi CPCe (Coral Point Count with Excel extensions).  Hasil analisa kondisi terumbu karang di perairan Bahowo masuk dalam kategori rusak/buruk dengan data presentase tutupan karang hidup sebesar 16,33%.Kata kunci: Tutupan karang hidup; Underwater photo transect (UPT); Kondisi terumbu karang; Perairan Bahowo
Co-Authors , Esther D. Angkouw Adelin M Sagrang Adnan S. Wantasen Adnan Wantasen Adrianus Malintoi Agung J. Losung Alex D Kambey Antonius P Rumengan Antonius P. Rumengan Ari B Rondonuwu Ari B Rondonuwu, Ari B Ari B. Rondonuwu Ari B. Rondonuwu Billy Th. Wagey Billy Theodorus Wagey Billy Theodorus Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P Paruntu Carolus P. Paruntu Carolus Paulus Paruntu Carolus Paulus Paruntu Chatrien A.L. Sinjal Clive Griffen Coloay Coloay, Clive Griffen Darwasito, Suria Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deisle RH Kumampung Edwin D Ngangi Ekel, Jouvan Randy Erly Y. Kaligis Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farrel J. G. Wagiu Febrianto Mudul Fitje Losung Fitje Losung Frans Lumuindong Fransine B. Manginsela Hariyani Sambali Ibrahim Pakaya Indri Manembu Indri Manembu Indri Manembu Inneke F M Rumengan Janny D Kusen Janny D. Kusen Janny D. Kusen Joice R. T. S. L. Rimper Joice R.T.S.L Rimper Joice S Rimper Jonglan Balumpapung Joshian N. W. Schaduw Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joudy Sangari Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Khristin I.F. Kondoy Kristofel Ramo Poli’i Lenak, Maria Magdalena Lidya Magdalena Lintang, Rosita Anggreiny J Losung, Agung Lucky Lumingas M. Alaksmar Djohar Mamangkey, Noldy G.F Mamuaja, Jane M. Manengkey, Hermanto Wem Kling Mangindaan, Remy Mantiri, Desy M. H Marthen Bongga Maryen, Yakob Oskar Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi N. Gustaf F. Mamangkey N. Gustaf F. Mamangkey Natalie D. C. Rumampuk Oli, Aris Putra Paringgi, Ezra Podung, Thania Theresia Pricilia OM Ompi Rampengan, Royke Rembet, Unstain Ridwan Lasabuda Roeroe, Wailan Sagai, Bonnke Sambali, Hariyani Sandra O. Tilaar Sandra Olivia Tilaar Sandra Tilaar Stephanus V Mandagi Stephanus V. Mandagi Sumual, Sarah S. Veibe Warouw Veibe Warouw Vinsensius V. Makawaehe Yehezkiel S.P.H. Marpaung