Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Paradigma Teoretis dalam Psikologi: Landasan Filsafati, Peluang, dan Limitasi dalam Penelitian dan Praktik Psikologi: Theoretical Paradigms in Psychology: Philosophical Foundations, Opportunities, and Limitations in Psychological Research and Practice Rizkiyani, Fanny; Selian, Sri Nurhayati
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v8i1.81304

Abstract

Behaviorism, psychoanalysis, and humanism are three distinct theoretical paradigms in psychology. Each paradigm provides valuable insights and has important implications for psychological research and practice. Understanding the philosophical differences between the three is essential to apply them appropriately both in research and practice. This study aims to examine the ontological and epistemological foundations of the three paradigms, as well as their opportunities and limitations in psychological research and practice. The methodology used is a literature review. The results of this study describe the ontological assumptions of behaviorism, which is based on materialism and environmental determinism; psychoanalysis, which is rooted in transcendental idealism and psychic determinism; and humanism, which emphasizes free will and subjective experience. In terms of epistemology, this study explains that behaviorism adopts an empiricist approach (logical positivism), humanism uses phenomenology, and psychoanalysis uses hermeneutics or epistemological modesty. The differences in the three paradigms' philosophical foundations have implications for each paradigm's opportunities and limitations in psychological research and practice.
Antara Dunia Nyata dan Virtual: Studi Kasus Remaja dengan Gangguan Kesehatan Mental Akibat Kecanduan Gadget: Penelitian Selian, Sri Nurhayati; Setianingsih, Endang; Rahma, Lisa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2184

Abstract

This study analyzes the impact of gadget addiction on adolescent mental health, focusing on real-world and virtual interactions. A qualitative case study approach involved two male adolescents aged 16–18 years who experienced symptoms of gadget addiction and two parents as supporting informants. Data were collected through interviews, observations, and document analysis, then thematically analyzed to identify usage patterns, psychological impacts, and contributing factors to dependency. Results indicate that respondents used gadgets 10–14 hours per day for online gaming and social media, primarily as an escape from family problems and academic pressures. Impacts include social anxiety, decreased emotional regulation, sleep disturbances, and identity dissociation. Environmental factors such as family conflict, lack of supervision, and addictive technology design exacerbate the condition. The findings confirm that excessive gadget use reduces real-world social interactions and hinders psychosocial development through avoidance coping and the search for digital validation. The study recommends holistic interventions such as cognitive-behavioral therapy, emotional digital literacy, and family environmental modifications, with implications for school-based prevention programs and more responsible technology design policies.
Strategi Guru dalam Mengajar Anak Dengan Disleksia di Sekolah Inklusif Selian, Sri Nurhayati; Sriana Septiawati; Lisdayani, Lisdayani
Pijar Pelita: Journal of Early Childhood Education and Early Childhood Islamic Education Vol. 1 No. 3 (2025): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi yang digunakan oleh guru dalam mengajar anak dengan disleksia di sekolah inklusif serta dampaknya terhadap pembelajaran dan perkembangan siswa. Metode penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi, dimana penelitian ini berfokus pada pengalaman subjektif guru (5 guru) dalam mengajar anak disleksia, melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan berbagai strategi, seperti pendekatan multisensori, pembelajaran kolaboratif, serta penguatan positif dan motivasi. Strategi-strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan mengeja anak disleksia, serta mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka. Namun, guru juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan pengetahuan tentang disleksia, kurangnya sumber daya, dan beban kerja yang tinggi. Untuk mengatasi tantangan ini, guru membutuhkan dukungan berupa pelatihan profesional, akses ke alat bantu, dan kebijakan yang mendukung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pengajaran yang inklusif dan mendukung sangat penting untuk keberhasilan anak disleksia. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia dan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan semua siswa.
Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Adaptasi Kultural Mahasiswa Perantau Utami, Jihan Trisyah; Selian, Sri Nurhayati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/2n9eqx20

Abstract

Penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya jumlah mahasiswa perantau yang dihadapkan pada tantangan perbedaan budaya, lingkungan sosial, dan tuntutan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh kecerdasan emosional terhadap adaptasi kultural mahasiswa perantau yang menempuh pendidikan di luar daerah asalnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 3 mahasiswa perantau tingkat dua ke atas yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan budaya berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam proses adaptasi kultural, khususnya melalui kemampuan kesadaran diri, pengelolaan emosi, empati, motivasi, dan keterampilan sosial. Mahasiswa dengan kecerdasan emosional tinggi mampu memahami perasaan diri dan orang lain, mengelola stres akibat perbedaan budaya, serta menjalin hubungan sosial yang positif di lingkungan baru. Sebaliknya, mahasiswa dengan kecerdasan emosional rendah cenderung mengalami kesulitan beradaptasi dan merasa terasing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan mahasiswa perantau dalam menyesuaikan diri secara emosional dan sosial terhadap budaya baru, sehingga mampu berfungsi optimal dalam kehidupan akademik maupun sosialnya.
Pola Interaksi Ibu dan Anak pada Keluarga Single Parent Syifa, Yumna; Selian, Sri Nurhayati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/k3bb0a07

Abstract

Keluarga single parent menjadi fenomena yang semakin umum terjadi di masyarakat dan membawa dinamika tersendiri dalam hubungan antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola interaksi antara ibu dan anak dalam keluarga single parent di Aceh Besar. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologis, yang berfokus pada pengalaman subjektif ibu tunggal dan anak remajanya dalam membangun komunikasi dan kelekatan emosional. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 3 pasangan ibu dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola interaksi ibu-anak didominasi oleh komunikasi terbuka, kehangatan emosional, serta strategi pengasuhan yang adaptif. Meskipun para ibu menghadapi tantangan peran ganda, tekanan ekonomi, dan keterbatasan waktu, mereka mampu menjaga kedekatan emosional dengan anak melalui perhatian sederhana dan dukungan emosional. Anak-anak dari keluarga single parent menunjukkan sikap mandiri, empatik, dan memiliki tanggung jawab tinggi terhadap ibunya. Secara keseluruhan, pola interaksi yang positif antara ibu dan anak menjadi faktor penting dalam membentuk kesejahteraan psikologis dan penyesuaian sosial anak, meskipun tanpa kehadiran sosok ayah dalam keluarga.
Migration process experience and its impact on well-being among women immigrants in Indonesia Selian, Sri Nurhayati; Khalefa, Eslam Younis; Hanifah, Lena
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v7i2.12596

Abstract

Women and children in many countries are forced to migrate due to prolonged civil wars and conflicts. The factors and conditions that affect the well-being of immigrant and refugee populations residing in host countries are not widely known. This study aims to identify and explore the personal experiences and migration processes that affect the well-being of immigrant women in Indonesia. A qualitative method and case study design were implemented. Eight refugee women from three different countries were interviewed: Somalia, Palestine, and Afghanistan. It was found that the contexts of identification, personal experiences, the migration process, and the motives or triggers for migration were important factors in influencing the women’s present and future well-being. The study provides implications for the theory of the model used. The application of the theory assisted the researchers to construct a conceptual framework of the subjective well-being of immigrant women.
DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA SAAT MENGHADAPI UJIAN Wilda, Nuril; Selian, Sri Nurhayati
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 5 (2025): Volume 4, Nomor 5, Oktober 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i5.536

Abstract

Ujian merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan akademik mahasiswa yang sering menimbulkan tekanan psikologis. Banyak mahasiswa mengalami kecemasan akibat tuntutan nilai, ekspektasi keluarga, serta persaingan akademik. Dalam situasi ini, dukungan sosial menjadi faktor protektif yang dapat membantu mahasiswa mengelola kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena dukungan sosial terhadap tingkat kecemasan pada mahasiswa saat menghadapi ujian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis, berfokus pada pengalaman subjektif mahasiswa dalam menerima dukungan sosial dan dampaknya terhadap kecemasan ujian. Subjek penelitian menggunakan 3 mahasiswa aktif yang pernah mengalami kecemasan menjelang ujian, dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diterima mahasiswa, baik dari keluarga, teman sebaya, maupun dosen, berperan penting dalam menurunkan tingkat kecemasan. Dukungan tersebut meliputi dukungan emosional, informasional, instrumental, dan penghargaan yang menumbuhkan rasa tenang, percaya diri, serta kesiapan menghadapi ujian. Semakin tinggi dukungan sosial yang diperoleh mahasiswa, semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami. Penelitian ini menegaskan bahwa interaksi sosial yang positif menjadi elemen penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa dan dapat dijadikan dasar bagi institusi pendidikan dalam merancang program pendampingan akademik yang lebih suportif.
Differences in Self-disclosure Levels between Real World and Cyberspace in Students with Introverted Personalities ALFARIZY, RIZKY; Selian, Sri Nurhayati
Nosipakabelo: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam Vol. 6 No. 02 (2025): NOSIPAKABELO: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING KEISLAMAN
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/nosipakabelo.v6i02.4370

Abstract

This research aims to understand the experiences of students with introverted personalities in carrying out self-disclosure (Self-disclosure) in two interaction contexts, namely the real world (face to face) and the virtual world (online). This research uses a qualitative approach with phenomenological methods that focus on subjective meaning of participants' experiences. The research subjects consisted of three Muhammadiyah University of Aceh students who had introverted personality tendencies and actively used social media. Data were obtained through in-depth interviews and non-participant observations, then analyzed using Miles and Huberman's interactive model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Results show that introverted students find it easier to open up in cyberspace due to a sense of security, privacy, anonymity and control over self-expression, whereas in the real world self-openness is limited and selective. Cyberspace provides a safe space for expressing thoughts and feelings, while the real world becomes a means of building more authentic social relationships. The balance of self-openness in both contexts plays an important role in supporting healthy communication and the psychological well-being of introverted students.
Gambaran Regulasi Emosi pada Mahasiswa yang Mengalami Kecemasan Sosial Nurlina; Selian, Sri Nurhayati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/j1datb39

Abstract

College students often face academic and social demands that can trigger social anxiety, making emotion regulation an essential component of their psychological well-being. This study aims to describe students’ experiences in regulating their emotions when dealing with social anxiety, identify the strategies they use, and analyze the factors influencing their emotional regulation processes. This research employed a qualitative phenomenological approach with three participants selected through purposive and snowball sampling. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman’s model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that students frequently use emotion regulation strategies such as avoidance, emotional suppression, and cognitive reappraisal, influenced by previous social experiences, environmental support, and emotional self-efficacy. The study concludes that social anxiety shapes a complex dynamic of emotional regulation, where students often struggle between expressing their emotions and avoiding negative evaluation. The novelty of this study lies in its in-depth exploration of students’ subjective emotional experiences, which remains underexplored in previous quantitative research. The implications highlight the need for culturally sensitive and context-based campus interventions to help students develop more adaptive emotion regulation strategies.          
Proses Adaptasi Mahasiswa terhadap Culture shock selama Menempuh Pendidikan Tinggi: Studi Fenomenologis Rifqi, Avif; Selian, Sri Nurhayati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/vze36q06

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pengalaman mahasiswa di wilayah tersebut dengan shock budaya dan proses adaptasi yang mereka alami selama belajar di Universitas Muhammadiyah Aceh. Latar belakang penelitian adalah fakta bahwa mahasiswa semakin banyak bergerak dari satu tempat ke tempat lain, yang menyebabkan mereka bertemu dengan lingkungan sosial dan budaya baru yang sulit untuk menyesuaikan diri. Studi ini menggunakan metodologi kualitatif, dan desain studi kasusnya melibatkan teknik pengumpulan data yang melibatkan observasi partisipatif, dokumentasi pendukung, dan wawancara mendalam. Hasil menunjukkan bahwa siswa di wilayah tersebut mengalami shock budaya dalam tiga aspek: sosial, akademik, dan emosional. Karena perbedaan bahasa dan norma interaksi, siswa menghadapi kesulitan berkomunikasi dalam aspek sosial. Dalam hal akademik, mereka membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran yang lebih terorganisir dan membutuhkan waktu untuk belajar sendiri. Pada awal perkuliahan, mahasiswa mengalami tekanan emosional seperti rindu rumah, kesepian, dan kecemasan. Meskipun demikian, mahasiswa mampu beradaptasi seiring waktu, mulai dari menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, memahaminya, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan kampus. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal, seperti dukungan sosial teman dan lingkungan kampus, mempengaruhi kemampuan adaptasi siswa. Studi ini menunjukkan bahwa orientasi budaya, konseling, dan kegiatan interkultural sangat penting untuk membantu siswa menjadi lebih kuat, mengurangi tekanan psikologis, dan mempercepat adaptasi ke lingkungan pendidikan multikultural.