Claim Missing Document
Check
Articles

PERSONAL BRANDING DALAM KOMUNIKASI SELEBRITIS (STUDI KASUS PERSONAL BRANDING ALUMNI ABANG NONE JAKARTA DI MEDIA SOSIAL “INSTAGRAM”) Ievansyah, Ievansyah; Sadono, Teguh Priyo
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 4, No 02 (2018): Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.805 KB) | DOI: 10.30813/bricolage.v4i02.1346

Abstract

Abang None merupakan sebutan untuk Duta Pariwisata DKI Jakarta. Peneliti melihat adanya fenomena transformasi diri dari duta pariwisata menjadi seorang selebritis. Fenomena ini mengacu pada studi kasus yang dialami oleh Maudy Koesnaedi, Bangpen, dan Shabina Gianti. Peneliti ingin mengetahui proses pengelolaan personal branding yang ingin mereka bentuk, dan sampaikan ke publik lewat media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan studi kasus deskriptif, yang berangkat dari paradigma Post Positivisme. Konsep yang digunakan adalah personal branding, dan dipertajam dengan teori Communication Private Management (CPM Theory). Teknik pengumpulan datanya ialah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Konsep personal branding yang dikemukakan oleh Peter Montoya, mengacu pada delapan hukum, yaitu hukum spesialisasi (the law of specialization), hukum kepemimpinan (the law of leadership), hukum kepribadian (the law ofpersonality), hukum perbedaan (the law of distinctiveness), hukum kenampakan (the law of visibility), hukum kesatuan (the law of unity), hukum keteguhan (the law of persistence), dan hukum maksud baik (the law of good will). Dari kedelapan hukum ini, peneliti melihat bahwa ketiga narsumber memiliki keistimewaan yang berbeda-beda, konsisten dalam mengelola personal branding, dan mampu menunjukkan etika yang baik dalam sosial. Teori Communication Private Management (CPM Theory), yang dikemukakan oleh Sandra Petronio, memiliki lima asumsi dasar untuk melihat bagaimana mereka mengelola informasi yang bersifat pribadi di wilayah publik. Lima asumsi itu ialah informasi privat, batasan privat, kontrol dan kepemilikan, sistem manajemen berdasarkan aturan, dan dialektika manajemen. Ketiga narasumber secara garis besar sudah mengetahui batasan privasi mereka dengan publik, sehingga mereka memahami informasi yang boleh dan tidak untuk dibagikan kepada publik. Mereka memiliki manajemen yang baik, antara mereka dan netizen. Peneliti berharap semoga penelitian selanjutnya bisa lebih mengembangkan konsep personal branding, dan teori CPM. Semoga penelitian ini bisa menjadi rujukan, untuk dikembangkan lebih baik lagi dari segala aspek.Kata Kunci: Personal Branding, Abang None, Selebritis, Instagram
KOMODIFIKASI NILAI NASIONALISME SEBAGAI IDENTITAS SOSIAL MELALUI TETRALOGI STAND UP COMEDY PANDJI PRAGIWAKSONO Yudhi, Lim; Sadono, Teguh Priyo
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 4, No 02 (2018): Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.805 KB) | DOI: 10.30813/bricolage.v4i02.1343

Abstract

Pandji Pragiwaksono selama menekuni karirnya di bidang stand up comedy telah menggelar empat tour stand up comedy show yang masing-masing berjudul “Bhinneka Tunggal Tawa”, “Merdeka Dalam Bercanda”, “Mesakke Bangsaku”, dan “Juru Bicara”. Seluruh materi yang dibawakan oleh Pandji seputar isu-isu sosial yang hadir dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pandji berharap dapat memberikan perspektif baru kepada bangsa Indonesia untuk menjaga semangat nasionalisme dalam setiap stand up special-nya. Materi stand up comedy yang ditampilkan oleh Pandji selalu sarat dengan dunia politik. Hal ini juga terlihat melalui beberapa karya tulisannya di blog pribadinya yang selalu membahas isu-isu sosial politik. Sosok Anies Baswedan muncul dalam beberapa tulisan Pandji Pragiwaksono selama masa kampanye pilgub DKI Jakarta 2017 putaran pertama. Pandji menggelar tur-nya yang diberi judul “Juru Bicara” sekaligus ia saat itu menjadi juru bicara dari pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Setiap materi stand up comedy yang dibawakan oleh Pandji selalu dibahas kembali melalui blog pribadinya. Pandji membahas bahwa solusi dari setiap permasalahan sosial yang ada di Indonesia adalah masih kurangnya kualitas pendidikan di Indonesia. Solusinya adalah butuh sosok yang dapat membawa perubahan tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. produksi wacana kepentingan politik di balik setiap materi stand up Pandji Pragiwaksono yang mengemas nilai nasionalisme sebagai identitas sosial menjadi sebuah komoditas di balik tetralogi stand up tour Pandji Pragiwaksono. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan melalui AWK Teun A. van Dijk secara kritis, kepentingan politik yang dijual dengan mengemas nilai nasionalisme sebagai sebuah komoditas ideologi sebagai sebuah proses komodifikasi dalam memproduksi wacana kampanye politik melalui proses reproduksi materi stand up comedy dari setiap pertunjukkan stand up comedy special tour yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono.Kata Kunci: Stand up comedy, Komodifikasi, Nasionalisme, Wacana Kritis
Aktivitas Yoiki Mentai dalam Menggunakan Endorsement Non- Selebriti Melalui Instagram Untuk Menciptakan Brand Awareness Di Sidoarjo Ayuningtyas, Trisya Apsari; Sadono, Teguh Priyo; Ekoputro, Widiyatmo
Jurnal Representamen Vol 7 No 02 (2021): Jurnal Representamen Volume 7 No 02 Oktober 2021
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.34 KB) | DOI: 10.30996/representamen.v7i02.5722

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pemanfaatan Instagram sebagai platform pemasaran untuk menciptakan brand awareness Yoiki Mentai di Sidoarjo melalui Endorsement Non-Selebriti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas Yoiki Mentai dalam menggunakan endorsement non-selebriti melalui instagram untuk menciptakan brand awarenessnya di Sidoarjo. Dalam penelitian ini penulis menggunakan kajian literatur Strategi Branding metode penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan sosiopsikologis dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah 3 orang, yaitu Founder Yoiki Mentai, Tim Marketing Yoiki Mentai dan pelanggan aktif Yoiki Mentai. Model analisis data yang peneliti gunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian teknik analisis data dan teknik keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber data. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Yoiki Mentai menggunakan endorsement non-selebriti melalui instagram untuk menciptakan brand awareness melalui konsep dan pesan. Konsep yang dibawakan oleh 3 endorser sama-sama menggunakan konsep honest review dan pesan yang dibawakan dalam aktivitas endorsement ini mengarah pada pengenalan produk, brand, dan gambaran produk dengan pesan persuasif yang berhasil menciptakan Brand Awareness dan penjualan produk Yoiki Mentai.Kata Kunci : Branding ,Endorsement,Yoiki Mentai, Brand Awarenes
ANALYSIS OF TYPE IMPROVEMENT IN SIDOMUKTI SUB DISTRICT OF SALATIGA CITY OF CENTRAL JAVA PROVINCE Novaria, Rachmawati; Suwardi, Suwardi; Sugiyarti, Sri Riris; Sadono, Teguh Priyo
Dinamika Governance : Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol 11, No 2 (2021): Dinamika Governance: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jdg.v11i2.2804

Abstract

Abstract Salatiga City Government has four sub-districts. Three sub-districts already received type A: Sidorejo, Argomulyo, and Tingkir. But, the Sidomukti sub-district is still typed B. The city continues to grow and needs to improve its services. Sidomukti sub-district needs to be upgraded to type-A so that services become more effective. This study is intended to produce an analysis of how to increase the sub-district status to type - A. The research uses a descriptive-analytic method with a formal legal approach. The results show that the general variable score is 100 (one hundred), and the unique variable score is 440 (four hundred and forty). The overall score is 540 (five hundred and forty). The conclusion of the study still places Sidomukti District in the type B sub-district. Regarding PP 18 of 2016 concerning Regional Apparatus for type A sub-district, the minimum score is above 600. This research recommendation proposes a regional expansion to achieve an increase in score of 610. Keyword: Upgrade, sub-district, Sidomukti, Salatiga Intisari Pemerintah Kota Salatiga memiliki empat kecamatan. Tiga kecamatan tipe A: Sidorejo, Argomulyo dan Tingkir. Kecamatan Sidomukti masih bertipe B. Kota terus bertumbuh butuh meningkatkan pelayanan. Kecamatan Sidomukti perlu ditingkatkan statusnya menjadi tipe –A agar pelayanan menjadi lebih efektif. Penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan analisis peningkatan status kecamatan menjadi tipe – A. Penelitian menggunakan metode  deskriptif analitik dengan pendekatan legal formal. Hasil penelitian menunjukan skor variabel umum sejumlah 100 (seratus) dan skor variabel khusus  440 (empat ratus empat puluh). Keseluruhan skor diperoleh 540 (lima ratus empat puluh). Kesimpulan penelitian masih menempatkan Kecamatan Sidomukti berada pada kecamatan tipe B. Merujuk pada PP 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah untuk tipe kecamatan dengan tipe A maka skor minimal adalah diatas 600. Rekomendasi penelitian ini mengusulkan pemekaran wilayah guna mencapai peningkatan skor 610. Kata Kunci: Tipe kecamatan, Sidomukti, Salatiga DOI : https://doi.org/10.33005/jdg.v11i2.2804
Tinjauan Historitas Simbol Harmonisasi Antaretnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung Meta Sya; Rustono Farady Marta; Teguh Priyo Sadono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 4, No 2 (2019): Nasionalisme, Demokrasi, dan Identitas
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jscl.v4i2.23517

Abstract

This article discusses the historical background of the formation of the Bangka Belitung islands as a province full of harmonization symbols, namely ethnic Chinese and Malays (Thongin Fangin Jit Jong). Based on historical searches using primary and secondary sources, it can be concluded that the arrival of the Chinese in Bangka as miners has made a mixture of Chinese and Malay ethnic groups in Bangka. Then, the assimilation was expressed with an attitude of solidarity between the two, which began with the arrival of the white nation in Bangka, causing a resistance between ethnic Chinese and Malays through the Bangka War led by Depati Amir. This was done because of the feelings of oppression and suffering experienced by ethnic Chinese and Malays at that time. Then, the attitude of solidarity did not stop at that moment, but when Bangka Belitung struggled to break away from South Sumatra. The participation of the entire community of the Bangka Belitung Islands together struggled to be able to provide prosperity. Therefore, historical ties become very important media in the formation of the symbol of harmonization.
TRAVELOKA AS THE ULTIMATE WORKPLACE FOR MILLENNIAL GRADUATES IN INFORMATION AND TECHNOLOGY Fransisca Maria Harita; Teguh Priyo Sadono; Meta Sya; Joshua Fernando; Jai Kishon Goswami
ASPIRATION Journal Vol. 1 No. 2 (2020): November Edition of ASPIRATION Journal
Publisher : ASPIKOM Jabodetabek Region

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.075 KB)

Abstract

Traveloka is one of the online agents for booking airline tickets, hotels, trains, and several other online services. Traveloka is one of the Unicorns from 4 startup businesses in Indonesia. Unicorn is a term for startups worth over the US $ 1 billion or equivalent to Rp. 13.5 trillion. Traveloka is an organization that applies advanced organizational communication; in structural and transitional theory, the structure is seen as a hierarchy, policy, and organizational design, whereas Weick views structure as an activity and, more specifically, as a communication activity. According to the concept of Weick, humans do not only run organizations; humans are these organizations. This study discusses the understanding of the meaning shared by Traveloka employees about the organization where they currently work. This shared understanding was obtained from the interaction between Traveloka employees. Convergence theory developed by Ernest G. Borman is used to find out how the process of awareness of groups or organizations is formed, developed, and survived. The research uses qualitative methods and constructivist paradigms. The results of the study show that there is a message dramatization process that forms a type of fantasy chain about Traveloka as an organization where competent people are especially in the field of Information and Technology (IT), and as an organization that is Flexible & Responsible. From the results of interviews with six informants who are Traveloka employees, the researchers obtained four points in common with their basic values ​​as part of the Traveloka organization, which directs them to Traveloka employees as the ultimate end.
Disintermediasi Industri Musik Melalui Konstruksi Pengguna Akhir Most Viral Project MIchael Tristan; Teguh Priyo Sadono; Rustono Farady Marta
ETTISAL : Journal of Communication Vol 4, No 1 (2019): ETTISAL Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ettisal.v4i1.2969

Abstract

 Pembajakan hak karya orang lain sudah menjadi hal yang sangat serius di beberapa tahun ini semenjak teknologi semakin cepat berkembang, terlebih dalam pembajakan musik. Semakin mudah kita memperoleh musik yang free download karena selalu ada orang yang dengan sengaja menyebar luaskan karya orang lain dengan cuma-cuma dan tidak bertanggung jawab. Latar belakang yang mendasari penelitian ini adanya aplikasi yang menyediakan jasa untuk menanggulangi hal tersebut melalui aplikasi streaming musik dan download berbayar, dengan cara tersebut orang yang memiliki karya bisa mendaftarkan karyanya, kemudian pemilik karya pun bisa mendapat keuntungan atas hasil karyanya sendiri, hasil karyanya pun bisa didengar orang lain dan mendapat keuntungan ketika ada yang men-download-nya sehingga dapat mengurangi pembajakan. Hasil penelitian berupa wawancara dan FGD serta temuan lapangan lainya dikaji dalam teknik analisis resepsi Stuart Hall dan pemilahan hasil temuan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bagaimana peluncuran musik online Most Viral Project di kalangan pengguna Smartphone Android dapat mengubah perilaku dan gaya hidup dalam mengkonsumsi musik. Namun penjualan utama dalam target MVP sendiri adalah sebuah bisnis yang berbentuk MLM. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Determinasi Teknologi Marshall Mcluhan. Hasil dari penelitian ini, aplikasi ini memiliki daya jual pada pasar MLM yang sempat meledak di pasar indonesia beberapa tahun lalu, dan kini dikembangkan kembali dan memiliki pusat di Indonesia sendiri. Selain itu aplikasi berguna sebagai peubah pengantara penjualan dari produsen langsung ke pengguna akhir.  Abstract Piracy of the rights of other people's work has become a very serious thing lately since technology is growing rapidly, especially in music piracy. The easier we get music that is free download because there are always people who deliberately spread the work of others for free and irresponsible. The background that underlies this research is an application that provides services to overcome this through music streaming applications and paid downloads, in this way the person who has the work can register his work, then the owner of the work can benefit from his own work, his work can heard by others and get benefits when someone downloads it so it can reduce piracy. The results of the study in the form of interviews and FGDs and other field findings were examined in the analysis techniques of Stuart Hall reception and sorting out the finding. The results of this study show how the launch of the Most Viral Project online music among Android Smartphone users can change behavior and lifestyle in consuming music. But the main sales in the MVP target itself is a business in the form of MLM. The method in this study uses qualitative research methods using Marshall Mcluhan's Determination Technology theory. The results of this study, this application has the selling power of the MLM market which had exploded in the Indonesian market a few years ago, and is now being developed again and has a center in Indonesia itself. Besides that, the application is useful as an intermediary variable for sales from producers directly to end users. 
PERSONAL BRANDING DALAM KOMUNIKASI SELEBRITIS (STUDI KASUS PERSONAL BRANDING ALUMNI ABANG NONE JAKARTA DI MEDIA SOSIAL “INSTAGRAM”) Ievansyah Ievansyah; Teguh Priyo Sadono
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 4, No 02 (2018): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.698 KB) | DOI: 10.30813/bricolage.v4i02.1658

Abstract

ABSTRACTAbang None is a designation for Jakarta Tourism Ambassador. Researchers saw a phenomenon of self-transformation from a tourism ambassador to a celebrity. This phenomenon refers to case studies experienced by Maudy Koesnaedi, Bangpen, and Shabina Gianti. Researchers want to know the personal branding management process they want to form, and convey it to the public through Instagram social media. This study uses qualitative methods, with descriptive case studies, which depart from the Post Positivism paradigm. The concept used is personal branding, and is sharpened by the theory of Communication Private Management (CPM Theory). Data collection techniques are observation, interviews, and documentation analysis. The concept of personal branding proposed by Peter Montoya, refers to eight laws, namely the law of specialization, the law of leadership, the law of personality, the law of distinctiveness. , the law of appearance (the law of visibility), the law of unity, the law of persistence, and the law of good intentions. From these eight laws, the researcher saw that the three sources had different features, were consistent in managing personal branding, and were able to demonstrate good ethics in using social media. The theory of Communication Private Management (CPM Theory), proposed by Sandra Petronio, has five basic assumptions to see how they manage personal information in the public domain. The five assumptions are private information, private boundaries, control and ownership, rule-based management systems, and management dialectics. The three informants in general have known the limitations of their privacy with the public, so they understand the information that is allowed and not to be shared with the public. They have good management, between them and netizens. Researchers hope that further research can further develop the concept of personal branding, and CPM theory. Hopefully this research can be a reference, to be better developed from all aspects.Keywords: Personal Branding, Abang None, Celebrity, InstagramABSTRAKAbang None merupakan sebutan untuk Duta Pariwisata DKI Jakarta. Peneliti melihat adanya fenomena transformasi diri dari duta pariwisata menjadi seorang selebritis. Fenomena ini mengacu pada studi kasus yang dialami oleh Maudy Koesnaedi, Bangpen, dan Shabina Gianti. Peneliti ingin mengetahui proses pengelolaan personal branding yang ingin mereka bentuk, dan sampaikan ke publik lewat media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan studi kasus deskriptif, yang berangkat dari paradigma Post Positivisme. Konsep yang digunakan adalah personal branding, dan dipertajam dengan teori Communication Private Management (CPM Theory). Teknik pengumpulan datanya ialah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Konsep personal branding yang dikemukakan oleh Peter Montoya, mengacu pada delapan hukum, yaitu hukum spesialisasi (the law of specialization), hukum kepemimpinan (the law of leadership), hukum kepribadian (the law of personality), hukum perbedaan (the law of distinctiveness), hukum kenampakan (the law of visibility), hukum kesatuan (the law of unity), hukum keteguhan (the law of persistence), dan hukum maksud baik (the law of good will). Dari kedelapan hukum ini, peneliti melihat bahwa ketiga narsumber memiliki keistimewaan yang berbeda-beda, konsisten dalam mengelola personal branding, dan mampu menunjukkan etika yang baik dalam sosial. Teori Communication Private Management (CPM Theory), yang dikemukakan oleh Sandra Petronio, memiliki lima asumsi dasar untuk melihat bagaimana mereka mengelola informasi yang bersifat pribadi di wilayah publik. Lima asumsi itu ialah informasi privat, batasan privat, kontrol dan kepemilikan, sistem manajemen berdasarkan aturan, dan dialektika manajemen. Ketiga narasumber secara garis besar sudah mengetahui batasan privasi mereka dengan publik, sehingga mereka memahami informasi yang boleh dan tidak untuk dibagikan kepada publik. Mereka memiliki manajemen yang baik, antara mereka dan netizen. Peneliti berharap semoga penelitian selanjutnya bisa lebih mengembangkan konsep personal branding, dan teori CPM. Semoga penelitian ini bisa menjadi rujukan, untuk dikembangkan lebih baik lagi dari segala aspek.Kata Kunci: Personal Branding, Abang None, Selebritis, Instagram
MEMAHAMI MAKNA SOLIDARITAS (TELAAH SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA AKSI SOLIDARITAS “1000 LILIN”, HARIAN KOMPAS, EDISI SABTU, 13 MEI 2017) Nicodemus Koli; Teguh Priyo Sadono
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 3, No 02 (2017): BRICOLAGE: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.821 KB) | DOI: 10.30813/bricolage.v3i02.923

Abstract

Aksi solidaritas masyarakat di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia menyusul vonis atas BasukiTjahaja Purnama (Ahok) menoreh catatan tersendiri dalam sejarah demokrasi bangsa Indonesia karenamenyentuh berbagai konteks sosial sekaligus menggugah kesadaran berbangsa yang satu dalamkeragaman. Makna solidaritas dan kesadaran itu dapat dipahami melalui pendekatan semiotika. Salah saturujukan studi semiotika adalah Roland Barthes yang menghadirkan makna denotasi dan konotasi atausignifikasi dua tahap. Pada tahap pertama, konsep – konsep kunci yang perlu dipahami, yaitu, reality,signs,dan denotation. Sementara itu, signifier dan signified merupakan konsep jembatan menuju tahapkedua yang mencakup konsep mengenai culture, form, content, connotation dan myth. Makna yangdibingkai dalam konsep – konsep ini terbuka juga bagi interpretasi intersubyektif sehingga akan selaluada makna dan pendefinisian baru. Dengan demikian, makna realitas yang ada dalam aksi solidaritas1000 lilin ini pun dapat ditelusuri dan disingkap secara denotatif dan konotatif, mulai dari tahap pertamahingga tahap kedua yang juga terbuka bagi pemaknaan seterusnya dalam peleburan berbagai horizon.Kata kunci: solidaritas, signifier, signified, denotasi, konotasi, intersubyektif
GOOD GOVERNANCE SEBAGAI MODEL RETORIS Teguh Priyo Sadono
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 2, No 02 (2016): BRICOLAGE: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.66 KB) | DOI: 10.30813/bricolage.v2i02.838

Abstract

Throughout the history of the state of life, a nation are always colored tidal beliefs of the management of the State. Various approaches are used through policy model be pursued in the conception of the ideal model of building a nation in achieving its goals. Start with the assumption state approach as an effective phrase, shifted to Market and civil society did not obtain a formula that considered the most effective. Then came the views of good governance is regarded as a dynamic view and dialectics approach in the management of government supervision. However, in the implementation of global factors strongly influence national policy models, So Good Governance merely a rhetorical concept that can not be applied in empirical level. Keywords: approaches, state, market, civil society, Governance
Co-Authors Achluddin Ibnu Rochim Aldina Ramadhanti Pramestiningrum Amina, Nurtyasih Wibawanti Ratna Anhikmah, Anhikmah Ayuningtyas, Trisya Apsari Bambang Satriya Bambang Satriya Chasanah, Rina Nur Delvira Nurul Aini Yuliandari Harahap Djatmiko, Benedictus Raflin Algra Triyoga Dwi Hartutik Edy Sudaryanto Fensi, Fabianus Fernando, Joshua Fransisca Maria Harita Hamim Hamim Hamim Hesti, Septina Rohimawati Ievansyah Ievansyah Ievansyah, Ievansyah Jai Kishon Goswami Joko Widodo Karunia, Risma Mei Koli, Nicodemus Kridawati Sadhana Kridawati Sadhana Marselina Marselina Merry Fridha Tri Palupi Merry Fridha Tripalupi Meta Sya Meta Sya MIchael Tristan Mukti, Baresa Margi Nicodemus Koli Noorshanti Sumarah Novaria, Rachmawati Nurazizah, Amelia Nurtyasih Wibawanti Ratna Amina Nurul Fitriyani Nutyasih Wibawanti Ratna Amina Pajala, Samuel Palupi, Merry Frida Tri Parinussa, Olivia Yuniar Pramono , Bambang Sigit Pramono, Bambang Sigit Prasetya, Aldian Firdianto Prasetya, Bambang Jaka Puspitasari, Dia Qurrota A`yun, Hajar Rachmawati Novaria Ranta Amina, Nurtyasih Wibawanti Rongrong, Michael Jibrael Royan Khusnul Arief Rudy Handoko Rustono - Rustono Farady Marta Rustono Farady Marta Salsafila, Nanda Delia Setiadi, Muh. Darmawan Sheron Mariana Alezandra Engelbert Sigit Pramono , Bambang Sigit Pramono, Bambang Siwi, Yogi Raka Sugiyarti, Sri Riris Suwardi, Suwardi Syarofa, Sherina Tachopisalwong, Attanan Tri Palupi, Merry Fridha V. Rudy Handoko Vania Shafa Meidina Widiyatmo Ekoputro Yadnya, Anak Agung Gede Agung Aditya Satwika Yasmin Balqis Awwaliyah Purnomo Yudhi, Lim