Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : ipssj

RITUAL CAP GO MEH DI KLENTENG ENG AN KIONG MALANG TAHUN 1978-1988 Pria Bagus Pratama; Wisnu
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 01 Januari (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika dan pengaruh pelaksanaan ritual Cap Go Meh terhadap interaksi sosial, budaya, dan ekonomi etnis Tionghoa ditengah pembatasan ekspresi budaya Tionghoa di Klenteng Eng An Kiong Malang dari tahun 1978-1988. Fokus utamanya adalah memahami proses perubahan dan segala dinamika yang mempengaruhi ritual Cap Go Meh oleh komunitas Tionghoa, lalu bagaimana pengaruhnya terhadap interaksi sosial budaya Tionghoa serta aktivitas perdagangan disekitar klenteng Eng An Kiong. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahap yaitu heuristi atau pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historigrafi. Sumber yang di peroleh, pada sumber tertulis seperti, arsip tentang Klenteng Eng An Kiong dan perayaan ritual Cap Go Meh seperti monografi Klenteng, surat undangan sembahyang, penanggalan Cina sebagai penanda tahun baru Imlek dan perayaan Cap Go Meh pada malam ke lima belas, dan beberapa arsip lain di masa yang telah di tentukan, lalu pada sumber lisan di peroleh dari wawancara ketua yayasan klenteng selaku tokoh sejarah yang masih ada, beberapa tokoh pengurus klenteng yang juga masih hidup, jemaat klenteng, serta pustaka relevan yang mendukung tentang ritual Cap Go Meh dan klenteng Eng An Kiong. Hasil penelitian menunjukan bahwa ritual Cap Go Meh mengalami dinamika yang cukup signifikan setiap tahunnya, walaupun ditengah-tengah mengalami banyak hambatan dan rintangan dalam proses pelaksanaanya. Segala dinamika ini tidak dapat mempengaruhi solidaritas komunitas Tionghoa yang sangat kuat sesama umat beragama, momentum ini menjadikan semangat bagi para jemaat dan pengurus klenteng dalam mempertahankan ritual Cap Go Meh sebagai identitas budaya untuk keberlangsunganya ke depan bagi generasi muda. Ritual Cap Go Meh menjadi simbol nilai, makna, dan penguat tali solidaritas bagi komunitas Tionghoa klenteng Eng An Kiong, walaupun diterjang dengan berbagai tantangan, para pengurus klenteng tetap berusaha merangkul para masyarakat Malang untuk berpartisipasi pada perayaan Klenteng sebagai bentuk penguatan hubungan sosial sesama penduduk kota Malang yang sama-sama memiliki proses dan perjalanan sejarah panjang di kota yang penuh dengan berbagai macam etnis. Hal ini menjadika ritual Cap Go Meh sebagai jembatan memperkuat dan mempertahankan identitas budaya Tionghoa di Klenteng Eng An Kiong dengan berbagai dinamika pelaksanaanya
Peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII dalam Mewujudkan Pemilu Daerah 1951 di Yogyakarta Risqy Indah Sari; Wisnu
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 07 Juli (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk melakukan analisis terhadap peran dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII selaku elit tradisional yang mewujudkan Pemilu Daerah 1951 di Yogyakarta. Keberadaan mereka dalam proses aktualisasi demokrasi pada awal kemerdekaan bukan hanya sekedar simbolis saja, namun sekaligus menjadi aktor politik sentral jalannya demokrasi di tanah Yogyakarta. Pemilu Daerah 1951, seringkali dikatakan sebagai pilot project demokrasi lokal tingkat provinsi pertama di Indonesia. Hal ini menjadi fenomena yang unik karena pemilu daerah kali ini dilaksanakan di tengah masyarakat yang menganut sistem monarki. Fokus penelitian adalah untuk melihat bagaimana peran elit tradisional dalam mewujudkan penyelenggaraan Pemilu dan bagaimana hubungan antara peran elit tradisional dan tingginya partisipasi masyarakat.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah milik Kuntowijoyo, yang terdiri atas tahapan heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber (verivikasi dan otentisitas), interpretasi (analisis), dan historiografi (penulisan sejarah). Sumber-sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi arsip, surat kabar sezaman, dan buku-buku yang terkait dengan tema penelitian. Analisis berdasarkan pada Teori Demokrasi dan Teori Otoritas Elit Tradisional. Hasil penelitian menunjukan bahwasannya peran kedua elit tradisional sangat penting dalam Pemilu Daerah 1951. Keduanya secara aktif terlibat baik dalam urusan birokrasi, menjabat ketua KPPP, penyusunan persiapan, turun langsung melakukan sosialisasi dan pengawasan terhadap jalannya pemilu. Keberadaan tokoh monarki dalam proses pemilu terlihat mampu mendorong tingkat partisipasi masyarakat hiingga mencapai 88%. Tingginya partisipasi ini dapat di jelaskan melalui faktor kultural loyalitas masyarakat kepada elit tradisional. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwasannya keberhasilan Pemiu Daerah 1951 di Yogyakarta merupakan manifestasi dari kemampuan para elit tradisional beradaptasi, melakukan kolaborasi, dan memanfaatkan legitimasi kultural untuk mendukung jalannya pemilu ini. Pengalaman Yogyakarta membuktikan bahwasannya elit tradisional tidak selamanya menjadi penghambat demokrasi, namun ternyata elit tradisional dapat menjadi mitra efektif dalam membangun sistem demokrasi.
Kerusuhan Sosial 12 Januari 2002 Di Sidoarjo Khoirotun Nisa; Wisnu
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 07 Juli (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas kerusuhan sosial 12 Januari 2002 yang terjadi di Desa Tenggulunan dan Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui situasi wilayah kerusuhan, kronologi kerusuhan, dan upaya penanganan yang dilakukan oleh pihak terkait. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan empat tahapan, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusuhan sosial 12 Januari 2002 di Sidoarjo dipicu oleh pembunuhan seorang warga Desa Durungbedug sebagai aksi balas dendam atas pembunuhan yang terjadi pada 13 Desember 2001. Pembunuhan tersebut memicu kemarahan warga yang kemudian berkembang menjadi aksi kerusuhan hingga mengakibatkan kerusakan pada tujuh rumah warga asal Madura di Desa Tenggulunan dan Sepande. Upaya penanganan dilakukan melalui pengamanan wilayah kerusuhan, penegakan hukum oleh aparat kepolisian, serta upaya perdamaian yang melibatkan tokoh masyarakat.
Regentschap Pasuruan Tahun 1830-1860 Raga Rahmat Dani; Wisnu
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 07 Juli (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika pemerintahan dan kebijakan di wilayah Regentschap Pasuruan pada periode tahun 1830–1860, tepatnya pada saat Bupati Raden Adipati Ario Nitiadiningrat IV menjadi Bupati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem pemerintahan serta implementasi kebijakan yang berjalan di Regentschap Pasuruan pada kurun waktu tersebut. Metode yang digunakan adalah metode sejarah kritis yang berfokus pada sejarah kota/wilayah, meliputi tahapan heuristik, verifikasi (kritik sumber), interpretasi, dan historiografi. Sumber data dikumpulkan melalui pemanfaatan arsip, koran sezaman, dan buku literatur, baik dari sudut pandang kolonial Hindia Belanda maupun penulis pribumi. Analisis dilakukan dengan pendekatan sejarah kota yang mencakup kondisi geografis, morfologi wilayah, struktur pemerintahan, dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan wilayah Regentschap Pasuruan pada tahun 1830–1860 meliputi wilayah Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, dan sebagian kecil Kabupaten Malang pada saat ini. Sebagai wilayah administrasi berbentuk kabupaten di bawah pemerintahan Hindia-Belanda, struktur ini secara signifikan memengaruhi arah kebijakan sosial, pembangunan infrastruktur, tata pemerintahan, serta perkembangan pendidikan di wilayah tersebut.