Claim Missing Document
Check
Articles

Optimasi Tata Letak Pada Proyek Pembangunan Gedung C dan D Institut Teknologi Kalimantan Andika Ade Indra Saputra; Raftonado Situmorang; Oryza Lhara Sari; Athaya Arianti
COMPACT: Spatial Development Journal Vol 1 No 1 (2022): COMPACT
Publisher : Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1592.625 KB) | DOI: 10.35718/compact.v1i1.737

Abstract

Proyek pembangunan gedung C dan D Institut Teknologi Kalimantan berada pada lahan yang terbatas sehingga kontraktor mengalami kendala untuk mengatur tata letak fasilitas proyek yang dibutuhkan. Tata letak eksisting yang tidak direncanakan secara optimal dapat berdampak terhadap produktifitas kerja proyek. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tata letak yang paling optimal pada proyek pembangunan gedung C dan D. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode multi objectives function dengan mengoptimalkan lebih dari dua fungsi tujuan secara bersamaan, yaitu traveling distance (TD) dan safety index (SI). Analitical Hierarchy Process (AHP) dan expert judgement juga digunakan sebagai metode tambahan dalam pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata letak yang paling optimal didapatkan pada alternatif ke-6 dengan nilai TD sebesar 12590,34 meter atau tereduksi sebesar 31,91% dari eksisting yang memiliki nilai TD sebesar 18489,5. Nilai SI pada alternatif ke-6 yaitu 1411,38 dengan penambahan SI 20.28 % dari nilai SI eksisting sebesar 1173,37. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode AHP diperoleh bahwa alternatif ke-6 memiliki nilai index sebesar 0,12997. Dibandingkan dengan kondisi eksisting, tata letak fasilitas proyek pembangunan gedung C dan D pada alternatif ke-6 mampu meningkatkan efektifitas mobilitas pekerja maupun material dan memiliki tingkat keamanan serta keselamatan yang lebih baik.
Rencana Keselamatan Konstruksi (Studi Kasus Gedung Laboratorium Terpadu 2 Institut Teknologi Kalimantan) Raftonado Situmorang; Oryza Lhara Sari; Andika Ade Indra Saputra
COMPACT: Spatial Development Journal Vol 1 No 2 (2022): COMPACT
Publisher : Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.318 KB) | DOI: 10.35718/compact.v1i2.772

Abstract

Manajemen keselamatan dan kesehatan konstruksi salah satu tahap pelaksanaannya adalah membuat Rencana Keselamatan Konstruksi. Salah satu rencana pekerjaan di Institut Teknologi Kalimantan adalah pembangunan Gedung laboratorium terpadu 2. Penilitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko dan bahaya yang ada, kemudian membuat rencana keselamatan kerjanya. Metode yang digunakan adalah dengan survei yang dilakukan kepada pemangku kepentingan yang ada dan akademisi yang berada di wilayah Institut Teknologi Kalimantan terhadap studi rencana kerja konstruksi Gedung Laboratorium Terpadu 2. Data yang digunakan adalah data gambar rencana, lingkup  pekerjaan, metode pekerjaan, dan jadwal pelaksanaan. Hasil penelitian ini adalah didapatnya beberapa pekerjaan dengan risiko yang tinggi yaitu pekerjaan pondasi, galian, pilecap, bekisting kolom, pengecoran, pemasangan pipa air, begisting balok dan pelat lantai, pemasangan pipa listrik, dan pekerjaan pasang keramik.  Untuk pencegahan risiko kecelakaan dilakukan rekayasa teknik, tindak mitigasi, peraturan, dan alat pelindung diri.
ANALISIS FAKTOR KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI DI KOTA BALIKPAPAN Dimas Adhitya Putra; Oryza Lhara Sari; Raftonado Situmorang
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 9 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v9i1.2044

Abstract

Dalam dunia proyek konstruksi, waktu merupakan komponen terpenting dalam keberhasilan suatu proyek. Namun, kenyataannya secara umum di lapangan terdapat banyak proyek yang tidakvselesai tepatnwaktu atau mundur dari waktu yangztelah ditentukan sehingga pelaksanaannya mengalami keterlambatan. Dalam hal ini banyak proyek yang biasanya terjadi keterlambatan pada proses pelaksanaannya seperti proyek-proyek yangnada di Kota Balikpapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuisafaktor-faktor yangPmempengaruhi keterlambatanwproyek konstruksi, dan mengetahuiKfaktoroyanggpaling dominan dalam menyebabkan keterlambatan proyek konstruksi di Kota Balikpapan. Metode yangbdigunakancdalamxzpenelitian iniuyaitu metode kuantitatif, pengumpulan data dilakukan denganjpenyebaran kuesionerbyangmselanjutnya dilakukan analisis data berupa uji validitas, uji reliabilitas dan analisis faktor. Setelah dilakukan analisis diperoleh 8 faktorayang mempengaruhizketerlambatan proyek konstruksi di Kota Balikpapan yaitu kesalahan dan ketidaksesuaianbdesain, perubahankdesain olehnowner padapwaktu pelaksanaan, kurangnya kontrol / pengawasan pekerjaan di lapangan, tidak tersedianya bahan secara cukup pasti/layak sesuai kebutuhan atau kekurangan material konstruksi, metodebkonstruksi / pelaksanaan kerja yang salah atau tidak tepat, lambatnya izin pemerintah, mutu material tidak sesuai spesifikasi, dan pengumpulan data survey yang tidak memadai sebelum desain. Selain itu, dari penelitian ini juga diperolehxfaktor yangzpalingbdominan dalam menyebabkanpketerlambatan proyekzkonsturksi di Kota Balikpapan yaitu faktor kesalahan dan ketidaksesuaian desain.
Kriteria-Kriteria Pemancangan yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan pada Pemilihan Jenis Driven Pile dan Metode Pemancangan Oryza Lhara Sari; Andina Prima Putri; Christianto Credidi Septino Khala
SPECTA Journal of Technology Vol. 5 No. 1 (2021): SPECTA Journal of Technology
Publisher : LPPM ITK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.178 KB) | DOI: 10.35718/specta.v4i3.227

Abstract

Pengambilan keputusan membuat praktisi berhadapan dengan berbagai kondisi yang mempengaruhi pemilihan jenis tiang dan metode pemancangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kriteria-kriteria pemancangan yang mempengaruhi pemilihan jenis driven pile dan metode pemancangan yang optimal. Konseptual model disajikan sebagai model teoritis dari literature review yang dilakukan. Survei pendahuluan dilaksanakan dengan mengidentifikasi kriteria dengan wawancara kepada empat expert yang berpengalaman melakukan pekerjaan pemancangan pondasi. Kriteria yang telah diidentifikasi oleh expert digunakan untuk survei kuesioner. Survei kuesioner dilakukan kepada 45 responden praktisi yang pernah melakukan pekerjaan pemancangan pondasi di Balikpapan. Analisis yang digunakan untuk mengetahui kriteria yang berpengaruh adalah analisis deskriptif, uji nonparametrik (Kruskal-Wallis), uji validitas dan reliabilitas. Hasil mendapatkan tiga variabel utama yang meliputi kriteria pemancangan, jenis driven pile dan metode pemancangan. Enam kriteria pemancangan penentu yang didapatkan yaitu karakteristik tanah, kondisi lapangan, karakteristik bangunan, biaya, waktu dan pengalaman sebelumnya.
Comparative Study of Open Frame Structure Modeling with Diagonal Bracing at the Integrated Laboratory of Institut Teknologi Kalimantan Christianto Credidi Septino Khala; Andina Prima Putri; Oryza Lhara Sari
SPECTA Journal of Technology Vol. 5 No. 1 (2021): SPECTA Journal of Technology
Publisher : LPPM ITK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.077 KB) | DOI: 10.35718/specta.v4i3.229

Abstract

Generally, brick wall (hebel) is considered as non-structural element, which never be counted to bear structural load. But, if carefully calculated, brick walls take part in structure load bearing. In the purpose of reducing the main structural element properties, the brick wall needs to be considered in bearing structural load. In this article, the brick walls modelled as compressive bracings. Using the structure analysis program, the model showed some significant differences in terms of internal force. From the analysis, the differences of moment, shear, axial and torsional force between open frame model (usual model, OF) and compressive bracing (CB) model were 38.17 kN.m; 58.03 kN; 181.75 kN dan 44.18 kN.m, respectively, where the first model had the bigger numbers than the latter model. Displacement of OF model was quite larger than CB model, with the value of difference was up to 85.35% for the X direction structures, and 70.83% for the Y direction. Final properties used for the design are smaller compared than original design, 30/60 to 40/60 for the beams, 50/50 for the columns with the different reinforcements 16-D22 for the second model compared to 20-D22 for the first one. The depth of slab on the second model was 180 mm, slightly smaller than the first model, 190 mm. It can be concluded that using compressive bracing model, structural properties of ITK Integrated Laboratory Building may greatly be reduced, compared to OF model.
IDENTIFIKASI TINGKAT PEMAHAMAN KONTRAKTOR TERHADAP BIM (BUILDING INFORMATION MODELING) DI RUANG LINGKUP KOTA BALIKPAPAN Raftonado Situmorang; Oryza Lhara Sari; Amirul Mu'minin Al Goviqqih
Racic : Rab Construction Research Vol 8 No 1 (2023): JUNI
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/racic.v8i1.3411

Abstract

Currently, in Indonesia the world of construction is growing rapidly, then there is an increasing need for technology to streamline and streamline work in the construction sector. To overcome this, a system called Building Information Modeling (BIM) was created. Compared to conventional methods, the BIM system integrates construction work that can save time and money. To find out the obstacles of contractors in using BIM, this research was conducted to find out the level of understanding of contractors towards BIM and inhibiting factors in implementing BIM. The object of this research is contractors in Balikpapan City, both state-owned and private. By analyzing from various literature and respondents' sources, which make the foundation of this research takes place. In decision making of BIM implementation in Balikpapan City, the results of this research can be considered. The results of the research data analysis and discussion regarding the level of understanding as well as implementation barriers and solutions provided are the results obtained. In implementing the use of BIM, the level of understanding of contractors and practitioners is 0.43 or can be called 43% which means that contractors do not understand BIM. The biggest obstacle in implementing BIM from the analysis of the largest value of 4.4 is the lack of human resources capable of fully operating BIM. Synergizing between all private and state-owned parties to coordinate with each other and provide counseling on the use of BIM in the future is the solution to the obstacles.
RESPON RISIKO DAN MITIGASI RISIKO PADA FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB WASTE KONSTRUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN LEAN CONSTRUCTION (STUDI KASUS: PROYEK X KAPUAS) Oryza Lhara Sari; Doni Rahman Maulana
Racic : Rab Construction Research Vol 8 No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/racic.v8i2.3446

Abstract

Waste is a problem that often occurs in construction projects. Waste is in the form of activities that utilize resources but do not produce the expected added value (value). Therefore, it is necessary to identify waste, in this research we identify the factors that cause construction waste in the rehabilitation project and improvement of irrigation networks in the working area of Block A, Kapuas Regency. Obtained 9 variables with 43 indicators of factors that cause waste which are the basis for this research. The method used is the severity index method to obtain the dominant and main factors causing waste. The results of this study are the dominant and main factors for the occurrence of waste, namely with codes A1, A6, B2, B3, B6, D4, E4, E6, F6, I12 with a moderate risk category, based on the severity index value, the dominant causative factor risk response is transfer.
PENILAIAN KONSEP GREEN BUILDING PADA GEDUNG LABORATORIUM TERPADU INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN SESUAI STANDAR GREENSHIP 1.2 Oryza Lhara Sari; Andika Ade Indra Saputra; Naila Anisa Dwigida Aprilla
Racic : Rab Construction Research Vol 8 No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/racic.v8i2.3469

Abstract

In the City of Balikpapan, the number of buildings that apply the green building concept and are certified according to the green building certification data still does not exist. Sustainable development at the Kalimantan Institute of Technology (ITK) is one of the largest in East Kalimantan. The development will have an impact on changes in environmental conditions. The application of the green building concept to the ITK building is expected to reduce the negative impact on environmental change. The focus of this research case study is the ITK Integrated Laboratory Building. The thing being reviewed is the application of green building in the ITK Integrated Laboratory building using the calculation parameters on Greenship for New Buildings Version 1.2. The method that will be used in this research is to evaluate the application of green building in the ITK Integrated Laboratory Building. The evaluation value of the application of green building in the ITK Integrated Laboratory building is 9.08 points or 8.99% which does not meet the requirements for implementing green building in accordance with the greenship 1.2 standard.
IDENTIFIKASI PENERAPAN GREEN BUILDING PADA BANGUNAN YANG SUDAH TERBANGUN DI KAWASAN INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN Raftonado Situmorang; Oryza Lhara Sari; Sherlia Sherlia
Racic : Rab Construction Research Vol 8 No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/racic.v8i2.3920

Abstract

Kampus Institut Teknologi Kalimantan (ITK) memiliki sekitar 7 gedung yang sudah terbangun. Gedung yang sudah terbangun ini diidentifikasi apakah bangunan yang ada sudah menerapkan Green Building atau tidak. Metode yang digunakan adalah metode quantitatif dengan menggunakan penilaian versi 1.1 dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Penilaian ini dimulai dengan pengukuran data lapangan, yaitu pengukuran kualitas udara, tingkat pencahayaan, tingkat kebisingan, suhu dan kelembapan udara. Kemudian dilakukan survei kenyamanan pengguna Gedung kepada 30 persen dari jumlah populasi pengguna Gedung tetap. Tahapan selanjutnya adalah mengobservasi lapangan terkait kampanye yang dilakukan seperti kampanye penghematan energi, konservasi air, pemilahan sampah, pelarangan merokok, dan pengurangan kendaraan bermotor. Lalu mengumpulkan data sekunder terkait kebijakan, dan dokumen yang terkait lainnya. Hasil penilaian Green Building pada Gedung dikawasan ITK, Gedung A mendapatkan 26 poin, Gedung B mendapatkan 26 Poin, Gedung E mendapatkan 23 Poin, Gedung F mendapatkan 26 Poin, Gedung G mendapatkan 26 Poin, Gedung Laboratorium Terpadu 1 mendapatkan 23 Poin, dan Gedung Asrama Mahasiswa mendapatkan 28 Poin. Untuk predikat greenship yang didapatkan Gedung yang berada dikawasan ITK adalah tidak mendapatkan predikat peringkat greenship.
Perspektif Expert dalam Penentuan Komponen, Elemen dan Sub Elemen pada Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Sari, Oryza Lhara; Mangiwa, Aldyanto
Jurnal Komposit: Jurnal Ilmu-ilmu Teknik Sipil Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/komposit.v8i1.14685

Abstract

Pada dasarnya sebuah bangunan harus mempunyai rencana dalam perawatan dan pemeliharaan bangunan untuk menjaga dari kondisi bangunan sesuai dengan umur rencana bangunan. Untuk mengurangi kerusakan yang terjadi pada suatu bangunan, perlu dilakukannya rencana perawatan dan pemeliharaan bangunan. Dalam kegiatan perawatan dan pemeliharaan didasarkan pada Peraturan Pemerintah No 24 tahun 2008. Sehingga segala dari komponen, elemen dan sub elemen bangunan yang perlu dilakukan perawatan dan pemeliharaan disesuaikan dengan peraturan tersebut. Akan tetapi, perlu dilakukannya validasi terhadap komponen, elemen dan sub elemen ada di Perarutan Pemerintah No 24 Tahun 2008 kepada expert untuk mengetahui komponen, elemen dan sub elemen yang masih relevan untuk dilakukan perawatan dan pemeliharaan di lapangan. Metode yang akan dipakai pada penelitian ini yaitu metode survei pendahuluan yang dimana dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner kepada ahli/expert serta melakukan pengujian nilai mean dan nilai cut off dari hasil kuesioner tersebut. Hasil yang didapatkan dari analisis hasil survei pendahuluan, didapatkan 58 sub elemen dari total 159 sub elemen yang dapat dikatakan relevan untuk dilakukan peninjauan pada perawatan dan pemeliharaan bangunan.