p-Index From 2021 - 2026
7.176
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al-'Adalah Ar-Raniry, International Journal of Islamic Studies Toleransi: Media Ilmiah komunikasi Umat Beragama Jurnal Ushuluddin Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam Jurnal An-Nur Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam al-Afkar, Journal For Islamic Studies Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora 'Anil Islam: Jurnal Kebudayaan dan Ilmu Keislaman Akademika : Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Qiyas : Jurnal Hukum Islam dan Peradilan Islamika : Jurnal Agama, Pendidikan dan Sosial Budaya Jurnal Dirosah Islamiyah RESLAJ: RELIGION EDUCATION SOCIAL LAA ROIBA JOURNAL Al-Ihkam: Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram AL-THIQAH: Jurnal Ilmu Keislaman Ulumuna ARRUS Journal of Social Sciences and Humanities Cendikia : Media Jurnal Ilmiah Pendidikan HUDAN LINNAAS: JURNAL ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA Proceedings of The International Conference on Social and Islamic Studies Collegium Studiosum Journal Jurnal Iman dan Spiritualitas Definisi: Journal of Religion and Social Humanities Tadayun: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Familia: Jurnal Hukum Keluarga Journal of Islamic Economics and Business Gunung Djati Conference Series Al-Hukmi : Jurnal Hukum Ekonomi Syariah dan Keluarga Islam Innovative: Journal Of Social Science Research Fastabiq: Jurnal Studi Islam JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Zona Law And Public Administration Indonesia TAFAKKUR : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Tijarah Hudan Linnaas: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Shidqia: Jurnal Keuangan dan Perbankan Syariah LOBI: Jurnal Ekonomi, Manajemen, Bisnis Islam Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Qiyas : Jurnal Hukum Islam dan Peradilan
Claim Missing Document
Check
Articles

Menelisik Tafsir Modern-Kontemporer di Indonesia Abad 20 M Hanna Salsabila; Farhan Muhammad; Ade Jamarudin; Muhamad Yoga Firdaus
Jurnal Dirosah Islamiyah Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Dirosah Islamiyah
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/jdi.v5i1.2878

Abstract

The aim of this research is to explore contemporary contemporary modernist commentators in Indonesia. The method used in this research is qualitative through literature study using a historical approach. The results and discussion of this study include interpretation methodology, contemporary modern interpretation figures including; A. Hasan with his commentary work Al Furqan, Hasbi Ash Shiddieqy with his work Tafsir An-Nur, and Hamka with his work Tafsir Al-Azhar. This study concludes that there are A. Hasan, Hasbi Ash Shiddieqy and Hamka including contemporary modern commentators in Indonesia, whose style of interpretation is quite different from the interpretation in classical times. The presence of contemporary modern commentators in Indonesia adds to the scientific treasures of the Qur'an and Tafsir, especially in knowledge about contemporary modern interpreters. The weakness of this research is that it only describes three Indonesian mufassir figures in the contemporary modern age. This research recommends that we can study more deeply about the figures of interpretation in Indonesia in the modern and contemporary centuries.
Makna Kautsar Dalam Alquran (Studi Komparatif Tafsir Al-Hadis dan Tafsir Ma’arij al-Tafakkur Wa Daqaiq al-Tadabbur Dalam QS. Al-Kautsar ayat 1-3) Muhammad Hafizh Basyiruddin; Asep Ahmad Fathurrahman; Ade Jamarudin
Al-Thiqah : Jurnal Ilmu Keislaman Vol 6 No 1 (2023): April
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56594/althiqah.v6i1.96

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas term Al-Kautsar dari dua sudut pandang, yakni tafsir Al-Hadits karya Muhammad izzat Darwazah dan tafsir Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur karya ‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah al-Maidani serta komparasi kedua kitab tafsir tersebut. Hasilnya didapati bahwa antara kedua kitab tafsir ini terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah bahwa kedua kitab tafsir ini memiliki sistematika penulisan dengan tartib nuzuli atau kronologis turunnya al-Qur’an. Sementara perbedaan yang didapati adalah tafsir al-Hadis menggunakan metode tahlili sementara tafsir ma’arij al-Tafakkur menggunakan metode maudhu’i. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan analisis-deskriptif.
Education Of The Interpretation Of The Qur'an In The Period Of The Prophet Muhammad Saw Ilma Amalia; Muhammad Abdul Kholiq; Ade Jamarudin
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 3 (2023)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i3.594

Abstract

Education is an attempt to change something for the better or directed. With education, knowledge that we don't have turns into knowledge that we know, therefore education is the starting point for human life and civilization. Alqur’an is the first educational guide in the life of mankind, especially Muslims. Therefore, knowledge of the contents of the Qur'an is very important for Muslims to have. Through education, we will know how and what meaning Allah wants to give or order to us as His people. Education and teaching of the Alqur’an had started since the early days of the revelation of the Alqur’an, namely during the time of the Prophet Muhammad. The various interpretations of the Alqur’an that have come down to us are clear evidence that Rasulullah SAW is the best teacher of Alqur’an interpretation. This paper contains about how the education and development of the interpretation of the Qur'an in the era of Rasulullah SAW. The method used by the author is a qualitative method with a literature study approach. The aims and results of this study are: education during the time of Rasulullah SAW, Tafsir Alqur’an in the era of Rasulullah SAW and Rasulullah SAW as interpreter of Alqur’an.
Komparasi Tafsir  Mafatih Al-Ghaib dan Anwar Al Tanzil Wa Asrar Al Ta’wil tentang Musyawarah QS Ali Imran Ayat 159 Abdul Ghoni; Asep Fathurohman; Ade Jamarudin
Reslaj : Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol 5 No 6 (2023): Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : LPPM Institut Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1471.969 KB) | DOI: 10.47467/reslaj.v5i6.2908

Abstract

One of the most essential teachings of Islam is deliberation, because with it humans can solve all life's problems in a good and wise manner. Apart from that, in deliberations commendable qualities such as brotherhood, equality, mutual respect, not imposing their own will, understanding and acknowledging other people's views will be born even though there are differences (agree on differences). Deliberation is a negotiating activity by exchanging opinions from various parties regarding an issue to then be considered and decided and taken for the best for the common good. The term deliberation has become a public discourse among Muslim intellectuals in recent centuries, especially in the 21st century. This is due to the influence if not said to be cultural infiltration and western political theory on the Islamic world, especially in the discourse of democracy. At the time of the Prophet led the state of Medina and made deliberation one of the principles of statehood. This paper attempts to elaborate on the principle of deliberation contained in the Qur'an. Anwar al-Tanzil wa asrar. Keywords: Al-Qur'an, Interpretation, Deliberation.
Telaah Putusan Pengadilan Agama Kota Sungai Penuh Tentang Cerai Talak ( Putasan Nomor 90/Pdt.G/2023/PA.Spn ) Alan Sparingga; Ramdani Wahyu Sururie; Usep Saepullah; Ade Jamarudin; Imam Sucipto
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.1592

Abstract

Perceraian adalah perbuatan yang mesti dijauhkan pada ikatan pernikahan, tapi bila terjadi masalah yang sudah berkepanjangan dan tidak bisa lagi disatukan kembali, jika dibiarkan akan mengakibatkan kemudaran bagi kedua belah pihak dan itu merupakan penyelsaian terakhir dari sengaketa keluarga dengan mengajukan permohona ke Pengadilan Agama. aktikel ini mengkaji Putusan Pengadilan Agman Kota Sungai Penuh Nomor 90/Pdt.G/2023/PA.Spn. tentang cerai talak, dengan menganalisis putusan pengadilan tersebut, melalui studi kepustakaan dengan pendekatan hukum normatif. Berdasarkan ketentuan Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam, yaitu adanya pertengkaran terus-menerus, tidak ada lagi harapan untuk bersatu lagi serta mereka telah berpisah tempat tinggal dalam waktu yang lama. Hakim mengabulkan permohonan cerai pemohon. Keputusan hakim telah selaras dengan hukum Islam karena perkawinan dimaksudkan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bila sudah tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga perceraian adalah hal yang dibolehkan.
Para Tokoh Tafsir Periode Pertengahan Beserta Coraknya Muhammad Yuga Fadillah; Siti Nur Umdati Putriyani; Ade Jamarudin
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 3, No 2 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v3i1.21803

Abstract

Salah satu perkembangan ilmu tafsir yang dinamis terjadi pada kajian para tokoh tafsir periode pertengahan dan macam-macam coraknya. Mufasir dengan latar belakang keilmuannya memberikan warna dalam perkembangan tafsir. Hadirnya membawa pembaharuan beriringan dengan perkembangan pemikiran manusia dan berbagai tantangan zaman dengan berbagai silang pendapatnya. Tulisan ini bertujuan menelaah perkembangan corak tafsir pada periode pertengahan. Penulis menggunakan metode kualitatif jenis kajian pustaka, dengan analisis deskriptif disertai ulumul Qur’an. Para mufasir periode pertengahan banyak menerbitkan berbagai macam kitab tafsir, ini menunjukan sebuah kemajuan dan bekembangnya aset ilmu tafsir dikalangan ulama periode pertengahan. Pada periode pertengahan ini (The Golden Age) para mufassir dengan karyanya melahirkan corak yang begitu komprehensif dan menjawab tantangan zaman serta menjadikan kajian tafsir lebih sistematis dinamis namun tetap mengacu kepada al-Qur’an dan sunnah. Ciri khusus dari suatu penafsiran merupakan kecenderungan seorang mufasir dalam menjelaskan isi kandungan dalam Al-Qur’an, para mufasir pada periode pertengahan ini dengan latar belakangnya menghadirkan berbagai bentuk corak penafsiran. Adapun yang menajdi karakteristik dalam penafsiran corak periode pertengahan yaitu pemaksaan gagasan pribadi kepada Al-Qur’an, bersifat Ideologis, bersifat repetitif, bersifat parsial, dan terpisahnya dengan hadits. Peneliti berharap pembaca mendapat manfaat dari penelitian ini. Demikian pula dikemudian hari, akan hadir penelitian-penelitian berikutnya yang dapat memperbaiki serta menyempurnakan apabila terdapat kekeliruan serta kekurangan di dalam penelitian ini.
SHARIA ECONOMIC LAW POLICY UMAR IBN AL-KHATTAB Muh Said; Syafi'ah Syafi'ah; Ade Jamarudin
Tadayun: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/tadayun.v4i1.90

Abstract

Umar Ibn al-Khattab (584-644 M) was the second caliph in Islamic history after replacing the caliph Abu Bakr al-Siddiq. He was one of the companions of the Prophet SAW who had strong morals, was energetic, fair, and wise, had a firm and complex character, and had managerial and administrative abilities. Umar as caliph, only ruled for more than ten years, but in that short period, there were many successes and advancements experienced by Islamic society, especially in the economic field. So it is prevalent in the history of the Islamic world that the reign of Umar was a golden age in Islamic history. The success of Umar's leadership, especially in reforming and developing the community's economic system and prospering their lives, is due to scientific abilities, ijtihad, and a well-established managerial system in regulating the country's foreign exchange. Utilization and proper distribution, as well as rigorous and disciplined supervision. This can be understood from the various economic law policies carried out when applying the principles of production, consumption, and distribution based on fairness in law enforcement and fair distribution. Abstrak Umar Ibn al-Khattab (584-644 M) sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam setelah menggantikan khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Ia adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang memiliki moral kuat, energik, adil dan bijaksana, memiliki karakter yang tegas dan keras, serta kemampuan manajerial dan administratif. Umar sebagai khalifah, hanya memerintah selama 10 tahun lebih, akan tetapi dalam periode yang singkat banyak keberhasilan dan kemajuan yang di alami masyarakat Islam, terutama di bidang ekonomi. Sehingga sangat populer dalam sejarah dunia Islam bahwa masa pemerintahan Umar merupakan abad keemasan dalam sejarah Islam. Keberhasilan kepemimpinan Umar khususnya dalam mereformasi dan mengembangkan sistem perekonomian masyarakat sekaligus mensejahterakan kehidupan mereka, karena berkat kemampuan keilmuan, ijtihadi dan sistem manajerial yang mapan dalam mengatur devisa Negara. Pemanfaatan dan pendistribusian yang tepat serta pengawasannya yang sangat ketat dan disiplin. Hal tersebut, dapat dipahami dari berbagai kebijakan hukum ekonomi yang dilakukan ketika menerapkan prinsip-prinsip produksi, konsumsi dan distribusi, dengan dasar adil dalam penegakan hukum, dan adil dalam pendistribusian.
PEMENUHAN HAK PEREMPUAN DAN ANAK DALAM PENYELESAIAN SENGKETA HAK ASUH ANAK PASCA PERCERAIAN Habib Mumtaz JR; Yahya Saepul Uyun; Encep Rifqi; Ade Jamarudin; Imam Sucipto
FASTABIQ: JURNAL STUDI ISLAM Vol 4, No 1 (2023): FASTABIQ: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47281/fas.v4i1.126

Abstract

The problem is how to resolve disputes over post-divorce women's rights through the courts, of course there are pros and cons. The point of view studied is KHI (Islamic Law Collection) Articles 105 and 156 as well as Law No. 1 of 1974 which was changed to Law No. 16 of 2019 and Law No. 23 of 2002 concerning the rights of women and children by analyzing the report on the divorce suit decision as of January in 2023 by the Garut Religious Court. The analytical method used is empirical with a qualitative approach. Primary and secondary sources as well as observations are used at all times. In conclusion, the implementation of court decisions is not all carried out effectively and as expected, this is because the level of husband's economic ability is uncertain and even dominated by absenteeism in solving problems. the consequences will be the same, namely it will not be realized. From the research, it is known that 78% have carried out the decisions set by the Court with the results of the Verstek Decision, but there are some who have not carried out in accordance with the Court's provisions, due to economic factors and the current situation after the pandemic. And one of the decisions in the case with Number. 5034/Pdt.G/2022/PA.Grt with the result of the judge's consideration decision, which is granted in part and Custody of one of the children is with the Plaintiff but for joint assets it is still in a temporary decision or under review. Keywords: Family Disputes; Women's and Children's Rights; divorce
Hakikat Perkawinan Dalam Filsafat Hukum Keluarga Usep Koswara; Muhammad Maisan Abdul Ghani; Siti Maesuroh MHS; Zuhal Yasin Abdul Wakil; Usep Saepullah; Ade Jamarudin
Qiyas : Jurnal Hukum Islam dan Peradilan Vol 8, No 2 (2023): OKTOBER
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qys.v8i2.12232

Abstract

Abstract  : The first time the law was born together with the existence of humans themselves, where there are humans, there is a law that binds them and also has its own relationship with the law that is currently in effect and also the law that was in force before. Human life is no exception, which has experienced many legal events that are not the same as the others, where the legal events that occur are passed by humans, including birth, death and also other legal events that have been passed by humans themselves, one of which is is a very sacred marriage done. So that marriage law is a law that always applies and must be owned by all Indonesian people. Life in the household or the pursuit of life in marriage is a hope and also a reasonable and healthy intention for all young people when they grow up. In this case there is a bright hope and an encouragement that gets stronger when they are physically and spiritually healthy where they already have things that are able to support their lives in the future and have built a household that they hope for, including having a stable job, having a potential partner they love and so on.Keywords: marriage, law, essence. Abstrak: Pertama kali hukum lahir bersamaan dengan adanya manusia itu sendiri, dimana adanya manusia maka disitu terdapat sebuah hukum yang mengikatnya dan juaga memiliki keterkaitan sendiridengan hukum yang berlaku saat ini dan juga hukum yang berlaku sebelumnya. Tak terkecuali kehidupan manusia yang telah banyak mengalami kejadian hukum yang terbilang tidak sama dengan lainnya, dimana adanya kejadian hukum yang terjadi tersebut dilewati oleh manusia diantaranya ialah kelahiran, kematian dan juga kejadian-kejadian hukum lainnya yang telah banyak dilalui oleh manusia itu sendiri, salah satunya ialah pernikahan yang sangat sacral dilakukan. Maka dengan begitu hukum perkawinan merupakan sebuah hukum yang senantiasa berlaku dan pasti dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kehidupan dalam rumah tangga atau sebuah pengejaran kehidupan dalam pernikahan ialah adanya sebuah harapan dan juga niat yang wajar serta sehat bagi seluruh kalangan muda saat dirinya bertumbuh dewasa. Dalam hal ini adanya harapan yang cerah dan sebuah dorongan yang kian kuat saat mereka sehat secara fisik maupun rohani dimana sudah memiliki hal yang mampu mendukung kehidupan mereka kelak sudah membangun sebuah rumah tangga yang mereka harapkan, diantaranya mempunyai pekerjaan yang stabil, mempunyai calon pasangan yang mereka cintai dan sebagainya.Kata kunci:  perkawinan, hukum, hakikat.
Legal Construction of the Fatwas of the Tarjih and Tajdid Councils Muhammadiyah Regarding Family Law Rizki Mustakim; Muhammad Fahmi Sanusi; Rita Sukendar; Ruhiyat Kumbara; Tresna Mugni Abdillah; Ade Jamarudin
Qiyas : Jurnal Hukum Islam dan Peradilan Vol 8, No 2 (2023): OKTOBER
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qys.v8i2.12201

Abstract

Abstracts: At the beginning of the 20th century, Islamic organizations such as Muhammadiyah, Naahdhatul Ulama and others were born, which of course were very concerned with Islamic law. Each organization has a special council in charge of religious fatwas which are practically a guide in everyday life. Family Law is an interesting part of community practice for discussion, among which are the fatwas of the Tarjih Council and the Tajdid Muhammadiyah. The assembly in charge of religious fatwas has a progressive view in several family law cases, such as unregistered marriages or marriages under the hand. This assembly is of the view that marriages that are not registered at state institutions are invalid. Religious texts (bayani) are prioritized in this fatwa and are supported by social science (burhani), and place marriage as a sacred contract ('irfani) which needs to be institutionalized according to legal certainty in order to maintain maqashid al-shari'ah which is fostered by five things: guarding religion, soul, mind, lineage, and wealthKeywords: Legal Construction, Fatwa, Tajdid Muhammadiyah, Family Law Abstrak: Di awal abad XX lahir organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Naahdhatul Ulama dan lain-lainya yang tentu saja sangat konsen dengan Hukum Islam. Setiap organisasi memiliki majelis khusus yang membidangi tetang fatwa-fatwa keagamaan yang secara praktis menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari. Hukum Keluarga adalah bagian dari pengamalan masyarakat yang menarik untuk didiskusikan, di antaranya adalah fatwa-fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Majelis yang membidangi fatwa keagamaan ini memiliki pandangan yang progresif dalam beberapa kasus hukum keluarga, seperti nikah sirri atau nikah di bawah tangan. Majelis ini berpandangan bahwa nikah yang tidak dicatatkan di lembaga negara adalah tidak sah. Nash-nash agama (bayani) menjadi prioritas dalam fatwa ini dan didukung dengan ilmu pengetahuan sosial kemasyarakatan (burhani), serta menempatkan pernikahan sebagai akad sakral (‘irfani) yang perlu dilembagakan sesuai kepastian hukum demi menjaga maqashid al-syari’ah yang dibina atas lima hal: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.Kata Kunci : Fatwa, Tajdid Muhammadiyah, Hukum Keluarga
Co-Authors ., Nelvawita Abdillah, Tresna Mugni Abdul Ghani, Muhammad Maisan Abdul Ghoni Abdul Mufti Albasyari Abdul Wakil, Zuhal Yasin Abud Syehabudin Adistira Maulidi Hidayat, Muh Agus Kurnia Agus Maksum Ahmad Fikri Aziz Masduki Ahmad Firman Hidayatullah Aidah, Yeni Aisyiyyah, Lu'luatul Akhdiat Akhdiat Alan Sparingga Anwar Sanusi Arfiani Yulianti Fiyul Arif Maulana, Arif Aripin, Iiz Tazul Asep Ahmad Fathurrahman Asep Ahmad Fathurrahman Asep Ahmad Fathurrohman Asep Ahmad Faturohman Asep Fathurohman Asmal May Asmal May Asmal May, Asmal Ch Pudin, Ofa Chikal Anugrah Putra Naisabur Deva Dzulfikri Musthofa Dewi L, Ella Diana Farid Didin Komarudin Dzurriyyatus Sa’adah, Isqi Edi Sutardi Ella Dewi L Encep Rifqi Eva Novita Restu, Cut Farhan Muhammad Fatimatuzzahro Fauzi, Muhammad Iqbal Habib Mumtaz JR Habib Mumtaz JR Mumtaz HAMIDAH Hanna Salsabila Hari Fauji Havid, Trio Lukmanul Hendriana Hendriana Hidayatullah, Ahmad Firman Iffah Fathiah Iiz Tazul Aripin Ilma Amalia Imam Sucipto Imam Sucipto Imam Sucipto Imam Sucipto Jamaluddin Komarudin, Didin Koswara, Usep Kumbara, Ruhiyat Lailatul Arifah At Tambuni Lailaturrohmah, Kummil Lutfi Munadi M. Ihsan M. Khoirul Anam M. Maisan Abdul Ghani M. Rivaldo Putra Mariyatul Qibtiyah Masduki Melinda, Linda Mentari, Vennya Agna MHS, Siti Maesuroh Miftah Ulya Mufti, Zaenul Muh Said Muh Said Muh. Said Muh. Said, Muh. Muhamad Ilyas Muhamad Iqbal Nurhumaidi Muhamad Yoga Firdaus Muhammad Abdul Kholiq Muhammad Fahmi Sanusi Muhammad Hafiz Umul Husni Muhammad Hafizh Basyiruddin Muhammad Husni Abdulah Pakarti Muhammad Maisan Abdul Ghani Muhammad Yahya Muhammad Yuga Fadillah Mujafer, Ahmed Mustakim, Rizki Naisabur, Nanang Nandang Syarif Nelvawita . Neng Reni Anggia Damayanti Novian Muriani R, Karina Nur Hopipah, Eva Nur Iqbal Khambali Octavia Indana, Della Ofa Ch Pudin Ofa Ch Pudin Ofa Ch Pudin Ofa Ch Pudin Ofa Ch. Pudin Osman bin Md Rasip Osman Bin MD Rasip Pudin, Ofa Ch Ramdani Wahyu Sururie Ridwan Effendi Rita Sukendar Rizki Mustakim RR. Ella Evrita Hestiandari Ruhiyat Kumbara Saepullah, Usep Salwa Shofiatul Khulqi Sanusi, Muhammad Fahmi Saparuddin Siregar Sarwedi Daulay Shofi Hatul Fitria Siti Maesuroh MHS Siti Nur Umdati Putriyani Sugianto Sugianto Sukendar, Rita Syafi'ah Syafi'ah Syafi'ah Syafi'ah Syafi’ah Syafi’ah, Syafi’ah Syehabudin, Abud Tentri Tentri Tentri, Tentri Tresna Mugni Abdillah Trio Lukmanul Havid Usep Koswara Usep Saepullah Vennya Agna Mentari Yahya Saepul Uyun Yahya Saepul Uyun Yundri Akhyar Yundri Akhyar Yundri Akhyar Yusrizal Amir Syah Z. Mutaqin Zaenul Mufti Zainur, Zainur Zuhal Yasin Abdul Wakil