Tsabit Azinar Ahmad
Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Peran Wanita dalam Islamisasi Jawa abad XV Ahmad, Tsabit Azinar
Paramita: Historical Studies Journal Vol 21, No 1 (2011)
Publisher : Paramita: Historical Studies Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamization cannot be separated from the role of the people who had been instrumental in spreading Islam. However, the writing of our history is still less in giving ample scope to the role of women in Islamization. This paper briefly tried to raise issues about the status of women in the early Islamization is happening on the island of Java, and how the role of women as part of Islamization. In general, women have a role as a catalyst between the previous culture to culture influenced by aspects of Islam. The role of women as a catalyst because it can facilitate the development of Islam in Java, so that she is regarded as a connecting bridge between the Hindu-Buddhist old culture on the one hand, and the Islamic culture as a new culture on the other hand. The role of women can be seen from his social status, when women have a high social status they have the flexibility to provide access and convenience, as well as strengthening the spread of Islam in Java. Key words: women, Islamization of Java, the cultural catalyst, reinforce
STRATEGI PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MATERI ZAMAN PRASEJARAH Ahmad, Tsabit Azinar
Paramita: Historical Studies Journal Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Paramita: Historical Studies Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts of understanding of prehistoric material having the main obstacle, namely the long stretch of time between prehistoric times to the present. Therefore, it is necessary to solve how to increase student understanding of prehistoric material. This problem is the main subject of this research. This study aims to reveal how the museum can be used as instructional media of prehistoric times, so hopefully be able to improve student understanding of prehistoric times. One of the efforts to increase student understanding of prehistoric material can be done by using the museum as a medium of learning. This is due to the fact that museum offers media complexity which is very helpful for students in getting historical information. Utilization of the museum as a medium of learning history, in addition to providing recreational aspects for students, is also able to provide visualization, interpretation, and generalization about an historical event. Therefore, as an effort to improve student understanding of prehistoric material, it is necessary to optimize the use of instructional media in the form of museums.   Keywords: Museums, Media of Learning, Prehistoric Period Upaya pemahaman  materi zaman prasejarah mengalami  kendala utama, yaitu rentangan waktu yang panjang antara zaman prasejarah dengan masa sekarang. Oleh karena itu, diperlukan adanya penyelesaian bagaimana upaya peningkatan pemahaman pelajar terhadap materi zaman prasejarah. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana museum dapat digunakan sebagai media pembelajaran zaman prasejarah, sehingga diharapkan mampu untuk meningkatkan pemahaman pelajar terhadap zaman prasejarah. Salah satu upaya peningkatan  pemahaman pelajar tentang materi zaman prasejarah dapat dilakukan dengan menggunakan museum sebagai media pembelajaran. Hal ini karena museum menawarkan  kompleksitas media yang sangat membantu pelajar dalam memperoleh informasi kesejarahan. Pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran sejarah, selain memberikan aspek rekreasi bagi pelajar, juga mampu memberikan visualisasi, interpretasi, dan generalisasi tentang suatu peristiwa sejarah. Oleh karena itu, sebagai upaya peningkatan pemahaman pelajar tentang materi zaman prasejarah perlu adanya optimalisasi penggunaan media pembelajaran berupa  museum.   Kata kunci: Museum, Media Pembelajaran, Zaman Prasejarah  
KENDALA-KENDALA GURU DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KONTROVERSIAL DI SMA NEGERI KOTA SEMARANG Suryadi, Andy; Ahmad, Tsabit Azinar; Sodiq, Ibnu
Paramita: Historical Studies Journal Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v24i2.3128

Abstract

This research identifies teacher constraints in controversial history learning in Semarang’s senior high school and analyzes teachers’ efforts in controversial history learning. Qualitative approach was used in this research to observe senior high school in Semarang Municipality. This research used interactive model of analysis. This research results three main factors that support controversial history learning i.e. school aspects, teachers’ independency, and students’ ability. There were several constraints in controversial history learning i.e. constraints in learning design, learning practices, and supporting factors. Commonly, it caused by two factors: (1) internal factors, there were historiographical change in Indonesia; (2) external factor, there were learning practices aspects. Teachers’ effort to reduce learning constraints divided became two, learning design and learning practice’s effort.Keywords: learning history, controversial history, learning constraints. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemui guru dalam  menganalisis upaya-upaya yang dilakukan guru dalam pembelajaran sejarah kontroversial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil penelitian di SMA-SMA Negeri di Kota Semarang. Analisis yang dilakukan menggunakan model analisis model interaktif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ada tiga hal yang mendorong pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial, yakni sekolah, kemandirian guru dan kemampuan peserta didik. Kendala-kendala yang ditemui, yakni kendala pada saat perencanaan, kendala pada saat pelaksanaan pembelajaran dan pendukung. Kendala tersebut dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni (1) faktor intern berupa perubahan corak historiografi Indonesa dan (2) faktor ekstern, yakni dari lam praksis pembelajaran. Upaya untuk mengatasi kendala-kendala terbagi menjadi dua, yakni upaya pada aspek perencanaan dan upaya pada aspek pelaksanaan pembelajaran.Kata kunci: pembelajaran sejarah, sejarah kontroversial, kendala-kendala pembelajaran  
KAMPANYE DAN PERTARUNGAN POLITIK DI JAWA TENGAH MENJELANG PEMILIHAN UMUM 1955 Ahmad, Tsabit Azinar
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5163

Abstract

Through study of campaign discourse from various documents, this research tries to explain political constellation and discourse in Cenral Java toward the election in 1955. In order to increase the people votes, the political parties make efforts to win the election in 1955. Those efforts are implemented in campaign to attract attention. Discourses scatter as an effort to ingratiate people. Four largest winning parties namely PNI, Masyumi, NU, and  PKI,  are also involved actively in campaign. Each of the, has good mapped approach and targets. In order to attract sympathy from people, the parties often have discourse fight. The discourse fight particularly occurs between PNI-Masyumi, PKI-Masyumi. In Central Java, the discourses of parties and their fight also mark campaign process toward the voting day. Other parties consider Masyumi as a rival, so insistent attact comes to oppose Masyumi. Melalui kajian terhadap wacana kampanye dari berbagai dokumen, penelitian ini mencoba meng-uraikan konstelasi politik dan wacana kampanye di Jawa Tengah menjelang pemilu 1955. Dalam rangka meningkatkan perolehan suara rakyat, partai-partai politik melakukan upaya-upaya untuk memenangkan pemilihan umum tahun 1955. Upaya tersebut diimplementasikan dalam pelaksanaan kampanye untuk menarik perhatian. Wacana-wacana berhamburan sebagai upaya untuk mengambil hati rakyat. Empat besar partai pemenang pemilihan umum, yakni PNI, Masyumi, NU, dan PKI, juga terlibat secara aktif dalam kampanye. Masing-masing memiliki pendekatan dan sasaran yang telah dipetakan sedemikian rupa. Dalam rangka menarik simpati masyarakat tersebut, tak jarang partai-partai tersebut mengalami pertarungan wacana Pertarungan wacana terutama terjadi antara PNI-Masyumi, PKI-Masyumi. Di Jawa Tengah, wacana-wacana partai dan pertarungannya juga mewarnai proses kampanye menjelang hari pemungutan suara. Partai-partai lain menganggap Masyumi sebagai rival, sehingga serangan bertubi-tubi datang menyerang Masyumi. 
PEMBELAJARAN SEJARAH BERWAWASAN LINGKUNGAN Ahmad, Tsabit Azinar
Indonesian Journal of Conservation Vol 2, No 1 (2013): IJC
Publisher : Indonesian Journal of Conservation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper analyzes the relevance of history education and environmental issues. Based on literature study, there are relevance between history and environmental issues. Since 1970s, new study in history has developed namely environmental history. The emergence of environmental history became starting point of Environmental History Learning (EHL). EHL emphasized the importance of the progress of mutual relations between man and nature. EHL implementation can be done with chronological-integrative models, selected themes, and thematic-chronological model. The improvements for aspect of “content and context” are needed to achieve effective learning outcomes. Aspect of content has subject matter essence and developing for historiography of environmental history.  Then aspects of context include teachers, atmosphere, and a learning system that emphasizes the real problem. EHL has role as a roadmap of the various environmental issues that are currently happening. In addition, EHL also provide role models and best practices in order to process planning and handling environmental problems do not return the same stumbling dilemma. Development of environmental history learning is expected to internalize awareness and preservation of the environment. Keywords: teaching history, environmental history, environmental education.  Tulisan ini mengaji relevansi pendidikan sejarah dan masalah-masalah lingkungan. Dari kajian literatur, terdapat keterkaitan antara sejarah dan masalah-masalah lingkungan. Sejak tahun 1970an telah berkembang kajian baru dalam sejarah yang disebut sejarah lingkungan. Berkembangnya sejarah lingkungan menjadi titik tolak berkembangnya Pembelajaran Sejarah Berwawasan Lingkungan (PSBL). PSBL menekankan arti penting perkembangan hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Penerapan PSBL dapat dilakukan dengan model kronologis-integratif, kapita selekta, dan tematis-kronologis. Untuk mewujudkan capaian yang efektif, perlu pembenahan dalam aspek content dan context. Aspek content meliputi esensi materi dan perkembangan historiografi sejarah lingkungan. Kemudian aspek context meliputi guru, suasana, dan sistem pembelajaran yang menekankan pada masalah nyata. PSBL berperan sebagai roadmap dari beragam isu lingkungan yang saat ini terjadi. Selain itu, PSBL juga berperan dalam memberikan role models dan best practices agar proses perencanaan dan penangan masalah lingkungan tidak kembali terantuk masalah yang sama.   Pengembangan pembelajaran berwawasan lingkungan diharapkan mampu menanamkan nilai kepedulian dan pelestarian terhadap lingkungan Kata kunci: pembelajaran sejarah, sejarah lingkungan, pendidikan lingkungan.  
EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM PENANAMAN DI KECAMATAN GUNUNGPATI OLEH MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL Subagyo, Subagyo; Ahmad, Tsabit Azinar
Indonesian Journal of Conservation Vol 3, No 1 (2014): IJC
Publisher : Indonesian Journal of Conservation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purposes of this research are as follows: (1) describing the implementation of planting in Gunungpati District done by students of Social Science Faculty of UNNES; (2) evaluating the implementation of planting in Gunungpati District done by students of Social Science Faculty of UNNES. The research activities were carried out in two Subdistric, Sekaran Subdistric and Plalangan Subdistric. Both Subdistrics were selected because they were the locations of planting done by students of Social Science Faculty of UNNES. This study was an evaluation. The Faculty of Social Sciences in 2012 did planting in Pongangan and Sekaran on a regular basis. Planting in the Sekaran Subdistric was conducted  on March 18, 2012, then planting in Pongangan Subdistric was conducted on April 13, 2013. Planting in Sekaran area were conducted in three points, namely: (1) Margasatwa Street, Banaran; (2) Persen Village, and (3) Bandardowo Village RT II RW VII. There were 500 seedlings were planted. Planting in Pongangan Subdistric was also conducted in three points, namely in RW II, III RW, and RW V. The seeds planted reached 2060 seeds. The plants which were in well-maintained category were only 9% meanwhile the plants which were well-maintained were 40%. Last, the plants which categorized into bad condition were 51%. Then plants are not maintained in the category by 51%.Keywords: planting, conservation, studentTujuan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Mendeskripsikan implementasi penanaman di Kecamatan Gunungpati oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Unnes; (2) Mengevaluasi implementasi penanaman di Kecamatan Gunungpati yang telah oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Unnes. Lokasi kegiatan penelitian dilakukan di dua keluraan, yakni Kelurahan Plalangan dan Kelurahan Sekaran. Kedua kelurahan ini dipilih karena keduanya adalah lokasi penanaman yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Unnes. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi.  Fakultas Ilmu Sosial pada tahun 2012 melakukan penanaman secara berkala di Kelurahan Pongangan dan Sekaran. Penanaman di Kelurahan Sekaran dilakukan pada tanggal 18 Maret 2012. Kemudian, penanaman di Pongangan dilakukan pada 13 April 2013. Penanaman di Sekaran dilakukan di tiga titik, yakni: (1) Jalan Margasatwa, Banaran; (2) Dukuh Persen, dan (3) Dukuh Bandardowo RT II RW VII.  Di Kelurahan Sekaran, ditanam sebanyak 500 bibit. Penanaman di Pongangan dilakukan di tiga titik, yakni RW II, RW III, dan RW V. Penanaman di Kelurahan Pongangan mencapai 2060 bibit. Tanaman yang ada pada kategori terawat hanya 9 %. Sementara tanaman pada kategori terawat sebesar 40%. Kemudian tanaman yang berada pada kategori tidak terawat sebesar 51%.Kata kunci: penanaman, konservasi, mahasiswa
URGENSI DAN RELEVANSI PEMBELAJARAN SEJARAH MARITIM UNTUK WILAYAH PEDALAMAN Ahmad, Tsabit Azinar
Paramita: Historical Studies Journal Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v27i1.9190

Abstract

Maritime aspect is becoming a national priority. Nevertheless, its application in educational domain, especially in the history learning is still constrained. Therefore, the article focused to (1) analyze the urgency and relevance of the maritime history teaching in the history learning curriculum; (2) identify the problems and obstacles encountered in the implementation of maritime history teaching; (3) formulate ideas and strategies recommended in implementing the maritime history teaching in the inland areas that are not based maritime. Maritime history can not be separated from the overall national history, so its presence in the teaching of history becomes an inherent factor. However, learning maritime history will face cultural and pedagogical problems when delivered in areas do not pertain directly to the maritime aspect. Therefore, it needs  contextualization strategies in learning of maritime history. First attempts to do is implement a linking and bridging strategies. Thus, the strengthening of maritime vision can be applied anywhere and contextual in a diverse cultural environment. Aspek kemaritiman saat ini tengah menjadi isu nasional. Akan tetapi penerapannya dalam ranah pendidikan, khususnya pembelajaran sejarah masih terkendala. Oleh karena itu, tulisan fokus pada upaya untuk (1) menganalisis urgensi dan relevansi terhadap pembelajaran sejarah maritim dalam kurikulum mata pelajaran sejarah; (2) mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam implementasi pembelajaran sejarah maritim; (3) merumuskan gagasan dan strategi yang direkomendasikan dalam menerapkan pembelajaran sejarah maritim di wilayah yang tidak berbasis maritim. Sejarah maritim tidak dapat dilepaskan dari sejarah nasional secara keseluruhan, sehingga keberadaannya dalam pembelajaran sejarah menjadi faktor yang me-lekat. Akan tetapi, pembelajaran sejarah maritim akan mengalami kendala ketika disampaikan pada wilayah-wilayah yang tidak bersinggungan langsung dengan aspek kemaritiman. Oleh karena itu, perlu ada strategi kontekstualisasi dalam pembelajaran sejarah maritim. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan strategi linking dan bridging dalam pembelajaran sejarah. Dengan demikian, diharapkan  penguatan visi maritim dapat dilakukan di manapun dan kontekstual dalam lingkungan budaya yang beraneka ragam. 
Pengaruh Pembangunan di Jakarta Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Betawi Tahun 1966-1977 Lukmansyah, Nurul; Wasino, Wasino; Ahmad, Tsabit Azinar
Journal of Indonesian History Vol 5 No 1 (2016): Journal of Indonesian History (JIH)
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan pemerintah Jakarta di tahun 1966-1977 terfokus pada perbaikan, rehabilitasi dan pembangunan kota. Pembangunan yang terus dilakukan oleh pemerintah berhasil merubah wajah Kota Jakarta menjadi kota Metropolitan. Akan tetapi, pembangunan yang semakin gencar pada masa itu tidak dirasakan oleh semua kalangan, terutama masyarakat Betawi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Masyarakat Betawi terlahir karena lunturnya identitas asli mereka yang disebabkan banyaknya perkawinan campur antar etnis di Batavia. Pada masa kolonial masyarakat ini memiliki kualitas hidup yang sangat rendah, sedangkan pada masa kemerdekaan mengalami peningatan, namun tidak terlalu besar. (2) Bentuk-bentuk marginalisasi yang dialami oleh masyarakat Betawi antara lain, marginalisai penduduk, marginalisasi tempat tinggal dan marginalisasi ekonomi. (3) Faktor-Faktor penyebab marginalisasi masyarakat Betawi antara lain, faktor internal seperti kualitas hidup yang rendah dan pengaruh agama yang kuat. Faktor eksternalnya berupa penggusuran dan urbanisasi. Dampak-dampak marginalisasi antara lain dampak sosial, ekonomi dan budaya.
Pemanfaatan Situs Candi Ngempon Sebagai Sumber Belajar Sejarah di MA Darul Ma’arif Pringapus Farhatin, Duroh; Atmaja, Hamdan Tri; Ahmad, Tsabit Azinar
Indonesian Journal of History Education Vol 4 No 2 (2016): Indonesian Journal of History education
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini meneliti tentang pemanfaatan situs Candi Ngempon sebagai sumber belajar sejarah di MA Darul Ma’arif Pringapus, mengetahui kendala-kendala yang dialami dalam pemanfaatan situs Candi Ngempon sebagai sumber belajar sejarah dan mengetahui persepsi siswa terhadap pemanfaatan situs Candi Ngempon sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Informan adalah siswa MA Darul Ma’arif Pringapus. Teknik pengumpulan data berupa: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengujian validitas data menggunakan teknik triangulasi teknik. Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Pemanfaatan Situs Candi Nempon memberi nilai positif bagi para siswa. Kendala-kendala yang dialami ketika pemanfaatan situs Candi Ngempon sebagai sumber belajar sejarah terkendala pada waktu, biaya dan tenaga. Persepsi siswa terhadap pemanfaatan situs Candi Ngempon sebagai sumber belajar sejarah yaitu siswa lebih tertarik dengan pembelajaran sejarah ketika guru menggunakan sumber sejarah dibanding dengan pembelajaran sejarah dengan metode ceramah.
Identifikasi dan Pemanfaatan Potensi Sumber Belajar Berbasis Peninggalan Sejarah di Ambarawa Kabupaten Semarang Mailina, Laiva; Utomo, Cahyo Budi; Ahmad, Tsabit Azinar
Indonesian Journal of History Education Vol 5 No 1 (2017): Indonesian Journal of History Education
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis relevansi peninggalan sejarah di Ambarawa sebagai sumber belajar untuk mata pelajaran sejarah, menganalisis pemanfaatan peninggalan sejarah sebagai sumber belajar bagi siswa SMA di Ambarawa serta mengetahui kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan sumber belajar berbasis peninggalan sejarah di Ambarawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualititatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi peninggalan sejarah di Ambarawa yang menjadi obyek penelitian sebagai sumber belajar sudah layak untuk dijadikan sebagai sumber belajar. Peninggalan sejarah yang ada di Ambarawa diantaranya Stasiun Kereta Api Ambarawa, Palagan Ambarawa dan Museum Isdiman, Makam Dr. Cipto Mangunkusumo, Benteng Williem I dan Candi Gedong Songo. Peninggalan tersebut memiliki nilai historis yang tinggi dan materi yang terkandung didalam peninggalan sejarah tersebut sesuai dengan materi dalam SK dan KD yang terdapat kurikulum yang berlaku. Pemanfaatan situs sejarah sebagai sumber belajar yang sudah dilaksanakan di SMA di Ambarawa berbeda-beda di MA Al Bidayah, SMA Taman Madya dan SMA Kanisius Bakti Awam. Kendala yang dihadapi guru sejarah dalam pelaksanaan pemanfaatan situs sejarah yang ada di Ambarawa juga berbeda tergantung kepada bentuk pemanfaatan situs sejarah itu.