Moh Yasir Alimi
Department Of Sociology And Anthropology Of Contemporary Muslim Societies, Uni- Versitas Negeri Semarang

Published : 66 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Matan) dalam Membangun Karakter Cinta Tanah Air Anggotanya Husnayya, Ni’mah; Alimi, Moh. Yasir
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol. 13 No. 1 (2024): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena menarik bahwa organisasi Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) didirikan untuk membangun cinta tanah air sebagai upaya dalam menjaga persatuan bangsa di era globalisasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui nilai dan prinsip MATAN, (2) mengidentifikasi strategi MATAN dalam membangun karakter cinta tanah air, (3) mengevaluasi hambatan dan dorongan dalam membangun karakter cinta tanah air. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Penelitian dilaksanakan di organisasi MATAN Kota Semarang. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori pendidikan karakter Thomas Lickona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Nilai dan prinsip organisasi dikemas dalam al-asas al-khomsah yaitu  tafaqquh fi al-din, iltizamut thoat, tasfiah al-qalb wa tazkiyat al-nafsi, hifdz al-aurad wa al-adzkar, dan khidmah lil-ummah yang digunakan sebagai landasan dalam seluruh pergerakan MATAN, (2) Upaya membangun cinta tanah air dilakukan dengan kegiatan suluk MATAN, café sufi, filosofi, ziarah, dan berkolaborasi dengan TNI-Polri, (3) Faktor pendorong dalam membangun cinta tanah air yaitu memiliki dasar dan tujuan yang kuat, adanya kesamaan individu, dan mengingat tujuan JATMAN. Faktor penghambat dalam membangun cinta tanah air yaitu kurikulum yang belum distandarisasi, ketimpangan konsentrasi organisasi, komunikasi yang kurang masif, keterbatasan SDM, keterbatasan dana, dan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai thoriqoh.
Penanaman Nilai Karakter Keagamaan Pada Siswa RA Mafatihul Huda, Purworejo, Kudus Fairuz Syifa, Ghina Khalda Nabil; Alimi, Moh. Yasir
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 12 No 1 (2023): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/solidarity.v12i1.71451

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya karakter dimasa sekarang menjadi masalah utama yang perlu diselesaikan agar tidak semakin meluas. Pergaulan bebas, pemerkosaan, LGBT, pencabulan serta pedofilia pada anak dibawah umur merupakan bukti nyata merosotnya moral karakter dimasa sekarang. Peran serta sekolah sebagai lembaga formal menjadi nilai dorong yang perlu sangat didukung untuk menanamkan nilai-nilai karakter agama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses dalam penanaman nilai-nilai karakter keagamaan pada siswa, memaparkan metode-metode penanaman nilai-nilai karakter keagamaan pada siswa, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi penanaman nilai-nilai karakter keagamaan pada siswa. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, nilai-nilai karakter keagamaan yang ditanamkan RA Mafatihul Huda menganut dasar kurikulum KTSP, meliputi nilai ketuhanan, rasa bersyukur, sopan santun, dan berperilaku jujur, dalam proses penanaman nilai keagamaan di RA Mafatihul Huda dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi, yang terakhir faktor pendukung lancarnya proses penanaman nilai keagamaan pada anak adalah faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor lingkungan. Lingkungan berperan penting dalam proses terbentuknya karakter seorang anak. Lingkungan yang baik membentuk anak dengan kepribadian yang baik.
The Persistence of Shalawat Ngelik in Kampung Mlangi, Yogyakarta: Habitus, Capital, and Regeneration Dewi, Arviana; Alimi, Moh. Yasir
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v7i1.9627

Abstract

This study examines the persistence of Shalawat Ngelik, a traditional form of religious musical performance practiced in Kampung Mlangi, Yogyakarta. Although earlier studies have documented the historical background and cultural characteristics of this tradition, the social mechanisms that enable its continuity across generations remain insufficiently explored. This research analyzes Shalawat Ngelik as a social practice using Pierre Bourdieu’s conceptual framework of habitus, capital, and field. The study employs a qualitative case study design. Data were collected through in-depth interviews with community members and performers, field observations during religious gatherings and practice sessions, and supporting documentation related to the activities of the Shalawat Ngelik group. The findings show that the persistence of Shalawat Ngelik is sustained through the interaction of several forms of capital embedded in the religious life of the community. Social capital emerges through networks associated with Nahdlatul Ulama (NU) and communal religious activities. Cultural capital appears in the musical competence required to perform the repertoire and distinctive vocal techniques of Shalawat Ngelik. These competencies gradually develop into symbolic capital as skilled performers gain recognition within community events. Economic capital operates collectively through practices such as berkat, which support communal performances without turning the tradition into a commercial activity. The study also finds that the regeneration of Shalawat Ngelik occurs through the reproduction of religious and cultural habitus rooted in everyday participation rather than through formal institutional training. This study shows that the continuity of Shalawat Ngelik is maintained through the interaction of social networks, cultural competence, symbolic recognition, and communal support embedded in local religious life. The findings contribute to discussions on the persistence of local religious traditions and the role of social practice in sustaining cultural expressions within contemporary Muslim communities.
Modal Sosial, Konservasi dan Dinamika Pertanian Kentang di Dataran Tinggi Dieng Brata, Nugroho Trisnu; Alimi, Moh Yasir; Ramadhan, Muhammad Fauzan; Munadi, Munadi
Indonesian Journal of Conservation Vol. 14 No. 02 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v14i02.35140

Abstract

Potatoes are harvested from farms in the highlands and then present at the dinner table or become a snack for casual sitting companions. For some citizens of the world, potatoes are a staple food. In potato farming activities, social capital influences the relationships between actors, enabling potato production and distribution to develop and have an impact. The purpose of this study is to analyze the social capital operating in the dynamics of potato farming systems. The researcher used qualitative research methods, with data collection conducted through observation techniques, in-depth interviews, and literature studies. The research location is in Dieng Village, Kejajar District, Wonosobo Regency, Central Java Province. The field research will be carried out in July 2025. The research team stayed for a few days at residents' homes to more effectively gather observation data and conduct in-depth interviews in the morning, afternoon, or evening. Data were analyzed using analytical descriptive techniques, and data validity was assessed using triangulation techniques. The results of the research and discussion indicate that social capital in the potato farming system includes mutual trust, social or network relationships, and friendship or family. The social structure in the potato farming system consists of elements: farmers (owners, tenants, cultivators, laborers), brokers or intermediaries, and juragan. The role of brokers in the potato distribution process in Dieng Village is important because they act as connectors or intermediaries, facilitating information exchange between farmers. Meanwhile, telek brokers act as conservation agents and sellers of organic fertilizers to maintain the fertility of agricultural land.
Strategi Pembinaan Santri Non-Mukim di Pesantren Jegongan Manfaat Khoeriyah, Fathul; Alimi, Moh Yasir
PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi) Vol 8, No 02 (2026): PADARINGAN : Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pn.v8i02.18321

Abstract

Contemporary pesantrens have developed in response to modernity and digitalisation. Santri non-mukim, who attend activities at the Jegongan Manfaat pesantren but do not live there, face challenges such as inconsistent commitment, minimal supervision, and attachment to other areas, such as school, work, and family. This study uses Pierre Bourdieu's practice-based theory of habitus, capital, and field to analyse strategies for nurturing non-resident students at the Jegongan Manfaat pesantren. A qualitative research method involving observation, in-depth interviews, and documentation was employed using a case study approach. The results show three main strategies: community-based mentoring through age-based segmentation to strengthen solidarity; an interpersonal approach involving persuasive discussion and personal guidance; and implementing a contemporary Islamic education curriculum that connects religious studies with modern issues. Repetitive social practices and intense interactions allow religious values to be internalised, forming the habitus of non-resident students. These findings emphasise the role of contemporary pesantrens as effective environments for shaping religious attitudes in the face of modern challenges.
Hijab Fashion Influencer: Studi Kasus Ansellma Putri di Tiktok Widiyanti, Sekar Ayu; Alimi, Moh Yasir
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah FDIK IAIN Padangsidimpuan Vol 8, No 1 (2026): TADBIR: JURNAL MANAJEMEN DAKWAH FDIK IAIN PADANGSIDIMPUAN
Publisher : FDIK IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/tadbir.v8i1.18531

Abstract

Penelitian ini menganalisis strategi self-representation, bentuk visual piety, dan praktikpemasaran digital yang digunakan Ansellma Putri sebagai hijab fashion influencer di TikTok. Kajian ini berangkat dari celah penelitian bahwa konstruksi identitas hijab influencer dalam format video pendek yang sangat visual dan algoritmik masih jarang dikaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis konten, penelitian ini menelaah video, caption, dan interaksi audiens pada akun @ansellmaputri. Hasil penelitian menunjukan bahwa identitas Ansellma Putri dibangun melalui gaya hijab minimalis, estetika visual lembut, dan narasi religious yang natural. Visual piety tampak dalam representasi kesopanan yang dikemasmodern, sementara startegi pemasaran digital terlihat melalui personal branding dan integrasiproduk yang organik. Penelitian berkontribusi pada kajian hijab, identitas digital, dan praktikpemasaran influencer Muslimah di media sosial.