Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penilaian Risiko Sanitasi Lingkungan di Pulau Balang Lompo Kelurahan Mattiro Sompe Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Andi Susilawaty; Abdul Majid HR. Lagu; Syahrul Basri; Ultry Maisari; Munawir Amansyah
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 10, Nomor 2, July-December 2018
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.213 KB) | DOI: 10.24252/as.v10i2.6872

Abstract

Penilaian risiko sanitasi lingkungan atau yang juga dikenal dengan Environmental Health Risk Assessment (EHRA) adalah studi untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku-perilaku yang berisiko pada kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran analisis risiko sanitasi lingkungan di Pulau Balang Lompo Kelurahan Mattiro Sompe Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan analitik. Responden dalam penelitian ini sebanyak 65 ruman yang diambil dengan simple random sampling. Data diolah dengan menggunakan SPSS 17.0 dan disajikan dalam bentuk tabel sederhana atau tabel frekuensi untuk analisis univariat. Hasil penelitian diperoleh bahwa bahaya-bahaya sanitasi lingkungan di Pulau Balang Lompo meliputi bahaya terkait kepemilikan tempat sampah (58,5%) dan air limbah domestik (37,4%). Adapun beberapa perilaku tidak sehat yang memberikan peluang keterpaparan bahaya, yaitu perilaku tidak Cuci Tangan Pakai Sabun (47,7%), Buang Air Besar Sembarangan (29,2%), tidak memilah sampah (83,1%), serta perilaku tidak melakukan penanganan sampah (84,6%).  Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko sanitasi lingkungan di Pulau Balang Lompo menunjukkan bahwa RW 1 berada pada kategori Risiko sangat tinggi dengan nilai indeks risiko 191, RW 2 dengan kategori Risiko rendah dengan nilai indeks risiko 124, RW 3 dengan kategori Risiko rendah dengan nilai indeks risiko125 dan untuk RW 4 dengan kategori Risiko rendah dengan nilai indeks risiko 135. Beberapa faktor yang menjadi penyebab risiko sangat tinggi di RW 1 adalah penduduk yang menyimpang dari perilaku hidup sehat, tingkat pendidikan, kurangnya kepemilikan tempat sampah, kepemilikan SPAL dan kepemilikan jamban, serta tingginya tingkat kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan. Dalam hal ini, diperlukan risk communication agar masyarakat mengetahui dan memahami besaran risiko sanitasi lingkungan tempat tinggalnya, sehingga ada upaya pencegahan dalam bentuk peningkatan cakupan rumah tangga dan individu berperilaku bersih dan sehat
Dengue Fever Case Management in Maros Regency, Indonesia Kurniawati, Indah; Susilawaty, Andi; Habibi, Habibi; Amansyah, Munawir
Diversity: Disease Preventive of Research Integrity Volume 1, Issue 1, August 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/diversity.v1i1.18721

Abstract

Dengue fever is blood bone disease which is transferred through dengue virus infected Aedes mosquitos spread commonly in tropical and sub-tropical areas across the world. This research aims to describe the management of dengue fever case eradication program in Maros Regency. It uses a descriptive qualitative method in scrutinizing the issue. The research samples consist of 22 informants who are selected using the purposive sampling technique. The findings indicate that the management of the dengue fever eradication program is divided into several divisions namely agent management, media management, host management, and case management. In this case, the agent management division is responsible in identifying dengue fever patients by utilizing Active Case Detection (ACD) and Passive Case Detection (PCD) methods. Furthermore, the program manages the vector control through Abate utilization, larva monitoring agent designation, and fogging. Environmental control is carried out through the 3M program (close, drain and bury) and house yard cleaning. In addition to that, the program also encourages dengue fever patients to do self-medication by increasing their thrombocyte level and reducing their hematocrit level. Overall, many stakeholders participate in the dengue fever eradication program in Maros Regency, including the Health Department of Maros, health centers across Maros, local government, as well as community members. Finally, this research recommends the Health Department of Maros improve the quality of Abate distribution to health centers across Maros Regency
Pemanfaatan tanaman obat keluarga untuk mencegah penyakit hipertensi dan diare Amansyah, Munawir; Ibrahim, Irviani Anwar
SAMATA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH SCIENCE Volume 1, Issue 1, March-August 2022
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengetahuan mengenai pemanfaatan Toga dapat merubah persepsi masyarakat tentang pengendalian penyakit hipertensi dan diare. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait pemanfaatan tanaman obat keluarga dalam mengatasi/mencegah penyakit, selain itu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menggunakan dan membudidayakan obat herbal. Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Watang Bengo, Kec. Cendrana Kab, Maros. Target dalam kegiatan ini ialah 10 Orang masyarakat di dusun watang bengo, desa limapoccoe, kecamatan cenrana, kabupaten maros. Indicator keberhasilan dalam kegiatan ini ialah 70% masyarakat di dusun watang bengo, meningkat pemahamannya terkait bagaimana cara memanfaatkan toga dalam mengatasi/mencegah penyakit. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner terkait dengan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Hasil kegiatan menujukkan terdapat perbedaan pada pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan dengan kategori pengetahuan yang baik setelah penyuluhan yaitu 83.3%. Diharapkan dengan adanya intervensi yang dilakukan, masyarakat dapat lebih antusias dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar, menerapkan perilku hidup bersih dan sehat, agar dapat berperilaku yang lebih baik dalam mencegah hipertensi dan diare
Berkasih untuk berkreasi (Studi pengembangan kapasitas program pemberdayaan pemuda) Ulasaswini, Andi Ade; Rasyidin, Gunawan; Hidayat, Taufiq; Habibi; Amansyah, Munawir; Basri, Syahrul
SAMATA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH SCIENCE Volume 1, Issue 1, March-August 2022
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program peningkatan pemuda memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Jumlah penduduk kota Makassar sebanyak 1.427.619 jiwa dengan jumlah pemuda berada pada besaran 25%. Sayangnya, energi potensial pemuda di Makassar harus berujung pada tindakan-tindakan yang kurang produktif, seperti tawuran yang terjadi di kecamatan Ujung Tanah dan sekitarnya. Karenanya program Berkasih untuk Berkreasi hadir yang merupakan inisiasi dari pemuda dan dirancang bersama CSR PT. Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Makassar. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengevaluasi kapasitas dan respon masyarakat terhadap program Berkasih untuk Berkreasi di wilayah Ujung Tanah. Hasil menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas menunjukkan kategori tinggi, begitu pula respon masyarakat terhadap program ini. Diharapkan para pemuda dapat menjadi lebih produktif dalam setiap giat kesehariannya.
Menggali masalah yang terjadi dengan Focus Group Discussion (FGD) di Dusun Halahalaya, Kabupaten Gowa Amansyah, Munawir; Putri, Regina Amalia; Akila, Nur; Amelia, Fitria
SAMATA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH SCIENCE Volume 2, Issue 2, March-August 2023
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sociality.v2i2.40316

Abstract

Dusun Halahalaya terletak di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Dusun Halahalaya adalah desa yang dikenal sebagai penghasil sayur-sayuran dimana penghasilan masyarakat bergantung pada hasil berkebun. Tujuan pengabdian ini adalah untuk menggali lebih dalam masalah-masalah yang terjadi di Dusun Halahalaya, Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Dilakukanlah Focus Group Discussion (FGD) di RW 002 Dusun Halahalaya, Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa dengan jenis penelitian observasional. Berdasarkan data yang diperoleh melalui metode wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) didapatkan beberapa fakta bahwa masalah kesehatan di dusun halahalaya yang paling banyak adalah Rematik, asam urat, asam lambung, hipertensi, batuk akut dan influenza. Hal tersebut disebabkan oleh cuaca dan penggunaan APD masyarakat saat bekerja. Intervensi lebih lanjut yang disarankan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut berupa penanganan sampah, pemanfaatan tanaman TOGA, kepatuhan memakai APD, perokok pasif dan masalah ANC ibu hamil juga imunisasi. Di luar daripada yang telah kami identifikasi berdasarkan pendataan juga analisis, ada 3 masalah yang juga disarankan untuk menjadi prioritas kami, seperti pernikahan dini, sex education dan radiasi tower.
Collaboration training: Composting organic waste with Karang Taruna and Kanreapia Youth Organization Amansyah, Munawir; Syarif, Alwiyah Nur; Berlian, Berlian; Elvira, Elva; Ramadan, Fitrah
SAMATA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH SCIENCE Volume 3, Issue 1, September-February 2024
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sociality.v3i1.42044

Abstract

Globally, waste production continues to increase along with population growth and consumption. This has caused serious problems related to waste management in many areas. Including in Halahalaya Hamlet, Kanreapia Village where waste that is not managed properly can threaten human health, the environment and the sustainability of natural resources. To reduce the accumulation of waste, the community needs to be empowered and equipped with waste processing methods with the younger generation as their representatives. So that this is the goal to be achieved in this activity. The methods used in this program are counselling and demonstration. All training participants are members of two internal organizations, namely Karang Taruna and IPMAH Kanreapia Organization who live in Halahalaya Hamlet, Kanreapia Village, Tombolo Pao District, Gowa Regency, with a total of 9 people. Data analysis was carried out descriptively by looking at the average pre and post test scores. From the results of the analysis, it was concluded that there was an increase in knowledge before counselling was given and after counselling, where before counselling with an average value of 47.78 then after counselling became 62.22, this showed the success of counselling on the use of organic waste carried out.
Processing and Utilization of Inorganic Waste into Economically Valuable Products Elva Elfira; Surahmawati, Surahmawati; Amansyah, Munawir; Syarif, Alwiyah Nur
SAMATA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH SCIENCE Volume 3, Issue 2, March-August 2024
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sociality.v3i2.49749

Abstract

Waste management is a complex challenge faced globally, including Indonesia. This is due to the imbalance between waste production and processing. Waste production in Indonesia reaches around 23.1 million tons of waste every year. With high inorganic waste production, effective waste handling and processing efforts are needed to reduce excess waste volume. The purpose of this study is to assess the effectiveness of the counseling and training program for processing inorganic waste into crafts by measuring the increase in knowledge of SD Negeri Kanreapia students about processing inorganic waste into crafts and assessing the sustainability of processing inorganic waste into crafts. The type of evaluation conducted is using a mixed methods research approach, which is an approach that combines quantitative and qualitative methods with a total of 31 respondents. The quantitative method uses a questionnaire as a research instrument, while qualitative is done by observation and in-depth interviews. The evaluation results based on the Friedman test showed that there was a significant difference (p-value = 0.000 <0.05) in respondents' knowledge before, after training, and after 8 months of intervention with sufficient knowledge of 70.9% or 22 respondents. The results of the activity showed a significant difference in respondents' knowledge related to inorganic waste processing before the intervention, after the intervention, and after 8 months of intervention.
Impact of pesticides on farmers: A case study in the highlands Basri, Syahrul; Saleh, Muh.; Amansyah, Munawir
CORE JOURNAL Volume 5, Issue 1, December 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/corejournal.vi.52771

Abstract

This study investigates the symptoms of pesticide poisoning among vegetable farmers in the highland agricultural area of Pattapang Village, Tinggimoncong Subdistrict, Gowa Regency, South Sulawesi. Utilizing a descriptive method, 296 farmers were surveyed to assess pesticide application practices, personal hygiene, and the use of personal protective equipment (PPE). Data collection was conducted via structured questionnaires, focusing on exposure-related symptoms and contributing factors. Results reveal that 24.7% of respondents reported symptoms such as dizziness, nausea, and headaches, with PPE usage varying significantly—79.4% reported using PPE during pesticide application. However, 54.7% of farmers did not wear gloves, and only 24% used masks. Personal hygiene practices were generally good, with 72.6% of respondents following appropriate measures. The findings highlight the need for improved education and interventions to mitigate health risks associated with pesticide exposure. This study underscores the importance of safe pesticide practices and adequate PPE to safeguard farmer health. 
Evaluasi Peran Kepemilikan Jamban dalam Kejadian Stunting: Temuan dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan Saleh, Muh.; Yudianti, Anita; Damayati, Dwi Santy; Basri, Syahrul; Munawir Amansyah, Munawir Amanah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.101-108

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran kepemilikan jamban dan factor sanitasi lainnya terhadap kejadian stunting pada balita.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel 348 balita usia 6-59 bulan. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dan pengukuran fisik, dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Sebagian besar balita (81,6%) mengalami stunting, dan mayoritas rumah tangga memiliki jamban sehat (94,5%). Namun, hanya 33,3% responden memiliki kebiasaan cuci tangan yang baik, dan 78,7% rumah tangga melaporkan praktik pengolahan makanan yang buruk. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kepemilikan jamban dengan kejadian stunting (p=0,545). Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara sumber air minum (p=0,002), kebiasaan cuci tangan (p=0,003), dan pengolahan makanan (p=0,000) dengan kejadian stunting.Simpulan: Sumber air minum, kebiasaan cuci tangan, dan pengolahan makanan adalah faktor sensitif yang berhubungan dengan kejadian stunting, sedangkan kepemilikan jamban tidak berpengaruh signifikan. ABSTRACT Title: Evaluation of the Role of Toilet Ownership in Stunting Events: Findings from Jeneponto Regency, South SulawesiBackground: Stunting is a significant health issue in Indonesia, particularly in Jeneponto Regency, South Sulawesi. This study aims to evaluate the role of latrine ownership and other sanitation factors in the prevalence of stunting among children under five.Methods: This study employed a cross-sectional design with a sample of 348 toddlers aged 6-59 months. Data were collected through direct interviews and physical measurements and analyzed using the chi-square test.Results: The majority of children (81.6%) were found to be stunted, and most households had access to healthy latrines (94.5%). However, only 33.3% of respondents reported having good handwashing practices, and 78.7% of households reported poor food handling practices. There was no significant association between latrine ownership and stunting (p=0.545). Conversely, there were significant associations between drinking water sources (p=0.002), handwashing practices (p=0.003), and food handling practices (p=0.000) and stunting.Conclusion: Drinking water sources, handwashing habits, and food handling practices are sensitive factors associated with the incidence of stunting, whereas latrine ownership does not have a significant effect.
BREASTFEEDING VS. FORMULA FEEDING: ETHICAL, MEDICAL, AND RELIGIOUS PERSPECTIVES IN INFANT NUTRITION DECISION-MAKING Syarfaini; surahmawati, Surahmawati; Amansyah, Munawir; Nildawati; Indar
Homes Journal = Hospital Management Studies Journal Vol 6 No 1 (2025): Homes Journal
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/hmsj.v6i1.55855

Abstract

Background: Breastfeeding is globally recognized as the optimal form of infant nutrition due to its numerous health benefits. However, the decision between breastfeeding and formula feeding presents ethical dilemmas influenced by medical, socio-economic, cultural, and religious factors. The interplay between parental autonomy, healthcare professionals' responsibilities, and societal norms creates complexities in infant feeding choices. Objective: This study aims to analyze the ethical considerations in breastfeeding and formula feeding decisions, emphasizing parental rights, healthcare responsibilities, and the influence of cultural and religious values. Methods: A literature review was conducted to examine ethical principles, including autonomy, beneficence, and non-maleficence, in the context of infant feeding choices. The study also explored real-world cases where parents opted for formula feeding due to various constraints. Additionally, religious perspectives, particularly from Islamic teachings, were analyzed to understand their role in shaping breastfeeding practices. Results: The findings highlight that while breastfeeding remains the gold standard, formula feeding is sometimes necessary due to medical, economic, or social reasons. Ethical dilemmas arise when parental autonomy conflicts with public health recommendations. Healthcare professionals play a crucial role in providing evidence-based information, supporting informed decision-making, and mitigating societal stigma associated with infant feeding choices. Conclusion: Ethical considerations in infant feeding require a balanced approach that respects parental autonomy while promoting the best interests of the child. Healthcare professionals must ensure that parents receive accurate information and support to make informed decisions. Addressing societal and religious influences is essential in fostering an inclusive and supportive environment for all feeding choices.