Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

ASSOCIATION BETWEEN THE INCIDENCE OF DIARRHEAL DISEASES AND ENVIRONMENTAL RISK FACTORS: A SYSTEMATIC REVIEW: A Systematic Review Anita, Anita Riantina; Yuanita Windusari; Novrikasari; Elvi Sunarsih; Nur Alam Fajar
Jambi Medical Journal : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2024): JAMBI MEDICAL JOURNAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmj.v12i1.29418

Abstract

Background : Diarrheal disease is the occurrence of feces (bowel movements) whose soft consistency tends to be liquid and occurs more than 3 times a day. The prevalence of diarrhea in Indonesia is 9.8% with 14.5% causing death. Risk factors for diarrhea include food, environmental and human behavior. . Method : Research design using systematic review method. With the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analysis) method through article searches sourced from Google scholar and Pubmed. The inclusion criteria in this writing are original research articles published within the last 5 years, starting from 2018 – 2023. Results : This study shows that sewage has a close relationship with the incidence of diarrhea (P = 0.001), as well as drinking water sources, especially in terms of water sources, availability of water sources and bacteriological quality of water. Unqualified wastewater disposal conditions are 3.7 times greater risk for diarrhea (PR: 3.7, CI: 1.159 – 11.937), there is a significant relationship between family waste management and diarrhea incidence. In addition to environmental risk factors, there are other factors, namely the level of education of middle and upper middle mothers, exposure to information and family income levels also have a relationship with the incidence of diarrhea in both children and the elderly Conclusion : Risk factors that have a significant influence on the incidence of diarrhea are environmental factors, exposure to information and family income level. The dominant environmental factors in this study are sewage disposal (latrines), clean water sources/clean water quality, wastewater disposal. Keywords : diarrhea, environmental factors, personal hygiene, bivariate
Gambaran Spasial Kasus Kematian Neonatal di Sumatera Selatan : Spatial Description of Case of Neonatal Mortality in South Sumatra Nur Alam Fajar; Indah Yuliana; Razak, Rahmatillah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023): July 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3374

Abstract

Latar belakang: Angka kematian anak menjadi salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat suatu negara. Secara global 2.4 juta anak meninggal pada bulan pertama kehidupannya. Salah satu penyebab kematian neonatal yang tinggi adalah riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan pemeriksaan kehamilan. Berdasarkan data nasional kasus tersebut masih tergolong tinggi di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Selatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran spasial tentang kasus kematian neonatal dan variabel BBLR serta antenatal care di Sumatera Selatan pada tahun 2019. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan mengumpulkan data sekunder dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2019 yang terdiri dari variabel kasus kematian neonatal serta faktor penyebabnya dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta antenatal care. Analisis yang dilakukan adalah spasial dengan menggunakan QGIS (Geographic Information Systems) dengan melakukan visualisasi peta dan analisis korelasi. Hasil: Kasus kematian neonatal di Provinsi Sumatera selatan telah berada dibawah target nasional namun masih ada beberapa wilayah yang perlu mendapat perhatian, utamanya daerah yang masih cukup tinggi kasusnya yaitu diatas rata-rata kasus kematian neonatal provinsi. Faktor penyebab tertinggi kematian neonatal disebabkan oleh berat badan lahir rendah (BBLR). Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan pada variabel BBLR dan antenatal care terhadap korelasinya dengan kematian neonatal, namun meskipun demikian pada semua variabel memperlihatkan arah korelasi sesuai dengan teori tentang beberapa faktor penyebab kasus kematian neonatal.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Anak Usia 6-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Swakelola Kota Palembang Marisa Apriyanti; Nur Alam Fajar; Ridwan Ikob
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Association of Public Health Scholars based in Faculty of Public Health, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Kejadian diare bias disebabkan oleh beberapa faktor yang meliputi perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah anak usia 6-24 bulan yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Swakelola 11 Ilir Palembang yang berjumlah 83 orang dengan ibu sebagai respondennya.Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan yaitu sebesar 42,2 %. Secara statistik hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif (p value=0,017 ), pemberian MP ASI (p value=0,027), kebiasaan ibu cuci tangan (p value=0,010), dan penggunaan jamban (p value=0,046) dengan kejadian diare pada anak.Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini diketahui adanya hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif, pemberian MP ASI, kebiasaan ibu cuci tangan dan penggunaan jamban dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan. Saran dari penelitian ini yaitu perlunya diupayakan strategi promosi kesehatan secara terprogram oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang dengan melibatkan berbagai pihak sehingga diharapkan dapat membangkitkan kesadaran bagi masyarakat di wilayah ini untuk dapat merubah kebiasaan buruk yang bisa menjadi faktor penyebab terjadinya penyakit diare pada balita.Kata kunci: diare, anak usia 6-24 bulan
Enhancing Maternal Health Literacy for Stunting Prevention: A Systematic Review of Effective Approaches and Strategies Amalia, Risa Nur; Nur Alam Fajar; Anita Rahmiwati
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educatio
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V14.I1.2026.155-163

Abstract

Background: Stunting is a global health problem with a significant impact on the physical and cognitive development of children, particularly in developing countries. Health literacy, defined as an individual's ability to understand and utilize health information, plays an important role in preventing stunting. Low health literacy in many developing countries hampers the effectiveness of stunting prevention measures. Objectives: This study explores the roles, approaches, and effective strategies of health literacy in stunting prevention through a systematic review using the PRISMA method. Method: Data were collected from scientific databases such as Scopus, PubMed, ScienceDirect, Emerald Insight, and Taylor & Francis, using keywords including “health literacy,” “stunting,” “stunting prevention,” “approach,” and “strategy.” The articles included in the study were published between 2020 and 2024. Out of 4,126 identified articles, nine met the inclusion criteria and were further analyzed. Results: Maternal health literacy significantly improved understanding of child nutrition, exclusive breastfeeding practices, and growth monitoring. Cultural, community, and technology-based approaches—including digital education through social media—proved effective in enhancing health literacy. Key barriers included limited access to information, low education levels, and cultural norms that challenged implementation. Cross-sector collaboration among government, health workers, and communities is crucial to ensuring sustainable strategies. Conclusion: Health literacy plays a vital role in preventing stunting. Community- and technology-based interventions tailored to local contexts have been effective in improving maternal health knowledge and practices. Implementing health literacy programs can support the achievement of national and global targets for stunting reduction.