Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Perbandingan Hasil COVID-19 Metode Rapid Antigen Test dengan PCR: Literature Review Siti Rachmawati; Yuanita Windusari; Hamzah Hasyim
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 22, No 3 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v22i3.2767

Abstract

The basis for the identification of SARS-CoV-2 cases in handling the COVID-19 pandemic is Reverse Transcriptasi Polymerase (RT-PCR) and the SARS-CoV-2 specific rapid antigen test. RT-PCR test takes a long time and expensive to get results, while the SARS-CoV-2 rapid antigen test is a simple and fast alternative in getting COVID-19 detection results. The method used is descriptive observational in the form of a literature review by reviewing the existing literature. Several screening and confirmatory tests are available to detect SARS-CoV-2. Screening tests such as the Rapid Antigen Test (RAT) can identify high-risk populations. RAT reduces dependence on RT-PCR, where the cost of the RT-PCR kit and technical expertise is a major concern. Precise and sensitive molecular technique that quantitatively detects viral RNA from clinical specimens. RAT for COVID-19 showed lower sensitivity than RT-PCR for both symptomatic (single or multiple symptoms) and asymptomatic infections.
Pengendalian Vektor dan Eliminasi Malaria: Literature Review Ummi Kaltsum; Yuanita Windusari; Hamzah Hasyim
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 22, No 3 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v22i3.2768

Abstract

Malaria is an important tropical parasitic disease in the world, and is still a major health problem. Malaria vector control is one of the efforts to prevent and control malaria which aims to break the chain of transmission of malaria. Vector control includes actions directed against disease vectors, which are intended to limit their ability to transmit disease by protecting areas that are known to be receptive to transmission. Identify opportunities in vector control aspects that can be utilized by the state in an effort to achieve zero malaria cases and achieve elimination certification by 2030. This research method is a descriptive observational study using a literature review design, with the NCBI database. In the elimination phase, the objective of vector control is to reduce the vector capacity of the local vector population below the critical threshold required to maintain transmission. In order to achieve effective vector control towards elimination, among various confounding factors, it is important to identify challenges related to the biological and bionomic character of the vector and associated operational issues.
Analisis Kejadian Malaria pada Pekerja di Pertambangan: Literature Review Wita Citra Dewi; Hamzah Hasyim; Novrikasari Novrikasari
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 22, No 3 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v22i3.2769

Abstract

The incidence of malaria has spread throughout the world. Every year more than 500 million people in the world are infected with malaria and more than 1,000,000 people die. Malaria spread factors from various possibilities, such as land clearing, excavation, mining. In addition, climatic factors also affect the distribution of the Anopheles mosquito which causes malaria throughout the world. Several studies were conducted on existing mines in Brazil and Columbia. Prevention of all aspects of possible occurrence of malaria is needed in order to emphasize the number of malaria cases in mining throughout the world, including Indonesia.
Faktor Risiko Kejadian Malaria pada Masyarakat Wilayah Pertambangan: Literature Review Risva Aprina Fitri Lestari; Hamzah Hasyim; Novrikasari Novrikasari
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 22, No 3 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v22i3.2766

Abstract

Globally, nearly 85% of malaria cases occur in nineteen Indian sub-Saharan African countries.Tropical and subtropical countries are endemic areas for this disease because they have a rainy season that provides a high availability of clean water, where vector mosquitoes can lay eggs and breed.. KForest activities such as agriculture, logging and gold mining are considered high risk occupations for exposure to malaria, this is because forest workers, especially miners and loggers, often spend weeks to months at work..This article uses a literature review approach with a cross-sectional study design. Articles are searched through electronic databases systematically onScience Direct, Malaria Journal, and PubMedpublished in the last 10 years and taken between the years (2013-2022) using the keywords (risk factorAND malaria AND “mine workers). Based on the results of data extraction from search engines of the Science Direct, Malaria Journal, and PubMed methods, there are 15 journals selected based on inclusion criteria. FactorsThe risk of malaria in mining area communities is age, gender, education, knowledge, behavior, attitudes, and environmental conditions.This study serves as a baseline for assessing the impacts of mining activities in relation to future vector control interventions.Malaria elimination efforts can be accelerated by targeting improvements in treatment practices, diagnosis, and reporting to private pharmacies, private clinics, and grocery stores. Programs should also seek to increase awareness and understanding of malaria among at-risk populations, in particular the importance of using preventive measures and following a comprehensive antimalarial treatment program.
The Relationship of Environmental Factors to the Incidence of Malaria in Different Countries: Systematic Review Muhammad Aandi Ihram; Hamzah Hasyim; Hilda Zulkifli; Didit Haryanto
Buletin Farmatera Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/bf.v7i3.11609

Abstract

PERBANDINGAN KADAR ZAT BESI DAN VITAMIN C PADA IBU HAMIL ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI KABUPATEN SELUMA Rostika Flora; Mohammad Zulkarnain; Hamzah Hasyim; Nurmalia Ermi; Risnawati Tanjung; Sri Martini; Aguscik Aguscik; Ikhsan Ikhsan; Nurlaili Nurlaili; Samwilson Slamet; Yetti Purnama; Neshy Sulung
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 5 (2022): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Guna Menunjang Pencapaian Sustainable Developm
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Zat besi dan vitamin C sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia. Zat besi berperan untuk pembentukan eritrosit, sedangkan vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Kekurangan asupan zat besi dan vitamin C akan berdampak terhadap kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandung. Penelitian ini bertujuanuntuk membandingkan kadar zat besi dan vitamin C pada ibu hamil anemia dan tidak anemia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case-control yang diadakan di Kabupaten Seluma. Sampel berjumlah 30 orang ibu hamil, terdiri dari 15 orang ibu yang mengalami anemi dan 15orang ibu yang tidak anemia. Dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar Hb, zat besi dan vitamin C.  Pengukuran kadar Hb dilakukan menggunakan Hb meter digital, pengukuran kadar Fe dan vitamin C menggunakan metode colorimetric. Data karakteristikdiperoleh dari kuisioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 22. Hasil: Data karakteristik menunjukkan bahwa, mayoritas (53%) ibu hamil anemia berusia 20-35 tahun dan berada di usia kehamilan Trimester II (60%). Sebagian besar (53,3%)merupakan kehamilan pertama. 73,3% ibu berpendidikan rendah, tidak bekerja (80%) serta mempunyai status ekonomi yang rendah (73,3%). Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan bahwa, rerata kadar Hb (10,38 ± 0,83 vs 12,72 ± 1,10 g/dL), zat besi (90,54 ± 12,55 vs 99,38 ±9,59 µg/dL) dan vitamin C (1,97 ± 1,01 vs 2,82 ± 0,97 µg/dL) pada ibu anemia lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak anemia dan secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara zat besi (p=0,039) danvitamin C (0,026) ibu hamil yang mengalami anemia dan tidak anemia.  Konsumsi zat besi dan vitamin C serta monitoring kadar hemoglobin selama kehamilan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya anemia. Kata kunci: anemia, kadar hemoglobin, zat besi, vitamin C
Optimalisasi Penggunaan Wiremesh pada Penulangan Pelat Lantai Menggunakan Metode Integer Linier Programming pada Proyek Gedung Inovasi dan Riset Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Tahap 1 Reinhart Maleakhi; Saifoe El Unas; Hamzah Hasyim
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 1 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan wiremesh sebagai tulangan pelat lantai pada proyek konstruksi sering menimbulkan limbah material akibat pemotongan yang tidak terencana. Hal ini juga dapat terjadi pada Proyek Pembangunan Gedung Inovasi dan Riset FILKOM UB Tahap 1, di mana pola pemotongan wiremesh yang kurang optimal dapat meningkatkan waste, biaya, dan kebutuhan material. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan pendekatan sistematis yang mampu meminimalkan limbah dan mengoptimalkan penggunaan material. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan wiremesh, memodelkan pola pemotongan yang efisien, serta menentukan persentase limbah melalui penerapan metode integer linear programming pada kasus cutting stock problem. Penelitian menggunakan data struktur dari Dokumen Engineering Design (DED) berupa gambar denah penulangan serta syarat penulangan pelat lantai wiremesh pada tiap lantai, baik area tumpuan maupun lapangan. Pemodelan matematis disusun melalui penentuan variabel keputusan, fungsi tujuan untuk meminimalkan waste, serta fungsi pembatas untuk memenuhi kebutuhan potongan sesuai desain. Perhitungan optimasi dilakukan menggunakan perangkat lunak QM for Windows. Variabel penelitian mencakup jenis pola pemotongan, jumlah pola, dan kombinasi pemotongan untuk tiap lantai. Hasil analisis menunjukkan total kebutuhan wiremesh setelah proses optimalisasi yakni 1.391 lembar dengan luas penulangan sebesar 1.577.394.000 mm². Model menghasilkan 88 pola pemotongan dengan 62 kombinasi pola untuk seluruh lantai. Berdasarkan keseluruhan proses, persentase waste material yang dihasilkan adalah 3,87%, menunjukkan bahwa metode integer linear programming mampu meminimalkan limbah material. Dengan demikian, metode optimasi ini dapat dijadikan acuan dalam manajemen material pada proyek konstruksi. Kata kunci : wiremesh, cutting stock problem, integer linear programming, manajemen waste, pelat lantai
Implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya Tahun 2009 Henny Isnainy; Hamzah Hasyim; Rico Januar Sitorus
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Laboratorium kimia merupakan fasilitas untuk pendidikan, penelitian, pelayanan dan uji mutu. Di laboratorium terdapat bahan kimia yang memiliki risiko bahaya dan dapat menimbulkan efek bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi implementasi keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium kimia.Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Teknik instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan observasi. Penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara mendalam, FGD (Focus Group Discussion), telaah dokumen dan hasil observasi.Hasil Penelitian : Dalam peralatan dan bahan kimia di laboratorium kimia, telah diterapkan pelabelan pada setiap bahan kimia. Di laboratorium kimia belum lengkapnya perlengkapan keselamatan kerja seperti alarm, pintu darurat dan APAR (Alat Pemadaman Api Ringan).Kesimpulan : Belum lengkapnya pelengkapan keselamatan kerja seperti alarm, pintu darurat dan APAR (Alat Pemadaman Api Ringan). Laboratorium harus dilengkapi alarm kebakaran dan APAR (Alat Pemadaman Api Ringan), dibuatkan ventilasi khusus. Perlengkapan keselamatan kerja perlu ditempelkan poster kewajiban menggunakan APD, kondisi bahaya, intruksi kerja dan aturan dasar keselamatan kerja, memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran tata-tertib.Kata Kunci : Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Kimia.
Analisis Determinan Penyebab Kejadian Penyakit Kulit Dermatitis Kontak pada Pekerja: Systematic Review Sri Aisyah Nabila; Hamzah Hasyim; Yuanita Windusari; Novrikasari Novrikasari; Nur Alam Fajar
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 16 No 2 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 2, Mei 2024
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v16i2.594

Abstract

AbstrakLatar belakang: Dermatitis kontak mencakup 90% dari seluruh penyakit kulit akibat kerja, yang mana umumnya terjadi dermatitis kontak alergi dan dermatitis kontak iritan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penyakit kulit dermatitis kontak pada pekerja.Metode: Adapun sumber-sumber referensi telaah jurnal dikumpulkan dari Google Scholar, ScienceDirect, dan Pubmed dengan bantuan Sci-hub. Jurnal yang dipilih berasal dari studi yang dilakukan selama 5 tahun terakhir dengan skala internasional. Keywords yang digunakan dalam proses pengumpulan data ialah “Occupational” dan “Dermatitis” dan “Contact” dan “On Workers”. Hasil: Hasil pencarian dari database PubMed, Google Cendekia, dan ScienceDirect didapatkan 9 artikel yang dipilih untuk ditelaah diterbitkan antara 2018 sampai 2023. Penelitian pada artikel-artikel tersebut dilakukan di berbagai negara, antara lain Turki, Arab, Ethiopia, Costarica dan negara-negara lainnya. Faktor pekerjaan yang berkenaan dengan kejadian dermatitis kontak ialah faktor biologis berupa gender dan usia, faktor pekerjaan (lama kontak, frekuensi, masa kerja) adanya paparan bahan logam dan kimia, serta penggunaan APD sebagai faktor risiko penyebab terjadinya dermatitis kontak pada pekerja. Kesimpulan: Dermatitis kontak adalah salah satu penyakit akibat kerja yang umumnya banyak ditemukan di negara-negara berkembang dengan bentuk inflamasi atau peradangan pada kulit sebagai respon dari kontak terhadap zat-zat eksogen. Penyakit ini memiliki efek negatif pada kualitas hidup para pekerja dan kemampuan mereka dalam melakukan pekerjaan.Kata Kunci: Dermatitis Kontak, Penyakit Kulit, Penyakit Akibat Kerja AbstractBackground: Contact dermatitis covers 90% of all occupational skin diseases, which generally include allergic contact dermatitis and irritant contact dermatitis. This study aims to determine the risk factors for contact dermatitis skin disease in workersMethod: As a reference source, we reviewed journals collected from Google Scholar, ScienceDirect, and Pubmed with the help of Sci-hub. The selected journals come from research conducted over the last 5 years on an international scale. The keywords used in the data collection process are "Occupational" and "Dermatitis" and "Contact" and "On Workers".Results: Search results from the PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect databases obtained 9 articles selected for review published between 2018 and 2023. Research on these articles was conducted in various countries, including Turkey, Arabia, Ethiopia, Costa Rica, and other countries. other countries. Occupational factors related to the incidence of contact dermatitis are biological factors in the form of gender and age, occupational factors (length of contact, frequency, length of work), exposure to metals and chemicals, and use of PPE as a risk factor causing contact dermatitis in workers.Conclusion: Contact dermatitis is an occupational disease that is generally found in developing countries with a form of inflammation or inflammation of the skin as a response to contact with exogenous substances. This disease has a negative effect on workers' quality of life and their ability to do their jobs.Keywords: Contact Dermatitis, Skin Diseases, Occupational Diseases