Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Perbedaan Perceived Susceptibility dan Severity Pelaksanaan Protokol Kesehatan Covid-19 Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan Muhammad Lois Indra Kelana; Hema Dewi Anggraheny; Chamim Faizin
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 3 No. 2 (2022): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V3i2.5003

Abstract

Abstract—Perceived Susceptibility is an individual's subjective perception of the risk of getting a disease, and Perceived Severity is information that a person believes about the severity or seriousness of a disease. A person with high Perceived Susceptibility and Perceived Severity can improve preventive behavior against Covid-19. The purpose of this study was to analyze the differences in Perceived Susceptibility and Perceived Severity in the implementation of the Covid-19 health protocol in urban and rural communities. The research method is quantitative in the form of observational analytic study with cross sectional approach. Data was collected in urban and rural areas with 88 total of respondents. The results of the analysis with the Mann Whitney test show that there is a difference in Perceived Susceptibility based on urban and rural area(p=0.001), education level(p=0.001), occupation(p=0.008), experience of being diagnosed with Covid-19(p=0.025) and there are not any difference based on the source of information(p=0.938). There are differences in Perceived Severity based on urban and rural areas(p=0.026), education level(p=0.005), occupation(p=0.012), experience of being diagnosed with Covid-19 (p= 0.03) and there are not any differences based on the source of information(p=0.877). This study shows that urban communities have higher Perceived Susceptibility and Perceived Severity in the implementation of the Covid-19 health protocol than rural communities. Keywords: covid-19 health protocol, perceived susceptibility, perceived severity Abstrak—Perceived Susceptibility atau persepsi kerentanan merupakan persepsi subyektif seorang individu terhadap risiko terkena suatu penyakit sedangkan Perceived Severity atau persepsi keseriusan merupakan persepsi yang diyakini seseorang tentang suatu keparahan atau keseriusan suatu penyakit. Seseorang dengan Perceived Susceptibility (persepsi kerentanan) dan Perceived Severity (persepsi keseriusan) yang tinggi terhadap Covid-19 dapat meningkatkan perilaku pencegahan terhadap Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan Perceived Susceptibility dan Perceived Severity dalam pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 pada masyarakat perkotaan dan pedesaan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif berupa studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara consecutive sampling di dua lokasi yaitu di wilayah perkotaan dan pedesaan dengan total responden sebanyak 88 orang. Hasil analisis dengan Uji Mann Whitney menunjukan adanya perbedaan Perceived Susceptibility berdasarkan wilayah perkotaan dan pedesaan (p=0,001), pendidikan (p=0,001), pekerjaan (p=0,008), pengalaman positif Covid-19 (p=0,025) dan tidak ditemukan adanya perbedaan berdasarkan sumber informasi (p=0,938). Sedangkan untuk Perceived Severity ditemukan adanya perbedaan berdasarkan wilayah perkotaan dan pedesaan (p=0,026), pendidikan (p=0,005), pekerjaan (p=0,012), pengalaman positif Covid-19 (p=0,03) dan tidak ditemukan adanya perbedaan berdasarkan sumber informasi (p=0,877). Penelitian ini menunjukkan masyarakat perkotaan memiliki Perceived Susceptibility dan Perceived Severity yang lebih tinggi dalam menjalankan protokol kesehatan Covid-19 dibanding masyarakat pedesaan. Kata kunci: protokol kesehatan covid-19, perceived susceptibility, perceived severity
ANALISIS FAKTOR RISIKO DERAJAT PREEKLAMPSIA PADA IBU HAMIL MULTIGRAVIDA DI RSUD RAA. SOEWONDO PATI Salsabila Rahmadhanti; Diana Handaria; Hema Dewi Anggraheny
Al-Iqra Medical Journal : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran Vol 5, No 2 (2022): ILMU KEDOKTERAN
Publisher : Journal Medical Universitas muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/aimj.v5i2.7630

Abstract

Preeklampsia adalah penyebab terbesar dari kematian ibu di RSUD RAA. Soewondo Pati. Dalam sebuah penelitian pada disebutkan bahwa kehamilan kedua serta ketiga berisiko mengalami kejadian preeklampsia sebesar 1,7 % dan 1,8 %. Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini guna mendapatkan hasil hubungan antara usia, obesitas, riwayat hipertensi,idan riwayat preeklampsia/ eklampsiaaasebelumnya dengannkejadian preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil multigravida di RSUD RAA. Soewondo Pati.Studi ini dilakukan pada bulan Februari 2022 memakai desain observasional analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional berjumlah 100 sampel. Perolehan data ini memakai data sekunder yang diperoleh dalam bentuk data rekam medik pada bulan Januari-Desember 2020 dan dianalisis dengan mengaplikasikan uji chi square.Hasil uji chi square diperoleh faktor yang berkaitan dengan kejadian preeklampsia yakni obesitas (ρ-value=0,000), riwayat hipertensi (ρ-value=0,036), dan riwayat preeklampsia/ eklampsia sebelumnya (ρ-value=0,001).Faktor risiko yang berkaitan dengan kejadian preeklampsia pada multigravida adalah obesitas, riwayat hipertensi, dan riwayat preeklampsia/ eklampsia sebelumnya.
ANALISIS FAKTOR IBU DAN BAYI YANG MEMPENGARUHI TINDAKAN SEKSIO SESAREA PADA PRIMIGRAVIDA DI RSJD DR AMINO GONDOHUTOMO PROVINSI JAWA TENGAH Farras Syahla Salsabila; Diana Handaria; Hema Dewi Anggraheny
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 3 (2023): SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i3.17501

Abstract

Prevalensi seksio sesarea di RSJD Dr Amino Gondohutomo bulan Januari 2019 sebesar 51,82% sedangkan standar seksio sesarea dalam rumah sakit pemerintah sejumlah 20-25%. Seksio sesarea pada primigravida dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor bayi serta ibu. Penelitian bertujuan memahami hubungan faktor ibu meliputi usia ibu, ketuban pecah dini, partus tak maju, partus lama, kelainan letak plasenta dan faktor bayi meliputi kelainan letak bayi terhadap tindakan seksio sesarea pada primigravida dalam RSJD Dr Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di bulan September-Oktober 2021 menggunakan desain observational analityc rancangan cross sectional pendekatan retrospektif sampel 355 orang dari total sampling. Pengambilan data mempergunakan data rekam medis bulan Januari 2020-2021 dan dianalisis menggunakan chi square serta regresi logistik. Hasil uji chi square diperoleh faktor yang berkaitan yakni ketuban pecah dini (?-value=0,000), partus tak maju (?-value=0,000), serta kelainan letak bayi (?-value=0,000). Hasil uji multivariat didapatkan faktor yang paling signifikan yaitu ketuban pecah dini. Faktor risiko yang paling berhubungan dengan seksio sesarea pada primigravida adalah ketuban pecah dini.
Biskuit CERIA (Cangkang Telur Kombinasi Kurma dan Madu) sebagai Snack Alternatif untuk Meningkatkan Status Gizi Anak Hema Dewi Anggraheny; Aisyah Lahdji; Tri Kartika Setyarini; Ika Dyah Kurniati
Jurnal Surya Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jsm.6.1.2023.20-25

Abstract

Many studies state that most cases of malnourished children, such as stunting, experience a lack of calories and protein. So that one of the focuses is to improve the nutritional status of children, especially by making food preparations from ingredients that are high in calories and protein, and of course those that are of interest to children in terms of taste and shape. Egg shells are an alternative food ingredient that is rich in protein and calcium. In addition, dates and honey produce a natural sweet taste, and have high nutritional value. The purpose of this activity is to provide alternative snacks for children in the form of eggshell cookies, a combination of dates and honey. The method starting with making egg shell cookies a combination of dates and honey (Ceria), and determining the right recipe for these biscuits, in terms of taste and shape. Then tested the nutritional composition (calories, carbohydrates, protein, fat, sugar, and fiber). Furthermore, the cookies were distributed to partners, namely mothers who have children aged 6 months to 9 years and health cadres in the Kedungmundu Village, Semarang. The result for this research was Ceookies “Ceria” with the ingredients of eggshell flour, wheat flour, cornstarch, dates, honey, and egg yolks. The nutritional composition produced in 100 grams of cookies produces 511 kcal calories, 63,7 grams of carbohydrates, 0,83 grams of protein, 28,3 grams of fat, 49,5 grams of fiber, and 7 grams of sugar. Ceria cookies (egg shell combination of dates and honey) can be given as an alternative food supplement for children, with the appropriate nutritional composition and using natural ingredients without artificial sweeteners or preservatives.
HUBUNGAN FAKTOR RIWAYAT MPASI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK Kasatu, Bhre Dharnaratti; Anggraheny, Hema Dewi; Noviasari, Nina Anggraeni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 12 (2023): Volume 10 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i12.10599

Abstract

Abstrak: Hubungan Faktor Riwayat Mpasi Dengan Kejadian Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak. Angka stunting masih menjadi perhatian tinggi di wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar 1 Kabupaten Demak dikarenakan belum tercapainya target yaitu sebesar 2%. Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi stunting pada anak adalah faktor asupan, antara lain ASI dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut terkait riwayat makan yang mempengerahui kejadian dari penderita stunting. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif deskriptif analitik untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi riwayat MPASI pada penderita stunting di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak dengan menggunakan data primer yaitu wawancara mendalam. Tekstur, frekuensi MPASI pada anak stunting usia 6-24 bulan pada penelitian ini sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh IDAI. Porsi pemberian MPASI dan komposisi kecukupan gizi pada anak stunting usia 6-24 bulan pada penelitian ini lebih rendah dengan rekomendasi yang diberikan oleh IDAI. Bayi pada informan 4 memiliki angka kecukupan gizi yang lebih rendah dari pada informan 1,2 dan 3. Dan sesuai dengan status gizinya paling pendek dibandingkan 3 informan lainya. Hubungan faktor riwayat MPASI yang mempengaruhi stunting yaitu terdapat pada porsi pemberian makan dan komposisi kecukupan gizi. Dan bayi yang memiliki angka kecukupan gizi rendah terdapat pada informan 4 dibandingkan dengan informan 1,2, dan 3.
HUBUNGAN PERILAKU MENYUSUI BERKAITAN DENGAN KEJADIAN FEEDING DIFFICULTY PADA ANAK USIA 24-36 BULAN DI KELURAHAN KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG Yumni, Atana Zatu; Anggraheny, Hema Dewi; Noviasari, Nina Anggraeni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2024): Volume 11 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i1.13142

Abstract

Abstrak: Hubungan Perilaku Menyusui Berkaitan dengan Kejadian Feeding Difficulty pada Anak Usia 24-36 Bulan di Kelurahan Kedungmundu Kota Semarang. Feeding difficulty merupakan suatu keadaan diamana anak tidak mampu untuk menolak makanan tertentu dengan macam dan jumlah yang berdasarkan usia anak secara fisiologis. Kesulitan makan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor organik, faktor nutrisi, faktor feeding skills, dan faktor psikososial. Perilaku menyusui ibu berkaitan dengan pemberian ASI, lama menyusui, pemberian ASI eksklusif, dan metode menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan perilaku menyusui dengan kejadian feeding difficulty pada anak usia 24-36 bulan di Kelurahan Kedungmundu Kota Semarang. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 68 responden di kelurahan Kedungmundu menggunakan teknik consecutive sampling. Uji yang digunakan yaitu Chi Square dan Mann Whitney dengan bantuan software komputer.Mayoritas anak mengalami kesulitan makan (86,8%). Hasil uji Chi Square didapatkan ada hubungan antara pemberian ASI hingga 2 tahun (p value 0,034), pemberian ASI eksklusif (P Value 0,034), dan metode menyusui (p value 0,028) dengan kejadian feeding difficulty.  Berdasarkan uji man whitney didapatkan terdapat perbedaan bermakna antara lama menyusui (P Value 0,011) dengan kejadian feeding difficulty di Kelurahan Kedungmudu Kota Semarang. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara perilaku menyusui ibu dengan kejadian feeding difficulty di Kelurahan Kedungmudu Kota Semarang.
KORELASI ANTARA STATUS GIZI DAN ANEMIA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA ANAK KELAS 6 MADRASAH IBTIDAIYAH NASHRUL FAJAR Husna, Nurul; Ramaningrum, Galuh; Anggraheny, Hema Dewi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024): Volume 11 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i2.10109

Abstract

Abstrak: Korelasi Antara Status Gizi Dan Anemia Terhadap Prestasi Belajar Pada Anak Kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Nashrul Fajar. Anak usia sekolah di Indonesia memiliki masalah gizi dengan prevalensi yang masih tinggi. Anemia pada anak akan berdampak pada menurunnya kemampuan dan konsentrasi belajar sehingga dapat menurunkan kebugaran dan prestasi belajar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis korelasi antara status gizi dan anemia terhadap prestasi belajar pada anak kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Nashrul Fajar. Untuk mengetahui korelasi antara status gizi dan anemia terhadap prestasi belajar. Penelitian ini menggunakan obseravasi analitik cross sectional, responden sebanyak 60, di olah dengan uji Korelasi Pearson. Dari hasil analisis korelasi pearson product moment variabel status gizi diperoleh korelasi (rxy) = -0,132 p=0,316 berarti tidak terdapat korelasi signifikan antara variabel status gizi terhadap prestasi belajar siswa. Dan variabel anemia (rxy) = 0,440 p=0,001 yang berarti terdapat korelasi positif antara variabel anemia terhadap prestasi belajar pada anak kelas 6  di Madrasah Ibtidaiyah Nashrur Fajar. Dan berdasarkan analisis mutlivariat diperoleh nilai signifikan sebesar 0,234 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh secara simultan atau bersama-sama antara status gizi dan anemia terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian terkait Korelasi Antara Status Gizi dan Anemia terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Nashrul Fajar, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antara status gizi dengan prestasi belajar siswa. Dan terdapat korelasi antara anemia dengan prestasi belajar. Berdasarkan uji multivariat tidak terdapat pengaruh antara status gizi dan anemia terhadap prestasi belajar.
Factors Affecting Public Acceptance of the Covid-19 Vaccine in Indonesia Anggraheny, Hema Dewi; Lahdji, Aisyah
South East Asia Nursing Research Vol 4, No 3 (2022)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.4.3.2022.1-5

Abstract

One of the efforts to protect the community against Covid-19 cases is vaccination. However, in the preparation of vaccination, there are several negative issues related to vaccines, which make people doubt and even reject the effort. Predisposing factors include age, gender, occupation, income, education level, history of contact with people with COVID, and knowledge of vaccines, which can affect acceptance of vaccines. The purpose of this activity is to find out what factors affect public acceptance of the Covid-19 vaccine. The research was conducted by distributing questionnaires via google form to the general public in January 2021. The total respondents were 411 respondents. The questionnaire uses the Public Perception Survey questionnaire for the Covid-19 Vaccine in Indonesia published by WHO and the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Analysis using Chi-Square test. The survey results showed that 46.2% of respondents had not decided on and refused the vaccine, and 94.2% wanted to get information about the vaccine. Factors related to vaccine acceptance include age, work in the health sector, income level, education, fear of vaccines, the thought that there are many hoaxes regarding the COVID-19 vaccine, thoughts on vaccine safety, and thoughts on the dangers of vaccines. Accurate and scientific information, accompanied by easy access to receive the Covid-19 vaccine, is needed so that people with self-awareness carry out vaccinations to reduce the morbidity and mortality of COVID-19 in Indonesia.
The Relationship Between Self-Efficacy And The Occurrence Of Depression In Non-Hemorrhagic Post-Stroke Patients Azano, Ningrum Sahiratul; Lahdji, Aisyah; Anggraheny, Hema Dewi
South East Asia Nursing Research Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.6.2.2024.56-60

Abstract

Stroke is a disease that can occur suddenly and is caused by blood vessel disorders and can cause death. According to the Health Service in 2017, the prevalence of non-hemorrhagic stroke in Central Java province was 64.7%. The impact of a stroke is psychological disorders including anxiety or stress and depression. Self-efficacy plays an important role in the level of post-stroke depression and it was also found that stroke sufferers with higher levels of self-efficacy had fewer depressive symptoms. The aim of this study was to determine the relationship between self-efficacy and the occurrence of depression in non-hemorrhagic post-stroke patients. This research is a descriptive-analytical study with a cross-sectional approach. The population in the study was 70 non-hemorrhagic post-stroke patients at KRMT Wongsonegoro Hospital, Semarang City using consecutive sampling techniques. Data collection uses a questionnaire. Relationship analysis used the Spearman rank test and t-test. The majority of respondents had a moderate level of self-efficacy as many as 42 respondents (60%) and did not experience depression as many as 36 respondents (51.4%). The results of the Spearman rank test showed a p-value of 0.000 and a positive correlation strength of 0.704, which means there is a relationship between self-efficacy and the incidence of depression in patients after non-hemorrhagic stroke. The higher the level of self-efficacy, the lower the incidence of depression in patients after non-hemorrhagic stroke.
Diabetic Self-Management and Correlated Factors: A Cross-Sectional Study Fatharani, Lukman Faishal; Anggraheny, Hema Dewi; Putro, Wahyu Gito
South East Asia Nursing Research Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.6.1.2024.1-6

Abstract

Prevention of diabetes complications has an important role in decreasing mortality and morbidity in diabetes patients. Self-management in diabetic patients (DSM) is a recommended strategy to increase the quality of life in diabetes patients. Several factors are related to self-management in diabetic patients. This study aims to discover factors related to self-management in diabetic patients. This is a cross-sectional study performed on 42 diabetic patients. Respondents were given a Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) and a self-management behaviour questionnaire in Diabetes Mellitus (SMDM). Data was analyzed using SPSS version 26. This study had no significant relation between age and self-management (p = 0.987). There was also no statistically significant relationship between gender, education level, and knowledge level with p-value of 0.651, 0.559, and 0.558, respectively. Moreover, there was no correlation between participation in chronic disease management programs and self-management with p = 0.559. This study concluded no correlation between age, gender, education level, knowledge level, and participation in chronic disease management programs with self-management of diabetic patients.