Claim Missing Document
Check
Articles

Relevansi teori teknologi pendidikan dalam menjawab tantangan era industri 4.0 di pendidikan vokasi Alzet Rama; Wiki Lofandri; Syahda Humayra; Siti Fadillah Sallamah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 2 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086365011

Abstract

Revolusi Industri 4.0 membawa transformasi signifikan pada dunia kerja, yang pada gilirannya menuntut adaptasi dalam sistem pendidikan vokasi. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan pedagogis yang dihadapi pendidikan vokasi di era ini dan menganalisis relevansi teori teknologi pendidikan (EdTech) dalam meresponsnya. Melalui tinjauan pustaka sistematis dan analisis konseptual, penelitian ini mengidentifikasi tantangan kunci seperti kebutuhan rapid re-skilling, penyelesaian masalah kompleks, kolaborasi manusia-mesin, literasi data, dan pembelajaran mandiri. Hasil analisis menunjukkan bahwa teori EdTech tradisional seperti Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme masih relevan namun tidak memadai jika diterapkan secara tunggal untuk menjawab seluruh kompleksitas tantangan tersebut. Sebaliknya, teori yang lebih baru seperti Konektivisme dan Heutagogy menawarkan pendekatan yang lebih sesuai untuk mendukung pembelajaran seumur hidup dan otonomi siswa. Sebagai novelty, artikel ini mengusulkan sebuah kerangka teoretis hibrid yang mengintegrasikan prinsip-prinsip dari teori lama dan baru untuk menciptakan pendekatan pedagogis yang lebih komprehensif dan adaptif. Implikasinya menekankan pergeseran peran guru menjadi fasilitator dan pentingnya landasan teori yang kuat dalam adopsi teknologi untuk memastikan efektivitas pembelajaran dan kesiapan kerja lulusan vokasi di tengah dinamika Industri 4.0
The empathic avatar: a conceptual framework for ai-driven counseling and the preservation of therapeutic alliance in the digital age alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 3 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086371011

Abstract

Perkembangan aplikasi kesehatan mental digital (DMHIs) dan kecerdasan buatan generatif membuka peluang baru dalam layanan konseling. Namun, kemampuan AI dalam memproses data emosi belum diimbangi dengan pemahaman emosional sejati, menciptakan tantangan dalam membangun Aliansi Terapeutik (Therapeutic Alliance) sebagai fondasi kesuksesan terapi. Artikel ini mengusulkan kerangka kerja konseptual "Digital Therapeutic Alliance Framework" untuk mengatasi kesenjangan ini. Kerangka ini mendekonstruksi empati menjadi komponen kognitif dan afektif yang dapat dimodelkan AI melalui Pemrosesan Bahasa Alami dan avatar responsif. Dengan menerjemahkan tiga pilar Aliansi Terapeutik - Ikatan (Bond), Tujuan (Goals), dan Tugas (Tasks) - ke dalam parameter teknis, kerangka ini memetakan bagaimana avatar AI dapat membangun kepercayaan melalui konsistensi dan personalisasi, menetapkan tujuan kolaboratif, serta merancang tugas yang disertai psikoedukasi dan umpan balik konstruktif. Namun, artikel ini secara kritis menegaskan batasan etika AI dengan menekankan bahwa simulasi empati bukan pengganti belas kasih otentik. Untuk itu, protokol eskalasi "Human-in-the-Loop" untuk situasi krisis diusulkan. Kerangka "Empathic Avatar" ini berperan sebagai pembuka akses dan pelengkap dalam ekosistem kesehatan mental, menciptakan kemitraan simbiosis antara efisiensi algoritmik AI dan kedalaman emosional konselor manusia
Literasi finansial digital dan kesenjangan ekonomi: tinjauan teoretis tentang peran teknologi pendidikan inklusif alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 8 No. 3 (2023): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086375011

Abstract

Transformasi ekonomi digital yang didorong oleh FinTech menjanjikan inklusi keuangan, namun secara paradoks berpotensi memperlebar kesenjangan digital-finansial bagi populasi rentan akibat rendahnya Literasi Finansial Digital (LFD). Respons pendidikan tradisional seringkali gagal mengakomodasi keragaman kebutuhan belajar. Artikel ini mengatasi kesenjangan teoretis tersebut dengan mengonstruksi Model Tinjauan Teoretis (MTT) TPI-LFD, yang memposisikan Teknologi Pendidikan Inklusif (TPI)—berlandaskan prinsip Universal Design for Learning (UDL)—sebagai variabel mediator kunci. TPI didefinisikan sebagai integrasi infrastruktur digital dan kerangka pedagogis UDL yang fokus pada aksesibilitas kognitif dan keterlibatan multimoda. Model ini beroperasi dalam tiga fase: Inklusi Akses, Transformasi Kapabilitas (LFD dan Efikasi Diri), dan Aktualisasi Dampak (Perilaku Finansial Adaptif). MTT TPI-LFD memproyeksikan bahwa desain teknologi yang inklusif dapat meningkatkan kompetensi LFD dan self-efficacy individu, yang pada akhirnya memicu perubahan perilaku finansial adaptif di level mikro. Secara agregat, perubahan perilaku ini merupakan determinan krusial yang berkontribusi pada mitigasi kesenjangan sosial-ekonomi di level makro. Model ini menawarkan landasan konseptual bagi perumus kebijakan untuk merancang strategi inklusi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan, menuntut reorientasi dari sekadar penyediaan konten menuju desain instruksional yang humanis.
Towards a proactive mental health ecosystem: a conceptual model of integrated digital layers alzet Rama; Wiki Lofandri; Siti Fadillah Sallamah; Syahda Humayra
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 3 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086684011

Abstract

Sementara dunia terus dilanda krisis kesehatan mental global, sistem layanan yang ada saat ini sebagian besar bersifat reaktif, hanya membantu orang setelah mereka mencapai tahap krisis. Makalah konseptual ini mengusulkan Ekosistem Berlapis untuk Pengelolaan Kesehatan Mental Proaktif sebagai solusi yang dapat memperbaiki struktur layanan, membuka jalan untuk fokus pada pencegahan dini dan pemeliharaan kesejahteraan daripada sekadar penyembuhan. Model yang diusulkan di sini terdiri dari empat lapisan yang saling terkait secara fungsional: pertama, pengumpulan data sensorik yang menggunakan sumber pasif dan aktif; kedua, mesin analitik prediktif yang mengeluarkan sinyal peringatan dini; ketiga, pengiriman intervensi mikro; dan terakhir, keterlibatan manusia sebagai pemeriksaan klinis akhir. Selain mengusulkan tipologi intervensi yang mencakup aspek kognitif, perilaku, sosial, dan digital, makalah ini juga mengkritik “Paradoks Privasi-Personalisasi” dengan mengusulkan solusi etis seperti minimalisme data dan kontrol pengguna yang transparan. Dengan menetapkan ukuran kinerja baru seperti tingkat keterlibatan dan penurunan peristiwa eskalasi, struktur ini diharapkan menjadi panduan untuk mengembangkan teknologi kesehatan mental yang tidak hanya cerdas tetapi juga mampu membangun kepercayaan dan otonomi pengguna
Pengembangan E-Modul Menggunakan Aplikasi Flip Pdf Professional Pada Mata Kuliah Analisis Kurikulum Pendidikan Dasar Alzet Rama; Rusnardi Rahmat Putra; Yasdinul Huda; Remon Lapisa
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 7 No. 1 (2022): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30031473000

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang pengembangan modul analisis kurikulum pendidikan teknologi meliputi uji validitas, uji praktikalitas dan uji efektifitas. Penelitian ini termasuk dalam penelitian Research and Development (R&D). Model yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan prinsip ADDIE, metode pengumpulan data melalui angket dan tes hasil belajar, analisis data diolah menggunakan pendekatan kuantitatif dari penerapan modul dan dideskripksikan melalui pendekatan kualititatif untuk meyimpulkan hasil penelitian, subjek penelitian terdiri dari dosen dan mahasiswa. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap pengembangan modul berbasis android memenuhi kelayakan, ditinjau dari aspek validitas, praktikalitas dan efektifitas. Hasil analisis aspek validitas pengembangan modul dari validator ahli materi adalah 92,98% dengan kriteria sangat valid, sedangkan dari validator ahli media adalah 78,57%, aspek praktikalitas pengembangan modul dari respon dosen pengampu skor persentase rata-rata 98,95% dan respon mahasiswa skor persentase rata-rata 87,76% dengan kriteria sangat praktis. Aspek efektifitas pengembangan modul dilihat dari tes kognitif hasil pembelajaran mahasiswa berupa pre-test dan post-test dengan menggunakan rumus gain score. Hasil tes pengetahuan pada 24 mahasiswa dan mendapatkan nilai skor rata-rata yang baik sebesar 74,29%, sehingga mencapai kriteria sangat tinggi. Kesimpulan bahwa pengembangan modul pembelajaran berbasis android ini mampu menarik perhatian mahasiswa dan membuat mahasiswa paham terhadap materi serta membuat mahasiswa mampu bekerjasama dalam berkelompok.
Konsep media sosial dalam pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) Alzet Rama; Wakhinuddin Simatupang; Dedy Irfan; Mukhlidi Muskhir
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 7 No. 4 (2022): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30032530000

Abstract

Media sosial sebagai alat Transfer informasi dengan cepat tanpa harus terpaku pada waktu belajar tertentu dengan mempertimbangkan berbagai faktor untuk mencapai tujuan pembelajaran dapat tercapai. WhatsApp memiliki fitur yang membantunya menjadi lingkungan yang mendukung WhatsApp juga memfasilitasi proses belajar mengajar pekerjaan guru yang tidak masuk kelas padahal ada tugas di luar atau rapat yang tidak ada dapat dihilangkan, siswa yang tidak terlibat juga dapat mengirimkan karya dari WhatsApp kepada guru yang bersangkutan.Menggunakan media sosial dalam pendidikan adalah tantangan besar, tetapi sebenarnya tidak tak terhindarkan, lalu jadikan itu pengalaman belajar yang luar biasa siswa Whatsapp media sosial, khususnya WhatsApp sebagai sistem komunikasi yang canggih Adaptasi juga saat ini dibutuhkan guru dengan perkembangan dan kemajuan TIK dengan mengembangkan diri kita sendiri atau gunakan teknologi yang ada seperti WhatsApp sebagai alat Transfer informasi dengan cepat tanpa harus terpaku pada waktu belajar tertentu dengan mempertimbangkan berbagai faktor untuk mencapai tujuan pembelajaran dapat tercapai.WhatsApp memiliki fitur yang membantunya menjadi lingkungan yang mendukung WhatsApp juga memfasilitasi proses belajar mengajar pekerjaan guru yang tidak masuk kelas padahal ada tugas di luar atau rapat yang tidak ada dapat dihilangkan, siswa yang tidak terlibat juga dapat mengirimkan karya dari WhatsApp kepada guru yang bersangkutan.
Konsep model evaluasi context, input, process dan product (CIPP) di sekolah menengah kejuruan Alzet Rama; Ambiyar Ambiyar; Fahmi Rizal; Nizwardi Jalinus; Waskito Waskito; Rizky Ema Wulansari
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 8 No. 1 (2023): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30032976000

Abstract

Beberapa model evaluasi yang umum digunakan adalah model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product), model evaluasi Kirkpatrick, dan model evaluasi ROI (Return on Investment). Namun, evaluasi model tidak selalu mudah dilakukan. Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) adalah salah satu model evaluasi yang paling sering digunakan dalam evaluasi program. Salah satu model evaluasi yang dapat digunakan adalah model CIPP (Context, Input, Process, Product). Model Evaluasi CIPP Model evaluasi adalah suatu kerangka kerja yang digunakan untuk mengevaluasi suatu sistem atau program. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep evaluasi model CIPP di SMK. Model evaluasi CIPP adalah model evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi suatu program atau sistem dengan mempertimbangkan konteks, input, proses, dan produk. Model ini merupakan salah satu model evaluasi yang paling banyak digunakan di dunia pendidikan. Model CIPP adalah alat evaluasi yang banyak digunakan dalam evaluasi program. Model evaluasi ROI adalah model evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas suatu program atau sistem dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat. Penelitian ini akan membahas tentang pengertian, prinsip, dan tahapan evaluasi model CIPP serta tantangan yang dihadapi dalam implementasinya di SMK
Digital technology dalam teaching factory: kerangka konseptual untuk revolusi industri vokasi di indonesia Alzet Rama; andri Dermawan; Nova Chintia Rahma; Meila Rosi Putri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 9 No. 3 (2024): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30035838000

Abstract

Revolusi Industri 4.0 dan 5.0 telah mengubah lanskap pendidikan, sehingga memerlukan adaptasi terhadap teknologi digital seperti Kecerdasan Buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan teknologi digital ke dalam model Teaching Factory (TEFA) guna meningkatkan relevansi pendidikan di Indonesia dengan kebutuhan industri. Melalui tinjauan literatur dan analisis SWOT, studi ini mengidentifikasi potensi kolaborasi industri-pendidikan dan penciptaan lapangan kerja sebagai pendorong utama, sementara perluasan infrastruktur digital dan resistensi agama di sektor pendidikan menjadi faktor yang signifikan. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi TEFA dapat meningkatkan hasil belajar melalui pembelajaran berbasis simulasi (Virtual Reality/Augmented Reality), kurikulum dinamis, dan pengajaran berbasis data. Namun, kesuksesan bergantung pada peningkatan akses terhadap teknologi, peningkatan kapasitas guru, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan. Artikel ini memberikan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan TEFA digital sebagai sarana transformasi pendidikan vokasi dalam menanggapi tuntutan periode industri saat ini
Reconstructing vocational identity in the gig economy: a protean-boundaryless model for vocational students alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036744000

Abstract

Artikel ini merekonstruksi konsep pembentukan identitas profesional siswa vokasi di tengah transformasi ekonomi gig. Melalui sintesis teoritis, studi ini mengidentifikasi bahwa identitas vokasional tradisional yang dibangun atas spesialisasi tetap, validasi institusional, dan jalur karier linear tidak lagi memadai dalam ekosistem kerja berbasis proyek. Ekonomi gig menuntut identitas yang adaptif, multipel, dan dikelola secara strategis, di mana kemampuan membangun portofolio hibrida, reputasi digital, dan navigasi mandiri menjadi krusial. Artikel mengusulkan model integratif "Protean-Boundaryless" yang memandang identitas sebagai "proyek diri" yang terus diperbarui melalui interaksi dinamis antara agensi individu, struktur platform digital, dan pendidikan vokasi. Implikasinya menuntut pergeseran paradigma pendidikan vokasi dari penyiapan tenaga kerja spesialis menuju pengembangan kapasitas navigasi, ketangguhan psikologis, dan literasi digital untuk merespons ketidakpastian pasar kerja kontemporer
Kerangka konseptual bimbingan karir berperspektif keadilan sosial bagi kelompok marginal alzet Rama; Wiki Lofandri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 3 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036781000

Abstract

Artikel ini mengusulkan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan prinsip keadilan sosial ke dalam bimbingan karir dalam sistem Pendidikan Teknis dan Kejuruan (TVET) yang inklusif. Melalui tinjauan literatur sistematis, kajian ini menggabungkan teori-teori keadilan sosial (seperti kerangka Nancy Fraser, Pendekatan Kapabilitas, dan Teori Kritis) untuk mentransformasi peran konselor dari fasilitator individu menjadi agen perubahan yang advokatif. Kerangka multi-level yang diusulkan mencakup intervensi pada tingkat makro (kebijakan), meso (kelembagaan), dan mikro (praktik konseling), dengan prinsip-prinsip operasional seperti interseksionalitas, pemberdayaan agensi, perspektif berbasis kekuatan, dan aksesibilitas universal. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem TVET yang secara aktif menghapus hambatan struktural bagi kelompok marginal dan penyandang disabilitas, memastikan partisipasi penuh dan hasil yang setara. Artikel ini menyoroti perlunya reorientasi dalam pendidikan konselor dan kebijakan TVET untuk mewujudkan inklusi yang transformatif.