Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera Lamk.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli PENYEBAB PENYAKIT GANGGUAN PENCERNAAN SECARA IN VITRO Husen, Fajar; Ratnaningtyas, Nuniek Ina
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 11 No 2 (2024): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v11i2.6783

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) adalah salah satu jenis tumbuhan tropis di Indonesia yang banyak dimanfaatkan oleh Masyarakat Indonesia sebagai bahan masakan. Daun kelor diketahui memiliki banyak manfaat salah satunya dapat dikonsumsi sebagai asi booster. Ekstrak daun kelor juga dilaporkan memiliki aktivitas sebagai anti-peradangan, anti-bakteri, anti-oksidan, dan beberapa melaporkan sebagai anti-diabetes. Penelitian terkait molekuler docking dari senyawa bioaktif M. oleifera dan uji aktivitas in vitro sebagai anti-bakteri perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak M. oleifera menghambat pertumbuhan bakteri E. coli. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL), terdapat 24 unit percobaan, dengan 1 kontrol positif menggunakan chloramphenicol. Dosis ekstrak M. oleifera yang digunakan yaitu 20 mg/Ml, 40 mg/mL, dan 60 mg/mL. Ekstrak M. oleifera diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi, dan pelarut yang digunakan adalah ethanol 96%. Pengujian molekuler docking dilakukan dengan menggunakan software python dan discovery studio 2021. Analisis dilakukan dengan one-way ANOVA, dan uji lanjut dengan menggunakan Duncan multiple range-test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor mampu menghambat pertumbuhan E. coli dengan zona hambat tertinggi adalah 27.30 mm.
Identifikasi Jamur Non-Dermatofita Penyebab Onikomikosis Kuku (Tinea unguium) Pada Petani Padi Husen, Fajar; Khasanah, Nur Aini Hidayah; Ina Ratnaningtyas, Nuniek
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 15 No 1 (2024): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v15i1.586

Abstract

Mikosis superfisial adalah infeksi yang biasanya terjadi pada kuku atau kulit. Kuku adalah bagian tubuh yang paling sering terinfeksi, terutama jika mereka tidak mencucinya dengan sabun secara teratur. Tinea unguium adalah jenis infeksi yang disebabkan oleh jamur (dermatofita) yang menginfeksi kuku, umumnya kuku jari kaki, dan merupakan jenis onikomikosis (penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur pada kuku). Dermatofita sangat mudah menginfeksi kuku karena dapat menginvasi bagian tubuh yang berkeratin, seperti kuku dan kulit kepala, meskipun dalam proses perkembangbiakan dan invasinya, jamur dermatofita penyebab onikomikosis terbatas pada jaringan epidermis yang mengalami kornifikasi saja. Banyak petani yang bekerja di lingkungan dengan kelembaban dan panas yang tinggi, sehingga mudah terinfeksi jamur karena mendukung perkecambahan spora. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dimana hasil isolasi dari sampel kuku yang ditumbuhkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) selama 7 x 24 jam pada suhu 27-29oC, kemudian diidentifikasi dan dikarakterisasi bentuk makromorfologi dan mikromorfologinya. Pengamatan mikromorfologi menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 kali. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukkan bahwa kuku peternak yang pernah mendapat perlakuan dengan riwayat mikosis superfisialis menunjukkan adanya jamur Aspergillus flavus, Rhizopus stolonifer, dan Candida albicans. Persentase tertinggi dari jamur non-dermatophyta yang ada pada kuku adalah C. albicans, yaitu 60%. Kata Kunci : Jamur Patogen, Kuku, Petani, Mikosis Superfisial, Tinea Unguium
BIOACTIVE COMPOUND ANALYSIS JAMUR Coprinus comatus SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF MENGGUNAKAN GAS CHROMATOGRAPHY-MASS SPECTROMETRY (GC-MS) Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Husen, Fajar
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chicken drumstick mushrooms (Coprinus comatus OF. Mull. Pers), adalah salah satu dari ratusan jenis jamur pangan (edible) yang memiliki potensi dan khasiat sebagai nutrasetikal sebagai obat herbal. Manfaat jamur ini adalah sebagai agen anti-inflamasi, suplemen antioksidan, anti-diabetes, anti-kolesterol, dan anti-kanker. Senyawa aktif yang terkandung pada jamur ini sangat beragam, seperti kelompok senyawa fenolik, senyawa aromatik, dan polisakarida. Kandungan senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan seperti rutin, quercetin, polifenol, dan tokoferol terkandung ekstrak etanol C. comatus. Potensi senyawa bioaktif dari jamur ini memang sudah banyak dilaporkan, namun jamur C. comatus lokal hasil kultivasi di Indonesia masih perlu di eksplorasi lebih lanjut, apalagi cukup banyak perbedaan kandungan senyawa yang ada pada jamur liar (wild) dan jamur hasil kultivasi (cultivated). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis, dimana sampel jamur hasil kultivasi di ekstraksi menggunakan metode maserasi. Hasil ekstraksi kemudian di uji dan diidentifikasi kandungan senyawa bioaktifnya dengan menggunakan pengujian kualitatif dan kuantitatif dengan instrumen gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) dengan menggunakan kolom universal. Hasil GC-MS kemudian di karakterisasi dan dibandingkan dengan hasil pencocokan dengan data yang ada di beberapa situs chemicals database. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi kualitatif ekstrak C. comatus mengandung flavonoid, alkaloid, dan triterpenoid. Sementara terdapat 10 jenis senyawa hasil identifikasi menggunakan GC-MS.
Profil Sedimen Urin Pasien Suspek Infeksi Saluran Kemih Di Puskesmas Purwokerto Selatan Khasanah, Nur Aini Hidayah; Husen, Fajar; Yuniati, Nilasari Indah
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) dapat dialami oleh setiap golongan usia. Manifestasi klinis ISK bervariasi dan dapat ditemukan pada penderita dengan atau tanpa gejala. Penegakan diagnosa yang tepat dan cepat sangat diperlukan untuk penanganannya. Parameter sedimen urin meliputi sel eritrosit, leukosit, silinder, kristal dan bakteri dapat membantu penegakan diagnosa ISK. Penelitian ini merupakan riset deskriptif analitik, bertujuan menganalisis profil sedimen urin pada pasien suspek ISK yang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Purwokerto Selatan dari bulan Januari-Mei 2024. Terdapat 46 pasien tersangka ISK dengan usia termuda 3 tahun dan tertua 78 tahun. Kelompok pasien terbanyak berusia 19-59 tahun (67,39%), terendah 5-9 tahun (0%). Hasil pemeriksaan eritrosit urin ditemukan 2-6/LPB (32,61%) 6-30/LPB (15,22%) dan >30/LPB (19,57%). Sebanyak 32,61% urin pasien negatif eritrosit. Pemeriksaan leukosit urin ditemukan >5-20/LPB (17,39%), 20-50/LPB (0%), >50/LPB (32,61%), sedangkan 47,83% pasien negatif leukosituria. Pemeriksaan kristal urin didapatkan 78.26% tidak mengandung kristal, 21,74% ditemukan adanya kristal Ca oksalat. Pemeriksaan silinder seluruhnya diperoleh hasil negatif. Pemeriksaan bakteri urin diperoleh hasil negatif (69,57%), dan positif (30,43%). Disimpulkan bahwa sebagian besar urin pasien suspek ISK ditemukan eritrosit dan leukosit. Hanya sebagian kecil ditemukan kristal dan bakteri dan tidak ditemukan silinder dalam urin pasien suspek ISK.
Inhibitory Test of Gentamicin Antibiotics Against Escherichia coli and Staphylococcus aureus Bacteria Using Disc Method Husen, Fajar; Ratnaningtyas, Nuniek Ina
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2022.010.02.06

Abstract

Escherichia coli and Staphylococcus aureus are bacteria that often cause health problems and diseases in humans, such as digestive disorders (diarrhea), or skin disorders (boils). Gentamicin is one of the most widely used antibiotics from the aminoglycoside group. Gentamicin is widely used as an antibiotic for both minor infections due to bacteria or moderate infections due to fungal or viral infections. The purpose of this study was to determine the inhibition and effectiveness of gentamicin in inhibiting the growth of E. coli and S. aureus and to determine the pattern of sensitivity of these bacteria to gentamicin. This research method was a completely randomized design with one way ANOVA, and further test using Duncan's test, with a total of 10 experimental units for each bacterium with 2 replications, then the data were analyzed using SPSS v.25.0 software. The results showed that the antibiotic gentamicin could inhibit the growth of E. coli and S. aureus. Gentamicin inhibited the growth of E. coli bacteria with the smallest inhibition zone value was 17 mm, the highest was 22.5 mm, and against S. aureus the lowest was 15.5 mm and the highest was 18.5 mm with the percentage of inhibition ability (inhibition) sensitive category for E. coli was 90%, S. aureus 60%, while the intermediate category for E. coli was 10% and S. aureus was 40%.
AKTIVITAS HEPATOPROTEKTIF MADU TERHADAP HEPAR DAN PERUBAHAN BERAT BADAN MENCIT YANG DIINDUKSI ALKOHOL Khasanah, Nur Aini Hidayah; Husen, Fajar
Ensiklopedia of Journal Vol 8, No 2 (2026): Vol. 8 No. 2 Edisi 1 Januari 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v8i2.3584

Abstract

Alcohol exposure can cause liver damage through oxidative stress, fat accumulation, inflammation, and cell degeneration. Honey is known to contain antioxidants that have the potential to provide a protective effect against hepatic damage. This study aims to determine the protective effect of Tresnojoyo honey on body weight, liver-to-body weight ratio, and histopathological findings in the livers of mice (Mus musculus) induced with 70% alcohol. This experimental study used a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 8 replicates. The treatments were control, 70% alcohol (0.5 mL/day), and 70% alcohol with added honey (0.25 mL/day) for 10 days. The parameters observed included changes in body weight, liver weight to body weight ratio, and histological lesions (steatosis, hepatocyte degeneration, inflammation, and congestion). The results showed that all treatment groups experienced weight gain (p,0.05), with no significant difference in liver weight ratio. The control group showed normal histological findings. The 70% alcohol group showed heavy statocytes, hepatocyte degeneration, inflammation, and congestion. Administration of Tresnojoyo honey to the alcohol group reduced the degree of inflammation and cell degeneration, although it did not completely eliminate hepatic injury. It was concluded that Tresnojoyo honey has hepatoprotective potential due to alcohol exposure, by maintaining body weight and reducing histopathological changes in the liver.
Pengujian Infusa Rebusan Bunga Telang (Clitoria ternatea) Sebagai Pewarna Alami Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) Fajar Husen; Nur Aini Hidayah Khasanah
EduMatSains : Jurnal Pendidikan, Matematika dan Sains Vol. 8 No. 1 (2023): Juli
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/edumatsains.v8i1.4419

Abstract

Telang flower (Clitorea ternatea) is a flower that belongs to the endemic plants that are often found in Ternate. C. ternatea belongs to the Fabaceae family of leguminous plants and is the world's most prominent family of flowering plants. C. ternatea contains a lot of blue pigments or cyanos known as anthocyanins. These dyes have great potential as alternative dyes to replace methylene blue and are potential blood cell dyes. This study aimed to examine the potential of the anthocyanin content in the butterfly pea flower infusion as a natural differential dye for erythrocytes and leukocytes. This research method is descriptive in nature, in which the results of making cytological preparations in the form of capillary smears of human blood are stained with butterfly pea flower infusion at a concentration of 10%. The stained spots were then observed using a light microscope at 400x magnification. The colouring results of butterfly pea flowers were compared with a standard dye, Giemsa dye. The results showed that a 10% concentration of butterfly pea flowers stained erythrocytes but did not stain leukocytes well, while Giemsa's staining significantly stained well. The results also showed that butterfly pea flower infusion could only differentiate stained erythrocytes and unstained leukocytes but could not differentiate the types of leukocytes. Further research can be carried out by extracting anthocyanins from butterfly pea flowers and fractionating them to isolate single anthocyanin compounds that can potentially be dyed.