Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : KALANGWAN

Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal Kelurahan Sesetan Kota Denpasar Juli Artiningsih, Ni Wayan; Sariada, I Ketut; Arshiniwati, Ni Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.753 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.236

Abstract

Gandrung merupakan sebuah tari pergaulan yang sejenis dengan tari Joged Bumbung. Tari ini di bawakan oleh penari laki-laki yang berpakaian perempuan. Dari beberapa tari Gandrung yang masih ada salah satunya adalah tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar. Penelitian ini dipandang urgen untuk dilakukan karena dari sekian banyak penelitian dan laporan hasil penelitian yang dapat dibaca dan diamati, belum banyak ditemukan kajian ilmiah yang membahas mengenai tari Gandrung yang ada di Banjar Suwung Batan Kendal. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi sebagai referensi bagi kalangan akademik maupun non-akademik dalam rangka mempelajari pertunjukan tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan seni pertunjukan. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana bentuk tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; (2) bagaimana fungsi tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; dan (3) bagaimana estetika tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?. Sebagai pisau analisis digunakan tiga teori yaitu teori Bentuk, teori Fungsional-Struktural, dan teori Estetika. Seluruh data penelitian ini, baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Dari hasil kajian diperoleh jawaban seperti berikut. (1) Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal tersebut disajikan dalam bentuk tunggal dan ditarikan oleh seorang penari laki-laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq. Hal itu dapat dilihat dari komponen struktur pertunjukan, gerak tari, penari, tata rias dan busana, musik iringan serta tempat pertunjukannya. (2) Berdasarkan fungsinya, seni pertunjukan Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal memiliki tiga fungsi yaitu berfungsi sebagai seni pertunjukan yang bersifat ritual, hiburan, dan solidaritas. (3) Estetika pada tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, nampak terlihat pada pementasannya yang dapat diamati dari ragam gerak tari, musik iringan, tata rias dan busana yang digunakannya.Gandrung is a social dance similar to Joged Bumbung dance. This dance is performed by male dancers dressed in women. From some Gandrung dance that still exist one of them is Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, Sesetan Village, Denpasar City. This study is considered urgency done because of the many research and research reports that can be read and observed, not yet found a scientific study that discusses the Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal. Though writing about the dance is needed to be used as a reference for academic and non-academic in order to learn Gandrung dance performance in Banjar Suwung Batan Kendal. The research was conducted using qualitative method with performance art approach. There are three main issues studied in this research that is (1) how Gandrung dance form in Banjar Suwung Batan Kendal ?; (2) how Gandrung dance function in Banjar Suwung Batan Kendal ?; And (3) how the aesthetics of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal ?. As a blade analysis used three theories namely Form theory, Functional-Structural theory, and theory Aesthetics. All data of this research, both primary and secondary data are obtained through observation technique, interview, literature study, and documentation study. From the results of the study obtained the answer as follows. (1) Gandrung Dance in Banjar Suwung Batan Kendal is presented in singular form and danced by a male dancer who has not stepped on an adult or has a baliq period. It can be seen from the components of the performance structure, dance movements, dancers, makeup and clothing, music accompaniment and place of performances. (2) Based on its function, Gandrung performing arts in Banjar Suwung Batan Kendal has three functions that function as performance art that is ritual, entertainment, and solidarity. (3) Aesthetics in Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, seen in the observable staging of the range of motion of dance, music accompaniment, makeup and clothing that it uses.
Bentuk Dan Fungsi Tari Baris Buntal, Desa Pakraman Pengotan, Kabupaten Bangli Desmi Kartiani, Ni Luh; Arshiniwati, Ni Made; -, Suminto
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.568 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i1.451

Abstract

Tari Baris Buntal di Desa Pakraman Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, merupakan tari sakral yang biasanya ditarikan saat piodalan di beberapa pura yang ada di Desa Pakraman Pengotan. Tari Baris Buntal ini memiliki beberapa keunikan dari segi kostum dan koreografinya, sehingga membuatnya berbeda dengan tari baris upacara lainnya. Melihat keunikan tersebut diharapkan tari ini dapat dilestarikan dan didokumentasikan tidak hanya berupa video melainkan juga dokumen tertulis agar bisa bermanfaat bagi masyarakat kedepannya. Namun pada kenyataannya di lapangan tidak ada dokumentasi tertulis seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, penelitian ini perlu dilakukan dengan mengangkat dua permasalahan yaitu bentuk dan fungsi. Untuk menjawab dan menjelaskan hal tersebut digunakan metode penelitian yaitu metode penelitian kualitatif dengan empat teknik pengumpulan data yaitu, observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan mengaplikasikan teori estetika dan teori fungsi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diperoleh hasil atau jawaban sebagai berikut.Tari Baris Buntal merupakan tarian sakral yang menggambarkan tentang ketangkasan seorang prajurit dalam mengintai musuh, mengejar, dan melawan musuh-musuhnya. Tarian ini ditarikan oleh 8 orang penari yang terdiri dari laki-laki dewasa, dengan menggunakan tata rias dan busana yang sederhana, dan diiringi dengan gamelan Gong Gede. Tari Baris Buntal di Desa Pakraman Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli ini memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer sebagai sarana ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis. Fungsi sekunder sebagai pengikat solidaritas masyarakat, media meditasi dan media terapi. Baris Buntal Dance in Pengotan Village, Bangli District, Bangli District, is a sacred dance that is usually danced at piodalan in some temples in Pengotan Village. Baris Buntal Dance has some uniqueness in terms of costume and choreography, thus making it different from other ritual dance lines. Seeing the uniqueness is expected this dance can be preserved and there should be documentation not only in the form of videos but also written documents in order to be useful for the future community. But in reality in the field there is no written documentation as expected. Therefore, this research needs to be done. To answer and explain things related to the object of research is used research method that is qualitative research method with four data collecting technique that is, observation, interview, literature study, and documentation, and analyzed by applying theory of aesthetics and function theory. Based on the research done then obtained the results or answers as follows. Bareback Dancing is a sacred dance that depicts the agility of a soldier in stalking the enemy, chase, and fight his enemies. This dance is danced by 8 dancers consisting of adult men, using a very simple makeup and clothing, and accompanied by gamelan Gong Gede. Baris Buntal Dance in Pengotan Village, Bangli Subdistrict, Bangli District has two functions, namely the primary function as a means of ritual, personal entertainment, and aesthetic presentation. Secondary function as a binder of community solidarity, media meditation and media therapy.
Gandrung Marsan: Eksistensi Tari Gandrung Lanang Di Banyuwangi Santi, Heni Widya; Arshiniwati, Ni Made; -, Suminto
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.448 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i2.557

Abstract

Tari Gandrung Marsan merupakan objek yang dijadikan penelitian. Tujuan dari penelitian ini sebagai artikel penunjang untuk mendapatkan gelar S-1 Seni Tari di Institut Seni Indonesia Denpasar. Tujuan lainnya adalah untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan keberadaan, bentuk dan keunikan dari tari Gandrung Marsan. Metode yang digunakan pada penelitian adalah kualitatif dengan sumber data berupa primer dan sekunder yang dikumpulkan berdasarkan hasil observasi, wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Keseluruhan data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif dan dibagi dalam 3 tahap, yakni: (1) data yang berhubungan dengan keberadaan tari; (2) data yang berhubungan dengan bentuk tari; (3) data yang berhubungan dengan keunikan tari; dan (4) data yang berhubungan dengan fungsi tari. Hasil yang diperoleh dari penelitian menyatakan, bahwa: (1) Gandrung Marsan merupakan satu-satunya tari Gandrung lanang kreasi yang diciptakan setelah sekian lama tenggelamnya era Gandrung lanang pada tahun 1914 di Banyuwangi; (2) inspirasi penciptaan tari adalah kehidupan seorang Marsan, yang pada tahun 1890 adalah penari Gandrung lanang yang paling terkenal; (3) tari Gandrung Marsan dibawakan oleh 9 orang penari laki-laki memakai kostum gandrung perempuan dengan gerak yang lincah dan kemayu. Salah satu keunikan pada tarian terdapat di akhir pertunjukan, yaitu ketika karakter penari yang awalnya perempuan berubah menjadi laki-laki gagah berpakaian wanita dan berkumis.Gandrung Marsan Dance is the object of research. The purpose of this research as a supporting article to get the degree of S-1 of Dance at Institut Seni Indonesia Denpasar. Another purpose is to express and describe the existence, form and uniqueness of Gandrung Marsan dance. The method used in this research is qualitative with the result of primary and secondary data collected based on observation, interview, literature study and documentation study. The entire data is analyzed descriptively qualitative and divided into 4 parts, namely: (1) data relating to the existence of dance; (2) data related to the form of dance; (3) data related to the uniqueness of dance; and (4) data related to function of dance. The results obtained from the study states that: (1) Gandrung Marsan is the only one Gandrung Lanang creations dance were created after the long sinking of the Gandrung Lanang era in 1914 in Banyuwangi; (2) inspiration for the creation of dance is the life of a Marsan, who in 1890 was the most famous Gandrung Lanang dancer; (3) Gandrung Marsan dance performed by 9 male dancers wearing gandrung women’s costume with agility and wood. One of the uniqueness of the dance is at the end of the show, that is when the of the dancer who was originally a female turned into a handsome man dressed in a woman and a mustache. 
Tari Rejang Pusung Di Desa Pakraman Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem Sekar Arini, Ni Luh Ayu; Arshiniwati, Ni Made; -, Suminto
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.119 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i2.559

Abstract

Tari Rejang Pusung merupakan tarian sakral yang ada di Desa Pakraman Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Keunikan yang dimiliki terletak pada pemilihan penari, kesederhanaan gerak dan hiasan kepala yang berbahan dasar kulit jeruk jeruti. Melihat keunikan yang dimiliki maka dipandang perlu untuk didokumentasikan dan diteliti. Namun faktanya, tulisan mengenai pementasan tari Rejang Pusung yang kaitannya dengan upacara Ngusaba Goreng masih sangat minim. Dengan demikian penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan. Adapun dua pokok permasalahan yang dikaji, yakni mengenai bentuk dan fungsi tari Rejang Pusung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi tari Rejang Pusung sehingga manfaat dari hasil penelitian ini dapat dijadikan arsip desa yang bisa dibaca oleh generasi penerus agar kelestariannya tetap terjaga. Dalam pembahasannya menggunakan sumber tertulis serta dua buah teori yakni teori estetika dan teori fungsional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, studi kepustakaan, studi dokumentasi, sehingga didapat hasil sebagai berikut. Tari Rejang Pusung dibawakan dalam bentuk tari kelompok dengan ciri khas terdapat pada rambut penari yang dipusung dan ditarikan oleh gadis yang masih belia. Tari ini dipentaskan di Pura Puseh, Pura Pajenengan, Pura Dalem, dan Pura Dadia yang diiringi oleh kolaborasi baleganjur, kenyong dan gambang. Tari Rejang Pusung memiliki dua fungsi yakni fungsi primer dan sekunder. Fungsi primer yakni sebagai sarana ritual, sebagai hiburan diri dan sebagai presentasi estetis. Untuk fungsi sekundernya adalah sebagai pengikat silidaritas sekelompok masyarakat, sebagai media komunikasi massa, sebagai media terapi, dan sebagai media meditasi.Rejang Pusung dance is a sacred dance in Pakraman Geriana Kauh village, Selat district, Karangasem regency. Its unigueness lies in the selection of dancers, the simplicity of mation and headdress based on orange peel of jeruti. Seing the uniqueness that is owned then it is deemed necessary to be documented and researched. But in writing about Rejang Pusung dance performances that are related to the Ngusaba Goreng ceremony still very minimal. This research is considered important to do. As for the two subject matter studied, mamely about the from and function of Rejang Pusung dance. This research aims to determine the shape and function of Rejang Pusung dance. So that the benefits of the result of this research can be used as village archives that can be read by the next generation tomaintain its sustainability. In the discussion using written sources and two theories namely the theory of aesthetics and functional theory. This research uses qualitative research methods with data collection technigues used those are, observation, interview, study bibliography, study documentation, so obtained the following results. Rejang Pusung dance perpormed in the form of dance group with a characteristic found in the hair of dancers carried and danced by young children. This dance is performed at Puseh temple, Pajenengan temple, Dalem temple, and Dadia temple accompanied by collaboration of baleganjur, kenyong and gambang. Rejang Pusung dance has two function namely primary function and secondary function. The primary function is as a means of ritual, as a self-entertainment and as an aesthetic presentation for its secondary function is as a binder of solidarity of community groups as a medium of mass communication as a medium of therapy and as a medium of meditation. 
Kajian Rekonstruksi Tari Legong Raja Cina Di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar Sebuah Proses Kreatif Andra Krisna Susanti, Ni Nyoman; Seramasara, I Gusti Ngurah; Arshiniwati, Ni Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2524.89 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.729

Abstract

Tari Legong Raja Cina merupakan tari klasik Bali hasil rekonstruksi tahun 2012 yang memiliki tingkat kerumitan gerak dan ekpresi yang sangat kompleks. Tari ini merupakan hasil penuangan gagasan tentang cerita legendaris mengenai kisah asmara Raja Bali (Jaya Pangus) dengan Putri Cina (Kang Cing Wie). Proses rekonstruksi dilakukan oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar dan dipentaskan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke XXXIV tahun 2012. Rekonstruksi tari ini mengandung proses kreatif tinggi dalam menuangkan gerak-gerak tari yang memadukan dua budaya berbeda. Penelitian berjudul Kajian Rekonstruksi Tari Legong Raja Cina di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar Sebuah Proses Kreatif ini dipandang penting untuk dilakukan dengan mengangkat tiga masalah yang dikaji, yaitu (1) Bagaimana proses kreatif rekonstruksi Tari Legong Raja Cina; (2) Bagaimana bentuk Tari Legong Raja Cina hasil dari rekonstruksi; dan (3) Nilai apa saja yang dikandung oleh Tari Legong Raja Cina. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang ditinjau dari kajian seni pertunjukan dengan menggunakan teknik observasi partisipsi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Teori yang digunakan untuk membedah tiga masalah di atas adalah teori proses kreatif oleh Alma M. Hawkins, teori estetika yang ditulis oleh Djelantik, dan teori struktural fungsional oleh Talcot Parson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) proses kreatif rekonstruksi Tari Legong Raja Cina dapat dilihat melalui tiga tahapan yaitu tahap eksplorasi, tahap improvisasi dan tahap pembentukan. (2) Tari Legong Raja Cina berbentuk palegongan yang didasari oleh struktur, tema, gerak, pola lantai, tata rias, tata busana, iringan, tempat pementasan dan penampilan. (3) Nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai estetika, nilai akulturasi, nilai kesetiaan, dan nilai percintaan.
Co-Authors A.A.Ayu Mayun Artati Anak Agung Gde Agung Indrawan Anak Agung Gde Agung Indrawan Indrawan Andra Krisna Susanti, Ni Nyoman Ardhika, I Gusti Lanang Oka Artati, A.A.Ayu Mayun Ayana, I Wayan Deo Budiastomo, Denta Mandra Pradipta Cahyanthi, Ni Komang Putri Ciclia Indraningsih Jeno Desmi Kartiani, Ni Luh Dewi, I Gusti Ayu Agung Adi Sartika Diantara, I Putu Arya Eka Wahyuningsih, Ni Luh Putu Gst.Ayu Ketut Suandewi I Gede Arya Sugiartha I Gede Arya Sugiartha, I Gede Arya I Gede Mawan I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini I Gusti Ayu Agung Adi Sartika Dewi I Gusti Lanang Oka Ardhika I Gusti Ngurah Seramasara, I Gusti Ngurah I Ketut Sariada I Ketut Sariada, I Ketut I Komang Rio Saputra Dinata I Wayan Mudra, I Wayan Ida Ayu Putri Widiastuti Ida Ayu Trisnawati, Ida Ayu Ida Bagus Gede Surya Peradantha Ida Bagus Gede Surya Peradantha Kadek Ayu Juni Aryani Kadek Krisna Dwipa Diartama Kadek Rendy Wiradana Leslyani, Ni Putu Luh Risa Melliani Ni Ketut Suryatini Ni Ketut Suryatini Ni Ketut Suryatini, Ni Ketut Ni Komang Putri Cahyanthi Ni Luh Putu Eka Wahyuningsih Ni Luh Sustiawati Ni Putu Ayu Rika Putri Dewi Ni Putu Ayu Rika Putri Dewi Ni Putu Leslyani Ni Wayan Juli Artiningsih, Ni Wayan Pande Gede Widya Supriyadnyana Pertiwi, Ni Wayan Eka Sri Putu Desi Anggerina Hikmaharyanti Santi, Heni Widya Sekar Arini, Ni Luh Ayu Sudarta, I Gusti Putu Sudibya, I Gusti Ngurah Suminto Suminto - Suminto Suminto Supriyadnyana, Pande Gede Widya Wayan Karja Widiastuti, Ida Ayu Putri Widnyana, Kompiang Gede Yanti Heriyawati Yulinis -