Claim Missing Document
Check
Articles

Reviving the Sanghyang Grodog Ritual Dance: Promoting Social Harmony and Sustainable Cultural Tourism in Nusa Lembongan Island, Bali Ni Made Arshiniwati; Ida Bagus Gede Surya Peradantha
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 15 No. 1 (2025): New Dimensions of Bali Tourism
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2025.v15.i01.p03

Abstract

This article explores the artistic significance and revitalization of the Sanghyang Grodog ritual in Lembongan Village, Bali, following a three-decade hiatus. Using a socio-artistic approach supported by social cohesion and semiotic theories, this study examines the ritual’s role in fostering social identity and promoting sustainable, culture-based tourism. Data were collected through participant observation, interviews, and secondary sources, with findings reinforced by focus group discussions. The results highlight the ritual’s embodiment of spiritual, social, and environmental harmony while addressing challenges posed by increasing tourism pressure. Despite limited public awareness, the ritual’s aesthetic and symbolic values serve as a catalyst for communal unity and sustainable cultural tourism. This study proposes a community-based tourism development strategy that includes the creation of a local mascot, visual branding, and the integration of arts into ecotourism and education, ensuring both cultural preservation and economic benefits for the community.
Resilience of Jakarta’s Performing Arts Studios: A THIO Analysis of Digital Technology in the Creative Ekonomi Denta Mandra Pradipta Budiastomo; Ida Ayu Trisnawati; I Gusti Putu Sudarta; Ni Made Arshiniwati
Dinasti International Journal of Education Management And Social Science Vol. 6 No. 6 (2025): Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (Augus
Publisher : Dinasti Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/dijemss.v6i6.4980

Abstract

Many things have altered as a result of the rise of information and communication technology, and society's transition to the digital age. Advances in digital technology have transformed how performing arts studios understand and produce works of art. The purpose of this study is to determine the value of the contribution of performing arts studios in running their businesses, as well as solutions in choosing digital technology in art activities. This research is quantitative; the sample in this study was 30 respondents. This figure was derived from five performing arts enterprises, each representing six areas in DKI Jakarta, together with input from eight experts. The analysis technique used in the research uses THIO (Technology, Human, Information, Organization) analysis and creative economy theory. This study's findings indicate a Technology Contribution Coefficient (TCC) of 0.339 for the use of digital technology in performing arts studios in Jakarta, categorized as a reasonable value. 
THE TEXT OF KRAMAT KAREM SONG GAMBANG KROMONG BETAWI A HERMENEUTIC REVIEW Sri Repelita, Malona; Sudirga, I Komang; Arshiniwati, Ni Made; Sustiawati, Ni Luh
International Journal of Multidisciplinary Research and Literature Vol. 5 No. 2 (2026): INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTIDISCIPLINARY RESEARCH AND LITERATURE
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ijomral.v5i2.406

Abstract

Kramat Karem is a song from Betawi cultural heritage whose lyrics tell the story of the tsunami event as a result of the eruption of Mount Krakatau in 1883 in the Sunda Strait, Indonesia. The lyric contains stories, descriptions of disaster, and the traditional local wisdom that accompanies them. Kramat Karem lyric have changed over the generations, the singer's interpretation is influenced by historical experience and the background context. From era to era, the meaning does not represent the original intend of the author anymore. This study aims to examine the the singer interpretation from hermeneutic approach and the function of socializing the local wisdom. This research used qualitative method and were analyzed using a hermeneutic approach as a big frame to examine changes of the text in the contemporary Kramat Karem song. The data were collected through literature studies, interviews, records from social media and observations in the community. This study is expected to produce recommendations for Betawi's ethnic to learn and appreciate local wisdoms in gambang kromong songs. In addition, the results of this study also become a trigger for Betawi society to strengthen the Betawi tradional Culture as a medium of communication and social integration.
TARI RATU SANGHYANG DEDARI TUNJUNG BIRU DI BANJAR PUJUNG KAJA, TEGALLALANG, GIANYAR Rakasiwi, I Dewa Ayu Galuh Intan; Arshiniwati, Ni Made; Budiarsa, I Wayan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.15205

Abstract

Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru di Banjar Pujung Kaja, Tegallalang, Gianyar, merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai sakral dan artistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan aspek-aspek penting dari Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru di Banjar Pujung Kaja, Tegallalang, Gianyar. Tarian ini merupakan perwujudan magis dari Ratu Sanghyang Dedari yang memberikan anugerah dan kesejahteraan kepada masyarakat Desa Adat Talepud, Banjar Pujung Kaja, Tegallalang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fokus penelitian terletak pada aspek bentuk, fungsi, dan upaya masyarakat dalam melestarikan tarian tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru adalah tarian sakral yang diwarisi turun-temurun. Prosesi tarian ini memiliki struktur yang terdiri dari nusdus, masolah, dan munggah. Tapakan Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru, yang merupakan penari utama, menjalani proses pemilihan dan ritual penyucian sebelum pertunjukan. Struktur tarian ini mencerminkan kesatuan harmonis disetiap elemen pertunjukannya. Tata rias dan busana tarian ini juga memiliki nilai simbolik yang mendalam Penelitian ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang keberadaan dan pentingnya melestarikan Tari Ratu Sanghyang Dedari Tunjung Biru sebagai bagian dari warisan budaya Bali.. Dengan demikian, dokumentasi hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan menjadi tambahan literatur yang bermanfaat bagi akademisi dan masyarakat dalam menjaga dan menghargai keberagaman seni dan budaya di Indonesia, khususnya di Banjar Pujung Kaja, Tegallalang, Gianyar.
TARI LEGONG NGELAWANG DI DESA APUAN, KECAMATAN SUSUT, KABUPATEN BANGLI Luh Risa Melliani; Ni Made Arshiniwati; Kompiang Gede Widnyana
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6071

Abstract

AbstrakTari Legong Ngelawang termasuk dalam jenis Tari Legong Keraton yang telah dimodifikasi olehpenciptanya. Nama Legong Ngelawang digunakan karena tarian ini ditarikan dengan cara ngelawang (ditarikanmengelilingi Banjar Bangun Lemah, Desa Apuan). Tarian ini termasuk dalam jenis tari kelompok yang terdiri daritiga penari wanita dan diklasifikasikan ke dalam tari wali. Penelitian yang berfokus pada Tari Legong Ngelawangini memiliki dua masalah dengan kajian utama ada pada bentuk dan fungsi Tari Legong Ngelawang di Desa Apuan,Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Teori yang digunakan untuk membedah dua permasalahan itu adalah teoriestetika dan teori fungsional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang ditinjau dari kajian senipertunjukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Legong Ngelawang termasuk dalam jenis tari lepas yangditarikan oleh tiga orang penari yang sudah dipilih berdasarkan pawisik dari Sesuhunan Pura Dalem. Strukturpertunjukannya terdiri dari tiga bagian yaitu pepeson, bapang, pengawak dengan ragam gerak sederhana yang terdiridari agem, tandang, tangkis, dan tangkep. Penari menggunakan riasan wajah dan busana yang sangat sederhanadengan menggunakan kipas sebagai properti. Iringan yang digunakan adalah gamelan palegongan yang dibawakanoleh penabuh sekaa Legong dengan jumlah dua puluh orang. Tempat pementasan Tari Legong Ngelawang adalah disetiap gang, dan pertigaan jalan Banjar Bangun Lemah dengan pola lantai yang masih sederhana. Pementasandilaksanakan setelah persembahyangan bersama sampai sore hari pada hari Raya Galungan dan Kuningan. Tarianini memiliki fungsi utama sebagai sarana ritual.Kata Kunci: Tari Legong Ngelawang, Bentuk, Fungsi
Reviving the Sanghyang Grodog Ritual Dance: Promoting Social Harmony and Sustainable Cultural Tourism in Nusa Lembongan Island, Bali Ni Made Arshiniwati; Ida Bagus Gede Surya Peradantha
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 15 No. 1 (2025): New Dimensions of Bali Tourism
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2025.v15.i01.p03

Abstract

This article explores the artistic significance and revitalization of the Sanghyang Grodog ritual in Lembongan Village, Bali, following a three-decade hiatus. Using a socio-artistic approach supported by social cohesion and semiotic theories, this study examines the ritual’s role in fostering social identity and promoting sustainable, culture-based tourism. Data were collected through participant observation, interviews, and secondary sources, with findings reinforced by focus group discussions. The results highlight the ritual’s embodiment of spiritual, social, and environmental harmony while addressing challenges posed by increasing tourism pressure. Despite limited public awareness, the ritual’s aesthetic and symbolic values serve as a catalyst for communal unity and sustainable cultural tourism. This study proposes a community-based tourism development strategy that includes the creation of a local mascot, visual branding, and the integration of arts into ecotourism and education, ensuring both cultural preservation and economic benefits for the community.
LEGONG DURGA SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS TARI ANDIR DI DESA TISTA, KERAMBITAN, TABANAN Tantra, Putu Feby Eka Kawi; Arshiniwati, Ni Made; Trisnawati, Ida Ayu
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.14086

Abstract

Tari Legong Durga di Desa Tista adalah salah satu tari klasik Bali di dalam Sekaa Andir Usana Budaya yang menggambarkan tentang representasi mitologi Hindu kisah Dewi Durga, sosok dewi yang berkarakter tegas, berwibawa dan agung dalam melawan kejahatan dan melindungi kebaikan. Kata Durga yang umumnya identik dengan tema Bapang yang ada di daerah lain, namun di Desa Tista Bapang dan Durga merupakan tema yang berbeda sehingga penting bagi penulis untuk meneliti Tari Legong Durga di Desa Tista. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana Tari Legong Durga di Desa Tista, dengan menggunakan metode kualitatif dengan memperoleh data dari hasil observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Bentuk Tari Legong Durga di Desa Tista memiliki ciri khas klasik yang masih dipertahankan dalam Sekaa Andir Usana Budaya. (2) Tari Legong Durga di Desa Tista merupakan suatu sajian tari yang disakralkan oleh masyarakat di Desa Tista serta mempunyai fungsi sebagai penolak bala, tarian ini juga dapat difungsikan sebagai tari balih-balihan untuk hiburan dan kepentingan pariwisata, maka dari itu Tari Legong Durga memiliki dua fungsi yaitu, fungsi religi dan fungsi profan; (3) Makna yang terkandung dalam tari Legong Durga mengungkapkan makna yang mendalam yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Denotasi mengacu pada makna langsung dari gerakan-gerakan tari, seperti nyalud ngombak, ngigelang lamak, ulap-ulap, ngepik khas andir,pangipuk Legong Durga. Di sisi lain, konotasi menafsirkan simbolisme yang lebih dalam, terkait dengan sistem religi dan ideologi masyarakat Bali, serta pesan moral yang terdapat dalam tari Legong Durga. Pesan moral dan ideologi yang tersemat dalam tari ini tidak hanya mencerminkan keberanian dan keadilan, tetapi juga mewakili pelestarian budaya dan representasi mitologi Hindu.
The Rejang Dahe Dance Inheritance System in Building the Character of Young Generation in Catur Village, Kintamani, Bali I Gusti Ngurah Agung Manik Pranawa; Ida Ayu Trisnawati; Ni Made Arshiniwati
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jacam.v5i2.6833

Abstract

This study aims to determine the inheritance system of the Rejang Dahe Dance and its contribution in building the character of the younger generation in the Catur Traditional Village, Kintamani, Bangli, Bali. The Rejang Dahe Dance is a sacred dance that is passed down through generations through traditional mechanisms. Along with the increasingly strong currents of globalization and changes in the lifestyles of the younger generation, the process of inheriting local culture faces significant challenges, decreasing interest and time for youth in traditions, and the strong influence of popular culture. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Data analysis was carried out using data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that the inheritance system of Rejang Dahe Dance is carried out through three stages: vertical inheritance, oblique inheritance, and horizontal inheritance. This inheritance process reveals character education values inherent in Rejang Dahe Dance, including religious, honesty, tolerance, discipline, hard work, creativity, independence, democracy, curiosity, nationalism, love for the homeland, appreciation for achievement, friendship and communication, peace-loving, environmental care, social care, and responsibility.
Co-Authors A.A.Ayu Mayun Artati Anak Agung Gde Agung Indrawan Anak Agung Gde Agung Indrawan Indrawan Andra Krisna Susanti, Ni Nyoman Ardhika, I Gusti Lanang Oka Artati, A.A.Ayu Mayun Ayana, I Wayan Deo Budiastomo, Denta Mandra Pradipta Cahyanthi, Ni Komang Putri Ciclia Indraningsih Jeno Denta Mandra Pradipta Budiastomo Desmi Kartiani, Ni Luh Dewi, I Gusti Ayu Agung Adi Sartika Diantara, I Putu Arya Eka Wahyuningsih, Ni Luh Putu Gst.Ayu Ketut Suandewi I Dewa Ayu Galuh Intan Rakasiwi I Gede Arya Sugiartha, I Gede Arya I Gede Mawan I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini I Gusti Ayu Agung Adi Sartika Dewi I Gusti Lanang Oka Ardhika I Gusti Ngurah Agung Manik Pranawa I Gusti Ngurah Seramasara, I Gusti Ngurah I Gusti Putu Sudarta I Ketut Sariada I Ketut Sariada, I Ketut I Komang Rio Saputra Dinata I Komang Sudirga I Wayan Budiarsa I Wayan Mudra, I Wayan Ida Ayu Putri Widiastuti Ida Ayu Trisnawati Ida Bagus Gede Surya Peradantha Ida Bagus Gede Surya Peradantha Kadek Ayu Juni Aryani Kadek Krisna Dwipa Diartama Kadek Rendy Wiradana Kompiang Gede Widnyana Leslyani, Ni Putu Luh Risa Melliani Ni Ketut Suryatini Ni Ketut Suryatini Ni Ketut Suryatini, Ni Ketut Ni Komang Putri Cahyanthi Ni Luh Putu Eka Wahyuningsih Ni Luh Sustiawati Ni Made Ruastiti Ni Putu Ayu Rika Putri Dewi Ni Putu Ayu Rika Putri Dewi Ni Putu Leslyani Ni Putu Putri Laksmi Dewi Ni Wayan Juli Artiningsih, Ni Wayan Pande Gede Widya Supriyadnyana Pertiwi, Ni Wayan Eka Sri Putu Desi Anggerina Hikmaharyanti Santi, Heni Widya Sekar Arini, Ni Luh Ayu Sri Repelita, Malona Sudibya, I Gusti Ngurah Suminto Suminto - Suminto Suminto Supriyadnyana, Pande Gede Widya Tantra, Putu Feby Eka Kawi Wayan Karja Widiastuti, Ida Ayu Putri Yanti Heriyawati Yulinis -