Claim Missing Document
Check
Articles

Peran konservasi tanah terhadap cadangan karbon tanah, bahan organik, dan pertumbuhan kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq.) Yenni Asbur; Mira Ariyanti
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.315 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14446

Abstract

Penerapan konservasi tanah di perkebunan kelapa sawit dapat dilakukan secara vegetatif dan mekanik. Secara vegetatif dengan memanfaatkan tanaman yang banyak tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit seperti Asystasia gangetica dan Nephrolepis biserrata sebagai tanaman penutup tanah, sedangkan secara mekanik dengan memotong panjang lereng melalui pembuatan teras gulud. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran konservasi tanah terhadap cadangan karbon tanah, bahan organik, dan pertumbuhan kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan dari Agustus 2014-April 2015 di perkebunan kelapa sawit (tahun tanam 2005) PTPN VII, Lampung Selatan. Penelitian menggunakan rancangan tersarang faktorial dengan enam ulangan tersarang di dalam perlakuan. Perlakuan terdiri dari teras gulud (tanpa teras gulud; dengan teras gulud), dan tanaman penutup tanah (tanpa tanaman penutup tanah; N.biserrata; A.gangetica). Hasil penelitian menunjukkan penerapan konservasi tanah menggunakan tanaman penutup tanah dan teras gulud di perkebunan kelapa sawit meningkatkan cadangan karbon dan bahan organik tanah dibandingkan tanpa konservasi tanah, berturut-turut sebesar 4.44 t/ha dan 0.69% (N. biserrata tanpa teras gulud); 5.28 t/ha dan 0.83% (A. gangetica tanpa teras gulud); 7.04 t/ha dan 1.10% (teras gulud tanpa tanaman penutup tanah); 10.45 t/ha dan 1.64% (N. biserrata dengan teras gulud); 11.33 t/ha dan 1.78% (A. gangetica tanpa teras gulud). Penerapan konservasi tanah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan kelapa sawit, terutama rataan panjang rachis dan jumlah pelepah sengkleh. Kata kunci : Nephrolepis biserrata, Asystasia gangetica, tanaman penutup tanah, teras gulud 
Effect of seedling number per hill and seedling age on plant growth and grain yield Ciherang Rice Yenni Asbur
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 3, No 3 (2013): Addendum
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.795 KB)

Abstract

Rice (Oryza sativa L.) is an important plant as one of the main food sources in Indonesia. Efforts to increase the productivity of rice conducted with intensification, by intensifying the use of seedling number per hill and seedling age while transplanting. The research were conducted to determine the effects of seedling number per hill and seedling age on plant growth, and grain yield Ciherang rice. The research was done at UPT. Balai Benih Induk (BBI) Perdamean village Tanjung Morawa from March 2012 to June 2012. Reducing seedling number per hill from 5 to 3 and 1 respectively, increased plant growth and grain yield significantly. Increasing seedling age from 7 to 14 and 21 days resulted in significant increasing plant growth and grain yield. In general, transplanting 7-21 day-old seedlings at one seedling per hill increased plant growth and grain yield Ciherang rice
PERAN FOTORESEPTOR PADA TROPISME TANAMAN SEBAGAI RESPON TERHADAP CAHAYA Yenni Asbur
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Agriland Vol. 6 No. 2 Jan-Jun 2017
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.282 KB) | DOI: 10.30743/agriland.v6i2.1226

Abstract

Tanaman menggunakan cahaya untuk menghasilkan energi kimia melalui fotosintesis. Dalam rangka untuk mendapatkan kondisi optimum pada proses fotosintesis, tanaman memodulasi bentuk untuk memaksimalkan jumlah cahaya yang diterima selama hidupnya. Fototropisme adalah salah satu contoh yang khas dalam memodulasi bentuk dan mudah diamati di bawah kondisi alam. Tulisan ini merupakan review dari berbagai artikel ilmiah sehingga bahan dan metode tidak dijelaskan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa respon tanaman terhadap arah rangsangan cahaya yang disebut fototropisme diperantarai oleh tiga jenis fotoreseptor cahaya, yaitu fototropin, fitokrom dan kriptokrom. Fototropin dan kriptokrom merupakan fotoreseptor cahaya biru/UV-A, sedangkan fitokrom merupakan fotoreseptor cahaya merah. Respon tanaman terhadap cahaya, umumnya sama, yaitu mengakibatkan terjadi respon fototropisme pada daun, batang, petiolus maupun hipokotil. Pada daun, umumnya respon fototropisme berupa pergerakan daun ke arah cahaya ataupun perubahan posisi daun menghadap cahaya dan bentuk daun yang merata. Demikian pula yang terjadi pada batang, petiolus maupun hipokotil
Pemanfataan kandungan metabolit sekunder yanag dihasilkan tanaman pada cekaman biotik Yusfachri Perangin-Angin; Yayuk Purwaningrum; Yenni Asbur; Murni Sari Rahayu; Nurhayati Nurhayati
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v7i1.3471

Abstract

Tumbuhan berevolusi dengan berbagai cara untuk bertahan dari berbagai tekanan, salah satunya dengan menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat toksik. Senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai atraktan (menarik serangga penyerbuk), melindungi dari stres lingkungan, perlindungan dari hama dan penyakit (phytoalexin), perlindungan dari sinar ultraviolet, sebagai pengatur tumbuh, bersaing dengan tanaman lain (alelopati), dan merupakan senyawa yang mampu menginduksi pembentukan senyawa tertentu sebagai respon pertahanan tanaman. Diantarnya adalah metabolit sekunder elicitor yang dihasilkan oleh beberapa jenis tanaman dapat memicu respons fisiologis, morfologis, dan akumulasi phytoalexin.
Pengaruh Stress Salinitas Terhadap Pertumbuhan, Komposisi Mineral, Kadar Prolin, Zat Antioksidan Kedelai Fitrawan Purwanto Ginting; Yenni Asbur; Yayuk Purwaningrum; Murni Sari Rahayu; Nurhayati Nurhayati
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v7i1.3472

Abstract

Kedelai merupakan salah satu sumber utama minyak nabati yang dapat dimakan dan pakan ternak berprotein tinggi. Ini adalah tanaman dikotil yang paling penting karena kandungan minyak dan proteinnya yang tinggi dalam bijinya dan telah dianggap tanaman sensitif garam yang toleran terhadap garam sedang. Stres oksidatif juga merupakan faktor dalam fenomena stres abiotik dan biotik yang terjadi ketika ada ketidakseimbangan yang serius antara produksi Reactive Oxygen Species (ROS) dan pertahanan antioksidan. ROS telah dianggap sebagai molekul berbahaya dan konsentrasinya harus dijaga serendah mungkin. Pengaruh cekaman garam terhadap karakteristik morfologi benih kedelai yang diberi perlakuan dievaluasi. Untuk mendemonstrasikan keefektifan sebuah nodul, aktivitas mitrogenase diukur. Pada konsentrasi 50 dari 100 mM NaCl tidak ada perubahan yang diamati pada aktivitas nitrogenase. Untuk mengetahui pengaruh tekanan garam terhadap kandungan K ', Na', Ca "dan Mg" kedelai, konsentrasi ion berada pada O, 50, 100 dan 200 mM NaCl. Salinitas mempengaruhi kandungan biji K 'dan kandungan K' menurun dengan meningkatkan salinitas.
Respon pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L.) terhadap sistem tanam dan pemberian pupuk kandang sapi Yenni Asbur; Rahmawaty Rahmawaty
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.292 KB) | DOI: 10.30743/agriland.v7i1.1243

Abstract

Respon tanaman terhadap lingkungan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman jagung terhadap sistem tanam dan pemberian pupuk kandang sapi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UISU Gedung Johor, Medan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan pertama adalah sistem tanam yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: sistem tanam biasa (75 cm x 20 cm), sistem tanam lajar 4:1 (20 cm x 40 cm), dan sistem tanam lajar 2:1 (20 cm x 50 cm). Perlakuan kedua adalah dosis pupuk kandang sapi yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: 0, 5, 10, dan 15 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam lajar 2:1 dan pemberian pupuk kandang sapi sebanyak 15 t/ha mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman jagung, sedangkan interaksi perlakuan antara sistem tanam dan dosis pupuk kandang sapi belum mampu mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.
Pengaruh Sistem Eksploitasi Terhadap Produksi Karet Pada Klon PB 260 Adri Airil Nasution; Yayuk Purwaningrum; Yenni Asbur; Murni Sari Rahayu; Nurhayati Nurhayati
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Agriland Volume 7 No. 1 Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v7i1.3473

Abstract

Untuk produksi tanaman karet di Provinsi Sumatera Utara tahun 2012 yaitu 501.484 ton dengan luas lahan 470.202 ha, dan tahun 2013 meningkat menjadi 513.783 ton dengan luas lahan 475.724 ha dari produksi perkebunan rakyat 250.800 ton. dengan luas tanah 300.947 ha, perkebunan negara 102.710 ton, luas lahan 71.945 ha dan hanya terjadi di perkebunan karet rakyat, tetapi juga di perkebunan besar milik swasta dan pemerintah. Pengaplikasian stimulan membutuhkan pengawasan yang lebih intensif, karena risiko pengaplikasian yang tidak tepat adalah mengeringnya jalur sadap. Untuk alasan ini, disarankan untuk selalu mengamati apa yang disebut Brown Bast. Sistem eksploitasi dapat memberikan tekanan fisiologis pada tanaman karet, sehingga perlu dilakukan pengamatan parameter fisiologis melalui diagnosis lateks yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem eksploitasi terhadap kondisi kesehatan tanaman. Hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa sistem eksploitasi berpengaruh signifikan terhadap produksi (g p-1s-1), produksi tertinggi (g p-1s-1) diperoleh pada perlakuan S / 2 U d3 ETG / 27d dan produksi (g p-1s). -1) terendah pada perlakuan S / 4 d3 ET / 30 hari.
Pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (Allium cepa L.) terhadap cekaman kekeringan dan dosis pupuk kendang sapi Rahmi Dwi Handayani Rambe; Muhammad Hafizh; Yenni Asbur
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 9, No 1 (2021): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v9i1.3860

Abstract

Perubahan iklim akibat pemansan global sekarang ini menjadi kendala dalam kegiatan pertanian termasuk usaha budidaya bawang merah. Upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah pada musim kering dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah terhadap cekaman kekeringan dan dosis pupuk kendang sapi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial tiga ulangan dengan dua faktor perlakuan, yaitu dosis pupuk kendang sapi dan interval penyiraman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kendang sapi dengan dosis 12.5 g/polibeg dan 18.75 g/polibeg mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi bawang merah dibandingkan dengan pemberian pupuk kendang sapi sebesar 6.25 g/polibeg dan tanpa pupuk kendang sapi. Interval penyiraman terbaik untuk pertumbuhan dan produksi bawang merah yang baik adalah interval penyiraman 1 hari 2 kali. Interaksi perlakuan antara dosis pupuk kendang sapi dan interval penyiraman belum mampu mempengaruhi secara nyata pertumbuhan dan produksi bawang merah.
Tempe sebagai sumber antioksidan: Sebuah Telaah Pustaka Yenni Asbur; Khairunnisyah Khairunnisyah
AGRILAND Jurnal Ilmu Pertanian Vol 9, No 3 (2021): Agriland: Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/agr.v9i3.5034

Abstract

Kedelai merupakan bahan pokok tahu dan tempe, yang merupakan makanan utama masyarakat Indonesia.  Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacang-kacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae. Tempe umumnya dibuat secara tradisional dan merupakan sumber protein nabati. Di Indonesia pembuatan tempe sudah menjadi industri rakyat. Tempe mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat, dan mineral. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh. Hal ini dikarenakan kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe juga merupakan makanan asli Indonesia tinggi kandungan antioksidan terutama isoflavon faktor-II (6,7,4' tri-hidroksi isoflavon) yang bermanfaat untuk pencegahan dan penurunan kejadian penyakit kanker payudara dan jantung koroner
KARAKTER FISIOLOGI LATEKS DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKSI LATEKS KLON GT 1 DI KEBUN KARET RAKYAT KABUPATEN LANGKAT Yayuk Purwaningrum; Yenni Asbur
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 37, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v37i1.603

Abstract

Kadar sukrosa, fosfat anorganik dan thiol merupakan karakter fisiologi pada tanaman karet yang erat hubungannya dengan kemampuan tanaman dalam pembentukan lateks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara karakter  fisiologi dengan produksi lateks pada klon GT 1 dan waktu aplikasi stimulan yang tepat tanpa mengganggu kesehatan tanaman karet. Penelitian ini dilaksanakan di kebun karet rakyat desa Harapan, Kecamatan Sei Lapang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara.  dan Laboratorium Fisiologi Balai Penelitian Sungei Putih pada tahun 2018. Klon yang diuji dalam penelitian ini yaitu klon GT 1 pada umur 20 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Analisis  Statistik Uji Korelasi dan Regresi. Berdasarkan analisa statistik hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa kadar sukrosa berkorelasi negatif dengan produksi lateks, Bulan Juni produksi lateks tinggi dipengaruhi oleh faktor fisiologi lateks sebesar 57,25%. Kondisi tersebut merupakan waktu yang tepat untuk aplikasi stimulansia pada klon GT 1.