Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Media Akuakultur

PERBEDAAN DOSIS PROBIOTIK Bacillus cereus DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN AKTIVITAS ENZIMATIS JUVENIL IKAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) Marzuqi, Muhammad; Astuti, Ni Wayan Widya; Muzaki, Ahmad; Giri, Nyoman Adiasmara
Media Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Juni, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.17.1.2022.33-41

Abstract

Kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan ikan laut ekonomis penting dan mempunyai prospek yang baik untuk budidaya. Sistem pencernaan ikan ini sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan nutrien pakan yang digunakan. Pemanfaatan probiotik dapat mengaktifkan aktivitas enzim dalam pencernaan ikan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan dosis probiotik Bacillus cereus yang tepat dalam pakan terhadap pertumbuhan dan aktivitas enzimatis juvenil ikan kerapu sunu. Penelitian dilakukan dengan 4 perlakuan dosis probiotik  dalam pakan, yaitu 0%, 0,5%, 1,0% dan 1,5%  dengan 4 kali ulangan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pakan uji diformulasikan dengan kandungan protein 48,32-49,25% dan kandungan lemak 11,97-12,98%. Juvenil ikan kerapu sunu memiliki berat rata rata 5,7±0,3 g dan panjang awal rata-rata 7,3±0,3 cm, juvenil dipelihara dalam 16 bak polikarbonat bervolume 30 L dengan sistem air mengalir dan kepadatan 12 ekor/bak. Lama pemeliharaan selama 8 minggu. Ikan diberi pakan percobaan dengan frekuensi 2 kali sehari. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah pertumbuhan, laju pertumbuhan spesifik, kelangsungan hidup, efisiensi pakan, viabilitas bakteri dalam pakan dan aktivitas enzimatis pada saluran pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik dalam pakan ikan kerapu sunu mampu meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan, viabilitas bakteri probiotik, aktivitas enzim protease dan aktivitas enzim lipase pada usus.  Dosis pemberian probiotik 1,5% dalam pakan menunjukkan hasil lebih baik dibanding pakan lainnya (P<0,05).
POTENSI ANTIPARASITIK HERBAL EKSTRAK HERBAL TERHADAP LINTAH LAUT (ZEYLANICOBDELLA ARUGAMENSIS) PADA JUVENIL IKAN KERAPU HIBRIDA CANTANG (Epinephelus fuscoguttatus X E. lanceolatus) Mastuti, Indah; Sadewa, Ketut M. Arya; Ansari, Mohamad; Haryanto, Slamet; Zailani, Ahmad; Suwitra, I Nyoman; Ariani, Ni Kadek; Kurdi, Kurdi; Miniartini, Made; Mustaqim, Mustaqim; Sedana, I Made; Sunarto, Mujiono; Astuti, Ni Wayan Widya; Mahardika, Ketut
Media Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.20.1.2025.1-13

Abstract

Lintah laut adalahektoparasit yang sangat merugikan bagbudidaya ikan kerapu di Bali Utara. Penelitian ini bertujuan menggali potensi antiparasitik jenis 76 tanaman dalam mengendalikan infeksi lintah laut (Zeylanicobdella arugamensis) pada juvenil ikan kerapu hibrida cantang (Epinephelus fuscoguttatus x E. lanceolatus). Sebanyak 76 jenis tanaman diekstrak menggunakan pelarut air laut steril untuk uji in vitro tahap 1 sebagai skrining awal, dilanjutkan dengan uji in vitro tahap 2 dan uji in vivo tahap 1 dan tahap 2. Uji in vivo dilakukan dengan merendam lintah laut dalam ektrak herbal 1000 ppm selama dua jam. Hasil uji in vitro tahap 1 mendapakan 11 tanaman berpotensi antiparasitik, yaitu lada putih, lada hitam, bunga cengkeh, lengkuas, cabai Jawa, jahe hitam, kulit buah manggis, daun sawo Manila, daun delima, daun brotowali dan batang brotowali. Berdasarkan uji tersebut dilakukan uji in vitro tahap 2 untuk mengetahui konsentrasi minimal yang melemahkan lintah laut. Uji in vitro tahap 2 menunjukkan bahwa konsentrasi minimum (500 ppm) hanya diperoleh dari tanaman lada putih. Uji in vivo dilakukan dengan menggunakan ikan kerapu cantang yang yang terinfeksi lintah laut. Uji in vivo tahap 1 menunjukkan bahwa sembilan (lada putih, lada hitam, bunga cengkeh, lengkuas, cabai Jawa, kulit buah manggis, daun sawo Manila, daun delima, daun brotowali) dari sebelas herbal tersebut belum mampu melepaskan lintah laut namun mematikan bagi ikan. Sedangkan uji in vivo tahap 2 menunjukkan sekaligus menyimpulkan bahwa ekstrak herbal, yaitu jahe hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) dan daun brotowali efektif (Tinospora cordifolia) dalam air laut konsentrasi 1000 ppm.Sea leeches are the major ectoparasites that infect grouper fish. This study explores the antiparasitic potential of 76 plants in controlling sea leech. The plants were extracted using sterile seawater and used in the in vitro test 1 (initial screening), followed by in vitro test 2 and in vivo test 1 and 2. The in vivo test was carried out by soaking sea leeches in 1000 ppm herbal extractsfor two hours. The results of the in vitro test 1 found that 11 plants had antiparasitic potential (white pepper, black pepper, clove flowers, galangal, Javanese chili, black ginger, mangosteen peel, Manila sapodilla leaves, pomegranate leaves, brotowali leaves and brotowali stems). Based on initial test, the in vitro test 2 was conducted to determine the minimum concentration. The in vitro test 2 showed that the minimum concentration (500 ppm) was obtained from white pepper . The in vivo test was conducted using infected fish. The in vivo test 2 showed that nine (white pepper, black pepper, clove flowers, galangal, Javanese chili, mangosteen peel, Manila sapodilla leaves, pomegranate leaves, brotowali leaves) herbals were not able to release leeches but deadly to the fish. Meanwhile, the in vivo test 2 concluded that black ginger (Curcuma aeruginosa Roxb.) and brotowali leaves (Tinospora cordifolia) in sea water at a concentration of 1000 ppm were effective in releasing leeches within 10 minutes and non toxic to fish.