Claim Missing Document
Check
Articles

Pembelajaran Membaca yang Menyenangkan melalui Cerita Fabel untuk Penguatan Literasi Membaca Bahasa Inggris Siswa SMP Fahria Malabar
Dedikasi Mandiri Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Dedikasi Mandiri Nusantara - Juni 2026
Publisher : Dedikasi Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21723197

Abstract

Literasi membaca bahasa Inggris pada tingkat sekolah menengah pertama memerlukan pengalaman belajar yang membantu siswa memahami teks sekaligus membangun keterlibatan positif terhadap kegiatan membaca. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat literasi membaca bahasa Inggris siswa kelas VII melalui pemanfaatan cerita fabel The Lion and the Mouse. Kegiatan dilaksanakan di TPQ Imam Syafi’i pada Januari 2026 dan melibatkan 10 siswa tingkat SMP, khususnya kelas VII. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama 60 menit melalui tiga tahap, yaitu pre-reading, while-reading, dan post-reading. Aktivitas pembelajaran meliputi pengaktifan pengetahuan awal, pengenalan kosakata, reading aloud, echo reading, pertanyaan pemahaman terpandu, kuis Wordwall, pengerjaan lembar kerja My Favorite Part, serta diskusi nilai moral cerita. Ketercapaian kegiatan diamati melalui respons siswa terhadap pertanyaan pemahaman, penyelesaian kuis dan lembar kerja, serta partisipasi selama pembelajaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menentukan dan mengungkapkan bagian cerita yang disukai menggunakan bahasa Inggris sederhana. Meskipun demikian, seluruh siswa menunjukkan antusiasme dan berpartisipasi aktif dengan bimbingan dosen pelaksana dan mahasiswa pendamping. Kegiatan ini menunjukkan bahwa cerita fabel dan aktivitas membaca terpandu dapat mendukung pembelajaran membaca yang terstruktur, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa SMP.
Learning English Words through Art & Craft: Pengenalan Kosakata Bahasa Inggris melalui Kerajinan Kreatif Fahria Malabar; Sartin Miolo
Dedikasi Mandiri Nusantara Vol. 1 No. 1 (2025): Dedikasi Mandiri Nusantara - Desember 2025
Publisher : Dedikasi Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18603374

Abstract

Kosakata merupakan komponen dasar dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar, namun penguasaannya masih sering terkendala oleh metode pembelajaran yang kurang variatif dan tidak sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memperkenalkan kosakata bahasa Inggris dasar kepada siswa kelas 3 sekolah dasar melalui pendekatan pembelajaran kreatif berbasis art & craft. Metode pengabdian dilakukan dengan pendekatan learning by doing melalui kegiatan tematik seperti coloring craft, paper folding, dan vocabulary tree yang diintegrasikan dengan latihan listen and repeat. Kegiatan dilaksanakan secara langsung di kelas dengan pendampingan tim pengabdian dan guru kelas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, mampu mengikuti instruksi, serta menunjukkan peningkatan keberanian dalam menyebutkan dan melafalkan kosakata bahasa Inggris. Selain memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan kontekstual bagi siswa, kegiatan ini juga memberikan manfaat bagi guru melalui pembelajaran kreatif yang aplikatif serta bagi mahasiswa melalui penguatan keterampilan mengajar bahasa Inggris untuk anak usia dini. Pendekatan berbasis art & craft dinilai relevan sebagai alternatif pembelajaran kosakata yang efektif dan berkelanjutan di sekolah dasar.
Touch the Color: Penguatan Kosakata Warna Bahasa Inggris melalui Pembelajaran Berbasis Gerak pada Siswa Kelas Awal Sekolah Dasar Fahria Malabar; Irmawaty Umar; Sri Widyarti Ali
Dedikasi Mandiri Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Dedikasi Mandiri Nusantara - Juni 2026
Publisher : Dedikasi Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21555958

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kemampuan awal siswa kelas 1 SDIT Qurratu A’yun Kota Gorontalo dalam mengenali kosakata warna bahasa Inggris melalui pembelajaran berbasis gerak. Program dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu observasi awal, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Sebanyak 24 siswa mengikuti pembelajaran menggunakan flashcards, kartu warna, benda konkret, lagu, serta aktivitas Touch the Color dan Show Me the Color. Evaluasi dilakukan melalui observasi individual terhadap kemampuan siswa mengenali sedikitnya lima dari delapan kosakata warna, menirukan minimal empat kosakata, merespons sekurang-kurangnya tiga instruksi sederhana, dan berpartisipasi aktif. Hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh peserta memenuhi keempat indikator selama kegiatan berlangsung. Hasil ini memperlihatkan bahwa integrasi gerakan, media visual, dan permainan mendukung terciptanya pembelajaran yang konkret, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik siswa kelas awal. Kegiatan juga menghasilkan media yang dapat digunakan kembali oleh guru untuk memperkenalkan kosakata dasar lainnya.
Pembelajaran Membaca yang Menyenangkan melalui Cerita Fabel untuk Penguatan Literasi Membaca Bahasa Inggris Siswa SMP Fahria Malabar
Dedikasi Mandiri Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Dedikasi Mandiri Nusantara - Juni 2026
Publisher : Dedikasi Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21723197

Abstract

Literasi membaca bahasa Inggris pada tingkat sekolah menengah pertama memerlukan pengalaman belajar yang membantu siswa memahami teks sekaligus membangun keterlibatan positif terhadap kegiatan membaca. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat literasi membaca bahasa Inggris siswa kelas VII melalui pemanfaatan cerita fabel The Lion and the Mouse. Kegiatan dilaksanakan di TPQ Imam Syafi’i pada Januari 2026 dan melibatkan 10 siswa tingkat SMP, khususnya kelas VII. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama 60 menit melalui tiga tahap, yaitu pre-reading, while-reading, dan post-reading. Aktivitas pembelajaran meliputi pengaktifan pengetahuan awal, pengenalan kosakata, reading aloud, echo reading, pertanyaan pemahaman terpandu, kuis Wordwall, pengerjaan lembar kerja My Favorite Part, serta diskusi nilai moral cerita. Ketercapaian kegiatan diamati melalui respons siswa terhadap pertanyaan pemahaman, penyelesaian kuis dan lembar kerja, serta partisipasi selama pembelajaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menentukan dan mengungkapkan bagian cerita yang disukai menggunakan bahasa Inggris sederhana. Meskipun demikian, seluruh siswa menunjukkan antusiasme dan berpartisipasi aktif dengan bimbingan dosen pelaksana dan mahasiswa pendamping. Kegiatan ini menunjukkan bahwa cerita fabel dan aktivitas membaca terpandu dapat mendukung pembelajaran membaca yang terstruktur, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa SMP.
Negotiating Gender Identity and Power: A Sociolinguistic Analysis of Women's Language in Divergent Movie Bulan Hontinimbang Ligatu; Suleman Bouti; Fahria Malabar
The Future of Education Journal Vol 4 No 9 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i9.1233

Abstract

This study examines how Lakoff’s women’s language features appear in the speech of Beatrice Prior in the film Divergent (2014). The research focuses on three aspects: the types of women’s language feature she uses, how these features are distributed across Abnegation and Dauntless, and how Beatrice’s social roles influence her linguistic choices. This study uses a descriptive qualitative approach, and the data consist of selected utterances that are classified based on Lakoff’s framework. The findings show that Beatrice uses several features such as lexical hedges, intensifiers, super polite forms, tag questions, and rising intonation. These features appear differently depending on the setting. In Abnegation, her speech is more polite and controlled, reflecting the values of the faction. After joining Dauntless, her language becomes more expressive and direct. The analysis also indicates that her shifts in social roles contribute to the changes in the way she speaks. The study highlights that her linguistic style adapts to the environment and the roles she performs throughout the story.
Analysis of Ambiguity in Humor: A Pragmatic Analysis of Wordplay in YouTube Channel “We Got The Chocolates” Moh. Kifly S. Rasyid; Hanisah Hanafi; Fahria Malabar
Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 2 (2026): Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (Agustus 2026 - Januari 2027)
Publisher : Transbahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/researchreview.v5i2.565

Abstract

This study is grounded in the linguistic phenomenon of phonetic ambiguity as a strategy to create verbal humor in digital spoken discourse. The objective is to analyze how segmental sound structures are realised in phonetic wordplay and elucidate how these structures trigger dual meaning interpretations through a pragmatic framework. A descriptive qualitative research design was employed, using spoken dialogues from the "We Got The Chocolates" YouTube channel as the primary data source. Data were collected through systematic observation and transcription of five purposively selected videos, then analysed using a co-textual pragmatic approach in conjunction with International Phonetic Alphabet (IPA) transcriptions and Grice's Cooperative Principle. The findings reveal two primary operational patterns: Perfect Puns (13 instances) relying on absolute homophony, and Imperfect Puns (17 instances) relying on phonetic similitude. These phonetic manipulations consistently trigger humor through a calculated strategy of multiple maxim flouting, where the flouting of the Maxim of Manner via acoustic camouflage is systematically paired with the flouting of the Maxim of Quality or the Maxim of Relation. The study concludes that spoken humor operates as a cognitive resolution process where structural acoustic illusion and narrative incongruity mutually reinforce each other. However, limitations include the restriction to segmental sound manipulation (excluding suprasegmental features) and the reliance on interpretative qualitative pragmatic methodology.
Cognitive Processing of Formulaic Sequences in English as a Foreign Language Students Mohamad Rayyan Kufri; Zulkifli Tanipu; Fahria Malabar; Indri Wirahmi Bay; Sri Widyarti Ali
Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 2 (2026): Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (Agustus 2026 - Januari 2027)
Publisher : Transbahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/researchreview.v5i2.609

Abstract

Formulaic sequences (FSs) have received considerable attention in second language (L2) research due to their contribution to language fluency and communicative efficiency. However, existing studies have predominantly focused on the frequency and distribution of formulaic sequences in learner output, providing limited insight into how such expressions are cognitively processed during language production. This study employed a qualitative descriptive design. The participants were three Indonesian EFL students enrolled in the English Language Education Study Program (ELESP), Universitas Negeri Gorontalo. Data were collected through Think-Aloud Protocols (TAP), academic writing tasks, and Stimulated Recall Interviews (SRI). The data were analyzed thematically to identify recurring patterns in formulaic sequence processing, challenges, and strategies. The findings revealed three major processing types: complete retrieval, adjusted retrieval, and compositional retrieval. Complete retrieval was evident in discourse-organizing and idiomatic FS, which were frequently retrieved holistically as single units. Adjusted retrieval occurred when learners initially retrieved a FS holistically but subsequently modified it to better suit communicative and rhetorical demands. Compositional retrieval emerged when learners constructed expressions through conscious lexical evaluation, collocational assessment, and grammatical monitoring. In addition, three recurring challenges were identified: topic familiarity constraints, lexical evaluation difficulties, and broader cognitive demands associated with coordinating writing, monitoring, and verbalization simultaneously. The findings also revealed three principal strategies during processing: context-dependent selection, familiarity-based retrieval, and intuition-guided substitution. Overall, the findings suggest that formulaic sequence processing among Indonesian EFL learners involves a dynamic interaction between holistic retrieval and analytical evaluation rather than reliance on a single processing mechanism.