Claim Missing Document
Check
Articles

Pertumbuhan, hasil dan karakter fisiologis padi yang diberi pupuk hayati pada pertanaman kelapa sawit belum menghasilkan I Annisa Nuraisah; Cucu Suherman; Mira Ariyanti; Anne Nuraini; Mohamad Arief Soleh
Kultivasi Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.41 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v18i3.21183

Abstract

Sari ruang terbuka diantara tanaman kelapa sawit belum menghasilkan dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan, khususnya  padi sebagai tanaman sela dalam rangka mendukung program ketahanan nasional. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh dosis pupuk hayati yang berpengaruh paling baik terhadap pertumbuhan, hasil, dan karakter fisiologis tanaman padi yang ditanam pada pertanaman kelapa sawit TBM 1 serta melihat dampak penanaman padi sebagai tanaman sela terhadap pertumbuhan kelapa sawit. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada bulan Desember 2017 sampai bulan April 2018. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan dosis pupuk hayati, yaitu  0, 75, 100, 125, 150, 175 mL/tanaman. Setiap perlakuan diulang empat kali sehingga terdapat 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan dosis pupuk hayati berpengaruh terhadap jumlah gabah isi, bobot gabah per tanaman, dan bobot gabah 100 butir yang di tanam pada pertanaman kelapa sawit saat tanaman belum menghasilkan (TBM 1). Dosis pupuk hayati 100 mL/tanaman cenderung memberikan pengaruh baik terhadap karakter morfologis dan fisiologis padi. Pertumbuhan tanaman kelapa sawit tidak dipengaruhi oleh budidaya padi sebagai tanaman sela.Kata kunci: karakter fisiologis, pupuk hayati, tumpangsari Abstract. Open space among palm oil trees at IPS I could be used for growing annual crops such as rice for supporting food sufficiency national program. This study was to obtain proper organic fertilizer dosages for improving best plant growth and yield of rice under palm oil trees at IPS I. The experiment was conducted at experimental station of Faculty of Agriculture, Padjadjaran University from December 2017 to April 2018. The experimental design was Randomized Block with six treatments of fertilizer dosage: 0, 75, 100, 125, 150, 175 mL/plant. Each treatment was replicated four times. The application of organic fertilizer affected on filled grains number, grains weight per plant, and 100 grains weight.  The dosage of 100 mL/plants had good trend on morphological and physiological traits of rice. Oil palm growth did not affected by rice cultivation between oil palm areas.Keywords: Intercropping, organic fertilizer, physiological traits
Respons tiga klon tanaman rami (Boehmeria nivea (L.) Gaud) terhadap konsentrasi asam giberelat yang berbeda Cucu Suherman; Anne Nurainni; Veronika Sri Rahayu Wulandari
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.033 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14470

Abstract

Tanaman rami merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan penghasil serat yang serat-nya dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi zat pengatur tumbuh asam giberelat (GA3) dan tiga klon rami terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman rami serta mengetahui interaksi konsentrasi asam giberelat dan klon rami yang paling baik. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang, ordo tanah Inceptisol, waktu pelaksanaan bulan Februari 2017 sampai bulan April 2017. Tipe curah hujan C (agak basah) menurut klasifikasi Schmidt dan Fergusson, dengan ketinggian tempat 754 mdpl. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan dua belas perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah klon rami yang terdiri atas tiga taraf, yaitu Pujon 13, Bandung A, dan Ramindo 1. Faktor kedua adalah konsentrasi asam giberelat, yaitu 0 ppm, 75 ppm, 150 ppm, dan 225 ppm. Hasil percobaan menunjukkan terdapat pengaruh interaksi klon  dengan konsentrasi GA3 terhadap jumlah daun umur 12 MST, diameter batang umur 8 dan 12 MST, dan tinggi tanaman 12 MST. Pengaruh interaksi terbaik terjadi pada perlakuan klon Bandung A dengan asam giberelat 225 ppm, ditunjukkan oleh jumlah daun umur 12 MST, serta diameter batang umur 8 dan 12 MST. Pengaruh mandiri terbaik juga dihasilkan oleh klon Bandung A serta asam giberelat 225 ppm. Kata kunci: Asam Giberelat, Klon, Rami Kata kunci: Asam Giberelat, Klon, Rami
Pengaruh konsentrasi giberelin dan pupuk organik cair asal rami terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman rami (Boehmeria nivea (L.) Gaud) klon ramindo 1 Cucu Suherman; Anne Nuraini; R. Damayanthi
Kultivasi Vol 15, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.475 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v15i3.11762

Abstract

ABSTRAKRami adalah salah satu jenis tanaman penghasil serat yang memiliki potensi hasil lebih tinggi dibanding tanaman kapas. Salah satu faktor penentu tinggi rendahnya hasil adalah panjang dan jumlah serat, yang antara lain ditentukan oleh tinggi dan diameter batang tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi giberelin dan pupuk organik cair rami serta memperoleh salah satu kombinasi konsentrasi giberelin dan POC rami yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan dan hasil serat tanaman rami klon Ramindo 1. Percobaan dilaksanakan dari bulan Januari 2016 sampai bulan Maret 2016 di kebun percobaan CiparanjeFaperta  Universitas Padjadjaran, Jatinangor, dengan ketinggian tempat mencapai  829 m di atas permukaan laut, dengan tanah ordo Inceptisol, dan tipe iklim berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951) termasuk tipe C. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali, dengan perlakuan kombinasi GA0 ppm+ tanpa POC, GA50 ppm + tanpa POC, GA100 ppm + tanpa POC, GA150 ppm + tanpa POC, Larutan GA0 ppm + 40 ml/L POC, GA50 ppm + 40 ml/L POC, GA100 ppm + 40 ml/L POC, GA150 ppm + 40 ml/L POC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian kombinasi dosis giberelin dan pupuk organik cair rami dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil serat tanaman rami klon Ramindo 1. Perlakuan GA 150 ppm dan 40 ml/L pupuk organik cair (POC) dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, bobot kering tanaman, bobot basah tanaman, dan bobot segar batang tanaman rami klon Ramindo 1.Kata kunci : Giberelin, pupuk organik cair, rami
Kadar pati akar dan sitokinin endogen pada tanaman teh menghasilkan sebagai dasar penentuan pemangkasan dan aplikasi zat pengatur tumbuh Intan Ratna Dewi Anjarsari; Jajang Sauman Hamdani; Cucu Suherman Victor Zar; Tati Nurmala; Heri Sahrian; Vitria Puspitasari Rahadi
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.569 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.16786

Abstract

ABSTRAK Pemangkasan pada tanaman teh dilakukan salah satunya untuk menginisiasi tumbuhnya banyak tunas sebagai bakal pembentukan pucuk peko. Pemangkasan mengubah luas daun, kapasitas fotosintesis perdu, mempengaruhi keseimbangan metabolisme antara organ di atas dan di bawah tanah dengan  mengurangi  jumlah tumbuh tunas yang berfungsi sebagai sumber dan pengguna untuk nutrisi dan hormon. Sampai saat ini pertumbuhan tunas sebagai bakal daun setelah pemangkasan terjadi secara alami tanpa penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT). Pada dasarnya rekayasa fisiologis dengan menggunakan ZPT sitokinin dapat menjadi pilihan untuk lebih memacu pertumbuhan cabang lateral dan tunas serta memecahkan dormansi pucuk. Tujuan penelitian pendahuluan ini  adalah untuk mengetahui   kadar pati akar, kadar sitokinin endogen, serta status hara tanah  guna menentukan waktu pemangkasan yang tepat dan dasar untuk dilakukan aplikasi zat pengatur tumbuh setelah dipangkas. Penelitian selanjutnya adalah penggunaan sitokinin BAP pada berbgai dosis pada tanaman teh yang sudah dipangkas.  Penelitian pendahuluan dilakukan pada bulan Agustus  hingga Oktober 2017 di kebun percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung  pada ketinggian 1250 m di atas permukaan laut (dpl). Metode pengambilan sampel daun, akar, dan tanah di lapangan dilakukan secara komposit untuk setiap ulangan selanjutnya dilakukan analisis pati akar, sitokinin endogen serta hara tanah. Hasil uji kualitatif pati akar menggunakan iodium mengindikasikan bahwa tanaman teh siap untuk dipangkas terlihat dari sampel akar yang ditetesi iodium menunjukkan warna hitam. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kadar pai akar berada pada kisaran 6.99 % hingga 9,16% dan sitokinin endogen ada pad akisaran 0,0016% hingga0,0019%.  Penentuan kadar pati akar, kondisi lingkungan serta status hara sebelum pemangkas diperlukan agar meminimalisasi tingkat kematian perdu teh serta analisis sitokinin endogen diperlukan untuk lebih  mengoptimalkan dosis sitokinin yang akan diberikanKata Kunci : pemangkasan, sitokinin endogen, kadar pati akar. ABSTRACT  Pruning on tea plants is  perfomed initiating growth of shoots to be pecco stadia. Pruning changes the leaf area, the capacity of photosynthetic tea bush, affecting the metabolic balance between upper and underground organs by reducing the growing number of buds that function as sources and sinks for nutrients and hormones. Until now the growth of shoots as leaf will after pruning occurs naturally without the addition of plant growth regulating substances (PGR). Essentially physiological engineering using  cytokinins can be an option to increase the growth of lateral branches and buds as well as break the shoot dormancy. The preliminary study was conducted from August to October 2017 at experimental field of Gambung Tea and Quinine Research Center (PPTK) at an altitude of 1250 m above sea level (asl). Preliminary method used in the form of analysis of root starch, endogenous cytokinin and soil nutrients to  determined the proper pruning time and the basis for the application of  plant growth regulator substances after pruning. The results of a qualitative test of root content using iodine indicated that the tea plant was ready to be pruned visible from the root samples that iodized spots showed black. The result of  laboratory test  showed that root starch content was in the range of 6.99 to 9.16. and cytokinin endogen  preliminary analysis showed that the levels are in the range of 0.0016 up to 0.0019. Determination of root starch, environmental conditions and nutrient status before pruning is necessary in order to minimize mortality rate of tea bush as well as analysis of endogenous cytokinin is needed to further optimize the dose of cytokinin to be given. Keywords : cytokinins, pruning,  root starch content
Aplikasi beberapa konsentrasi air kelapa untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kakao kultivar ICCRI 08 H Santi Rosniawaty; Cucu Suherman; Rija Sudirja; Dimas Nur Annisa Istiqomah
Kultivasi Vol 19, No 2 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i2.26671

Abstract

AbstrakKultivar ICCRI 08 H merupakan kultivar unggul baru kakao yang tetap harus dipelihara selama pembibitan. Pupuk anorganik yang digunakan untuk menyediakan nutrisi bibit dapat menyebabkan pemadatan tanah, sehingga perlu suplai nutrisi alami, seperti nutrisi yang berasal dari air kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat air kelapa dan pengurangan dosis urea dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kakao. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 10 perlakuan yang diulang 3 kali. Perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut: Kontrol (2 g Urea), 25% air kelapa, 50% air kelapa, 75% air kelapa, 25% air kelapa + urea 2 g, 50% air kelapa + urea 2 g, 75% air kelapa + urea 2 g, air kelapa 25% + urea 1 g, air kelapa 50% + urea 1 g; dan air kelapa 75% + urea 1 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air kelapa mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kakao kultivar ICCRI 08 H.  Air kelapa mampu mengurangi penggunaan urea dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kakao kultivar ICCRI 08 H. Perlakuan air kelapa 50% menunjukkan pengaruh terbaik pada variabel tinggi tanaman, diameter batang,  jumlah daun, dan luas daun.Kata kunci: pembibitan, air kelapa, kakao AbstractThis study aimed to determine the benefits of coconut water and the reduction of urea doses in increasing the growth of cacao seedling. The study was conducted at the Ciparanje Experimental field, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University, Sumedang Regency. The study used randomized block design (RBD) with 10 treatments which were repeated 3 times. The treatments were: Control (2 g urea), 25% coconut water, 50% coconut water, 75% coconut water, 25% coconut water + 2 g urea, 50% coconut water + 2 g urea, 75% coconut water + 2 g urea, 25% coconut water + 1 g urea, 50% coconut water + 1 g urea; and coconut water 75% + 1 g urea. The results showed that coconut water increased the growth of cocoa seedlings cultivar ICCRI 08 H. Coconut water could reduced urea requirement in increasing the growth of cocoa seedlings ICCRI 08 H. Concentration of 50% coconut water showed the best effect on plant height, stem diameter, number of leaves, and leaf area.Keywords : seedling, coconut water, cacao
Respon pertumbuhan bibit nilam aceh (Pogostemon cablin benth.) Klon sidikalang pada media tanam subsoil dengan pemberian pati beras dan pupuk hayati Mira Ariyanti; Cucu Suherman; Intan Ratna Dewi Anjarsari; Dewi Santika
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.822 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14429

Abstract

Media tanam berupa topsoil masih menjadi andalan untuk mendukung pertumbuhan tanaman nilam karena kandungan mineral dan bahan organiknya yang tinggi. Seiring dengan pemanfaatannya, ketersediaan topsoil semakin berkurang dan dirasa perlu untuk mencari alternatif lain yaitu dengan memanfaatkan subsoil. Peningkatan unsur hara dalam subsoil dilakukan dengan cara pemberian pupuk organik berupa pati beras dan pupuk hayati. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor pada Juni 2011- September 2011. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 11 kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Perlakuan percobaan meliputi  top soil,  sub soil + pupuk anorganik N 1.75 g, sub soil + 25 g pati beras, sub soil + 50 g pati beras, sub soil + 75 g pati beras, sub soil + 25 g pati beras + pupuk hayati EMAS 2.5 g, sub soil + 50 g pati beras + pupuk hayati EMAS 2.5 g, sub soil + 75 g pati beras + pupuk hayati EMAS 2.5 g, sub soil + 25 g pati beras + pupuk hayati EMAS 5 g, sub soil + 50 g pati beras + pupuk hayati EMAS 5 g, sub soil + 75 g pati beras + pupuk hayati EMAS 5 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  25 g pati beras + PHE 2,5 g pada media tanam subsoil menghasilkan pengaruh yang paling baik terhadap pertambahan tinggi, pertambahan jumlah daun, pertambahan cabang, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, dan bobot kering akar tanaman nilam. Pati beras mengandung 0.8% N, 0.29% P2O5, 0.07% K2O, 1.48% CaO, 1.14% MgO, 10.04 % C-organik. 
Rekayasa ekofisiologis tanaman teh belum menghasilkan klon GMB 7 melalui pemberian asam humat dan pupuk hayati konsorsium Intan Ratna Dewi Anjarsari; Santi Rosniawaty; Cucu Suherman
Kultivasi Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.706 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v14i1.12079

Abstract

Teh merupakan komoditas perkebunan penting di Indonesia. Rekayasa ekologis yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman teh di perkebunan adalah melalui tindakan pemupukan. Sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan kini pihak pekebun pada umumnya menggunakan input yang lebih ramah lingkungan, diantaranya dengan menggunakan asam humat dan pupuk hayati konsorsium. Saat ini asam humat telah dimanfaatkan sebagai pelengkap pupuk yang dapat meningkatkan pemanfaatan pupuk dan meningkatkan pertum-buhan tanaman. Selain asam humat, salah satu alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman teh belum menghasilkan adalah dengan pemeberian pupuk hayati konsorsium yang terdiri dari bakteri pelarutf posfat, bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut kalium.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana pemberian asam humat dan pupuk hayati konsorsium dapat mengoptimalkan nutrisi tanaman teh belum menghasilkan guna meningkatkan efisiensi pemupukan pada teh di fase TBM. Penelitian ini dimenggunakan ran-cangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan  yakni kontrol, 10 mLasam humat,  20 mL asam humat, 30 mL Asam Humat, 1,0 g PHK/tanaman, 2,0 g PHK/tanaman dan kombinasi keduanya sehingga terdapat sembilan perlakuan yang diulang 3 kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Terdapat pengaruh pemberian asam humat dan pupuk hayati konsorsium terhadap pertum-buhan tanaman teh belum menghasilkan klon GMB 7 serta pada kombinasi 1,0  g PHK/ tanaman + 10 mL Asam humat menunjukkan kecen-derungan nilai laju asimilasi bersih, luas daun, nisbah luas daun yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Kata kunci  : Teh ∙ Asam humat ∙ Pupuk hayati konsorsium 
Respons produksi tanaman karet klon BPM 24 terhadap jenis dan konsentrasi stimulan etilen organik kulit pisang Syamsiyah Syamsiyah; Cucu Suherman; Santi Rosniawaty; Fetrina Oktavia
Kultivasi Vol 19, No 2 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i2.25807

Abstract

AbstrakPuncak produksi tanaman karet klon BPM 24 dicapai pada tahun sadap ke-7 sampai 10, tetapi produksi menurun dengan cepat hingga mencapai titik terendah pada tahun sadap ke-15.  Stimulan merupakan teknologi yang digunakan untuk meningkatkan produksi lateks. Penggunaan stimulan sintetik yang berlebih dapat menurunkan produksi sehingga perlu dicoba stimulant organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons produksi tanaman karet klon BPM 24 terhadap aplikasi stimulan organik kulit pisang. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Karet Sembawa, Palembang, Sumatera Selatan dari September sampai November 2019. Metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok  dengan 11 perlakuan stimulan dan  5 ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap produksi lama aliran lateks, volume lateks dan kadar karet kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan stimulan organik kulit pisang Ambon dengan konsentrasi 200 g/L mampu meningkatkan lama aliran lateks, dan volume lateks, tetapi pemberian stimulan menurunkan kadar karet kering.Kata kunci : Stimulan Organik , kulit pisang, Lateks, karet Klon BPM 24 AbstractThe rubber tree production clone BPM 24 reaches its peak on 7th to 10th years of tapping incision. After that, the production declines rapidly to the lowest point at 15th year. Stimulant application is one of the technology to increase latex production. Excess application of synthetic stimulants can reduce production, so organic stimulants should be tried. The research intended to know the response of production of rubber tree (Hevea brasiliensis Muell. Arg) clone BPM 24 due to application of the organic ethylene stimulant made of  banana peels. The research was conducted from September to November 2019, at Experimental Plantation of Rubber Research Institution, Sembawa, Palembang, South Sumatra. The method of this research was the experimental design that used Randomized Block Design with 11 treatment and three times replication. The observation made on latex flowing duration, latex volume, and dried latex content. The result showed that application of organic ethylene stimulant made of banana peels cv. Ambon on 200 g concentration could increase latex flowing duration and latex volume,  but reduced dried latex content. Keywords: stimulant, banana peels, latex, rubber clone BPM 24. 
Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai (Capsicum sp.) yang diberi pupuk hayati pada pertanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) TBM I. Cucu Suherman; Mochamad Arief Soleh; Anne Nuraini; Annisa Nurul Fatimah
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.32 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.18116

Abstract

ABSTRAK Penerapan sistem tanam tumpangsari pada tanaman belum menghasilkan (TBM) kelapa sawit merupakan upaya optimalisasi lahan. Pada TBM I  terdapat 75 % ruang terbuka yang dapat ditanami tanaman sela, misalnya tanaman cabai. Tanaman sawit umumnya ditanam pada lahan marginal, maka untuk optimasi pertumbuhan tanaman sela perlu dipilih varietas yang baik dan dilakukan pemupukan. Penelitian bertujuan untuk memperoleh pengaruh interaksi terbaik varietas dan dosis pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai yang ditanam pada pertanaman kelapa sawit TBM 1. Percobaan dilakukan mulai Oktober 2017 sampai Pebruari 2018 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas padjadjaran.  Ordo tanah inceptisol. Tipe curah hujan C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, ketinggian tempat ± 780 m dpl. Rancangan menggunakan Split plot design,  varietas sebagai main plot terdiri atas dua taraf, yaitu CK5 dan CB2 dan dosis pupuk hayati sebagai sub plot terdiri atas enam taraf, yaitu 0, 50, 100,150, 200 dan 250 mL/tanaman. Setiap perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai dipengaruhi secara mandiri maupun interaksi varietas dan dosis pupuk hayati. Pada CK5 taraf dosis pupuk hayati 200 mL/tanaman menghasilkan tinggi tanaman, lebar kanopi dan jumlah cabang yang lebih baik. Pada CB2, taraf dosis 150 mL/tanaman memberikan pengaruh interaksi lebih baik. Secara mandiri, dosis pupuk hayati 150 mL/tanaman menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlah cabang, bobot dan jumlah buah tanaman cabai, sementara untuk varietas CK5 menghasilkan tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang dan jumlah buah yang lebih baik dibanding CB2.Kata kunci : Tumpangsari, varietas cabai, pupuk hayati. ABSTRACT Intercropping system on immature plant of oil palm is an alternative cropping system to reach land optimization. In immature oil palm plantation there is 75% uncover space among the crops which could be used for cultivating annual crops. Generally, oil palm is cultivated on marginal land, so that to optimize the growth of annual crop is needed proper variety and fertilization. The objective of this research was to get the best interaction effect among variety and dosage of organic fertilizer at year 1 immature palm. The experiment was conducted at experimental station of Agricultural Faculty, Universitas Padjadjaran from Oct 2017 to Feb. 2018, it used of split plot. Variety was a main plot with two level namely: CK5 and CB2, the dosage of organic fertilizer was a sub plot with six level namely: 0, 50, 100, 150, 200, and 250 mL of organic fertilizer. All treatments were repeated for four times. The growth and yield of chili crop were affected independently by variety or fertilizer dosage even by interaction of both. CK5 and 200 mL of fertilizer showed better on plant height, canopy width, and number of branch, whereas interaction effect of CB2 and 150 mL of fertilizer showed the best on plant growth. Independent effect of organic fertilizer of 150 mL affected on plant height, canopy width, branch number, fruits number and weight of chill crop. Independent effect of variety of CK5 showed better than of CB2 on plant height, fruit number and yield.Keywords : Intercropping, Chili Variety, Organic Fertilizer
Characteristics of The Three Cultivar Physiological Growth of Jatropha curcass L. in Two Different Locations Based on Topography Kovertina Rakhmi Indriana; Cucu Suherman; Santi Rosniawaty; Sumadi Sumadi; Dodi Sukmayana
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 28 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.28.1.31

Abstract

The purpose of this study was to reveal the sensitivity of cross-location based on topography by giving different FMA consortiums to physiological growth characteristics in three Jatropha curcass L. cultivars. Based on these objectives, the nature of this research is verification. Experiments were carried out in two different places based on topography. The trial time starts from November 2017 to May 2018. Experiments A simple randomized block design (RBD) pattern consisting of fifteen treatment combinations is repeated twice. The experimental results showed that the dose of 10 gr FMA consortium (glomus sp., Acaulospora sp., Gigaspora sp.). With the same spore density gave the best performance of Jatropha plant growth in two different locations based on topography. Observation of chlorophyll content in leaves (age 21, 63, 21 DAP in two locations), plant height (age 21, 63, 21 DAP in two locations), stem diameter (age 21, 63, 21 DAP in two locations) and number of branches secondary (age 21 DAP in two locations) there was a significant effect on the single factor of giving the FMA consortium but there was no interaction between location and treatment.
Co-Authors Agung Budi Laksono Agung Budi Laksono, Agung Budi Albert Franscyscus ANNE NURAINI Anne Nurainni Annisa Nuraisah Annisa Nurul Fatimah Apong Sandrawati Arya Hanif Nugroho Ashari, Asri Mulya Asmi Maulina Bayu Adji Purwoko Buchory, Gina Nur'aini Dewi Santika Dewi Santika Dimas Nur Annisa Dimas Nur Annisa Istiqomah Erdiansyah Rezamela Erdiansyah Rezamela Esnakelga Bernadetha Keliat Fatimah, Annisa Nurul Fetrina Oktavia Fetrina Oktavia Firma, Farin Gelsbrata Gita Natali Heri Sahrian Heri Syahrian Heri Syahrian Khomaeni Heru Rizka Santosa Iftita Fitri Indriana, Kovertina Rakhmi Intan Ratna Dewi Anjarsari Jajang Sauman Hamdani Joko Santoso M. Amrul Khoiri M. Arief Sholeh Marenda Ishak Sonjaya Sule Meddy Rachmadi Mira Ariyanti Mochamad Arief Sholeh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh, Mochamad Arief Mohamad Arief Soleh Nurainni, Anne Nurliawati, Sri Desi Pangaribuan, Ikhwan Fadli Purwoko, Bayu Adji R. Damayanthi R. Damayanthi, R. Rafli Pangestu Cokro Suyitno Ria Wulansari Rija Sudirja Rina Devnita Ruminta Ruminta Sahrian, Heri Saiful Afif Almatholib Samuel, Joshua Santi Rosniawaty Siti Zubaidah Sukmayana, Dodi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Syamsiyah Syaher Syamsiyah Syamsiyah Syfani Fitria Tati Nurmala Tati Nurmala Tati Nurmala Tati Nurmala Utari Madani Jayyidah Veronika Sri Rahayu Wulandari Vitria Puspitasari Rahadi Vitria Puspitasari Rahadi Vitria Puspitasari Rahadi Widara Almaghfirah Ismail Wieny H Rizky Wieny H Rizky, Wieny H Wulandari, Veronika Sri Rahayu Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly, Yudithia