Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Determinan dan Penatalaksanaan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Luas: Determinants and Management of Stunting in the Work Area of Padang Luas Public Health Center Septi Anggraeni; Ahmad Zacky Anwary; Eka Handayani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i1.4205

Abstract

Latar Belakang : Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat prevalensi Stunting di Provinsi Kalimantan Selatan menempati urutan ke 9 dari seluruh Provinsi di Indonesia. Puskesmas Padang Luas merupakan salah satu Puskesmas yang terletak di Kabupaten Tanah Laut dan merupakan Puskesmas dengan kasus stunting cukup tinggi dibandingkan Puskesmas lain yang ada di Kabupaten Tanah Laut. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis determinan stunting dan mengetahui gambaran penatalaksanaan stunting di wilayah kerja Puskesmas Padang Luas. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kombinasi (mix method) dengan desain sequential explanatory. Populasi dalam penelitian ini adalah balita usia 12-59 bulan, dengan sampel sebesar 92 orang. Teknik analisis data meliputi teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis data kuantitatif yaitu dengan multiple logistic regression. Hasil : Tidak ada pengaruh pendidikan ibu terhadap kejadian stunting pada balita. Ada pengaruh pendapatan keluarga, riwayat berat bayi lahir, riwayat pemberian ASI dan pola makan terhadap kejadian stunting pada balita dengan besar pengaruh secara keseluruhan sebesar 53% terhadap kejadian stunting. Penatalaksanaan stunting di wilayah kerja Puskesmas Padang luas yaitu dengan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan berupa makanan lokal, biskuit dan susu bubuk. Kesimpulan : Determinan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Padang Luas adalah pendapatan keluarga, riwayat berat bayi lahir, riwayat pemberian ASI dan pola makan. Pola makan merupakan variabel yang mempunyai pengaruh terbesar dengan besar pengaruh 16,6.
EVALUASI PROGRAM HOME CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARBARU SELATAN KOTA BANJARBARU Ayudiya Meisya Putri; Ahmad Zacky Anwary; Asrinawaty Asrinawaty; Siska Dhewi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57291

Abstract

Program home care di Puskesmas Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru, merupakan inovasi pelayanan kesehatan yang dilatarbelakangi oleh keterbatasan akses masyarakat, khususnya lansia dan pasien kronis, dalam menjangkau fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi program tersebut menggunakan pendekatan CIPP (context, input, process, product) guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesesuaian pelaksanaan, kesiapan sumber daya, proses, serta hasil program. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam. Informan terdiri atas penanggung jawab program home care tingkat kota (informan kunci), pemegang program home care Puskesmas Banjarbaru Selatan dan petugas kesehatan pelaksana (informan utama), serta pasien atau keluarga pasien (informan pendukung). Teknik pengumpulan data meliputi wawancara dan dokumentasi, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan masyarakat dan didukung oleh Peraturan Wali Kota Nomor 11 Tahun 2022. Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) sudah memadai, namun terdapat kendala pada pelatihan yang belum merata serta ketersediaan obat-obatan. Proses pelaksanaan telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), tetapi monitoring dan evaluasi dari dinas terkait belum konsisten. Program ini memberikan manfaat nyata berupa peningkatan akses dan kepuasan pasien, meskipun sosialisasi program kepada masyarakat belum optimal dan keberlanjutan program masih bergantung pada dukungan kebijakan.
Abortion According to Herbal Consume and Parity in the Private Practice Midwife Clinic of Hajjah Gunarti Banjar Baru Siska Dhewi; Ahmad Zacky Anwary Anwary
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26553/jikm.2020.11.2.160-170

Abstract

Abortion is a world problem that greatly affects the health, illness and death of pregnant women. The data of the Hj. Gunarti Clinic there were 27 cases of mothers who experienced abortion in 2018, while in 2019, there were an increase of 38 cases. The purpose of this study was to determine the correlation between maternal habits in consuming herbs during pregnancy and maternal parity with the spontaneous abortion prevalence. The research design used is case control, with a ratio of 1:1. There were 38 samples as a cases group and 38 control group samples. The study was conducted at the Private Practice Midwife Clinic of Hj. Gunarti Banjarbaru city, South Kalimantan Province in April to June 2020. The results of the study showed a significant correlation between the habit of consuming herbal medicine with the abortion cases, that mothers with the habit of consuming herbal during pregnancy had a 3.58 times greater risk of having abortion compared to women who did not consume herbal during pregnancy (OR = 3.58, 95% CI: 1.267-10.143, p value = 0.026), and there is a significant correlation between parity and the abortion cases, mothers with high-risk parity (parity> 3) have a risk of 2.95 times greater abortion than mothers with low-risk parity levels ( OR = 2.95, 95% CI: 1.159-7.503, p value = 0.039). It is recommended for health workers to be more active in socializing to the pregnant women not to consume any herbal medicine carelessly, especially those who do not have permit from the drug and food regulatory agencies, so as to avoid the occurrence of unwanted abortion. In addition to that it also further improves the achievements of the family planning program to be able to limit the number of maternal pregnancies in the community.