Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Analisis Temporal Dampak Pandemi Terhadap Pendapatan Pedagang Buah Jeruk di Pasar Gede Kota Surakarta Taufiq Randi Ismail; Kusnandar Kusnandar; Erlyna Wida Riptanti
Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi Vol 24, No 2 (2023): Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi
Publisher : Agribusiness Department, Faculty of Agriculture, UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jdse.v24i2.9867

Abstract

Penelitian bertujuan menganalis dampak sebelum dan selama pandemi covid-19 terhadap pendapatan pedagang buah jeruk di Pasar Gede Kota Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang dilaksanakan di Pasar Gede Kota Surakarta dengan metode purposive. Jumlah responden ditentukan dengan metode sensus yang berjumlah 32 pedagang. Analisis data yang digunakan yaitu analisis keuntungan, uji asumsi klasik, dan uji data berpasangan (paired t-test). Hasil penelitian menunjukan bahwa pandemi covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap pendapatan pedagang buah jeruk di Pasar Gede Kota Surakarta dengan penurunan rata-rata penjualan 33%. Penurunan pendapatan disebabkan oleh pola permintaan konsumen dan omzet pedagang yang turun akibat kebijakan pemerintah seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pembatasan Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
RISIKO INISIASI MENYUSU DINI DAN PRAKTEK ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK 6-24 BULAN (EARLY BREASTFEEDING INITIATION AND EXCLUSIVE BREASTFEEDING AS RISK FACTORS OF STUNTING CHILDREN 6-24 MONTHS-OLD) M Rizal Permadi; Diffah Hanim; Kusnandar Kusnandar; Dono Indarto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 1 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i1.5965.9-14

Abstract

ABSTRACTSome of causes of stunting are the deferment of early breastfeeding initiation and the administration of the non-exclusive breastfeeding. The objective of this study was to elaborate relationship of early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding administration history to the stunting. This sudy used the observational analytical research method with the cross-sectional design. Its subjects were 33 stunting and 77 non-stunting children aged 6-24 months in Boyolali Regency. Data was analyzed by using the chi-square test and multiple logistic regression analysis. The stunting children who got the early breastfeeding initiation were 14, and those who did not get the early breastfeeding initiation were 19. The stunting children who got the exclusive breastfeeding were 4 and those who did not get the exclusive breastfeeding were 29. Early breastfeeding initiation and exclusive breastfeeding had a significant correlation with the stunting as indicated by the p-value <0.05. The children who did not get the early breastfeeding initiation have the possibility of 3.69 times higher to suffer from stunting than those who got the early breastfeeding initiation. In addition, the children who did not get the exclusive breastfeeding have the possibility of 9.5 times higher to suffer from stunting than those who got the exclusive breastfeeding. Therefore, nutrition education to the gestational mothers on the importance of exclusive breastfeeding administration is required.ABSTRAK Penyebab masalah stunting antara lain akibat dari penundaan inisiasi menyusu dini (IMD), dan pemberian air susu ibu (ASI) tidak eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan IMD dan ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Penelitian observasional ini dilaksanakan di Boyolali dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Partisipan terdiri dari 33 anak stunting dan 77 anak tidak stunting berusia 6-24 bulan. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Partisipan anak stunting yang mendapatkan IMD sebanyak 14 orang dan tidak mendapatkan IMD sebanyak 19 orang. Anak stunting yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 4 orang dan yang tidak sebanyak 29 orang. Inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting (p<0,05). Anak yang tidak mendapatkan IMD memiliki kemungkinan 2,63 (1,02-6,82) kali lebih tinggi mengalami kejadian stunting, selain itu anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko mengalami kejadian stunting 7,86 (2,43-25,4) kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi kepada ibu hamil mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif.
Pengaruh Pendidikan Anemia Gizi Audio Visual dan Leaflet terhadap Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Mengkonsumsi Tablet Fe Serta Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Deddi Haryono; Diffah Hanim; Kusnandar Kusnandar
Jurnal Gizi Kesehatan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Anemia gizi merupakan masalah gizi utama di dunia termasuk Indonesia, yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Adanya prevalensi anemia pada remaja putri 22,7% menurut Kementerian Kesehatan RI (2013), remaja putri sebagai calon ibu hamil dan mengalami menstruasi setiap bulan serta pendidikan anemia gizi selama ini belum dilakukan secara terstruktur di lingkungan SLTA juga tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi tablet Fe, maka perlu dilakukan pendidikan anemia gizi terkait pengetahuan dan perilaku mengkonsumsi tablet Fe serta pemeriksaan kadar Hemoglobin. Tujuan  penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pendidikan anemia gizi audio visual dan atau tanpa leaflet terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku mengkonsumsi tablet Fe serta kadar hemoglobin pada remaja putri di Kota Madiun.Metode : eksperimen semu (quasi experiment) dengan pretest posttest group design. Variabel bebas yaitu Pendidikan Anemia Gizi Audio Visual serta Pendidikan Anemia Gizi Audio Visual dan leaflet. Variabel terikat yaitu Tingkat  Pengetahuan Tentang Anemia, Perilaku Mengkonsumsi Tablet Fe dan Asupan Gizi Remaja Putri. Uji statistik paired t-test untuk mengetahui perbedaan pengetahuan  dan perilaku serta kadar hemoglobin sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada kelompok media LCD dengan dan tanpa leaflet (pada kelompok perlakuan yang sama) dan uji independent t-test untuk mengetahui perbedaan pengaruh pendidikan dengan media LCD dan atau tanpa leaflet terhadap pengetahuan dan perilaku serta kadar hemoglobin (pada kedua kelompok perlakuan).Hasil Penelitian : 1). Terdapat pengaruh pendidikan anemia gizi audio visual tanpa leaflet terhadap tingkat pengetahuan (p = 0,000), perilaku minum tablet Fe (p = 0,012) dan asupan protein makanan (p = 0,001); 2). Terdapat pengaruh pendidikan anemia gizi audio visual dengan leaflet terhadap tingkat pengetahuan (p = 0,000), perilaku minum tablet Fe (p = 0,010) dan asupan protein (p = 0,008) serta asupan Fe (p = 0,006); 3). Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan (p = 0,005) responden pada pendidikan anemia gizi audio visual tanpa leaflet dibandingkan dengan menggunakan leaflet.Kesimpulan : Terdapat pengaruh pendidikan anemia gizi audio visual tanpa atau dengan leaflet dalam meningkatkan pengetahuan anemia gizi pada remaja putri, perilaku minum tablet Fe dan asupan protein. Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan responden pada pendidikan anemia gizi audio visual dibandingkan dengan pada pendidikan anemia gizi audio visual dengan leaflet. Kata kunci : pendidikan anemia gizi audio visual, tingkat pengetahuan, perilaku minum tablet Fe, asupan protein, asupan Fe dan kadar hemoglobin
Pengaruh Pendidikan Gizi Terhadap Aktivitas Fisik, Asupan Energi dan Indeks Massa Tubuh Pada Mahasiswa dengan Kelebihan Berat Badan Dwi Ayu Lestari; Bhisma Murti; Kusnandar Kusnandar
Jurnal Gizi Kesehatan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan gizi secara penyuluhan dan leaflet terhadap aktivitas fisik, asupan energi dan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada mahasiswa dengan kelebihan berat badan.Metode: penelitian ini adalah  eksperimen dengan Randomized Controlled Trial (RCT). Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.HAMKA dengan kelebihan berat badan, jumlah sampel 50 orang. Pembagian kelompok intervensi dengan cara random sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner antropometri, aktivitas fisik, food recall.Analisis data menggunakan Independent Sample T-Test dan regresi linier berganda.Hasil: Terdapat pengaruh signifikan antara pendidikan gizi terhadap aktivitas fisik (b=0,07;CI 95%; antara 0,01 hingga 0,13; p=0,027). Ada pengaruh antara pendidikan gizi terhadap asupan energi (b=-1,47; CI 95% antara -1,56 hingga 4,51; p=0,334), asupan lemak (b=-2,79;CI 95% antara -3,92 hingga 9,50; p=0,190) dan indeks massa tubuh (b=0,88; CI 95% antara -2,90 hingga 1,14; p=0,125), tetapi pengaruhnya secara statistik tidak signifikan pada mahasiswa dengan kelebihan berat badan.Tidak ada perbedaan peningkatan aktivitas fisik yang bermakna (p=0.078) sesudah pendidikan gizi antara kelompok penyuluhan dan kelompok leaflet. Tidak ada perbedaan penurunan asupan energi (p=0.164) sesudah pendidikan gizi antara kelompok penyuluhan dan kelompok leaflet. Tidak ada perbedaan penurunan asupan lemak yang bermakna (p=0.238) sesudah pendidikan gizi antara kelompok penyuluhan dan kelompok leaflet. Tidak ada perbedaan penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang bermakna (p=0.561) sesudah pendidikan gizi antara kelompok penyuluhan dan kelompok leaflet.Kesimpulan : Pendidikan gizi secara penyuluhan dan leaflet efektif terhadap peningkatan aktivitas fisik, tetapi pendidikan Gizi belum efektif terhadap penurunan asupan energi dan penurunan indeks massa tubuh pada mahasiswa dengan kelebihan berat badan. Kata Kunci : Kelebihan Berat Badan, Aktivitas Fisik, Asupan Energi, IMT, Pendidikan Gizi.
Technical Efficiency Analysis of Shallot Farming in Magetan Regency, Indonesia Herni Kartikawati; Kusnandar Kusnandar; Fanny Widadie
Jambura Agribusiness Journal VOLUME 6, ISSUE 2, 2025: JANUARY-JUNE
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37046/jaj.v6i2.33590

Abstract

Technical efficiency is a crucial aspect of shallot production in Indonesia, yet comprehensive research analyzing the technical efficiency of shallot farmers in Magetan Regency remains limited. This study aims to measure the technical efficiency levels of shallot farming in Magetan Regency, identify the influencing factors, and provide relevant recommendations. This research contributes to the literature by providing the first comprehensive analysis of technical efficiency in Magetan Regency's unique highland-lowland agricultural context, offering evidence-based policy recommendations for sustainable shallot production intensification.The research method employed was a survey with a sample of 125 shallot farmers selected through a multistage random sampling technique. Data analysis utilized the Cobb-Douglas Stochastic Frontier production function with Maximum Likelihood Estimation (MLE), and technical efficiency was measured by comparing actual output to potential output. The results showed that the average technical efficiency of farmers reached 0.757, with 80% of farmers classified as efficient (≥ 0.7). Factors with a significant impact on production included the use of urea, labor, and seeds, which had a positive influence, while land area and organic fertilizer had a negative effect. These findings indicate inefficiencies in some production inputs, particularly in land management and the use of organic fertilizers. Optimizing fertilizer application, enhancing labor skills, and selecting quality seeds are strategic steps to improve technical efficiency. The findings have direct policy implications for agricultural extension programs, input subsidy allocation, and farmer training initiatives in Indonesia's shallot production centers.
Fast Food, Fiber Intake, Sleep Duration, and Physical Activity as Predictors of Excess Weight in Surakarta Adolescents Pujiyati Pujiyati; Kusnandar Kusnandar; Anik Lestari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 5 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i5.2224

Abstract

Overweight among adolescents results from an energy imbalance between caloric intake and energy expenditure. The World Health Organization (WHO) has declared obesity a global epidemic, with approximately 28.5% of Indonesian adolescents reported to have excess body mass index (BMI). This study aimed to analyze the association between fast food consumption frequency, dietary fiber intake, sleep duration, and physical activity with the severity of excess weight status (overweight vs. obesity) among adolescents aged 16–18 years in Surakarta, Indonesia. This cross-sectional study involved 100 respondents with excess weight. Data were collected using a Food Frequency Questionnaire (FFQ), Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), Sleep Duration Questionnaire (STQ), and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), with nutritional status determined through anthropometric measurements. The FFQ and SQ-FFQ had been previously validated with a Pearson correlation coefficient r > 0.6 and reliability coefficient (Cronbach's alpha) > 0.7. The STQ was validated with r > 0.6 and Cronbach's alpha > 0.8, while the IPAQ has been internationally validated and widely used across studies. Nutritional status was determined through anthropometric measurements.  Data analysis included chi-square tests and binary logistic regression. Of 100 respondents, 56% were classified as overweight and 44% as obese. Chi-square analysis revealed significant associations between fast food consumption frequency (p = 0.020), dietary fiber intake (p < 0.001), and sleep duration (p = 0.013) with the severity of excess weight status, while physical activity showed no significant association (p = 0.912). Binary logistic regression identified low dietary fiber intake as the most dominant risk factor (OR = 29.034; 95% CI = 6.216–135.605; p < 0.001), followed by low fast food consumption frequency (OR = 7.941; 95% CI = 1.447–43.579; p = 0.017). Low dietary fiber intake is the most dominant risk factor for the severity of excess weight status among adolescents.