Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Teras Jurnal

KAJIAN AWAL PERENCANAAN LENTUR JEMBATAN LALU LINTAS RINGAN MENGGUNAKAN GELAGAR FERRO FOAM CONCRETE syarifah asria nanda
TERAS JURNAL Vol 6, No 1 (2016): Volume 6 Nomor 1 (2016), Teras Jurnal, Vol 6 No 1, Maret 2016
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.941 KB) | DOI: 10.29103/tj.v6i1.75

Abstract

Abstrack: Umumnya gelagar terbuat dari beton bertulang yang relatif berat, yang dalam pelaksanaannya membutuhkan cetakan (bekisting) dan penyokong yang relatif banyak untuk menahan beban selama pelaksanaan. Untuk mengatasi hal ini digunakan material ferro foam concrete dengan bentuk profil I sebagai gelagar.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besarnya kapasitas daya dukung yang timbul berdasarkan variasi tinggi gelagar untuk bentang-bentang pendek. Variasi tinggi gelagar yang ditinjau adalah 150 mm, 200 mm dan 300 mm. Bentang-bentang yang akan ditinjau yaitu 1,5 meter, 2 meter, 2,5 meter, 3 meter, 3,5 meter, 4 meter, 5 meter, dan 6 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa momen nominal lebih besar dari momen ultimit untuk panjang bentang maksimum 2 meter pada tipe jembatan lalu lintas ringan. Nilai momen nominal tahanan (ФMn) untuk gelagar ukuran 15x20 cm diperoleh ФMn sebesar 1,1 ton, ukuran 20x20 cm diperoleh ФMn sebesar 1.6 ton, dan ukuran 30x20 cm diperoleh ФMn sebesar 2.8 ton. Besar dimensi gelagar juga mempengaruhi besarnya lendutan, semakin tinggi gelagar maka semakin kecil lendutannya.Kata Kunci : Profil I, ferro foam concrete
PENGARUH SUBSTITUSI PASIR POZZOLAN SEBAGAI AGREGAT HALUS TERHADAP KUAT TEKAN BETON PASCA BAKAR DENGAN DAN TANPA PERENDAMAN nanda, syarifah asria; Sarana, David; Yaqin, M. Zainul
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 8 No. 2 (2018): Vol 8 No 2 September 2018
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1461.992 KB) | DOI: 10.29103/tj.v8i2.162

Abstract

Salah satu kegagalan pada konstruksi beton adalah saat terjadi kebakaran pada konstruksi tersebut, hal ini mempengaruhi kualitas/kekuatan struktur beton. Beton mutu tinggi merupakan beton dengan kuat tekan lebih besar dari 41,4 Mpa. Pasir pozzolan dihasilkan dari alam yaitu dari hasil sedimentasi gunung berapi yang mengandung senyawa silika dan alumina seperti yang terkandung di dalam semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar mutu kuat tekan beton pasca bakar dengan dan tanpa perendaman. Obyek dalam penelitian ini adalah beton segar menggunakan pasir pozzolan 10% sebagai pengganti sebagian agregat halus, dan menggunakan superplasticizer1,5% dari berat semen. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 50 buah, 25 sampel Beton Normal dan 25 sampel Beton Pozzolan. Pengujian kuat tekan untuk beton normal dan pasca bakar tanpa perendaman dilakukan pada umur 28 hari, sedangkan pada beton pasca bakar dengan perendaman dilakukan setelah 42 hari perendaman. Dari hasil penelitian diperoleh kuat tekan beton optimum yang mengunakan substitusi pasir pozzolan pasca bakar 200° C dengan perendaman sebesar 45,10 Mpa, sedangkan mutu beton yang terendah terdapat pada beton pasca bakar 400° C tanpa perendaman sebesar 31,97 Mpa. Penggunaan substitusi pasir pozzolan sebagai agregat halus terhadap beton pasca bakar dengan dan tanpa perendaman dapat meningkatkan mutu beton yang dibakar dengan suhu 200°C dan 400°C dibandingkan dengan beton normal pada perlakuan yang sama. Kata Kunci : Pozzolan, Kuat Tekan Beton, Pasca Bakar, Perendaman
Kajian Kuat Tekan Beton Beragregat Halus Pasir Pantai Pasca Bakar Dengan Variasi Waktu Water Curing Nanda, Syarifah Asria; emi, maulani; Chandra, Yovi
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 12 No. 2 (2022): Volume 12 Nomor 2, September 2022
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v12i2.671

Abstract

Abstrak Material beton salah satu bahan penyusunnya adalah pasir (agregat halus). Pasir pantai sebagai bahan penyusun beton menjadi pilihan oleh masyarakat pesisir. Kebakaran meninggalkan kekhawatiran akan struktur beton yang mengakibatkan penurunan terhadap kekuatan beton. Untuk menggembalikan kekuatan beton pasca bakar perlu dilakukan proses pemulihan. Penelitian menggunakan pasir pantai sebagai pengganti agregat halus pada beton yaitu mengetahui besar kuat tekan untuk beton beragregat pasir pantai pasca bakar dan metode waktu water curing. Penelitian dilakukan di Laboratorium dengan metode eksperimental. Benda uji dibuat 15 sampel berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Pengujian kuat tekan beton dengan waktu 28 hari tanpa pembakaran, pasca bakar 350°C, dan pasca bakar 350°C dengan water curing pada umur 7, 14 dan 28 hari. Hasil pengujian kuat tekan untuk beton beragregat halus pasir pantai sebesar 17,90 Mpa dan pasca bakar 350°C sebesar 10.41 Mpa. Perlakuan beton pasca bakar 350°C beragregat halus pasir pantai dengan water curring umur 7,14 dan 28 hari berturut-turut adalah 12,20 Mpa, 13,69 Mpa, dan 14,89 Mpa. Pemulihan beton pasca bakar 350°C dengan water curing 28 hari menunjukkan kenaikan kuat tekan beton yang maksimal bahwa pengaruh perawatan (curing) pada beton pasca pembakaran sangat mempengaruhi pengembalian kuat tekan beton beragregat halus pasir pantai. Kata kunci: kuat tekan beton, pasca bakar, waktu water curing, pasir pantai.   Abstract One of the materials for making concrete is sand (fine aggregate). Beach sand as a material for making concrete is the choice of coastal communities. The fire left a concern for the concrete structure which resulted in a decrease in the strength of the concrete. To restore the strength of post-combustion concrete, it is necessary to carry out a recovery process. Research using beach sand as a substitute for fine aggregate in concrete is to determine the compressive strength for post-burnt aggregated beach sand and the method of water curing time. The research was conducted in a laboratory with an experimental method. The test specimens were made of 15 cylindrical samples with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm. Testing the compressive strength of concrete with a time of 28 days without burning, post-burning 350°C, and post-burning 350°C with water curing at the age of 7, 14 and 28 days. The results of the compressive strength test for fine aggregated beach sand are 17.90 Mpa and post-burnt 350°C is 10.41 Mpa. The treatment of post-burned concrete at 350°C with fine aggregated beach sand with water curring at the age of 7.14 and 28 days, respectively, was 12.20 Mpa, 13.69 Mpa, and 14.89 Mpa. Recovery of post-burned concrete at 350°C with water curing 28 days showed an increase in the maximum compressive strength of concrete that the effect of curing on post-combustion concrete greatly affects the return of the compressive strength of fine-aggregated concrete on beach sand. Keywords: compressive strength of concrete, post burn, water curing time, beach sand.
Analisis Perubahan Hidrograf Aliran Akibat Konversi Tutupan Lahan DAS Keureuto Rishaq, Alief Muhammad; Nanda, Syarifah Asria; Fadhliani, Fadhliani; Ersa, Nanda Savira; Usrina, Nura; Azra, Dio Syahlung; Budi, Rama
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 14 No. 1 (2024): Volume 14 Nomor 1, Maret 2024
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v14i1.1038

Abstract

Abstrak Perubahan tata guna lahan akibat peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan bertambahnya area pemukiman. Meningkatnya kebutuhan manusia terhadap tempat tinggal dan aktivitas lainnya menyebakan terjadinya beberapa permasalahan lingkungan semakin kompleks. Apabila keadaan ini berlangsung secara terus menerus maka menyebabkan menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap dan menampung air hujan terutama di kawasan DAS Krueng Keureuto. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar perubahan tata guna lahan terhadap perubahan hydrograph aliran pada Sub DAS Krueng Keureuto. Data yang digunakan adalah data DEMNAS dan data citra satelit landsat 8 tahun 2015 dan 2021. Berdasarkan peta tata guna lahan tahun 2015 dan 2021, terjadi penambahan luas area ladang sebesar 4,75%, pemukiman 6,34%, perkebunan 11,83%, semak belukar 5,75%, dan sungai 0,21%. Adapun area yang mengalami penurunan luas yaitu hutan sebesar 27,67% dan sawah 1,21%. Hal ini berdampak pada laju limpasan permukaan dan besarnya debit aliran sungai yang terpantau pada outlet DAS Krueng Keureuto. Kata kunci: tata guna lahan, daerah aliran sungai, keureuto   Abstract Increasing human needs for housing and other activities have resulted in several complex environmental problems, such as a decrease in the soil capacity to absorb and hold rainwater, especially in the Krueng Keureuto watershed area. The aim of this research is to determine how much land use changes have affected changes in the flow hydrograph in the Krueng Keureuto Sub-watershed. The data used is DEMNAS data and Landsat 8 satellite image data for 2015 and 2021. Based on the 2015 and 2021 land use maps, there has been an increase in the area of fields (4.75%), residential (6.34%), plantations (11.83%), bushes (5.75%), and rivers (0.21%). Meanwhile, the area that experienced a decrease was forest (27.67%) and rice fields (1.21%). This has an impact on the rate of surface runoff and the magnitude of river flow discharge monitored at the outlet of the Krueng Keureuto watershed. Keywords: land use change, watershed, keureuto