Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

STUDI PENDAHULUAN : INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK DARI EKSPLAN DAUN Echinaceae purpurea Ibrahim, Meynarti Sari Dewi; Kristina, N. Nova; Bermawie, Nurliani
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 15, No 2 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v15n2.2004.%p

Abstract

Echinaceae is an introduced medicinal plant used to improve immune system of the body. Lately, interest on Echinaceae increased, however, good plant material for development is limited. One method to multiply plant material is the in vitro culture, so that research and development especially in vitro multiplication is required. The aim of the experiment is to procure a medium for the induction of embryonic callus and the technique of regeneration. The experiment is conducted at the Laboratory of Breeding and Genetic Resources, ISMECRI from January to December 2002, consisted of 2 steps, namely(1). Embryonic callus induction, (2). Callus regeneration. In the first step, explants were transferred into MS medium enrich with BA 0,1 mg/l + 2,4 D 0,5 mg/l and a combination medium of MS and LS medium supplemented with glutamine + BA (0,1 mg/l; 0,2 mg/l) + 2,4 D (0,5mg/l ; 1 mg/l). In the second step, regeneration was conducted on medium MS combined with LS + BA (0 mg/l + 0,2 mg/l + 0,4 mg/l), MS combined with LS + Kinetine (0,2 mg/l; 0,4 mg/l). The results showed that embryonic callus was obtained from culture of leaf explants on MS medium combined with LS. The best treatment for step regeneration was MS combined LS + BA 0,4 mg/l for shoot formation while MS combined LS + kinetine 0,4 mg/l induced root formation. 
KERAGAAN SIFAT MORFOLOGI, HASIL DAN MUTU PLASMA NUTFAH PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban.) Bermawie, Nurliani; Purwiyanti, Susi; Mardiana, Mardiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 1 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n1.2008.%p

Abstract

Karakterisasi dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan data karakter morfologi, hasil dan mutu dari 16 nomor aksesi pegagan yang berasal dari Sumatra, Jawa, Bali dan Papua. Penelitian dilakukan di KP. Cicurug, Sukabumi pada ketinggian 550 m dpl, sejak Januari sampai Desember 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak ke-lompok dengan 16 perlakuan dan tiga ulangan, jarak tanam 20 cm x 20 cm, populasi 100 tanaman/petak. Kultur teknis mengacu kepada SOP (Standar Operasional Prosedur), dengan dosis pupuk kandang 20 ton/ha, Urea SP-36 dan KCl masing-masing 200 kg/ha. Pengamat-an dilakukan pada 10 tanaman per petak pada saat panen (umur 3,5 BST) terhadap sifat morfologi kuantitatif dan kualitatif, hasil herba basah dan kering serta mutu. Perbedaan antar aksesi dianalisis, menggunakan Uji Jarak Ber-ganda Duncan (UJBD). Hasil analisis statistik menunjukkan ada keragaman pada sifat mor-fologi kualitatif dan kuantitatif, antara lain ukuran, warna dan bentuk daun, jumlah, ukur-an dan warna geragih, jumlah bunga per gera-gih, panjang dan warna buku, warna batang, berat segar dan berat kering. Aksesi CASI 002 memiliki tangkai dan daun lebih besar dari aksesi lainnya. Sebaliknya aksesi dari Irian Jaya Barat memiliki daun kecil, pendek dan sangat berbeda dari aksesi lainnya. Bobot ba-sah per tanaman dan produktivitas segar ter-tinggi diperoleh dari aksesi CASI 011 dan CASI 016, sedangkan bobot kering per tanam-an dan produktivitas terna kering tertinggi di-peroleh dari aksesi CASI 011. Kadar asiatiko-sida berkisar antara 0,15-1,49 %. Senyawa alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, steroid dan glikosida terdeteksi sangat kuat (4+), sedang-kan triterpenoid lemah sampai agak kuat (1+-2+). Informasi yang dihasilkan diharapkan da-pat dijadikan sebagai bahan pertimbangan da-lam memilih bahan pemuliaan untuk meng-hasilkan varietas unggul. 
Callus induction and proliferation of Centella asiatica L. generated from leaves and petioles in the presence of Dicamba and BAP Rahayu, Suci; Saptadi, Darmawan; Azmi, Chotimatul; Kusumanegara, Kusumawaty; Handayani, Tri; Roostika, Ika; Bermawie, Nurliani; Maulana, Haris
Kultivasi Vol 22, No 3 (2023): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v22i3.50581

Abstract

Centella's need for industrial raw materials is high as a medicinal plant. These needs can be met through rapid multiplication using tissue culture techniques. In this study, induction and proliferation for a callus of centella cv. Castina 3 was conducted in the MS basal medium plus 4 mgL-1 Dicamba withand enriched with 7 concentrations of BAP (0, 0.1, 0.3, 0.5, 0.7, 0.9, and 1.1 mgL-1). Two kinds of explant were used, i.e., leaf and petiole. The results revealed that the addition of BAP in MS plus Dicamba medim stimulated better and produced a higher callus growth rate, both from leaf and petiole explants, than that media with Dicamba alone. Furthermore, 4 mgL-1 Dicamba + 1.1 mgL-1 BAP had a friable callus in the induction phase and a friable-compact callus in the proliferation phase. From this finding, it can be considered to use a combination of 4 mgL-1 Dicamba with 1.1 mgL-1 BAP in callus induction and proliferation for Centella rapid multiplication. 
Floral Morphological Variation in Black Pepper (Piper nigrum L.) Varieties and Hybrid Lines Wahyuni, Sri; Susilowati, Mariana; Sirait, Nursalam; Bermawie, Nurliani
PLANTA TROPIKA Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Department of Agrotechnology, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.v12i2.15970

Abstract

The inter-variety crossing is a promising approach to increase black pepper production. However, successful hybridization hinges on floral characteristics. This study investigated the floral morphology of diverse pepper varieties and their hybrid offspring. Eighteen genotypes, including parent varieties and F1 hybrids, were cultivated in pots under greenhouse conditions at the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, Bogor. Flower and fruit traits were observed.  Results indicated variability in spike morphology. While most ripe spikes were yellowish-green, exceptions included LH 20-1 and LH 22-1. Ciinten and LH 4-5 displayed superior spike length and fruit set, contrasting with the shorter, less productive spikes of 20-1, 22-1, and 455-N2-97.  Stigma receptivity and another dehiscence coincided in Ciinten, N2BK, LH 6-2, and LH 4-5, simplifying the hybridization process. Conversely, earlier stigma receptivity in Petaling 1, Petaling 2, Natar 1, Natar 2, LH 44-9, LH 20-1, and LH 22-1 facilitated castration procedures. These findings offer valuable insights for optimizing pepper breeding programs.
GAMBARAN HISTOPATOLOGIS DAN KLINIS AYAM HERBAL SETELAH DIUJI TANTANG DENGAN VIRUS AVIAN INFLUENZA H5N1 Setiyono, Agus; Bermawie, Nurliani
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1252

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan histopatologis dan klinis ayam herbal setelah ditantang dengan virus avian influenza (AI) H5N1. Seluruh ayam dibagi atas 3 kelompok perlakuan Kelompok kontrol, Kelompok I (I-1, I-2, dan I-3), dan Kelompok II (II-1, II-2, dan II-3). Masing-masing kelompok terdiri atas 15 ekor ayam sehingga jumlah seluruh ayam yang digunakan adalah 105 ekor. Ayam Kelompok I dan II masing-masing diberi herbal I (sambiloto, temu ireng, adas bintang, sirih merah) dan herbal II (sambiloto, adas bintang, sirih merah) selama 3 minggu sebelum ditantang virus. Ayam kelompok perlakuan secara keseluruhan tidak ada yang hidup hingga hari ke-8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 ekor ayam KII-3 (46,7%) masih hidup sampai hari ke-4 setelah uji tantang virus. Perubahan histopatologis sistem pernafasan ayam kelompok perlakuan menunjukkan pembendungan, edema, dan kerusakan sel epitel mukosa. Sistem limfoid juga menunjukkan pembendungan, deplesi folikel limfoid, dan fibrosis limpa dan bursa Fabrisius. Analisis imunohistokimia mengindikasikan partikel virus AI telah menyebar di organ atau jaringan sistem pernafasan dan sistem pertahanan.
Pengaruh Teknik Ekstraksi Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) dan Daun Jambu Biji (Psidium guajava) terhadap Aktivitas Antioksidan Br Sembiring, Bagem; Bermawie, Nurliani; Rizal, Molide; Kartikawati, Andriana
Jurnal Jamu Indonesia Vol. 5 No. 1 (2020): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Tropical Biopharmaca Research Center, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jji.v5i1.184

Abstract

Daun ubi jalar ungu dan daun jambu biji dikenal sebagai tanaman obat dan telah banyak dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan. Kandungan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan dipengaruhi oleh mutu bahan baku dan teknik ekstraksi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan teknik ekstraksi terstandar daun ubi jalar ungu dan daun jambu biji Australia untuk menghasilkan aktivitas antioksidan yang tinggi. Tahap kegiatan meliputi penanganan bahan baku, analisis mutu simplisia, ekstraksi, dan pengujian aktivitas antioksidan. Kegiatan menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi pelarut etanol (50, 70 dan 96%) dan lama ekstraksi (2, 3, 4 jam). Parameter yang diamati yaitu mutu simplisia, rendemen ekstrak dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian diperoleh kandungan flavonoid simplisia daun ubi jalar ungu sebesar 1,30% dan daun jambu biji Australia 2,72%. Rendemen ekstrak berkisar antara 8,4-68,2% dan 21,2-53,8%. Nilai IC50 untuk aktivitas antioksidan terkecil ekstrak daun ubi jalar ungu yaitu 33,34 bpj hasil ekstraksi dengan etanol 70% selama 2 jam dan daun jambu biji Australia nilainya 10,10 bpj hasil ekstraksi dengan pelarut etanol 96% selama 3 jam. Aktivitas antioksidan ekstrak daun jambu biji Australia lebih kuat dibandingkan ekstrak daun ubi jalar ungu. Konsentrasi pelarut berpengaruh terhadap rendemen ekstrak dan kekuatan aktivitas antioksidan.