Sofyan Zaman
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Jalan Meranti, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia.

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Manajemen Pemanenan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Langga Payung Estate, Sumatera Utara Hutagalung, Musvi; Zaman, Sofyan
Buletin Agrohorti Vol. 13 No. 2 (2025): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v13i2.65377

Abstract

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia, karena berperan signifikan sebagai penyumbang devisa negara terbesar. Permintaan pasar kelapa sawit terus meningkat, sehingga penting untuk meningkatkan produksi tanaman. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki cara budi daya, terutama dengan melakukan pemanenan yang baik. Penelitian bertujuan menganalisis aspek dalam pemanenan kelapa sawit. Pengamatan dan pengumpulan data dilakukan dengan menghitung dan mengamati AKP, taksasi produksi, transportasi, kapasitas, teknis, premi, mutu panen, dan sarana prasarana. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji t-student dengan taraf 5%. Pembelajaran aspek teknis meliputi kegiatan pengendalian gulma, pemupukan, penunasan, dan pemanenan. Sistem panen yang digunakan yaitu sistem ancak giring. Rotasi panen dilakukan dengan sistem 6/7, dengan rata – rata frekuensi 3.59 kali dalam waktu 4 bulan. Persentase AKP yang didapatkan sebesar 18% dan taksasi produksi sebesar 10.169 kg. Evaluasi panen yang diamati yaitu mutu buah, mutu ancak, basis, premi, dan denda panen. Mutu buah yang dipanen cukup baik, serta kehilangan hasil sudah memenuhi standar. Kata kunci: mutu buah, sistem panen, taksasi produksi, transportasi panen
Keefektifan Bioherbisida Berbahan Baku Teki (Cyperus rotundus L.) Formulasi Granul untuk Pengendalian Gulma pada Padi Sawah Sistem Tabela Sofiyah, Maratus; Chozin, M.A.; Zaman, Sofyan
Buletin Agrohorti Vol. 13 No. 2 (2025): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v13i2.65586

Abstract

Padi merupakan tanaman pangan utama yang menghadapi kendala budidaya, seperti keterbatasan tenaga kerja, mahalnya sarana produksi, dan berkurangnya lahan serta air. Sistem tanam benih langsung (tabela) dinilai lebih efisien, namun meningkatkan populasi gulma. Pengendalian ramah lingkungan diperlukan, dan bioherbisida dari umbi teki (Cyperus rotundus L.) berpotensi menekan pertumbuhan gulma melalui mekanisme alelopati. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh bioherbisida berbahan baku umbi teki pada gulma dalam pertanaman padi sawah sistem tabela. Terdapat tujuh perlakuan dalam penelitian ini diantaranya bioherbisida formulasi granul berbahan baku umbi teki dengan dosis 22.5 kg ha-1 , 45 kg ha-1, 67.5 kg ha-1, dan 90 kg ha-1, tanpa pengendalian (kontrol), pengendalian manual, dan herbisida tiobenkarb dosis 15 kg ha-1 . Analisis data dilakukan menggunakan uji F pada taraf nyata α = 5% dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bioherbisida umbi teki dosis 67.5 – 90 kg ha-1 secara efektif mampu menekan pertumbuhan gulma pada pertanaman padi sawah tabela hingga 6 MST. Aplikasi bioherbisida umbi teki dosis 22.5 – 90 kg ha-1 mampu menghambat pertumbuhan gulma dominan yakni gulma daun lebar Sphenoclea zeylanica dan Ludwigia octovalvis tanpa menimbulkan gejala keracunan pada tanaman padi. Berdasarkan keefektifannya dalam mengendalikan gulma dan pengaruhnya terhadap hasil panen padi, dosis terbaik adalah 90 kg ha-1. Kata Kunci: alelopati, dosis, herbisida nabati, Oryza sativa, toksisitas
Light Intensities Affect Canopy Architecture and Fruit Characteristics of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.): Intensitas Cahaya Mempengaruhi Arsitektur Kanopi dan Karakteristik Buah Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Febrianto, Miftakhur Rizki Hidayat; Santosa, Edi; Susila, Anas Dinurrohman; Zaman, Sofyan; Widodo, Winarso Drajad; Hapsari, Dhika Prita
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.1.23-32

Abstract

Pemanenan cabai rawit secara mekanis sedang berkembang, namun faktor-faktor yang mempengaruhi arsitektur kanopi dan karakteristik buah masih kurang. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh intensitas naungan terhadap arsitektur kanopi dan posisi buah pada cabai rawit untuk mendukung pengembangan alat panen cerdas. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, IPB pada bulan September 2021 sampai Maret 2022. Percobaan menggunakan rancangan bertingkat dengan tingkat naungan (tanpa naungan, 25%, 30%, 50%, 60%, 90%, dan 100%) sebagai petak utama dan waktu pemberian naungan (4, 6, 8, dan 10 minggu setelah tanam) sebagai sub-plot. Arsitektur kanopi dan posisi buah dipengaruhi oleh tingkat naungan dan waktu penerapannya. Tinggi tanaman bertambah dan kanopi melebar seiring bertambahnya tingkat naungan hingga 50%. Oleh karena itu, tingkat naungan harus dipertimbangkan dalam pengembangan metodologi pemanenan cerdas. Kata kunci: cabai rawit, perubahan iklim, tenaga kerja, intensitas cahaya rendah, arsitektur tanaman
Kebutuhan Air Irigasi Empat Varietas Bawang Merah (Allium cepa L.) pada Musim Kering: Irrigation Water Requirement of Four Shallot Varieties (Allium cepa L.) in Dry Season Aryani, Nabila Syarfina; Santosa, Edi; Zaman, Sofyan; Hapsari, Dhika Prita
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.77-83

Abstract

Upaya mengembangkan tanaman bawang merah di lahan kering sering menghadapi masalah keterbatasan air. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh varietas bawang merah pada pertumbuhan, hasil, dan kebutuhan air pada musim kering. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, IPB Dramaga, Bogor pada Februari-April 2023. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor tunggal yakni varietas bawang merah (Bima Brebes, Bauji, Tajuk, SS Sakato). Kebutuhan air dihitung dengan pendekatan neraca air, dan pemberian air dilakukan secara manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah tunas, daun, dan jumlah umbi, evapotranspirasi, serta kebutuhan air dipengaruhi oleh varietas. Hasil umbi secara statistik sama antar varietas yakni 10.73-13.72 ton ha-1. Varietas dikelompokkan menjadi grup Tajuk dan SS Sakato dengan kebutuhan air 2503.8-2549.3 m3 dan grup Bima Brebes sebesar 2169.7 m3 ha-1, setara dengan 4.17-4.25 mm per hari dan 3.62 mm per hari. Kebutuhan air varietas Bauji berada di antara kedua grup tersebut (2317.4 m3). Hasil penelitian dapat menjadi pedoman pengelolaan air di lahan kering atau antisipasi kekeringan dampak perubahan iklim. Kata kunci: efisiensi penggunaan air, hemat air, perubahan iklim, produktivitas
Forage Potential of Plant Species Found in Various Ecosystems in Musi Banyuasin Regency, South Sumatera, Indonesia Kanny, Putri Irene; Chozin, M.A.; Santosa, Edi; Guntoro, Dwi; Zaman, Sofyan; Suwarto, Suwarto; Kurniawati, Ani
Journal of Tropical Crop Science Vol. 9 No. 01 (2022): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jtcs.9.01.68-76

Abstract

Forage is an important component in sustainable smallholder livestock. The purpose of the study was to identify the diversity of natural plant species in various ecosystems, as well as their potential as forage. Based on our surveys of palm oil plantation, rubber plantation, and home gardens using the quadrant method, we identified approximately 50 species comprising the natural vegetation of our study area. Out of 50, we identified 39 broad-leaved species, 9 grasses (Poaceae) species, and 2 sedges (Cyperaceae) species. The palm oil plantation had 29 species dominated by Ottochloa nodosa (11.92%) and Asystasia gangetica (11.40%); 25 species were found in the rubber plantation dominated by Cynodon dactylon (28.42%) and Panicum repens (9.20%), and home gardens contained 30 species dominated by Eleusine indica (13.39%) and Ageratum conyzoides (9.60%). Among the 29 species found in the palm oil plantation, 13 were observed to have low palatability scores, and 16 species have high palatability scores. Based on their high palatability scores, the following species can be utilized as forage for Balinese cattle: Cyrtococcum acrescens, Eleusine indica, Centrosema pubescens, Paspalum conjugatum, and Sida rhombifolia.
Simpanan Biji Gulma dalam Tanah di Perkebunan Teh pada Berbagai Tahun Pangkas Santosa, Edi; Zaman, Sofyan; Puspitasari, Intan Dewi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 37 No. 1 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.257 KB) | DOI: 10.24831/jai.v37i1.1394

Abstract

Through understanding on seed bank, tea plantation manager enables to plan better weed control. The objective of the study was to identify seed bank of weeds at different ages of tea plantation after prunning. The study was conducted at Perkebunan Teh Tambaksari, Subang, Indonesia. Soil samples were collected from tea field of different pruning years (TP0-2 months after pruning, TP1-16 months after pruning, TP2- 28 months after pruning, and TP3-40 months after pruning) and then watered regularly and exposed to direct sunshine to stimulate propagule germination. Results showed that seed banks were found in all soil samples, indicated that effectiveness of weed control was low. The highest seed bank was found at TP1. Most seed bank was seed, they were Ageratum conyzoides which dominated field of TP0 (SDR 36.58%), TP1 (35.90%), TP2 (41.79%) and TP3 (24.82%), followed by Borreria latifolia with SDR values were 19.50%, 27.26%, 29.40% and 16.14%, respectively. Some species stored both vegetative and generative propagules such as Cyperus sp. and Cyperus cyperoides with SDR value 20.33 % only dominated at age of TP0. Seed bank at area of TP1 and TP2 had high value of community coefficient, i.e., 77.22%, showed both fields had high similarity. This finding implies that effective weed control increases when the control is conducted before the weeds bear seed, where mostly less than 45 days after emergence. Furthermore, thirteen weeds had no seed bank in the field, indicates that weed problem in tea plantation was composed of seed bank and weed propagules from other sites.   Key words:  Pruning year, seed bank, tea plantation, weed control
PENGARUH KONSENTRASI DAN SELANG WAKTU PEMBERIAN EFFECTIVE MICROORGANISMS 4 (EM-4) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KAPAS (Gossypium hirsutum L.) Arsyid, Moh. Amri; Chozin, M. A.; Zaman, Sofyan
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 26 No. 1 (1998): Buletin Agronomi
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1641.035 KB) | DOI: 10.24831/jai.v26i1.1592

Abstract

The objective of this experiment is to study the effect of concentration and application interval of EM4 on growth and yield of cotton. The experiment was held in KP Sindangbarang Bogor from March to August 1996, using RCD with two factors and three replications. The first factor was EM4 concentration which were 0 ml L-1  water, 5 ml L-1  water, 10 ml L-1  water, 15 ml L-1  water, and 20 ml L-1  water. The second factor was application interval which were 5, 10, and 15 days. The result shows that the concentration of 5 ml L-1  water significantly affected the vegetative growth. But in the contrary, application interval and its interaction do not give the similar effect. The generative growth were significantly affected by concentration and application interval and its interaction. The best combination for maximum cotton yield is in concentration of 5 ml L-1 water and application interval 10 days, and for maximum seeded cotton yield is 5 ml L-1 water and 15 days.
Tree-based Water Footprint Assessment on Established Oil Palm Plantation in North Sumatera, Indonesia Santosa, Edi; Stefano, Indra Mario; Gani Tarigan, Abdul Gani; Wachjar, Ade; Zaman, Sofyan; Agusta, and Herdhata
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 46 No. 1 (2018): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.473 KB) | DOI: 10.24831/jai.v46i1.13665

Abstract

ABSTRACTIn a long life cycle of oil palm plantation, sustainable water management is mandatory because irrigation is rarely applied. In order to develop water management for sustainable palm oil production, tree-based water footprint of well-established oil palm plantation was assessed. Field data were collected from February to June 2016 in Dolok Ilir managed by PTPN IV, North Sumatera, Indonesia. Additional data were obtained from interviews on the site and the surrounding estates, reports and references. Results showed that water footprint (WF) for production of fresh fruit bunch (FFB) was 510.69 m3 tonne-1 and crude palm oil (CPO) was 517.79 m3 tonne-1. Green, blue and grey water contributed 94.78%, 0.71% and 4.50% in FFB, and 93.48%, 1.66% and 4.85% in CPO productions, respectively. All green WF was calculated basen on actual value of tree evapotranspiration, therefore, the value was mostly lower than other researchs. Low amount of blue water indicates that the oil palm tree in North Sumatera extracts low amount of ground water. On the other hand, grey water for pollution dilution of fertilizers, pesticides and herbicides were high, i.e., 15.15 m3, 4.77 m3, 3.07 m3 tonne-1 FFB, respectively. It implies that reduction of grey water should be implemented in the near future through precission farming.Keywords: CPO, Elaeis guineensis, precission farming, sustainable production, water footprint
Penghambatan Pertumbuhan Gulma Commelina diffusa oleh Pemberian Ekstrak Segar Daun Mikania micrantha Zaman, Sofyan; Sudradjat; Widiastuti, Natalia Puteri
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 1 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.5 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i1.29648

Abstract

Commelina diffusa Burm. F. diketahui telah resisten terhadap beberapa jenis herbisida sehingga alternatif pengendalian gulma tersebut perlu diketahui. Mikania micrantha merupakan salah satu jenis gulma yang mengandung senyawa alelopati yang dapat menekan pertumbuhan tanaman di sekitarnya sehingga berpotensi digunakan sebagai bioherbisida. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak daun M. micrantha sebagai bioherbisida untuk menghambat pertumbuhan gulma C. diffusa. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan dan Laboratorium Pascapanen, Institut Pertanian Bogor pada bulan April-Juni 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal yaitu konsentrasi ekstrak daun M. micrantha sebesar 0.00, 0.33, 0.67, 1.00, 1.33, 1.67, dan 2.00 g bobot basah mL-1, dengan 4 ulangan. Aplikasi ekstrak daun M. micrantha mengurangi jumlah daun, meningkatkan skor toksisitas, dan meningkatkan persentase kematian gulma C. diffusa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun M. micrantha menekan pertumbuhan daun C. diffusa sampai 2 minggu setelah aplikasi (MSA). Ekstrak daun M. micrantha bersifat toksik bagi pertumbuhan C. diffusa pada 1 MSA dan menyebabkan kematian C. diffusa mulai 10-15 hari setelah aplikasi. Konsentrasi ekstrak daun M. micrantha yang menyebabkan toksisitas pada C. diffusa adalah 1.15 g mL-1. Kata kunci: bioherbisida, gulma, konsentrasi ekstrak, resisten, senyawa alelopati
Jejak Lahan Sistem Pertanian Terpadu Tanaman-Ternak di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur Zaman, Sofyan; Santosa, Edi; Karti, Panca Dewi Manuhara; Agusta, Herdhata; Muladno
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 2 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.883 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i2.30581

Abstract

Jejak lahan merupakan salah satu indikator untuk mengukur daya dukung lingkungan suatu sistem pertanian berkelanjutan. Penelitian bertujuan mengevaluasi daya dukung lingkungan sistem pertanian terpadu dan ternak melalui pendekatan jejak lahan dalam rangka membangun usaha pertanian berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada Mei-Agustus 2019 di Desa Sekaran, Bojonegoro, Jawa Timur. Data indeks ketersediaan pangan (IKP) dan indeks daya dukung pakan (IDD) diformulasikan dari laporan dan wawancara. Hasil menunjukkan IKP dan IDD tahunan dalam katagori cukup dengan nilai 3.4 dan 7.2. Jejak lahan pangan adalah 143.2 ha dan jejak lahan pakan adalah 759.1 ha yang mencakup jejak lahan pakan asal limbah pertanian tanaman pangan dan hijauan. Nilai jejak lahan total pangan-pakan yakni 759.1 ha lebih rendah daripada luas lahan tersedia untuk kegiatan agronomi yakni 1,574 ha, yang mengindikasikan kecukupan daya dukung lingkungan untuk membangun sistem pertanian berkelanjutan. Namun demikian, pada April-Mei nilai IDD < 1 yang berarti ada keterbatasan pakan untuk mendukung populasi ternak yang ada. Berdasarkan nilai IDD bulanan, populasi sapi pembibitan yang dapat ditopang adalah 713 ekor dan sapi penggemukan sebanyak 24 ekor. Populasi sapi penggemukan dapat ditingkatkan hingga 1,590-2,515 ekor dengan menambah ketersediaan pakan melalui pembuatan silase, penanaman rumput gajah dan tanaman hijauan lain yang tahan kering.