Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Mythologization of The Goddess Mazu: Readings through Spacial Setting and Activity in the Interior of Cu An Kiong Temple Triatmodjo, Suastiwi; Tsai, Ted Tsung-te; Burhan, M. Agus; Prasetya, Hanggar Budi; Budiarti, Endah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 22, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v22i2.40627

Abstract

This study aims to understand the myth of the Goddess Mazu in Lasem City, Central Java. The research was conducted by observing the interior space at Cu An Kiong (CAK), the oldest temple in Lasem City. This study uses a verbal communication approach from Rapoport (1982) and a cultural approach from Koentjaraningrat (2015) to explore human relations with their environment and explain phenomena that exist in the research object. The research found that there is an exaltation space in this Mazu temple; this space is placed on the axis of space and time, it is to see the meaning of the space that has been built is practiced by the whole community, both the Chinese and the Javanese ethnicities, in a continuous flow of time from the first time the temple was built until now, as well as providing an interpretation of the phenomenon which are actually happened in Lasem. Based on the research, it can be concluded that the exaltation space shows the mythical practice of the Goddess Mazu by the local community, both Chinese and Javanese ethnicities. The mythology of Goddess Mazu, or Mak Co, is the protector of fishermen, sailorman, and common people in Lasem.  
Lukisan Ivan Sagita “Makasih Kollwitz” (2005) dalam Sejarah Seni Lukis Modern Indonesia: Tinjauan Ikonografi dan Ikonologi M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.10

Abstract

 Penelitian ini menganalisis karya seni lukis berjudul “Makasih Kollwitz” (2005), yang dilu- kis oleh Ivan Sagita. Dengan menggunakan sejarah seni sebagai dasar pendekatan, selanjutnya pilihan teori utama yang dipakai adalah teori ikonografi dan ikonologi Erwin Panofsky. Metode penelitian sejarah meliputi, pencarian data di lapangan dan sumber-sumber pustaka, seleksi dan kritik data, analisis dan interpretasi data untuk menghasilkan sintesis, selanjutnya penyu- sunan historiografi atau laporan penelitian sejarah. Hasil penelitian ini berisi, deskripsi pra iko- nografi yang menerangkan tahap awal aspek ide tekstual, yaitu menggambarkan sosok wanita tua renta mengambang di langit, terbaring dengan beralaskan rambutnya yang memanjang melampaui tubuhnya. Nenek itu sedang dalam proses kematian. Analisis ikonografi menjelas- kan tentang tema dan konsep. Hal itu mengungkapkan tema fenomena kematian, dengan ru- jukan konsep dasar tentang kefanaan hidup dan nilai survival eksistensi kehidupan manusia. Interpretasi ikonologi menjelaskan nilai simbolis pada karya. Melalui pengalaman kejiwaan dan latar belakang sosial dan kebudayaan seniman, terungkap bahwa lukisan ini merupakan kristalisasi simbol tentang kontradiksi dalam eksistensi kehidupan manusia.   Kata kunci: Surrealisme, kematian,  kontradiksi, eksistensi
Prinsip Estetika Pakaian Cosplay Yogyakarta: Fantasi dan Ekspresi Desain Masa Kini Deni Setiawan; Timbul Haryono; M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.103

Abstract

ABSTRACTCostume, dress code, animation, comics, legends, and manga, are inseparable parts of the cosplay costume. Those parts give fantasy and digital world discourse through costume style. Its spiritual domain stands on Japanese culture by being cultured through clothing. One of them, cosplay ideo- logy, reflects the self-imaging through social communities, as an e?ort for group and self-existence. Cosplay entity bridges fantasy and real world, presents designers’ expressions through the costume designs to show. This writing will be analyzed by using the main theories based on Dewitt H. Parker point of view, in The Principles of Aesthetics, which divides principles of aesthetics into three, they are: Principle of Organic Unity, Principle of Dominant Element, and Principle of Balance. Principle of organic unity indicates that cosplay clothing is an accumulation of design elements, to refer and mark a figure. Principle of dominant element, is accentuation, or the center of interest of a cosplay clothing design. Principle of balance, see placement and setting ornamentation applied to cosplay clothing.Keywords: cosplay clothing, principles of aesthetics, costume style, YogyakartaABSTRAKPakaian, dress code, animasi, dan manga, merupakan unsur yang tidak terpisahkan dalam pakaian cosplay. Unsur-unsur tersebut merupakan wacana dunia digital dan fantasi pada dunia pakaian. Ranah spiritualnya berp?ak pada kebudayaan Jepang yang dibudayakan melalui pakaian. Ideologi cosplay salah satunya menggambarkan pencitraan diri komuni- tas sosial, sebagai usaha untuk aktualisasi diri. Entitas cosplay mampu menjembatani du- nia fantasi dan realita, yang membelenggu keinginan manusia untuk bergaya. Tulisan ini akan dianalisis dengan teori pokok berdasarkan pandangan Dewitt H. Parker, dalam The Principles of Aesthetics, yang membagi prinsip estetika menjadi tiga, yaitu: prinsip kesatu- an organik, prinsip unsur dominan, dan prinsip keseimbangan. Prinsip kesatuan organik menunjukkan, bahwa pakaian cosplay merupakan akumulasi dari unsur-unsur desain, un- tuk merujuk dan menandai tokoh. Prinsip unsur dominan, merupakan aksentuasi, atau pusat perhatian dari sebuah desain pakaian cosplay. Prinsip keseimbangan, melihat penem- patan dan pengaturan ornamentasi yang diaplikasikan pada pakaian cosplay.Kata kunci: pakaian cosplay, prinsip estetika, gaya pakaian, Yogyakarta
Ikonografi dan Ikonologi Lukisan Djoko Pekik: ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ M. Agus Burhan
PANGGUNG Vol 23 No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.137

Abstract

ABSTRACT This research talked about ‘Tuan Tanah Kawin Muda’, painted by Djoko Pekik, with art history as the basic approach and therefore using Erwin Panofsky’s iconography and iconology theory. Hi- story research method followed with field data investigation, literature data, selection and critic, ana- lysis and source interpretation purposing to get the synthesis, continue with historiography framing. The result of this research contains; Preiconography descriptions explained the early textual aspect idea, reveals communication and conflict between the two figures. Iconography analysis explained about theme and concept, it tells about the oppression through economy asset, social, and cultural. The creator thought about how to defend among the conflict. Iconology interpretation, explained the art work symbolic value. Through the psychology experience and his social also cultural background, conclude that this painting is a crystallization symbol of deprivation and defense from the suffering poor people’s right. Keywords: Social realism, social conflict, oppression symbol  ABSTRAK Penelitian ini tentang lukisan Djoko Pekik yang berjudul ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ yang dianalisis dengan pendekatan sejarah seni dan memakai teori ikonografi dan ikonolo- gi Erwin Panofsky. Metode yang dipakai adalah metode sejarah dengan langkah pencarian sumber di lapangan dan pustaka (heuristik), seleksi dan kritik, analisis dan interpretasi sumber untuk menghasilkan sintesis, dan penyusunan historiografi. Hasil penelitian ini berupa: Deskripsi pra ikonografi berisi tanggapan awal aspek tekstual, mengungkap ko- munikasi dan konflik antara dua figur. Analisis ikonografis yaitu tentang tema dan konsep penindasan kaum laki-laki pada perempuan lewat kekuasaan modal ekonomi, sosial dan kultural. Konsep dasar penciptaannya tentang konflik antara kekuasaan yang menindas dan hak yang harus dipertahankan. Interpretasi ikonologis yaitu tentang nilai simbolik yang diungkap dalam lukisan. Lewat pengalaman psikologis pelukis dengan berbagai ke- kerasan dan penderitaan, serta pandangan hidup dari latar belakang sosial dan kultural- nya, maka lukisan ini merupakan kristalisasi simbol dari perampasan dan pertahanan hak rakyat bawah yang menderita.. Kata kunci: realisme sosial, konflik sosial, simbol ketertindasan
Instalasi Eco Art Sebagai Media Kultivasi Mikroalga M. Agus Burhan; Anusapati Anusapati; Lutse Lambert Daniel Morin
PANGGUNG Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i1.1539

Abstract

Penelitian artistik ini untuk menciptakan karya seni rupa instalasi dengan prinsip eco art yang bisa difungsikan sebagai photobioreactor untuk kultivasi mikroalga. State of art permasalahan penciptaan karya, meliputi seni rupa instalasi, eco art, kultivasi mikroalga, dan photobioreactor. Tujuan penelitian artistik ini menciptakan karya seni instalasi eco art sebagai media kultivasi mikroalga. Metode penelitian artistik ini adalah practice based research, peneliti menyatu dengan objek yang dikerjakan dalam penghayatan secara timbal balik (in and through), juga harus merujuk metode penciptaan terpublikasi, sehingga tidak subjektif dan pemaparannya rinci. Metode penciptaan David Campbell sebagai rujukan, yaitu preparation, concentration, incubation, illumination, verification-production. Hasil penelitian ini berupa karya instalasi eco art yang secara teknis memenuhi syarat untuk kultivasi mikroalga. Air dengan organisme mikroalga mengalir dalam instalasi melakukan proses fotosintesis, yang bisa menghasilkan bermacam bahan senyawa, seperti senyawa karbohidrat, untuk produksi bio energi, industri farmasi, dan kosmetik. Photobioreactor ini ditampilan sebagai seni instalasi eco art dengan bentuk silinder terpilin, dalam citra artistik estetika kontemporer.Kata Kunci: Instalasi, Eco Art, Photobioreactor, Kultivasi Mikroalga
POLITIK PROPAGANDA JEPANG DAN SEJARAH KELAHIRAN TEATER MODERN INDONESIA Wibowo, Philipus Nugroho Hari; Burhan, Mukhamad Agus
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 20, No 2: September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v20i2.11193

Abstract

Kajian Ini membicarakan tentang perkembangan teater Indonesia di jaman Jepang yang identik dengan propaganda, kehadiran Jepang di Indonesia membantu peletakkan dasar teater modern Indonesia. Korelasi propaganda Jepang dengan perkembangan teater modern Indonesia menjadi permasalahan yang akan di urai pada tulisn ini.Metode yang digunakan dalam melakukan kajian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Pendudukan Jepang di Indonesia dengan semangat propagandanya melahirkan kaum-kaum intelektual/terpelajar di dunia teater, hal ini imbas dari didirikannya sekolah Tonil.  Keharusan memiliki naskah sebagai guide pertunjukan menjadi landasan cikal bakal teater modern Indonesia dan melahirkan penulis-penulis naskah pada masa selanjutnya. Efek masa pendudukan Jepang akan berimbas dan dirasakan pada masa selanjutnya (pasca kemerdekaan)
The Resonant Roots of Pappaseng: Seeking Musical Inspiration from the Film Kuru Sumange Aziz, Baso Indra Wijaya; Burhan, Mukhamad Agus; Irwandi, Irwandi; Skinner, Anthea
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v26i2.17137

Abstract

This article examines the creative process of creating film music inspired by the cultural heritage of the Bugis people, focusing specifically on the incorporation of pappaseng verses in the film Kuru Sumange. Pappaseng denotes the oral transmission of ancestral wisdom, moral guidance, and philosophical insights that have been repeatedly passed down through generations, embodying profound ethical and spiritual values that are intricately woven into Bugis culture. This study emphasizes how film music serves as a medium for revitalizing traditional values, enabling them to be reimagined and expressed through modern artistic e ces amidst the challenges posed by modernization and the diminishing presence of oral traditions. The study utilizes a Practice-Based Research (PBR) method, framing the process of musical creation as a method for gathering data and a way to interpret them analytically. This method intertwines the process of composition with the act of inquiry, transforming the music into a space for generating knowledge. In the case of Kuru Sumange, selected pappaseng quotations are converted into lyrics and further crafted into melodic, harmonic, and rhythmic structures that closely align with the film’s narrative flow and emotional atmosphere. This transformation allows the music to serve not solely as an aesthetic enhancement to the visual imagery,  but also as a means of conveying traditional values to contemporary audiences. The findings indicate two key contributions: firstly, film scenes serve as the main stimuli for musical creation, influencing decisions regarding instrumentation, dynamics, and thematic development; secondly, the philosophical dialogues found in pappaseng are skillfully transformed into lyrical content, thus connecting oral tradition with cinematic expression. This work showcases the considerable potential of music as a culturally contextual and emotionally impactful approach for preserving culture, facilitating intergenerational communication, and creatively revitalizing Bugis heritage through local cinema.
Respon Pupuk Organik Terhadap Vegetatif Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) Adi, Moh; Burhan, Agus; Ahmad, Fandi; Indah, Ade
Permaculture: Jurnal Ilmu Pertanian & Lingkungan Vol 1 No 1 (2025): JANUARI
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/pmr.v1i1.930

Abstract

Kebutuhan tanah dan tanaman tidak dipenuhi dengan pupuk yang digunakan. Riset ini bertujuan untuk memahami dosis pemberian pupuk organik kandang sapi untuk bibit cengkeh. Di Lahan kebun masyarakat Buntuna, Kecamatan Baolan, Provinsi Sulawesi Tengah, penelitian ini dilakukan menggunakan RAK satu faktor. P0 menunjukkan kontrol, P1 menunjukkan dosis (kandang sapi) 200 gram per polybag, P3 menunjukkan dosis pupuk organik (kendang sapi) 500 gram per polybag, dan P4 menunjukkan dosis pupuk kandang sapi 650 gram per polybag. Hasil riset ditemukan menggunakan variasi dosis pupuk organik (kandanf sapi) 650gram memberikan hasil yang nyata untuk variabel pengamatan tinggi tanaman 10 MST, yaitu 12, 20 cm, dan diameter batang umur 10 MST, dengan parameter pengamatan rata-rata 2,58 mm. Selain itu, perlakuan menghasilkan pengaruh nyata pada parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah batang, 5 MST dan akar panjang terpanjang.